The Dim Hollow Chapter 8 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

—Chapter 8

Him

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore

◊◊◊

            Kata orang, jatuh cinta dimulai dari debaran-debaran ringan di dada sampai pipi yang keseringan merona. Hari itu Dahye ingin menyingkirkan semua informasi mengenai jatuh cinta yang baru saja ia dapatkan setelah bermenit-menit berselancar di mesin pencarian. Sebab tak bisa dipungkiri, jantungnya kini bertalu begitu cepat hanya karena sebuah pesan singkat yang beratasnamakan Guru Oh Tampan♥ muncul di layar ponselnya.

Oh, ia bahkan belum sempat mengubah nama tampilannya.

Atau lebih tepatnya, belum ingin—tidak ingin.

“Jangan lupa. Pulang sekolah nanti ke kantorku. Detensimu belum berakhir.”

Lalu ketika Dahye tengah mengamati deretan kalimat itu dengan pipi yang menghangat, pesan lain dari nomor yang sama kembali muncul.

            “Tidak boleh telat. Apalagi sampai kabur. Mengerti?”

Ah sial. Padahal isi pesannya hanya seperti ini, tapi kenapa reaksi yang Dahye rasakan berlebihan sekali? Hatinya berdesir, kedua pipinya memanas, dan ujung-ujung jemarinya mulai mengeluarkan keringat dingin.

Kesal dengan dirinya sendiri, Dahye cepat-cepat mengunci ponselnya kemudian menyurukkannya ke dalam tas, berharap dengan begitu bayang-bayang pesan dari Sehun akan berhenti menghantui pikirannya dan mengacaukan perasaan aneh yang kini bermain-main di hatinya. Sebenarnya Dahye tak mau terlalu cepat mengakui dirinya telah jatuh hati pada Sehun. Maksudnya, hei, pertemuan mereka baru berjalan begitu singkat. Dahye belum benar-benar mengenal Sehun, begitu pula sebaliknya. Seringnya, yang selama ini mereka lakukan hanya bertengkar dan perang kalimat sinis.

Tapi sejak Sehun menyelamatkannya…

Sejak Sehun menunjukan kepeduliannya pada Dahye secara terang-terangan dan tak ragu untuk melindunginya, Dahye tahu ada yang berubah dalam hatinya untuk Sehun. Bagian di hatinya yang dulu membeku dan tak pernah lagi tersentuh orang lain, kini telah mencair perlahan-lahan akibat perlakuan hangat Sehun padanya.

Dahye memang sulit mempercayai orang lain. Sebab ia takut kembali ditinggalkan dan merasa tak dibutuhkan oleh orang yang disayanginya. Namun tempo hari Sehun telah membuktikan padanya bahwa ia berbeda, bahwa ia peduli pada Dahye.

Karena sesungguhnya yang selama ini Dahye butuhkan hanyalah rasa peduli dari orang lain. Rasa peduli dan diinginkan yang tak pernah ia dapatkan dari siapa pun setelah seluruh anggota keluarganya meninggal dunia. Rasa peduli yang kemudian Sehun berikan padanya.

Seperti yang dikatakannya pada Jongin, Sehun melakukan apa yang tidak orang lain lakukan untuknya.

Ketika semua orang memilih mengambil langkah menjauh, Sehun justru memaksa mendekatinya dan meruntuhkan benteng yang selama ini ia bangun untuk melindungi dirinya sendiri. Ketika semua orang memilih pura-pura tidak tahu, Sehun justru datang dan menunjukan kepeduliannya yang tulus.

Dan ketika semua orang tak pernah mampu mengetuk pintu hatinya, Sehun justru telah berhasil menyentuh bagian terdalam di hatinya.

“Hei, Son Dahye, gosip itu sungguhan, ya?”

Lamunan Dahye meletus begitu saja ketika seorang teman sekelasnya mendudukan diri di hadapannya sembari menunjukan raut kelewat ingin tahu. Sebelah alis Dahye berjingkat, tak mengerti kenapa perempuan ini tiba-tiba mengajaknya bicara. Padahal sebelumnya Dahye selalu jadi bagian tak begitu dianggap di dalam kelas.

“Gosip apa?” Dahye balas bertanya sembari menutup retsleting tasnya.

“Itu, gosip yang katanya kau sepupu jauh Oh seonsaeng—memang benar, ya?” Teman sekelasnya itu tak menyerah mendapatkan jawaban dari Dahye, kentara sekali rasa penasarannya.

Sejenak Dahye tercenung di tempatnya.

Sepupu jauh Oh seonsaeng, katanya?

Ah, benar juga. Kemarin saat di ruang konseling guru Yoo memberitakan hal ini, Dahye tak tahu berita ini menyebar begitu cepat.

“Dengar dari mana?” Tak mau langsung menjawab, Dahye kembali mengajukan tanya.

Temannya mengangkat bahu dengan gerakan acuh. “Seisi sekolah sedang ribut membicarakan ini, aku dengar dari setiap mulut yang lewat.” Ia kemudian mengesah pelan. “Ah, sudahlah, jawab saja pertanyaanku. Kalian benar-benar sepupu?”

Wah, sulit dipercaya. Bagaimana mungkin informasi yang mulanya hanya dibicarakan oleh segelintir orang di dalam ruangan tertutup dapat tersiar ke seluruh penjuru sekolah, terlebih sampai menarik perhatian semua orang. Sepertinya pengaruh seorang Oh Sehun di sekolah ini benar-benar hebat.

