[Freelance] Just One Day

Just One Day by Hanhra at Poster Channel

Title: Just One Day

Scriptwriter: Chanbee614 (Twitter: @chanbee_ga614)

Main Cast:

– Jeon Jung Kook BTS

– Park Yoo Jung (OC)

Support Cast:

– Ny. Jeon

– Lee Sung Kyung (OC)

Rating: PG-13

Genre: Romance, Fluff, Sad, Hurt, Angst

Length: Vignette

Summary: “Aku hanya membutuhkan satu hari untuk menghabiskan waktu bersamamu sebelum aku pergi selamanya…”

Disclaimer: “This Fanfict is mine! I hate plagiator, so don’t you dare to plagiat my fanfict!”

WARNING!! Siapkan tissue yang banyak karena fanfict ini Sad Ending.. Jangan lupa, dengarkan lagu BTS – Just One Day atau EXO’s Chen and Baekhyun – Really I Didn’t Know. Author lebih menyarankan ke lagu Really I Didn’t Know karena nada lagu itu sangat kental dengan fanfict ini..

.

.

.

.

.

.

.

.

^o^

.

.

“Katakan’ aku mencintaimu’. Hanya dua kata yang dapat mengubah kehidupan kita. Bahkan segalanya..”.

“Tindakan juga perbuatanmu  di awal harus difikirkan matang-matang. Bisa saja, di akhir, kau akan menyesali perbuatanmu itu. Selamanya. Sampai kau juga menyusulku di kehidupan selanjutnya. Suatu saat nanti,”.

.

.

Yoo Jung berjalan gontai memasuki Rumah Kanker Donghwan. Dia malas sekali masuk ke sini. Dia masih ingat permintaan gila dari ayahnya yang merupakan seorang pemilik Yayasan Rumah Kanker Donghwan untuk menjadikan Yoo Jung sebagai relawan bagi anak-anak para penderita kanker otak. Menurut Yoo Jung, ini hal gila! Dia yang seharusnya dan teman-temannya berlibur ke Jepang malah disuruh pergi ke Rumah Sakit yang agak jauh dari perkotaan. Dan selama dua minggu ia harus membantu merawat dan menghibur anak-anak para penderita kanker otak. Rumah Kanker Donghwan adalah rumah penyembuhan bagi anak-anak penderita kanker otak. Pencetusnya, pemberi dana serta pemiliknya adalah Park Sung Jae, ayah Yoo Jung.

“Selamat datang, nona Park.” seorang wanita paruh baya menyapanya. Senyumannya begitu ringan tetapi membuat hati semua orang berbunga.

“Ya, selamat datang, Ny. Jeon.” balas Yoo Jung tersenyum kecut. Ia tidak mungkin menunjukkan wajah bosannya di sini. Bisa-bisa ia ditendang dari keluarga Park.

“Mari saya ajak mengelilingi Rumah Kanker ini,” Ny. Jeon mengajak Yoo Jung ke lorong Rumah Sakit.

Sebelumnya, Yoo Jung sudah menaruh kopernya di kamar yang berbeda dan tentunya cukup jauh dari kamar anak-anak penderita kanker otak. Selama Ny. Jeon menjelaskan, Yoo Jung hanya menghela nafas bosan. Berharap dua minggu berlalu dengan cepat.

“Dan ini adalah ruang bermain sekaligus ruang santai bagi anak-anak para penderita kanker otak.” tunjuk Ny. Jeon.

Tiba-tiba, suara seorang pria yang sedang bercerita mengagetkan Yoo Jung dan Ny. Jeon. Terlebih Yoo Jung yang kaget bahwa suara itu ialah suara pria dewasa.

“Jungkook?” Ny. Jeon membuka pintu. Dari dalam, tampak belasan anak duduk di karpet, mendengarkan cerita dari pria yang duduk di kursi di depan mereka. “Bukankah kau sedang sakit, lalu kenapa kau tidak tidur saja?”.

“Aku tidak apa-apa, eomma.” Jungkook, pria yang duduk di kursi itu tersenyum manis. Itu cukup mengagetkan Yoo Jung. Pria itu begitu manis.

“Dia siapa, eomma?” tanya seorang anak lelaki.

“Oh iya, kenalkan, ini kakak Park Yoo Jung. Beliau adalah putri dari Tn. Park. Kakak Yoo Jung akan menghibur dan membantu kalian selama dua minggu ini, ayo beri salam!” suruh Ny. Jeon.

“Halo, kakak Yoo Jung.” sapa anak-anak.

“Halo semuanya,” Yoo Jung membalas. Sedikit senyuman menghiasi bibirnya.

“Kookie, ayo beri salam. Karena dia lebih tua 2 bulan darimu, kau harus memanggilnya noona, arraseo?” ucap Ny. Jeon.

“Nde, eomma.. Annyeong, noona.” Jungkook membungkuk 90°.

Yoo Jung mengangguk. Dia sedikit canggung bila bersama pria yang baru dikenalnya.

“Yoo Jung, bisa bersama Jungkook di sini sebentar mengurus anak-anak? Saya ada urusan sebentar.” pinta Ny. Jeon.

“Ya, bisa, Ny. Jeon.” Yoo Jung mengangguk.

Ny. Jeon berlalu. Yoo Jung duduk di lantai, bersama anak-anak. Jaraknya agak jauh dari anak-anak. Dia bermain dengan ponselnya.

“Oppa, lanjutkan cerita tadi.” pinta seorang gadis kecil, Sungkyung.

