[Freelance] The Apollo

the apollo

Title : The Apollo
Author/twitter : husnaa (@HusnaNafiahM)
Cast : Gongchan (B1A4), Jae In (OC)
Genre : Romance
Rating : General
Length : ±3.000 words
Disclaimer : Making this one with my very own imagination

Suara bising memenuhi ruangan. Penuh bisik-bisik keraguan. Dan ditengah hiruk pikuk itu, seorang lelaki tetap bergeming. Seolah tak memberikan sedikit pun sesenti rasa peduli terhadap lingkungannya. Tidak, bukan hanya seolah. Lelaki dengan busur di tangan itu memang tidak peduli. Konsentrasinya tertumpu pada papan bundar berjarak 2 meter di depannya. Menghembuskan napas pelan, dan menarik busurnya perlahan. Yang dengan perlahan pula menarik atensi para penonton. Kerumunan itu terdiam. Dia akan melakukannya, lihat baik-baik!

Tiga.

Dua.

Satu.

Tangannya melepas anak panah, meluncur lurus ke tujuan. Dan tanpa sempat merasa terperangah, anak panah itu menembus titik tengah, menusuk papan itu dengan tajam. Nilai sempurna. Dan sorakan sekaligus tundukan kecewa pun tampak, reaksi yang biasa. Yang tak biasa adalah bagaimana lelaki pencetak nilai sempurna itu hanya terdiam. Menghela napas lega sebelum memberikan hormat ke penonton dan memasuki ruang istirahat.

***

Pundaknya tersandar, kepalanya menengadah. Sungguh pertandingan yang melelahkan setelah dirinya harus berkonsentrasi penuh demi mengalahkan salah satu pemanah unggulan tanah Tiongkok.

Well done, Gong-kyuun!” sebuah tepukan ringan menyentuh pundaknya. Seorang lelaki berkesan ceria mengambil tempat di sebelahnya, menawarkan minuman dingin.

“Haruskah kita berkenalan kembali. Aku sudah mengatakannya berkali-kali, namaku bukan ‘Gong-kyuun’. Ryu Gongchan, bodoh! Ryu Gongchan!”  pemanah bernama Gongchan itu berseru kesal, menggerutu. Menerima uluran minuman dingin itu dan menenggaknya. Lelaki di sebelahnya tertawa ringan, matanya seakan hilang ditelan gelak tawanya. Sementara Gongchan hanya menatap sahabatnya datar, tidak mengerti apa yang lucu dari perkataannya.

“Itu tidak lucu, Baekhyun-a. Berhentilah tertawa! Kau tahu aku butuh ketenangan di saat-saat seperti ini.” Gongchan berseru keras, merasa terganggu dengan tawa Baekhyun di sebelahnya. Baekhyun tertegun, tawanya terhenti. Tidak, tentu saja bukan nada ketus dari Gongchan yang membuatnya tertegun. Telinganya sudah kebal dengan nada sarkastik ‘kebanggan’ sahabatnya itu. Yang membuatnya tertegun adalah kalimat di dalamnya. Kalimat yang menyuruh Byun Baekhyun berhenti tertawa. Netra Baekhyun menatap Gongchan lamat-lamat. Meskipun Baekhyun tahu Gongchan tak terlalu menyukai suara tawanya, tapi ia juga cukup tahu bahwa Gongchan tak akan menyuruhnya berhenti tertawa.

That’s your nature, Baek. I have no reason to interfere that laugh of yours. Baekhyun mengernyit heran, mengingat kalimat penghiburan Gongchan yang dulu pernah ia utarakan saat Baekhyun bertanya-tanya tentang suara tawanya yang dianggap mengganggu oleh banyak orang. Bagaimana mungkin Gongchan yang itu sama dengan Gongchan yang sedang duduk di sebelahnya?

