[Freelance] Our Love

Our Love

Our Love

Title : Our Love
Author : Dhechan (Twitter: @RistuDini)
Cast : Oh Sehun (EXO), Oh Nahyun (OC)
Genre : Marriage Life, Romance
Rating : General
Length : Ficlet
Diclaimer : This story is mine. Really.

Happy reading guys. Hope you’ll like this absurd fanfic J

Udara malam yang dingin merayap masuk ke dalam setiap kamar di apartemen mewah itu melewati celah yang ada. Menebar rasa enggan bagi siapapun yang ingin keluar walau itu hanya sedetik. Cuaca di luar sana memang sedang tidak bersahabat, begitu tak menentu. Langit sebentar-sebentar menangis lalu kembali reda dengan sendirinya. Membuat semua orang bingung, begitu juga dengan bumi yang mulai menatapnya khawatir. Namun semua itu tak mengurangi niatan seorang wanita yang sudah siap dengan balck dress di tubuhnya. Kim Nahyun, atau lebih tepatnya Oh Nahyun, mendudukkan diri di kursi rias. Hanya butuh sedikit polesan, maka wajahnya yang sudah cantik akan semakin sempurna.

Gerakan tangan Nahyun yang sedang memakai mascara terhenti ketika gendang telinganya menangkap getaran suara yang berasal dari pintu kamar. Saat ia menoleh, saat itu pulalah senyumnya mengembang. Oh Sehun, suami tercintanya itu mendengus pelan. Mencoba menghempaskan rasa lelahnya agar melebur bersama udara malam ini. Matanya dengan cepat menangkap senyum manis Nahyun. Seperti biasa, tubuhnya akan tersihir, walau terasa remuk namun ia pasti selalu mampu untuk bergerak ke arah wanita itu.

Nahyun beranjak, ikut berjalan mendekati Sehun yang juga menghampirinya. Masih dengan senyuman yang terpampang di paras si cantik itu. “Selamat datang, Oh Sehun.”

Sehun merengkuh tubuh Nahyun erat, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Dress bahu terbuka yang Nahyun kenakan, membuat Sehun dengan mudah menemukan aroma tubuh yang selama berada di London sangat ia rindukan. Sehun menarik Nahyun lebih dalam untuk masuk ke dekapannya. “Aku merindukanmu, Nahyun. Oh Tuhan, aku sangat merindukanmu.”

“Baru dua minggu berpisah dan kau sudah serindu ini?” goda Nahyun sambil membalas pelukan Sehun.

“Terasa seperti dua puluh tahun untukku.”

“Kau berlebihan, Oh Sehun.” Nahyun tertawa kecil. “Tapi senang melihatmu di sini karena, jujur saja, aku juga merindukanmu, suamiku.”

Sehun tersenyum. Ia kemudian melonggarkan pelukannya. Memandangi  Nahyun dengan teliti, menilai penampilan Nahyun saat ini. Sehun tahu bahwa wanita ini hanya akan berdandan jika ia ingin pergi keluar, menemui seseorang yang dirasa penting baginya. “Lalu apa ini? Apa kau berencana pergi? Aku tahu kau tidak akan berpenampilan seperti ini hanya untuk menyambut kedatanganku.”

Senyum di bibir Nahyun perlahan memudar. Namun, ia sudah bertekad akan menemui orang itu. Dan sudah tentu Sehun juga harus tahu. “Aku, aku akan bertemu dengan ibumu malam ini.”

“Apa?” tanyanya penuh akan keterkejutan. Hingga kemudian tatapannya berubah tajam. “Tidak.”

“Sehun – “

“Kau tidak akan kemanapun malam ini.” ucap Sehun tegas.

“Tidak Sehun. Kali ini berbeda, ibumu sudah berubah.”

“Dan kau percaya padanya?” Sehun tertawa mengejek. “Aku tahu bagaimana sifat wanita itu, Oh Nahyun. Dia akan melakukan segalanya untuk memenuhi apa yang dia mau. Dia akan membawamu pergi lagi, menjauhkanmu dariku lagi.” Suara Sehun melirih, kepalanya mulai merunduk sambil menggeleng lemah. “Aku tidak mau.”

