[Freelance] PROMISE

PhotoGrid_1451403673415

PROMISE

Main Cast : Byun Baekhyun, Shin Choensa (OC)

 

Genre : Romance, Marriage Life, School Life, Comedy (?)

 

PG : 13

 

Rate : Tennager

 

WARNING!

 

 

THIS STORY IS PURE FROM MY MIND. PLEASE DON’T BE A PLAGIARISM AND PLEASE DON’T BASH ME IF THIS STORY VERY VERY BAD.

 

CERITA INI BENER2 ABSURD BANGET. KALAU MISALNYA GAK SUKA JANGAN DI BACA KARENA BENERAN ABSURD.

 

KEBINGUNGAN DITANGGUNG PEMBACA.

 

 

.o0o.

HAPPY READING ^^

 

Summary :

Janji. Ya, sebuah janji harus kita tepati. Mulai dari yang mudah seringan bulu lalu yang susah seberat gajah. Namun, Bagaimana jika janji itu adalah sebuah janji untuk menikahi seseorang yang nantinya akan menjadi pasangan kita seumur hidup. Lalu, bagaimana jika janji tersebut dikatakan oleh seorang bocah kecil yang masih polos? Apa kalian bisa membayangkannya?

Dua makhluk ciptaan Tuhan harus menepati janji mereka yang telah mereka buat beberapa tahun yang lalu. Namun, salah satu di antara mereka telah menyukai seseorang yang lain dan membuat pasangan janjnya memiliki riwayat cinta bertepuk sebelah tangan. Lalu, bagaimana kehidupan mereka setelah menepati janji mereka?

 

.o0o.

 

Angin malam berhembus kencang. Membuat tangisan bumi semakin deras dibuatnya. Meraung-raung, meminta diberhentikan oleh Tuhan.

 

Begitu juga dengan gadis kecil berambut coklat yang menagis di tengah derasnya. Namun, jika bumi meminta Tuhan menghentikan tangisnya, gadis kecil ini meminta sebuah tangan hangat yang menyapu kesedihannya. Tapi, apa daya. Semuanya telah diatur oleh Tuhan. Takdir menentukan segalanya.

 

“Oppa, jangan pergi.”

 

Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu. Menatap nanar bocah lelaki yang seumuran dengannya lekat. Berharap agar bocah lelaki itu tetap tinggal di sisinya.

 

Bocah lelaki yang ditatap hanya menunduk lesu. Ia menghembuskan napas pelan lalu mendekap gadis malaikatnya ini.

 

“Mianhae, Choensa. Joengmal Mianhaeyo.”

 

BRUK.

 

Spring, 05 Maret 2015

 

Shin Choensa begitulah namanya. Gadis cantik bak malaikat yang sering dipuja namun tak jarang ditakuti oleh banyak siswa-siswi di sekolahnya. Hannyoung High School.

 

Namanya yang sungguh kontras dengan kelakuannya membuat beberapa orang menggeleng-geleng tak percaya. Seperti saat ini.

 

“SHIN CHOENSA!” teriak salah satu guru saat mendapati siswi yang paling sering terlambat itu melompati pagar samping sekolah.

 

Choensa yang mendengar teriakan Guru killer seantero sekolahnya segera mengambil langkah seribu. Berusaha berlari sekuat tenaga menuju kelasnya sembari sesekali menengok ke belakang. Sial, guru itu tetap gigih mengejarnya.

 

Choensa semakin panik ketika tongkat rotan yang panjang itu diacung-acungkan ke arahnya. Membuatnya mengerahkan seluruh tenaga agar lolos dari sambaran rotan yang mengerikan itu. Ia menengok kembali ke belakang, menghiraukan arah berlarinya. Dan,

 

BRUK

 

Choensa menabrak seseorang hingga membuatnya jatuh tersungkur dan meringis kesakitan ketika lututnya bergesekan dengan lantai.

 

Tak ada bedanya dengan siswa lelaki yang juga jatuh tersungkur bersamaan dengan Choensa. Dan sialnya, tubuh Choensa menindih tubuh lelaki jangkung itu.

 

Mereka saling pandang memandang. Seperti terdapat sebuah magnet yang menarik satu sama lain untuk saling tatap menatap.

 

“SHIN CHOENSA!”

 

Mereka serempak menoleh. Mendapati seorang guru lelaki paruh baya yang berjalan ke arah mereka dengan tatapan tajam mematikan. Apalagi dengan rotan panjang yang dipegangnya. Siapa yang tak takut coba?