“Gongchan-a, apakah ada yang terjadi? Apakah kau demam? Atau mungkin bahumu cidera? Haruskah kupanggilkan dokter?” mulut Baekhyun bergerak cepat, tangannya ia letakkan di dahi Gongchan. Kemudian beralih ke bahu Gongchan, memegangnya pelan. Melihat reaksi Gongchan yang mungkin kesakitan. Sayangnya, bukan tatapan menyenangkan yang ia terima dari Gongchan, melainkan tatapan tajam. Baekhyun menelan ludah, tangannya perlahan kembali ke tempat yang seharusnya.

“Aku mau mandi.” Gongchan berucap singkat sebelum kemudian beranjak dan menghilang dibalik pintu kamar mandi. Meninggalkan Baekhyun yang menghela napas khawatir. Gongchan sedang tidak baik-baik saja, batinnya.

***

Kawasan Hongdae penuh sesak seperti biasa. Muda-mudi dengan tawa riang terlihat di setiap sudutnya. Terlebih keberadaan kafe-kafe yang meskipun terletak di ujung jalan tetap terlihat penuh oleh pengunjung. Membuat seorang wanita berjaket denim dan bercelana jeans di dalamnya menggerutu. Menyesal telah menyetujui ajakan adiknya untuk mencoba makanan di kafe ini. Tempat ini terlalu ramai. Dan wanita berwajah Asia Tenggara itu tak suka tempat ramai. Terlebih jika dipenuhi anak-anak muda dengan dandanan nyentrik yang membuatnya pusing.

“Hah, anak-anak muda jaman sekarang memang gila. Mereka hampir saja menjatuhkan pesananku dan bahkan tidak mengucapkan permintaan maaf. Mau dibawa kemana Korea Selatan di masa depan.” Gadis dengan rambut pendek tergerai itu bersungut-sungut, tangannya terisi oleh pesanan mereka. Mengambil tempat duduk di sebelah wanita itu. Bahkan jika dilihat dari jauh pun, seseorang dapat langsung menyimpulkan bahwa mereka berdua memiliki keturunan darah yang sama. Terlihat dari kulit mereka yang sama-sama coklat, berbeda dengan kebanyakan orang Asia Timur dan juga tatapan jutek yang terpancar dari iris mereka.

“Bukankah sudah kubilang, tempat seperti ini tidak akan terasa menyenangkan untuk kita berdua, Jae Ha-ya.” Wanita dengan kesan dewasa itu mengambil segelas hot choco yang dibawa adiknya. Sementara Jae Ha mengendikkan bahu pelan, namanya juga coba-coba.

“Lagipula apa yang membuatmu menyeretku kesini? Tidakkah mengundangku ke apartemenmu sudah cukup?” seruan datar menyentuh daun telinga Jae Ha. Kakaknya menatap sekeliling dengan pandangan risih. Meja di sampingnya penuh dengan muda-mudi berpacaran. Sungguh jengah melihatnya. Jae Ha menyeruput kopinya pelan. Membiarkan pertanyaan kakaknya menguap ke langit-langit kafe bernuansa retro itu.

“Ibu bilang aku harus mengajak kakak bersosialisasi dengan dunia luar. Jadi aku memutuskan untuk mengajakmu kesini. Maaf saja jika disini terlalu banyak orang, aku bahkan tidak mengira akan sepenuh ini. Lagipula Kak Jae In sendiri yang bilang terserah padaku mau bertemu dimana.” Jae Ha menjawab santai. Walaupun Jae Ha akui, ia juga tidak suka tempat ini. Ramai bukan masalah baginya, hanya saja tempat ini terlalu ramai sampai sampai bergerak pun susah. Ia sedikit menyesal.

Jae In yang mendengar penuturan adiknya melengos. Memutar mata hitamnya. “Hanya karena itu? Tidakkah ibu keterlaluan? Dan, lagi. Kapan ibu menghubungimu? Aku bahkan tidak mendapat kabar darinya 2 minggu terakhir.” Jae In melahap sesendok kue-entah-apa-namanya yang dipesan Jae Ha. Ayah dan ibu mereka memang tidak tinggal bersama mereka lagi. Lebih tepatnya, mereka saat ini menikmati masa pensiun di tanah kelahiran sang ibu. Indonesia. Hal itu pulalah yang membuat penampilan fisik Jae In dan Jae Ha berbeda dari orang Asia Timur pada umumnya. Kakak-beradik itu memiliki darah Indonesia dan menghabiskan masa kecil mereka disana. Dan fakta bahwa mereka memiliki darah Indonesia membuat mereka lebih sering menggunakan bahasa Indonesia saat mengobrol berdua.