Nahyun melihatnya di sana, dalam mata Sehun. Ada rasa takut yang terpancar dari dalam sana. Nahyun tahu, ibu Sehun sangat menentang hubungan diantara mereka. Semua karena ayah Nahyun yang sempat membuat perusahaan Ayah sehun berada di ambang kehancuran. Wanita itu adalah wanita keras kepala yang terobsesi pada uang. Tidak heran jika ia mendendam pada Ayah Nahyun yang membuatnya terancam menjadi orang miskin. Dan parahnya, rasa dendam itu masih terjaga hingga Nahyun dan Sehun menikah.

Ibu Sehun membenci Nahyun, sangat membencinya. Bahkan setahun lalu Ia tega membawa pergi menantunya itu menjauh dari anaknya. Mengisolasinya di sebuah rumah besar di Jerman dengan banyak pengawal bertubuh besar, yang mencoba  memupuskan keinginan Nahyun untuk melarikan diri. Nahyun pernah mencobanya, kabur dari sana. Namun nasib sialnya saat itu masih enggan menjauhinya, hingga salah satu pengawal berhasil membawanya pulang. Melaporkan kejadian itu pada ibu Sehun dan membuatnya terbang melintasi pulau hanya agar ia bisa menghukum Nahyun dengan tangannya sendiri.

Tangan kanan Nahyun terangkat, mengusap pipi Sehun lembut. Membuat pandangan Sehun kembali bertubrukan dengan iris indah Nahyun yang menenangkan. “Sekalipun dia hanya berpura-pura berubah, aku akan tetap meyakinkannya. Akan kuyakinkan padanya bahwa aku bisa membuat putranya bahagia dengan hidup bersamaku. Akan kubuat putra kesayangannya ini kepayahan dalam menerima cinta yang kuberikan padanya di setiap hari, jam, menit, dan detik yang berjalan. Dan tak akan pernah berhenti bahkan sampai hela napasku tak terdengar lagi. Oh, betapa aku mencintaimu, Sehun.” Isakan kecil mulai terdengar dari bibir Nahyun.

Sehun mencium telapak tangan juga pergelangan tangan Nahyun. Menangkup wajah Nahyun lalu mencium kedua matanya yang sedikit berair. Menyatukan dahi mereka sebentar sebelum akhirnya mempertemukan bibirnya dengan bibir Nahyun. Dengan niatan hanya ingin meredakan isak tangis sang istri. Namun rasa rindunya sedang mendominasi saat ini, mendorongnya untuk melumat bibir Nahyun lembut. Menggerakkan kepalanya sekaligus kepala Nahyun ke kanan dan ke kiri untuk sekedar mendapatkan oksigen. Menarik Nahyun agar ia bisa lebih bebas menikmati bibir itu. Saat dirasa isakan tangis Nahyun sudah berhenti juga kerinduan yang perlahan terobati, Sehun menghentikan gerakan bibirnya lalu mengecup bibir Nahyun sekali lagi.

Sehun mengerang frustasi, masih merasa tak rela. “Biarkan aku ikut.”

“Tidak, Sehun. Kau baru saja pulang dari London. Kau, tubuh dan pikiranmu ini pasti lelah. Istirahat saja, hm?” Nahyun membuka kancing paling atas kemeja hitam Sehun yang masih terkait, hanya agar Sehun tak merasa semakin tercekik.

“Berjanjilah kau akan baik-baik saja.”

“Aku berjanji aku akan baik-baik saja.”

“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku.”

“Sehun – “

“Berjanjilah, Nahyun. Aku sedang ketakutan.”

“Aku berjanji aku tidak akan meninggalkanmu.”

Dapat Nahyun dengar helaan napas lega yang keluar dari mulut Sehun. “Bagus. Kau boleh pergi. Jangan lupa mantelmu. Cuaca di luar sedang tidak baik.”

