About daddy and his trouble: Luhan

Dhee/ Jung Monica Present

Prev : Minseok

Starting :

Lu Han and his son Denuan (Oc)

.

.

Luhan Problem’s

“Luhan harus rela beberapa ribu won uangnya melayang sia-sia”

.

.

.

“Lu, aku pergi dulu ya. Jangan lupa minta maaf jika Denuan sudah bangun. Byee” Luhan mengganguk dari tempatnya berdiri, kemudian menggiring dirinya kearah pintu yang baru saja tertutup. Menguncinya dari dalam takut-takut ada seseorang berniat jahat kepadanya ataupun niat lainnya yang bisa mengancam keselamatan dirinya, baiklah itu sedikit berlebihan. Tapi apa salahnya jika berjaga-jaga sejak dini, itu pikir Luhan sih. Kembali pada Luhan yang seperti tak punya minat untuk hidup hari ini. Ia melesakkan bokongnya diatas sofa empuk berwarna biru cerah yang berada di ruang keluarga, menyalakan televisi sesekali mengganti chanel tanpa minat untuk melihatnya lebih lama. Ini hari minggu, seharusnya yang ia dapatkan di hari bebas tuntutan ini bukanlah hanya menonton tv atau sejenisnya, melainkan berkumpul dengan keluarga kecilnya. Dengan istrinya, dengan anaknya. Eh-, omong-omong soal anak, ia jadi teringat pesan istrinya sebelum berangkat tadi. Meminta maaf kepada Denuan, putra semata wayangnya.

Meminta maaf kepada Denuan? Ha, yang benar saja. Luhan si pemilik gengsi setinggi Gunung Himalaya harus meminta maaf terlebih dahulu ke Denuan yang notabene adalah anaknya sendiri, sungguh demi ikan paus bisa terbang pun ia tak akan mau. Jika saja masalah maaf-meminta maaf ini tidak berasal dari masalah yang membuat Luhan dongkol setengah mati kemarin malam, mungkin akan terasa biasa saja.

Luhan akan meminta maaf lalu selesai, sayangnya tidak semudah itu. Mengingat ada harga diri dari seorang suporter bola sejati yang ia pertaruhkan didalamnya.

Iya masalah yang sedang Luhan hadapi bersama Denuan bukanlah masalah yang besar, hanya masalah sepele bernamakan sepak bola. Perang dingin ini berawal dari Luhan dan Denuan yang kemarin malam melihat pertandingan sepak bola, secara kebetulan tim yang sedang berlaga adalah tim jagoan masing-masing. Luhan dengan Manchester Unitednya, sedangkan Denuan dengan Arsenal. Awalnya acara menonton pertandingan bersama ini berlangsung baik-baik saja, hingga seperempat jam kemudian tim jagoan milik Denuan berhasil mencetak gol ke gawang lawannya, dari sana lah masalahnya dimulai. Luhan sudah kepalang bersungut-sungut saat Denuan secara terang-terangan mencibir bagaimana taktik yang tim lawan gunakan tidaklah sepadan jika dibandingkan dengan tim jagoannya.

“Papa. Kenapa dimatikan” pekik Denuan tak terima

“Sudah malam, sebaiknya kau tidur. Suara cemprengmu itu lama-lama bisa membangunnkan tetangga tau” jawab Luhan dengan ekspresi datar

Dahinya mengernyit, antensi kelabunya bersirobok dengan si Ayah, “Enak saja, Papa saja yang tidur sana. Denuan masih ingin disini. Lagipulan pertandingannya belum selesai kan”

“Ya sudah Papa tidur duluan” jawab Luhan melengos pergi

“Papa remotnya, Pa. Papa jangan curang deh, mentang-mentang timnya kalah seenaknya saja mematikan tvnya. Papa”

Luhan bersungut malas ketika mengingat kejadian kemarin malam, apalagi mengingat saat Denuan masuk kedalam kamarnya merengek kepada sang ibu tentang sikap curang Ayahnya. Uh- benar deh, sikap menyebalkan Denuan satu itu perlu ia singkirkan cepat-cepat namun bukan sekarang, karena baru saja ia mendengar pintu depan diketuk tiga kali, itu artinya ada seseorang dibalik sana yang sedang menunggu dibukakan pintu.

