ALL I ASK [PART III] — by Neez

ask-copytt

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho || Others

Alternative Universe, School Life, Family, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser || [PART I] || [PART II]

© neez

Beautiful Poster Cr : Ken’s@Art Fantasy thank you Ken Honey ^^

BETA : IMA

“Parting is such sweet sorrow that I shall say goodnight till it be morrow.”

”Ta…tapi, hmm… ini bisa lama kupinjam, bagaimana?”

   Joonmyun tersenyum tipis, ”Tak apa, pakai saja selama yang kau butuhkan.”

   ”Jinjja? Gomawo, Joonmyun-ah.” Jaehee mendongak dari kesibukannya mengagumi buku bersampul kulit tersebut, dan Joonmyun menyukai rona kemerahan di pipi Jaehee yang baginya seperti sesuatu yang baru.

   Apa setiap wanita memiliki rona merah di pipinya? Kenapa Joonmyun baru menyadarinya sekarang?

   ”Aku pasti mengembalikannya.”

   Sebenarnya setiap bait dan setiap dialog, Joonmyun sudah menghapalnya di luar kepalanya sendiri, bahkan ia memiliki salinannya di komputer rumahnya. Tapi, jika janji Jaehee mengembalikan hardcopy naskahnya adalah bentuk pertemuan mereka kembali, kenapa tidak?

   ”It’s a promise then.”

 

*        *        *

Oh Tower

Penthouse

09.45 KST

Drrrrtttt.

   ”Ya?”

   ”Sajangnim, ada proposal untuk Anda, dari sekolah Nona Jaehee.”

   Kedua mata Donghae berkilat, begitu mendengar sekertarisnya menyebutkan bahwa ada proposal dari sekolah Jaehee. Meluruskan letak kacamatanya, Donghae menjawab, ”Bawa masuk kesini, Kangjun-ssi.”

   ”Ne, algesseumnida, Sajangnim..”

   Dan sepuluh menit kemudian Donghae sudah bersandar di kursi direkturnya yang besar sambil membaca proposal yang dikirimkan oleh Hanlim Art School, sekolah dimana putri sematawayangnya menuntut ilmu sebagai calon aktris. Jangan tanya pendapat Donghae mengenai keinginan putrinya berkecimpung dalam dunia seni peran, orangtua mana pun pasti menginginkan putrinya mengambil alih usahanya, seperti ia meneruskan usaha kakek dan nenek Jaehee. akan tetapi, disisi lain, ia begitu menyayangi Jaehee sehingga tidak ingin melawan keinginan putrinya sendiri.

   Dan proposal yang dikirimkan dari sekolah putrinya tersebut adalah untuk mendukung sebuah pertunjukan seni tahunan di Hanlim Art School, sekaligus menjadi ajang bagi para pencari bakat universitas dalam memberikan beasiswa.

   Donghae yakin Jaehee akan turut serta dalam pertunjukan seni tersebut. Dulu, saat Jaehee kecil, ia ingat bersama istrinya, keduanya kerap kali menonton pertunjukan Swan Princess yang dibintangi oleh putri mereka. Donghae tidak menyangka berawal dari pertunjukan masa kecil itulah, putrinya menjadi serius dalam menggeluti bidang akting.

   Ia akan melakukan apa pun agar putrinya bisa meraih cita-citanya, termasuk mendukung pagelaran mewah Hanlim, dimana ia berharap putrinya dapat benar-benar bersinar disana. Merogoh laci paling pertama di mejanya, ia mengeluarkan buku cek pribadinya, dan menggunakan penanya, ia membubuhkan tanda tangan tepat setelah menuliskan jumlah uang fantastis yang rela ia keluarkan demi acara sang putri sukses.

   Donghae menghubungi sekertarisnya untuk mengambil cek yang telah ia siapkan saat ia menatap daftar donatur tahun lalu.

   Kim Jaejoong.

   Tok. Tok. Tok.

   ”Anda memanggil saya, Sajangnim?”

   ”Ya, ini… tolong berikan pada siapa pun perwakilan Hanlim yang datang tadi, dan…” Donghae menatap ke dinding dibelakang sekertarisnya dengan pandangan kosong. ”Tolong hubungi Hanlim.”

 

*        *        *

Hanlim Art School

Headmaster Office

10.00 KST

Tok. Tok. Tok.

   ”Masuk,”

   ”Kepala Sekolah,” Kang Yewon, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Hanlim, sekaligus menjabat sebagai pembina Dewan Sekolah tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan Kepala Sekolah, Jung Yunho. Wanita berambut pendek itu meremas kedua tangannya, menggigit bibirnya, dan berkeringat dingin.

   ”Ada apa, Guru Kang?” tanya Kepala Sekolah yang baru saja menjabat di Hanlim selama enam bulan terakhir ini.

   Kang Yewon meringis, ”Ada sesuatu yang buruk, yang… yang harus saya sampaikan, Kepala Sekolah.”

   Kedua alis lebat Kepala Sekolah Jung bertaut, dia mempersilakan Guru Kang untuk duduk, dan bertanya, ”Ada apa? Coba dijelaskan, Guru Kang.”

   ”Begini, Kepala Sekolah…” Guru Kang masih saja meremas-remas kedua tangannya dengan gugup, ”Saya baru mendapatkan kabar dari Dewan Sekolah. Ketua Dewan Sekolah, rupanya meminta sponsor… kepada keluarga Kim dan keluarga Oh pada saat yang bersamaan.” Jung Yunho nyaris merasa bahwa wanita yang duduk di hadapannya ini adalah seekor tikus yang tengah mencicit karena dikejar oleh kucing.

   Sang kepala sekolah bersandar nyaman di kursinya, menatap Guru Kang lekat-lekat sambil memiringkan kepalanya. ”Bukankah meminta sponsor pada dua perusahaan terbesar di Korea Selatan untuk acara tahunan sekolah adalah hal yang biasa? Bagus malah jika kita mendapatkan sponsor.”

   ”Ta…tapi, Kepala Sekolah,” Guru Kang menggeleng-geleng cepat. ”Tidak bisa seperti itu… apa Kepala Sekolah tidak ingat? Keluarga Oh dan keluarga Kim—“

   ”Saya tahu benar bagaimana permusuhan kedua keluarga yang sudah melegenda sejak zaman kakek buyut saya itu, Guru Kang,” potong Jung Yunho.

   Guru Kang terdiam, jeda beberapa saat baru ia kembali meneruskan, ”La…lalu jika A…anda mengerti, mengapa…?”

   ”Mengapa membiarkan?”

   Guru Kang mengangguk-angguk, seperti seekor anjing kecil yang sudah sangat ingin diberikan cemilan.

   ”Kang Yewon-ssi,” Kepala Sekolah Jung tersenyum penuh arti, ”Apa yang terjadi pada kedua keluarga itu adalah urusan mereka. Selama mereka berdua menitipkan anak mereka di Hanlim, kedua anak itu harus mengikuti setiap peraturan yang ada di Hanlim.”

