[KaiNa’s] UNCONDITIONALLY (2) — by IMA

CeC68NUUUAEFsxJ2.jpg

Kim Jong In — Lee Hana

By IMA (@kaihyun0320)

Rating PG

School-Life, Fluff, Romance

©IMA at SKF 2016

 Karma in Love (by Neez) — KISSPROOF — UNCONDITIONALLY (1)

[UNCONDITIONALLY (2)]

Tidak ada yang Hana ingin lakukan selain tidur di sekolah setelah kejadian kemarin mengacaukan jam tidurnya tadi malam. Kepalanya terasa berat dan dadanya masih terasa sakit jika mengingat Jong In kemarin sore. Ia tidak peduli dimana ponselnya berada sejak kejadian kemarin, bahkan mungkin ia lupa membawanya ke sekolah hari itu. Ketika Jinmi dan Jae Hee bertanya, ia hanya beralasan tidak enak badan atau terkadang pura-pura tidur. Hidupnya benar-benar terasa kacau hari itu.

Padahal Hana sudah bersiap-siap jika suatu saat Jong In melakukan hal yang sama padanya seperti apa yang lelaki itu lakukan pada wanita lain sebelumnya. Tapi ia tetap merasakan sakit yang amat sangat di bagian dada. Apalagi Jong In sudah terlalu sering mengisi harinya, menghabiskan waktu bersamanya, dan bahkan menjadi pacar pertamanya. Mungkin memang takdir Hana mendapatkan pacar pertama sebrengsek Jong In.

“Hana-ya, tidak mau ke cafetaria?” tanya Jae Hee begitu bel berbunyi dan melihat Hana kembali menaruh kepala ke atas meja.

“Tidak. Aku tidak lapar,” jawab Hana dengan wajah menghadap dinding –menghindari Jae Hee dan Jinmi.

Ya. Apa yang Jong In lakukan padamu?” tanya Jinmi, mulai serius melihat keadaan Hana yang seperti mayat hidup itu.

Hana mengendikkan bahu. “Molla.”

“Kalian tidak putus ‘kan?” tanya Jinmi lagi, kali ini melirik Jae Hee yang menunjukkan ekspresi khawatir.

“Tanya Jong In saja sana,” Hana menjawab ketus, tanpa sadar bahwa jantungnya kembali berkedut sakit saat menyebut nama lelaki itu. Hembusan napas keluar dari bibirnya, tiba-tiba saja ia tidak ingin berada di sana –karena Jong In pasti akan mendatanginya.

Ya! Kami serius, Hana-ya. Apa kalian—.”

Hana bangkit tiba-tiba, membuat Jae Hee dan Jinmi memekik kaget. “Aku mau jalan-jalan. Kalian ke cafetaria saja, eoh?”

Hana mendorong kursinya ke belakang lalu melangkah cepat meninggalkan kedua sahabatnya di dalam kelas. Koridor sekolah sudah mulai sepi, Hana hanya melangkah ringan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku blazer. Ia memutuskan untuk berbelok ke dalam perpustakaan, mencari tempat duduk paling tersembunyi untuk menenangkan diri di sana. Tapi ia malah mengingat kejadian-kejadian yang ia lewati bersama Jong In di dalam perpustakaan yang membuat dadanya kembali terasa sakit.

“Uh, kenapa kau lemah sekali sih?” gerutu Hana seraya menghempas tubuhnya ke atas kursi di sudut perpustakaan yang tidak begitu terlihat orang-orang.

Hembusan napas panjang keluar dari bibir Hana lagi. Hidupnya terasa berat hanya karena seorang Kim Jong In yang ketahuan jalan dengan wanita lain kemarin sore. Ia tidak siap jika harus berhadapan dengan Jong In yang memintanya putus nanti. Membayangkannya saja membuat perut Hana mual. Semua bisa saja terjadi, karena Jong In juga memutuskan semua pacarnya dulu untuk memilih Hana. Sekarang ketika Jong In menemukan yang lebih menarik, mungkin saja Jong In memutuskannya bukan?

Aigoo. Michigetda!” Hana mengumpat pelan seraya menaruh kepalanya ke atas meja. Menghadap jendela perpustakaan yang menghadap gerbang depan sekolah. Banyak sekali banner terpasang untuk menyambut pertandingan basket antar sekolah yang akan dibuka pertama kali di sekolahnya nanti sore. Dan Jong In akan bertanding. Haruskah ia menonton?

Hana memejamkan kedua matanya. Berusaha untuk kembali tidur agar pikirannya bisa kembali normal dan tidak terus-terusan memikirkan Jong In.

***

Pikiran Jong In pun sama kacaunya. Ketika tidak sempat mengejar Hana, ia berusaha mati-matian menelepon gadis itu, namun tidak mendapat jawaban apapun selain kotak suara. Bahkan ketika tadi pagi berusaha menjemput, gadis itu sudah berangkat duluan ke sekolah. Namun ketika tiba di sekolah, Jong In tidak juga menemukan Hana dimana pun. Ia heran kemana gadis itu karena Jae Hee dan Jinmi yang pagi tadi berada di kelas pun tidak tahu dimana Hana berada.