“Yah—Son Dahye! Kenapa malah diam?” Temannya itu mencolek lengannya tak sabaran. “Aku tanya sekali lagi, ya, gosip tentangmu dan Oh seonsaeng benar atau tidak?”

Sebenarnya Dahye sama sekali tidak suka dengan cara temannya ini bertanya. Seolah ia adalah terdakwa dan mesti dijatuhi hukuman jika memberikan jawaban yang salah. Ingin sekali Dahye menjawab dengan sinis seperti yang biasa dilakukannya. Tapi kemudian ia teringat perkataan Sehun kemarin sore.

 “Dan dengan mengatakan bahwa kita merupakan sepupu bukankah itu memudahkanku untuk terus berada di sampingmu dan melindungimu? Seperti janjiku.”

Jauh di lubuh hatinya, Dahye ingin Sehun terus berada di sampingnya…

Maka setelah membuang napas lewat hidungnya, Dahye menjawab tanpa ragu.

“Ya. Gosip itu memang benar.”

Kemudian seisi kelas mulai riuh dipenuhi bisikan-bisikan terkejut, baru Dahye sadari sejak tadi berpasang-pasang mata milik teman-teman sekelasnya diam-diam mengamati obrolannya. Temannya yang duduk di hadapannya memasang raut kaget, dan mulutnya separuh melongo. Lalu tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Dahye ia menghambur pada gerombolan teman-temannya yang duduk di tengah kelas.

“Pantas saja sejak awal Oh seonsaeng langsung memanggil namanya!”

“Ternyata mereka sepupu! Benar-benar tidak disangka!”

“Kupikir ini semua cuma gosip murahan, rupanya memang benar.”

Diam-diam Dahye memutar mata mendengar bisikan-bisikan itu. Lagi, ia kembali mengalami bagaimana rasanya dijadikan objek pembicaraan oleh seisi kelas—atau seisi sekolah lebih tepatnya. Diperlakukan seolah Dahye tak ada di sana dan mereka bisa bicara sepuasnya. Benar-benar melelahkan.

“Ah, leganya. Kupikir Oh seonsaeng menyukai dia, tapi ternyata mereka hanya sebatas sepupu.”

“Kau benar, aku juga sempat berpikiran begitu.”

Lalu ketika pembicaraan ini sampai ke telinganya, Dahye tahu sekujur tubuhnya mendadak membeku.

Jadi orang-orang berpikiran Sehun menyukainya?

Apakah di mata orang lain sikap Sehun memang menunjukan rasa suka?

Tapi Dahye tak mau lebih dulu bersenang hati sebelum memastikan sendiri bagaimana perasaan Sehun untuknya.

◊◊◊

            “Kenapa kita kemari? Kau mau menculikku?”

Alih-alih menjawab, Sehun justru menunjukan senyum lebarnya untuk Dahye yang kini berdiri di sampingnya dengan raut jengkel. Meski baru satu kali berkunjung, Dahye kenal bangunan apa yang kini dipijaknya, gedung apartemen Sehun. Dua puluh menit lalu, begitu bel pulang berdering Dahye bergegas menyusun langkahnya menuju ruangan Sehun. Namun yang kemudian didapatinya justru Sehun yang tengah mengunci pintu ruangannya dari luar, begitu berbalik dan menemukan Dahye berdiri di belakangnya, Sehun segera menyunggingkan senyum, lalu tanpa mengatakan apa pun membawanya ke area parkiran. Hal selanjutnya yang Dahye tahu, Sehun memaksanya masuk ke dalam mobilnya, dan sampailah mereka di tempat ini.

Lift berdenting pelan di lantai sebelas, dan pintu besinya menggeser terbuka. Sehun melangkahkan kakinya keluar diikuti Dahye yang mengekor dari belakang. Koridor yang mereka lalui lengang, hingga hanya suara derap langkah mereka sendiri yang terdengar.

Sehun berhenti di pintu paling ujung. Jemari pemuda itu bergerak menekan kombinasi angka sebagai password unit apartemennya.

“0808? Wah, pasti diambil dari tanggal ulang tahunmu, ya?” Dahye bertanya iseng begitu ia melihat berapa password yang Sehun masukan.

Mungkin Dahye tak menyadari ini, namun beberapa sekon Sehun sempat membeku di tempatnya begitu mendengar pertanyaan Dahye mengenai passwordnya. Tangannya yang terangkat untuk menyentuh daun pintu berhenti di udara, dan jantungnya sekilas berdebar cepat. Ia melirik Dahye sebentar, kemudian melepaskan tawa kecil.

“Sok tahu sekali.” Tukasnya sambil kemudian mendorong pintu hingga terbuka. Ia masuk, dan membiarkan Dahye ikut menjejakan kaki ke dalam. “Ulang tahunku tanggal 12 April, kalau kau mau tahu.”

Dahye mengedikan bahu sambil membuka sepatunya, seolah berkata bahwa ia tak peduli kapan tanggal istimewa itu jatuh. Kemarin karena kondisinya yang kurang baik, Dahye tidak sempat memperhatikan bagaimana keadaan tempat tinggal Sehun. Namun kini, setelah ia mendapat kesempatan kedua kembali berkunjung kemari, Dahye menyempatkan dirinya untuk mengamati sekitar.