   ”Te…tetapi kepala Sekolah—“

   ”Jika memang Tuan dan Nyonya Kim atau Oh yang terhormat hendak mengajukan keberatan, mereka bisa datang kesini dan menemui saya. Apa itu cukup jelas, Guru Kang?” tanya Kepala Sekolah Jung dengan nada final yang membuat siapa pun akan ngeri membantahnya, apalagi tatapan matanya yang tajam seolah-olah menusuk.

   Guru Kang menunduk, pasrah. ”Baiklah, Kepala Sekolah.”

   ”Jangan khawatir, saya akan bertanggung jawab, sekarang Anda bisa kembali melanjutkan membantu program Dewan Siswa.” Usir Jung Yunho dengan halus, untungnya guru kikuk yang satu ini tidak banyak membantah. Ia hanya berdiri dan membungkuk dalam-dalam sebelum permisi keluar dari dalam ruangannya. Yunho kemudian menarik laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah foto, ia tersenyum lambat-lambat, sebelum mengembalikannya lagi ke dalam.

 

*        *        *

Kim’s Mansion

09.45 AM KST

 

”…dan terakhir, Anda akan makan malam bersama walikota, di restoran yang baru dibuka oleh putri walikota, Nyonya Sekyung.” Sekertaris Im membacakan rincian jadwal si Nyonya Rumah, sementara beberapa pelayan menyediakan kopi beserta sarapan bagi sang nyonya rumah yang tengah sibuk membaca laporan keuangan terbaru di bisnis fashion milik keluarga Kim.

   ”Nyonya Sekyung! Nyonya Sekyung!”

   Sekyung meletakkan cangkir kopinya, dan mendongak dari kesibukannya membaca laporan keungan tersebut, menatap tajam asisten suaminya yang datang tergopoh-gopoh, sedikit panik. ”Ada apa, Tuan Jisung?” tanyanya.

   ”Apa Tuan Jaejoong mengatakan bahwa beliau mengirimkan sponsor untuk acara sekolah Tuan Joonmyun?”

   Sekyung mengangguk, kembali memeriksa laporan keuangannya.

   ”Saya tidak bisa menghubungi Tuan Jaejoong karena beliau tengah rapat sekarang, sebaiknya saya memberitahu Anda terlebih dahulu.”

   ”Ada apa memangnya? Sudah jadi kebiasaan bagi kami mensponsori acara sekolah Joonmyun.”

   ”Saya baru saja memeriksa proposal tersebut, ada nama Oh Donghae didalamnya, Nyonya Sekyung.”

   Sekyung berhenti membaca dan menoleh perlahan pada Jisung. Kedua mata sipitnya nampak mengerikan dengan semakin tertariknya kedua mata tersebut ketika sang Nyonya rumah memicingkan matanya dengan tidak suka. ”Oh Donghae?”

   ”Ne, Nyonya.”

   ”Apa proposal tersebut sudah dikembalikan pada pihak sekolah?” tanya Sekyung lambat-lambat, dengan suara tenang, namun sudah sanggup membuat para pelayan gemetar ketakutan dan tidak berani bergerak dari posisi masing-masing.

   Jisung menjilat bibirnya gugup dan mengangguk, ”Su…sudah, Nyonya Sekyung.”

   ”Baiklah, aku ingin semua ini disampaikan pada Jaejoong begitu ia selesai rapat. Dan Sekertaris Im, siapkan mobil. Aku mau tahu apa maksud Hanlim melakukan ini.” Sekyung berdiri dan meraih tas tangannya sambil mengikuti Sekertaris Im yang berjalan cepat menuju lobi rumah.

 

*        *        *

Hanlim Art School

First Period Recess

 

”Aku bingung kenapa mendadak dibawah ramai sekali?” gumam Hana sambil melirik ke arah jendela.

   ”Omo!”

   Mendadak seluruh teman sekelasnya berlari ke jendela kaca besar, sementara Jaehee sendiri melongo kebingungan. Hana sendiri sudah menjadi salah satu orang pertama yang melihat keluar dengan penasaran.

   ”Ada apa?” baru saja Jaehee bertanya begitu, hampir seluruh teman sekelasnya menoleh kepadanya dengan bersamaan.

   ”Jaehee-ya, sepertinya ayahmu datang… err, dan Nyonya Kim.” Gumam Hana.

   ”Mwo?!” Jaehee buru-buru berdiri dan melihat sendiri ke bawah, dan benar saja, semua keramaian yang tadi Hana katakan adalah bahwa kini, hampir seluruh penjuru sekolah menyaksikan dua buah mobil mewah di parkir secara bersebrangan, dan bagaimana dua orang yang muncul dari dalam kedua mobil tersebut tidak saling menyapa dan justru berjalan lurus diikuti para pegawai mereka.

   Dan… para wartawan.

   ”Oh Tuhan,” keluh Jaehee sambil memejamkan kedua matanya erat-erat. ”Apa yang mereka lakukan disini?”

   ”Dia Ayahmu, Jaehee-ya. Apa kau tidak tahu kenapa dia datang?” tanya salah seorang temannya, penasaran.

   ”Nyonya Kim juga datang,” komentar temannya yang lain, ”Apa ada masalah yang terjadi?”

   Jaehee menggeleng-geleng, mual, menjauh dari jendela. Ia paling benci hal seperti ini. Ia tahu sejak ia kecil, keluarganya dan keluarga Kim sudah saling bermusuhan. Kebencian itu begitu terasa ketika ia baru saja diterima masuk SMA. Ayah dan Ibunya tidak mengizinkannya untuk datang ke sekolah sampai mereka membereskan permasalahan putra keluarga Kim yang ternyata juga diterima di sekolah yang sama dengannya.

   Jaehee ingat beritanya ada dimana-mana waktu itu, dan sangat memalukan melihat kedua orangtuanya mendatangi sekolah seperti jagoan, karena tidak terima anak dari keluarga Kim juga diterima disana. Untungnya, pihak sekolah berhasil menyelamatkan wajahnya karena ia tetap bersekolah disana, setelah para orangtua mengetahui bahwa ia dan Joonmyun berada di departemen berbeda, dan pihak sekolah berjanji untuk tidak menyatukan mereka dalam satu mata pelajaran yang sama.

   Memalukan, bukan?

   Yang Jaehee rasakan sekarang, sama persis dengan apa yang Joonmyun rasakan di dua tingkat ruangan di atas kelas Jaehee. Seperti Jaehee, seluruh teman-teman sekelasnya ramai begitu melihat banyak orang berkerumun dibawah, sampai mengetahui bahwa Ibunyalah yang membuat keramaian di Hanlim. Fakta bahwa ibunya datang, bersamaan dengan Ayah Jaehee membuat perasaan Joonmyun tidak enak.

   Jangan-jangan ini karena Jaehee pingsan kemarin.

   Jongin juga tidak membantu sama sekali karena malah mengatakan hal yang ia khawatirkan berkali-kali, meski sambil berbisik.

   ”Apa kubilang? Gadis itu pasti bercerita pada ayahnya, huh!”

