[Freelance] 6th Be My Shine (ChanYeol’ Story: Show Yourself or Be Alone, Part B)

6.chanyeol

6th Be My Shine (ChanYeol’ Story: Show Yourself or Be Alone, Part B)

Title                 : Be My Shine

Sub – Title       : ChanYeol’ Story: Show Yourself or Be Alone

Author             : Lililili~

Main Cast        :

  • EXO’s ChanYeol as Park Chan Yeol
  • You as Jung Hye In
  • EXO’s Lay as Zhang Yi Xing

Genre              : Romance & Friendship

Rating             : G

The main reason of loneliness is..

When you’re too afraid to show yourself

  • Lililili~

 

***

P.S. FANFIC INI ADALAH KARYA AUTHOR SENDIRI

PERNAH DIPOST DI BLOG LAIN DENGAN NAMA PENA AUTHOR YANG BERBEDA DAN KARAKTER JUGA CERITA YANG SEDIKIT DIUBAH

Blog Pribadi Author:

getyourthingsandrun.wordpress.com

 

Previous Story:

  • 1st Be My Shine (Xiumin’s Story: Who Is the Girl? Who is the Boy?)
  • 2nd Be My Shine (Suho’s Story: The Unlucky Guardian)
  • 3th Be My Shine (Lay’s Story: When the Light’s Disappear)
  • 4th Be My Shine (BaekHyun’s Story: Pervert, Naughty & Talkative)
  • 5th Be My Shine (Chen’s Story: Poor You!)

 

***

Setiap hari aku berlatih biola dengan Chan Yeol setelah selesai kuliah di apartemennya, begitu pula dengan hari ini. Aku sedang beristirahat sebentar, sedangkan Chan Yeol sedang membuatkan minuman untukku. Aku terus tersenyum melihat punggungnya. Ne, aku menyukainya.

Aku berkeliling melihat – lihat apartemennya, lalu tiba – tiba aku melihat sebuah passport di atas sebuah meja di salah satu ruangan di apartemenya. Dan bukan hanya passport, aku juga menemukan sebuah tiket pesawat. Aku menyentuhnya dan membukanya. Penerbangan ke New York.

“Apa ini?”

“Apa yang kau lakukan, Hye – In?” panggil Chan Yeol yang sudah berada di belakangku.

“Apa ini?” tanyaku sambil menunjukkan tiket pesawat itu, Chan Yeol hanya bisa terdiam.

“Kau.. ingin pergi?”

“Hye In – ah.. aku..”

“KAU INGIN PERGI?!!” tanpa kendali aku mulai menangis dan berlari pergi keluar.

Saat keluar aku melihat Lay sedang berjalan ke apartemen Chan Yeol.

“Hye In,” panggil Lay saat melihatku menangis, aku hanya menghiraukannya dan terus berlari. Lay mengejarku dan menarik tanganku.

“Hye In – ah.. ada apa?” tanya Lay dengan mata kekhawatirannya yang membuatku luluh.

 

***

 

Kami terduduk di kursi taman dekat apartemen Chan Yeol. Aku terus menangis, sedangkan Lay hanya terdiam menemaniku. Semakin lama tangisku mulai memelan dan akhirnya berhenti. Lay menghapus air mata yang tersisa di pipiku dengan telapak tangannya, lalu mengusap – ngusap kepalaku lembut.

“Hye In – ah, ada apa?” tanyanya lembut.

“Chan Yeol.. dia akan pergi..” aku melihat wajah Lay yang mulai menunduk.

“Kau sudah tahu?” tanyaku skeptic.

“Mianhae.. aku tidak bisa mengatakannya padamu,” jawabnya.

“Waeyo? Kenapa kalian seperti ini? Apakah aku tidak cukup..AHHHH!!! LAY, KENAPA KAU HANYA DIAM?! KAU TAHU BAHWA AKU MENYUKAI CHAN YEOL. DAN SEKARANG APA? DIA INGIN PERGI? BAHKAN TANPA MEMBERI TAHUKU? AKAN LEBIH BAIK KALAU DIA TIDAK DATANG! AKAN LEBIH BAIK KALAU AKU TIDAK MENGENAL KALIAN, DARIPADA DITINGGALKAN!”

“Chan Yeol sakit,” ucap Lay pelan.

“Mwo?” aku berhenti berterik dan menatap Lay.

“Dia sakit.. dia sakit kanker.”

“Kanker?” aku merasa ada sebuah belati yang menusuk dadaku. Sakit.

Aku langsung berlari ke apartemen Chan Yeol, meninggalkan Lay. Aku langsung membuka pintunya yang tidak terkunci. Saat aku masuk, aku melihat Chan Yeol yang sedang terduduk di lantai. Punggungnya bergetar karena tangisnya. Aku pun menghampirinya dan memeluknya dari belakang.

