하루만: Passing by

 -BTS SERIES UPDATE-

tumblr_kwohpqgbK21qzjggvo1_500

하루만 series : 1. A Fool for Love || 2. Sexy Aniya! || 3. Secret in My Heart || 4. Heartbreat Girl

Shin Hyejung, Park Jimin ||ficlet series || romance|| PG +15

 

The shaking sound of the wind
Shakes up my heart and passes by
Even though I’ve hurt all I could
How much more do I have to hurt
In order to be just fine?

Ini sudah musim semi tapi aku masih bisa merasakan dinginnya angin yang berhembus. Semua orang terlihat sangat menyukai berakhirnya musim dingin, tapi aku tidak. Dulu memang aku seperti mereka, sangat menyukai saat cuaca mulai cerah dan petal-petal merah muda turun dari langit, tapi tidak kali ini. Hatiku terasa sangat dingin. Melihat semua orang tersenyum bahagia malah membuat hatiku miris. Kenapa aku tidak bisa sebahagia mereka?

Aku yang terlalu melankolis atau bagaimana, aku sendiri heran bagaimana perasaan ku bisa seperti ini. Bahkan angin musim semi saja tidak bisa menghangatkannya.

“Ini minumanmu unnie,” ucap Juni kemudian duduk di hadapanku. Saat ini kami sedang ada di kafe langganannya. Tadinya aku ingin menghabiskan waktu istirahat untuk makan siang di kantor saja, tapi Juni memaksaku untuk menemaninya. Geez, gadis ini keinginannya harus selalu terpenuhi.

Gumawo,” ucapku sambil mengeser gelas minuman tesebut, mencoba merasakan hangatnya, mencoba menularkan hangatnya ke hatiku.

“Kau melamun lagi,” kata Juni setelah menelan satu gigitan besar sandwich  salmon miliknya.

“Ehm,” responku malas, sambil mengaduk-aduk risotto yang sama sekali belum ku sentuh.

“Akhir-akhir ini kau banyak melamun unnie,” ucap Juni lagi setelah menyelesaikan satu lagi gigitan sandwichnya. Aku hanya menatapnya. Tak ada alasan untuk meyangkalnya. “Di cuaca sebagus ini mengapa kau selalu melamun?” lanjutnya lagi. Aku juga tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu.

“Euph, kenapa ini manis, kau tidak salah memesankan?” protesku padanya setelah meneguk minuman milikku. Seingatku aku tadi memesan espresso three shot padanya, kenapa bisa jadi semanis ini. Mana ada espresso semanis ini.

“Kau harus berhenti minum espresso unnie, Sudah seminggu kau menghabiskan berpuluh gelas espresso, dan lihat katung matamu ih… kemana perginya Hyejung unnie yang selalu tampak cantik dan fresh itu? Aku tak tahu apa yang terjadi padamu, tapi kuharap cokelat hangat itu bisa memperbaiki suasana hatimu.” Juni mulai berceramah lagi. Dan aku memutuskan untuk diam saja. Suasana hatiku sudah buruk tak perlu diperparah lagi dengan sahabatku sendiri.

As if it’s nothing
You just pass me by
Even after time and seasons pass
My heart keeps getting colder
But I can’t become cold by myself
Again today, you are
Passing by

“Hyejung-a mana draft outfit untuk comeback mereka minggu depan?” tanya Sangmin oppa kini sedang berdiri di samping meja kerjaku.

“Uh? aku belum memberikannya kepadamu oppa?” aku balik bertanya. Sepertinya aku sudah menyerahkan file itu kepadanya tadi.

Dear, kalau aku sudah menerimanya mana mungkin aku aku memintanya kepadamu, lagipula aku perhatikan kau sering sekali melamun akhir-akhir ini, cuaca sudah mulai cerah tapi kau tetap saja kelabu, kau baru putus cinta ya?” cecar Sangmin oppa sambil membetulkan letak kacamata yang hampir melorot. “Masih belum ketemu?” tanyanya lagi. Aku menggelengkannya kepala. Aneh, seingatku padahal sebelum makan siang file itu masih ada.

