IGNORED – BY PRLLNRHMWT

prllnrhmwt-copy

prllnrhmwt’s present

MAIN CAST :

Bae Juhyeon (Irene Red Velvet)

Kim Junmyeon (Suho EXO)

SUPPORTING CAST :

Red Velvet’s Member

EXO’s Member

GENRE :

Romance

LENGTH :

Oneshot

WARNING :

AU & OOC

DISCLAIMER : 

Characters belongs to God, their parents and themselves. The story is mine.

poster by ChocoYeppeo‘s design

***

Kim Junmyeon atau yang akrab disapa Suho memandang punggung seseorang yang makin lama tak daoat terjangkau oleh kedua matanya. Dari pancaran matanya terlihat sangat jelas kalau pria itu menyukai orang tersebut.

Melihatnya tertawa bersama teman-temannya entah kenapa membuat hati Suho merasa hangat. Ah betapa indahnya jika ia dapat bergabung dengan mereka. Tapi apa daya, ia hanya mampu menatap orang tersebut dari kejauhan, seperti sekarang ini.

Bel berbunyi nyaring, lebih nyaring daripada suara sirine ambulans atau mobil polisi. Siswa ataupun siswi yang berada di koridor, lapangan atau tempag lainnya berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Siap tidak siap menjalani hari pelajaran pertama setelah liburan musim panas.

Suho melangkahkan kakinya menuju kelasnya yang berada di lantai 3, kelas 3-2. Hal yang Suho tak suka karena kelasnya berada di lantai atas adalah ia harus menaiki berpuluh-puluh anak tangga. Belum lagi ia harus jalan sedikit lagi untuk sampai ke kelasnya karena kelas Suho berada di ujung.

Dan juga ia harus naik-turun saat istirahat karena kantinnya berada di lantai dasar. Dulu ia memang menginginkan kelas di lantai atas tapi sekarang ia menyesalinya, sungguh.

Pelajaran dimulai dengan pelajaran Bahasa Inggris. Suho cukup pandai dalam bidang ini, ia tak pernah mendapat nilai B- atau dibawah 80 dalam pelajaran ini. Namun ia tak menyukai guru yang mengajar pelajaran ini, Nam Seonsaengnim, dan Suho rasa semua teman sekelasnya juga merasakan hal yang sama. Termasuk Bae Juhyeon—orang itu

Suho dan Irene—panggilan akrab Bae Juhyeon memang sekelas. Suho duduk di belakang Irene, membuatnya dapat memandangnya sesuka hati. Tanpa memperdulikan tatapan curiga teman-teman disekelilingnya.

Beberapa jam kemudian bel kembali berbunyi nyaring. Semua murid berlarian menuju kantin. Sesekali terdengar teriakan gembira dari mulut mereka. Lagipula siapa yang tidak senang telah bebas dari pelajaran yang membuat otakmu hampir meledak selama berjam-jam, huh?

Tidak seperti murid lainnya yang terlihat bersemangat, Suho justru malas-malasan untuk pergi ke kantin. Ia melangkahkan kedua kakinya tak niat. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong celananya, kepalanya menunduk menatap ubin berwarna coklat muda itu.

Unnie hentikan! Kau terlihat sangat bodoh hahahahaa!”

“Ya! Berhenti menertawaiku! Apanya yang terlihat bodoh sih?!” suara itu sangat akrab ditelinga Suho. Membuat pria itu secara otomatis membalikkan badannya.

Ia kembali menatap Irene yang sedang berjalan bersama teman sekaligus adik kelasnya, Kim Yerim atau yang lebih akrab disapa Yeri. Mereka berdua memang sangat akrab, bahkan mereka lebih terlihat sebagai saudara kandung daripada teman ataupun status adik kelas-kakak kelas.

“Ah Suho-oppa! Annyeong haseyo,”

Rupanya gadis yang satu tahun lebih muda dari Suho menyadari keberadaan pria itu. Yeri membungkuk 90 derajat sebelum melambaikan tangannya ke arah Suho, bersikap sopan.