   ”Dia pasti bilang bahwa kita menyaksikan ia nyaris mati… dan sekarang ayahnya tidak terima, Sobat!”

   ”Gadis itu benar-benar!”

   Joonmyun sebenarnya tidak ingin berpikir yang macam-macam mengenai Jaehee, karena gadis itu terlihat seperti gadis baik, meski mereka berdua berasal dari dua keluarga yang bermusuhan. Tetapi jika memang alasan ibunya datang ke sekolah ada hubungannya dengan pertolongannya kemarin, ia benar-benar kecewa.

   Padahal ia pikir gadis itu… yah, baik.

   Joonmyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan kembali di tempat duduknya sambil mengeluarkan buku musik jazz tingkat tiganya dan berusaha membuang jauh-jauh pikiran soal Jaehee.

   Girls will be girls…

   Tidak ada gadis yang bisa diprediksi, pikirnya muram sambil membalik halaman yang ia rasa sudah ia kuasai. Dulu, mana pernah ia menyangka Joohyun akan jadi biksu. Joohyun yang jelas-jelas ia kenal sejak kecil saja tidak dapat ia tebak jalan pikirannya, apalagi yang baru ia kenal macam Oh Jaehee.

   Tapi…

   Menggeleng lagi, sudah berapa banyak tapi yang ia gunakan untuk menyangkal hari ini? Abaikan saja dulu, tes di mata pelajaran sehabis ini jauh lebih penting daripada sekedar memikirkan hal ini, batin Joonmyun.

 

*        *        *

Lobby

Hanlim Art Schol

 

”Kepala Sekolah Jung siap menemui Anda, Nyonya Sekyung, dan Tuan Oh,” Guru Kwon tersenyum, meskipun tak ada satu pun yang tersenyum. Baik Sekyung, maupun Donghae. Keduanya berdiri bersebrangan tanpa memandang satu sama lain, begitu pula dengan asisten atau sekertaris pribadi keduanya yang sama-sama memancarkan aura permusuhan.

   Guru Kwon mendorong pintu ruangan terbuka, mempersilakan Sekyung dan Donghae yang masuk dan berdiri tetap saling bersebrangan dan tidak saling memandang satu sama lain. Keduanya menatap dengan tidak sabar kursi kepala sekolah yang masih memunggungi mereka.

   Sekyung bahkan kini menghentakkan tumit sepatu tingginya. Ibu dari Kim Joonmyun ini rupanya benar-benar tidak sabar.

   ”Kepala Sekolah, Tuan Oh dan Nyonya Sekyung sudah datang.” Guru Kwon memberitahu.

   Dan kursi tinggi itu diputar, memperlihatkan sosok kepala sekolah Hanlim Art School yang baru menjabat kurang lebih selama enam bulan tersebut. Sosok yang jauh berbeda dengan kepala sekolah dulu yang sudah tua dan sangat takut terhadap pengaruh dua keluarga yang bersaing ini. Jung Yunho tersenyum menatap dua tamunya yang sama-sama kaget.

   ”Selamat datang, Donghae-ya, Sekyung-ah.”

   Guru Kwon tersenyum, ”Saya permisi dulu, Kepala Sekolah.” Ia membungkuk dan keluar dari dalam ruangan, membiarkan Jung Yunho yang menghadapi sendiri Shin Sekyung dan Oh Donghae ini.

   ”K…kau?!” seru Donghae tidak percaya.

   Sekyung menyerahkan clutch-nya pada Sekertaris Im yang nyaris kehilangan keseimbangan karena kaget dengan gestur atasannya tersebut, Sekyung bergerak mendekati meja dan menatap Yunho lekat-lekat.

   ”Apa-apaan ini, Jung Yunho-ssi?”

   Yunho hanya tersenyum. Tidak terpengaruh dengan nada sinis yang Sekyung lontarkan kepadanya. Oh dia ingat betul bagaimana sikap dingin wanita inilah yang akhirnya membuat sahabatnya, Kim Jaejoong, jatuh cinta.

   ”Kau menjabat sebagai kepala sekolah Hanlim?!” seru Donghae tidak percaya. ”Sejak kapan?”

   ”Sejak… enam bulan yang lalu?” gumam Yunho sambil melirik sahabatnya yang lain, Donghae, kini tengah menatapnya tidak percaya. ”Duduklah, Sekyung-ah, Donghae-ya… aku yakin kalian pasti ingin membicarakan masalah yang sangat penting sampai repot-repot mau datang kesini.”

   Sekyung berdecak dan melipat kedua tangannya. ”Jangan bercanda, Jung Yunho.”

   Yunho mengangkat sebelah alisnya, ”Sebelum kau menikah dengan Jaejoong, kau adalah seorang Shin, Sekyung-ah. Kau tidak punya masalah sama sekali dengan Donghae, begitu pula sebaliknya.” Ujar Yunho dengan pandangan tajam. ”Kalian berdua mungkin memang sama-sama pemimpin di perusahaan kalian. Tetapi disini, aku adalah kepala sekolahnya. Jadi jika memang kalian ingin bicara, duduk.”

   Donghae tahu betul bagaimana tabiat sahabatnya yang satu ini. Dengan berat hati, ia menarik kursi sedikit menjauh dari posisi kursi milik Sekyung dan menjatuhkan tubuhnya sambil melipat kedua kakinya.

   Terpaksa Sekyung mengikuti.

   ”Jadi, apa yang mau kalian bicarakan?” tanya Yunho sambil bersandar pada kursinya, ”Kuharap cukup penting.”

   Sekyung memutar kedua matanya. ”Jangan main-main, Jung Yunho. Kau tahu betul kenapa kami berada disini. Kenapa tidak ada satu pun Dewan Sekolah yang menjelaskan kepada kami bahwa Allohsdairy juga ikut menjadi sponsor?!”

   ”Dan kenapa kalian tidak mengesampingkan KimCorp ketika meminta sponsor dari kami?!” ujar Donghae.

   Yunho memjamkan matanya erat-erat sebelum kembali membukanya, dengan kedua mata tajamnya ia menatap Sekyung dan Donghae secara bergantian. ”Jadi, ini yang kalian bicarakan? Masalah sponsor?”

   ”Yunho-ya… kau…”

   Yunho mengangkat tangannya dan menatap Donghae tajam, ”Kukira kau dan Jaejoong sudah semakin dewasa menghadapi sikap keluarga kalian.” Yunho menatap Donghae penuh arti, ”Kukira kalian dulu ingin sekali tidak mengikuti jejak keluarga dan leluhur kalian untuk tidak meneruskan permusuhan konyol diantara Kim dan Oh.”

   ”Permusuhan itu bukan atas alasan yang tidak jelas, Jung Yunho-ssi!” seru Sekyung kini melempar pandangan tak bersahabat pada Donghae yang juga ikut melirik sinis balik pada Sekyung. ”Itu sudah ada dalam keluarga kami, dan kami rasa tidak perlu menyebarluaskannya, meskipun padamu, teman dari Jaejoong sendiri.”