 

Guru killer itu menarik telinga Choensa kuat. Membuat sang empu-nya meringis kesakitan dan menatap gurunya penuh harap dengan posisi berdiri berhadapan. Berharap dirinya diampuni untuk sekian ribu kalinya. “Saem, Josonghamnida.”

 

“Ini sudah ke-100 kalinya, Shin Choensa. Aku tak akan mengampunimu.”

 

“Ini baru ke-99 kalinya, saem!” ralat Choensa tak terima.

 

Guru itu berkacak pinggang seraya mendengus kesal. Ia semakin menarik telinga Choensa yang membuat Choensa mengaduh sekali lagi.

 

“Lihat anak ini. Aigoo, apa bedanya 100 dan 99 jika setelah ini kau akan mengulanginya lagi, huh? Ikut ke ruang guru sekarang juga!”

 

Guru itu segera berbalik. Namun, ia berhenti melangkah ketika mendapati seorang siswa berdiri tak jauh dari dirinya dan menatapnya. “Kau juga terlambat?! Ikut aku ke ruang guru sekarang juga!”

 

Ruang Guru

 

Guru itu -Lee songsaemnim– menatap kedua muridnya -Choensa dan seorang siswa- tajam. Menepuk-nepuk rotannya keras ke meja. Yang membuat Choensa menunduk dalam diam.

 

“Ya! Kenapa menatapku seperti itu? Tak mengerti letak kesalahanmu, huh?!”

 

Siswa yang dimaksud itu menatap Lee songsaemnim bingung. “Saya?” tunjuknya ke dirinya sendiri.

 

“Memang siapa yang menatapku jika bukan dirimu?!”

 

“Ah, begitu. Saya anak baru di sini. Bisakah Anda memberitahu saya letak kelas 2-A?”

 

Choensa seketika menoleh. 2-A? Bukankah itu kelas Choensa?

 

“Siapa namamu?”

 

“Byun Baekhyun.”

 

Choensa mengerjapkan matanya beberapa kali. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Namun, dimana?

 

“Anak dari Tuan Byun? Perusahaan Byun Grup itu?”

 

Ah, dia anak orang kaya. Pantas saja aku pernah mendengarnya. -batin Choensa.

 

Siswa itu-Byun Baekhyun- mengangguk beberapa kali. “Bisakah Anda memberitahu saya dimana kelas 2-A?”

 

Guru Lee mengangguk-angguk paham. “Choensa akan mengantarkanmu. Dia sekelas denganmu.”

 

“Choensa?”

 

“Itu namaku.” Seketika Baekhyun menoleh. Ia menatap Choensa dari atas hingga bawah. Meneliti hingga sudut-sudut terkecil sekalipun. Yang membuat Choensa merasa risih diperhatikan. “Wae? Namaku tak sesuai dengan diriku, begitu?”

 

Baekhyun mengangguk beberapa kali. Setuju dengan pertanyaan Choensa. “Namamu terlalu bagus untuk gadis sepertimu.”

 

MWOYA?!”

 

CTAK. CTAK.

 

Rotan itu berhasil memukul betis Choensa yang membuat Choensa menjerit kesakitan. Mata Baekhyun melotot melihatnya. Sedangkan Choensa menatap gurunya nanar.

 

“Cepat antar dia ke kelasmu atau kau ingin berdiam diri di sini dan mendapatkan hadiah kemerahan lagi di betismu itu. Cepat keluar!”

 

Ne.”

 

SREK.

 

Choensa berjalan mendahului Baekhyun di lorong. Sesekali meringis menahan perih betisnya yang kemerahan. Ini memang bukan pertama kali Choensa mendapatkan pukulan rotan, tapi ini pertama kali guru Lee itu memukulkan rotannya ke betisnya. Dan tentu saja, guru itu tak akan memberikan belas kasihan kepada Choensa. Meskipun semua guru tahu bahwa Orangtua Choensa yang memiliki sekolah ini.

 

Nyonya Shin adalah kepala sekolah Hannyoung High School. Sedangkan Tuan Shin mengelola bisnis perusahaannya yang besar selama beberapa bulan di China.

 

Meskipun Nyonya Shin adalah kepala sekolah, Ia jarang sekali masuk karena mengurusi beberapa butiknya. Sehingga kalian tahu sendiri bahwa Choensa selalu kesepian di rumahnya yang besar. Menjadi gadis berandalan merupakan salah satu pelariannya agar kedua orangtuanya memperhatikannya. Namun sejauh ini tak ada yang peduli dan menegurnya.