Aw, aku rasa ibu mulai memperhatikanku. Aku tersentuh.” Nada sarkastik Jae Ha keluar dari mulut  mungilnya. Jae In melotot kesal, penuturan adiknya memang ada benarnya. Karena ibu mereka lebih sering menumpahkan perhatian kepada sang kakak. Sementara sang adik lebih sering bermain dengan ayah mereka. Cukup impas, bukan?

“Terserah kau sajalah.” Tangan Jae In kembali bergerak, bersiap menyuapkan sepotong kue ke mulutnya. Jae Ha menatap kakaknya diam. Berpikir sejenak, memaksa otaknya untuk mengingat suatu hal.

“Kak….” Jae In menoleh mendengar suara adiknya.

“Eum, bukankah kau benci kue? Aku bahkan memesankan macaroons karena kukira kau masih membenci kue.” Jae Ha bertanya penasaran. Menatap kakaknya yang membatu mendengar kalimat Jae Ha. Jae In benar-benar lupa bahwa kue is not her thing dan dia bahkan membenci rasa kelewat manis yang selalu ada di dalam kue.

“Apakah sekarang Kakak suka makan kue?” pertanyaan kembali terlontar. Jae In termangu sejenak, sebelum kemudian menggeleng pelan.

“Tidak, aku masih membenci benda ini. Tempat ini terlalu berisik sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa aku memakan kue. Kau tahu kan, konsentrasiku gampang terpecah.” Jae In menjawab serius. Walaupun dalam hati ia merutuk, sungguh alasan yang bodoh. Mana mungkin adiknya akan percaya. Jae Ha menatap menyelidik. Tidak percaya dengan ucapan Jae In. Kakaknya sungguh payah dalam hal berbohong, Jae Ha tertawa pelan.

“Baiklah, kita anggap saja seperti itu.” Jae In tersenyum simpul mendengar penuturan adiknya. Jae Ha terkekeh pelan melihat kakaknya tersenyum. Walaupun Jae Ha yakin, hati kakaknya sedang tidak tersenyum. Kakaknya dalam masalah. Entah masalah apa. Yang Jae Ha tahu, saat kakaknya dalam masalah, ia seakan kehilangan konsentrasi dan tidak bisa membedakan mana yang ia sukai dan mana yang ia benci. Seperti saat ini.

Kak Jae In tidak baik-baik saja, batin Jae Ha.

***

“Kapan kau kembali ke Korea?” Gongchan yang tengah mengeringkan rambutnya berhenti sejenak mendengar pertanyaan Baekhyun.

“Pukul sembilan malam. Kami akan melakukan sedikit perayaan, jadi begitulah. Kau tahu sendiri.” Gongchan menjawab sekenanya. Baekhyun manggut-manggut.

“Baiklah. Aku harap kau tidak minum terlalu banyak. Aku pergi dulu, sobat!” Baekhyun menepuk bahu Gongchan pelan sebelum meninggalkan ruangan itu. Gongchan melambaikan tangan pelan.

Belum 30 detik, kepala Baekhyun kembali muncul. Mulut Gongchan sudah hendak bertanya saat kalimat Baekhyun terlontar lebih cepat darinya.

“Jangan lupakan istrimu di rumah, Gongchan-a!” Baekhyun tersenyum, melambaikan tangan pelan. Kemudian ia benar-benar pergi. Meninggalkan Gongchan yang terpaku dengan kalimat Baekhyun. Bagaimana mungkin ia lupa?