   Donghae tidak mengatakan apa-apa, dia setuju dengan Sekyung. Toh keluarga Kim dan keluarga Oh sama-sama merasa keluarga yang bersangkutan sangat merugikan keluarga mereka. Tak ada bantahan, namun Donghae juga enggan mengiyakan Sekyung, yuck.

   ”Lalu, apa masalah kalian kali ini? Karena sama-sama menjadi sponsor untuk acara perhelatan akbar Hanlim? Dimana kedua putra,” Yunho menatap Sekyung lekat-lekat, ”Dan putri,” kali ini menatap Donghae lekat-lekat, “kalian akan menunjukkan bakat mereka pada seluruh agen dari universitas bergengsi di seluruh dunia.”

   ”Tentu saja aku mendukung putriku, Yunho-ya!” protes Donghae tidak terima. ”Yang aku permasalahkan adalah kenapa mereka…” Donghae menunjuk Sekyung, ”Juga ikut menjadi sponsor di perhelatan Hanlim ini?”

   ”Perlu untuk Anda ketahui, Tuan Oh Donghae,” ujar Sekyung sambil menoleh dan menatap dingin pada Donghae, ”Bahwa KimCorp sudah selalu menjadi sponsor bagi setiap perhelatan Hanlim sejak Joonmyun bersekolah disini. Ah,” kekeh Sekyung angkuh, ”Mungkin kau tidak tahu, karena putrimu tidak aktif sebagai Dewan Sekolah seperti Joonmyun.”

   ”Dan mungkin putramu tidak berani meminta sponsor dari kami,” balas Donghae.

   Yunho berdecak, ”Hentikan! Kalian tidak sadar dengan usia kalian? Bahkan putra dan putri kalian belum pernah bertengkar seperti yang kalian lakukan di Hanlim ini. Bersikaplah lebih dewasa, kau Sekyung, dan juga kau, Donghae.” Yunho mengatupkan kedua tangannya dan menatap Sekyung serta Donghae tajam, ”Jadi permasalahan disini adalah kalian tidak ingin memberi sponsor jika satu diantara kalian juga menjadi sponsor?”

   ”Kami ingin memberikan sponsor, tapi kami tidak mau bekerja sama!” seru Sekyung. ”KimCorp sudah menjadi sponsor perhelatan akbar Hanlim selama dua tahun, dan ini sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk memberikan sponsor.”

   ”Lalu tetap saja berikan sponsor. Apa masalahnya?” tanya Yunho.

   ”Dia tidak ingin memberikan sponsor karena Allohdairy akan menjadi sponsor.” Tandas Donghae penuh kemenangan, ”Anda bisa mundur jika Anda rasa Anda keberatan dengan pemberian sponsor, Allohdairy akan…”

   ”KimCorp sudah selalu menjadi sponsor, jadi Allohdairy bisa mundur…”

   BRAK!
”Ya, Jung Yunho!” seru Donghae begitu ia dan Sekyung sendiri sudah berhasil menguasai diri setelah Yunho memukul meja dengan kedua tangannya. ”Berani-beraninya…”

   ”Oh aku berani!” Yunho berdiri dan dengan postur tubuhnya yang menjulang, tentu saja Sekyung dan Donghae merasa terintimidasi. Ditambah lagi Yunho memiliki wajah dengan ekspresi yang tak kalah dinginnya dari Sekyung. ”Aku sudah mengatakan kepada kalian, bahwa kalian memang pemimpin di KimCorp ataupun Allohdairy. Tapi kalian sudah menyekolahkan putra dan putri kalian di Hanlim, dimana mereka sekarang selama masih bersekolah… berada dalam status penjagaanku.”

   Sekyung dan Donghae saling membuang pandang.

   ”Terserah… kalian bisa menggunakan berbagai cara kekanakan yang bisa kalian pikirkan. Bawa mereka keluar dari sini, pindahkan sekolah mereka ke sekolah dimana kalian bisa mengatur mereka. Tapi ingat, Hanlim memiliki reputasi yang sangat baik di universitas seni, baik di Korea maupun di dunia. Dan aku bisa pastikan…” ujar Yunho lambat-lambat, ”Semua orang tahu betapa tidak profesionalnya kalian karena telah menarik putra dan putri kalian dari Hanlim karena alasan sponsor yang sepele. Bayangkan, perselisihan kedua keluarga yang sudah memuakkan seluruh lapisan masyarakat saat mendengar tingkah kalian yang kekanakan akan berdampak apa pada KimCorp dan Allohdairy.”

   Sekyung balas menatap Yunho tajam, ”Kau mengancam?”

   ”Oh ya, aku mengancam, Shin Sekyung-ssi!” balas Yunho lagi, tanpa rasa takut. ”Kalian bisa membuatku kehilangan pekerjaan. Aku hanya akan kehilangan pekerjaan. Tapi pikirkan apa yang akan hilang dari kalian setelah menyingkirkanku.”

   Donghae mendesah berat. Ia tahu benar tabiat Jung Yunho sejak zaman sekolah. Berasal dari keluarga berpendidikan, memiliki prinsip yang kuat, disiplin tinggi, dan tidak ada yang bisa menahannya untuk tidak berteman dengan dua putra penerus keluarga Kim dan Oh pada saat itu; Jaejoong dan Donghae.

   ”Aku menjalankan Hanlim dengan profesional. Jadi jangan mengharapkan akan ada tindak yang berdasarkan rasa pertemanan diantara kita,” Yunho berjalan keluar dari mejanya mengitari tempat duduk Sekyung dan Donghae. ”Jika kalian hendak memberikan sponsor… berikan sponsor, aku tidak akan mentolerir siapa yang mau dan siapa yang tidak, jika memang kalian berniat memberikan sponsor, berikan! Jika tidak, ya sudah tidak usah!”

   Sekyung dan Donghae sama-sama diam.

   ”Jika tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan, atau ada namun jauh lebih penting daripada ini, silakan!”

 

*        *        *

”Eh, Joonmyun-ah,” panggil Jongin, saat ia bersama teman-teman homeroom lainnya mengamati dengan seksama lapangan di bawah. ”Sepertinya… Sekyung Imo sudah pulang.” Jongin beranjak dari jendela dan buru-buru duduk di depan Joonmyun, ia nampak ragu-ragu, ”Kukira ayah Oh Jaehee itu datang untuk melaporkan perbuatanmu.”

   Sebenarnya, tadi Joonmyun juga berpikir begitu. Ia sudah menyiapkan dirinya kalau-kalau guru akan memanggilnya ke ruang kepala sekolah, dan sejujurnya ia cukup kaget sekarang bahwa ia tidak dipanggil, dan ibunya pulang begitu saja.

   ”Sudah kukatakan, tidak akan ada orang yang ditolong malah berbalik menggigit tangan penolongnya,” ujar Joonmyun pelan, pura-pura tidak peduli dan membaca bukunya, padahal perutnya muncul sensasi aneh.

