One More Time – [Chapter 2] By Sebie

one more time 9

|Title: One More Time (Chapter2)|

|Author : Sebie (@RandikaOh)|

|Main Cast: |

|Nam Yoora(OC/You)|

|Byun BaekHyun (EXO K)|

| Kim Seok Jin (BTS) |

|Other cast : |

|Kim Jaehyun (Jin’s Brother)|

|Byun Sena (Baekhyun’s sister)|

|Oh Sehun (EXO K)|

|Ahn Minji (OC)|

|Lu Han |

|Length : Chapter|

|Genere : Romance, little bit angst|

|Rating : 16 | bisa naik kapanpun sesuai chapter |

|Disclaimber : ini ff ku hasil pemikiran saya sendiri. Don’t be siders,, don’t be palgiator. Please Leave your comment after read. Siders dilarang keras membaca ceritaku! |

|Pervious Chapter : Prolog | Chapter1 |

 

Happy Reading!!

Baekhyun baru saja pulang dari kantor, badan dan pikirannya benar-benar lelah kali ini. ditambah lagi pikiran konyolnya tadi yang sempat terlintas di otaknya, pikiran tentang pernikahan dengan gadis es itu. Baru saja ia akan melangkahkan kakinya pada anak tangga pertama, namun sang ibu memanggilnya.

 

Nyonya Byun menatap Baekhyun dengan lembut seraya memberikan dua buah tiket penerbangan ke Jepang. Baekhyun menyeringitkan dahinya ketika ibunya mengulurkan kedua tiket itu. Pikirnya untuk apa ibunya memberikan dua buah tiket ke Jepang?

 

Semuanya segera terjawab, ketika Nyonya Byun menjelaskan bahwa kedua buah tiket itu untuk Baekhyun dan Yoora sebagai hadiah pertunangan mereka, tidak hanya itu, Nyonya Byun mengatakan bahwa mereka pergi ke Jepang untuk kencan pertama mereka yang bahkan belum pernah mereka lakukan.

 

Batin Baekhyun ini benar-benar berlebihan hanya pertunangan saja ibunya memberikan tiket penerbangan di Jepang, dan lagi perjalanan ke Jepang itu merupkan kencan pertamanya bersama Yoora. Oh tidak, sungguh Baekhyun belum ingin melakukan kencan ataupun yang lainnya bersama gadis itu, bahkan ia masih mengingat betul bagaimana tadi ia merasa begitu canggung di dekat gadis itu.

 

Dapatkah Baekhyun memprotes sikap ibunya yang selalu menuntutnya ini? tentu saja tidak, bahkan pandangan Nyonya Byun selalu menuntut pada anaknya. Ini membuat Baekhyun harus menghelakan nafasnya pelan dan menerima tiket yang ibunya berikan. Kenapa harus di Jepang untuk kencan pertama mereka? Bukankah mereka bisa melakukannya di Namsan Tower? Atau tempat-tempa biasa orang berkencan di korea. Tidak perlu sesuatu yang berlebihan seperti sekarang.

 

Setelah menerima tiket dari ibunya Baekhyun bergegas kekamarnya, ia sama sekali belum mempunyai niat untuk memberitau Yoora tentang liburan mereka ke Jepang. Baekhyun masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengajak gadis itu pergi. Oh sial, menerima tiket penerbangan itu sama saja menjebak Baekhyun dalam rasa canggung yang berlebihan, hey ini kah Byun Baekhyun si kingka kampus? Sungguh ini sama sekali bukan Baekhyun, seharusnya ia sudah biasa berada di sekitar seorang gadis namun kenapa sekarang ia justru menjadi canggung saat bersama Yoora?

 

“Ayolah Byun Baekhyun kau harus tenang dan beritaulah gadis itu sekarang”

 

Lagi dan lagi Baekhyun berbicara pada dirinya sendiri, Baekhyun hanya sedang berusaha membuat dirinya tenang. Tanpa berpikir panjang Baekhyun mengambil ponselnya. Di layar ponselnya sudah tertera nama Yoora namun apa yang Baekhyun lakukan saat ini? ia justru merasa bingung apa ia harus menghubungi Yoora atau tidak? Oh sugguh rasa canggung ini benar-benar merubah seorang Byun Baekhyun.

 

Saat ini Baekhyun justru melempar ponselnya asal, apa yang terjadi pada Baekhyun? Ia mengacak-acak rambutnya frustasi kenapa perasaannya begitu aneh saat bersama gadis itu? kenapa ia menjadi begitu canggung saat gadis itu berada di sampingnya? Oh ayolah, kenapa laki-laki ini begitu bodoh hanya tinggal menghubunginya saja itu tak akan membuat dirinya mati dengan segala rasa canggung, lagi pula Baekhyun tak bertatap muka dengan Yoora. Seharusnya rasa canggung itu sudah tak ada.

 

Baekhyun meraih ponselnya kembali, sejenak ia mengamati jari manisnya yang telah terpasangkan cincin pertunangan. Dirinya terikat dengan gadis yang membuatnya merasa canggung. Ia harus melakukan ini, ia harus menghubungi Yoora dan mengatakan semuanya.

 

Pemuda ini menekan tombol panggil, dan saat telponnya sudah diangkat dapat ia dengar gadis itu sedang memanggil orang lain bukan dirinya, apakah gadis itu tak melihat siapa penelponnya. Ada rasa yang begitu mengganjal di hati Baekhyun ketika gadis itu memanggilnya dengan nama Seok Jin. Semacam perasaan tidak suka atau tidak terima karena dirinya di anggap orang lain? Bukan rasa itu lebih mengarah pada rasa cemburu.

 

Baekhyun terus saja memikirkan nama itu, siapa orang itu? apa kekasih Yoora? Kenapa nada bicara Yoora seperti khawatir akan suatu hal. Tanpa sengaja mulut Baekhyun bergumam kecil, menggumamkan nama Seok Jin.

 

“Ba-Baekhyun-ssi?”

 

Baekhyun tersadar ketika gadis itu memanggilnya dengan lirih dan tergagap. Lucu sekali rasanya mendengar gadis itu tergagap, apa lagi suaranya yang begitu berbeda ketika di telpon. Ada beberapahal kecil yang Baekhyun dengar tadi kalau laki-laki ini tidak salah dengar Yoora sedang merutuk pada dirinya sendiri.

 

“Yoora-ssi..”

 

Sejenak Baekhyun terdiam, harus dari mana ia memulai pembicaraan ini? basa basi apa yang harus ia lakukan? Oh ya tuhan ayolah Baekhyun katakan saja kenapa rasa canggung itu tetap saja menyelimuti hati Baekhyun walaupun mereka tak bertatap muka. Oh, bahkan detak jantung Baekhyun mulai tak teratur saat ini, melebihi saat ia lari maraton bersama Lu Han dan Sehun.

 

Gadis itu kembali menyadarkan Baekhyun akan pikirannya. Apa yang harus Baekhyun lakukan saat ini? ketika Yoora bertanya kenapa pemuda ini menghubungi Yoora? Baiklah Baekhyun, kau adalah Byun Baekhyun kau harus bisa, untuk sejenak Baekhyun menghelakan nafasnya pelan dan menenangkan diri untuk mengutarakan tujuannya menelpon Yoora.

