[Freelance] 7th Be My Shine (D.O.’s Story: Someone In the Train)

7. d.o

7th Be My Shine (D.O.’s Story: Someone In the Train)

 

Title                 : Be My Shine

Sub – Title       : D.O.’s Story: Someone In the Train

Author             : Lililili~

Main Cast        :

  • EXO’s D.O. as Do Kyung Soo
  • You as Han Min Hyo

Support Cast    : EXO’s Kai as Kim Jong In

Genre               : Romance

Rating              : G

 

When someone dies, the world will keep spinning.

So, what you have to do is just.. walk away

  • Lililili~

***

 

P.S. FANFIC INI ADALAH KARYA AUTHOR SENDIRI

PERNAH DIPOST DI BLOG LAIN DENGAN NAMA PENA AUTHOR YANG BERBEDA DAN KARAKTER JUGA CERITA YANG SEDIKIT DIUBAH

Mohon berkunjung ^-^, Blog Pribadi Author:

getyourthingsandrun.wordpress.com

 

Previous Story:

  • 1st Be My Shine (Xiumin’s Story: Who Is the Girl? Who is the Boy?)
  • 2nd Be My Shine (Suho’s Story: The Unlucky Guardian)
  • 3th Be My Shine (Lay’s Story: When the Light’s Disappear)
  • 4th Be My Shine (BaekHyun’s Story: Pervert, Naughty & Talkative)
  • 5th Be My Shine (Chen’s Story: Poor You!)
  • 6th Be My Shine (ChanYeol’ Story: Show Yourself or Be Alone)

 

 

xoxoEXOxoxo

Musim Gugur, 2013

Angin berhembus lembut menerbangkan daun – daun yang telah berguguran dari sebuah pohon ek. Langit terlihat cerah, tiada tanda – tanda hujan akan turun. Dan hal itu sama sekali tidak dapat dijadikan sebuah alasan untuk menarik pergi seorang namja yang berdiri terpaku dengan tatapan matanya yang gelap. Tatapan yang memperlihatkan garis kegetiran. Tatapan yang sangat kontras dengan cerahnya langit. Dia hanya terpaku ke arah batu marmer cantik yang dibubuhi sebuah nama indah di atasnya.

Seorang namja berkulit agak gelap di belakangnya hanya menghela nafas lembut sambil berpikir di dalam hati, semoga hujan turun dan berhasil menariknya pergi.

“Hyung..” panggilnya lembut.

“Hyung, kajja.. orang – orang sudah pergi sekitar dua jam yang lalu.”

“…”

“Hyung..”

Namja itu hanya mengacuhkannya, lalu berjongkok dan meletakkan setangkai bunga serundi yang melambangkan kematian di samping foto kecil yang berada di atas batu marmer itu. Dia terus menatap bunga itu tanpa berkedip hingga pandangannya mulai tidak fokus karena cairan bening yang terus memaksa keluar dari kedua matanya. Sampai akhirnya ia tidak dapat menahannya dan menjatuhkannya. Dia menangis.

“Hyung.. ketika seseorang meninggal, dunia akan tetap berputar walaupun berkurang satu, jadi kau harus berjalan pergi. Hyung, lagi pula dia sudah mengkhianatimu. Dia kecelakaan.. sa-at.. saat.. saat dia ingin berbulan madu dengan suaminya, yang bahkan tidak datang ke pemakaman. Hyung, aku tidak ingin melukaimu dengan ucapanku.. jadi berhenti bersikap seperti ini,” ujar namja itu sambil melihat ke arah punggung yang terus bergetar di hadapannya dengan pandangan kekhawatiran.

“Jongin – ah.. rasanya sakit.. rasanya sakit ketika aku tidak bisa melihatnya.. atau aku melihatnya. Sakit ketika dia di sini.. atau tidak ada. Sakit saat dia tersenyum untukku atau tersenyum untuk orang lain. Sa-kit ketika dia memanggil namaku.. atau tidak. Selama aku tidak menghilang dari dunia ini, aku akan terus merasa terluka. Namun, ada di sini sepertinya lebih baik.. Bisa menyukainya dan membencinya lebih baik.. daripada.. dia tidak ada di sini,” balasnya dengan suara yang bergetar karena tangisannya dan posisi tubuhnya yang enggan untuk berdiri.

“Seberapa besar pun dia mengkhianatimu, kau akan terus seperti ini? Hyung? HYUNG?!! HYUNG, BANGUNLAH!!” namja berkulit gelap itu pun ikut menumpahkan air matanya, melihat kondisi orang yang sudah dianggap Hyung-nya itu.