   Hell, sepertinya ia lega bahwa memang Oh Jaehee itu tidak mengatakan apa-apa dan benar-benar berterima kasih atas bantuannya kemarin.

   ”Lalu apa yang Sekyung Imo lakukan disini?”

   Kalau itu, Joonmyun pun penasaran.

   Bel pergantian pelajaran kembali berbunyi. Jongin berbalik menghadap ke depan kelas lagi tatkala Guru Kwon, Guru pembimbing homeroom mereka, sudah berdiri di depan kelas tersenyum pada seluruh murid sambil melambaikan selembar kertas. ”Kalian bisa tebak bukan apa yang kupegang?”

   ”Spring Festival?”

   Guru Kwon mengangguk, ”Yang berarti merupakan tantangan bagi kalian semua untuk mendapatkan nilai yang bagus demi rekomendasi di perhelatan akbar Hanlim.”

   Seluruh murid di ruangan mulai berbicara pada saat yang bersamaan. Homeroom Joonmyun, layaknya homeroom lainnya, terdiri dari murid-murid yang berasal dari berbagai macam jurusan yang berbeda.

   ”Jangan terlalu dibawa pusing,” pesan Guru Kwon sambil terkekeh geli melihat kegaduhan yang dibuat murid-muridnya. ”Tapi, aku benar-benar menyarankan kalian untuk benar-benar fokus pada festival musim semi ini. Kepala Sekolah Jung mungkin akan membuat banyak perubahan untuk pemberian nilai di sekolah ini, maka aku harap kalian benar-benar bisa bekerja keras dalam menunjukkan kemampuan kalian masing-masing. Arasseoyo?”

   ”Ne!”

   Guru Kwon mengangguk, ”Kalau begitu, aku harap tiga hari lagi kalian sudah bisa mengumpulkan aplikasi penampilan kalian untuk diserahkan langsung kepada kepala jurusan. Semoga berhasil~”

   ”Tsk, aku harus bisa tampil pada perhelatan akbar itu.” Jongin bersandar pada kepala kursinya. Dari nada bicaranya saja, Joonmyun sudah tahu bahwa sekali lagi sahabatnya ini berambisi untuk membuktikan bahwa ia adalah raja dalam jurusannya. Ambisi Jongin itu, terkadang selain membuat Joonmyun ngeri—karena terkadang Jongin bisa sampai mengorbankan kesehatannya sendiri demi meraih titel murid terbaik dalam jurusannya, juga membuat Joonmyun iri.

   Kim Jongin bisa dengan mudahnya mengejar apa yang jadi impiannya. Sementara ia sendiri? Joonmyun tersenyum miris jika ia ingat bahwa mimpinya bahkan sekarang membingungkan. Ia hidup dengan menjalani apa yang dipilihkan oleh kedua orangtuanya—ibunya terutama. Bukannya ia tidak suka, tetapi ia ingin memiliki keinginan kuat macam Jongin.

   ”Aku tidak bisa membiarkan pria dengan segudang ambisi itu menyabet titel koreografer terbaik lagi!” desis Jongin berapi-api.

   Nah, kalau yang satu ini, Joonmyun tetap pada pendiriannya, bahwa ia ngeri jika Jongin sudah berambisi seperti ini. Sebagai seorang pria yang menurut pendapatnya sendiri tidak berorientasi pada target, Joonmyun jarang sekali memperhatikan saingan-saingan teman-teman sekelasnya. Joonmyun sendiri tidak pernah menganggap calon-calon pianis berbakat lain di Hanlim sebagai saingannya. Berbeda dengan Jongin.

   Sejak tingkat satu di Hanlim, Jongin sudah sering mengeluhkan seseorang yang ia tasbihkan sendiri sebagai ’saingan’. Dan sebagai seseorang yang tidak pernah terlalu ingin ikut campur pada urusan orang, Joonmyun tidak begitu mengenal siapa yang dimaksud Jongin, kecuali mengetahui bahwa pria itu berasal dari departemen yang sama dengannya, dan merupakan satu dari sedikit murid yang mengambil double major.

   Zhang Yixing.

   Meskipun Jongin membencinya—dan tidak mengakuinya, Joonmyun tidak mengenal pria itu. Maka meski sahabat yang sekaligus saudara jauhnya sendiri sangat membenci pria bernama Yixing itu, Joonmyun tidak pernah mau ikut-ikutan. Selain itu, jika mendengar gerutuan Jongin tentang pria bernama Yixing itu, Joonmyun malah jadi iri kembali.

   ”Kau harus menolongku, Joonmyun-ah!”

   ”Jongin, aku tahu apa soal koreografi dan dance? Aku kan pianis.”

   Jongin mengacak rambutnya, frustasi. ”Aku ingin menggabungkan piano, teater, dan dance dalam satu pertunjukkan. Aku harus berpikir luas, jika sainganku adalah si breng…” Joonmyun memelototinya, dan Jongin buru-buru mengoreksi kata-katanya, ”…dia, aku harus bisa berpikir melampaui orang normal. Yeah, karena dia orang aneh yang tidak normal!”

   ”Jongin, kau tidak boleh mengatakan orang lain aneh!” omel Joonmyun. ”Lagipula, kau tetap tidak boleh melakukan sesuatu yang diluar batas kemampuanmu sendiri. Bagaimana kalau kau sakit lagi seperti waktu itu?”

   ”Tidak bisa! Pria itu berpikir diatas rata-rata Joonmyun-ah. Aku harus memiliki ide yang brilian jika ingin mengalahkannya! Apalagi setelah festival musim semi, semua penilaian akan dihitung dari berapa banyaknya kita berpartisipasi dalam berbagai showcase.”

   Joonmyun menghela napas dalam-dalam mendengarnya. Alis Jongin sudah mengerut saking seriusnya pria itu berpikir mengenai masa depannya.

   ”Apa pun itu, aku harus memastikan Zhang Yixing tidak menghalangi jalanku.”

 

*        *        *

Jaehee’s Homeroom

 

   ”Bagi murid-murid Musical Theatre, yang berada dibawah bimbinganku, kutunggu kehadiran kalian di ruang teater tiga sekarang.” Guru Han, yang selain menjabat sebagai guru homeroom sekaligus guru pembimbing jurusan Jaehee berkata di depan kelas setelah memberikan pengumuman mengenai pertunjukan musim semi, seperti yang Guru Kwon lakukan di kelas homeroom Joonmyun.

   Guru Han melanjutkan, ”Dan jangan lupa bawa tugas kalian yang kuberikan kemarin,” mata Guru Han berkilat penuh semangat sambil turun dari podium kecil di depan kelas. Seisi kelas homeroom langsung saja ramai begitu Guru Han meninggalkan kelas.

   Jaehee merogoh laci mejanya dan mengeluarkan buku bersampul kulit berwarna merah. Pikirannya melayang pada pertemuannya dengan Joonmyun tempo hari. Pipinya masih menghangat jika ia mengingat senyum Joonmyun yang sangat sangat sangat indah dan suaranya yang lembut.