Jungkook melirik Yoo Jung yang tengah sibuk dengan ponselnya. Jungkook kemudian berjalan menuju Yoo Jung dan…

“Yakk! Apa yang kau lakukan, pabo?!” Yoo Jung berteriak kesal karena ponselnya direbut oleh Jungkook.

“Kenapa kau terus bermain ponsel?” Jungkook bertanya.

“Memang apa masalahnya kalau aku bermain ponsel? Apakah kau akan rugi?” Yoo Jung geram.

“Tidak bagiku, iya untukmu. Sudah, sekarang bacakan dongeng untuk mereka.” Jungkook menyuruh.

“Aishh.. Baiklah! Dongeng apa?”.

“Romeo and Juliet.”.

“Mwo? Pria sepertimu membaca dongeng perempuan seperti Romeo and Juliet? Hahaha…”.

“Asal kau tahu saja, ada banyak rahasia tersembunyi di balik dongeng Romeo and Juliet.” Jungkook mengerling.

“Rahasia tersembunyi? Apa itu?” Yoo Jung ingin tahu.

“Fikir saja sendiri! Sana bacakan! Aku mau mengambil sesuatu.” Jungkook menyerahkan buku dongeng pada Yoo Jung.

Yoo Jung menggerutu. Ia duduk di kursi Jungkook dan mulai membacakan. Anak-anak hanya menyimak dan sesekali bertanya pada Yoo Jung. Yoo Jung yang awalnya bosan mulai tertarik dengan anak-anak. Sesekali pula ia bercanda. Yoo Jung tidak menyadari bahwa sebuah siluet dibalik pintu yang daritadi terdiam disana terus melihatnya sampai akhirnya dongeng Romeo and Juliet itu selesai, dan ketika Yoo Jung mendongeng cerita lain, siluet itu pergi dari tempatnya.

.

.

Yoo Jung menyelimuti tubuh Sungkyung dengan selimut putih yang cukup tebal. Sedikit mengacak-acak rambut Sungkyung, lalu keluar dari kamar. Ia berjalan melewati lorong menuju kamarnya. Tetapi, saat sedang berjalan, dari lorong arah ke kamarnya, ia mendengar percakapan. Karena penasaran, Yoo Jung pun mengumpat dan menguping. Suara Jungkook dan Ny. Jeon.

“Kookie, eomma hanya khawatir kalau kau sakit kembali,” kentara sekali ada nada gelisah dan khawatir dari perkataan Ny. Jeon. Raut wajahnya juga ragu.

“Gwenchana, eomma..” Jungkook tersenyum, menangkup kedua pundak Ny. Jeon. “Selama anak-anak tersenyum dan bahagia, aku akan baik-baik saja.”.

“Sakit? Memangnya dia sakit apa?” Yoo Jung memelankan suaranya, berbisik.

Karena Yoo Jung sangat mengantuk, Yoo Jung berjalan ke tempat Ny. Jeon dan Jungkook.

“Annyeong, Jeon ahjumma.” sapa Yoo Jung.

“Annyeong, Jung-ie.” Ny. Jeon mengangguk.”Kau mau ke kamar?”.

“Ya, aku mengantuk sekali,” Yoo Jung mengelus tengkuknya.

“Nanti sore bisa kan kau menemani Jungkook jalan-jalan?” Ny. Jeon bertanya.

“Eo? Jalan-jalan? Berdua? Untuk?” Yoo Jung balik bertanya.

“Ya. Jungkook memang harus jalan-jalan keluar. Dia sedikit sakit, jadi harus ada orang yang menemaninya.” ucap Ny. Jeon.

“Bisa saja! Eodi-a?” mata Yoo Jung berbinar-binar.

“Ke Kebun Teh.”.

“Kebun Teh? Woahh, aku mau!”.

“Baguslah. Ya sudah, sekarang kau istirahat dulu. Nanti akan ahjumma beritahu.”.

“Baiklah, saya permisi dulu.” Yoo Jung berlalu.

Jungkook menatap nanar punggung Yoo Jung sampai akhirnya ia masuk ke kamar.

“Kookie, kau menyukai Yoo Jung ya?” goda Ny. Jeon.

“Mwo?! Suka?” Jungkook tersadar dan menoleh pada eommanya.

“Ya, kau melihatnya dengan tatapan begitu. Pasti kau menaruh rasa padanya, ‘kan?”

“Ani-a eomma..” Jungkook menggeleng.

“Mengakulah,”.

“EOMMA!”.

.

.

Jungkook dan Yoo Jung berjalan. Kecanggungan menyelimuti keduanya. Maklum, baru pertama bertemu, jadi mereka tidak begitu dekat. Yoo Jung mengeratkan mantelnya. Dia baru tahu kalau udara Pegunungan begitu dingin. Dia salah mengambil mantel. Harusnya dia mengambil mantel tebal biru mudanya.

“Hufhh..” Yoo Jung mengusap kedua telapak tangannya dan terus menghela nafas.

“Ya, sampai..” Jungkook mengulas senyuman.

Hamparan tanaman teh yang hijau dan menyegarkan mata itu langsung membuat Yoo Jung terkesima.

“Woahh! Yeppuda!” Yoo Jung langsung berlari di antara kerumunan teh. “Aku belum pernah melihat tanaman teh sebelumnya. Rupanya tanaman teh seperti ini? Ya ampun, ini indah sekali!”.

“Memangnya tidak ada tanaman teh di Kota?” Jungkook mendekati Yoo Jung.