 

xoxoEXOxoxo

Musim Panas, 2015

[ MIN HYO’s POV ]

Aku terduduk di salah satu kursi di dalam kereta. Pandanganku tidak henti – hentinya melihat ke arah seorang namja bermata bulat dengan wajahnya yang manis namun dingin. Aku melihatnya setiap pagi jika ingin pergi ke kantor dengan menaiki kereta bawah tanah. Dia selalu pergi sendiri dan dia selalu berusaha menghindari kontak apapun dengan orang lain yang berada di sekitarnya. Dia selalu menggunakan earphone di telinganya dan mengacuhkan setiap orang yang ingin menyapanya di kereta. Terkadang dia akan terduduk di sana sambil menutup matanya, dan yang ku lakukan hanya memperhatikan wajah tenangnya yang entah tertidur atau tidak. Memperhatikan garis wajahnya yang manis dan suara nafasnya yang lembut. Lain waktu dia pergi dengan terburu – buru dengan dasi yang miring, rambut yang sedikit berantakan dan sepotong roti di mulutnya sambil terus terfokus memasangkan jam tangan di pergelangan kirinya, dia terlihat berantakan namun di waktu bersamaan terlihat manis. Aku terus memperhatikannya setiap hari dan tak sekali pun dia menghiraukanku, bahkan menyadari keberadaanku. Namun hari ini berbeda, dia tidak lagi menggunakan earphone di telingannya atau tertidur atau pun sibuk dengan dirinya sendiri. Tapi dia terus melihat ke arahku.

“Apakah dia melihat ke arah rok ku yang sangat pendek?” tanyaku dalam hati dan melihatnya.

DEG

 “Ani.. dia menatapku.. dia.. melihat mataku..” dia menatapku cukup lama dan dalam. Aku tidak sanggup mengalihkan pandangan mataku darinya. Aku.. merasa senang.

Dia pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arahku. Hatiku terus berdegup dengan kencang, aku pun mulai merasa gugup. Aku tidak mengenalnya, aku bahkan tidak tahu namanya. Namun satu hal yang aku ketahui, aku telah luluh pada orang asing itu hanya dengan hanya melihat keberadaannya.

Sampai akhirnya dia berada tepat di hadapanku dan meminta izin untuk duduk di sebelahku. Lidahku kelu dan tidak dapat mengatakan sepatah katapun, yang bisa ku lakukan hanya mengangguk sambil menundukkan kepalaku.

“Haaahh..” bisa ku dengar ia menghela nafas dengan lembut.

“Jongseonghamnida.. jika aku berbicara lancang. Aku sudah melihatmu beberapa hari ini dan ku lihat kau terus menatap ke arahku, atau mungkin itu yang ku pikirkan. Kalau aku salah karena berpikir seperti itu, jongseonghamnida. Tapi jika aku benar, aku harap kau menghentikannya.. itu hanya membuatku merasa tidak nyaman,” ucapnya dingin. Aku hanya terdiam mendengar suaranya yang dalam, namun lembut. Seharusnya aku marah, namun di dalam hatiku ada perasaan senang karena mengetahui suatu fakta. Dia menyadari keberadaanku.

Kereta berhenti di sebuah stasiun, ia pun beranjak untuk turun dari kereta.

“Wae? Ini bukan pemberhentian biasanya.”

Entah apa yang ku pikirkan, aku hanya berjalan menyusulnya.

“Chogi!” teriakku, ia pun menoleh.

“Jongseonghamnida jika selama ini aku membuatmu merasa tidak nyaman karena aku memang terus melihat ke arahmu. Seharusnya aku merasa sedih atau kesal saat mendengar ucapanmu barusan tapi anehnya tidak, karena dengan itu aku tahu kalau kau menyadari keberadaanku selama ini.. kamsahamnida,” ucapku dengan senyuman tulus yang entah berasal dari mana. Ia pun berbalik lagi dan ingin meneruskan jalannya.

“Chogi!” teriakku lagi, dan untuk kedua kalinya dia menoleh.

“Nan.. Han Min Hyo. Neoya.. nuguseyo?”

Dia terdiam beberapa saat, “Dia tidak akan memberitahuku namanya.”

“Do Kyung Soo.”

“Ne?”

“Do Kyung Soo imnida.”

DEG.. “Dia..” entah kenapa aku merasa benar – benar bahagia.

“Kyung Soo – ssi, annyeonghaseyo,” ucapku sambil tersenyum cerah dan membungkukan tubuhku sedikit. Dia hanya mengangguk kecil dan berlalu pergi.