Dan sialnya ketika jam istirahat tiba, Jong In bersama tim basket lainnya harus bersiap-siap untuk pertandingan sore nanti hingga ia tidak bisa mencari Hana.

“Jong In,” suara Jongdae membuat Jong In yang baru menutup pintu loker miliknya di ruang ganti itu menoleh ke samping.

Wae?” tanya Jong In seraya menyandarkan sebelah bahunya pada loker dan menatap Jongdae.

“Jinmi bertanya apa kau dan Hana sedang bertengkar, karena Hana diam saja dari pagi dan tidak mau cerita,” Jongdae memiringkan kepalanya sambil melipat tangan di depan dada, tidak peduli bahwa Joonmyun kini berdiri di samping Jong In dan melemparkan tatapan heran pada lelaki itu.

“Kalian bertengkar?” tanya Joonmyun heran.

Anhi. Ini hanya salah paham, aku belum sempat bertemu Hana jadi belum menjelaskan masalah ini padanya,” jawab Jong In –sedikit panik—karena Jongdae dan Joonmyun menatap dingin ke arahnya.

Hingga Sehun tiba-tiba berdiri di hadapannya –setelah berganti baju menjadi jersey basket sekolah mereka lalu ikut melemparkan tatapan dingin padanya. “Kami tahu kalau kau selalu izin bukan untuk bersama Hana. Kau berani main-main dengan Hana sekarang, ha?”

Ya! Aku tidak main-main dengannya, haish,” Jong In sudah siap mencengkeram jersey basket Sehun saat Joonmyun bergerak cepat menarik Jong In, sementara Jongdae menghalangi Sehun yang siap menyerang Jong In juga.

Aigoo, kalian ini,” protes Jongdae sambil tetap menjaga Sehun agar tidak bertengkar dengan Jong In di sana karena beberapa teman satu tim mereka mulai memusatkan perhatian pada Jong In dan Sehun. “Simpan dulu pukulannya, ara? Kita sekarang harus kerjasama untuk pertandingan basket.”

Jong In melepaskan tangannya dari Joonmyun, menatap sinis pada Sehun sebelum melewati lelaki itu memasuki shower room. Sementara Sehun mendengus pelan lalu menjauhkan diri dari Jongdae, melewati teman satu timnya yang lain dan keluar dari ruang ganti untuk menenangkan diri.

Di dalam shower room, Jong In hanya bersandar di dinding tanpa mau menyalakan shower toh ia memang tidak akan mandi. Ia hanya melarikan diri dari situasi tidak enak di luar sana. Seenaknya saja Sehun menuduhnya main-main dengan Hana, padahal ia sudah berusaha keras untuk tidak mempermainkan perasaan Hana. Ia benar-benar menyayangi Hana dan menginginkan wanita itu terus berada di sisinya. Hanya waktu dan kesalah pahaman yang membuat mereka menjauh akhir-akhir ini.

Well, sejujurnya Jong In hanya sedang jenuh saja dengan kegiatan sekolah, latihan basket, dan hubungannya dengan Hana. Tapi ia tidak pernah main-main dengan perasaan Hana. Wajar jika ia merasa jenuh karena semua orang pun pernah mengalaminya, tapi ia tidak berniat sedikit pun untuk bermain wanita lain di belakang kekasihnya.

Membayangkan Hana menjauh saja membuat kepala Jong In terasa sakit. Ia tentu tidak akan mau membayangkan Hana bersama laki-laki selain dirinya di luar sana –dan apalagi jika ia melihat dengan mata kepala sendiri. Mungkin ia akan sama salah paham dan cemburu seperti yang Hana lakukan. Setelah ini ia harus cepat meminta maaf pada Hana sebelum kesalahpahaman mereka semakin jauh lagi.

.

.

Entah berapa lama Hana menghabiskan waktunya untuk tidur di dalam perpustakaan. Karena ia terbangun oleh bel yang diramaikan oleh para murid yang berlalu-lalang di gerbang sekolah. Melihat langit yang mulai gelap, Hana yakin bahwa ia terbangun di jam pulang sekolah. Lehernya terasa kaku dan sakit, sementara kedua matanya masih terasa perih –karena kurang tidur. Dengan gontai Hana bangkit dari kursi, berjalan melewati rak-rak perpustakaan dan keluar dari tempat yang sudah sepi dari para murid itu.

Begitu kembali ke kelas, Hana menemukan Jae Hee dan Jinmi tengah mengobrol serius sambil merapikan barang-barangnya ke dalam tas miliknya. Perhatian kedua wanita itu sontak tertuju padanya yang berdiri di pintu masuk ruang kelas.

“Hana-ya!” pekik Jinmi heboh lalu setengah berlari menghampiri Hana. “Kau darimana saja, ha?!”