“Eobseo! Tidak ada sama sekali! Yang ada hanya polusi, polusi dan polusi! Menyebalkan!” gerutu Yoo Jung.

“Kau mau coba berkuda?” tawar Jungkook.

“Tentu aku mau! Apakah, bisa?”.

“Ya.. Di sebelah situ ada Kandang Kuda yang sudah disiapkan Tn. Park untuk anak-anak.” Jungkook menunjuk sebuah Kandang Kuda yang cukup besar di pinggiran.

“Ayo ke sana!” Yoo Jung berlari.

Jungkook mengekori Yoo Jung dari belakang. Begitu sampai, Yoo Jung terkesima. Yoo Jung mengelus kepala seekor kuda putih.

“Itu namanya Rin Hae.” Jungkook mendekati Yoo Jung. “Dia betina.”.

“Ohh. Annyeong, Rinhae..” Yoo Jung mengulas senyuman.

Rinhae meringkik.

“Dia bilang ‘senang bertemu denganmu’,”.

“Pintarnya! Senang bertemu denganmu juga,” Yoo Jung terkekeh.

“Mau menaikinya?”.

Yoo Jung mengangguk, “Bolehkah?”.

“Tentu saja..” Jungkook tersenyum.

Jungkook tidak membantu Yoo Jung menaiki Rinhae. Yoo Jung bilang, wajah Jungkook agak pucat. Yoo Jung takut kalau Jungkook pingsan. Jungkook hanya tersenyum dan berkata bahwa dia hanya sedikit flu. Yoo Jung hanya mengangguk, tetapi Yoo Jung menyadari kalau Jungkook berjalan cukup lambat. Jungkook sendiri perlu bantuan Yoo Jung untuk membawa sadel kuda yang tidak begitu berat.

“Yoo Jung-ie, bisa bantu aku?” tanya Jungkook.

“Ya, bisa. Ada apa?” Yoo Jung menghampiri Jungkook.

“Bisa bawakan sadel kuda ini untukku?”.

“Apakah sadel kuda ini berat?”.

“Bagiku iya. Seberat satu ton. Aku keluarkan kuda-kuda dulu ya?” pamit Jungkook seraya meletakkan sadel kuda itu ke tanah dan berlalu.

Yoo Jung yang penasaran akan hal itu mengumpulkan kekuatannya dan mengangkat dua sadel kuda itu.

Tidak, tidak berat.

.

.

“Pegang kekang kudanya kuat-kuat. Kalau mau membelokkan ke kanan, harus tarik kekang-nya ke arah kiri. Juga begitu kalau ke arah kiri.” jelas Jungkook.

Yoo Jung mengangguk. Dia mencobanya. Mula-mula, secara perlahan, lama-lama Yoo Jung melakukannya dengan ritme yang cukup cepat. Di belakangnya, di ikuti Jungkook dengan kuda berwarna hitam, Wonwoo.

“Sudah. Aku lelah. Ayo istirahat,” Yoo Jung menghentikan langkah kaki Rinhae.

“Baiklah, ayo ke Kandang.” Jungkook mengangguk.

Seusai mengembalikan kedua kuda itu ke kandang, hujan turun cukup deras sehingga membuat Yoo Jung dan Jungkook harus berteduh. Sudah 10 menit menunggu, hujan tidak berhenti.

“Hufhh.. Dingin..” Yoo Jung mengerakan mantelnya. Dia mengusapkan kedua telapak tangannya.

Jungkook melihat aktivitas Yoo Jung. Ia memutar kedua bola matanya. Ia melepas mantel tebalnya dan memakaikannya pada Yoo Jung.

“Nanti kau kedinginan. Kalau kau kedinginan, kau bisa sakit,” Jungkook sedikit tersenyum. Ia memakaikan mantelnya. Terlihat ia memakai kemeja panjang serta sweater abu-abu.

Sontak, Yoo Jung menoleh. Jungkook masih tersenyum manis. Yoo Jung tidak menyadari kalau Jungkook begitu manis. Tone wajahnya, alisnya, matanya serta senyumannya begitu manis. Tetapi Yoo Jung sedikit heran. Wajah Jungkook lebih pucat sebelum tadi mereka mengendarai kuda. Yoo Jung tahu Jungkook kedinginan. Ia melepas mantel cokelatnya dan memakaikannya pada Jungkook. Jungkook sedikit terhenyak.

“Wajahmu pucat. Kau juga pasti kedinginan.” Yoo Jung tersenyum.

Jungkook ikut tersenyum. Tanpa sadar, Yoo Jung melingkarkan tangannya ke lengan Jungkook. Jungkook begitu kaget. Tetapi ia tahu kalau ini bisa menghangatkan tubuhnya serta tubuh Yoo Jung. Yoo Jung menyempitkan jarak diantara dirinya dan Jungkook. Yoo Jung meletakkan kepalanya ke pundak Jungkook. Yoo Jung memejamkan matanya.

“Tidak apa-apa kan kalau begini?” gumam Yoo Jung.

“Ya, tidak apa-apa..” Jungkook membalas. Ia ikut meletakkan kepalanya ke atas kepala Yoo Jung.

Mereka menikmati hujan dengan saling menghangatkan diri bersama-sama. Menikmati senja yang akan terbenam. Ditemani suara rintikan hujan juga pelukan hangat.

.

.