“Do Kyung Soo.. kkyah~ Do Kyung Soo.”

 

xoxoEXOxoxo

 

[D.O.’s POV]

“Hyung,” panggil Jong In ke arahku. Aku pun hanya menoleh tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia yang melihat reaksiku hanya bisa mengernyitkan dahinya karena merasa bingung.

“Hyung, waegurae? Aku sudah memanggilmu beberapa kali tapi yang kau lakukan hanya mengacuhkanku. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?”

“Haahh..” aku hanya bisa menghela nafas.

“Waeyo?”

“Selama ini ada hal yang menggangu pikiranku,” jawabku.

“Mwo?”

“Sudah beberapa hari ada seorang yeoja yang memata – mataiku di kereta. Saat aku menghampirinya dan berkata secara tidak langsung kalau dia itu mengganggu, dia malah merasa senang karena aku menyadarinya. Tidakkah itu aneh?”

“Mm.. Hyung, mungkin dia tertarik padamu,” jawab Jong In yang entah sedang bergurau atau tidak.

“Jangan bercanda! Dia bahkan tidak mengenalku sama sekali,” balasku.

“Walaupun dia tidak mengenalmu, bukan berarti dia tidak bisa menyukaimu. Kau tahu, kau bisa mencintai seseorang tanpa alasan.”

“Hah, konyol!”

“Ish, kau ini! Hyung, kau harus berpikiran secara luas, bukan hanya dari sudut pandangmu sendiri! Kau tahu, lagi pula mungkin ini bisa menjadikan kesempatan yang bagus untuk mencairkan hatimu yang beku itu. Apakah kau ingin menjadi bujangan tua dan mati secara tragis di dalam kesendirian. Cobalah kau mencoba untuk membuka hatimu. Apakah dia cantik? Manis? Atau sexy?” ucap Jong In sok mengguruiku dan di akhir pertanyaannya ia memperlihatkan seringainya. Dasar!

“Apakah begitu penting jika dia cantik, manis atau seksi? Bagi ku dia hanya orang asing, tidak lebih. Dan juga, untuk apa kau mempertanyakan takdirku? Karena tahu rasa kesepian manusia akan menjadi lebih baik. Karena tahu rasa sedih, manusia akan menjadi kuat.”

“Tapi tidak denganmu..” dia menatapku tajam. “Kau.. rapuh. Jadi bangunlah, Hyung!” ucap Jong In dingin lalu berlalu pergi meninggalkanku.

 

xoxoEXOxoxo

 

[ MIN HYO’s POV ]

Aku berdiri menunggu di depan stasiun kereta api. Sore ini turun hujan, memang tidak cukup deras tetapi dapat di pastikan aku tetap akan basah kuyup jika berusaha untuk berlari menerobosnya. Tanpa disadari, aku mulai memeluk tubuhku sendiri sambil menggosok – gosokkan tangan untuk menghangatkan diri. Aku melihat ke sekitarku dan saat aku menoleh ke arah kereta yang baru tiba. Pintu kereta itu terbuka dan menampakkan sosok yang telah aku ketahui. Namja itu hanya menatapku dengan matanya yang besar dan dingin. Setelah beberapa detik, dia pun langsung tersadar dan keluar dari kereta yang pintunya mulai menutup kembali. Ia berjalan ke arahku, atau lebih tepatnya ke arah pintu keluar stasiun yang ada di belakangku. Saat dia berjalan mendekat dan hanya berjarak satu meter dariku, dia tidak melewatiku tetapi berdiri di hadapanku.

“Apa yang kau lakukan dengan berdiri terpaku di sini?” tanyanya sedikit menundukkan kepala untuk menatapku yang beberapa sekitar sepuluh senti lebih pendek darinya.

“Aku tidak membawa payung,” jawabku dengan nada yang sedikit gugup sekaligus berusaha menyembunyi perasaan senangku.

“Kajja, kau bisa kedinginan.”

“Ne?”

Dia tidak menjawab rasa kebingunganku dan hanya mengeluarkan sebuah payung berwarna hitam dari tasnya. Tanpa berkata apapun lagi dia membuka payungnya dan mulai berjalan keluar.

“Apa yang kau lakukan? Kajja!” ucapnya dengan nada datar, aku terpaku untuk beberapa saat.

“Ye!” jawabku riang saat aku mendapatkan kesadaranku kembali, lalu menghampirinya dan bergabung dengan dirinya di bawah payung.