Suho dan Yeri memang cukup dekat. Mereka mengikuti klub yang sama, yaitu klub Paduan Suara. Dari sanalah mereka mulai dekat.

Annyeong, Yeri-…”

Belum sempat Suho menyelesaikan kata-katanya, Irene lebih dulu menarik lengan Yeri untuk menjauhi Suho dengan alasan ‘Kita sudah ditunggu oleh Jeon Seonsaengnim, Aku tak ingin membuat beliau mengamuk jika kita terlalu lama, kau tahu ‘kan bagaimana orang itu kalau mengamuk?’ Begitulah katanya.

Tangan Suho yang tadinya hendak melambai, menjadi menggantung di udara. Orang-orang yang berlalu-lalang di koridor menatapnya kebingungan dan sebagian besar wajahnya menahan tawa.

“-ya…”

Setelah kejadian yang memalukan itu, Suho tak langsung pergi ke kantin melainkan ke kelas teman-temannya. Mereka bermain basket sebentar sebelum berakhir di kantin juga.

Suho duduk sambil memainkan smartphonenya, menunggu makanan yang tengah dipesan oleh Jongin dan Sehun. Suho tak sendiri, di mejanya ada Chanyeol, Baekhyun, dan juga Chen.

Tiga orang itu bercakap-cakap tanpa memperdulikan Suho yang kini mulai merasa terganggu. Tidak bisakah mereka menutup mulut mereka untuk satu menit saja?

Beberapa menit kemudian Jongin dan Sehun datang dengan nampan ditangan mereka yang berisi empat mangkuk ramen, sepiring nasi goreng dan semangkuk sup hangat beserta minumannya.

Suho benar-benar berterima kasih ketika dua orang itu datang karena Baekhyun, Chanyeol dan Chen langsung terdiam melihat makanan yang membuat nafsu. Ah dengan begini ia dapat menikmati hidangan di depannya dengan khidmat.

“Junmyeon-ah, bukankah itu Irene?” Chanyeol bersuara.

Tapi nyatanya tidak… bagaimana ia bisa makan dengan tenang saat sahabat jangkungnya itu bersuara?

Suho yang sempat menggeram kesal saat sahabatnya itu mulai berbicara langsung terdiam ketika telinganya mendengar kata ‘Irene’. Pria itu melihat kebelakangnya dan benar saja Irene dengan teman-temannya—Seulgi, Wendy, Joy dan Yeri sedang berjalan. Dan sepertinya mereka mengincar tempat duduk di sebelah tempat Suho dan kawannya.

Mata Suho dan Irene sempat bersibobrok. Membuat tubuh Suho menegang seketika. Berbeda dengan Suho, Irene justru langsung memalingkan wajahnya, menghindari tatapan pria itu.

Suho menghela napasnya panjang, gadis itu selalu saja begitu. Apa ia membenci Suho? Atau Suho melakukan kesalahan? Tapi apa? Memikirkan itu semua membuat Suho frustasi.

Perempuan memang sulit dimengerti, bahkan jauh lebih sulit daripada memecahkan rumus-rumus matematika ataupun fisika, kata Minseok—sepupu Suho pada Suho yang saat itu masih berumur 13 tahun.

Dan sekarang Suho mempercayai kata-kata sepupunya yang empat tahun lebih tua darinya.

Segerombolan gadis itu duduk, satu dari mereka memesan makanan. Irene terlihat fokus ke ponselnya, mengabaikan para sahabatnya yang tengah bersenda gurau. Entah apa yang membuat gadis itu lebih tertarik ke ponselnya daripada mengikuti obrolan sahabatnya.

Sedangkan Suho, pria itu sama sekali belum menyentuh makanannya. Ia masih memandangi Irene yang kini sudah berhenti memainkan ponselnya.