 

Choensa menarik kaos kakinya hingga lutut. Menutupi betisnya yang kemerahan itu. Ia mendengus kasar karena rasa pening mulai timbul.

 

Okay, nanti ia akan tidur di kelas. Tidur dan membolos saat pelajaran berlangsung merupakan salah satu keahliannya.

 

“Ya! Shin Choensa. Kau anak dari pemilik sekolah ini bukan?”

 

Choensa berbalik. Mengernyit bingung menatap anak baru itu. Hei, apakah ia telah bercerita bahwa tak ada satupun murid yang tahu jati dirinya?

 

Okay, sepertinya ia lupa. Choensa menutup-nutupi jati dirinya dari seluruh siswa di sekolah. Ia juga berusaha menutup dirinya dari pergaulan para siswi. Menjadi siswi yang dihindari adalah prioritas utamanya.

 

Ia sering disebut-sebut sebagai anak seorang cenayang karena kepribadian yang dingin dan tertutup. Sebagai anak orang miskin, anak preman, anak pencuri, anak koruptor, anak yatim piatu dan lain sebagainya pernah ia dengar.

 

Penampilan dan kepribadian Choensa-lah yang mendukung pernyataan mereka. Almamater lusuh, kemeja kusut, dasi bergelantung berantakan, rambut yang ia kucir kuda asal-asalan, dan kaos kaki yang ia kenakan panjang selutut. Tak jarang ia mengenakan celana trainning olahraga untuk menutupi kakinya.

 

“Aku? Tak bisakah kau menerka darimana aku berasal dari pernampilanku?”

 

Baekhyun menyeringai lalu berjalan mendekati Choensa. Yang membuat Choensa melangkah mundur secara perlahan. “Penampilan buruk bukan berarti kau anak dari kalangan bawah bukan?”

 

Choensa semakin melangkah mundur dengan cepat. Jarak mereka tinggal beberapa senti lagi. Yang membuat Choensa semakin gugup dan mempercepat langkahnya adalah seringai siswa di depannya ini. “Lalu, jika aku anak orang kaya bukankah seharusnya aku berdandan secantik mungkin untuk memikat beberapa lelaki seperti gadis-gadis lainnya. Bukankah seperti itu?”

 

“Hei, kepribadian setiap orang berbeda. Aku rasa kau memiliki alasan untuk menutupi jati dirimu. Tetapi aku bersyukur kau tak mengumbar kecantikanmu ke orang lain.”

 

Choensa berhenti melangkah. Begitu juga dengan Baekhyun. Ia memandang Baekhyun penasaran dan bingung. “Apa maksud dari kau bersyukur jika aku tak mengumbar kecantikanku ke orang lain??”

 

“Maksudku? Kau tak mengingatku Choensa?”

 

Choensa mengernyit bingung. “Kita pernah bertemu sebelumnya? Kapan?”

 

2 HOURS AGO.

 

“KYA!!!” Teriak salah satu siswi di dalam bus ketika melihat sesuatu di luar sana.

 

Choensa dan penumpang bus lainnya sontak ikut menatap ke luar jendela. “Byuntae,” desis Choensa ketika melihat seorang haksaeng sedang mengendarai lamborgini hitam sembari mengenakan kacamata hitam. Mungkin, itu adalah salah satu penyebab mengapa siswi tadi menjerit. Mungkin saja.

 

Choensa menatap jengah haksaeng itu. Tentu saja jengah karena sejak 15 menit yang lalu, haksaeng itu tak henti-hentinya berada di samping bus yang Choensa tumpangi. Namun entah kenapa mata Choensa tak bisa lepas dari wajah haksaeng tampan yang sesekali memandangi bus nya itu. Apa ada seseorang yang di carinya?

 

Shin Choensa memandang sekeliling. Menengok kanan kiri entah kemana untuk menemukan siapa yang tengah dipandangi haksaeng itu. Namun, kegiatannya seketika berhenti tatkala haksaeng itu melepas kaca matanya yang membuat wajahnya terpampang sempurna. Okay, wajahnya sungguh tampan dan lagi-lagi para siswi itu menjerit kegirangan. “Dasar aneh,” desis Choensa.