Kami berjalan perlahan, atau mungkin.. itu yang ada di pikiranku. Aku melihat ke arahnya, sedangkan dia hanya melihat lurus ke depan masih dengan tatapan dinginnya. Namun aku menyadari suatu hal, bahwa dia tidak sedingin itu. Sejak tadi dia terus mendekatkan payungnya ke arahku dan bisa ku lihat sisi lain pundaknya sudah basah. Dia mencoba melindungiku dari tetesan air hujan.

Kami berjalan ke arah sebuah café yang berada tidak terlalu jauh dari stasiun kereta. Setelah kami masuk, kami pun duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Hari ini cafénya begitu ramai, mungkin mereka memiliki pemikiran yang sama dengan kami, berlindung dari hujan.

Aku hanya melihat ke arah sekelilingku dan berusaha menghilangkan kegugupan dan menghiraukan detak jantung yang terus menggangguku. Aku terus melihat ke arah lain, kecuali ke arah namja yang duduk di hadapanku ini. Tiba – tiba ada seseorang yang menyodorkanku sebuah jas, aku pun mendongak dan melihat ke arahnya. Karena aku terus berusaha untuk menghindari pandangannya, aku tidak menyadari bahwa Kyung Soo telah melepaskan jasnya. Aku menatapnya bingung, ku lihat dia masih enggan untuk menarik jasnya kembali walaupun aku tidak segera menerimanya.

“Igeo,” ucapnya.

“Ne?”

“Ku lihat sejak tadi namja itu terus melihat ke arah kakimu. Tutupi dengan jas ini dan lain kali.. jangan menggunakan rok yang terlalu pendek,” ucapnya dengan suara pelan, namun masih bisa ku dengar dengan jelas.

            “Dia memperhatikanku.”

Aku pun tersenyum dan menerimanya.

Tak lama seorang pelayan menghampiri kami. Saat aku ingin memesan, Kyung Soo sudah mendahuluiku.

“Satu Americano dan satu Hot Chocolate,” ucapnya pada pelayan itu.

“Baik, akan segera saya antar,” ucap pelayan itu dan berjalan pergi.

“Kebanyakan orang di usia dua puluhan memang suka dengan Americano, tapi aku tidak minum Americano.”

“Itu untukku, kau tidak minum kopi,” ucap Kyung Soo.

“Ne?..mm.. Eotteoke arraseo?” tanyaku bingung.

“Kau pernah mengatakannya pada temanmu yang menyodorkan sebotol kopi di kereta. Kau bilang kau akan merasa pusing kalau meminum kopi jadi kau lebih suka meminum minuman yang manis dan hangat..” ia pun mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan gusar. “Aku.. tidak sengaja dengar. Jongseonghamnida,” lanjutnya. Yang bisa ku lakukan hanya tersenyum mendengar ucapannya. Bagi orang lain mungkin itu hanya ucapan biasa, tapi bagiku itu adalah ucapan termanis yang pernah aku dengar.

            “Dia tahu.”

Sepanjang hujan turun, tanpa disadari kami terus membincangkan banyak hal. Kyung Soo tetap bersikap kikuk, namun entah mengapa aku tetap merasa senang mendengar setiap kata yang diucapkannya. Ku rasa aku benar – benar sudah gila karenanya. Bahkan aku hampir berteriak marah saat hujan berhenti turun dan berhasil membawa Kyung Soo pulang.

 

xoxoEXOxoxo

 

Seperti hari – hari sebelumnya, kami terus bertemu di dalam kereta. Tapi sekarang berbeda, aku selalu duduk di sampingnya, tidak lagi menatapnya dari kejauhan secara sembunyi – sembunyi. Sekarang kita sudah lebih dekat. Kita sudah bersikap seakan kita itu berteman, namun Kyung Soo masih belum sepenuhnya menerimaku. Aku masih belum bisa melihat senyumannya.

Terkadang jika tidak sengaja kami menggunakan lagi kereta yang sama saat pulang kantor, kami selalu menyepatkan diri untuk makan bersama. Atau lebih tepatnya, aku yang selalu memaksanya untuk makan bersama. Kyung Soo tidak pernah mengatakan apapun dan hanya mengikuti langkahku. Entah itu karena dia mau atau karena dia adalah orang yang paling tidak bisa berkata ‘tidak’.