Mian. Aku tidur di perpustakaan, hehe,” Hana terkekeh pelan dengan wajah polosnya yang sontak langsung dihadiahi pukulan ringan oleh Jinmi di lengan atas.

“Kami khawatir, aish!” Jinmi berujar gemas lalu memperhatikan Jae Hee yang kini berdiri di depannya sambil membawakan tas Hana.

Kaja! Pertandingan basketnya mulai sebentar lagi,” Jae Hee menggamit lengan kiri Hana yang baru menerima tas lalu menyeret gadis itu di koridor. Sementara Jinmi menggamit lengan kanan Hana dan ikut menyeret gadis itu ke gym sekolah di gedung belakang.

Tenaga Hana belum sepenuhnya terkumpul dan hanya bisa pasrah saja ketika kedua wanita itu menariknya ke gedung belakang sekolah. Dari kejauhan Hana bahkan bisa mendengar suara teriakan –hampir didominasi murid wanita—di dalam gym sana. Membuat perut Hana terasa mual ketika membayangkan wanita kemarin berada di sana untuk mendukung kekasihnya… Atau sekarang mungkin sudah bukan?

Memasuki pintu gym, Jae Hee dan Jinmi tetap menariknya melewati barisan-barisan tempat duduk hingga menemukan tiga tempat duduk kosong –yang sudah ditempati oleh salah satu teman sekelas mereka di barisan paling depan. Tatapan Hana sontak tertuju pada tim sekolah mereka yang berada tepat di bawah tempat duduknya. Ia melihat Jong In sudah siap dengan jersey basket yang menunjukkan lengan kekarnya, ditambah keringat dari hasil pemanasan yang membuat kulit tan lelaki itu semakin terlihat menggoda /?/ Ah, pikiran Hana sudah semakin kacau sepertinya.

“Kyaaa! Jongdae-ya!” Jinmi berteriak heboh setelah meletakkan tasnya di kursi dan melambai semangat pada Jongdae yang melemparkan senyum sebagai balasan.

Hana melihat tatapan Jong In yang juga tertuju padanya, membuat dada Hana berdetak menggila dan perut yang terasa diaduk-aduk. Apalagi saat Jong In melemparkan senyum simpul –yang sangat manis—padanya, membuat beberapa wanita –di belakangnya—berteriak heboh. Hana mengalihkan tatapannya, menghindari senyuman maut lelaki itu lalu memperhatikan tim lawan yang berjarak beberapa meter dari tim sekolahnya.

“Hana-ya!”

Perhatian Hana tertuju pada seorang laki-laki dari tim lawan yang memanggil namanya dan melambai penuh semangat ke arahnya. Hana memperhatikan sekeliling, namun tidak ada yang menyahut panggilan lelaki itu. Jadi Hana hanya membungkuk singkat untuk menyahut panggilan lelaki itu seraya mengalihkan pandangannya ke depan.

“Siapa?” tanya Jae Hee, menyadari seseorang dari sekolah lain mengenali Hana. Dan laki-laki. Hana berasal dari sekolah khusus perempuan di kaki gunung dan ia heran darimana Hana mengenal laki-laki itu karena bukan dari sekolahnya.

Molla,” jawab Hana tak acuh lalu menghempas duduk di kursi sambil sesekali melirik pada orang asing yang barusan memanggilnya. Laki-laki itu memiliki rambut hitam dengan lesung di kedua pipi, yang membuat Hana berpikir sangat keras untuk mengingat masa lalunya. Rasanya Hana tidak ingat pernah mengenal laki-laki manapun sebelum ini.

Ah! Kecuali—

 “Lee Hana!”

Perhatian Jinmi dan Jae Hee –serta Hana sontak beralih pada sosok laki-laki yang berdiri di ujung barisan tempat duduk mereka. Hana melirik cepat ke arah tim lawan dan laki-laki yang memanggilnya tadi kini tengah berjalan mendekat, membuat Hana berdiri dengan cepat dan menatap laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya. Uh, dan laki-laki itu ternyata sedikit lebih tinggi dari Jong In hingga ia harus lebih berusaha untuk mendongak.

Senyuman laki-laki yang dihiasi lesung pipi itu membuat jantung Hana berdetak cepat. “Kau Lee Hana ‘kan? Aku tidak salah ‘kan?”

Eo-eoh. Kau siapa?” tanya Hana, berusaha mengendalikan dirinya saat mendengar suara lelaki itu.

“Kau tidak ingat?” lelaki itu memajukan wajahnya, membuat Hana ikut mundur selangkah dihiasi suara pekikan Jinmi dan Jae Hee di kedua sisinya. “Aku Jung Jae Hyun.”

“J-Jung Jae—hyun?” tanya Hana tak yakin seraya melirik Jae Hee dan Jinmi, berusaha meminta pertolongan.