“Mianhae.. aku tidak tahu.. kalau kau.. kau sakit,” ucapku dengan tangisan.

“Pergilah..” ucapnya.

“Aku tidak ingin kau melihatku seperti ini, aku tidak ingin kau melihatku yang semakin melemah.. aku tidak ingin kau berada di sampingku untuk waktu yang sesaat.. aku tidak ingin melihatmu menangis.”

“Ani. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli itu sepuluh tahun atau hanya sepuluh menit.. biarkan aku berada di sisimu. Kajjima.. kajjimaaa Chan Yeol-ah.. hiks.” Chan Yeol pun berbalik dan memelukku sangat erat.

 

***

 

[ Lay’s POV ]

Aku melihat punggungnya yang sedang berlari. Tanpa terasa, mataku mulai kabur karena cairan bening yang tertahan. Appo..

            “Ada apa denganmu, Zhang Yi Xing? Kau hanya menghalangi mereka.. Dan semirip apapun tingkah dan senyum Hye In dengannya, Hye In bukan dia, Hye In bukan Ha Na.”

FLASHBACK

“Chan Yeol-ah, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku.

“Apa maksudmu?”

“Hye In.. kau menyukainya kan? Hanya dengan melihat wajahmu saja, aku tahu. Dia yeoja yang selalu kau ceritakan selama ini kan? Yeoja yang selalu kau perhatikan sejak dua tahun yang lalu? Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Kau ingin menjadi matchmaker kami?” tanyaku tak habis pikir.

“Lay.. aku tidak ingin dia sendirian,” jawabnya pelan.

“Ada kau di sini, dia tidak akan sendirian.”

“Aku tidak akan bisa berada lama.”

“Apa maksudmu?”

Sejak tadi Chan Yeol hanya mengalihkan pandangannya padaku, tapi sekarang dia langsung menoleh. Dia menatapku dengan pandangan kegetiran.

“Ada apa?” tanyaku lembut sambil menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Aku sakit.”

DEG

“Aku sakit kanker paru-paru.”

“Oh God, kenapa kau tidak pernah mengatakannya? Seberapa buruk?”

“Mani.. mani appo,” ucapnya mulai menangis. Aku hanya bisa terdiam menatapnya.

“Lay, apa yang kau rasakan saat Ha Na meninggal?”

“…”

“Appo.. nan arrayo. Itu sebabnya aku tidak ingin Hye In juga merasakannya.. paling tidak dia tidak merasakannya saat dia sendirian.”

“Kenapa harus aku?” tanyaku dengan suara yang bergetar.

“Karena tidak ada yang pernah merasakan sakit seperti itu selain kau. Dan karena kau memiliki banyak cinta dan kasih sayang yang bisa kau berikan. Aku mempercayaimu, Lay.”

Aku langsung memeluk tubuh Chan Yeol yang menangis hebat. Dan tanpa ku sadari, aku pun ikut menangis bersamanya.

“Aku akan melakukannya.. aku akan menjaganya.. hiks.. aku tidak akan membuatnya sendirian, dan aku akan memastikan bahwa dia tahu seberapa besar dia dicintai di sisa hidupnya.. hiks.”

“Gomawo,” Chan Yeol pun membalas pelukanku. Dan yang kita lakukan sepanjang hari itu adalah melakukan semua hal yang belum dan ingin kita lakukan bersama. Sebagai teman. Sebagai saudara.

 

***

 

[ Hye In’s POV ]

Inilah harinya, lomba cello pertamaku. Aku membuka sedikit tirai panggung untuk melihat penonton yang datang. Banyak sekali. Aku mulai merasa gugup, tanganmu basah, dan tubuhku mulai bergetar. Tiba – tiba ada yang menepuk punggungku.

            “Chan Yeol..”

            Ani, bukan Chan Yeol. “Kau sudah siap?” tanya Lay.

“Aku merasa gugup.”

Tiba – tiba Lay mengambil tanganku dan mengelap peluh yang ada di telapak tangan dengan sapu tangannya. Lalu dia menggenggam dan meremas tanganku lembut.

“Hye In – ah, lihat aku! Kau pasti bisa. Mereka akan mendengarkan sebuah melodi yang indah. Mereka akan tersenyum, bahkan menangis untukmu. Dan Chan Yeol.. dia tidak bisa datang.”

“Wae? Kenapa dia tidak datang?”