Hari ini pun, tanpa sengaja kami menaiki kereta yang sama lagi sepulang kerja. Aku langsung menarik Kyung Soo pergi ke salah satu restoran. Kami terduduk dan memesan makanan. Tak lama setelah itu, Kyung Soo pamit ke toilet. Saat dia permisi ke toilet, tiba – tiba ponselku berbunyi. Aku pun segera meraihnya yang berada di atas meja. Saat aku mencoba untuk meraihnya, tanpa sengaja aku menyenggol tas Kyung Soo dan menjatuhkannya. Isi tasnya pun berhamburan keluar. Dengan segera aku berjongkok dan membereskannya dan tanpa sengaja aku melihat sebuah kertas yang terselip pada buku jurnal yang selalu dibawa Kyung Soo. Aku pun menariknya.

            Sret     

Itu bukan kertas biasa, melainkan selembar foto. Di foto itu terlihat seorang yeoja cantik yang tersenyum cerah ke arah kamera sambil memegang seikat bunga lili putih yang cantik di tangannya. Ia berpose seakan ingin memberikan bunga itu kepada orang yang memfotonya. Tanpa disadari, Kyung Soo sudah berada di dekatku dan langsung mengambil fotonya kasar.

“Nugu? Yeodongsaeng-mu?” tanyaku penasaran masih dengan nada riang.

“Wah, dia benar – benar cantik. Apakah dia seumuranku? Ah.. Kyung Soo, sebaiknya lain kali kau mengenalkan kami. Neomu yeppeoda, ku rasa kalau kau bukan Oppa-nya kau akan menyukainya. Apakah dia sudah punya namching? Ku rasa sudah, dia sangat cantik,” ucapku lagi antusias. Karena terus bicara, aku rasa aku tidak memberi waktu kepada Kyung Soo untuk bicara.. kekeke.

“Dia bukan yeodongsaeng-ku.. dia adalah yeoja yang aku cintai.”

            “Ne?”

“Kenapa kau berani melihat barang – barang pribadiku?” ucapnya dingin.

“Aniya. Tadi aku tidak sengaja, aku se..”

“Min Hyo, hajima!” ucapnya memotongku dan menatapku dingin.

“Aku.. aku sudah lelah terus mengikuti langkahmu. Kau terus menggangguku setiap hari jika kita bertemu di kereta. Apakah hanya karena kita berbagi minuman hangat bersama itu berarti kita adalah teman yang dekat. Apakah hanya karena kita berbagi payung bersama itu berarti kau bisa seenaknya mengganggu barang pribadiku..”

“Cukup!” bentakku. Entah mengapa mataku mulai mengeluarkan cairan bening itu.

“Kau adalah temanku, dan jika kau merasa begitu bahkan walaupun sedikit saja, aku sudah merasa senang. Aku tidak ingin kau menganggapku hanya sebagai orang asing di kereta yang mengganggumu,” ucapku.

“Kalau begitu apa yang telah kau lakukan? Chingu? Kau pikir aku cukup bodoh untuk tidak mengetahui apa yang kau rasakan. Aku mencintainya.. yeoja di foto itu. Jadi bisakah kau berhenti menjadi bedebah dalam hidupku.”

Dengan dinginnya, Kyung Soo langsung mengambil tasnya dan pergi. Sedangkan aku hanya bisa merosot terduduk dan menangis. Aku kalut. Aku tidak bisa berhenti menangis. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Perasaan dikhianati bahkan oleh orang yang menganggapku bukan siapa – siapa baginya. Bukan chingu-nya. Bukan yeoja yang dicintainya.

Rasanya benar – benar sakit. Sakit karena mengingat wajah dinginnya, namun manis. Sakit mengingat sikapnya yang seakan acuh, namun pada faktanya peduli. Sakit mengingat suaranya yang dalam, namun lembut.

Di luar kendaliku, aku terus memesan soju dan meminumnya. Entah berapa botol soju yang sudah ku teguk. Tapi yang ku inginkan sekarang hanya melupakan semua tentang Do Kyung Soo, melupakan rasa sakitku.

“KYUNG SOO – AH.. NAN JOHAYO! TIDAK PEDULI SEBERAPA KERAS AKU MENCOBA UNTUK TIDAK MENYUKAIMU, TIDAK PEDULI SEBERAPA KERAS AKU MENCOBA UNTUK MENGHAPUSMU.. USAHAKU TETAP SIA – SIA APABILA AKU MARAH AKAN ITU!! HUWAAAA!!”

“YAAA, NAPPEUN NAMJA!! MWOHANEUNGWOYA JIGEUM??!!! MICHEOSO?!!”

“Haaahh.. apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa memaksanya untuk mencintaiku. Aku tidak akan mengemis untuk cinta.. hehe.. hehe.. hahaha.. kau lucu Han Min Hyo..”