Eoh!” Jae Hyun memundurkan wajahnya kembali seraya tersenyum simpul, menampilkan lesung pipi yang membuatnya terlihat semakin tampan. “Ternyata kau benar sekolah di sini. Dukung aku, ne?” ujarnya sebelum menepuk puncak kepala Hana dan kembali berlari turun ke lapangan karena dipanggil teman satu timnya.

Tubuh Hana terasa lemas begitu merasakan sengatan listrik yang tidak biasa mengaliri tubuhnya karena tepukan lembut Jae Hyun. Ia memegangi dadanya –yang masih berdetak cepat karena kehadiran Jung Jae Hyun yang tiba-tiba di hidupnya.

“Hana-ya…. Dia itu siapa?” tanya Jinmi, berusaha menyadarkan Hana –yang masih menatap kosong ke depan.

Hana mengalihkan tatapannya pada Jae Hyun yang tengah tertawa bersama teman-temannya sebelum memasuki tengah lapangan. Wajahnya memanas tanpa sebab hanya karena ekspresi tawa lelaki itu. “Jung Jae Hyun itu….. Teman kecilku. Dia—Aku—Ah molla! Pokoknya dulu kami sering main berdua, dan aku menyukainya.”

Cerita singkat Hana memunculkan ekspresi kaget dari kedua sahabatnya. Hana cepat-cepat mengoreksi. “Waktu kecil saja! Aku pernah menyukainya saat masih kecil dulu. Dia baik, lucu, dan lesung pipinya terlihat manis. Kami berteman baik sebelum dia pindah ke Amerika dan aku masuk sekolah khusus wanita.”

Jinjja? Kalian berpisah umur berapa?” tanya Jae Hee, masih menginterogasi Hana dan mengabaikan peluit yang menandakan pertandingan baru saja dimulai.

“10 tahun?” jawab Hana ragu seraya memperhatikan kedua sahabatnya, menahan mati-matian rasa panas yang menjalari wajahnya. Ia jadi ingat pernah membuat janji akan bersama dengan Jae Hyun jika lelaki itu kembali dari Amerika. Uh, sekarang ia tidak yakin dengan janjinya sendiri karena kehadiran Jong In.

Daebak. 8 tahun berpisah dan dia masih mengingatmu,” komentar Jinmi lalu memperhatikan pertandingan yang sudah berjalan hampir dua menit. Ia belum semangat memberikan dukungan karena Jongdae masih duduk di bangku bersama Joonmyun. “Ya. Pacarmu sedang main.”

Hana mengikuti arah pandangan Jinmi, memperhatikan Jong In yang membawa bola ke daerah lawan. Ia melihat Jae Hyun yang berusaha menghalangi kekasihnya, namun Jong In berhasil mengecoh Jae Hyun dan  memasukkan bola ke dalam ring hingga berhasil mencetak poin pertama untuk tim sekolah mereka. Hana bersorak paling keras mendukung Jong In di lapangan, tanpa menyadari tatapan gemas dari kedua sahabatnya.

Pertandingan semakin panas di quarter pertama, karena Jong In sering sekali membuat pelanggaran dengan menyikut atau mendorong Jae Hyun sebelum menembak bola ke dalam ring. Ekspresi Jae Hyun terlihat kesal karena perlakuan Jong In, namun tetap menahan emosinya dan berusaha bermain dengan profesional. Sementara Hana meremas-remas tangannya sendiri karena Jong In terlihat menyeramkan sekali di lapangan saat berusaha menghadang Jae Hyun.

“Dia cemburu,” gumam Jae Hee ketika –entah ke berapa kalinya Jong In melakukan pelanggaran karena ketahuan mendorong Jae Hyun lagi di lapangan.

“Cemburu kenapa?” tanya Hana dengan bodohnya lalu memekik keras saat Jae Hyun membanting bola basketnya ke lapangan dan meraih kerah jersey Jong In, mengundang keriuhan penonton dan para pemain di lapangan. “Ya! Ya! Aduh, kenapa jadi bertengkar sih?”

Hana menghentak-hentakkan kakinya dengan gelisah ketika wasit melerai keduanya dan memutuskan untuk mengeluarkan Jong In sementara dari lapangan digantikan oleh Joonmyun. Sementara Jong In menghempaskan tangan Sehun yang menahan tubuhnya dan berjalan cepat ke pinggir lapangan, meraih botol minum dan meneguknya dengan cepat. Melihat Jong In seperti itu membuat Hana merinding, tatapan tajam dan ekspresi dingin milik Jong In benar-benar terlihat menyeramkan.

“Hana-ya. Dia cemburu karena Jae Hyun tadi menepuk kepalamu. Kenapa tidak sadar?” tanya Jae Hee gemas seraya menyikut lengan Hana dan menyadarkan gadis itu kembali.

Hana meringis pelan sambil memperhatikan Jae Hyun yang bermain dengan lincah, membuat anak rambutnya yang sudah dipenuhi keringat sedikit beterbangan tertiup angin dan membuat rasa panas kembali menjalari wajah Hana. “Chi. Kenapa harus cemburu kalau sudah punya yang baru?” gumam Hana pelan, tidak cukup bisa didengar oleh Jae Hee –yang berteriak heboh mendukung Joonmyun.