 

“Yoora-ssi. Ibuku memberikan hadiah pertunangan untuk kita. Ibuku memberikan dua tiket penerbangan ke Jepang, dan ini penerbangan ini dilakukan besok. Apa kau mau?”

 

Tidak butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk mendengar jawaban gadis itu, jawaban yang Yoora berikan begitu antusias dan membuat pemuda ini menarik kedua ujung bibirnya. Awalnya Baekhyun pikir Yoora pasti akan menolaknya namun kenyataannya Yoora justru mengiyakan ajakannya dengan jawaban yang begitu antusias, ada nada yang begitu tidak sabaran dari jawaban yang Yoora berikan. Sebuah nada yang tak akan pernah Baekhyun mengerti. Baekhyun pikir gadis itu hanya mengerti bagaimana caranya unuk terus dingin.

 

___oOo___

 

Demi apapun itu Yoora benar-benar senang hari ini. Baru saja Baekhyun menghubunginya dan mengajaknya untuk pergi berlibur ke Jepang. Sebelum Yoora menutup telponnya mereka sedikit berbasa-basi tadi, bertanya apakah Baekhyun sudah makan atau tidakkah Baekhyun lelah? Tentu saja Yoora harus berbasa-basi setidaknya gadis ini berusaha mengakrabkan dirinya dengan Baekhyun tak ada salahnya mencoba akrab dengan pemuda itu.

 

Satu hal yang perlu di ketahui saat ini, Yoora melupakan rasa bersalahnya pada Seok Jin. Ia terlalu senang saat Baekhyun mengajaknya untuk berlibur ke Jepang. Sekarang di Jepang tengah musim semi, musim yang selalu Yoora tunggu. Awalnya ia akan pergi ke Jepang minggu depan namun semuanya berubah saat Baekhyun mengajaknya.

 

Tapi jika ia akan pergi ke Jepang bersama Baekhyun bukankah itu artinya ia akan terus bersama Baekhyun selama berhari-hari apa lagi ia adalah seorang gadis yang begitu kaku. Oh ya tuhan ini menjerumuskan gadis ini. apa yang harus ia lakukan saat ini menolak-pun tak mungkin dan lagi jika ia menolak maka Baekhyun akan mengatakan pada Nyonya Byun, kemudian Nyonya Byun akan mengatakan pada ibunya bahwa ia menolak tiket penerbangan ke Jepang.

 

“Bodoh!

 

Yoora menggerutu pada dirinya sendiri, ia memukul kepalanya karena kebodohannya. Ia terlalu senang sehingga tak pernah memikirkan apapun yang akan terjadi seperti sekarang. Bersama Baekhyun selama beberapa hari dan ia tak akan pernah tau apa yang harus ia lakukan pada Baekhyun seperti bersikap manis atau tak acuh? Oh ayolah dia tunanganmu Nam Yoora tapi Yoora terlalu kaku untuk bersikap manis seperti gadis-gadis bar-bar yang tersenyum genit pada siapapun atau menempel terus pada laki-laki manapun. Itu bukanlah sikap Yoora, dia akan cenderung biasa saja walaupun dengan tunanganya sekalipun ia tak bisa untuk bersikap manis.

 

Yoora kembali mengingat kenyataan bahwa Minji pasti akan bertanya-tanya pada gadis ini yang tidak mengajak Minji ke Jepang seperti waktu yang lalu. Yoora seharusnya tau bagaimana gadis itu akan terus merajuk memina jawaban yang cukup logis darinya.

 

“Apa aku harus memeberi tahu Minji” Yoora kembali menimbang-nimbang keputusan yang akan ia ambil. Tapi kali ini yang ada di pikiran Yoora hanyalah apa ia harus memberi tau Minji tentang pertunangannya dengan Baekhyun.

 

“Sepertinya tidak perlu ku lakukan” mengingat Minji adalah tukang menggosip nomor satu ia tak perlu memberi tau sahabatnya walupun itu perlu.

 

Yoora melihat ada beberapa tumpukan album di meja belajarnya, ini pertama kalinyaia melihat album itu dan lagi foto pertunangannya dengan Baekhyun terpampang di meja belajar dan di dinding kamarnya. Yoora menghela napasnya perlahan. Ini pasti ulah sang ibu. Tapi tangan gadis ini justru meraih album itu dan membuka tiap lembarnya. Tidak buruk bahkan sangat sempurna. Yoora memperhatikan dirinya yang di sejajarkan dengan Baekhyun, ketika mereka memamerkan tangan mereka yang telah tersemat cinin pertunangan, senyum Yoora bahkan sangat lebar dan bisa di bilang sangat sempurna.

 

“Hah” Yoora membuang napasnya kasar, ia mulai menutup album pertunangannya. Tentu ini akan menjadi suatu hal yang melelahkan bagi Yoora. Berapa lama-pun mereka akan bertunanga pasti Baekhyun dan Yoora akan menikah.

___oOo___

 

Minji tengah berhadapan dengan seorang pemuda di sebuah caffe dekat rumahnya, terlihat dari tatapan matanya begitu mengintimidasi pemuda itu. Gadis ini sudah tidak sabar untuk mendengarkan cerita dari pemuda dihadapannya. Namun apa yang gadis ini dapat? Justru pemuda itu menghelakan nafasnya pelan dan menyesap espresso-nya.

 

Gadis ini memukul kepala pemuda itu sesuka hatinya, ia sudah merasa kesal. Sedari tadi Minji Menunggu pemuda itu untuk bercerita namun ia tak mendapatkan apapun.

 

“Ini sakit bodoh, bisakah kau berhenti memukul”

 

Pemuda itu memegangi kepalanya yang terkena pukulan dari Minji saat ini Minji justru menatap pemuda itu tajam seolah tatapan itu ingin membunuh pemuda di hadapannya. Ayolah gadis ini sudat tak sabar mendengar pemuda itu bercerita tentang hari yang pemuda itu lewati bersama Yoora. Gadis ini tak mau melepaskan pandangannya sedikitpun dari pemuda itu, sampai pemuda itu menceritakan semuanya.

 

“Baiklah, baiklah aku akan bercerita tapi berhentilah menatapku seperti itu, itu sangat mengerikan Minji-ya”

 

Gadis ini mengembangkan senyumnya ketika pemuda itu mau menceritakan semuanya. Minji mendengarkan dengan begitu baik dari awal sampai akhir. Awalnya ia merasa senang karena Yoora dan pemuda itu mampu akrab dalam waktu dekat. Namun ketika pemuda itu bertanya apa Yoora memiliki kekasih? Apa Yoora memiliki penggemar? Rasanya aneh ketika Minji mendengar itu, itu semua adalah hal yang sangat tidak mungkin untuk Yoora miliki, Kekasih? Penggemar? Tidak! Yoora ta pernah mempunyai kedua hal itu.

 

“hmm, penggemar mungkin saja setauku Yoora itu si sempurna dan beberapa anak laki-laki selalu ingin bersama dia, tapi sejauh ini aku tidak pernah tau faktanya apa Yoora memiliki penggemar yang banyak” Minji merekahkan senyum konyolnya dan menatap Seokjin dengan santai.