“Ya sudah kau cari saja dulu tapi sebelum jam empat file itu sudah harus ada di mejaku arraseo,” katanya. aku mengangguk dengan cepat, menyutujui permintaannya. Akhirnya dia berbalik meninggalkan meja kerjaku dan kembali ruang kerjanya.

Aku mencoba mengingat kembali apa yang aku lakukan sebelum makan siang dan kemungkinan di mana aku meletakkan file tersebut. Aku ingat sebelumnya aku melakukan meeting dengan tim produksi. Setelah itu Juni datang kepadaku merengek mengajakku makan siang di cafe. Kemudian kami kembali ke kantor dan Sangmin oppa menanyakan file tersebut. Ah mungkin aku meninggalkannya di ruang rapat saat Juni menyeretku untuk pergi ke cafe tadi. Aku pun melangkahkan kakiku ke ruang rapat berharap file itu ada di sana.

Sesampainya di sana aku langsung membuka pintu ruangan tersebut. Biasanya tak akan ada orang di sana karena ruangan itu hanya digunakan untuk rapat antar tim. Namun tidak kali ini, dan sialnya yang ada di sana adalah orang yang paling tidak ingin aku temui untuk saat ini. Parahnya mereka yang tadi fokus pada pekerjaannya kini malah mengalihkan perhatiannya kepadaku.

“Oh, aku mengganggu ya, aku keluar dulu kalau begitu,” ucapku kaku pada mereka berdua. Aku merutuk suaraku sendiri yang terdengar aneh.

Noona sejak kapan kau merasa kikuk seperti itu pada kami,” salah satu dari menjawab. Dasar kau Hoseok-a, apa kau tidak mengerti bahwa aku tidak dalam mood untuk bertatap muka dengan orang di sebelahmu itu, keluhku dalam hati. Tentu saja dia tidak tahu, bodoh kau Hyejung.

“Dia seperti itu karena ada aku hyung, masuklah noona, aku yang akan keluar,” ucap Jimin yang kini bergegas bangkit dari tempat duduknya. Aku terkejut dengan celetuknya itu. Tapi itu memang benar. Aku tidak ingin menemuinya, tidak hari ini, tidak setelah kejadian tempo lalu.

Jimin pun berjalan keluar ruangan, melewatiku yang semenjak tadi masih berada di depan pintu. Melewatiku begitu saja seakan tak ada sesuatu yang terjadi di antara kita. Padahal aku sekuat tenaga menjaga hatiku yang sudah ingin meledak. Sial.

“Ada apa noona?” tanya Hoseok sekali lagi saat Jimin sudah meninggalkan ruangan tersebut.

“Aku mencari fileku, sepertinya tertinggal disini tadi,” kataku seraya berjalan mendekati tumpukan file yang ada di atas meja di sudut ruangan itu.”Ah ketemu!” ucap ku spontan saat berhasil menemukannya. Kini aku bisa bernafas lega.  Ku alihkan pandanganku pada seseorang masih ada di ruangan itu. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanyaku pada Hoseok. Dahinya penuh kerut seakan ada banyak tanda tanya mengambang di atas kepalanya.

“Kau bertengkar dengannya ya?” ucapnya.

“Dengannya siapa?” aku balik bertanya, berpura-pura bodoh, padahal aku mengerti siapa yang ia maksud.

“Jimin, siapa lagi? Kalian aneh sekali akhir akhir ini,” ucapnya lagi, kini dengan antusias, mungkin berharap mendapatkan jawaban yang serius dariku. Tapi aku tidak ingin menjawabnya, jadi ku langkahkan kakiku hendak keluar dari ruangan itu

“Ya noona jawab aku, aku penasaran tau…” rengek Hoseok saat sadar aku malah ingin meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaannya dulu. Aku hanya melambaikan tanganku di atas kepala dan tetap berjalan keluar. Maaf Hoseok, no story telling this time.