“Dia ada urusan. Aku akan merekammu dan mengirimkan videonya ke Chan Yeol. Walaupun Chan Yeol tidak ada, Chan Yeol berharap kau akan melakukan yang terbaik. Jangan bermain untuknya atau untukku atau untuk siapapun yang menontonmu, tapi bermainlah untuk dirimu sendiri. Dan jangan merasa sendirian, aku akan duduk di sana melihatmu. Arraseo?” ucap Lay mencoba untuk terlihat riang. Walaupun terlihat dipaksakan, tapi aku masih bisa melihat senyuman tulusnya.

“Ne, arraseo!” jawabku dengan semangat.

“Ne.. Hwaiting!”

“Hwaiting!”

Giliranku pun tiba, aku naik ke panggung dengan penuh keyakinan walaupun jantungku masih terus berdetak dengan keras. Aku melihat ke bangku penonton, aku bisa melihat Lay. Dia mengepalkan tangannya dan terus menyemangatiku. Aku pun hanya bisa tersenyum melihatnya.

Aku pun mulai menutup mataku dan memainkan celloku. Aku terus memainkannya. Hening. Yang terdengar hanya alunan melodi dari celloku. Dan saat aku selesai dan membuka mataku, aku melihat semua orang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Aku menangis karena bahagia, dan saat aku melihat kembali ke arah Lay. Dia hanya tersenyum dan membentuk bibirnya berkata ‘kau lihat kan?’. Ne, aku melihatnya.

Aku menunggu keputusan dari dewan juri dengan jantung yang terus berdetak keras. Namun selain rasa gugup, aku juga merasakan perasaan lain. Tiba – tiba perasaanku tidak enak. Aku pun berusaha mengabaikannya dan berusaha menyibukkan diri.

Saat pemenangnya di umumkan, aku merasa perasaanku membuncah. Aku berhasil mendapatkan tepat pertama. Aku pun langsung naik ke atas panggung dan menerima tropiku. Setelah turun dari panggung, aku langsung mengeluarkan ponselku untuk memberi tahu Chan Yeol mengenai kabar bahagia ini. Tapi setelah empat  kali mencoba, dia tetap tidak mengangkatnya. Aku mulai putus asa. Tiba- tiba Lay menghampiriku di backstage.

“Lay, aku menang. Aku mendapatkan posisi pertama,” ucapku riang

“…”

“Lay?” Dia tetep membisu.

“Lay, ada apa?”

“Dia pergi..”

“Ne?”

“Chan Yeol pergi.” Mataku mulai berkaca.

“Mianhae karena membohongimu.. Chan Yeol tidak ingin membuatmu melihatnya dalam keadaan seperti itu. Dia sangat sakit, rambutnya mulai merontok.. kesempatannya untuk pulih hanya sedikit. Mianhae,” Aku pun hanya membeku dan menjatuhkan tropiku hingga pecah dan hancur.

“Kenapa..? Kenapa dia mengingkari janjinya?”

 

***

 

Sejauh mataku memandang yang bisa ku lihat hanyalah hamparan putih dengan titik-titik embun di jendela. Aku membeku, bibirku, tubuhku, hatiku, semuanya membeku. Seseorang meletakkan kedua tangannya di pundakku dari belakang. Chan Yeol.. ani, dia bukan Chan Yeol.

“Hye In – ah, apa kau tidak kedinginan berdiri terus dekat jendela?” ucap Lay lembut di belakangku. Aku tidak mendengarkannya dan hanya menangis.

“Rasanya begitu menyakitkan. Kenapa? Kenapa kau harus datang padaku saat kau tahu kau akan segera pergi. Kenapa kau membuatku mencintaimu. Kenapa kau melakukan semuanya?”

“Karena dia tidak ingin kau sendirian,” ucap Lay seakan dia bisa membaca pikiranku. Aku pun menoleh ke arahnya terkejut. Saat aku menoleh, aku melihat matanya yang sudah berkaca – kaca.

“Dia tidak ingin melihatmu terus berdiam diri sendirian sambil terus menyembunyikan wajahmu. Dia tidak ingin kau sendirian bahkan setelah dia pergi.”

Lay mendekat ke arahku dan langsung mendekapku. Hangat.

“Gwaenchana.. kau tidak akan sendirian,” ucap Lay di belakang telingaku. Tubuhnya bergetar, tetapi dia terus mencoba mengeratkan pelukannya. Aku membalas pelukannya dan tiba – tiba mataku terbuka lebar.

Kalau Chan Yeol tidak datang, aku akan sendiri. Walaupun ini begitu menyakitkan, tapi inilah hidup. Aku harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkan yang lainnya. Sendirian, tanpa mengenal Chan Yeol dan baik – baik saja saat dia pergi atau dikelilingi orang yang peduli denganku, dengan mengenal Chan Yeol dan terluka saat dia pergi. Aku mengerti sekarang. Gomawo.. Chan Yeol.”