 

“benarkah? Jadi apa penggemar Yoora sering mengikuti Yoora dan melihat Yoora dengan tersenyum hangat saat menatap Yoora? Ah aku seperti mengingat laki-laki itu kalau tidak salah Byun Baekhyun kau tahukan”

 

Minji menautkan kedua alisnya, ia bahkan tidak bisa mengerti dengan apa yang Seokjin ucapkan saat ini. Selama Minji bersama Yoora gadis ini bahkan tidak seperti merasa diikuti atau di buntuti oleh siapapun apa lagi mendengar bahwa yang mengikuti Yoora adalah Byun Baekhyun ini semakin tidak masukakal bagi Minji.

 

“Jangan bercanda apa urusan Baekhyun dengan Yoora, mungkin kau salah lihat atau yah semacam bahwa itu tidak sengaja”

 

Seok Jin kembali menyesap espressonya, mungkin ada benarnya yang dikatakan Minji. Namun apakah ketidak sengajaan itu selalu telihat tulus. Seok Jin tau saat ia memperhatikan laki-lak itu ada hal yang berbeda, senyumannya begitu tulus pada Yoora. Tidak! Ia harus percaya apa yang Minji katakan saat ini semuanya hanya ke-tidak sengajaan saja.

 

Dalam hati Minji terus saja menerka-nerka didalam pikirannya, hal apa yang tak ia ketaui dari Yoora? Miji tau jika terjadi apapun pada Yoora pasti gadis itu akan menceritakan, tapi kali ini cukup mengganjal. Byun Baekhyun mengikuti Nam Yoora, yaampun pernyataan bodoh macam apa yangsedang ia pikirkan saat ini tapi perasaan curiga itu muncul di hati gadis ini, tidak! Ia tak boleh mencurigai apapun pada Yoora. Karena Minji selalu percaya pada Yoora jadi Minji hanya harus menunggu apa yang akan Yoora katakan.

 

___oOo___

Gadis ini mengumpat kesal setelah tidur nyenyaknya tadi pagi terganggu sekarang ia benar-benar merasa jengkel pada sahabatnya. Ia tak peduli dimana ia sekarang, berpasang-pasang mata mentapanya aneh pun ia tak menghiraukan semua itu, rasa kesalnya jauh lebih  membuatnya tak mengerti kata malu saat ini.

 

Gadis ini sudah menyimpan seribu satu sumpah serapahnya untuk sahabat tercintanya ketika sahabatnya pulang dari Jepang. Ia tak bisa berhenti mengumpat setelah hampir dua jam sahabatnya menghubunginya. Bagaimana tidak ia mengumpat kesal seperti ini? ia harus di tinggal selama hampir satu minggu oleh sahabatnya dan ia sama sekali tak di ajak untuk berlibur ke Jepang seperti tahun-tahun yang lalu.

 

“Dasar gadis es menyebalkan! Nam Yoora, awas jika kau pulang tidak akan ku biarkan kau tetap hidup berani-beraninya dia tak mengajak ku ke…”

 

Ucapannya terhenti begitu saja mengingat kemana sahabatnya pergi. Jepang? Dan sahabatnya sendiri? Tidak! Ini pasti salah tak biasanya sahabatnya akan pergi ke Jepang sendiri terlebih Yoora bukanlah orang yang suka pergi keluar negeri tanpa teman. Ada sebuah alasan yang menurutnya aneh, pergi ke Jepang untuk bisnis? Hey biarpun itu untuk bisnis Yoora selalu mengajaknya, lalu apa sekarang? Yoora tak mengajaknya sama sekali, satu yang perlu di tambahkan gadis ini dalam catatannya Nam Yoora sedang berusaha membohonginya.

 

Gadis ini ingat apa yang pernah Seok Jin katakan padanya, Baekhyun yang memperhatikan Yoora dan tersenyum penuh ketulusan saat memandangi Yoora. Mungkinkah Yoora menyembunyikan sesuatu darinya? Pikiran itu terus saja mengganggu gadis ini. ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi, sungguh ini menyebalkan, kenapa ia harus berfikir Yoora menyembunyikan sesuatu, tapi kali ini Yoora memang patut untuk di curigai.

Tapiperasaan gelisah itu kembali hadir pada dirinya, kenapa belakangan semuanya jadi semakin mencurigakan. Mungkin Minji harus memastikan sesuatu untuk kejelasannya. Gadis ini mengubah arah jalannya, ia harus mencari seseorang jika ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

 

___oOo___

Yoora dan Baekhyun sudah berada di dalam pesawat, gadis ini masih sibuk dengan pikirannya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia harus mengajak bicara Baekhyun? Tidak! Gadis ini lebih memilih mengeluarkan bukunya, lagi pula saat ini Baekhyun tengah menggunakan headset, jadi untuk apa ia berbasa-basi mengajak Baekhyun berbicara. Membosankan tentu saja, Yoora sangat tidak suka keadaan ini, biasanya ia akan bercengkrama dengan Minji tapi saat ini hanya ada Byun Baekhyun. Sudahlah gadis ini tak ingin memperdulikan lagi.

 

Perjalanan yang memakan waktu tidak sampai 6 jam ini membuat Yoora merasa lelah dan mengantuk sedari tadi malam ia hampir tidak tidur karena sibuk mempersiapkan barang-barang yang harus ia bawa di tambah lagi ia harus menyelesaikan beberapa tumpukan file yang ibunya berikan. Ia menoleh pada Baekhyun yang masih sibuk dengan dirinya sendiri, Yoora menghela napasnya pelan, karena sudah sangat mengantuk gadis ini menguap kecil, dan entah sejak kapan kelopak matanya perlahan-lahan mengatup.

 

Baekhyun membuka matanya perlahan, ia sedikit menggeliat. Setelah puas dengan tidurnya ia melirik jam tangannya, ini baru satu jam perjalanan tapi rasanya sudah begitu lama, ia sedikit melirik gadis di sampingnya yang tengah tertidur. Ia terkikik geli melihat wajah gadis itu saat tertidur, benar-benar berbeda, wajahnya terlihat polos saat tertidur. Baekhyun membenarkan posisi kepala gadis itu agar berada di bahunya sebagai alas kepala Yoora, tanpa Baekhyun sadari tangannya menyisihkan rambut yang hampir menutupi setengah muka gadis itu. wajah mereka begitu dekat saat ini, tangannya tanpa sengaja menyentuh setiap lekukan wajah Yoora.

 

Tak pernah Baekhyun melihat wajah gadis itu sedekat ini, matanya saat tertidur, bibirnya, hidungnya bahkan terlihat sempurna, kulit wajahnya yang begitu halus membuat Baekhyun terpaku. Ingin sekali Baekhyun mencium sekilas kedua kelopak mata gadis itu tapi, Baekhyun segera tersadar dan mencerna apa yang baru saja ia pikirkan. Oh ya tuhan ini sudah kedua kalinya Baekhyun memikirkan gadis itu, kenapa ia menjadi seperti ini? Kenapa pula kerja dalam jantungnya menjadi tak teratur seperti ini? Baekhyun memegangi dadanya, detak jantungnya begitu cepat, kenapa hanya melihat wajah Yoora yang sedang tertidur itu mampu membuatnya seprti ini, oh ini bodoh! Dan kenapa ia harus menyandarkan kepala gadis itu pada bahunya? oh ya tuhan Baekhyun sudah mulai lupa akan pendiriannya sekarang! Seharusnya hanya berada di dekat satu gadis itu tak akan membuatnya melupakan akan pendiriannya ataupun merasakan degupan di dadanya, tapi kenapa jika dengan Yoora serasa berbeda, ia melupakan apapun, dan ia merasa begitu hangat di dekat gadis itu.