“Permisi apa benar ini kediaman keluarga Lu” sapa orang asing dihadapannya

“Benar. Ada apa ya?” tanyanya kikuk.

“Ini pesanan anda, Tuan. Dua loyang pizza ukuran sedang” jawab orang berbaju, er- pelayan restoran cepat saji bukan, sih? Luhan itu maniak makanan cepat saji akhir-akhir ini, jadi presepsinya akan orang didepannya ini tak mungkin melenceng. Ya. Orang dihadapannya ini salah satu dari mereka, apalagi seragam yang dipakai. Luhan ingat diluar kepala seragam itu.

Ia hendak menyerukan pertanyaan lagi andai saja si setan kecil yang –entah sejak kapan sudah berdiri tepat disampingnya belum datang “Itu pesananku Paman, terima kasih sudah mengantarnya. Untuk tagihannya silahkan kau minta saja kepada orang tua ini. Sekali lagi terima kasih, semoga harimu menyenangkan” -and hell kalimat barusan seakan menohok Luhan tepat dikepalanya, bagaimana tidak tertohok jika si setan kecil tadi mengatakan kepada pengantar pesanan bahwa semua tagihan makanan yang bahkan ia sendiri tidak pesan bisa ia minta pertanggung jawabannya kepada Luhan. Ditambah lagi menekankan kalimatnya pada kata ‘orang tua’

Demi Mars memacari si Venus. Luhan bersumpah tidak akan sudi meminta maaf terlebih dulu kepada Denuan, meskipun ia harus tersedak satu loyang besar pizza sekalipun.

“Jadi totalnya 15000₩, Tuan”

.

.

.

A/N : haii aku balik lagi sama daddy luhan, rada gak pede sih sama ini. tapi well semoga sukaa. berbaik hatilah meninggalkan jejak, thx xoxo :))

31 responses to “About daddy and his trouble: Luhan

  1. ini namanya bapak bapak aneh nggak mau ngalah sama anak weh gara gara timnya kalah huhu kekanakan banget Lu. haha fighting kak

  2. nah apaaan ini dady luhan??? omoomoo childish bgt sih, kan kesian ankx jd korban keegoisan bapaknua wkkk iih nybelin deh ql perkara bola tu. q dr dlu sbel bgt n ngerasa kx org bdoh ql nnton bola bwahahahaa #DipelototinLuhan# tp gpp ttp aja series ini sll sukses mghibur!😀

  3. duh… ngakak thor sepanjang alur.
    bayangin itu anak Luhan sama aku *digampar Lufans :v
    sumpah ya itu anak bener-bener “Orang tua ini”
    Luhan btw kalah sama anak kecil, childish nya ampun dah :v
    ada next nya gak sih? aku pingin baca :V

  4. Dady luhan, papa luhan kamu childish sm lucunya melebihi anak kita deh/gak/ sumpah ini lucu banget dan lucu polll pas bagian akhir Luhan yg bayar makanan LOL😄 gara2 bola sm Luhan gengsian jadi kayak gini dasar Luhan😄

  5. Pingback: Daddy Problem’s | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Berantem cuma masalah gitu doooang?? Dan luhan papa gak mau minta maap??? Aigoo disini mana yg anak mana yg bapak siih?? Wkwkwk tapi kalo gak gitu gak seru yaaa

  7. Luhan apa banget deh wkwk😜btw roll model nya denuan gmn ya? Di khayalan ku dia kayak minguk haha

  8. Pingback: About daddy and his trouble: Suho | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Pingback: About daddy and his trouble: Lay | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Pingback: About daddy and his trouble: Baekhyun | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Ahhhhhhhh gemesinnnnnn!!!!!!!!!! jadi kangen luhan pake bangetttt :(((((( suka ih namanya denuan baguuus hehehe. Semangat terus kakkk

  12. Pingback: About daddy and his trouble: Chen | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Pingback: About daddy and his trouble: Chanyeol | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. cuman gara-gara bola -_-,astaga luhan,bayar pizza buat anak kan bukan hal yg sia” :v,lagian jadi bapak kenapa kaga mau ngalah sama anaknya coba :v

  15. Pingback: About daddy and his trouble: D.O | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. Pingback: About daddy and his trouble: Kai | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. Pingback: About daddy and his trouble: Tao | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. Pingback: About daddy and his trouble: Sehun | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s