 

Choensa menatap haksaeng itu lagi. Okay, dia penasaran tentang siapa orang yang dicari haksaeng tersebut di musim semi yang tergolong masih dingin ini. Namun, tiba-tiba, haksaeng itu menunjuk-nunjuk dirinya dengan jari telunjuknya yang membuat segerombolan siswi menatapnya tajam. Ia memandang sekeliling, tak ada siapapun di belakangnya. Ia menunjuk dirinya sendiri seraya bergumam, “Aku?” Dan anehnya haksaeng itu mengangguk dan mengedipkan salah satu matanya beberapa kali. Choensa bergidik ngeri lalu lebih memilih untuk tak mengacuhkan orang itu lagi. “Dasar Byuntae, apa dia sakit mata? Matanya kemasukan debu? Aneh,” gumam Choensa sekali lagi.

 

Ah, haksaeng Byuntae.”  Choensa bergumam pelan ketika sekelebat ingatannya memasuki otaknya. Membuatnya teringat tentang seorang pria yang menunjuk-nunjuknya tadi. Jangan lupakan tatapan sinis para siswi yang seakan berbunyi ‘Aku akan membunuhmu’.

 

“Siapa? Aku?”

 

“Eoh, kau tadi sakit mata atau apa huh? Mengedipkan matamu seperti ini.” Choensa menirukan kedipan Baekhyun yang menurutnya aneh itu.

 

Byun Baekhyun mendengus pelan lalu berjalan perlahan menghampiri Choensa. Menarik pergelangan tangan Choensa dalam sekali sentakan lalu mendekapnya. Bau harum yang menyeruak di hidungnya mengingatkannya akan gadis kecil yang selalu menangis di dekapannya. Bukan bau parfum mahal ataupun murah, tetapi bau seperti adik bayi yang belum lama lahir kedunia. Sama persis seperti yang dulu.

 

“Bogoshipeo, Choensa. My Angel.”

 

Choensa mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Berpikir siapa sebenarnya Byun Baekhyun yang menyalurkan kehangatan di sekitar tubuhnya. Tunggu dulu, hangat?

 

Hana.

 

Dul.

 

Set.

 

Baekhyun menjerit seketika saat punggungnya berhasil mencium lantai dengan keras. Ia menatap gadis di depannya ini tak percaya. Apa Choensa yang membantingnya tadi?

 

Ya! Appeo!

 

Choensa mendengus kesal. Ia berkacak pinggang seraya menatap orang Byuntae -Byun Baekhyun- sinis. “Ya! Duguseyo?! BYUNTAE!! Jika kau seperti itu lagi cari ruang kelas 2-A sendiri!”

 

Baekhyun bangkit lalu membersihkan pakaiannya yang kotor. Masih membersihkan pakaiannya, ia berkata, “Aigoo, kau itu anak lelaki atau anak gadis? Tenagamu sungguh kuat. Kau itu monster atau apa, huh?!” ujarnya seraya berjalan melewati Choensa dengan penuh percaya diri.

 

Choensa mendengus sebal. Ia berbalik memunggungi Baekhyun lalu melangkah perlahan seraya berkata, “Jangan berlagak tahu semuanya. Kelasnya bukan disitu bodoh.”

 

Seketika Baekhyun berbalik dan mengikuti Choensa. Ia mendengus kesal. Merutuki kebodohannya sendiri.

 

Suasana hening menyelimuti lorong sekolah. Mereka berjalan bersama namun tidak beriringan. Baekhyun menatap sendu punggung Choensa. “Kau tak mengingatku, Choensa?” gumamnya berkali-kali.

 

 

 

 

 

“Oppa, ige mwondae?” Seorang gadis cilik berlari-lari menuju bangku tempat Baekhyun menggambar. Baekhyun mendongak. Meletakkan alat menggambarnya di tempat kosong bangkunya dan ikut berdiri melihat apa yang di genggam gadis cilik yang memanggilnya Oppa itu.

 

“Waeyo?”

 

“Ige,” gadis cilik itu menyodorkan apa yang digenggamnya. Membuka genggaman tangannya dan menatap Baekhyun kecil penuh harap.

 

“Ini sebuah cincin. Kau tak tahu?”

 

Gadis kecil itu menggeleng.

 

Baekhyun tersenyum simpul kemudian mengacak-acak rambut gadis kecil yang di depannya itu. “Cincin itu digunakan oleh seseorang untuk menikah. Seperti Eomma dan Appa.”