Pertandingan quarter kedua kembali dimulai dan Jong In dimasukkan lagi ke dalam lapangan setelah diceramahi oleh pelatih tim sekolah mereka. Hana menggigiti ujung kuku jemarinya saat melihat Jong In bermain lagi di lapangan sana bersama Jae Hyun. Namun belum setengah waktu pertandingan, Jong In tiba-tiba melambat –saat mengejar teman satu timnya dan terlihat menahan sakit.

“Eh, Jong In kenapa?” tanya Hana, merasa panik sendiri karena Jong In tetap memaksa main walaupun sudah tidak berlari secepat awal pertandingan. Jong In sedikit terseok untuk mengejar bola, namun tetap keras kepala bermain walaupun pelatih sudah meminta Jong In diganti oleh Jongdae. Kaki kiri Jong In terlihat timpang dan akhirnya wasit terpaksa memberikan time out –atas permintaan tim sekolah mereka, sementara tim medis membantu Jong In berjalan ke pinggir lapangan.

Hana baru saja akan berlari ke arah Jong In yang terlihat kesakitan di pinggir lapangan, saat ia melihat wanita bernama Park Eun Bin –yang menjijikkan—itu sudah berlari lebih dulu menghampiri Jong In. Wanita itu terlihat panik sambil membantu menahan bagian belakang tubuh Jong In, membuat rasa panas menjalari kepala Hana. Rasa sesak kembali mengganjal kerongkongannya, hingga Hana akhirnya meraih tas sekolahnya dan berjalan cepat meninggalkan gym karena tidak sanggup melihat pemandangan memuakkan itu.

***

Pulang ke rumah adalah satu-satunya pilihan terbaik Hana karena ia malas menjawab pertanyaan dari orang-orang –dan kedua sahabatnya mengenai Jong In. Beruntung kedua orangtuanya sedang tidak ada di rumah karena urusan pekerjaan, jadi Hana tidak akan ditanya-tanya mengenai Jong In juga. Kepalanya terasa pening karena menahan rasa sesak di kerongkongan dalam perjalanan pulang tadi.

Haish jinjja!” Hana menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menenggelamkan wajahnya ke bantal. “Keurae! Urus saja sana pacar barumu, Jong In. Memangnya aku peduli?”

Hana menghentakkan kakinya ke atas kasur lalu berguling, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih dan mulai terlihat buram karena air mata yang menggenang di pelupuk. Tanpa bisa dicegah, Hana malah menangis tersedu untuk melepaskan rasa sakit yang terus menggerogotinya dari dalam. Ia membenci hidupnya yang menjadi lemah hanya karena Jong In.

Harusnya ia tidak perlu mempercayai Jong In sejak awal jika akhirnya tetap menyakitinya seperti itu.

Hana masih menangis tersedu ketika mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Tidak ada siapapun di rumah selain dirinya sendiri dan Hana terpaksa harus duduk, merutuk siapapun yang mengganggu tangisannya dan waktunya di malam hari. Hana menyeka sisa-sisa air mata di pipinya dan berjalan gontai keluar kamar, menyusuri ruang tengah hingga mencapai pintu depan. Hana mengecek melalui intercom di dekat pintu dan melihat Jae Hee bersama Jinmi berdiri dengan gelisah di depan pintu rumahnya.

“Hana-ya!” kedua wanita itu beseru heboh sambil menggedor pintu. “Kami tahu kau ada di dalam!”

Hana tetap berdiri di belakang pintu seraya memperhatikan sahabat-sahabatnya yang terus menggedor pintu dari luar. Jika Hana keluar dengan mata bengkak dan penampilan berantakan seperti itu, kedua wanita itu pasti menertawainya. Hana kembali berbalik untuk memasuki kamarnya kembali ketika seruan Jae Hee membuatnya terhenti.

“Jong In masuk rumah sakit, Hana-ya!”

Kedua mata Hana membulat, ia tidak memikirkan apapun selain memutar tubuhnya ke arah pintu dan membuka pintu rumahnya dalam satu kali tarik. “Dimana?!”

Haish, cepat ikut!” Jinmi menarik tangan Hana, tidak memedulikan Hana yang secara asal memakai sandal rumah lalu berlari menghampiri taksi yang menunggu mereka di depan pagar rumah Hana.

Sementara kedua tangan Hana mulai berkeringat dingin, bayangan-bayangan jelek mengenai rumah sakit dan Jong In terus mengganggu pikirannya selama perjalanan. Bahkan gerutuan Jae Hee dan Jinmi –karena Hana yang tidak memegang ponsel—tidak dihiraukan sama sekali oleh gadis itu. Padahal ia masih kesal setengah mati pada Jong In, tapi tetap rela keluar rumah masih dengan balutan seragam sekolah dan sandal rumah saat mendengar lelaki itu masuk rumah sakit. Rasanya dunia tidak adil bagi Hana karena ia selalu lemah dengan apapun yang menyangkut kekasihnya.