 

Baekhyun kembali memandangi wajah polos Yoora, matanya memperhatikan betul setiap lekuk wajah gadis itu. apa lagi yang harus Baekhyun katakan saat ini, perasaan-nya benar-benar kacau saat melihat gadis itu. tanpa sadar Baekhyun bergumam lirih.

 

“Mungkinkah aku mulai mencintaimu?”

 

Baekhyun mendesah pelan menyadari apa yang ia katakan. Ia memjemkan matanya sebentar, berusaha mencerna semua yang telah ia lakukan. Kemana perginya Baekhyun si kingka yang tak pernah seperti ini? bahkan hanya karena satu gadis saja ia mampu kehilangan dirinya sendiri.

___oOo___

“Baekhyun benar-benar beruntung mendapatkan hadiah penerbangan ke Jepang”

 

Lu Han mengeluhkan tentang kepergian Baekhyun, sejujurnya ia juga ingin pergi ke Jepang namun tugas kuliah yang selalu saja ia tinggalkan sudah begitu menumpuk. Lu Han dan Sehun yang tengah berada di caffetaria benar-benar merasa lelah saat ini. Sehun yang berada di dekatnya juga merasakan hal yang sama, namun selang beberapa detik Sehun mulai berbicara.

 

Hyung, bagaimana jika malam ini kita melakukannya lagi kurasa ini mengasikan. Aku mampu mendapatkan uang yang banyak”

 

Hey Oh Sehun apa dia gila? Tak lihatkah bagimana wajah Lu Han yang sudah begitu lesu karena tadi malam? Uang yang banyak? Oh ayolah bahkan mereka tanpa bekerjapun mampu menghasilkan uang yang banyak dari orang tuanya, apa Sehun tak sadar berapa jumlah tabungannya saat ini? itu sudah melebihi cukup untuk seorang mahasiswa.

 

Lu Han mendesah pelan, sejujurnya yang Sehun katakan ada benarnya apa yang mereka lakukan tadi malam adalah hal yang begitu menarik dan mengasikkan. Tapi tumpukan tugas yang berada di dalam meja belajarnya tak akan pernah mengijinkan Lu Han melakukan hal itu. Lu Han menepuk pundak Sehun dan meninggalkan pemuda itu sendiri. Tentu ini membuat Sehun berkacak pinggang tentang Lu Han yang tak mau melakukan hal itu lagi. Oh Sehun sadarlah kalian sudah mahasiswa tingkat akhir dan sekarang ia ingin bersenang-senang tanpa memikirkan tugasnya yang akan menumpuk setinggi gunung. Apa Sehun ingin menjadi mahasiswa abadi?

 

Sehun dan Lu Han tak menyadari gadis yang berada di samping bangku mereka sedang menguping pembicaraan mereka dengan berpura-pura mebaca buku. Ahn Minji saat ini sedang di kuasi oleh rasa penasarannya, mengingat apa yang Sehun dan Lu Han katakan tadi membuat gadis ini semakin gila memikirkan kemungkinan- kemungkinan yang bisa saja terjadi. Jepang, Byun Baekhyun, Yoora,  ah ini terlalu memusingkan bagi Minji.

 

“Nam Yoora jangan sampai kau menyembunyikan hal penting dariku saat ini” Minji mengumpat lirih, tangannya mencengkram kuat bukunya saat ini. ia memutuskan untuk pergi dari caffetaria untuk pergi ke kelasnya sebelum dosennya datang.

 

___oOo___

Hyung, aku sudah bilangkan berkali-kali bahwa aku tak mau ikut campur apapun dalam perusahan. Lagi pula hyung mampu mengurusnya sendiri”

 

Laki-laki yang di panggil hyung oleh Seok Jin itu mulai menghembuskan nafasnya pelan. Ia memang mampu mengurusi perusahaan ini sendiri tapi tidak untuk perusahaan yang lain. Bahkan ia hampir tak pernah pulang karena menangani permasalah di perusahaannya yang lain. Tentu ini membuatnya lelah ia membutuhkan seorang untuk mendampinginya atau sekedar berbagi tugas, misalnya saja dengan adiknya yang selalu keras kepala. Laki-laki ini mengendurkan dasi yang ia kenakan, dan mulai menatap adiknya serius, dari tempatnya berada tepat di meja kantornya terdapat papan nama Kim Jaehyun.

 

“Tak akan semudah itu Seok Jin-ah. Apa kau tak pernah berfikir berapa banyak perusahaan Appa? Dan aku harus mengurus semuanya sendiri, apa kau tak ingat 3 tahun yang lalu orang kepercayaan Appa  berkhianat dan berkorupsi dalam jumlah yang besar, ini membuatku tak bisa percaya pada siapapun kecuali kamu”

 

Seok Jin diam, itu memang benar ia masih mengingat betul ketika keluarganya yang hampir jatuh dan harus berkerja mati-matian. Ia masih mengingat betul kejadian itu, saat ia masih duduk sebagai mahasiswa tingkat awal, ia harus disibukan dengan berbagai kegiatan kantor. Ia harus mengambil cuti kuliah hampir setengah semester dan ini benar-benar merugikannya. Bahkan saat itu ia tak pernah pulang kerumah, ia harus pergi ke China untuk memulihkan perusaah yang terbengkalai, dan sejak saat itu pula ia tak ingin kembali berurusan dengan bisnis sampai ia benar-benar siap.

 

Karena bisnislah dirinya berubah menjadi begitu penyendiri dan tak banyak bicara. Menutup diri dari orang baru bahkan ia hanya berbicara pada Minji. Dan hanya gadis itu pula yang tau bagaimana sengsaranya seorang Kim Seok Jin karena harus mengurusi bisnis.

 

Seharusnya saat ia berhasil membangun kembali perusahaan yang hampir jatuh ia merasa bangga namun apa yang ia dapatkan? Ia melupakan satu hal dalam hidupnya saat itu, kekasihnya yang hampir tak pernah ia hubungi, kekasihnya yang hampir tak pernah ia lihat karena mengurusi bisnis. Kekasihnya meninggal tepat saat ia berhasil membangun kembali perusahaannya. Kekasihnya meninggal dalam kecelakaan pesawat saat akan menemuinya di China. Sejak saat itu Seok Jin benci dengan hal-hal berbau bisnis. Ia masih menyimpan luka itu, luka terdalam dihatinya.

 

Bagaimana dulu ia mencintai gadis itu, sampai gadis itu meninggal hanya demi menyusulnya ke China. Sejak saat itu Seok Jin tak akan pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri yang tak pernah menghubungi kekasihnya sehingga membuat khawatir kekasihnya, dan pada akhirnya kekasihnya memutuskan untuk menyusul dirinya ke China.

 

Sakit. Rasa nyeri di hati Seok Jin seolah terkuak kembali karena ingatannya yang kembali mengarah pada gadis di masa lalunya. Bae Joohyun, gadis cantik dengan senyuman termanis yang pernah Seok Ji lihat, dialah gadis yang begitu Seok Jin cintai. Sampai sebelum ia menemukan Yoora.