Cacing-cacing diperut Suho sebenarnya sudah meraung-raung meminta jatah makanan mereka, namun Suho lebih tertarik memandangi Irene daripada menyantap makanan itu.

“Irene-ah, kurasa Suho menyukamu,” Seulgi—salah satu sahabat Irene berbicara cukup keras, meski tidak dapat dikatan berteriak tapi suaranya mungkin dapat didengar oleh orang-orang yang sedang mengantri di sana. Suho menegang seketika. Demi apapun ia ingin sekali menyumpal mulut gadis itu dengan kaos kaki yang belum ia cuci selama dua minggu milik Minseok. Apa gadis itu sengaja melakukan hal ini? Sialan.

“Ah aku juga merasa demikian, tadi saat kami bertemu di koridor Suho oppa terus memandangi Irene unnie,” Kali ini Yeri yang berbicara.

Astaga. Wajah Suho memerah, entah karena marah atau malu, tetapi mungkin karena keduanya.

Jika mereka laki-laki mungkin sekarang Suho sudah menghajar kedua orang itu. Untunglah Suho masih sadar dan tidak melakukan tindakan yang membuat nama baiknya tercoreng.

Meskipun memang benar kalau Suho menyukai Irene tetapi tetap saja ia malu. Dan sekarang lihatlah! Dirinya menjadi pusat perhatian di kantin ini. Oh mau ia taruh dimana wajahnya yang tampan ini?—ew.

“Aku setuju-setuju saja sih kalau kalian pacaran, toh Suho juga luamyan tampan.” Kali ini si rambut merah—Wendy yang baru kembali dengan nampan ditangannta yang berbicara. Ia duduk di sebelah Yeri.

“Aku juga,” kata Joy yang datang bersama Wendy.

“Memangnya ada yang mengatakan kalau aku menyukainya? Aku tidak menyukai pria itu, dia bukan tipeku.” Irene berkata pada akhirnya. Membuat keempat gadis yang bersamanya terdiam lalu saling berpandangan satu sama lain.

Chanyeol, Jongin, Baekhyun, Chen, dan Sehun tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air matanya. Tentu saja mereka mendengar perkataan Irene barusan yang terkesan jahat.

Mereka menatap Suho dan tawa itu semakin menggelegar. Bahkan orang di sekitar mereka terkikik. Demi apapun wajah Suho seperti orang bodoh sekarang. Pria itu terbengong menatap makanan di depannya. Mulutnya menganga cukup lebar.

Ia merasa terpukul akibat perkataan Irene barusan.

-oOo-

“Kau jahat sekali.”

Sore ini di taman kota sangat ramai. Banyak orang-orang yang berlalu-lalang. Ada keluarga, ada remaja, ada lansia, ada orang tua bahkan ada orang yang berpacaran di taman ini.

Taman ini memang menjadi salah satu pusat kota ini. Di sini banyak pepohonan yang besar dan rindang. Selain itu juga ada mainan untuk anak kecil. Suasana di sini juga cukup sejuk, seringkali angin sepoi-sepoi membelai wajah mereka.

Dan hal yang menarik lainnya adalah makanan yang ada di taman ini. Semua makanan itu sangat lezat. Harganyapun terjangkau. Jadi tak salah bila banyak orang yang menyukai taman ini.

Begitupula dengan sepasang kekasih yang tengah duduk di ayunan sambil menikmati es krim yang beberapa menit lalu mereka beli. Taman ini adalah salah satu tempat mereka kencan selain di Coffee Shop milik keluarga teman mereka.

Sang gadis terdiam ketika mendengar kata-kata pria di sebelahnya barusan.

“Jadi aku bukan tipemu? Lalu siapa yang mengatakan ‘Dari dulu aku sangat ingin memiliki seorang pacar yang sepertimu, baik, tampan, berani dan juga pintar’ huh?” Pria itu—Suho berbicara lalu menirukan gaya berbicara gadisnya sampai benar-benar mirip. Ia memang cukup hebat dalam hal meniru-niru.