Taksi yang ditumpangi mereka bertiga berhenti di depan lobi sebuah rumah sakit besar. Hana tidak sempat berpikir dimana rumah sakit itu berada karena Jinmi –kembali menarik tangannya, memasuki lobi dan setengah berlari mengikuti arahan menuju ruang rawat inap. Kepala Hana semakin terasa pening, melihat orang-orang berlalu dengan cepat di pandangannya karena Jinmi menariknya berlari. Jinmi menghentikan langkahnya di depan sebuah ruang rawat, sementara Hana masih menatap kosong pada pintu kamar bertuliskan Kim Jong In di depan pintunya.

Hana tanpa sadar mencengkeram lengan Jinmi ketika Jae Hee membuka pintu kamar rawat Jong In, menunjukkan sosok laki-laki yang berdiri menggunakan kruk di dekat tempat tidur dengan bantuan seorang wanita. Park Eun Bin.

“Oh dahaengida. Kukira kau harus dirawat,” ujar Jae Hee seraya melangkah mendekati Jong In sementara tatapan lelaki itu sudah fokus pada Hana yang masih berdiri di dekat pintu.

Anhi. Aku sudah mau pulang,” Jong In berusaha mengulas senyumnya pada Jae Hee namun tetap memfokuskan pandangannya pada Hana yang masih diam di belakang Jinmi dan Jae Hee. “Oh, apa kalian sudah tahu Eun Bin?”

Hana mengepalkan kedua tangannya erat-erat, siap menerima apapun yang diucapkan Jong In jika lelaki itu tidak menganggapnya sebagai kekasih lagi. Toh Hana malah melarikan diri saat Jong In cedera dan Eun Bin yang menemani Jong In selama di rumah sakit. Rasanya Hana ingin menenggelamkan diri saja ke dalam tanah jika Jong In tidak menganggapnya di sana.

“Sepupuku yang baru pulang dari London. Eun Bin noona, mereka ini Jae Hee dan Jinmi, temanku,” Jong In menggeser sedikit tubuhnya –dengan susah payah dan membiarkan Eun Bin membungkuk pada Jae Hee dan Jinmi. Hingga tatapannya berhenti pada Hana yang masih diam dengan tatapan kosong –dan kaget. “Dan yang di belakang itu Lee Hana. Pacarku.”

“Ah, dia pacarmu?” Eun Bin terkikik geli lalu menghampiri Hana dan berdiri di hadapan gadis itu. “Annyeong, Hana-ssi.”

A-annyeong,” Hana membungkuk singkat sambil berusaha menyembunyikan rasa panas di wajahnya –karena malu. Uh, dia sudah menuduh Eun Bin dan Jong In yang tidak-tidak waktu itu. Lalu Eun Bin masih menyapanya dengan ramah seperti itu.

“Err, Eun Bin-ssi, apa kau tahu dimana Joonmyun dan Jongdae?” tanya Jae Hee, berusaha mencairkan suasana.

“Ah, mereka ke cafetaria sebentar.”

“Bisa antar kami?” potong Jae Hee cepat lalu tanpa menunggu jawaban segera menarik tangan Eun Bin keluar dari sana –bersama Jinmi. Meninggalkan sepasang kekasih yang sudah seharian perang dingin itu di dalam kamar rawat.

Hana memilin ujung blazer sekolahnya dengan kepala menunduk, tanpa berani melihat Jong In di depan sana. Pipinya masih terasa panas, tidak sanggup menghadapi Jong In yang pasti menertawai kesalahpahamannya kemarin.

“Kau tidak percaya padaku?”

Adalah kata-kata yang dilontarkan Jong In pertama kali untuk memecah keheningan di dalam kamar rawat itu. Kedua mata Hana terpejam dengan helaan napas panjang, merasa tidak enak hati karena sudah menuduh Jong In memiliki banyak pacar di hadapan banyak orang. Kepala Hana perlahan terangkat, memperhatikan Jong In yang duduk di sisi tempat tidur sembari memegangi kruk. Hana melihat perban dan gips yang menutupi pergelangan kaki kiri kekasihnya.

“Kakimu tidak apa-apa?” Hana berusaha mengalihkan pembicaraan sambil berjalan pelan menghampiri Jong In. Namun tetap memberi jarak cukup jauh dan berhenti di dekat ujung tempat tidur.

“Apa usahaku belum membuatmu percaya?” tanya Jong In lagi, membuat Hana menundukkan kepalanya kembali.

Mian,” Hana berujar pelan seraya mencengkeram ujung blazernya. “Tapi wajar kalau aku takut ‘kan?!” Hana tiba-tiba berseru sambil mengangkat kepala, membuat Jong In sedikit berjengit kaget.