Apartemen yang Sehun tempati terbilang kelas atas. Setiap ruangannya didominasi warna hitam dan putih, dan barang-barang yang melengkapinya menunjukan tak sembarang orang dapat membelinya. Dahye nyaris berdecak kagum mendapati betapa rapinya tempat ini. Maksudnya, biasanya seorang lelaki yang tinggal sendiri kesulitan mengurus tempat tinggal, ‘kan? Namun Sehun jelas berbeda.

“Aku buatkan minuman dulu. Kalau mau lihat-lihat boleh saja.” Ujar Sehun, kemudian menghilang menuju ruangan yang Dahye perkirakan sebagai dapur.

Karena Sehun telah memberinya izin untuk berkeliling, maka Dahye takkan melewatkan kesempatan ini dengan duduk diam di atas sofa. Gadis itu mulai menyusun langkahnya mengitari ruangan, melihat-lihat lemari kaca besar yang memajang berbagai miniatur bangunan terkenal, atau koleksi kaset yang diletakan di samping televisi di ruang tengah. Baru Dahye sadari, tak ada satu pun foto yang Sehun pajang yang memamerkan potret dirinya atau keluarga. Padahal Dahye penasaran setengah mati bagaimana kiranya rupa Sehun di masa kecil.

Kedua tungkainya kemudian berhenti di sebuah pintu kaca di ujung koridor. Dahye mendekat untuk mengintip ke dalam, dan kedua matanya seketika melebar begitu melihat pemandangan apa yang didapatnya dari pintu kaca ini. Di dalam sana, terlihat rak-rak besar yang diisi oleh ratusan, atau kalau mungkin ribuan buku. Sebelum otaknya sempat mencegah, tangan Dahye telah terlebih dulu meraih daun pintu dan mendorongnya terbuka. Tidak terkunci.

Aroma khas buku segera menyambut Dahye begitu ia melangkah masuk. Dahye tak pernah menyangka bahwa seorang Oh Sehun memiliki perpustakaan mini seperti ini di apartemennya. Tapi mengingat di usia mudanya Sehun telah berhasil meraih profesi guru, baru Dahye sadari Sehun pastilah seorang jenius.

Setiap dinding di ruangan ini tertutupi oleh rak buku yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit, membuat suasananya agak redup. Pantas saja Sehun memasang pintu berlapiskan kaca, mungkin supaya sedikit cahaya bisa masuk ke ruangan ini. Seluruh lantainya dilapisi karpet halus yang hangat, dan di tengah ruangan terdapat meja rendah beserta bantal-bantal empuk mengitarinya. Baru sebentar saja, Dahye mendapati dirinya kerasan di perpustakaan mini ini.

Dulu, di rumah lamanya ayah membuatkan Dahye dan eonninya perpustakaan kecil—namun ukuran ruangannya jauh lebih kecil dari perpustakaan milik Sehun. Dahye dan eonninya membuat ruangan itu senyaman mungkin dengan karpet, bantal serta boneka-boneka. Rak buku yang terisi penuh memang hanya dua buah, namun Dahye dan eonninya selalu betah menghabiskan waktu di sana. Kini, di rumah neneknya, Dahye tak pernah menjumpai perpustakaan pribadi lagi. Mengingat semua ini cukup untuk membuat hatinya berdesir rindu.

Mencoba mengenyahkan rasa gundah dari hatinya, Dahye berjalan menghampiri salah satu rak di sisi ruangan. Ia melarikan jemarinya pada punggung buku-buku yang tebal dan agak berdebu. Sekilas Dahye membaca setiap judul yang tertera di sana. Nyaris semua bukunya berisi tentang politik, sejarah dunia, dan ilmu psikologi. Kemudian perhatiannya terhenti pada salah satu buku bersampul kulit, tanpa satu pun kata yang tertulis di punggungnya. Penasaran, Dahye menarik buku itu dari rak, kemudian mengamati sampul depannya yang hanya dihiasi ukiran keemasan yang membentuk kata Memories.

Sebelah alis Dahye berjingkat melihat ini. Buku lumayan tebal ini jelas tak ada hubungannya sama sekali dengan politik, sejarah dunia atau pun ilmu psikologi seperti buku-buku lain di sekitarnya. Aneh. Padahal buku lain disusun sesuai temanya. Lalu kenapa buku satu ini terselip sendirian begitu saja?

Perlahan Dahye membuka buku itu, dan halaman menguning yang pertama menyambutnya hanya berisi sederet kalimat yang ditulis dalam huruf sambung meliuk-liuk.

“Tentang selusin kenangan yang sukar dilupakan mau pun dihapus dari memori. Kurekatkan seluruh kenangan itu di atas kertas ini, hingga kuharap kau pun takkan pernah menghapusnya. Teruntuk Oh Sehun, yang selalu mengisi setiap relung memori terindahku.”

Apa?

“Dahye-ya? Kau dimana?”

Dahye baru saja berniat membuka halaman selanjutnya ketika ia mendengar derap langkah samar Sehun mendekat. Ia tidak tahu kenapa, tapi kemudian tangannya lekas-lekas bergerak menutup buku itu dan menaruhnya kembali di dalam rak. Asal, Dahye menyambar salah satu buku di dekatnya, dan menekuninya seolah ia benar-benar tertarik dengan buku tersebut. Tepat ketika itu, Sehun melongokkan kepalanya di ambang pintu, dan mengerjap pelan begitu menemukan Dahye berdiri di dekat rak bukunya dengan buku tebal di tangan.