Nahyun tersenyum lalu mengangguk pelan. “Aku tahu. Aku sudah menyiapkannya.”

Sehun menarik tangan Nahyun ke tempat tidur mereka. Mendudukkan Nahyun disana lalu memakaikannya sepatu, sedang Nahyun memakai mantel juga mengecek notifikasi di ponselnya. Setelah selesai, Sehun mengantar Nahyun hingga ke depan pintu apartemen mereka. Tangannya masih saja menggenggam erat tangan istrinya. Memandangi wajahnya selama lima menit saat mereka sudah di dekat pintu, memeluknya lagi, memberikan bertubi-tubi ciuman dibanyak tempat di wajah Nahyun. Hingga akhirnya berakhir di bibir wanita itu, menciumnya cukup lama.

Mata mereka bertemu pandang saat Sehun menarik diri. Nahyun melempar senyum. “Aku akan segera kembali.”

“Hubungi aku jika terjadi sesuatu.” Ucapnya sedikit cemas.

Nahyun mengangguk dua kali lalu berjalan menuju pintu, bahkan genggaman tangan Sehun masih ada bersamanya. Dia berbalik dan tersenyum lagi, membuat genggaman itu terlepas. Sehun menghela napas pelan namun kemudian senyum pun akhirnya muncul di bibirnya yang tipis. Kembali memberikan Nahyun kekuatan untuk menghadapi wanita yang ia hormati selain ibunya sendiri, Ibu Sehun.

Ia akui, ada rasa takut yang sedang menyelinap dalam hatinya sekarang. Ia sama khawatirnya dengan Sehun, sama takutnya dengan lelaki itu akan kehilangan satu sama lain. Tetapi setahunya, Sehun adalah miliknya dan dia adalah milik Sehun. Tidak ada satupun yang bisa mengubah hal itu, tidak juga ibu Sehun. Pada akhirnya cinta Nahyun dan Sehun lah yang akan menundukkan wanita keras kepala itu. Membuat hati yang selama ini beku mencair dengan  hangatnya kasih sayang yang selalu mengalir untuknya. Hingga kemudian, senyum cantik sang Ibu akan kembali hadir dengan ketulusan di setiap kebersamaan.

FIN

Aaaaaa……… Apa ini???

Gaje banget dah ceritanya. Hehe. Lagi mood buat FF tentang si maknae Oh Sehun dan jadilah cerita inih. Maap yak kalo misal ceritanya ngga bagus #emang

Makasih yang udah baca sampai akhir, makasih bangets. Oh iya jangan lupa kasih komen kalian yaa guys. See ya(?) ahaha

 

26 responses to “[Freelance] Our Love

  1. aaah….sedih deh, moga aja ibu sehun bisa mnerima kbersamaan mereka….
    ibu mna yg tega memisahkan wanita yg dicintai putranya sndiri hnya karna dendam semata…
    moga beliau sadar dan luluh hatinya🙂

    • Iya moga aja deh.
      Sehun kan cinta ma nahyun, pasti ibu nya bakal ngerti kok…🙂
      Makasih yaa komennya

  2. siapa blg ga bagus? bgus kok ceritanya thor, tgl ditmbahin sequel aja_ ini critanya blum mndptkn titik terang_ haha *kodeBiarDilanjutinKisahnya hehe

  3. keren bgt dah….baguuuusss👍👍👍👍
    akankah ibu Sehun menerima keberadaan Nahyun yg notabene ny istri sah Sehun? tanpa harus memisahkanny lagi?? #ngemeng apa wkwkwkwk
    ada lanjutanny dong..hehe

  4. LANJUTTTT DONGGGG HUHUHU INI KENAPA JADI IKUT KETAAKUTAN YAAA HUFT. Beneran deh asli jadi ikut ketakutan sendiri, rencana pertama yg nyekap di jerman aja tuh udah unexpected banget ya ini kalo sampe ada rencana kedua ga bakal kebayang sedihnya. Semangat terusss kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s