Ya! Kenapa berteriak padaku?” tanya Jong In dengan ekspresi kaget.

Lalu Hana tiba-tiba mendekat dan memberikan pukulan ringan di puncak kepala kekasihnya. “Kenapa tidak bilang dari kemarin?!”

“Kau tidak angkat telepon dari kemarin!” protes Jong In sambil mengusap puncak kepalanya yang cukup sakit setelah di pukul Hana.

“Hah jinjja!” Hana menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menghentakkan kaki. Membuat Jong In sadar bahwa kekasihnya hanya memakai sandal rumah dan bahkan tidak sepasang –karena berbeda warna. Senyum geli muncul di bibir Jong In, membayangkan kekasihnya sangat panik karena ia yang masuk rumah sakit.

“Kenapa kau belum percaya juga?” tanya Jong In saat Hana menghempas duduk di sebelahnya dengan bibir mengerucut dan pipi yang merona merah. Uh, ia merindukan Hana yang tengah merajuk seperti itu.

“Kau punya banyak pacar sebelum memilihku, Jong In. Kalau kau kambuh lagi bagaimana? Bisa saja kau tertarik pada wanita lain dan meninggalkanku,” rajuk Hana, membuat Jong In kembali tersenyum geli lalu mencubit pelan pipi gembul gadis itu.

“Tidak akan pernah, Han-ah,” Jong In memperhatikan Hana yang kini menoleh untuk menatapnya, masih dengan pipi memerah yang menahan malu. “Aku tidak janji kau akan jadi yang terakhir. Tapi aku sudah janji tidak akan menyakitimu selama kita masih berpacaran, Han-ah.”

Mianhae,” Hana dengan ragu-ragu meraih tangan Jong In dan menggenggamnya.

Gwenchana. Wajar kalau kau takut dan masih tidak percaya,” Jong In berujar dengan nada sedikit kecewa, namun Hana menggeleng cepat.

Anhi! Aku sekarang percaya padamu, Jong In-ah,” Hana mengalihkan tatapannya pada tangan besar Jong In yang berada di genggamannya, ia merasakan jantungnya berdebar sangat cepat hanya dengan sentuhan seperti itu saja.

Jong In terkekeh geli karena kecanggungan Hana, ia merasa bersyukur karena Hana kembali ke sisinya tanpa harus perang dingin lagi. Ia balas menggenggam tangan Hana, menikmati keheningan yang tercipta di dalam kamar rawat itu. Hingga senyum Jong In menghilang saat mengingat kejadian di pertandingan basket tadi.

“Dia siapa?” tanya Jong In seraya mendengus, mengingat wajah laki-laki yang dengan seenaknya menepuk kepala kekasihnya.

“Siapa?” tanya Hana heran sambil menoleh dan mendapati ekspresi kesal di wajah Jong In.

“Laki-laki bodoh yang membuat wajahmu memerah,” balas Jong In dengan nada kesal lalu melepaskan tangannya dari genggaman Hana.

“Ah, dia,” Hana bergerak gelisah di tempatnya. “Dia Jung Jae Hyun. Tetanggaku waktu kecil dulu.”

“Jangan dekat-dekat dengannya lagi. Apapun alasannya, tidak boleh,” Jong In kembali dalam mode posesifnya yang membuat Hana tersenyum geli. “Kau pernah suka Jae Suk ‘kan?”

“Namanya Jae Hyun, Jong In,” potong Hana lalu tertawa pelan karena Jong In memasang ekspresi kesal padanya.

“Siapa pun dia. Pokoknya kau tidak boleh dekat-dekat dengannya lagi,” Jong In kembali menoleh dan melihat senyum lebar Hana –yang sedikit menyeramkan—sebenarnya. Uh, ternyata ia bisa merasakan cemburu juga –seperti orang-orang pada umumnya. “Dwaesseo. Ayo pulang.”

Hana mengangguk semangat lalu berdiri, membantu Jong In turun dari tempat tidur dan memakai kruknya. “Err, sebenarnya…”

Suara Hana membuat kegiatan Jong In terhenti dan memperhatikan gadisnya yang berdiri di sebelahnya. “Kenapa?”

“Di rumahku tidak ada orang…. Aku takut sendirian….,” Hana menggigit bagian dalam bibirnya lalu melirik Jong In takut-takut. “Besok ‘kan akhir pekan. Kalau tidak keberatan, kau mau mene—.”

Kaja! Aku mau menemanimu dengan senang hati, Han-ah,” Jong In memotong dengan kelewat semangat dan mengabaikan semburat merah yang kembali menghiasi pipi Hana.

Jika setiap pertengkaran mereka berakhir dengan undangan menginap bersama Hana, mungkin ia harus melakukannya sesering mungkin. Entah Hana memang sebodohpolos itu mengajaknya menginap, atau hanya pikirannya saja yang terlalu kotor. Intinya mereka akan menghabiskan waktu berdua semalaman dan Jong In sangat menanti-nanti momen seperti itu sejak dulu.