***

//satu minggu yang lalu//

Warna krem mendominasi kamar dengan dua jendela besar itu. Ranjang king sizenya terlihat penuh oleh pakaian lelaki, entah kemeja, kaos oblong, bahkan boxer pun tersebar. Sungguh tidak memberikan kesan rapi sama sekali. Dan di tengah berantakannya kamar, Gongchan tengah mematut diri di cermin lemari. Sibuk memilih baju mana yang akan ia bawa untuk turnamen satu minggunya di Jepang. Melempar asal baju yang ia rasa tidak cocok. Sungguh, itu memang salah satu kebiasaan buruk Gongchan. Tidak menaruh barang ke tempat asalnya dengan benar.

Lima menit berlalu. Gongchan tersenyum puas. Sederetan baju dan celana tersusun di atas ranjang. Ia telah selesai memilah baju. Hanya tinggal mengepak dan semua beres. Gongchan terkekeh senang melihat deretan outfitnya selama di Jepang nanti.

“Oh tidak!” pekikan kecil menghapus seringai senang Gongchan. Wanita dengan ‘gelar’ sebagai istrinya merangsek masuk. Mata tajamnya menelusuri sudut-sudut kamar dan berakhir di mata Gongchan. Melotot kesal. Gongchan memutar matanya, bertanya ‘kenapa’ dalam gerakan mulut. Menantang sang istri.

“Please, Mr.Ryu. Hari ini kau akan pergi ke Jepang dan kalau aku tidak salah ingat, kau pergi untuk mengikuti turnamen. Tolong koreksi jika aku salah.” Istri Gongchan berkata tajam. Melipat tangannya di dada. Gongchan mengangguk pelan, mengangkat bahunya.

“Dan kau pergi untuk turnamen, bukan untuk berwisata. Tak bisakah kau memilih baju seperlunya. It’s not like you’ll stay there forever, tho.” Omelan kembali terdengar. Gongchan hanya mendengus tak peduli.

“Aku yang akan membereskannya, Jae In-ssi.” Gongchan balas menatap istrinya tajam. Tak mau kalah. Jae In menghela nafas. Memutuskan berlalu pergi sembari berbisik kesal, terserah kau saja.

***

Jam menunjukkan pukul 3 sore. Gongchan bergegas menarik kopernya, sudah saatnya ia pergi ke bandara.

“Berapa lama turnamen itu berlangsung?”Jae In bertanya singkat.

“Seminggu.”

“Baiklah. Akan kupastikan untuk meneleponmu setiap‒” ucapan Jae In terpotong saat dengan lantangnya Gongchan menolak keras.

“Tidak usah. It’s not like we’re mutual after all.”Jawaban pendek Gongchan seakan menohok hati Jae In. Ia tercenung sejenak. Benar, lagipula Gongchan dan Jae In menikah atas dasar perjodohan. Untuk apa Jae In harus mengecek keadaan Gongchan tiap hari.

“………….Okay. Have a good match, Mr.Ryu.”Jae In tersenyum kecil.

***

Ting!

Denting nyaring terdengar di tengah hiruk pikuk manusia. Jae In melihat handphonenya sekilas. Pesan singkat.

From   : Baek

Pesawatnya berangkat pukul 9.

Jae In mengernyit heran membaca pesan dari Baekhyun, sahabat suaminya. Jae Ha yang melihat kerutan di dahi kakaknya memajukan badan dan melihat pesan tersebut. Jae Ha yang melihat pesan tersebut terpekik, mengingat sesuatu. Tangannya merogoh saku, mengambil telepon genggamnya dan mengetikkan sesuatu. Jae In hanya menatap adiknya penasaran. Rasa penasaran Jae In tidak berlangsung lama karena tiba-tiba tangan berisi handphone Jae Ha terulur ke arahnya.

Mata Jae In tertuju akan artikel yang terpampang di depan matanya.

‘The Apollo of South Korea’ Kembali Merebut Gelar Bergengsi…..