I don’t even know my own heart, I don’t know you
So I gave you a hard time, I hurt you a lot
So I’m just sorry, I’m just thankful
If you leave me, I can’t ever see you again
But I’ll be missing you

Aku meyeret kakiku malas memasuki officetel yang sudah kutinggali dua tahun ini. Kulempar tas ku ke atas sofa dan menghempas kan tubuh ku di atas ranjang yang berada di sampingnya. Hari ini masih sama seperti hari kemarin, bahkan mungkin buruk. Jika di luar sana musim sudah berganti ke musim semi, tapi hati ku masih dirundung musim dingin.

Masih tergambar dengan jelas di ingatanku, bagaimana kejadian seminggu yang lalu antara aku dan dia. Bagaimana hal itu bermula. Serta bagaimana hal itu menyebabkan mendung di hatiku tak kunjung pergi.

-flashback-

“Aku sudah mengatakan semua persaanku noona, jadi bagaimana?” tanya lelaki yang ada di hadapanku. Senyum manisnya masih tersungging di sana. Harus ku akui hal itu membuat jatungku berdegub kencang.

“Maaf  Jimin-a, aku tidak bisa,” aku memutuskan untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran ku selama ini. Iya Jimin-a aku juga ingin bersamamu, namun alter-egoku memberontak, tak terima dengan apa yang baru saja ku ucapkan.

“Tolong berikan aku alasanmu, apa karena Yoongi Hyung?” Raut mukanya kini berubah menjadi lebih serius.

Aniya, bukan karena Yoongi.” Bukan, bukan karena Yoongi. Bahkan sudah lama aku tidak memikirkannya lagi, thanks to you honestly.(*)

“Karena aku lebih muda darimu?” tanyanya lagi, seakan menuntut penjelasan lebih.

Ani,” jawab ku singkat. Ku tundukan kepalaku. Aku tak sanggup untuk menatap wajahnya.

“Lalu?” tanyanya masih tak mau menyerah.

Kuhembuskan nafasku berat. “Karena.. karena kau seorang idol..” jawab ku lirih. Aku tahu itu adalah jawaban terbodoh, tapi itu lah yang menjadi alasanku  selama ini menahan perasaanku untuk tidak terjatuh lebih dalam kepadanya. Meski pada akhirnya aku tidak bisa menghindari hal tersebut.

“Karena aku seorang idol? Heol, memangnya kenapa kalau aku seorang idol, bahkan PD-nim tidak melarang kami mempunyai pacar, kami juga manusia biasa!” Jimin meledak, meskipun ia masih menjaga nada bicaranya. Tapi aku bisa merasakannya emosinya yang meluap.

“Kau tidak mengerti Jimin-a,” ucapku padanya. Sekuat tenaga ku jaga nada bicaraku agar tetap datar.

“Maka dari itu buatlah aku mengerti,” katanya kini dengan nada yang lebih putus asa.

Mungkin memang sudah saatnya aku untuk berbicara jujur kepadanya. “Aku tidak bisa berbohong kepadamu, kau mungkin bisa merasakannya kalau aku juga memiliki perasaan yang sama seperti, tapi ini terlalu berat untukku, kau seorang Park Jimin, kau milik mereka,” ku luapkan semua yang ada di pikiranku kepadanya. Kau bohong Hyejung, kau sangat ingin memiliki Jimin saat ini, memeluknya setiap hari, bersamanya setiap waktu, alter-egoku mulai memberontak lagi. Ku kepalkan tanganku erat, tidak Hyejung kau tidak boleh goyah.

“Kau juga bisa memilikiku noona.”

Ya Jimin aku memang bisa memiliki mu tapi…. ya Hyejung, Jimin benar, kau bisa memilikinya juga, jadi tunggu apa lagi. Shut up! alter-ego berengsek! Caciku pada sudut lain diriku yang merengek meminta Jimin. Sudah ku bulatkan tekad ku, toh ini juga untuk kebaikannya.