“Oh? Kau di sini?” Tanya Sehun lalu berjalan menghampiri Dahye.

Dahye mendongak dari bukunya lalu mengangguk-angguk dengan wajah dibuat serius.”Bukunya menarik.” Ujarnya sembari mengacungkan buku di tangannya, lalu tanpa menunggu respon Sehun segera menutupnya dan menaruhnya kembali ke rak. “Biar nanti kubaca lagi.”

“Seharusnya sejak awal aku tahu kau akan tertarik dengan ruangan ini.” Sehun terkekeh kecil sembari mendorong bahu Dahye agar berjalan ke luar ruangan. “Tapi lain waktu kau bisa kemari lagi, sekarang ikuti aku dulu.”

“Ngomong-ngomong kenapa kau mengoleksi begitu banyak buku tentang politik? Kau ini ‘kan guru Sastra, mestinya buku yang kau punya menyangkut tentang profesimu.” Dahye menukas, masih tak bisa menghapuskan ingatan yang didapatnya dari perpustakaan mini milik Sehun. Terlebih mengenai buku berjudul Memories tadi.

Buku apa itu? Siapa yang memberikannya untuk Sehun? Kenapa ia memberi buku itu?

Dahye ingin menanyakannya pada Sehun. Namun ia tak punya cukup keberanian.

“Dengan menjadi guru Sastra tak berarti buku yang kukoleksi berisikan sastra semua. Aku punya buku-buku itu, semuanya kutaruh di dua rak lain yang mungkin tak kau perhatikan. Soal rak berisikan buku-buku politik itu, sebenarnya aku jarang sekali membongkar isinya.” Jelas Sehun ringan.

Ah, jadi Sehun jarang membaca buku-buku di rak itu. Apakah Memories juga jarang dibuka olehnya?

Tapi mengingat kalimat pembukanya… Dahye rasa buku itu diberikan oleh orang yang istimewa. Atau setidaknya orang yang menganggap Sehun istimewa.

“Nah. Ayo makan.”

Sehun tahu-tahu menukas begitu mereka sampai di ruang makan. Dahye mengangkat kedua alisnya ketika menemukan panci mungil yang mengeluarkan uap hangat ditaruh di tengah-tengah meja makan. Aroma ramyeon yang memenuhi seisi dapur menyengat hidungnya.

“Makan? Aku sudah makan siang tadi.” Dahye menyahut, dan memperhatikan Sehun yang telah menempatkan diri di salah satu kursi makan.

Sehun mengambil sepasang sumpit lalu mendongak menatap Dahye dengan seulas senyum lebar. “Tapi aku belum. Kalau begitu kau harus ikut makan denganku.”

“Apa?” Suara Dahye meninggi. “Tidak mau.”

“Atau setidaknya temani aku makan.” Tambah Sehun, kedengaran seperti tengah membujuk. “Anggap saja ini sebagian dari detensimu. Oke?”

Dahye mengembuskan napas kesal, kemudian ikut mendudukan dirinya di hadapan Sehun. Pemuda itu tersenyum puas mendapati Dahye mengikuti keinginannya. Ia segera melahap ramyeon buatannya, kemudian mengangguk-angguk senang.

“Ah, ramyeon. Sejak dulu selalu berhasil membuatku lebih bahagia.” Ia mengesah, lalu melanjutkan makannya. “Kau sungguhan tidak mau?”

Dahye menggeleng, lantas bertopang dagu untuk mengamati Sehun lebih seksama. “Jadi kau membawaku kemari hanya untuk menemanimu makan ramyeon, begitu?”

Sejenak Sehun sibuk dengan ramyeonnya. Ia kemudian mendongak dan menggeleng kecil. “Tidak juga. Kau tetap harus mengerjakan detensimu. Tapi berhubung aku sedang ingin makan ramyeon buatan sendiri, aku mengganti tempat kerjamu menjadi di rumahku.”

Dahye mendengus lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.

“Kau benar-benar suka ramyeon, ya?”

Sehun tidak menjawab kali ini. Pemuda itu terlalu lahap menyantap ramyeonnya hingga pertanyaan Dahye dianggapnya sebagai angin lalu belaka. Well, melihat cara makan Sehun saja, sebenarnya Dahye telah mendapatkan jawabannya sendiri.

“Kau pasti juga suka minum-minum. Benar ‘kan?” Dahye tidak tahu kenapa ia bertanya begini. Tapi begitu saja ia teringat pertemuannya dengan Sehun di klub malam dulu. Sehun mabuk berat, pemuda itu pasti pecandu minuman.

Untuk pertanyaan ini, Sehun berhenti dari kegiatan makannya. Ia menatap Dahye dengan kepala meneleng lalu menjawab. “Tidak juga. Aku hanya minum kalau sedang bermasalah.” Seulas cengiran menghias bibirnya ketika kemudian ia melanjutkan. “Kau tahu ‘kan, rasanya masalahku akan hilang kalau sudah minum.”

Dahye mendecak kecil, menahan keinginan untuk menjitak kepala Sehun. “Masalahmu tidak akan hilang kalau kau minum-minum, tahu.”

