[Freelance] Silent Confession

C360_2016-01-25-18-48-19-298

Silent Confession

by Nathaniel Jung

BTS‘s Jeon Jungkook x OC‘s Rui

Oneshoot

school-life, fluff

Teen

This is my own stories. Don’t be a plagiator. Be a good readers

….

Dengan tergesa Rui melangkah menuju ruang kelasnya. Ia yakin jika hari ini ia datang terlambat —menurut perhitungannya. Pagi tadi Rui terbangun sekitar pukul setengah enam. Dengan segala keributan yang dibuatnya sebelum berangkat sekolah, dari yang nyaris memecahkan piring, lupa membawa uang saku dan botol air-nya, sampai tadi Rui nyaris terserempet mobil karena membawa motor dengan tergesa-gesa.

Ia tiba di depan pintu kelas tepat pukul enam lebih lima belas menit. Lantas raut wajahnya berubah kesal karena sudah ada yang tiba terlebih dahulu.

“Nah, kau terlambat sepuluh menit, Rui! Tumben.”

Mingyu si anak rajin —datang pagi menyapa Rui. Laki-laki jangkung itu sudah membawa sapu di tangan kanannya. Rui tak lantas menjawab, ia menuju bangku kedua dari depan dan menaruh tas-nya. Ia tak suka jika ada yang mendahuluinya datang. Kenapa? Karena nanti ia tidak bisa leluasa melakoni pekerjaannya.

Merasa tahu apa yang harus dilakukan, Rui berjalan ke arah Mingyu dan merebut sapu dalam genggamannya dengan kasar.

“Terimakasih sudah mengambilkan sapu.” ujar Rui sinis. Mingyu pun tak merasa bersalah dan hanya mengendikkan bahu. Mingyu duduk kembali ke bangkunya lantas menyetel musik dari ponselnya.

“Dia laki-laki apa bukan sih?”  batin Rui kelewat kesal. Mingyu kan laki-laki, masa’ iya dia membiarkan seorang gadis menanggung beban berat sendirian. Harusnya Mingyu sedikit menghargai usahanya datang pagi, menyapu beberapa bagian yang terlihat kotor misalnya. Jadi nanti Rui tinggal menyelesaikan di tempat-tempat yang tak terjangkau mata.

Dalam hati Rui juga mengumpat pada teman-temannya yang mulai berdatangan. Selama kegiatan sapu-menyapunya ia merasa sama halnya dengan hantu yang tak terlihat. Siapa juga yang mau jadi petugas piket tetap yang setiap hari harus stand-by paling pagi. Untung Rui anak yang baik — walau dengan segala umpatannya di dalam hati, ia dengan sukarela melakukannya.

Sebenarnya ada sih jadwal piket. Karena berhubung sapu di kelas hanya ada satu — dan seakan ada peraturan tak tertulis, jadi yang bertugas pun bergilir. Di minggu pertama, Sohyun —teman sekelas Rui lah yang bertugas. Namun pada hari ketiga, mungkin karena hari itu ada jadwal ujian biologi, gadis itu mengomel dengan nada kesal.

“Ya! Kelasnya kotor sekali, sih. Kalian kenapa juga tidak ada yang berinisiatif menyapu.”

Dengan berat hati, Rui beranjak dari kegiatannya memainkan ponsel.

“Iya, aku yang bersihkan.”

Padahal Sohyun tak bermaksud menunjuk Rui, gadis itu sebenarnya mengatakannya untuk siswa laki-laki yang malah dengan acuhnya membuang sampah di sembarang tempat. Tapi mau bagaimana lagi? Karena tidak mau kenyamanan pagi harinya terganggu oleh suara-suara berisik tak bermutu, Rui pilih mengalah tentu saja.

Semenjak itulah Rui menjadi petugas piket tetap setiap pagi. Rui pun juga tak pernah mengomel seperti Sohyun saat ia melaksanakan tugasnya. Kadang juga Shannon yang menggantikannya saat Rui terlambat datang pagi.

“Akhirnya.” ujar Rui menyeka peluh di dahinya. Setelah menaruh sapu pada tempatnya, ia kembali ke bangkunya. Sembari menunggu bel masuk yang kurang lima menit, Rui mengambil beberapa bukunya dan memasukkannya ke dalam laci meja. Tasnya tampak penuh dan hampir saja Rui tak bisa duduk di kursinya sendiri.

“RUI!” teriak seseorang yang membuatnya terkejut bukan main.

“Jungkook, jangan lakukan itu lagi.”

Jungkook yang merasa dinasehati pun hanya tersenyum. Ia memilih bangku tepat di depan Rui, mengambil botol minumnya, meminumnya sedikit, dan kembali menghadap belakang.

“Jungkook!”

Suara kelewat keras dan cempreng itu berasal dari Yeeun. Anak itu duduk persis di belakang Rui, omong-omong. Jadi, jika Yeeun mulai membuka suara, Rui tetap akan mampu mendengarnya walaupun Yeeun hanya berbisik.

“Ada apa?”