   Kau ini gila, Oh Jaehee. batinnya sendiri. Ia berdiri sambil tersenyum pada beberapa teman homeroom-nya yang mengangguk padanya, Jaehee keluar dari dalam kelas homeroom-nya menyusuri lorong-lorong kelas hingga mencapai pintu keluar yang membawanya menatap hamparan panjang gedung yang terbuat dari bata merah.

   Di gedung teater tiga, teman-teman sesama murid asuh Guru Han sudah mulai berdatangan membawa naskah di tangan mereka. Mengembuskan napasnya dalam-dalam, Jaehee mengikuti salah seorang temannya yang duduk di kursi-kursi yang diatur membentuk lingkaran, dimana Guru Han duduk di tengahnya dengan papan jalan di tangan, mengabsen satu persatu murid-murid bimbingannya.

   Baru saja Jaehee duduk, saat kursi kosong disampingnya ikut berderit.

   ”Annyeonghaseyo, Guru Han.”

   Jaehee menoleh dan semangatnya langsung merosot hingga ke bawah kakinya. Kim Seolhyun, murid paling berbakat di Departemen Musical Theatre, yang selalu membuat Jaehee kehilangan kesempatannya untuk mendapatkan peran dalam setiap pertunjukan yang ada, kini duduk disampingnya.

   Jaehee lupa bahwa mereka memiliki Guru pembimbing yang sama. Melirik Seolhyun, Jaehee menangkap mata gadis itu berbentuk bulan sabit saat tersenyum pada teman-teman yang lain, hingga tersenyum kepadanya. Jaehee membalasnya dengan sopan.

   Mereka berdua saling kenal, aman menyebut hubungannya dengan Seolhyun ’kenalan’. Karena meskipun berada dalam departemen dan jurusan yang sama, ia dan Seolhyun tidak pernah berada dalam satu kelas, atau satu homeroom yang sama. Hanya dalam beberapa pertemuan mereka bertemu. Misalnya dalam salah satu casting untuk pertunjukan musim gugur di tingkat satu, dimana Jaehee mengacaukan casting-nya sendiri setelah melihat penampilan memukau Seolhyun.

   Bisa ditebak, Seolhyun mendapatkan peran dalam pertunjukkan itu, sementara Jaehee hanya mendapatkan peran-peran pembantu karena ia sendiri terlalu tidak percaya diri jika sudah melihat kemampuan Seolhyun dalam berakting.

   Kali ini, Jaehee merasa kesempatannya untuk meraih cita-cita sebagai aktris musikal hanya tinggal satu tahun. Jika ia mengacaukan penampilannya sendiri karena tidak percaya diri dengan kemampuan Seolhyun, ia harus mengucapkan selamat tinggal pada mimpinya, dan bersiap-siap masuk dalam dunia bisnis Allohdairy.

   Dan Seolhyun sepertinya dekat dengan Kim Joonmyun.

   Pikiran random itu muncul begitu saja, membuat perut Jaehee kembali mulas. Meski kedekatan mereka berdua rasanya tak ada hubungannya dengan kemampuan aktingnya yang buruk. Jaehee mengembuskan napasnya berat.

   ”Oke, semua sudah hadir disini.” Guru Han memandang berkeliling sambil tersenyum. ”Untuk pertunjukan musim semi ini, departemen Musical Theatre akan memberikan pertunjukan bertema sastra klasik seperti yang sudah kalian tahu. Dan sekarang ada baiknya kita mulai mendiskusikan sastra-sastra klasik yang sudah kalian pilih, dan mengapa kalian merasa sastra klasik tersebut pantas ditampilkan untuk musim semi.” Ia memandang berkeliling lalu pandangannya jatuh pada sosok Seolhyun yang duduk dengan percaya diri. ”Miss Kim, bagaimana denganmu?”

   Seolhyun berdiri dan membungkuk dalam-dalam, ”Saya mendapatkan sebuah naskah yang bagus, rekomendasi sahabat saya.” Seolhyun memulai perkenalannya sambil membuka kertas di tangannya, ”Mungkin naskah ini juga sudah tidak asing diantara kita semua… Keira Knightley pernah membintangi versi filmnya, Pride and Prejudice.” Seolhyun kemudian mendeskripsikan bagaimana kejadian pada tahun 1800-an tersebut bisa diaplikasikan pada masa modern, dimana manner, dunia kelas atas, moral, pernikahan masih menjadi isu yang sudah dibungkus dengan teknologi.

   Jaehee hanya menghela napas dalam-dalam kecewa pada dirinya sendiri. Seolhyun bahkan bisa begitu menghayati naskahnya sendiri, dan caranya berbicara dan mendeskripsikan cerita tersebut benar-benar membuat seluruh murid terkagum-kagum padanya.

   ”Baik, terima kasih Miss Kim Seolhyun. Lalu, Mr Kim,” mata Guru Han beralih pada seorang pria di pojok kanan yang berwajah bundar dengan mata bulat. Jaehee mengenalnya, Kim Minseok. Ia dan Minseok pernah satu homeroom di tingkat dua, dan beberapa kali terlibat dalam beberapa pertunjukan.

   Minseok berdiri dan menjelaskan tentang sastra klasik berjudul Macbeth. Jaehee hanya memperhatikan teman-temannya satu persatu dipanggil oleh Guru Han, sampai akhirnya gilirannya sendiri tiba.

   ”Miss Oh,”

   Jaehee berdiri dan berdeham. Ia menonton berbagai referensi Romeo dan Juliet, meski tentu saja sebagai anak masa kini, ia paling menyukai versi Leonardo DiCaprio.

   ”Saya akan merekomendasikan sastra klasik karya William Shakespeare, berjudul Romeo & Juliet.

   Guru Han tiba-tiba memberi Jaehee sebuah senyum yang sukar ia mengerti. Namun karena Guru Han tidak mengatakan apa-apa, Jaehee memulai penjelasannya, ”Romeo & Juliet, menjelaskan tentang kisah cinta tragis di kota Verona, Italia. Antara Romeo Montague dan Juliet Capullet. Dua insan yang berasal keluarga yang paling berpengaruh di Italia,” Jaehee menghela napas dalam-dalam dan menyadari betapa miripnya kondisinya saat ini dengan roman picisan yang ia bawakan dan merasa miris sendiri, ”Mereka bertemu saat pesta topeng yang diselenggarakan oleh keluarga Juliet, dan jatuh cinta pada pandangan pertama.” Lanjutnya pelan, ”Meskipun jatuh cinta adalah hal yang indah, hal itu justru membawa petaka baginya dan Romeo. Kedua keluarga takkan pernah mungkin menerima satu sama lain. Mereka terpaksa menikah diam-diam, karena mereka tidak peduli dengan permusuhan yang terjadi diantara keluarga mereka. Mereka tidak membenci satu sama lain. Untuk apa melanjutkan kebencian turun temurun yang kekanakan? Tapi, keluarga mereka jelas tidak berpikir begitu. Sepupu Juliet membunuh sahabat Romeo, Romeo balas dendam meski tidak bermaksud untuk membunuh sepupu Juliet. Romeo di asingkan, dan Juliet dijodohkan dengan Paris.” Jaehee terkekeh, ”Bagaimana kejamnya keluarga mereka hanya karena kebencian turun temurun… hingga mengorbankan dua anak mereka yang memilih menghabiskan hidup mereka, daripada meneruskan kebencian keluarga itu.”