Minggu pertama dapat Yoo Jung lewati dengan mudah. Memasuki minggu kedua juga dapat terlewati dengan baik. Hanya saja Yoo Jung keheranan, semakin hari, Jungkook bergerak semakin lambat. Seperti kemarin, Jungkook dan Yoo Jung lomba lari, ketika Yoo Jung sudah mencapai finish, Jungkook masih setengah jalan. Tadi pagi juga Jungkook terlihat sangat ceroboh. Ia meraih gelas di dapur untuk minum, tetapi 10 menit kemudian gelas itu jatuh. Jungkook mengambil gelas lagi, dan kembali terjatuh, tetapi Yoo Jung menghiraukannya. Mungkin Yoo Jung berfikir kalau Jungkook kelelahan.

Ini adalah hari ke-11 Yoo Jung di Rumah Kanker. Hari ini rencananya, ia dan Jungkook akan bergelung dengan selimut dan menonton Titanic di Karpet di kamar Yoo Jung. Awalnya, mereka ingin mengajak anak-anak, tetapi anak-anak lebih suka menonton film Hotel Transylvania 2, jadi Yoo Jung dan Jungkook hanya nonton berdua. Setelah film selesai, Yoo Jung dan Jungkook masih mempunyai waktu 2 jam sebelum jam 10 malam, jam tidur.

“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Yoo Jung.

“Bermain monopoli?” usul Jungkook.

“Ya! Benar!” Yoo Jung meraih monopoli di bawah kasurnya.

Ketika mereka akan melakukan gunting, batu, kertas, Jungkook memegang kepalanya.

“Kookie, apa kau tidak apa-apa?” tanya Yoo Jung khawatir.

Jungkook tak memberi respon. Ia merogoh sakunya. Mengeluarkan sebotol kecil tempat obat. Ia memasukkan dua buah obat berbentuk bulat kecil itu ke mulutnya. Yoo Jung memberikan air putih dan Jungkook menerimanya lalu meminumnya.

“Sebenarnya kau ini kenapa? Kenapa kau selalu minum obat? Dari awal bertemu denganmu, kau selalu minum obat. Kau kenapa?” kentara sekali ada nada gelisah, khawatir juga paksaan dari pertanyaan Yoo Jung.

“Nan gwenchana. Sejak kecil, kepalaku selalu pening dan sakit. Jadi eomma selalu mengingatkanku untuk minum obat.” Jungkook tersenyum.

“Apa sudah periksa ke dokter?” Yoo Jung bertanya.

“Belum.”.

“Wae?”.

“Sudah 12 tahun aku melewati penyakit ini. Dan setiap periksa ke dokter, dokter bilang ini hanya sakit kepala biasa,”.

“Eo, sakit kepala? Lebih baik kau periksa ke dokter nanti. Bisa saja itu bukan sakit kepala biasa. Kulihat, belakangan ini juga, wajahmu selalu pucat. Kau bergerak lambat dari biasanya. Stamina dan nafsu makanmu lemah. Kau tidur lebih lama dari biasanya, tanganmu dingin setiap pagi dan malam, lalu kau selalu―”.

Jungkook menghentikan perkataan Yoo Jung dengan meletakkan telunjuknya ke bibir Yoo Jung.

“Aku kan sudah bilang, aku tidak apa-apa..” Jungkook terkekeh.

“Kau membuatku khawatir. Minum obat, stamina melemah, wajah pucat. Kau harus ke dokter!”.

“Senang melihatmu peduli padaku,” Jungkook tersenyum.

“Tentu saja. Kita kan sahabat. Ayo main!” Yoo Jung tersenyum lebar.

Jungkook mengangguk. Dia sedikit lega, rahasianya tidak Yoo Jung ketahui.

.

.

Paginya, Yoo Jung berjalan keluar dari Rumah Kanker. Menghirup udara pegunungan yang sangat sejuk. Dia masih memakai piyama putih dan jaket lavender-nya.

“Eonni?” suara seorang gadis kecil dari belakang mengagetkan Yoo Jung.

“Sungkyung-ah? Wae?” Yoo Jung tersenyum.

“Jungkook oppa menitip pesan. Dia bilang, nanti dia akan mengajakmu jalan-jalan.”.

“Jalan-jalan? Eodi? Wae?”.

“Katanya eonni siap-siap saja,”.

“Baiklah.. Gomawo, Sungkyung!”.

Sungkyung mengangguk lalu masuk ke dalam.

“Jalan-jalan? Eodi? Berarti aku harus berpakaian rapi?” gumam Yoo Jung.

.

.

Yoo Jung berjalan keluar. Di luar sudah ada Jungkook yang memakai kemeja putih dan jaket hitam serta jeans. Rambut hitamnya sangat membuatnya berkarisma. Beda dengan Yoo Jung yang kelihatan lebih cheerful yang dibalut dress rose. Rambut cokelatnya dibiarkan tergerai indah.

“Aku siap!” Yoo Jung tersenyum.

Mata Jungkook tak bisa lepas dari Yoo Jung. Begitu berbeda.

“Kookie, kau kenapa?” Yoo Jung menyadarkan Jungkook.

“Eo? Ani-a. Ayo kita pergi.” Jungkook tersenyum.

“Sebenarnya, kita mau kemana?” Yoo Jung bingung. Melihat Jungkook membawa mobil Range Rover, cukup membuatnya bingung.

“Nanti kau akan tahu.” Jungkook membukakan pintu.

Yoo Jung memasuki mobil. Jungkook melajukan mobilnya.

“Kita akan ke Festival. Menaiki bianglala, mencoba makanan, menonton theater.” ucap Jungkook.