 

Gadis kecil itu -yang tak lain dan tak bukan adalah Shin Choensa- mengangguk paham. Ia mendongak lalu menatap Oppa kesayangannya ini penuh harap.

 

Baekhyun kecil yang melihat kilat-kilatan mata Choensa semakin mengembangkan senyumnya. “Waeyo?”

 

“Oppa, kau mau menikahiku kelak? Saat kita telah dewasa nanti? Kau maukan Oppa?”

 

Baekhyun terkikik geli saat mengingat beberapa potong kisah masa lalunya. Ia tak menyangka, Shin Choensa yang polos dan lugu menjadi sosok Shin Choensa pemarah dan kuat seperti ini. Apa ia kesurupan? Hei, tidak mungkin bukan?

 

“BYUN BAEKHYUN!” Teriak Choensa marah.

 

Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Mengumpulkan segenap kesadarannya. Sepertinya ia sedang melamun sedari tadi karena tak mendengar panggilan Choensa beberapa kali. “Huh? Wae?

 

Choensa menghela napas kasar. Ia segera membuka pintu kelasnya pelan. Ia berbalik dan menghadap Baekhyun lagi. “Kita sudah sampai, B-Y-U-N-T-A-E-ssi.” ujarnya penuh penekanan saat mengeja panggilan barunya untuk Baekhyun.

 

“Kenapa kau memanggilku Byuntae?”

 

“Karena kau telah memelukku tiba-tiba di saat kita belum lama bertemu. Bukankah itu sudah cukup?”

 

“Kau akan terkejut jika mengetahui seberapa lama kita mengenal.”

 

Baekhyun segera melenggang masuk mendahului Choensa yang berdiam mematung di depan pintu kelas mereka. Ia membungkuk hormat kepada guru yang mengajar dan temannya.

 

“Kau anak baru itu?”

 

Ne.”

 

“Perkenalkan dirimu, haksaeng.”

 

Baekhyun membungkuk hormat lalu berkata, “Annyeonghaseyo. Joneun Byun Baekhyun imnida. Bangapsamnida.”

 

Seluruh murid di kelas itu bertepuk tangan riuh. Bahkan para siswi mulai menjerit-jerit tidak jelas. Apalagi jika bukan ketampanan Baekhyun yang kelewat batas.

 

Shin Choensa melangkahkan kakinya perlahan menuju kelas. Lalu, berdiri di samping Baekhyun dan membungkuk hormat kepada guru Kwon.

 

Guru Kwon menghembuskan napas berat dan menatap Choensa tajam saat Choensa hendak mengalahkan kakinya menuju kursinya. Guru Kwon berdeham pelan, membuat Choensa menghentikan langkahnya seketika. Demi apapun, Ia ingin ditelan bumi bulat-bulat sekarang ini juga. Karena ia paling dibenci jika guru Kwon ini menghukumnya.

 

Bukan, bukan hukuman yang diterima Choensa tadi pagi. Ataupun hukuman membersihkan seluruh toilet sekolah. Namun hukuman yang menurut Choensa mengerikan itu berbanding terbalik dengan apa yang murid lain pikirkan.

 

“Kau tak lupa tentang hukumanmu setiap pelajaranku bukan?” tanya Kwon songsaemnim sakarstik.

 

“Aniyo, saem.”

 

“Kalau begitu cepat kesini dan bernyanyilah.”

 

Choensa mengembuskan napasnya kasar. Apalagi jika bukan merasa kesal dengan Guru seni satu ini. Pernah ia sesekali berpikir untuk membunuh Guru yang selalu menganggap dirinya paling cantik di sekolah. Heol, melihat wajahnya saja ingin membuatnya muntah.

 

Choensa mulai bernyanyi seperti biasa. Meskipun suaranya tak sumbang namun juga tak sebagus seorang diva, seluruh teman sekolahnya menikmatinya. Suara Choensa yang halus bak kapas dan manis bak gula mampu menyihir para murid kelas 2-A.

 

Baekhyun yang terkejut mendengar suara Choensa yang mengalun lembut di gendang telinganya, terperangah tak percaya. Apakah suara Choensa sebagus ini? Ia tersenyum ketika mendapati Shin Choensa sesekali tersenyum tipis saat bernyanyi. Yang membuat Baekhyun ikut bernyanyi dengan Choensa.