“Tapi setidaknya aku lupa dengan masalahku untuk sejenak.” Sehun mengangkat bahu lalu meneruskan makannya.

Kalau begitu, dulu di klub malam Sehun tengah dilanda masalah, ya? Kira-kira masalah apa yang mengejarnya saat itu sampai mabuk-mabukan begitu?

“Saat itu kau juga mabuk?” Sebelum Dahye sempat menahan diri, pertanyaan itu telah lebih dulu meluncur dari ujung lidahnya.

“Hm?” Sehun bergumam tidak jelas, kini ia tengah mengangkat panci mungilnya untuk meneguk sisa kuah terakhir dari sana.

“Mungkin kau lupa. Tapi dulu, kita pernah bertemu di klub malam—aku menyinggung hal ini di detensi pertamaku, tapi aku tak sempat menjelaskannya sampai akhir karena kau terus memotong perkataanku. Saat itu aku melihatmu mabuk berat, benar-benar mabuk berat.” Dahye menjelaskan pelan-pelan. Sebenarnya ia ingin menanyakan perkara Sehun yang meracaukan namanya, namun ia mendorong keinginan itu jauh-jauh. Saat ini perkara itu tak lagi begitu penting baginya.

Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali. Rasanya sudah lama sekali sejak ia terakhir kali minum-minum. Setelah menjadi guru, Sehun memutuskan untuk menghentikan kebiasaan buruknya bergantung pada minuman ketika mendapat masalah. Tapi Dahye bilang gadis itu melihatnya mabuk berat—kapan?

Lalu seolah seseorang baru saja menyalakan lampu di kepalanya, begitu saja Sehun teringat saat yang dimaksud oleh Dahye.

Terakhir kali ia mengunjungi klub malam jatuh pada hari pertamanya diterima di Youghwan High School. Hari dimana ia pertama kali bertemu Dahye, dan… kembali teringatkan oleh sosok Dayoung.

Hari itu Sehun merasa dirinya benar-benar kacau. Ia hilang kendali atas dirinya sendiri sebab seluruh ingatan tentang Dayoung kembali menghantuinya. Lalu rasa sesal itu juga kembali menyapanya, membuatnya tersiksa sendiri, hingga tak bisa menahan diri untuk menyambangi tempat yang selalu jadi tujuannya tiap kali dirundung masalah. Ia menenggak begitu banyak alkohol sampai kesadarannya hilang. Ia bahkan tak ingat bertemu Dahye di sana.

“Aku…” Sehun meneguk salivanya susah payah. “aku tidak ingat.”

Diam-diam Dahye mengembuskan napas kecewa. Rupanya Sehun tak ingat. Pemuda itu tak ingat telah membuatnya spot jantung atas tingkahnya. Atas racauan tak jelasnya.

“Ngomong-ngomong kau sungguhan pergi ke klub malam, huh?” Sehun menukas sambil menghadiahi Dahye tatapan menyudutkan. “Apa yang kau lakukan di sana?”

Dahye mendecak kemudian mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi. “Saat itu aku terpaksa datang untuk menjemput sepupuku.”

“Oh? Sepupumu yang tempo hari marah-marah itu?” Sehun memastikan dengan kening mengerut, “Wah, rupanya firasatku benar. Dia betul-betul kurang ajar.”

“Yak! Enak saja bicara!” Dahye menukas jengkel, dan kali ini benar-benar menjitak kepala Sehun. “Kau tidak kenal Jongin, jadi tidak perlu bicara macam-macam tentang dia.”

Meski Dahye benci Jongin, pemuda itu tetaplah bagian dari keluarganya. Dan Dahye tak pernah suka siapa pun menjelek-jelekan keluarganya di depan hidungnya sendiri. Oh Sehun jelas bukan pengecualian.

“Dia memang kurang ajar. Seenaknya memarahimu, lalu dulu-dulu sampai membuatmu datang ke klub malam.” Sehun menyahut dengan wajah kesal.

“Kalau Jongin memarahiku dan membuatku pergi ke klub malam memangnya kenapa? Apa pedulimu?” Tukas Dahye.

Decakan kecil lolos dari mulut Sehun. “Menurutmu aku suka melihatmu dimarahi orang lain? Bahkan jika itu sepupumu sendiri, tidak seharusnya dia membentakmu di area terbuka begitu, bagaimana kalau ada yang lihat dan salah sangka sendiri? Mereka bisa saja menduga-duga hal yang tidak benar tentangmu.” Sehun menjelaskan dengan berapi-api. “Lalu kau bilang kau datang ke klub malam juga karena sepupumu itu. Dia pasti sudah gila membuatmu datang ke sana. Kau masih belum cukup dewasa untuk pergi ke tempat itu, masalah bisa saja mengincarmu sejak pertama kali kau menginjakan kakimu ke sana. Aku tidak mengerti kenapa sepupumu bisa bertindak sebodoh itu.”

Dahye nyaris kehilangan kemampuan untuk bernapas begitu mendengar penjelasan Sehun. Gadis itu terpaku di kursinya, tak sangka jawaban seperti ini yang akan didapatinya. Namun mungkin Dahye akan lebih terkejut lagi jika ia mendengar jawaban lain dari Sehun yang sengaja pemuda itu tahan di ujung lidahnya.