Gadis itu hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Suho barusan. Pipinya yang agak tembam memerah hingga seperti kepiting rebus karena malu. “Hatiku sakit setelah mendengar kata-katamu itu, Juhyeon-ah.”

“B-bukan begitu Junmyeon-ah. Aku hanya mm.. Hanya…”

“Kau tahu seberapa rindunya aku setelah 1 bulan lebih tidak bertemu denganmu karena libur musim panas dan kau pergi ke Thailand bersama keluargamu? Dan setelah penantian itu akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Namun apa yang aku dapatkan?”

Sebenarnya Suho atau Junmyeon—pria itu tidak benar-benar marah pada Irene. Ia hanya ingin sedikit mengerjai gadisnya itu. Yah, sedikit balas dendam atas perkataan Irene tadi saat di sekolah.

“Lagipula apa susahnya memberitahu sahabatmu tentang hubungan kita? Toh aku saja sudah memberitahu kepada sahabatku. Dan tadi kau dengar ‘kan kalau mereka setuju dengan hubungan kita jika kita memang benar-benar berpacaran?”

Suho tak memberi kesempatan Irene untuk berbicara sepatah katapun. Ia terus memojokkan Irene. Bisa dibilang ia menikmati permainan ini.

Suho menoleh. Ia melihat Irene hanya menunduk, mengabaikan es krim ditangannya yang mulai mencair. Irene pasti merasa bersalah sekarang.

Suho dan Irene sebenarnya sudah resmi berpacaran. Tepatnya sejak 6 bulan yang lalu. Irene meminta pada Suho untuk menutupi hubungan mereka dan hanya memberitahu orang terdekat mereka saja, alasannya karena ia malu. Bagaimanapun juga ini adalah pertama kalinya ia berpacaran setelah 18 tahun hidup di dunia ini, dan ia tak tahu bagaimana pacaran di depan umum dan ia rasa ia juga tak bisa. Bisa-bisa dirinya ditelan oleh rasa malunya sendiri.

Suho menyetujuinya, ia benar-benar hanya mengatakan pada sahabatnya saja. Suho kira Irene mengatakan pada sahabatnya tentang hubungan mereka, namun nyatanya gadis itu tidak mengatakan hal apapun. Selama di sekolah mereka bersikap seakan tak memiliki hubungan apa-apa. Bahkan meskipun mereka satu kelas, dapat dihitung dengan jari dalam 10 bulan itu mereka berbicara satu sama lain. Selebihnya tidak.

Mereka lebih suka kencan di luar lingkungan sekolah. Itupun hanya sekedar jalan-jalan ataupun makan saja, tanpa berpegangan tangan. Mereka hanya berpegangan tangan hanya saat berada di dekat rumah Irene.

Hubungan mereka hanya sampai tahap berpegangan tangan dan berpelukan. Sebenarnya mereka sudah pernah berciuman, hanya sekali. Dan itupun karena suatu insiden. Belum sampai ke tahap yang lebih dari itu. Suho tak berani melakukannya pada Irene, bukan karena ia tak mencintai gadis itu. Justru karena ia sangat mencintai Irene ia tak melakukan itu padanya. Apalagi mereka masih sekolah.

Irene terlalu suci dan polos untuk dirusak dan Suho bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan menyentuh Irene lebih dari berpegangan tangan ataupun berpelukan sampai mereka menikah nanti.

“A-aku tak bisa, Junmyeon. Aku malu,” Irene berjalan ke tong sampah di dekat mereka. Ia baru menyadari kalau es krimnya sudah mencair. Gadis itu kembali duduk di ayunannya. Ia menatap rerumputan di bawah. Tak berani membalas tatapan Suho.

“Oke aku akan mencoba untuk mengerti hal itu lagi, tetapi cobalah untuk sekedar menyapaku saat di sekolah. Ayolah, hanya sekedar menyapa kau pasti bisa ‘kan?” Suho tetap menatap Irene.