   Jaehee berdeham, karena menyadari seluruh pasang mata di dalam ruangan ini menatapnya lekat-lekat, termasuk milik Guru Han.

   ”Sekian.” Jaehee buru-buru duduk dengan malu.

   ”Miss Oh, apa yang kau pegang itu naskah asli dari Romeo & Juliet?” tanya Guru Han, masih dengan senyuman yang tetap tidak Jaehee mengerti.

   Jaehee mengangguk ragu, ”Asli dalam arti seluruh kalimat dan dialognya, Guru Han?” Guru Han juga mengangguk, ”Iya, ini masih asli.”

   ”Baiklah, terima kasih, Miss Oh. Miss Seo, silakan bawakan naskahmu.” Guru Han mengalihkan pandangannya meski masih tersenyum penuh arti.

 

*        *        *

WOAH, Romeo & Juliet!”

   Joonmyun yang berjalan dengan roti ditangannya menoleh pada Jongin yang berhenti mendadak di papan pengumuman yang dipenuhi murid-murid yang heboh membicarakan isi dari sebuah poster berwarna merah besar yang sepertinya baru dipasang di papan pengumuman.

   ”Departemen Musical Theatre akhirnya mengumumkan pertunjukkan apa yang akan mereka tampilkan untuk festival musim semi,” Jongdae muncul dari dalam kerumunan, menghampiri Jongin dan Joonmyun. ”Banyak lowongan untukmu,” Jongdae meninju bahu Jongin, ”Mereka jelas tengah mencari koreografer untuk pertunjukan ini.”

   ”Assa!!!” Jongin menggosokkan tangannya bersemangat. ”Kau bisa dengar itu, Joonmyun-ah? Sepertinya dewi keberuntungan tengah berpihak padaku. Kalau aku berhasil jadi koreografer di pertunjukkan ini, satu nilai lebih untukku.”

   ”Kau ikut, Jongdae-ya?” tanya Joonmyun penasaran.

   ”Entahlah, Musical Theatre juga memiliki penyanyi berbakat… ah tapi, mereka membutuhkan pianis untuk soundtrack, mungkin kau bisa bergabung.” Jongdae mengedikkan kepalanya ke arah papan pengumuman.

   Joonmyun mengangguk, sedikit tertarik. Apa drama ini hasil rekomendasi Jaehee? Batinnya penasaran. Jika memang Departemen Musical Theatre menerima Romeo & Juliet dari Jaehee, berarti dia ikut andil karena naskah Jaehee kan berasal darinya. Memikirkan itu, Joonmyun jadi tersenyum puas.

   ”Ooooh, kau pasti sudah memikirkan melodi untuk musikal ini?” tebak Jongin semangat. ”Bayangkan kita sama-sama mendapatkan nilai tambahan selain pertunjukan kita sendiri. Ahh, Julliards, aku datang!”

   ”Hai kalian!”

   Jongin dan Jongdae melambai, sementara Joonmyun berbalik untuk melihat Seolhyun tersenyum kearah mereka bertiga.

   ”Sudah lihat pengumuman? Ah, sayang sekali…” Seolhyun menunjukkan naskah Pride and Prejudice-nya, ”Jane Austen harus kalah dengan William Shakespeare kali ini. Padahal aku sudah yakin bahwa naskahku yang akan tembus…”

   ”Kau akan jadi Juliet, Seolhyun-ah?” tanya Jongin bersemangat.

   Seolhyun tersenyum, mengepalkan tangannya dan bertekad. ”Aku pasti bisa menjadi Juliet. Casting akan dimulai minggu depan… doakan aku ya. Dan Joonmyun-ah, kurasa aku akan butuh bantuanmu untuk berlatih lagi. Serius, kenapa kau bukan masuk jurusanku? Kau sangat pandai menyelami karakter.”

   Jongdae dan Jongin menepuk bahu Joonmyun, ikut bangga. Mereka jelas tahu kemampuan Joonmyun selain memainkan piano.

   ”Memang siapa yang mengajukan Romeo & Juliet, Seolhyun-ah?” tanya Jongdae penasaran. ”Tumben naskahmu tidak diterima, biasanya kau selalu berhasil mengajukan naskah dan tentunya jadi pemerannya.”

    “Ah, kali ini aku kalah dari Oh Jaehee.” jawab Seolhyun kecewa.

   Dan Joonmyun harus menahan kedua bibirnya untuk tidak melengkung, karena entah mengapa Jongin meliriknya penuh arti.

[PART III KKEUTT]

Aloha~

Joonmyun dan Jaehee kembali #halah gimana part ini? Masih kurang puas? Aku ngetes ngirim part ini ke dua author favorit sekaligus dede emesh /?/ aku, salah satunya IMA, dan mereka berdua gemes minta moment JunHee lebih banyak. Janji nanti part 4 dibanyakin JunHee-nya. Aku Insya Allah bisa update rutin setiap hari Kamis, jadi AIA bakalan aku apdet seperti WD dulu, setiap Kamis. Kalau nggak pagi, siang, sore, ya malam… pokoknya hari Kamis.

Yang udah ninggalin email di part kemarin, di part ini gak usah ninggalin email lagi yaa… yang belum boleh cantumin emailnya. Tadi aku baca curhatan Jongchansshikalian kenal pasti, authornya Hamartia. Dia bilang masalah password itu jadi dilema banget karena mendadak banyak yang dateng dengan sksd-nya, padahal sebelumnya gak pernah komen. Aku pun ngerasain hal yang sama, itulah kenapa aku minta kalian input email kalian dibandingkan bagiin password via twitter. Aku ngerasa banget pas di Scandal, yang biasanya komennya mentok seratus sekian mendadak jadi 500 #curhat, gimana ya… yang tadinya mau bersyukur aja udah dikomen sama readers-readers kesayangan jadi kesel gitu karna banyak yang maaf, “MUNA” Jadi aku terima kasih banget sama yang tanpa imbalan “password” sudah mau kasih komentarnya. *cium satu-satu*

Oh iya, aku ngerasa di ff ini banyak pake istilah-istilah “aneh”, mungkin di part depan aku mau buat Q&A di author note untuk yang mau nanya-nanya soal istilah di FF ini, misalnya…

Q: Homeroom itu apa sih?