            “Dan yang paling membuatku tak habis pikir, sepupumu itu kelihatan jelas menaruh rasa suka untukmu—rasa suka yang lebih dari sekedar suka pada saudara. Menurutmu mana mungkin seseorang menyukai sepupunya sendiri?”

Sehun tidak bodoh. Pertama kali bertemu Kim Jongin ia tahu ada yang salah dengan pemuda itu. Terlebih ketika melihat emosinya yang meledak tak wajar begitu tahu Dahye sakit dan menginap di tempatnya, atau tatapan matanya ketika melihat dirinya dan Dahye bercengkrama. Sehun tahu dengan benar Jongin menyukai Dahye sepupunya sendiri. Namun ia rasa bukan haknya mengutarakan hal ini pada Dahye. Jika memang harus tahu, Dahye hanya akan mengetahui kebenaran ini dari Jongin sendiri. Bukan darinya, atau orang lain.

Maka setelah hening tak biasa menyelimuti keduanya selama beberapa saat, Sehun bangkit berdiri dari duduknya untuk meletakan panci di wastafel. Kemudian berujar tegas, sukses menghasilkan erangan malas dari Dahye.

“Nah, sekarang waktunya menjalankan detensimu.”

◊◊◊

            Esok sorenya, Sehun kembali menculik Dahye. Yang dimaksud Dahye dengan menculik adalah keadaan dimana Sehun memaksanya masuk ke dalam mobil, kemudian membawanya pergi tanpa mengatakan kemana tujuan mereka. Hari itu Dahye pikir Sehun akan membali membawanya ke apartemennya dan meminta Dahye menemaninya makan ramyeon.

Namun Dahye terbukti salah ketika kemudian Sehun menghentikan mesin mobilnya di suatu taman dan membukakan pintu untuknya.

“Dimana ini?” Dahye bertanya sembari mengamati sekitar. Banyak orang berjalan-jalan santai sembari bercengkrama hangat menikmati hangatnya sore hari. Pepohonan besar berdiri tegak di sekitar taman, mengirimkan hembusan angin sejuk yang membuat paru-paru Dahye terasa jauh lebih segar.

“Ini taman yang sering kukunjungi untuk melepas penat.” Sehun berujar pelan. Tanpa permisi ia membawa tangan Dahye dalam genggamannya kemudian membawanya berjalan menuju salah satu bangku panjang.

Dahye merasakan sengatan tak benar di sekujur tubuhnya ketika kulit tangannya bersentuhan dengan Sehun. Ia ingin menarik tangannya, namun tak punya cukup kekuatan untuk itu. Lagipula, kalau boleh jujur Dahye suka dengan hal ini. Suka dengan sensasi hangat dan aman yang Sehun berikan karena pemuda itu menggenggam tangan Dahye erat-erat.

“Jadi ini sebagian dari detensiku juga?” Dahye bertanya setelah keduanya duduk di bangku, mengamati bocah-bocah kecil yang berlarian dengan derai tawa cerah mengiringi. Sehun belum juga melepaskan genggaman tangannya.

“Kalau kau tidak mau menganggapnya sebagai kencan, maka ya. Ini bagian dari detensimu.” Sehun menjawab dalam gumaman pelan.

Kedua mata Dahye melebar mendengar ini. Ia menolehkan kepalanya dengan cepat pada Sehun hanya untuk menemukan pemuda itu tengah memandang lurus ke depan dengan seulas senyum tipis mengembang di bibir.

Mungkinkah Dahye salah dengar?

Dahye tak punya cukup keberanian untuk memastikan. Gadis itu segera memalingkan wajahnya yang memerah ketika kemudian Sehun menoleh padanya.

“Hei, lihat ke sana.” Sehun mengangkat tangan mereka yang saling bertautan untuk menunjuk ke arah barat.

Dahye mengikuti arah tunjukan Sehun dan menemukan seorang lelaki dan perempuan tengah berdiri berhadapan dengan beberapa orang berdiri mengelilingi mereka.

“Apa yang terjadi?” Dahye bertanya sambil memanjangkan lehernya, berusaha melihat lebih jelas.

“Meski tak ada aturan tertulisnya, taman ini selalu digunakan untuk mengutarakan perasaan. Setiap aku datang kemari, ada saja sepasang perempuan dan lelaki yang mengutarakan perasaan. Dan hari ini juga bukan pengecualian.” Sehun menjelaskan dengan tenang. Pandangannya terarah pada lelaki dan perempuan yang berdiri beberapa meter dari mereka. “Wah, kelihatannya kali ini si perempuan yang akan menyatakan perasaannya lebih dulu.”

Kedua alis Dahye berjingkat penasaran. Rupanya memang benar, si perempuan kelihatan berbicara dengan malu-malu sementara si lelaki mendengarkan dengan penuh antisipasi. Tak lama berselang, laki-laki itu ikut mengatakan sesuatu, dan keduanya menghambur berpelukan diiringi riuh tepuk tangan orang-orang yang sejak tadi memperhatikan.

Perasaan si perempuan diterima. Keduanya berakhir bahagia, dan mau tak mau Dahye ikut tersenyum atas itu.

“Kau harus banyak tersenyum.” Tahu-tahu Sehun berujar pelan, membuat Dahye menoleh dan menemukan pemuda itu tengah mengamatinya. “Kau kelihatan jauh lebih cantik saat tersenyum.”