“Baiklah akan kucoba, besok…”

Senyum Suho mengembang mendengar perkataan Irene barusan. “Juhyeon-ah, jangan menunduk terus. Lihat aku,”

Irene tak menurut. Ia tetap pada pendiriannya untuk tidak membalas tatapan Suho dan memilih untuk tetap memandangi rerumputan hijau di bawah kaki mungilnya.

“Astaga, apa wajahku sebegitu tampannya sampai-sampai kau tak mau melihatku karena takut jantungmu berdetak kencang huh?”

YA!”

Irene langsung menolehkan kepalanya ketika Suho menyelesaikan kalimat panjangnya barusan. Ia menatap jijik pada Suho. Kenapa pria nya itu terlalu percaya diri sih?

“Kau jelek, tidak ada tampan-tampannya sedikitpun.” Irene berkata jutek.

“Kau cantik,”

Blush.

Wajah Irene kembali memerah seperti kepiting rebus. Jantungnya juga bekerja tak karuan sekarang. Oh astaga, betapa tampannya seorang Suho yang sedang tersenyum di depannya ini.

Baiklah, Irene berbohong soal perkatannya tadi. Suho sama sekali tak pernah terlihat jelek dimatanya. Bagi Irene, mau seperti apapun Suho akan selalu terlihat tampan dan menawan.

Kenapa pria itu selalu membuatnya luluh dalam hitungan detik, sih?!

Melihat wajah Irene membuat Suho gemas sekarang! Demi apapun ia menahan dirinya agar tidak memeluk gadis itu di depan umum sekarang! “A-ah le-lebih baik kita kembali sekarang. Hari sudah mulai gelap,” Sial! Kenapa malah aku yang gugup sih?

Itu semua salah Irene. Ya, salah Irene yang terlalu cantik dan manis sampai selalu membuat Suho berdebar tak karuan.

Irene tersenyum kecil dan mengangguk menanggapi ucapan Suho barusan. Ia berdiri dan merapihkan rok sekolahnya yang sedikit berantakan karena terlalu lama duduk lalu setelah itu menghampiri Suho.

Keduanya tersenyum, lalu berjalan beriringan. Entah sengaja atau tidak Suho menggandeng tangan Irene membuat gadis itu kembali berhenti.

Menyadari perbuatannya, Suho segera melepas tangannya dan meminta maaf pada Irene. Gadis itu terlihat mengalihkan pandangannya sekarang.

Suho menyuruh Irene untuk terus berjalan. Namun gadis itu tetap terdiam dan mengalihkan pandangannya. Apa dia marah? Pikir Suho.

“Juhyeon-ah, aku minta maaf soal tadi. Aku tid-“

“Ti-tidak apa-apa k-kalau kau mau menggandeng t-ta-tanganku,” Ucap Irene pelan. Gadis itu menyerahkan tangannya namun wajahnya ia tetap alihkan. Ia tak ingin Suho melihat wajahnya yang ia yakini sudah seperti kepiting rebus sekarang. Oh itu memalukan.

“Kau yakin?”

Irene mengangguk pasti. Jujur saja, sebenarnya ia ingin melakukan hal ini dari dulu. Namun ia menahannya karena rasa malu. Sekali lagi, ini adalah pertama kalinya ia pacaran.

Suho terlihat ragu untuk menggandeng tangan mungil itu. Ia berpikir sebentar sebelum akhirnya menggandeng tangan Irene. Tangan gadisnya terasa sangat hangat dan pas sekali ditangannya.

Irene menolehkan kepalanya. Lagi-lagi ia dibuat berdebar karena senyuman Suho. Ia rasa ia tak akan pernah bosan melihat senyum itu.

“Kurasa kita harus cepat. Mungkin saja eommamu sudah memasakkan makanan untuk kita. Aku benar-benar lapar sekarang,”

YA!”