Jae In tidak tertarik dengan lanjutan judul artikel itu, 5 kata di awal judul sudah cukup untuk membuat jantungnya berdegup kencang. ‘The Apollo of South Korea’, itu berarti Gongchan. Dan Jae In teringat, bahwa hari ini Gongchan pulang. Setelah satu minggu mengikuti turnamen di Jepang. Setelah satu minggu menghilang tanpa kabar. Jae In sungguh lupa. Mata hitam pekatnya mengerjap.

“Gongchan oppa memenangkan pertandingan. Dan aku rasa, pesan dari Baekhyun oppa terkait dengan kepulangannya. Tidakkah kakak seharusnya menyiapkan makanan perayaan untuknya?” Jae Ha menyelutuk pelan sembari mencolek tangan kakaknya yang terlihat melamun.

“Kenapa aku harus memasak untuknya.” Jae Ha yang mendengar itu tertawa.

“Sudahlah. Aku pulang dulu, Kak. Terserah kau mau disini atau menyiapkan makanan untuk suamimu. Dah!” Jae Ha beranjak dari tempat duduknya, melambaikan tangan. Dan Jae Ha cukup yakin, kakaknya akan baik-baik saja setelah ini.

***

Gongchan terus membungkukkan badan, mengucapkan terimakasih. Tersenyum ramah saat ada yang memberikan ucapan selamat. Bilang bahwa ini semua berkat kerja keras pelatih, tim medis, dan semua staf tim. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari dirinya. Pesta sudah hampir selesai. Dan Gongchan sedang bersiap untuk segera pergi ke bandara. Entah mengapa ia tidak ingin pulang telat kali ini. Tentu saja bukan karena matanya sudah tak sabar melihat Jae In, tentu saja bukan karena satu itu. Akal sehatnya membantah kuat-kuat pernyataan bahwa ia merindukan istrinya. Padahal hatinya entah sudah berapa kali membenarkan. Dan tak bisa dipungkiri, hati Gongchan sedikit menyesal telah melarang istrinya untuk menelepon selama turnamen. Ia sedikit khawatir sekarang. Gongchan pun mengucapkan terimakasih untuk terakhir kali, kemudian segera meluncur ke bandara.

***

Wajah lelah tercetak jelas menghiasi kulit pucat milik Gongchan. Langkahnya gontai menuju luar bandara, mencoba mencari taksi yang bisa mengantarnya ke apartemen. Sungguh beruntung, sebuah taksi tepat berhenti di depannya. Seakan mengerti bahwa Gongchan sangat membutuhkan tumpangan.

Empat jam yang lalu, Gongchan sudah bersiap menunggu keberangkatannya di bandara. Namun sialnya, pesawat yang akan ditumpanginya harus melewati beberapa pengaturan di mesinnya. Apa mau dikata, Gongchan pun memutuskan untuk menunggu. Ia kira ini tidak akan berlangsung lama, mungkin 30 menit. Sayangnya, pesawat kembali beroperasi setelah tiga setengah jam mengalami prosedur pengaturan. Dan Gongchan sungguh merasa bodoh tidak menerima tawaran dari seorang penumpang lain untuk bertukar tiket dengannya hanya karena kelas yang berbeda.

Jadilah badannya terasa lelah. 30 menit perjalanan berlalu, taksi berhenti tepat di depan kawasan apartemennya. Gongchan mengucapkan terimakasih dan membayar fee. Ia segera memasuki gedung apartemen dan menaiki lift. Menuju lantai 10.

Tangannya menekan tombol-tombol angka kemudian ia memutar kenop pintu apartemennya. Sepi. Cahaya remang-remang memenuhi tempat ini. Dengan perlahan, ia meletakkan bawaannya begitu saja. Mata Gongchan memutari apartemen dan saat itulah tatapannya berhenti di ruang makan. Seorang wanita terlihat tertidur dengan kepala menghadap samping di atas meja, membelakangi Gongchan. Gongchan menelan ludah, memutuskan mendekat. Nafasnya tercekat saat melihat kue dengan tulisan congratulation juga terhadir di atas meja. Ia menahan senyum, memutuskan untuk duduk di sebelah istrinya. Memperhatikan baik-baik lekuk wajah istrinya. Kemudian meletakkan kepalanya di atas meja.