 

“Aku pergu dulu hyung, jika hyung hanya ingin membicarakan hal serupa lagi jangan pernah hubungi aku”

 

Seok Jin pergi dari hadapan Jaehyun dengan segala rasa sakitnya. Perlahan-lahan air matanya jatuh membasahi pipinya. Rasa bersalah itu menghantuinya kembali saat ini. ini bukan kesalahannya dan seharusnya Seok Jin tak perlu merasa bersalah ini semua takdir.

 

“Maafkan aku Joohyun, maafkan aku”

 

Tepat di depan pintu ruangan sang kakak, Seok Jin menangis, ia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Isakan itu tercipta dari bibirnya. Ia tak pernah berfikir bahwa ingatannya tentang hal itu masih terus saja terngiang di dalam otaknya.

___oOo___

 

Baekhyun tak menyesali liburannya kali ini, saat ini ia justru merasa bahagia bagaimana tidak jika hatinya terus saja terasa hangat berada di dekat Yoora. Ia kembali melihat sisi lain Yoora ketika ia sampai di Villa keluarganya yang terletak di Kyoto. Gadis itu tak bisa berhenti tersenyum saat melihat bunga sakura yang bermekaran di halaman belakang Villa, bahkan gadis itu memohon pada Baekhyun agar kamarnya tepat berada di bagian belakang. Baekhyun yang melihat itu sebenarnya ingin tersenyum namun ia tahan dan digantikan dengan anggukan.

 

“Kau mau kemana?”

 

Baekhyun sadar akan apa yang baru saja mulutnya keluarkan. Ya, pemuda ini mencoba bertanya pada gadis yang tengah melangkah keluar dari pekarangan Villa. Setidaknya Baekhyun harus tau kemana gadis itu akan pergi, ya walaupun ia sedang mencoba untuk tidak mempedulikan gadis itu toh usahanya sia-sia, gadis itu selalu saja berhasil merebut perhatiannya.

 

Gadis ini menjawab dengan begitu senang, ia menjelaskan pada Baekhyun bahwa ia akan pergi keluar sebentar ke bukit belakang Villa yang sedang ramai di datangi orang-orang untuk melakukan Hanami1.

 

Tentu saja Baekhyun tak mengerti yang gadis itu maksud, namun ia berusaha tak acuh kali ini, ia berusaha untuk tak bertanya lebih lanjut lagi, dan membiarkan gadis itu pergi. Hatinya seperti menyuruh ia mengikuti gadis itu, sebenranya ia sendiri penasaran dengan apa yang dimaksud Hanami, sudah beberapa kali Baekhyun mendengar kata itu dari mulut Yoora namun setitik penjelasanpun tak pernah Yoora berikan padanya.

 

Baekhyun kembali menuju kamarnya dan menyelesaikan beberapa file yang sempat ia bawa dari Korea. Mungkin dengan berada di Jepang pikirannya kan jauh lebih segar dan terfokus untuk mengerjakan file-file yang begitu memusingkan ini, namun pikirannya kembali berantakan ketika tanpa sengaja Baekhyun teringat senyuman Yoora. Apakah senyuman gadis itu memiliki ramuan tersendiri untuk Baekhyun? Kenapa hampir seharian ini yang ada dalam ingatan-nya hanya senyuman gadis itu?

 

Baekhyun masih ingat bagaimana senyuman gadis itu, senyuman yang selalu di iringi dengan lekukan pada matanya. Senyuman yang menunjukan kehangatan dari gadis itu. sudah dua kali Baekhyun melihat senyuman itu tapi kenapa senyuman itu begitu terikat kuat dalam pikiran Baekhyun? Baekhyun sendiri tak mengerti dengan dirinya saat ini, ia mulai mengacak-ngacak rambutnya dan membaringkan diri di kasur. Ia lebih memilih untuk tertidur saat ini daripada ia harus terus memikirkan apa yang terjadi pada dirinya.

___oOo___

Perempuan ini tak bisa berhenti mengeluh pada ibunya tentang ini dan itu. mulutnya seperti tidak memiliki rem saat sedang kesal. Ia mengatkan ibunya berlebihan, ibunya terlalu menyayangi adiknya, ibunya terlalu menghambur-hamburkan uang, apa ibunya pikir mendapatkan uang itu mudah seperti memetik daun? Ya, perempuan ini tau setidaknya adiknya yang penurut itu patut di hadiahi tapi kenapa harus tiket penerbangan ke Jepang, bisa saja ibunya memberikan adiknya Handpone baru atau memberinya uang.

 

“Ya Byun Sena! Siapa yang mengajarimu untuk terus mengeluh seperti itu pada ibu. Hanya tiket perjalanan ke Jepang itu tak masalah. Apa merugikanmu jika ibu memberikan Baekhyun itu? huh? Bahkan adikmu sudah berkerja keras melebihimu!”

 

Sena terdiam mendengar apa yang ibunya katakan, itu memang benar adiknya jauh lebih memberikan pengaruh yang besar untuk perusahan keluarga mereka. Tapi Sena hanya sekedar mengingatkan ibunya, ini baru pertunangan. Sena bukanlah perempuan dengan gaya glamor yang suka menghambur-hamburkan uang. Dia hanya perempuan berpenampilan sederhana namun begitu anggun.

 

Nyonya Byun tersenyum bangga ketika anak perempuannya bungkam setelah mendengar apa yang beliau katakan. Sebenarnya Nyonya Byun ingin terkikik saat melihat ekspresi wajah Sena yang menahan rasa kesalnya. Beliau tau putri kesayangannya itu bukanlah gadis boros seperti perempuan yang lainnya, beliau bersyukur karena putrinya mampu mengatur keuangannya dengan baik.

___oOo___

Baekhyun terbangun dari tidurnya, ia sedikit menggeliat dan melihat kearah jendela. Langit sudah merubah warna kebiruannya menjadi sembuarat orange. Ia melangkah keluar kamar memastikan bahwa Yoora sudah pulang, namun yang ia temukan justru hanya dirinya seorang di Villa ini, dimanapun dia mencari gadis itu tetap saja ia tak menemukannya. Pemuda ini panik setenagh mati. Bagaimana tidak gadis itu sudah pergi sejak siang dan sampai hari hampir malam gadis itu sama sekali belum juga pulang. Oh tidak, Baekhyun kembali memikirkan gadis itu usahanya percuma, nyatanya gadis itu yang mampu membuat Baekhyun sepanik ini.

 

Pikiran Baekhyun terus saja menebak-nebak apa yang terjadi pada gadis itu. kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi seperti gadis itu tersesat, atau di culik. Hey siapa yang akan menculik gadis berusia 22 tahun? Tentu saja tidak ada kecuali ada motif tersendiri. Pikiran terburuk Baekhyun kali ini mengarah pada pemerkosaan, bagaimana jika gadis itu di perkosa oleh orang-orang tidak bertanggung jawab?

 

“Oh ayolah Byun Baekhyun seharusnya kau tidak sibuk menebak-nebak seperti ini, seharusnya kau mencari gadis itu jika kau khawatir”

 

Baekhyun berbicara pada dirinya sendiri,dia tak sadar akan kata terakhir yang ia ucapkan. Khawatir, bentuk kepeduliannya pada gadis itu mulai muncul saat ini, dengan segera Baekhyun mengambil sweeter yang tersampir di sofa dan segera mencari gadis itu.