“Festival? Di mana?” mata Yoo Jung berbinar.

“Di bawah gunung.”.

“Maksudmu di Kota?”.

“Ya, di Kota.”.

“Woahh! Ya, aku mau!”.

Jungkook terkekeh. Perjalanan yang cukup panjang harus mereka tempuh. Setelah sampai, mereka turun. Yoo Jung tampak menyukai Festival Mingguan ini. Dia memang sering melewati tempat Festival ini, tetapi dia tidak pernah masuk.

“Kookie, ayo naik itu dulu!” tunjuk Yoo Jung pada Komedi Putar.

“Ya, baiklah.” Jungkook tersenyum.

Mereka menaiki Komedi Putar. Jungkook dan Yoo Jung tertawa bersama ketika kuda yang mereka naiki berputar cukup kencang. Jungkook dan Yoo Jung menikmatinya. Setelah menaiki Komedi Putar, mereka menuju Photobooth.

“Kita mau kemana?” Jungkook bertanya.

“Photobooth!” jawab Yoo Jung seraya tersenyum.

“Aku tak suka foto..” gumam Jungkook.

“Tidak mungkin! Semua orang suka foto!” Yoo Jung menyangkal dan langsung menarik tangan Jungkook untuk masuk.

KLIK! KLIK! KLIK! KLIK!

Mereka berhasil foto 4 kali. Di foto pertama, Jungkook menundukkan wajahnya, di foto kedua, dia berusaha tersenyum, di foto ketiga, dia tampak bergaya cool dan di foto keempat, dia senyum sangat manis.

“Kau bilang tidak suka difoto. Tapi disini bagus!” Yoo Jung menggoda.

“Itu paksaan darimu..” Jungkook mendesah.

“Hehehe.. Woahh, lihat itu! Bianglala! Ayo naik!” Yoo Jung menunjuk bianglala.

“Andwae! Aku takut ketinggian!” tolak Jungkook.

“Penakut! Kan ada aku! Aku akan menjagamu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Selamanya.” Yoo Jung terkekeh.

Jungkook terdiam. Pernyataan Yoo Jung cukup menyayat hatinya. Kata ‘Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Selamanya’ itu cukup membuat Jungkook melemas. Sangat menyayat hati Jungkook yang paling dalam.

“Kajja, Kookie.” Yoo Jung menarik lengan Jungkook.

“Eo? Y–ya, ayo.” Jungkook tersadar akan lamunanya.

Mereka menaiki bianglala. Awalnya, Jungkook sedikit takut, tapi lama-lama ia mulai berani. Mereka menikmati semua ini.

“Jung-ie, boleh bertanya?” tanya Jungkook.

“Geurae.. Apa itu?” Yoo Jung menatap Jungkook.

“Kalau semisalnya kau menyukai seseorang, tetapi orang itu akan pergi selamanya, apa yan akan kau lakukan?”.

“Aku akan menunggunya.”.

“Tapi kalau dia tak kembali?”.

“Hatiku akan tetap menunggunya, tetapi tubuhku tidak. Memangnya kenapa menanyakan itu?”.

“Ani-a.. Hanya bertanya saja. Omong-omong, apa kau menganggap ini kencan?”.

“Kencan? Haha, tentu saja tidak! Ini kan jalan-jalan terakhirku sebelum aku kembali ke Kota..”.

Jungkook terdiam. Tak lama, bianglala berhenti berputar. Mereka pun turun. Mereka mencoba berbagai permainan. Gelak tawa, senyuman dan obrolan mereka tuang dalam setiap kesempatan.

“Kau mau makan permen kapas?” tawar Jungkook setelah menaiki Boom Boom Car.

“Aku mau!” seru Yoo Jung.

“Kajja!” Jungkook membawa Yoo Jung ke Kedai permen kapas.

Mereka memesan, lalu menikmati permen kapas itu.

“Habis ini kita mau kemana?” Yoo Jung menikmati permen kapas itu.

“Kita ke Pantai.” Jungkook tersenyum.

“Pantai? Kyaa~.. Aku mau! Ayo ke sana!” Yoo Jung bergembira.

Jungkook terkekeh. Mereka menuju mobil Jungkook dan Jungkook melajukan mobilnya menuju Pantai.

“Kyaa~.. Yeppuda!” Yoo Jung berlari di antara pasir putih seraya membawa sepatunya.

Jungkook hanya tersenyum. Tetapi, tak lama ia memegangi kepalanya. Sakit. Tetapi Jungkook menghiraukannya. Dari genggaman tangannya, terlihat sebuah benda kecil terjatuh dari genggamannya, perlahan. Benda kecil itu tertanam di pasir dan akhirnya terbawa arus. Benda kecil itu hilang. Untuk selamanya. Dan Jungkook tidak akan bisa melihat ‘penyambung hidupnya’ itu. Lagi.

“Ayo ke sini, Kookie!” Yoo Jung duduk di pasir.

Jungkook mengangguk dan duduk di sebelah Jungkook. Yoo Jung tiduran di pundak Jungkook, sedangkan Jungkook membuat jarak tidak ada di antara mereka. Mereka saling bergenggaman, menikmati sunset yang begitu indah. Mereka layaknya sepasang kekasih.

“Rasanya aku berharap ini tidak cepat berlalu. Aku menginginkan moment ini dari dulu. Melihat sunset berdua..” gumam Yoo Jung.

Jungkook terdiam. Matanya berkaca-kaca. Setetes cairan bening dan hangat keluar dari mata kanan Jungkook.