Dahye tahu pipinya segera menghangat setelah mendengar pujian Sehun. Pun jantungnya yang kemudian bertalu begitu cepat. Ia bergegas membuang wajahnya ke samping, berharap semoga Sehun tak menyadari ia tengah tersipu.

“Apa yang kau bicarakan sih.” Dahye mendengus dengan suara lemah, yang sukses menghasilkan kekehan tawa dari Sehun.

“Ah, perempuan itu beruntung sekali.” Sehun kembali berujar. “Sebelumnya aku pernah melihat seorang perempuan menyatakan perasaanya lebih dulu, dan berakhir dipermalukan oleh si laki-laki. Pernyataan suka lebih dulu dari perempuan kadang memang sulit diterima.”

Mendengar ini membuat Dahye memberanikan diri kembali menoleh pada Sehun. Di luar kesadarannya, ia mengajukan tanya yang kini berputar di kepalanya.

“Kau sendiri? Menurutmu bagaimana jika seorang perempuan menyatakan rasa sukanya lebih dulu padamu?”

Sehun kelihatan agak terkejut mendengar ini. Namun kemudian ia memasang senyum termanis yang dimilikinya, lalu menjawab dengan suara begitu lembut.

“Aku? Aku sama sekali tak masalah dengan hal itu—terlebih jika gadis yang kusuka yang menyatakan perasaannya padaku.”

Matanya mengunci Dahye selama ia mengatakan itu, tak mengizinkannya mengalihkan fokus barang sebentar saja. Perlahan Sehun mendekat, bergerak menghapus jarak yang memisahkan wajah mereka. Lalu ketika wajah mereka hanya berjarak beberap senti, Sehun menghentikan gerakannya. Telinganya cukup tajam untuk mendengar suara yang baru saja muncul.

Sehun menjauh, sambil berusaha sebisa mungkin menahan tawa.

“Hei, kau lapar?”

Wajah Dahye semakin memerah kini. Bukan hanya karena rentetan ucapan Sehun dan juga usaha pemuda itu untuk menciumnya. Namun juga karena ulah cacing-cacing di perutnya hingga mengeluarkan suara protes yang tak enak didengar telinga. Well, tolong jangan salahkan Dahye. Pagi tadi ia belum sempat sarapan, dan ia juga melewatkan makan siangnya di sekolah.

“Kenapa tidak bilang saja sih kalau lapar?” Sehun terkekeh kemudian menarik Dahye berdiri dari duduknya.

Dahye lebih dari sekedar malu sekarang. Ia membiarkan Sehun membawanya kembali ke dalam mobil. Pemuda itu mengendarai mobilnya sebentar, sebelum akhirnya mereka kembali berhenti. Kali ini di depan sebuah restoran cepat saji.

“Hanya ini tempat makan terdekat. Kalau membawamu ke restoran lain yang lebih berkelas dan lebih jauh, aku takut nyawamu terlanjur melayang saking kelaparannya.” Sehun menukas jahil sambil berjalan keluar dari mobilnya.

“Yaak!” Dahye berseru marah, yang justru hanya mengundang tawa Sehun. Pemuda itu melingkarkan sebelah lengannya di sekeliling bahu Dahye, dan menggiringnya berjalan ke pintu masuk.

Tepat ketika ia hendak mendorong pintu terbuka, seseorang dari dalam telah terlebih dulu menariknya dan berjalan keluar restoran. Kedua mata Sehun segera melebar antusias begitu menyadari siapa orang itu.

“Baekhyun hyung?”

“Baekhyun oppa?”

`           Dahye dan Sehun menyapa sosok pemuda di hadapan mereka bersamaan. Keduanya kemudian menoleh, tak sangka sama-sama mengenal pemuda ini.

Sementara Byun Baekhyun, masih dengan sebungkus burger hangat di tangan, membeku tak percaya di tempatnya. Mengamati sepasang lelaki dan perempuan yang tengah berdiri berangkulan hangat di hadapannya dengan terkejut.

Bagaimana bisa, Oh Sehun, dan Son Dahye kenal dekat seperti ini?

…kkeut

Note

Hai…?

Aduh maafinnnn lagi-lagi aku telat update:(((( serius deh pengennya mah ga telat update gini, tapi minggu kemaren gatau kenapa aku ga dapet mood nulis fic ini hiks maafin akuuu:( tadinya yang mau diupdate duluan itu side storynya jongin-dahye, tapi aku putusin buat langsung masuk ke chapter ini.

Well, adakah… yang masih tertarik sama fic ngaret ini? Atau jangan-jangan udah pada lupa sama ceritanya? Hiks ko sedih sih:( yah moga kalian masih pada inget dan masih pada tertarik buat baca lanjutannya yah:’) aku bisa apa tanpa kalian yang nyemangatin aku gengs:’) /penyakit alaynya kambuh cuih

Anw aku ada fic series baru yang dipublish di blog sendiri, cast as always sehun-dahye, dan genrenya marriage life. Adakah yang mau baca? Kalo semisal ada, boleh banget loh meluncur kemarià How To Be a Good Hubby. Hihi, promosi terselubung ini mah=))

Ah udahan dulu deh notenya. Seeya on next chap gengsss^^

…mind to leave a review?