 

Disisi lain, seorang gadis tengah berjalan dengan terpincang-pincang, tangannya membawa High Heels yang ia lepas. Ini keduakalinya ia ditimpa kesialan karena Heels yang ia kenakan. Seharusnya ini menjadi hari bahagianya melihat bunga sakura yang bermekaran. Namun apa semuanya lenyap ketika kakinya terkilir. Dan sialnya ia sama sekali tak membawa satupun spatu flat kesayangannya. Jika bukan karena anak kecil itu yang memintanya ia tak perlu repot-repot untuk mengambilkan balon yang tersangkut di pohon dan membuatnya terkilir begitu parah.

 

“Ini menyebalka—aww”

 

Gadis ini merintih kesakitan ketika ia sudah tak bisa berjalan lagi, langit sudah menjadi gelap dan ia sama sekali belum bisa kembali ke Villa, bagimana jika ia pulang Baekhyun akan memarahinya karena pulang larut? Tapi kakinya tak bisa di ajak kompromi saat ini, rasa nyeri itu benar-benar menyiksa gadis ini. pergelangan kakinya sudah berubah menjadi keunguan dan membengkak saat ini, bahkan ia hanya bisa terisak menahan rasa nyeri di pergelangan kakinya. Ia tak bisa pulang saat ini keadaan kakinya begitu buruk. Tak ada yang bisa gadis ini harapkan saat ini, ponsel yang seharusnya bisa ia gunakan untuk meminta bantuan justru lupa tak ia bawa.

 

“hah” lagi-lagi Yoora hanya menghela napasnya kasar, bisa-bisa nya tadi ia berpikir mungkin saja Baekhyun akan marah karena ia pulang larut, bahkan jika dirinya tidak kembali ke villa pun Baekhyun pasti tidak akan mencarinya. “Ya, kurasa bernasib sial tidak ada ruginya” gadis ini kembali berjalan dengan menahan rasa sakinya. Tapi sayangnya gadis ini tak bisa berjalan lebih dari 3 meter, dan lagi jarak villa Baekhyun masih 3 kilometer lagi.

 

Bagaimana ini? apa gadis ini akan terus menunggu sampai ada orang yang lewat dan meminta bantuan? Itu mustahil jalanan ini terlalu sepi dan jarang di lewati orang-orang. Yoora hanya bisa menundukan kepalanya dan memeluk lututnya erat, ketika suara derapan kaki yang terdengaar begitu terburu-buru membuatnya semakin memeluk kakinya erat, pikirannya sudah mulai melayang kemana-mana. Pikiran buruknya tentang suara derapan kaki itu, bagiaman jika itu orang jahat? Gadis ini semakin ketakutan, tangannya gemetaran. Seharusnya ia tadi mengajak Baekhyun bukanya pergi sendiri seenaknya dan akibatnya seperti ini. ia terluka tanpa di ketaui siapapun.

 

Baekhyun terus mencarai gadis itu bahkan hampir seluruh jalan menuju bukit belakang Villa sudah ia cari. Untuk menuju bukit belakang Villa memang cukup lama ia harus berjalan kaki agar sampai di bukit itu. sampai hari sudah malam pun Baekhyun belum bisa menemukan gadis itu. ia berniat ingin pulang saat ini dan mungkin saja Yoora sudah pulang ke Villa, namun saat ia berlari dan mendengar isak tangis seluruh tubuhnya merinding. Apa itu hantu? Pikiran Baekhyun asal menebak begitu saja. Tapi saat ia berusaha mengabaikan pikirannya justru ia melangkah menuju sumber suara itu, dan hatinya hampir saja keluar saat melihat gadis yang tengah menunduk di bawah pohon mapel.

 

“Ya tuhan Yoora!”

 

Yoora mendongakkan mukanya melihat Baekhyun yang tengah berlari terengah-engah kearahnya. Segera mungkin saat Baekhyun sampai di hadapannya Yoora menggenggam tangan Baekhyun erat dan mengeluh kesakitan karena kakinya. Ia merasa hangat ketika pemuda itu menyampirkan Sweeter yang pemuda itu bawa pada pundaknya. Perasaan lega menyelimuti hati Yoora ia pikir, ia akan mati di sini karena tidak bisa pulang.

 

Baekhyun yang melihat Yoora kesakita jadi tidak tega, ia sedikit memijit kaki gadis itu namun yang terjadi justru erangan yang sangat kencang. Mau tak mau Baekhyun harus menggendong Yoora sampai ke Villa jika ia tidak menggendong Yoora bisa saja setelah pulang dari Jepang kaki Yoora di amputasi karena terkilir. Ini berlebihan! Baekhyun mulai menggendong gadis itu pada punggungnya, bagimanapun gadis itu tanggung jawabnya saat ini. jika terjadi suatu  sedikit saja pada gadis itu ialah yang akan di salahkan.

 

“Naiklah ke punggungku, kamu tidak bisa pulang dengan kaki terkilir kan”

 

Yoora ragu menerima tawaran Baekhyun tapi laki-laki itu sepenuhnya benar kakinya sudah lebih dari kata buruk tak ada pilihan lain selain naik kepunggung Baekhyun.

 

“Kau ini bisa sangat ceroboh ya? Bagaimana bisa kau terkilir sampai separah ini?”

 

Baekhyun bingung kenapa gadis itu sampai terkilir, saat ia mencoba meminta jawaban gadis itu justru menghelakan nafasnya pelan seolah ia merasa lelah. Baekhyun pikir semua ini pasti karena heels yang begitu tinggi yang gadis itu gunakan tadi. Baekhyun meilhat salah satu Heel Yoora patah, apa gadis itu baru saja melakukan hal-hal yang ekstrim hingga membuat heels itu patah.

 

“Lain kali jangan menggunakan heels saat akan mendaki bukit. Pakilah sepatu flat saja, lihatlah akibatnya kakimu terkilir sangat parah”

 

Yoora hanya mengiyakan apa yang Baekhyun katakan, ya sayangnya Baekhyun tak pernah tau bahwa ia melupakan sepatu flat kesayangannya itu. tidak buruk rasanya di gendong oleh Baekhyun  setidaknya rasa nyeri di pergelangannya tidak bertambah seperti tadi saat ia memaksakan untuk berjalan. Gadis ini tersenyum saat menyadari bahwa Baekhyun menggendongnya, oh sunggu ini romatis, seperti yang selalu ia bayangkan. Setidaknya sikap Baekhyun tidaklah se tak acuh tadi saat di pesawat.

 

“Baekhyun..?”

 

“Hmm..?”

 

“Trimakasih.”

 

Ucapan trimakasih yang begitu lembut, tepat di telinga Baekhyun. Suara itu membuat kerja jantung Baekhyun tak teratur kembali. Ia menjadi canggung kembali setelah mendengar suara gadis itu. oh bagaimana bisa suara itu begitu lembut dan penuh ketulusan. Baekhyun kontrol dirimu.