“Aku tidak ingin waktu cepat berlalu. Aku menyukai moment ini.” lirih Yoo Jung pelan.

Jungkook kembali mengeluarkan air mata. Dia ingin sekali memeluk Yoo Jung. Dia ingin mengatakan bahwa ia mencintai Yoo Jung. Hidung serta mata Jungkook juga memerah.

“Aku hanya ingin bersamamu, selamanya. Sampai akhir hidup kita nanti.”.

Jungkook tiba-tiba saja memeluk Yoo Jung seusai Yoo Jung mengeluarkan kata terakhirnya. Spontan, Yoo Jung kaget. Dia juga mendengar isak tangis Jungkook.

“Kookie? Kau kenapa? Kenapa kau menangis?” Yoo Jung bertanya.

Tak ada respon dari Jungkook.

“Kookie, jawab! Kenapa?” Yoo Jung memaksa.

Jungkook melepaskan pelukannya, “Tidak apa-apa.. Aku hanya terharu akan kata-kata tadi yang kau ucapkan,” Jungkook beralasan.

“Ya ampun, Itu kata yang cukup sederhana, Kookie.. Dasar..” gumam Yoo Jung pelan.

“Ayo kita pulang,” ajak Jungkook.

“Ya, ayo.” Yoo Jung mengangguk.

.

.

“Sampai!!” Yoo Jung bersorak. Ia membuka pintu mobil. Tetapi, tangannya diraih Jungkook.

“Jungkook-ie?” Yoo Jung kaget. “Kau kenapa?”.

Dalam sekali hentakan, Jungkook langsung memeluk Yoo Jung. Erat. Sangat erat. Jungkook menenggelamkan wajahnya di pundak Yoo Jung.

“Yakk! Kookie! Kau kenapa?” Yoo Jung khawatir kala mendengar rintihan tangis Jungkook. Pasalnya, rintihan tangis itu terdengar sangat dalam dan rasanya sangat sakit.

“Kau kenapa Kookie?”.

“Ani-a.. Nan gwenchana. Aku hanya ingin menangis saja,” Jungkook menegakkan kepalanya.

“Omo-ya! Wajahmu pucat! Tanganmu dingin! Kau juga panas. Ayo kita ke dokter!” Yoo Jung khawatir.

“Tidak usah. Gwenchana!” tolak Jungkook. “Aku hanya perlu minum obat..”.

“Tapi ini―”.

“Hushh! Gwenchana! Sekarang, kembali ke kamarmu dan tidur. Semoga besok kau bisa menjadi gadis yang lebih kuat, ya?”.

“Eo? Gadis yang lebih kuat? Apa maksudnya?”.

“Tidak ada maksud apa-apa, ayo sana!”.

“Ya, baiklah. Annyeong!” Yoo Jung turun dari mobil.

Setelah Yoo Jung masuk ke dalam, Jungkook kembali menangis. Ia memukul stir mobil. Terlihat wajahnya semakin pucat.

“Maaf atas segalanya.. Maaf karena kau harus lebih sabar juga kuat esok hari, juga seterusnya. Satu yang perlu kau ketahui, bahkan ketika nafasku berhenti juga jantungku berhenti berdetak, kau yang akan ku-khawatirkan selalu..” lirih Jungkook pelan.

.

.

 

Ke-esokan paginya, Yoo Jung terbangun dari tidurnya. Dia terbangun karena Sungkyung.

“Hoamm.. Sungkyung? Kenapa membangunkanku? Yakk, kenapa kau menangis?” Yoo Jung bertanya.

“Eon–nnie.. Hikss, hikss..” Sungkyung hanya menangis.

“Wae? Kenapa kau menangis? Cerita padaku!” paksa Yoo Jung.

“Ikut aku,” Sungkyung menarik lengan Yoo Jung.

Mereka menuju kamar Jungkook. Yoo Jung sedikit keheranan karena melihat anak-anak menangis di luar kamar Jungkook.

“Kenapa ke kamar Jungkook?” Yoo Jung bertanya.

“Eonni, silahkan eonni masuk. Tetapi, eonni yang tabah, ya?” Sungkyung menangis.

Yoo Jung mengangguk ragu. Begitu membuka pintu kamar Jungkook, di dalam sana sudah ada Ny. Jeon yang memegangi tangan Jungkook serta Jungkook yang masih tertidur sangat lelap.

“Ahjumma? Kenapa ahjumma menangis?” Yoo Jung menyentuh pundak Ny. Jeon.

“Yoo Jung-ie.. Jungkook.. J–jungkook..” Ny. Jeon memeluk Yoo Jung.

“Kenapa dengan Jungkook?” paksa Yoo Jung. “Kenapa semuanya menangis? Ada apa?”.

Setelah Ny. Jeon menjelaskan, kaki-kaki Yoo Jung tak bisa menyangga tubuhnya lagi. Dia berharap ini hanya mimpi buruk. Ini berita yang lebih kelam daripada apapun.

Mereka bilang Jungkook terkena penyakit kanker otak. Perlu waktu untuk mencerna, sampai akhirnya Yoo Jung terpaku, mengeluarkan air mata lalu menatap Jungkook. Kakinya melemas, untuk sesaat, dia tidak bisa bernafas dan hampir lupa cara bernafas. Dia menatap Jungkook dengan tatapan sendu. Jungkook sudah tiada….untuk selamanya…

“JUNGKOOK! KENAPA KAU PERGI? KENAPA KAU MENINGGALKANKU? KENAPA KAU BERBOHONG PADAKU? KENAPA KAU TIDAK PERNAH CERITA PADAKU KALAU KAU TERKENA KANKER OTAK? KENAPA KAU TIDAK JUJUR PADAKU DARI AWAL?” Yoo Jung menangis seraya menggoncangkan tubuh Jungkook yang sudah terbujur kaku.