“WAE?? WAEEE??!! NAN YEPPEO! NAN KYEOPKU! NAN SEXY! WAEE??!!”

“Hahaha.. Kyung Soo – ah, matamu sangat manis. Aku ingin memiliki mata sepertimu.. jinjja.. jinjjaaaa, kau tidak percaya? Waeyo~ Hehe.”

“Diaaaa.. tidak mencintaiku. Dia mencintaiii yang lain. Kukatakan pada diriku berulang kali, tapi aku tetap tidak bisa mengabaikannya.. hiks hiks”

 

xoxoEXOxoxo

 

[ D.O.’s POV ]

            “Ada apa denganku? Aku merasa sangat emosional. Aku merasa begitu marah hanya karena Min Hyo melihat fotonya dan terus bertanya tentangnya.”

Seketika ponselku berbunyi dengan nyaringnya. Aku pun mengeluarkannya dari kantung celanaku dan menatap layarnya. Min Hyo. Aku langsung menolak panggilannya. Tak beberapa lama, ia menelfon lagi. Aku mematikannya lagi. Lalu dia menelfon lagi. Ah.. jinjja! Pada akhirnya, aku pun mengangkatnya.

“Yeoboseyo,” ucapku dingin.

“Chogi.. ini.. chingu anda benar – benar mabuk. Panggilan cepat pertamanya adalah nomor anda. Maaf jika mengganggu, tapi..”

“Arraseo,” ucapku singkat dan menutup telfonnya.

Aku pun berjalan kembali ke restoran tadi. Saat aku tiba, aku melihat Min Hyo yang benar – benar sudah mabuk. Dia terus mengoceh tentang banyak hal. Aku pun memapahnya keluar dari lestoran itu.

“LEPASKAN!!” teriaknya lalu berjalan mendahuluiku sendiri. Dia berjalan dengan sempoyongan dan tidak stabil. Saat dia hampir terjatuh, akupun langsung mendekapnya dan menaikkannya ke punggungku.

“Ah, kau berat sekali, jangan bergerak – bergerak! Kau tidak lihat tubuhku kecil?!” ucapku kesal.

“Mwo? Kenapa kau bilang aku berat? Akuuu.. adalah yeoja teeeerrrseksi di Seoul,” racaunya.

Tiba – tiba dia menekan – nekan pipiku dengan jari telunjukknya.

“Kyung Soo – ah, kau ternyata punya pipi yang chubby yaaa.. aahh.. jeongmal kyeo!”

Lalu dia menggosok – gosok punggungku dan memelukku erat dari belakang.

“Kyung Soo – ah, punggungmu begitu hangat.. hehe seperti punggung Appa.”

Dia lagi – lagi menggerakkan tubuhnya dengan tidak tenang.

“YA, hajima! Kau ingin aku melemparkanmu ke sungai Han?” tanyaku tak bersahabat.

Dia mengacuhkanku dan terus memegang – megang wajahku.

“Matamu sangat manis..”

“Kau tahu aku benci menyinggung hal itu,” ucapku.

“Wae? Aku ingin punya mata sepertimu, berikan padaku.”

“Matamu juga cantik..” “Apa yang ku katakan?”

“Hehe.. hehe.. jeongmal?”

Min Hyo langsung menutup mataku dengan kedua tangannya.

“YA, aku tidak bisa melihat!” ucapku dan menurunkannya.

“Kyung Soo – ah.. liatlah bintang itu! Bersinar sepertimuu~” racaunya lagi.

Akupun duduk di sebelahnya.

“Apa yang harus ku lakukan denganmu?” ucapku.

“…”

“Aku tidak bisa membencimu.”

“Aku juga tidak bisa membencimu,” balasnya sambil tersenyum manis padaku.

“Kyung Soo – ah.. tak peduli apa yang kau lakukan, aku akan tetap menyukaimu. Tak peduli apa yang kau perbuat, aku akan memaafkanmu. Untuk semua alasan karena kau telah terlahir ke dunia ini dan bertahan hidup.”

Aku tidak dapat mengatakan apapun dan hanya melihat wajahnya yang terus tersenyum cantik.

“Di kehidupan berikutnya, aku hanya ingin mencintai satu orang. Jika orang itu tidak mencintaiku, tidak masalah. Aku hanya berharap bahwa aku dapat melihat orang itu setiap hari..” ia tersenyum padaku, namun mulai mengeluarkan air matanya. “Melihatmu setiap hari di kereta itu sebelum pergi bekerja..” Ia pun menarik dasiku agar aku mendekat dan mencium pipiku lembut, sambil terus menangis pelan. Setelah beberapa saat, dia pun melepaskan kecupannya.