 

Baekhyun menolehkan kepalanya melihat wajah Yoora, tidak seperti biasanya gadis itu tersenyum dengan tulus, wajahnya begitu terlihat hangat saat ini. Baekhyun kembali mentap ke depan, wajahnya memerah saat ini ia bahkan tidak meyangka bahwa Yoora akan tersenyum seperti itu saat mengucapkan terimakasih. Baekhyun rasa tidak ada alasan lain untuk tidak jatuh cinta pada Yoora saat ini. ya, Baekhyun mencintai Yoora hanya dengan sekali senyuman gadis itu.

 

Setelah sampai di Villa Baekhyun segera mengompres kaki Yoora dengan air es. Terlihat gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa nyeri pada kakinya. Bahkan Baekhyun sudah berhati-hati saat mengompresnya, namun rupanya kehati-hatiannya sama sekali tak berpangaruh pada memar di pergelangan kaki Yoora.

 

“Apakah ini masih sakit?”

 

Yoora mengangguk menanggapi pertanyaan Baekhyun, ia masih terlalu sibuk untuk mengatkan ‘ya’, rasa sakit di pergelangan kakinya masih saja membuat ia harus terus menggigit bibir bawahnya. Seharunya jika sudah di kompers semuanya akan baik-baik saja, tapi apa sekarang semuanya tetap saja sama rasa nyeri itu tak hilang sama sekali.

 

Dengan terpaksa Baekhyun kembali menggendong gadis itu ke kamarnya. Jujur saja punggung pemuda ini sudah pegal untuk menggendong Yoora, tapi bagaimana lagi ia tak mungkin membiarkan gadis itu berjalan sendiri dan itu akan memperburuk keadaan.

 

“Apa aku berat?”

 

“Tidak terlalu”

 

Baekhyun mendengar gadis itu mendesah pelan, sebelum gadis itu berbicara lagi Baekhyun sudah memperingatkan gadis itu terlebih dahulu, agar gadis itu tak meminta Baekhyun menurunkannya karena ini akan membuat masalah lagi.

 

Baekhyun membaringkan Yoora di tempat tidurnya, ia sempat berpesan pada gadis itu agar memanggilnya saat Yoora butuh sesuatu. Gadis itu hanya mengangguk mengerti dan sebelum pergi tangan Baekhyun sempat di tahan oleh Yoora.

 

“Trimakasih”

 

Lagi-lagi kata itu keluar dari mulut Yoora, tak bisakah gadis itu untuk tak mengatakannya lagi? Baekhyun sudah terlalu gugup saat ini, apa lagi tangan gadis itu masih menggenggam lengan Baekhyun.

 

Baekhyun hanya menganngguk dan memalingkan wajahnya dari hadapan Yoora, berjaga-jaga jika Yoora melihat titik kegugupan pada wajahnya. Setelah Yoora melepaskan tangannya Baekhyun melangkah keluar kamar gadis itu, pemuda ini mengelus dadanya pelan. Rasanya seperti terbebas dari kandang macan yang membuat jantungnya berdegup tak karuan. Tepat saat langkah pertama seluruh lampu di Villa mati begitu saja.

 

Baekhyun yang masih ada di depan kamar Yoora memutuskan untuk melihat kondisi Yoora saat ini. ia merogoh sakunya mengambil ponselnya dan menghidupkan lampun di ponselnya. Ia mengarahkan cahaya itu pada Yoora. Keadaannya cukup menjelaskan hal yang kurang baik saat ini “Yoora, kamu baik-baik saja?”

 

“Tidak terlalu” Suara Yoora terdengar lirih dan seperti di paksa. Yoora duduk di kasurnya dengan memeluk kedua lututnya dengan erat.

 

Baekhyun mendekat pada kasur Yoora saat ia berada di depan gadis itu ia terkejut, tangan Yoora tiba-tiba merengkuh lehernya dan memeluknya begitu erat . Ini membuat Baekhyun sulit untuk bernafas, Baekhyun menyadari satu hal berada di dekat gadis ini ia mampu mencium aroma shampoo gadis itu. Begitu wangi. Badan Yoora gemetaran, Baekhyun mampu merasakan itu. “Hei, kenapa? kamu tidak apa-apa? apa ada yang salah?”

 

Baekhyun melepaskan dekapan Yooram tangannya menangkup pipi Yoora meski ia tidak bisa melihat ekspresi Yoora dengan jelas saat ini ia tau apa yang Yoora rasakan, bahkan tangan Baekhyun mampu merasakan air mata yang membasahi pipi Yoora. “Yoora bicaralah, jangan membuatku khawatir. Kamu kenapa?”

 

“Aku… aku benci gelap Baekhyun, aku.. sangat membencinya” Yoora bergumam lirih namun suara itu masih cukup di dengar Baekhyun.

 

Refleks tangan Baekhyun mengelus-ngelus pipi gadis itu, memberikan ketenangan tersendiri untuk Yoora yang masih meneteskan air matanya. “Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja aku ada disini” Baekhyun membawa Yoora pada pelukannya. Berharap gadis itu akan lebih tenang. Saat Yoora sudah mulai tenang Baekhyun akan meninggalkan Yoora, namun apa yang gadis itu lakukan? Yoora justru menahan Baekhyun lagi.

 

Yoora memeluk Baekhyun dari belakang. Ia tau aksinya ini benar-benar kelewatan namun ia tak bisa melakukan apapun ia hanya ingin Baekhyun tinggal disisinya sampai esok hari, ia terlalu takut untuk sendiri di ruang yang gelap ini. bayangan terburuk hidupnya adalah kegelapan. “Kumohon jangan tinggalkan aku” Yoora sadar dengan apa yang ia ucapkan saat ini, ia masih meneteskan air matanya hanya saja ia tidak pernah ingin di tinggalkan sendiri saat gelap seperti ini. memohon seperti ini seolah Yoora akan di tiggalkan selamanya.

 

Saat Yoora memeluk Baekhyun dari belakang ia bahwa punggung Baekhyun jauh terlihat lebar dari yang ia lihat, ia merasa nyaman ketika laki-laki itu berada di sampignya, tersenyum padanya. Pada saat ini juga Baekhyun membalikan badan dan memeluknya dengan erat, itu begitu hangat dan membuatnya merasa tenang, perasaan takut seketika hilang dari harinya

 

“Aku takut gelap, tetaplah disini sampai esok Baekhyun” Yooramengangkat wajahnya, jika saat semua terang mungkin saja Yoora tak akan berani menatap Baekhyun  seperti saat ini dengan tatapan memohon dan penuh rasa harapan.

 

Ini pertama kalinya Baekhyun melihat Yoora begitu ketakutan, suara gadis itu begitu gemetar. Awalnya Baekhyun ingin mecoba kembali pada pendiriannya untuk tak peduli gadis itu namun setelah suara Yoora yang begitu ketakutan mau tak mau ia harus peduli. Peduli ataupun tidak Yoora tetap saja tanggung jawabnya saat ini karena gadis itu tunangannya  ,Baekhyun menyadari Yoora yang mengangkat kepalanya dan menatap ia dengan rasa berharap. Baekhyun tau itu dengan jelas. Laki-laki ini masih bisa mendengar Yoora yang memohon padanya, tanpa sadar jari telunjuknya ia tempelkan pada bibir gadis itu membuat Yoora berhenti memohon. Sudah cukup bagi Baekhyu mendnegar suara Yoora yang ketakutan dan gemetar, itu terasa sangat mengkhawatirkan, bahkan tanpa gadis itu memohon Baekhyun akan menemani Yoora.