Sakit kepala yang Jungkook alami, gerakan Jungkook yang lambat, wajah pucat Jungkook, itu semua karena kanker otak yang Jungkook alami. Untuk sesaat, Yoo Jung mengerti kenapa kemarin Jungkook menangis, mengapa Jungkook bertanya di Bianglala kemarin. Jungkook mempunyai firasat kalau besok ia akan meninggalkan dunia ini selamanya. Ia sengaja tidak meminum obatnya karena ia tidak ingin bergantung dengan obat-obatan lagi. Sudah cukup untuk meminum obat selama 12 tahun, dan sekarang Jungkook tidak ingin minum obat lagi.

Seakan belati yang sudah diasah agar tajam tertancap di dalam lubuk hati Yoo Jung yang paling dalam. Kaki-kakinya melemas dan dia hampir ambruk ke tanah, beruntungnya Ny. Jeon membantunya duduk di kursi.

“Kenapa ahjumma tidak pernah bilang padaku, kalau..kalau Jungkook terkena kanker otak?” lirih Yoo Jung pilu.

“Jungkook melarang ahjumma memberitahumu. Dia bilang, biarkan kau sendiri yang mengetahui kebenarannya..” isak Ny. Jeon.

Yoo Jung terdiam. Ny. Jeon berlalu. Dia merasa, dia harus meninggalkan Yoo Jung sendirian juga dengan Jungkook yang sudah tak sadar.

“KAU JAHAT, KOOKIE! KAU MERAHASIAKAN SEBUAH RAHASIA BESAR YANG MENYAKITKAN DARIKU! KENAPA? KENAPA KAU LAKUKAN ITU, EO? MENGAPA? SETIDAKNYA, AKU AKAN MEMANFAATKAN WAKTU BERSAMAMU LEBIH BANYAK! SETIDAKNYA, KALAU AKU TAHU, HATIKU TIDAK AKAN MENYAKITKAN SEPERTI INI! INI MENYAKITKAN! TERLEBIH LAGI AKU SEKARANG MENCINTAIMU! DISAAT AKU MERASAKAN CINTA, KAU MALAH PERGI DARIKU! SELAMANYA!” teriak Yoo Jung. Air matanya tak henti-henti keluar. Hidung dan matanya memerah. Dia begitu frustrasi.

Serasa baru kemarin dia dan Jungkook menaiki kuda bersama. Sekarang, Jungkook sudah terbujur kaku dengan segaris senyuman di wajahnya.

“Kenapa bukan aku duluan yang pergi? Kenapa, kenapa harus kau duluan?” lirih Yoo Jung pelan.

“Ingatkah kau ketika kau bertanya apakah kemarin seperti kencan? Jawabanku adalah, ya. Aku merasa itu kencan. Tetapi aku malu mengakuinya. Aku begitu malu. Aku berbohong padamu. Dan ingatkah kau ketika kemarin kita di Pantai? Kita duduk bersebelahan, bergenggaman tangan. Aku sangat menyukai dan menunggu moment itu. Aku berharap bahwa kita adalah sepasang kekasih..” gumam Yoo Jung.

“Aku menyesal, sangat menyesal! Aku menyesal karena seharusnya saat itu aku mengatakan ‘aku mencintaimu’..”.

“Jung-ie,” Ny. Jeon datang dan memegang pundak Yoo Jung. “Tabah dan kuatkan dirimu. Uri Kookie tidak akan kembali lagi walaupun kau melakukan segalanya. Kuatkan dirimu, sayang,”.

“Ahjumma..” Yoo Jung memeluk Ny. Jeon. Dia sangat terpukul.

“Menangislah, sayang. Menangislah. Keluarkan semua keluh-kesahmu.” Ny. Jeon mengelus rambut Yoo Jung. “Biarkan keluh-kesahmu keluar dengan airmatamu..”.

“Ahjumma, mengapa Jungkook harus pergi secepat ini?” Yoo Jung menangis.

“Kau harus kuat dan tabah, sayang.. Relakan Jungkook pergi. Biarkan dia pergi dengan tenang. Kalau tidak, dia tidak akan bahagia di sana..”.

“Eomma yakin, suatu saat nanti kalian pasti bisa bersatu. Walaupun bukan di dunia ini. Di kehidupan yang berikutnya,”.

Yoo Jung terdiam. Apa kata dari Ny. Jeon ada benarnya.

“Sebelum Jungkook menghembuskan nafas terakhirnya, dia meminta ahjumma untuk memberikan ini padamu.” Ny. Jeon memberikan sebuah surat juga CD.

“A–apa ini?”.

“Molla.. Mungkin ini pesan terakhir dari Jungkook untukmu.”.

.

.

Yoo Jung memasukkan CD dari Jungkook ke dalam laptop-nya. Video dari Jungkook. Perlahan, Yoo Jung membuka video itu.