Keduanya terkekeh kecil sebelum melangkahkan kaki mereka. Pasangan itu berjalan dengan tangan yang bertaut erat seakan jika dilepas maka salah satu dari mereka akan hilang ditelan bumi.

Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi mereka. Sekaligus menyenangkan. Dan kencan hari ini merupakan kencan terbaik mereka meskipun diawali dengan perdebatan kecil.

-oOo-

Esok harinya…

Suho pikir hari ini akan menjadi hari yang amat sangat menyenangkan bagi dirinya. Namun ternyata ia salah besar.

Pagi ini sudah pukul 7 lewat 25 menit, 35 menit lagi bel masuk akan berbunyi nyaring di sekolahnya pertanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Tapi sekarang, Suho masih berada dimobilnya, terjebak macet dan mungkin akan berlangsung selama 2 jam lebih. Ia menatap gusar ke arah jam tangannya berulang kali.

Ahjussi, kurasa aku turun saja.” Suho berkata pada supirnya.

“Tapi tuan…”

“Tidak apa, aku akan mencari jalan keluarnya. Aku cukup tahu daerah sini.”

Beruntung mereka terjebak macet di tempat yang Suho kenal. Dari sini ia hanya perlu kebelakang beberapa meter lalu belok kanan dan lurus terus. “Baiklah. Tapi berjanjilah agar anda baik-baik saja,” Suho mengangguk mantap sebelum keluar dari mobil hitam itu.

Ia berlari agar tidak telat. Tetapi jalan pintas itu terlalu jauh dari tempatnya sekarang. Sungguh. Mungkin ia akan sampai di sana sekitar 15 sampai 20 menit. Itu belum dengan waktu menunggu taksi. Oh shit. Kepalanya pening membayangkan Joo Seonsaengnim menceramahinya selama berjam-jam. Ugh.

Benar saja, lima belas menit kemudian ia sampai di jalan itu. Namun ia masih harus menunggu taksi. Jalanan ini terlihat sepi, hanya beberapa kendaraan saja yang berlalu-lalang. Ia janji jika 5 menit kemudian tak ada taksi yang lewat hari ini ia akan membolos.

“Junmyeon? Astaga apa yang kau lakukan di sana?” Suara yang sangat ia kenal.

Suho menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita yang telah menginjak usia 43 memegang segelas kopi ditangannya. Meskipun usianya sudah berkepala empat tak bisa dibohongi kalau wajahnya masih seperti orang yang berumur 20-an.

“Ah Eommeonim, annyeong haseyo,” Suho membungkuk hormat.

Wanita itu adalah ibu Irene. Ibu dari kekasihnya. “Apa yang kau lakukan? Bukankah kau harusnya sekolah?” Ibu Irene bertanya sambil menautkan kedua alisnya.

“Mobilku terjebak macet di sana, aku tak bisa diam saja di sana sambil menunggu. Jadi aku memilih untuk ke sini dan menunggu taksi,” Jelas Suho.

Ibu Irene mengangguk-anggukkan kepalanya tanda kalau ia mengerti. “Kalau begitu naiklah, kau akan benar-benar terlambat jika menunggu taksi di sini.” Ibu Irene mengajak Suho untuk menaiki mobilnya. Sebenarnya hari ini ia harus ke kantor, tapi ia tak tega meninggalkan anak ini begitu saja.

Suho terlihat ragu pada awalnya, tapi Ibu Irene meyankinkannya kalau tidak apa-apa. Dan akhirnya Suho menurut, ia juga tak ingin mengubur dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di sekolah. “Eommeonim, terima kasih tumpangannya.” Kata Suho yang dibalas anggukkan oleh Ibu Irene.

“Ya sama-sama. Dan juga tolong jaga gadis bodoh itu, Junmyeon-ah,” Junmyeon terkekeh kecil sebelum berpamitan pada Ibu Irene.

Junmyeon keluar dari mobil Ibu Irene dengan tergesa-gesa. Berulang kali ia melirik ke arah arloji yang melingkar ditangannya.