“Tapi aku orang yang possesif, aku tak mau berbagi, tolong mengertilah..” suara ku sudah terdengar sangat serak, seperti seorang gadis kecil yang ingin menangis karena boneka kesayangannya di ambil orang. Kau bohong Hyejung, kau bohong pada dirimu sendiri. Aku meremas ujung rokku, mencoba mengendalikan pikiranku sendiri. Ini gila. Aku bukan orang bodoh yang tidak tahu bagaimana resikonya jika dia bersama ku. Mimpinya, karirnya, semuanya bisa hancur begitu saja. Di negara ini orang orang terlalu fanatik dengan idola mereka. Membayangkannya saja sudah cukup mengerikan apa lagi jika hal itu benar terjadi, dan yang menjadi alasannya adalah aku. Aku tak ingin hal itu terjadi kepadanya. Aku tidak bodoh. Aku tidak bodoh. Atau aku memang orang bodoh, melepas orang ku cintai begitu saja. Entahlah, sudah ku bilang ini gila.

“Tolong lihat mataku,” ucapnya setelah beberapa menit hanya sunyi yang mengisi kekosongan diantara kita.

Aku menguatkan hatiku untuk menatapnya, setidaknya hal itu lah yang bisa kulakukan setelah menyayatkan luka di hatinya. Aku pikir aku akan baik saja, tapi ternyata tidak. Saat bola mata itu menatapku rasanya semua pasokan udara di dadaku hilang, sesak. Aku dapt merasakan bahwa mata ku kini terasa sangat panas. Aku sudah tak tahan lagi, setelah beberapa menit menatapnya  kutundukkan kepalaku. Dia juga melakukakan hal yang sama.

Sunyi itu kembali hadir diantara berdua. Tapi tak bertahan lama. Kini dia memecah sunyi diantara kita. Ku dengar suaranya lebih berat daripada biasanya.

“Baiklah aku mengerti, aku tidak akan memaksamu lagi, Nikmati makan malammu, aku harus pergi dulu,” ucapnya. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya. Refleks saja aku menarik jas yang ia gunakan. Menariknya ke dalam pelukanku. Membiarkan wangi tubuhnya meracuniku. Aku tak tahu apa yang kulakukan. Aku rasa otakku sudah berhenti bekerja.

Mianhae,” bisikku kepadanya. Dia melepaskan pelukanku, mengarahkan kepalaku untuk mendekat ke dadanya, kemudian mencium puncak kepalaku, lekat. Aku bisa merasakan ada bulir hangat yang jatuh di pipiku. Aku tahu hal ini sangat berat bukan hanya untukku tapi juga untuknya.

Arra,” ucapnya lirih dan melepaskan interaksi di antara kami, kemudian dia tersenyum. Senyum itu, bagaimana aku bisa melihatnya lagi nanti. Dia membenarkan tatanan rambutku, seraya berkata,”aku harus pergi.” Kemudian dia berbalik menginggalkanku di sana, masih membeku di tempat yang sama. Semuanya terasa dingin. Hanya bulir hangat yang terus mengalirlah yang menyadarku kalau aku masih bernyawa.

-flashback end-

Malam itu aku masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan kini wangi mint tubuhnya masih dapat kuingat dengan jelas.

-끝-

(*) baca cerita sebelumnya

selamat ber-baper ria🙂

namgyur3265284

12923200_553774271471971_6044310349408473331_n

2 responses to “하루만: Passing by

  1. sorry unnie… baru sempet baca t-t u know lah laptopku rusak hiks dan ini minjem laptop fio yang juga rapuh hiks
    aduuuh lagunya nyees banget dan ini mereka berdua aduh banget… terus endingnya gimanaaaaa? geregetaaaaaaan!!!! jadian lah jebal asdfghjkl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s