Annyeong, Yoo Jung-ie.. Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kan?Maaf kalau tidak jujur padamu kalau aku memiliki penyakit kanker otak. Aku sengaja merahasiakannya agar kau tidak sedih. Maaf kalau aku hanya mengirimimu video dan surat. Tapi yang jelas isi keduanya sama. Kau tahu kenapa aku bisa pergi secepat ini?Kau masih ingat akan botol obat yang sering kubawa itu kan? Obat itu diibaratkan penyambung hidupku. Kalau aku tidak minum obat selama dua hari, aku akan pergi selamanya. Dan aku tidak minum obat itu selama dua hari. Aku tidak mau lagi bergantung dengan obat-obatan. Sudah 12 tahun aku bergantung dengan obat-obatan itu dan aku pergi selamanya hanya dengan tidak minum obat itu selama 2 hari. Lucu bukan?Oke, ke inti dari kubuat video ini. Masih ingatkan kau ketika kemarin kita menaiki bianglala dan kutanya apakah kau merasa ini seperti kencan?Aku berharap kau menjawab ‘ya’, tetapi jawabanmu ‘tidak’. Itu cukup membuatku sakit. Kau tahu kenapa? Aku mencintaimu. Tetapi kau bersikap layaknya kita hanya sahabat. Aku membuang obatku di Pantai kemarin. Aku tidak ingin bergantung dengan obat-obatan lagi. Dan itu karenamu! Aku merasa, kau tidak menyukaiku dan lebih baik aku mengakhiri hidupku dengan ini. Sebelumnya, terimakasih sudah mau menjadi orang pertama yang kucintai. Kuharap, kita bisa bersama di akhir nanti. Aku akan setia menunggumu. Kau juga ya, setia menungguku. Kalau kau merindukanku, lihat saja video ini. Sekali lagi, aku mencintaimu lebih dari apapun, Park Yoo Jung‘.

Kepala Yoo Jung kini tenggelam dalam lipatan tangannya. Isakan tangis keluar dari bibirnya. Ia menyesal. Seharusnya ia mengatakan kalau ia menganggap itu kencan, tetapi dia malu. Dia sangat menyesalinya. Seandainya waktu bisa berputar, dia akan mengatakan ‘Ya’ pada Jungkook. Dan ia sekarang hanya bisa melupakan Jungkook dalam ingatannya, tetapi tidak di hatinya. Yoo Jung sekarang hanya bisa menangis.

“Aku juga mencintaimu, Kookie..” lirih Yoo Jung pelan.

Perlu waktu lama untuk pulih, tetapi Yoo Jung merasa dia tidak akan bisa pulih dari pahitnya kenyataan ini bahwa Jungkook sudah tiada. Berkali-kali Yoo Jung menyesal, tetapi sesal di akhir tak ada gunanya. Jungkook sudah tiada untuk selamanya. Perlahan, Yoo Jung melempar asal surat itu ke ranjangnya, meraih mantelnya dan berjalan keluar. Tanpa Yoo Jung sadari, surat itu terbuka hampir lebar. Ada beberapa bait puisi yang tak Yoo Jung ketahui.

“Terimakasih karena kau sudah mau datang ke Rumah Kanker. Karena kau, aku bisa merasakan cinta. Kau datang membawa harapan bagiku. Aku hanya tahu cinta, tapi tak pernah merasakannya. Dan berkat dirimu, aku sudah merasakannya.

Terimakasih karena kau begitu perhatian padaku. Kau bertanya kenapa aku kelihatan pucat, kenapa aku begitu lemas, kenapa aku begitu lelah. Kau peduli padaku.

Terimakasih karena kau mau menemaniku untuk dua minggu terakhirku di Dunia ini. Terimakasih kau sudah mau menemaniku di hari terakhirku hidup dan menghembuskan nafas.

Seandainya kau tahu bahwa aku mencintaimu. Tulus dari hatiku yang terdalam. Aku mencintaimu bukan karena kau wanita yang sempurna karena terhormat, cantik juga kaya raya. Aku mencintaimu karena kau sempurna. Dan yang membuatmu sempurna adalah kebaikan hatimu, kelembutan sifat juga kehangatan yang kurasakan. Aku nyaman di dekatmu dan aku tidak ingin berpisah darimu. Walau sedetik.

Sedetik bagiku untuk menghabiskan waktu bersamamu sangat penting juga perlu. Mungkin kita bisa mengulang di hari yang sama, bulan yang sama di tahun berikutnya. Tetapi, hari ini hanya terjadi sekali, seumur hidup. Dan hanya aku yang merasakan bahwa waktu berjalan begitu cepat, tetapi orang-orang merasakan bahwa waktu berjalan lambat. Dan aku mensyukuri bahwa setidaknya aku pernah bersamamu.

Semoga kita bisa bertemu di kehidupan selanjutnya. Semoga kau tidak melupakanku. Semoga kau mengingatku sebagai seseorang yang mengubah hidupmu.

Maaf, aku tidak bisa menemanimu untuk hidup bersama. Maaf aku harus meninggalkanmu sendirian. Tetapi satu hal yang perlu kau ketahui, hanya kau yang kucinta.. Sekali lagi, maaf, maaf, maaf… Sampai jumpa, Park Yoo Jung..”

.

.

 

“I Just Need One Day To Spend My Last Time With You,” – Just One Day –

THE END

_____________

 

3 responses to “[Freelance] Just One Day

  1. wooooooooooooooooooah,,,
    heol~~ sedih banget sumpaaaah,, ini cerita apa siih hiks~~
    udah tau padahal kalo kokkie bakalan meninggal,, tp ini ceritanya kenapa begini ~~~
    T.T
    sedih banget,, dan warning sediain tissue itu bener banget sumpah..

    makasih buat nulis FF ini yaaaa,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s