Setelah keluar dari mobil itu Suho berlari kencang.

3…

2…

1…

Sial!

***

Suho kembali memasukkan bolanya ke ring dengan kencang. Meski sekarang sudah jam istirahat, kekesalan pria berdarah biru itu belum mereda juga.

Bagaimana tidak? Tadi ia telat, hanya telat beberapa detik tapi itu membuatnya harus memohon-mohon pada satpam untuk membuka gerbangnya. Sebenarnya bisa saja Suho menggunakan nama keluarganya, tapi hey hanya karena masalah terlambat tidak mungkinkan dia melakukan hal itu?

Meskipun berhasil membujuk satpam, di kelas ia dimarahi habis-habisan oleh Joo Seonsaengnim. Itu menyenangkan bagi murid lain karena ketika Joo Seonsaengnim marah, beliau tak segan untuk menghabiskan waktu mengajarnya untuk memarahi murid yang melanggar aturan.

Suho bercerita pada sahabatnya, dan mereka tertawa habis-habisan. Itu malah membuat Suho semakin jengkel. Tapi meskipun begitu, mereka berakhir di lapangan basket ini. Menghabiskan waktu istirahat mereka dengan bermain basket.

“Junmyeon-ah, santai saja. Jangan dipikirkan terus!” Chen berkata ketika Suho kembali memasukan bola besar berwarna oranye itu kedalam ring.

Suho tak menghiraukan perkataan Chen. Ia bermain basket dengan ganas.

Hingga akhirnya ia kelelahan dan berhenti. Ia menghampiri beberapa sahabatnya yang duduk sambil meminum minumannya. Dengan bermain basket, kekesalannya hilang. Meski tidak semua.

Suho mengatur napasnya yang tak beraturan. Menghapus keringat di dahinya.

Teriakan di belakangnya membuat Suho menoleh. Wow, ia tak menyadari jika sedari tadi saat mereka bermain banyak orang—terutama gadis-gadis yang menontonnya. “Sejak kapan kita jadi populer seperti ini?” Tanyanya pada Chanyeol yang berada tepat di sebelahnya.

“Kau baru menyadarinya? Aku tak menyangka kau sebodoh itu,” Jawab Chanyeol terkekeh.

“Kau hanya fokus pada Irene saja sih!” Sehun menimbrung percakapan mereka. Chanyeol tertawa sedangkan Suho hanya mengidikan kedua bahunya.

“Ah tadi Seulgi berkata padaku kalau ia akan mengajak temannya ke sini.” Chanyeol membalikan badannya, mencari gadis itu, diikuti oleh Suho. Jika Seulgi berkata mengajak temannya berarti bisa saja ‘kan orang itu adalah Irene?

Dan benar saja. Gadisnya sedang duduk tepat di sebelah Seulgi. Hanya mereka berdua saja yang ada di sana, entah kemana perginya ketiga sahabat mereka yang lain.

Suho tersenyum melihat Irene. Ia melambaikan tangannya pada Irene yang malah dibalas teriakan gerombolan siswi lain. Well, mungkin mereka mengira kalau Suho tersenyum dan melambai ke mereka. Meskipun tidak dibalas oleh Irene, ia yakin kalau gadis itu melihatnya. Suho terkekeh lalu membalikan badannya. “Kau ada hubungan dengan Seulgi?” Tanya Suho.

Chanyeol menggeleng tanpa membalikan badannya tetapi Suho sama sekali tak percaya. Mana ada orang yang menggelengkan kepalanya dengan senyuman dan pipi yang merah merona? Oh ada, Chanyeol orangnya.

“Kau hutang cerita padaku.” Katanya dingin.

Chen, Baekhyun dan Jongin telah selesai bermain basket. Mereka menghampiri Suho, Chanyeol dan Baekhyun.

“Aku lelah,” kata Baekhyun.

Suho melemparkan sebotol minuman kepada Baekhyun, Chen dan Jongin.