Mata Gongchan asyik memperhatikan saat perlahan-lahan mata istrinya mengerjap. Balas menatap Gongchan, sebelum kemudian tersenyum kecil. Dan demi Tuhan, Gongchan merasa darahnya berdesir hebat melihat senyuman itu.

“Gongchan-ie, selamat.” Suara lirih Jae In terdengar sebelum ia kembali terlelap dalam tidurnya. Gongchan tertegun. Jantungnya berdegup kencang, entah mengapa ia mati rasa mendengar ucapan istrinya. Terlebih ia terbiasa dengan panggilan ‘Mr.Ryu’ dari Jae In bukan panggilan akrab seperti ‘Gongchan-ie’. Kenyataan itu membuat jantungnya berdetak lebih kencang.

***

Gongchan menikmati kue coklat di meja makan. Setelah ia memindahkan Jae In ke kamar dan menyelimutinya dengan nyaman. Tak lupa, ia juga mematikan lampu kamar mereka. Tangannya hendak mengambil suapan terakhir saat suara lirih terdengar.

“Gong….”

“Gongchan…..”

Dengan cepat, Gongchan bergegas ke kamar. Mendekati sang istri yang terlihat tengah bermimpi buruk. Badannya menggigil dan mulutnya tak berhenti memanggil namanya. Entah Gongchan harus merasa senang atau takut saat ini. Ia pun memutuskan untuk duduk di dekat ranjang. Mencoba menenangkan Jae In.

Dalam gerakan tiba-tiba, tangan Jae In memegang erat ujung bajunya. Membuat Gongchan terperanjat kaget. Ia tergagap, bingung harus bagaimana. Dengan pelan, ia mencoba melepas genggaman tangan Jae In di bajunya. Yang sayangnya, justru tangan Jae In berpindah menggenggam tangan Gongchan. Seakan meminta kehangatan. Dan Gongchan, entah kenapa merasa malu. Bahkan saat tidak ada orang lain di dalam kamar mereka.

Satu jam berlalu. Dengan posisi Gongchan terduduk di tepi ranjang dan tangan yang digenggam erat oleh Jae In. Gongchan mulai merasa kebas. Dan ia juga harus istirahat. Ia menolehkan kepalanya ke arah Jae In, terlihat ragu-ragu. Baiklah, tekadnya dalam hati. Gongchan dengan hati-hati merebahkan diri di samping Jae In. Dengan tangan yang masih tergenggam. Gongchan tak membenci pegangan erat istrinya, sungguh. Tapi ia tak bisa tidur dengan posisi seperti ini. Ia pun perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Jae In. Untung, istrinya sudah mulai tenang dan tidak terlihat sedang bermimpi buruk. Gongchan membelai pelan surai Jae In. Menatap lamat-lamat wajah istrinya. Matanya yang tertutup, hidungnya yang kembang kempis, dan bibirnya. Bibir yang mengucap nama Gongchan saat pemiliknya bermimpi buruk. Gongchan tak tahu kenapa, tapi ia senang memikirkan hal itu.

Dan dengan gerakan cepat, bibirnya ia tempelkan di bibir Jae In. Hanya sekedar kecupan. Tapi cukup membuat Gongchan ketagihan.

***

Seruan lirih kembali terdengar di langit langit ruangan itu. Jae In kembali bermimpi buruk. Gongchan yang sedari tadi tak kunjung terlelap memutuskan lebih mendekatkan dirinya kepada Jae In. Seakan menawarkan badannya jikalau Jae In butuh pegangan. Benar. Jae In memang butuh pegangan. Yang tidak Gongchan perkirakan sebelumnya adalah, bahwa wanitanya tanpa disangka-sanga memeluknya erat, meletakkan kepalanya di leher Gongchan. Dan kemudian Jae In kembali tenang, seakan tidak ada mimpi buruk yang mengganggu tidurnya.

Gongchan terkesiap. Badannya panas merasakan nafas sang istri yang terlalu dekat. Dengan canggung, ia balas memeluk istrinya. Menepuk pelan punggung Jae In. Sebelum tanpa ia sadari, matanya ikut terlelap bersama Jae In di pelukannya.