Aku masih bisa merasakan rasa sakitnya. Rasa sakit seakan sesuatu menggorogoti hatiku. Meski begitu aku tetap harus melepasmu untuk pergi melanjutkan hidupmu dan tak tau bagaimana kondisimu. Terimakasih karena telah memberikan banyak hal untukku. Terimakasih karena membuatku tidak merasa sendirian. Aku akan sulit untuk berlari ke depan, namun aku tidak akan pernah berhenti untuk mencobanya. Jika aku berhenti, aku hanya akan menyia – nyiakan apa yang kau berikan selama ini, hanya akan membuat orang – orang di sekitarku khawatir dan aku hanya akan semakin melukai hatiku. Meski aku berusaha untuk melupakanmu, namun selamanya kau akan menjadi cahaya kecil yang terus bersinar di dalam hatiku.

            “Gomawo, Chan Yeol. Gomawo karena meninggalkanku dengan seorang malaikat indah di sisiku.”

***

Musim Semi, 2015

Haaaahhh.. udaranya benar-benar nyaman, tapi suasana hatiku sejak pagi ini benar-benar buruk. Aku sedang terduduk menonton tv di apartemenku. Sejak tadi aku samasekali tidak memperhatikan acara variety show yang sedang diputar. Biasanya acara ini selalu berhasil membuatku tertawa, tapi tidak saat ini. Sudah beberapa jam dia tidak menghubungiku. Sebenarnya apa yang sedang dilakukannya, sampai tidak mengirimkan satu pesanpun. Tak lama ponselku bergetar, aku dengan refleks langsung beranjak dan mengambil ponselku yang berada di meja depanku. Aku langsung tersenyum.

 

From   : My Lovely Lay

Kau sudah makan? Apa kau lapar?

Aku langsung membalas pesannya.

To       : My Lovely Lay

TENTU SAJA AKU LAPAR!

KEMANA SAJA KAU?! YA, APA KAU BERSELINGKUH?!

 

From   : My Lovely Lay

Mana aku berani.. yeopo~ TT-TT

Kalau begitu bersiaplah,

aku tunggu di halte bus dekat apartemenmu ^-^

 

Aku langsung beranjak ke kamarku, membuka lemariku, lalu dengan sigap menggambil dress manis yang dibelikan eomma minggu lalu dan memakainya. Aku langsung ke meja riasku dan menggunakan sedikit lip blam dan bedak. Setelah itu, berlari ke arah rak sepatu, mengambil salah satu wedges-ku dan dengan kecepatan express juga memakainya. Selesai bersiap aku tergesa-gesa membuka pintu apartemenku.

Tiba-tiba aku membeku melihat seseorang di depan pintu apartemenku. Aku hanya menatapnya. Tubuh tinggi itu. Mata bulat itu. Telinga runcing itu. Aku hanya menatapnya membeku. Tanpaku kendalikan, mataku mulai mengabur karena cairan jernih yang mulai menguak. Orang itu hanya tersenyum, memperlihatkan senyumannya yang lebar dan yang biasa ia tunjukan padaku.

“Aku pulang.. Hye In-ah..”

“Ch-Chan-Yeol?”

Drrt Drrt.. Drrt Drrt..

Incoming Call My Lovely Lay

 

THE END

Please leave your comment and like ^-^

Kamsahamnida and Annyeong!

7 responses to “[Freelance] 6th Be My Shine (ChanYeol’ Story: Show Yourself or Be Alone, Part B)

  1. Agak bingung sih…apa chanyeol mmg msih hidup????ato ini msih khayalan hyein aja????kyknya lay n hyein pacaran????

  2. Ugh gantung bgt nih author-nim:”
    Chanyeol nya kok hidup lagi pas lay udh deket sama hye in:” gatega liat lay kehilangan cewek nya dua kali kalo gini mah:” btw link previous nya kok gabisa di buka ya?

  3. Lah kok lah kok ? Ending nya ? Chanyeol pergi ke NY ? Atau pergi dalam arti meninggal ? Ett yaampun kalo chanyeol pergi dalam arti ke NY,aku sampe nangis baca nya ku pikir meninggal soalnya penyakitnya serem banget :” eon eon bikin sequel nya dong biar lebih jelas soalnya rada bingung dan nge gantung gini :” keep hwaiting ♡

  4. kalo benaran si chanyeol masih hidup dan sudah sembuh, kan kasian lay kehilangan untuk yg kedua kali.. dududuuu~ ini kelanjutannya ada nggak?? masih agak bingung ‘-‘ sequel ya!!^-^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s