 

Meskipun awalnya semua orang tak percaya dengan suara emas Baekhyun -tak terkecuali Shin Choensa- mulai menikmati alunan lagu gratis itu. Mereka -Byun Baekhyun dan Shin Choensa- bernyanyi cukup lama. Menikmati alunan nada yang mereka ciptakan sendiri.

 

Choensa sesekali tersenyum tipis. Mengingat ia tak pernah menikmati lagu yang ia nyanyikan sendiri membuatnya terkikik geli. Lalu kenapa sekarang Shin Choensa tersenyum tipis?

 

Baekhyun yang sesekali mencuri pandang menatap Choensa ikut tersenyum simpul. Hei, ini pertama kali gadisnya itu tersenyum lembut bukan? Senyuman Choensa semakin mengembang secara tiba-tiba. Matanya berkilat-kilat menatap sesuatu. Kilatan di matanya yang tak pernah ia lihat semenjak hari itu.

 

Baekhyun ikut mencari apa yang ditatap Choensa. Betapa terkejutnya ia saat mendapati seorang siswa tersenyum lebar ke arah Choensa. Dan sialnya lagi, gadisnya itu ikut tersenyum ketika siswa tersebut tersenyum lebar ke arahnya.

 

Baekhyun mendesis geram. Ia tetap menatap senyum merekah Choensa hingga lagu yang dinyanyikan mereka selesai. Meskipun Choensa telah berjalan menuju bangkunya, Byun Baekhyun tetap menatap Choensa geram. Ia sesekali mendengus ketika mendapati Choensa-nya berbicara dengan bibir yang membentuk senyuman itu.

 

“Apa kau mengenalnya? Dia sepertinya mengenalmu. Kenapa dia menatapmu seperti itu?”

 

“Aku tak mengenalnya Oppa. Lupakan saja dia. Dia bukan seseorang yang penting.”

 

Baekhyun mendengus kasar mendengar pembicaraan Choensa dan calon temannya itu. Ralat, sepertinya bukan teman melainkan calon musuhnya. Ia semakin geram ketika senyuman Choensa tetap mengembang di wajahnya. Terlebih ketika Choensa memanggil siswa itu dengan panggilan ‘Oppa’. Rasa kecemburuannya telah sampai di ubun-ubun.

 

“Semoga kita dapat berteman dengan baik. Oh ya, satu hal lagi. Dengarkan baik-baik semuanya,” Baekhyun mengambil napas lalu membuangnya dengan cepat, “Choensa,” tunjuk Baekhyun yang membuat semua anak menengok melihat Choensa. “Jangan rayu, goda, ataupun sakiti dia karena kalian akan berhadapan denganku setelahnya. Terutama KAU!”

 

Baekhyun mengatur napasnya kembali lalu menurunkan jari telunjuknya dari calon musuhnya itu. “Jangan dekat-dekat dengannya. Aku benci itu,”

 

Baekhyun mengambil napas lalu membuangnya kembali, “Karena Choensa adalah calon istriku.”

 

MWO?!” teriak semuanya tak percaya.

 

TBC-

 

 

Hai, Annyeong chingudeul! Ini pertama kalinya FF-ku di publish. Maaf kalau misalnya FF ini jelek dan tidak bagus seperti yang kalian kira.

 

Please RCL FF ku ya.

 

Kalau misalnya banyak yang ngoment aku bakal lanjutin kalau sedikit ya enggak. Tetapi mudah-mudahan banyak. Nanti aku beritahu alasannya di next chapter ^^

 

Your coment is very important for me.

 

Regard,

 

Cantika

 

24 responses to “[Freelance] PROMISE

  1. Next dong next
    Ceritanya bagus, seru, menarik.
    Apalagi castnya itu si ayangek bebaek 😍
    Dan gue penasaran sama cowok yg disukain cheonsa itu. Siapakah gerangan?? Duh penasaran
    Next ya, jgn lama2 😚

    • Eum, benar sekali. Sebenarnya ini gak jadi, tapi tetep di post. Maafkan saya. Kalau mau lihat chapter 2-nya di WP pribadiku aja, Cantikapark61.wordpress.com
      #sekalian promosi ^^

  2. Ceritanya seru,,, calon istrinya bacon galak gak ketulungan…
    Bacon pede banget bilang kalo cheonsa calon istrinya….

  3. Ceritanya seru,,, calon istrinya bacon galak gak ketulungan…
    Bacon pede banget bilang kalo cheonsa calon istrinya….
    Lanjutin yaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s