“Kurasa aku harus pergi sekarang.” Suho berdiri.

“Aku juga,” Ikut Chanyeol.

Dua pria yang tingginya berbeda cukup jauh itu berjalan meninggalan keempat sahabatnya.

“Permainanmu bagus seperti biasanya, meskipun ini bukan pertandingan,” Kata Seulgi pada Chanyeol.

Pria jangkung itu hanya tersenyum malu-malu, berusaha menyembunyikan rona merah dipipinya. Sedangkan Suho, memutar kedua bola matanya malas. Chanyeol ketika sedang jatuh cinta agak menjijikan baginya. Hey tuan Kim, apa kau tidak sadar kalau kau juga sama seperti Chanyeol huh?

Setelah itu matanya melihat sosok di samping Seulgi, Irene. Sejak tadi gadis itu menonton permainannya. Suho tak memperdulikan dua orang yang tengah mengobrol asyik itu.

Menyadari kalau dirinya sedang diawasi oleh sepasang mata, Irene menolehkan kepalanya. Sebenarnya ia sudah tahu kalau ada Suho di sini, tetapi ia ingin ada sedikit… drama?

“H-h-ha-hai S-suho!” Irene melambaikan kedua tangannya kaku. Sama dengan senyuman yang merekah dibibir merahnya itu. Membuat Suho harus menahan tawanya.

“Hai, Irene.” Balasnya dengan senyuman lebar.

Keduanya tak menyadari ada empat pasang mata atau lebih yang sedang mengawasi mereka berdua dengan tanda tanya besar dikepala mereka.

Seulgi mengernyitkan kedua alisnya, bingung. Sedangkan Chanyeol hanya bisa tersenyum lebar.

Awalnya Suho benar-benar tak menyangka kalau Irene akan menyapanya di sekolah. Ia sempat mengira kalau hal itu adalah hal yang tak akan terjadi.

Tapi mulai sekarang Suho merasa kalau hal itu akan lebih sering terjadi. Ah betapa menyenangkannya saat membayangkan Irene menyapanya setiap hari di sekolah dengan wajah kakunya. Namun sialnya bagi Suho adalah, ia harus menahan dirinya agar tidak memeluk gadis itu saat melihat wajah kakunya yang dimata Suho terlihat sangat imut.

‘Aku harap kau dapat menunggu lebih lama lagi. Maaf aku terlalu merepotkan. Aku mencintaimu,’ – Bae Juhyeon.

‘Aku tidak tahu sampai kapan kita menyembunyikan hubungan kita. Tapi aku janji akan menunggu sampai hari itu tiba, aku selalu menyangimu, mencintaimu,” – Kim Suho.

 

 

 

fin

hallo semua. masih ada yang inget aku? gaada? oke /pundung T^T. saya prllnrhmwt, author gone with the wind dan beberapa ff lainnya. aku baru balik dari hibernasi /lol. maaf karena gabilang, dan balik dengan ff baru x( untuk pembaca gone with the wind, saya harus meminta maaf sebesar-besarnya karena ff itu tidak saya lanjutkan. mohon maaf /bow. untuk kedepannya, saya akan lebih bertanggung jawab lagi. maaf karena ketidaknyamanan ini.. dan maaf karena saya datang dengan cerita absurd seperti ini x(

see you next time! 

9 responses to “IGNORED – BY PRLLNRHMWT

  1. kak, bagian cast penempatan nama nya salah lho.
    tapi ff nya lucu kok, padahal aku Suho-Chorong shipper tapi baca Suho-Irene emesh emesh gimanaa gitu ya xD suka lha♥
    keep writing kak!!

  2. ko irene malu si hubungannya dengan suho diketahui banyak orang?
    kan seru bisa pacaran satu sekolah dan sekelas malahan hahah

    ditunggu kelanjutannyaa

    • aku bikin karakter baechu kek gitu krna aku kaya gitu(?) /ngomong opo toh xDD iyaa makasih udh baca^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s