143 responses to “The Dim Hollow Chapter 8 by Cedarpie24

  1. gilak aku telat 3 chapter ‘-‘ eh ternyata si sehun tau kalo jongin suka dahye , wahwahwahh semua perlakuan sehun itu maksudnya apa?? melindungi tapi akhirnya malah nyakitin. benar nggak sih? soalnya aku masih baper sama teaser the did hollow, dududuu~ dan bisakah aku bilang kalo biang rahasia itu ada di baekhyun ? (?) atau sehun? ah udahlah langsung next ajah >< ♥

  2. Okay… Everything will start different here right? Omg.. everyone will get hurt Here… No… I can’t let it >……<

  3. Kayaknya ini aku bacanya keloncat loncat deh hehehe. Maklum udah lama gak baca jadi baca dari part 7 yang belum eh part 8 ternyata udah baca. Yaudah lah mau lanjut part 9 aja kalau gitu

  4. Pingback: The Dim Hollow Chapter 11 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Waw waw waw… mereka berdua saling kenal dengan Baekhyun, dannnnnn akankah Baekhyun menceritakan masa lalu yg menimpa diri.a dan Dayoung? Aaakkk makin penasaran
    Next ya eon

  6. Makin kesini makin protektif aja Sehun ke Dahye,,, Ciieee yang katanya sepupu Dahye cemburu sama sepupu Dahye yang asli juga😀 … nahlho ketemu sama BaekhyunO_O…

  7. Woaaaa tidakkkk mereka beneran ngaku sepupu
    Terus gimna nasib kai yg notabene sepupunya beneran
    Wkwkwkkw

    Woa bakalan kebongkar gak ya sama baekhyun hubungan mereka tu (sehun dahye)

  8. Pingback: The Dim Hollow Chapter 13 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Konflik batin sepertinya akan dimulai :’)
    Ketika Sehun tau siapa Dahye, apa yg akan terjadi? Penasarannnnn

  10. Wah mereka bertiga ketemu. Bakal ada cerita baru kalo gitu. Pengen tau ada kebenaran apa lagi.. Jreng jreng! ~

  11. aku merasa sehun itu cuman nganggap dahye kaya dayoung deh, soalnya kan mereka hampir mirip kalau iya kasihan dahye di php in sehun tp, semoga aja engga, #apaini

  12. Ahha akhirnya mereka ber3 ketemu juga🙂 apa da hye akan cerita tentang eonninya ? Atau baekhyun yang cerita tentang tunangannnya dulu ?? Ah penasaran

  13. Beruntungnya jadi dahye yang selalu dapat perhatian lrbih sehun. pasti malu jadi dahye perutnya bunyi waktu mau di cium sama cowok yag di suka. Dan baekhyun pasti kaget setengah hidup melihat sehun sama dahye yang notabanenya dulu adalah adik dari dayoung.tapi aku juga penasaran gimana baek tau hubungan sehun sama dayoug? Ditunggu😂

  14. Greget sekali, ga rela kalau bentar lagi semua bakal kebongkar dan gimana nanti nasib dahye nya sama sehun😦 padahal mereka lagi deket deket nya😦

  15. Pingback: The Dim Hollow Chapter 14 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. Heee 😱😱😱😱
    Makin penasaran 😂😂😂😂
    when all secrets uncovered 😂😂😂😂 *sokinggris

  17. Waduh kayanya masalah bakal datengg~
    Geregetan nih maubaca lanjutannyaa~
    disini momment dahye-sehun layaknya kencann bangetttt. Ditunggu confirmationnya hubunganya kekekeke🤗

  18. jeng..jeng..jeng..
    Ciee…kepergok bang Baek..
    Hayoo.. mau ngapain lagi tuh….
    Sehun main berani aja yaa..
    nggak kebayang gimana salah tingkahnya Dahye.

  19. Pingback: The Dim Hollow Chapter 15 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  20. Pingback: The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  21. Pingback: The Dim Hollow Side Story: Forbidden by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  22. aku kira awalnya sehun tuh kenal dahye, kalo dahye itu adiknya dayoung. tapi ternyata emang dia ga kenal dahye sama sekali. Terus yang tau ini semua cuma Baekhyun? jadi si baek ini kunci utamanya?
    What this hell? can someone help me to breath now?

  23. Pingback: The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  24. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  25. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  26. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  27. Ow ow. Penasaran gmn tanggapan baek kl tau sehun dkt sm dahye, baek kan tau smuanya. Kasian dahye kl trlanjur suka sm sehun:( tu kan jongin bnrn suka sm dahye, wk. Lanjut baca ya^^

  28. jengjengjenggggggg ……
    nahlohb sehun dahye ketemu sama baekhyunnn?????
    apa yang bakal ada dipikiran baekhyu. setelah liat mereka berduaaa ….

  29. Siapapun juga bisa liat gimana cara Jongin perlakuin Dahye itu karena suka.. tapi karena Dahye nutup diri aja..
    Nah loh ketemu Baekhyun.. apa mingkin Baekhyun bakala ceritain semuanya.. atau Baekhyun cuma cerita ke Sehun kalo Dahye itu adiknya Dayoung.. yang akhirnya nantinya malah buat Sehun makin ngerasa bersalah karena tau masalah yang dihadapin Dahye tuh berawal dari dia..
    Oh god.. aku makin penasaran.. ceritanya makin seru..

  30. Jongin suka sama dahye,tapii yaa gtu… mungkin karna mereka bersepupu jadinyaa yaa gak mungkin bwt bareng,dan tingkah laku dahye jugaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s