A : Homeroom itu, karena aku pake sistem sekolah “moving class” kayak di ff-ff bule /?/ yang aku baca, jadi homeroom ini semacam Kelas, kalau yang pake sistem ini biasanya pagi-pagi murid-murid ke sekolah masuk kelas homeroom dulu selama dua jam pelajaran, kemudian baru ikutin jadwal mereka masing-masing. Di sekolahnya Joonmyun-Jaehee ini, setiap homeroom siswanya itu terdiri dari seluruh departemen dan jurusan. Contohnya : Joonmyun sama Jongin itu satu homeroom, walaupun Joonmyun dari Departemen Applied Music dan Jongin dari Departemen Dance. Gitu deh, mudah-mudahan paham #halah

Jadi kalau ada yang mau ditanyain lagi, silakan yaaa, aku bakalan jawab ^^ sampai jumpa di part IV hari Kamis depan

XoXo

neez

135 responses to “ALL I ASK [PART III] — by Neez

  1. Wah… Itu kan cerita hidup jaehee-joonmyun 😆😆
    Pas nya pemeran utamanya jaehee sm joonmyun itu 👍🏻👍🏻
    Ini email aku kak neez destria.kim@gmail.com
    Aku insyaalloh bukan readers muna kok, aku kalo baca ya komen. Apalagi cerita kak neez ini aku suka banget soalnya kebanyakan jaehee x joomyun huwaaaaa kan jarang2 nih pake cast joonmyun..

  2. Hubungan romeo dan juliet masa modern yang kayaknya lebih sadis dibandingkan skekejaman ibu tiri hahaha. Ciieeeeee juunmyon pasti bahagia banget tuh oh jaehee yang menang,pasti dari awal jongin tahu kalau juunmyon udah mulai suka sama jaehee dan udah melupakan joohyun bahkan sampek skarang dia nggak ingetckan sama foto yang di ambil sama jongin. Ngebayangin donghae jadi bapak itu………hahaha. mau lanjut baca dulu

  3. Pingback: ALL I ASK [PART X] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Joonmyeon bahagia banget dia pas tau naskah Jaehee -yang direkomendasikan joonmyeon- bisa terpilih buat fesival itu. selamat buat Jaehee, dan jaehee yg rekomendasikan maka Jaehee harus jadi Juliet.
    Seolhyun disini percaya diri banget asli deh :3
    dan oh aku gk bayangin kalo ayah Jaehee Donghae dan ibu Joonmyeon Shin Sekyung :’v

  5. Iseng2 cari judul ff kaya gini krna lagu barunya adele. Eh ternyata nemu. DiSKF pula hihi. AKU juga baru tau cerita romeo juliet kaya gt ternyata. Haha mengenaskan huwaaaa..
    Ijin lanjut baca. Oh ya minta pw part 5 dong kak.hehe. keep writing. Gomawo .
    Widyapramesti54@gmail.com

  6. Joonmyeon seneng banget naskah yg direkomendasiin ke jaehee terpilih… apa joonmyeon-jaehee jadi romeo juliet? Aaaa.. penasaran

  7. Astaga joonmyun seneng banget waktu tau naskah jaehee tembus. Semoga yang jadi juliet nya si Jaehee

  8. Pingback: ALL I ASK [PART XI] PG17 — by Neez (PASSWORD INFORMATION) | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Aaaa~
    Joonmyeon seneng banget naskah jaehee terpilih
    Semoga joonmyeon jadi romeonya 😁😀

  10. kyaaaa…kepsek yunho keren bgtttt….
    bikin tuan Oh dan Ny. kim sampai tak berkutik…. hehehe tingkatkan kepsek jung…..
    kakaaaaaakkk d tunggu part selanjut.y………. 😃

  11. aku berharap yang jadi julietnya itu jae hee dan yang jadi romeo nya joonmyeon kan cocok. cie joonmyeon seneng cerita yg kepilihnya itu ide dari jae hee
    makin seru..

  12. Duh,, masalah sponsor aja diributin. Kalo udah ruval emang gitu ya, masalah kecil jadi dibesar besarun hahaha
    Wah, naskah nya jaehe kepilih. Semoga aja dia bisa meranin juliet

  13. moment Jaehee – Junmyeon di part ini kyakx sedikit aja y…tpi pasti junmyeon seneng bgt wktu tau naskah Jaehee yg terpilih, scra gk langsung ini jga brkat jasa dia….

  14. Pak Donghae sama pak Jaejong dulunya sahabatan kok sekarang jadi musuhan ya? Hmm
    Untung ada kepala sekolah Jung kayaknya bisa baikan lagi nih mereka 😄
    Aku suka sama part yang akhir nih, Joonmyun bikin gemes 😂
    Mereka tuh sebenernya udah pada punya feeling kan, tapi karena masih baru kenalan jadi masih belum peka. Terus karena masalah keluarga jadi masih nyangkal perasaan masing masing juga kayanya.
    Ah eonni imajinasinya luas banget sih, sampe bisa bikin cerita kayak gini 😢

  15. Pingback: ALL I ASK [PART XII] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. Pingback: ALL I ASK [PART XIII] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. Cuma gara2 sponsor barengan juga bikin ribut….
    Gak ngerti deh ini sebenernya ada masalah apa antara keluarga kim dan oh -_- penasaran bgt kakkkk
    Yaampun beneran itu si jaehee sama junmyeon unyu banget mereka :3
    Segitu senengnya si junmyeon waktu naskahnya beneran diajuin sama jaehee :3
    Lanjut dulu ya kak ^^

  18. Cuma gara-gara sponsor barengan juga bikin ribut….
    Gak ngerti lagi deh ini sebenernya ada masalah apa antara keluarga kim dan oh -_-
    Padahal dulunya ortu jaehee junmyeon juga temenan kan? Kenapa gak baikan juga ini kim sama oh -_-
    Ih beneran manis bgt si jaehee sama junmyeon malu2 gituuu :3
    Segitu senengnya ya junmyeon waktu tau naskahnya beneran diajuin jaehee :3
    Lanjut ya kak ^^

  19. Pingback: ALL I ASK [PART XIV] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  20. aww cia cia cia cia
    Senengkan, senyum kan ..
    Joonmyun, kamu hebat,
    Ahh bukan joonmyun tapi jaehee..
    Joonmyun pengen senyum tapi ada jongin
    Haha tahan joon..
    Mungkin perasaan kalian berdua sedang tersembunyi.
    aku komen apa sih ?? Kok rada anehh
    Au ahh, hati serasa ikut deg deg deg

  21. Jd sbnrnya orgtua Jaehee sm Joonmyeon itu temenan ya dulu. Ak suka cara km ngebawa cerita ini. Ringan dbacanya. Smgt ya^^

  22. Kak neez.. Kok aku sampe sekarang belum belum dikasih pw part V 😭😭 padahal aku udah komen pas part III keluar dan aku tunggu smpe selama ini dan smpe aku lupa waktu *hiks
    Aku komen dr awal kok I swear *V
    Aku juga sering baca dan komen ff kak neez kok >< cek aja biasanya aku baca yg jun-hee id nya selalu sama dan emailku destria.kim@gmail.com kalo kelewat hihi

  23. aigoo aigoo bayanginnya bikin senyum senyum sendiri 😆 semoga cowok kayak joonmyun ga cuma ada didalem ff doang amin ya Alllah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s