Yeeun tersenyum kelewat lebar. Gelagat gadis itu memang mudah ditebak, biasanya gadis itu akan menggoda Jungkook. Jadi Rui sudah siap telinga —pun juga hati mendengar ocehan Yeeun. Walaupun hanya bercanda, sih. Tapi Rui tetap merasa harus menyiapkan hati dan telinganya, harus! Takut jika Yeeun mengatakan hal-hal yang tak terduga.

Jungkook yang duduk di depannya masih menunggu kelanjutan dialog Yeeun seusai gadis itu memanggilnya.

“Jungkook, aku mau bilang sesuatu.”

“Apa?”

Rui yang merasa tak dibutuhkan lantas mengambil buku paket matematika-nya. Mencoba menghafal beberapa rumus dan mengerjakan latihan soal. Karena, Rui sudah bertekad bahwa semester ini ia harus lebih giat belajar, demi nilainya.

“Jungkook, mau jadi pacarku?”

Suara Yeeun terdengar begitu jelas hingga ke penjuru kelas. Jungkook terlihat memandang Yeeun dengan raut agak terkejut karena Yeeun memang suka begitu kepadanya —bahkan teman-teman yang lain. Tapi yang ini sedikit berbeda dari biasanya. Entah karena apa Yeeun berujar demikian.

Rui yang masih menunduk dan sesekali mencuri pandang ke arah Jungkook menampakkan senyuman kecil, akibat penuturan Yeeun yang tak biasa. Kenapa Yeeun bisa sesantai itu mengatakannya? Rui yang faktanya menyukai Jungkook saja tak berani. Bertegur sapa pun Rui merasa canggung.

“Kenapa?” Jungkook bertanya dengan raut wajah ingin tahu. Kepalanya ia topang di antara kedua lengannya yang sekarang sudah terlipat manis di atas kursi. Rui sedikit menjauhkan tubuhnya ke belakang. Berdekatan dengan Jungkook membuatnya gugup setengah mati, serius.

“Karena, pertama kau pandai. Kedua, kau baik hati. Lalu, kau juga ramah dan sopan. Kau humoris. Pokoknya, kau pacar idaman —eh bukan. Kau bahkan suami idaman. Hehe.”

Yeeun sepenuhnya benar mengatakan itu. Itu perkataan Rui sebenarnya. Rui mengatakan itu kepada Yeeun kemarin malam, saat Yeeun bertandang ke rumah Rui untuk meminta bantuan mengerjakan tugas.

“Wah, kau penggemar beratku, ya? Kau sampai menjelaskan itu dengan detail. Ngomong-ngomong, terimakasih pujiannya.”

Yeeun yang mendengarnya pun tertawa, bersambut dengan tawa Rui yang ikut terdengar. Gadis itu melakukannya supaya ia tak terlihat salah tingkah. Sebenarnya saat Yeeun mengatakan itu, kaki Rui terus-terusan tak bisa diam karena ulah Yeeun yang sengaja menendangnya.

“Eih, kau bisa mengandalkanku jadi mata-mata jika kau mau.”

Jungkook yang mendengarnya tertawa renyah. Yeeun memang tipikal gadis yang apa adanya. Semua yang ia ucapkan dan ia lakukan adalah murni dirinya.

“Belum saatnya Yeeun.”

Singkat, padat, dan jelas. Jungkook menjawabnya dengan bijak. Yeeun yang mendengarnya luar biasa melongo. Gadis itu langsung berteriak seperti baru saja mendapat hadiah.

“Wah, Jungkook! Apakah kau ingin langsung mengajakku menikah jika sudah saatnya?”

Tanya Yeeun yang disambut tawa teman-teman mereka. Jungkook pun hanya mengangguk. Rui hanya tersenyum mendengarnya. Terdengar…lucu?  Bahkan ia sudah tak berani lagi mencuri-curi pandang ke arah Jungkook.

“Jadi, kapan ‘saat ‘ itu datang?”

Jungkook mengelus pelan dagunya —berpura-pura berpikir.

“Sepuluh tahun lagi?” ujarnya.

“WOO!! JUNGKOOK, AKU MENCINTAIMU!!”

Yeeun kembali menggila. Tangannya sudah berada di kursi milik Rui dan mengguncangkannya heboh. Bibirnya pun juga tak henti-hentinya mengatakan kekaguman kepada Jungkook.

Rui yang menjadi korban, tak merasa terganggu. Justru ia ikut tertawa melihat kegilaan Yeeun. Yeeun memang sengaja mengatakan itu dengan lantang. Karena Yeeun terlampau gemas dengan sikap Rui yang kelewat pemalu hanya sekedar mengungkapkan perasaannya kepada Jungkook. Otomatis dengan adanya Yeeun yang menyatakan perasaan—Rui—nya kepada Jungkook, Rui tahu jika Jungkook juga tidak sedang menaruh perasaan kepada siapapun. Tapi mungkin saja Jungkook sedang menjaga perasaan seseorang, entahlah.

Terimakasih untuk Yeeun, sahabat baik Rui yang mengerti akan dirinya yang pemalu.

 

 

-fin-

 

Notes:

/JENG JENG/ Kook-Rui is my official couple akhirnya debut! Jujur, pas bikin ini tu aku ngerasa ngalir aja nulisnya. Dan entah kenapa aku suka sama ffku yg ini, hehe. Silahkan berkomentar.

For another stories

4 responses to “[Freelance] Silent Confession

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s