“Kau boleh pergi.. selama ini aku selalu membuatmu tidak nyaman. Mianhae.. jeongmal mianhae, Kyung Soo – ah.”

“Saranghaeyo..” lanjutnya. Ia pun beranjak dan berlalu pergi meninggalkanku.

“Dia sudah sepenuhnya sadar.. dan mengetahui dia sudah tidak mabuk lagi, membuatku semakin sakit. Kenapa kau begini?”

 

xoxoEXOxoxo

 

Pada awalnya, aku tetap menaiki kereta itu. Aku menaiki kereta itu dan melihat Min Hyo dari kejauhan tersenyum manis sekilas kepadaku. Dia tidak lagi menghampiri dan duduk di sebelahku. Tidak lagi menarikku ke restoran setelah jam pulang. Dia hanya tersenyum sekilas dan berusaha menyibukkan dirinya dengan hal lain. Semakin lama aku tidak sanggup lagi dan berhenti naik kereta untuk menghindarinya. Sudah lebih dari dua bulan aku berhenti naik kereta dan memilih transportasi lain. Saat itu pun aku merasa sakit. Apakah aku merindukannya?

“Hyung.. jika kau mencintainya katakan saja!” ucap Jong In padaku.

“Ani.”

“Lalu kenapa kau seperti ini? Kau menipunya dengan berkata kau menyukai yeoja lain, maksudmu yeoja yang telah mati dua tahun yang lalu? Dengan alasan apa, hah? Untuk menjauhkannya darimu?”

“Kau tahu, aku belum bisa melupakannya. Aku tidak ingin terbayang – bayang akannya saat aku bersama Min Hyo.”

“Bohong! Kau hanya takut, kau takut akan mengkhianati ‘orang yang sudah mati’ itu. Kau berjanji untuk mencintainya sepanjang umurmu. Jangan bodoh! Dia telah mengkhianatimu jauh sebelum dia meninggal. Kau terlalu lugu dengan cintamu yang kau katakan akan bertahan selamanya. Kau terlalu lugu untuk mempercayai semua ucapan yeoja itu. Lagi pula apa sekarang? Dia sudah mati! Kau merasa terluka akan kematiannya, dan apakah kau ingin yeoja yang kau cintai sekarang juga merasakan rasa sakitmu? Kalau kau terus berfikir untuk takut mengkhianatinya, takut dikhianati atau kau masih mencintainya, buanglah semua itu dan berjalan maju! Kejar yeoja lain yang sudah berhasil mencairkan es di hati! Kejar yeoja yang berhasil membuatmu sakit dan merindukannya!”

“Jong In – ah?”

“Jangan hanya menatapku dan temui dia!”

“Aku marah.. aku marah karena semua yang kau ucapkan selalu benar,” dia pun tersenyum.

Aku langsung berlari keluar apartemen dan menghentikan taksi. Aku langsung menyuruh sopir taksi itu ke stasiun kerata pemberhentian Min Hyo biasanya.

            “Apa yang ku lakukan selama ini? Jeongmal babo gatha!”

            Setelah sampai, aku langsung berlari ke arah kereta yang baru tiba. Aku menunggu pintu kereta itu terbuka dan sampai semua penumpang turun. Dan penumpang terakhir itu..

“Kyung Soo?” panggilnya. Di sana aku menatap yeoja cantik itu yang menatapku dengan mata yang sudah berkaca – kaca.

“Nappeun! Bukankah aku sudah mengatakan tidak akan meminta banyak padamu. Aku hanya meminta untuk melihatmu setiap hari. Kemana saja kau selama ini?” ia pun menitikkan air mata pertamanya. Aku segera menariknya dan memeluknya.

“Mianhae..” aku hanya bisa mendengar suaranya yang terkesiap.

“Hajima, jangan membuatku berharap,” ucapnya getir.

Aku pun melepaskan pelukkanku dan menatapnya.

“Aku tahu aku lancang tetapi.. saranghaeyo, Han Min Hyo.. mianhae..”

“Kau tahu.. hiks.. kata apa yang tidak boleh diucapkan namja setelah ‘saranghaeyo’? Kata itu adalah ‘mianhae’. Jangan mencoba bergurau!” ucapnya dengan tangisannya.

Entah apa yang aku pikirkan, aku hanya menariknya dan mencium keningnya lembut.