Apapun yang terjadi di masa depan bersama Hana, Jong In tentu tidak akan bisa memprediksi. Mungkin ia memiliki banyak rencana di dalam kepalanya jika Hana menjadi bagian dari masa depannya. Tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Jadi Jong In hanya mensyukuri kebersamaannya bersama Hana sekarang dan menghargai semua waktu yang dilewati bersama wanita yang dicintainya.

[UNCONDITIONALLY (2) – END]


Ima’s Note :

Ayo refreshing lagi sebelum epilognya imper hihi

Kenapa hana ajak jongin padahal ada jaehee ama jinmi di depan pintu?

Hmmm….. Modus? Polos? Apa doyan? wkwkwk

Silakan komennya!!! Love yaa :*

Regards,

IMA♥

78 responses to “[KaiNa’s] UNCONDITIONALLY (2) — by IMA

  1. Kirain beneran selingkuh si Jongin. Kan wajar klo dia kumat lgi. Alhamdulillah gk… huh…
    Mereka sama2 cemburu nih di sini. Mikir si Eun Bin ini siapanya Jongin. Si Jaehyun tu siapanya Hana. Untung mereka dah balikan lgi.
    Sehun tu knpa ya kok kyk cemburu gitu? suka ya sama Hana?
    Entah Hana yg terlalu polos atau emg dia modus…
    Lumayan nih buat refreshing sebelum epilognya Imperfection. Fighting for the epilog, kak…!! Ditunggu lho, kak…

  2. Gilaa kirain selingkuh beneran si jonginnnn
    Ini udah end ya kak (?) Huhhu
    Imperfection update soon pls kak T^T happy ending kan kak? Huaaaaa

  3. uuhh tuh kan salah paham tapi emang sempet ngira selingkuh sih jonginnya kan mereka beda marga gitu 😂
    bdw, Hana kau kelewat polos apa gimana sih minta jongin buat nemenin 😒
    ituuu Jaehyun bakal bikin jongin-hana perang lagi kek nya 😖
    ditunggu kalo emang masih ada lanjutannya 😘

  4. Ugghh so sweet yg terakhirnya hihii
    Ternya eun bin sepupunya ??? Wkwkwkwk pasti hana malu bgt udh salah paham sm jongin
    Cieee jongin bisa cemburu juga nih hahaaahaa

  5. Ahh syukurlah gak selingkuh dan mereka baikan lg kkk senengnya mereka bisa lolos menghadapi ujian percintaan mereka xD

  6. Ha ha aha ah ahaha

    Ketawa tawa sendiri akunya.. Ahaha
    Aisshhhh keren!! Suka!! Waa

    Semangat thor!
    Love ya!

  7. gue udah hampir nonjok tu si Jongin klo dia bner2 blm sembuh dri ke playboy an nya. Untung udah sweet lagi mereka

  8. wajar sih kalau Hana bisa salah paham sm jongin dan eun bi. Yah… mengingat masa lalu jongin yg seorang playboy sblm ia menetapkan hati nya sama hana, di tambah lg sikap Hana yg masih polos, wajar aja kalo dia wanti wanti sm sikap jongin.

    Ahhh… lucu juga liat jongin bisa cemburu sm hana.. itu bearti dia bener2 cinta sama Hana.
    Hana itu polos ny emang kelewatan.. hahaha… masa’ ia minta jongin tuk nemani dia d rmh ny.. hanya berdua aja.. kan dia tau kalo jongin punya masalah sm hormony.. ckkkk….

    Berdua aja d rmh.. wah.. kesempatan emas buat jongin.. errr… ckkk..
    Hahahaha…..

  9. Ini Jaehyunnya yg NCT U bukan sih? hehehe kalau iya, akupun bakal kaya Hana wkwk
    Tapi untungnya masalah mereka udah beres, hanya salah paham. wajar sih kalau pacaran gitu :v
    Tapi. usulan nginep dirumah Hana bener2 bikin pikiran kalang kabut kkk mau ngapain mereka? Main UNO😄

  10. Connect nya ke jaehyun nct u😂😂
    Tp sweet kalo dilihat2. Uda 8th pisah tp si jaehyun msih inget hana, Pdhl kan pisahnya wktu mrk msih kecil bgt😱😱 apa wajah hana gk brubah dr dlu hahaha

  11. heem..sudah ku duga sodaranya jongin kan..gini nih suka q pemikirannya author jongin karakternya nggak kayak pemeran utama yg lain yg bakalan janji kalo pacarnya nnt bakal jadi istrinya masa depan..sukaaa…deh

  12. 😂😂😂😂 jjangg
    Sempat berpikiran yg aneh aneh sih pas ada jaehyun
    Tau taunya udah end aja hahaha~
    Kai segitunya ya buat hana~ kekeke
    Ending nya memuaskan thorr, konfliknya juga gak terlalu rumit, familiar tapi gak ngebosenin dan bikin pengen lanjut baca terus😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s