***

Jae In terbangun dengan tatapan penuh heran. Bagaimana tidak? Hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah suaminya yang terlalu dekat. Terlebih saat ia mencoba menjauh, ia merasakan bahwa badannya tertahan oleh tangan kekar milik Gongchan yang bercokol di pinggangnya.

Wajah Jae In memanas. Apa-apaan ini?! bukankah aku sedang menunggunya tadi malam. Apakah aku tertidur? Jae In secara refleks meronta dan membuat Gongchan terganggu dengan polahnya. Tanpa Gongchan sadari tangannya justru menarik Jae In lebih dekat. Lebih erat. Jae In terkejut. Wajahnya memerah.

Mr.Ryu……” Jae In dengan suara lirih mencoba membangunkan Gongchan. Percuma, karena suaminya justru terdiam dan terlihat damai dalam tidurnya. Jae In kemudian memutuskan untuk menatap lamat-lamat suaminya. 6 bulan pernikahan-atas-dasar-perjodohan mereka dan baru sekali ini Jae In melihat wajah Gongchan dari dekat. Terlalu dekat malah. Tanpa Jae In sadari, jantungnya bertalu keras. Ia bahkan sampai khawatir Gongchan akan terbangun karenanya.

30 menit sudah Jae In menunggu Gongchan untuk bangun. Wanita itu mulai gelisah, ia kembali mencoba melepaskan pelukan Gongchan. Meronta. Dan kali ini, membuat Gongchan terbangun. Jae In yang terlalu fokus untuk melepaskan diri tidak menyadari bahwa suaminya telah terbangun dan tengah menatapnya dalam. Gongchan kembali mengeratkan pelukannya. Membuat Jae In memekik kecil. Kemudian mata gelap Jae In bertemu dengan mata coklat Gongchan. Mereka saling terdiam, seakan terkunci dengan tatapan masing-masing.

Pandangan Gongchan menelusuri wajah Jae In. Dan saat matanya berhenti di bibir Jae In. Tanpa ragu ia menciumnya perlahan. Mata Jae In membulat. Walaupun perlahan matanya tertutup, mengikuti lumatan yang Gongchan berikan padanya. Tangannya ia kalungkan erat di leher Gongchan.

Pagutan mereka terlepas, dan nafas terengah keluar dari mulut mereka.

“Tak bisakah kau menciumku setiap pagi mulai sekarang?” Suara serak Gongchan bertanya. Jae In masih mencoba bernafas. Ia sungguh tidak tahu bahwa suaminya, ‘The Apollo of South Koreais such a good kisser.

Why not, Mr.Ryu?” jawaban Jae In disambut dengan lumatan hangat dan pelukan erat yang membuat keduanya menyadari bahwa they’ve surely fallen for each other.

 

 

 

 

 

 

 

5 responses to “[Freelance] The Apollo

  1. jae in,jae ha

    berasa kayak baca novel you and i versi jae kwon jadi cewek *abaikan

    kkk

    suka deh sama alur ceritanya

    ngalir gitu aja, pas banget komposisinya(?)

    apalagi gongchan aiiiiiiiyo

    ditunggu karya selanjutnya ya kak ^^

    • uwaaaa, nuwun ya deyaa:”” seneng banget ada yang komen. hehehe, tunggu karyaku selanjutnya ya^^

  2. ff ini lumayan jga.
    Tidak jelek, tpi tidak terlalu waw jga. (maaf ya thor :()
    gaya bahasa dan penulisannya aku suka, tpi kayak ada yg mengganjal aja. Alurnya jga bagus, tpi mungkin feelnya kurang dapet. Kurang greget gitu.
    Tpi good job thor ^_^

    • terimakasih kritik dan sarannya^^, I’ll work harder di ff selanjutnya:)) terimakasih udah nyempetin waktu buat baca ff ini, hehe:B

  3. Pingback: [FREELANCE] Remind Me | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s