“Ada di saat di mana aku ingin kau pergi, namun ada juga saat aku tidak ingin kau pergi. Jadi sebelum hatiku ingin kau pergi, bisakah kita terus bersama? Bisakah kita menua bersama?” ucapku dengan parau.

“Percayalah padaku.. Jong In.. dia mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk cinta. Itu semua bohong. Bagaimana seseorang mencintai tanpa alasan? Aku dapat memberitahumu setidaknya seratus alasan mengapa aku mencintaimu. Suaramu, jari – jarimu, aromamu, bayanganmu, senyummu. Aku bahkan seperti orang yang overdose. Aku suka segala sesuatu tentang dirimu. Itulah alasanku.”

Min Hyo kembali menangis, namun kali ini dengan senyuman cantik di wajahnya. Aku pun kembali mendekapnya dengan erat dan ikut menangis bersamanya.

 

xoxoEXOxoxo

 

Ketika dia mati, dia menorehkan sebuah luka padaku. Sebuah pengkhianatan, sebuah janji dan sebuah kepergian. Saat aku melihat mu, aku tidak pernah bisa melihatmu dengan jelas karena bayangannya selalu datang pertama. Aku takut, takut mengkhianati seperti dirinya atau pun takut dikhianati. Takut untuk membuat sebuah janji baru. Dan takut ditinggalkan.

Aku terlalu takut. Aku takut suatu hari nanti kau akan mengkhianatiku dan meninggalkanku. Aku takut akan terlalu terluka karena mencintaimu. Mencintaimu lebih besar darinya. Tapi itu adalah ketakutan yang bodoh. Aku mempercayaimu. Saat orang – orang berbalik dan mengkhianatiku, hanya ada satu orang yang aku harapkan tak akan pernah mengkhianatiku. Itu ada kau.. Han Min Hyo. Dan selama kau berada di sampingku, aku tidak akan peduli berapa banyak pun pengkhianatan yang aku rasakan. Karena aku memilikimu, cahayaku.

“Oppa, ppaliiii!!! Kita bisa ketinggalan kereta!” teriaknya.

“Ne!” ucapku sambil tersenyum cerah padanya.

“Hah! Akhirnya kau tersenyum juga!” ucapnya riang.

“Bibirmu.. LOVE? Bentuknya seperti hati! Ah.. jinjja aku sangat iri denganmu. Oppa, aku ingin bibirmu,” ucapnya sedikit cemberut.

“Ahh.. kyeo~” aku pun langsung mencubit pipi kanan dan kirinya, lalu menelungkupkan pipinya.

“Arraseo, kalau kau ingin bibirku.” Aku langsung mencium bibirnya lembut. Ia terkejut dan hanya diam menampakan ekspresi kosong.

DEG DEG DEG

Setelah melepaskannya, aku pun hanya memberikan seringaiku. Sedangkan Min Hyo masih membeku. Aku pun berlari untuk membuat jarak darinya sebelum dia meledak.

“YA, MWOHANEUNGWOYA JIGEUM??!!!’ teriaknya setelah tersadar.

“Kau bilang kau ingin bibirku,” jawabku santai.

“AKU INGIN BENTUK BIBIR SEPERTIMU!!” teriaknya marah.

“Kau tidak berkata seperti itu tadi,” balasku dengan nada usil.

“YAAAA, DO KYUNG SOOOO!!!”

“Ish! Ppalliwa, keretanya mau pergi!” teriakku dari kejauhan. Dia hanya menatapku marah. Aku pun berlari lagi ke arahnya. Menarik tangannya dan menggenggamnya, membawanya ke kereta.

“Kau hanya berpura – pura marah, kan?” tanyaku setelah kami duduk di kereta. Min Hyo masih mencoba membuang muka.

“Yeojane.. yeoja~ mereka selalu menjaga image. Walaupun suka, bilang tidak suka,” ucapku menggodanya. Ia pun menoleh ke arahku, “A-ani.”

“Bagaimana aku bisa percaya, kalau wajahmu merah seperti itu.. hahaha.” Aku pun memeluknya dari samping dan menggosok – gosokkan pipiku ke pipinya. Dan pada akhirnya Min Hyo pun ikut tertawa denganku.

Haahh.. selamanya ingin seperti ini. Saranghaeyo, Han Min Hyo.”

 

END

Please leave your comment and like ^-^

Kamsahamnida and Annyeong!

4 responses to “[Freelance] 7th Be My Shine (D.O.’s Story: Someone In the Train)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s