 

“Tenanglah aku disini. Jangan menangis lagi”

 

Entah sejak kapan Baekhyun menjadi kehilangan dirinya untuk saat ini, ia melupakan pendirian yang hampir ia lupakan. Ini terlalu romantis untuk seorang Byun Baekhyun, entah sejak kapan tapi tangan Baekhyun sudah mulai membelai rambut Yoora dengan lembut dan menyisihkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Yoora. Bibir Baekhyun mengecup sekilas puncak kepala Yoora ini semua di luar kendali Baekhyun, saat bibirnya menuntun untuk mengecup sekilas puncak kepala gadis itu dan sedikit memberikan ketenangan pada Yoora.

 

“Aku akan disini menemanimu sampai esok, jadi tenanglah dan segeralah tidur”

 

Baekhyun menuntun Yoora dan membaringkan Yoora di atas kasur. Yoora mencengkram lengannya kuat seolah mengatkan agar ia tidur di dekat Yoora. Mau tak mau ia harus melakukannya, karena gadis itu terus saja mencengkram lengannya kuat.

 

“Baekhyun”

 

“Iya” Baekhyun menarik selimut untuk menyelimuti Yoora, Baekhyun sadar tangan Yoora mulai memegang pipinya dengan lembut. rasanya hari ini begitu banyak hal yang membuat Baekhyun berdebar, untung saja saat ini lampu sedang mati jika tidak, mungkin saja Yoora sudah menyaksikan wajah Baekhyun yang memerah.

 

“Aku ingin berterimakasih padamu, kamu melakukan banyak hal untuk ku hari ini. jadi terimakasih banyak” Yoora tersenyum tipis, ia tau Baekhyun tak bisa melihat senyumnya tapi cahaya bulan malam ini masuk kedalam kamar Yoora memberikan mereka sedikit penerangan. Yoora melebarkan senyumnya, sejujurnya ia tak mengerti kenapa tangannya saat ini memegang pipi Baekhyun dengan begitu lembut.

 

Baekhyun membalas senyuman Yoora dengan hangat, ini terasa sempurna baginya saat ini. lagi-lagi Baekhyun mengecup puncak kepala Yoora dengan lembut, bahkan tidak ada protes apapun dari Yoora saat ini.

 

“Jadi sekarang pejamkanlah matamu, karena aku disini jadi semua akan baik-baik saja”

 

Baekhyun menyuruh Yoora untuk segera tidur, ia tau gadis itu lelah setelah berjalan dari bukit dan menahan rasa nyeri yang teramat sangat. Dan benar saja, gadis itu langsung tertidur pulas di atas dada Baekhyun. Baekhyun kembali melebarkan senyumnya melihat Yoora tertidur dengan pulas, tangannya meraih tangan Yoora, Baekhyun menggenggam tangan Yoora dengan erat.

 

“aku tidak akan pernah meninggalkanmu Yoora”

 

Baekhyun mengecup punggung tangan Yoora cukup lama hingga akhirnya Baekhyun menatap jaari manis Yoora yang tersemat cincin pertunangan mereka. Baekhyun kembali menatap wajah Yoora yang tertidur pulas di atas dadanya tak ada hal lain yang bisa Baekhyun lakukan saat ini bahkan Baekhyun tak bisa menolak ataupun menyingkirkan kepala gadis itu dari dadanya ini terlalu langka untuknya. Tanpa sadar kedua ujung bibirnya mulai tertarik keatas membentuk lekukan yang sempurna. Ini keduakalinya ia melihat wajah Yoora yang tertidur, berbeda dengan tadi wajah Yoora saat ini jauh menyiratkan sebuah ketakutan, Baekhyun mempererat genggaman tangannya pada  tangan Yoora.

 

“Jangan pernah takut saat aku ada di sisimu Yoora, tidurlah dengan tenang Nam Yoora, selamat malam semoga kamu mimpi indah”

 

Lagi-lagi bibir tipis Baekhyun mencium puncak kepala Yoora, yang terakhir Baekhyun mendaratkan ciumannya pada bibir Yoora, atau lebih tepatnya kecupan pada bibir Yoora. Baekhyun masih enggan menghilangkan senyumanya yang merekah saat ini. ternyata tidak buruk menerima tiket perjalanan di Jepang. Baekhyun mulai mengatupkan kedua matanya, ia bahkan tidak merubah posisinya sama sekali ia masih tetap menggenggam tangan Yoora dengan kepala gadis itu bersandar pada dada Baekhyun. Keduanya terlelap dalam keheningan malam yang membuat mereka semakin merasa dekat.

 

Malam ini mereka tidur bersama dalam satu kamar dan satu ranjang yang sama. Malam yang sempurna dengan cahaya bulan, tak mnegurangi suasana yang begitu romantis ini bahkan mereka tertidur dengan senyum yang merekah. Inikah Baekhyun dan Yoora? Mereka tersenyum saat tertidur bersama dan saling mengeratkan genggaman tangan mereka.

 

TBC

Well, chapter dua rillis. Menurut aku ini perombakan besar-besaran hihi. Gimana? Adakah yang aneh? Ataukah masih ada typo hihi. Sebenernya ada beberapahal yang saya hilangin dan saya tambahin terutama di bagian akhir yang pas Yoora sama Baekhyun di kamar itu banyak adegan yang saya tambah. Gak tau sejak kapan juga bisa ada adegan romantisan kayak gt hehe.

Oh ya kemarin aku sempet baca ada yang bilang bahwa masih ada penggunaan kau di dalam ff aku. Maaf jika kadang bahasnya kurang baku atau melenceng maklum saya bukan anak sastra bahasa indonesia yang bisa menata kalimat dengan rapi hihi. Penggunaan kau itu supaya lebih enak aja bacanya soalnya kalau kamu terus kesannya terlalu formal kadang bacanya juga jadi aneh hihi.

Jangan pernah bosen buat nunggu ff saya. Semoga kalian suka ya dan jangan lupa leave your coment ya kritik dan saran selalu di terima.

68 responses to “One More Time – [Chapter 2] By Sebie

  1. Pingback: One More Time [Chapter 5] – By Sebie | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Oooooooo… baek sooo sweeeetnya dirimuuuu… disini aku yang bakal tambah suka dirimu baek.

  3. Ommona….akhirnya so sweet bangett….si kaku yoora sama si keras kepala Baekhyun. Woahhh……tuh kn. Bener. Baekhyun suka sama yoora. Minji kayanya mulai curiga nuh sm baekhyun yoora. Kuereeennnnnn…..hhe…

  4. well, bikin merinding bacanya. Feel nya ya ampun.. banyakin ya thor adegan bekyun yoora nya😂

  5. Pingback: One More Time [Chapter 6]- By Sebie | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. part ini baekhyun manis sekali. meskipun ada typo sedikit menurutku bisa tertutupi dengan cerita nya yang bagus, jadi bisa diabaikan hehe. dan disini aku belum mengerti perasaan Yoora yang sebenarnya, penggambaran nya yang senang dan tidak suka dalam waktu yang bersamaan. apa mungkin itu memang dia begitu di cerita ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s