[Freelance] UNSAID

Unsaid

UNSAID

Kwonbinology presents.

Starring Park Chanyeol and Kim Nana (OC) / Fluff, slightly angst / Rated T

Special Note: I also posted it at my personal blog, http://dragongalaxy.wordpress.com and… it’s way better if you read it and listen to Girl X Friend – EXO!!!

.

.

Aku ingin menambahkan kata ‘girl’ di depan ‘friend’.

.

.

Chanyeol mengelap keringat yang bercucuran di dahinya, sembari berjalan menghampiri gadis yang tengah duduk manis di pinggir lapangan. Ia kemudian duduk di sebelah gadis itu sembari menghela nafas pelan, lalu menggembungkan pipinya.

“Bagi….” Rengek Chanyeol ketika melihat gadis di sebelahnya, Kim Nana, tengah menggigit roti sandwich isi keju dengan hikmat.

“Kau tahu sendiri kan kapan aku akan membagikan roti sandwich yang berharga ini?” Nana malah bertanya sembari mengunyah pelan rotinya.

“Satu; saat aku ulang tahun, dan dua; saat aku menang pertandingan basket.” Jawab Chanyeol seperti telah mengingatnya di luar kepala—seperti ia mengingat namanya siapa, siapa orang tuanya, dan ia lahir di mana.

Nana menyeringai, kemudian mengacungkan ibu jari tangan kirinya.

Mereka larut dalam diam. Angin sepoi-sepoi musim gugur di pukul lima sore memang menyejukkan. Hal itu pula yang menyebabkan rambut hitam legam nan lurus Nana menutupi wajahnya. Chanyeol refleks mendekatkan dirinya ke arah Nana, kemudian menyelipkan rambut-rambut itu ke balik telinga Nana. Semakin Chanyeol mendekat, semakin indra penciuman Nana mencium bau maskulin Chanyeol menguar. Baunya sangat lelaki, namun tidak menyengat, malah menghanyutkan.

“Seingatku kau masih bau bayi, Park Chanyeol.” Gumam Nana, menandaskan rotinya.

“Aku bukan Park Chanyeol berumur tiga tahun yang merengek ketika kau mendapatkan jatah puding coklat lebih banyak dari aku, Kim Nana. Umurku sekarang tujuh belas tahun. Aku sudah masuk SMA, menjadi pemain basket terkenal nan tampan, menjadi idola semua gadis di penjuru sekolah, dan aku sudah bisa melihat sesuatu yang diberi rating 17+ secara legal—“

“Walaupun kau sudah membukanya bahkan sebelum kau berumur tujuh belas tahun.” Nana memutar bola matanya.

Nice strike.” Chanyeol mengedipkan sebuah matanya, mengacungkan kedua ibu jari dan telunjuknya ke arah Nana, sambil menyunggingkan sekilas smirk.

Ketika Chanyeol sudah berpolah menggemaskan seperti itu, Nana tak memiliki pilihan lain selain tertawa gemas dan mendorong badan kekar Chanyeol playfully. Kemudian lelaki itu akan merengkuh Nana dalam pelukannya, dan mengacak-acak rambutnya gemas hingga tak beraturan. Selalu begitu, entah sejak berapa tahun yang lalu.

“Eh?”

Chanyeol terdiam keheranan. Tangan kanannya menggenggam jepitan pita berwarna merah muda yang tak sengaja terlepas setelah ia mengacak-acak rambut Nana.

Nana merebut pita itu dengan kasar dari tangan Chanyeol, kemudian menata rambutnya dan menjepit rambutnya kembali.

“Sejak kapan kau pakai pita?” Tanya Chanyeol.

Nana mengangkat bahunya. Wajahnya masih merengut.

Chanyeol menatap gadis yang telah tumbuh bersamanya dari… yah, seperti yang dikatakan Nana, saat ia masih berbau bayi. Rambutnya digerai, sisi kanan dan kirinya diambil sedikit kemudian dijepit di belakang menggunakan pita merah muda tadi. Ia mengenakan oversized sweater berwarna putih yang turun hingga menutupi bokongnya, dan rok merah muda pastel selutut. Kakinya dihiasi kaus kaki putih semata kaki dan sepatu high heel berwarna senada dengan roknya.

“Sejak kapan kau memakai rok? Dan high heels?” Tanya Chanyeol lagi.

“Sejak aku ingin berkencan dengan Wu Yifan.” Jawab Nana, menyebutkan murid pertukaran pelajar dari Cina yang juga masuk tim basket bersama Chanyeol.

“Ppppffffttt, such a joke.”

Nana tak menjawab, ia malah bersender di badan Chanyeol, lalu meluruskan kakinya. Chanyeol mendekap gadis itu dengan lengan kanan berototnya. Nana memainkan jari-jari panjang nan kurus milik Chanyeol.

Chanyeol tersenyum kecil. Gadis ini begitu menggemaskan ketika sedang diam.

“Eh… dan sejak kapan kau memakai sweater milikku?” Interogasi Chanyeol. Pantas saja ia seperti mengenal apa yang dikenakan Nana. Sweater itu tertinggal di rumah Nana ketika mereka mengadakan sleeping party.

“Sejak… aku ingin memakainya?” Jawab Nana asal, lagi. Pandangannya tak beralih dari jari-jari Chanyeol. Jari-jari itu berada di tangan besar yang selalu melindungi tangan mungilnya.

Chanyeol terkekeh pelan. Lihatlah, Kim Nana terlihat seperti kurcaci terjebak dalam pakaian raksasa. Menggemaskan. Rasanya Chanyeol ingin mengarungi Nana, dan menjadikan gadis itu peliharaannya.

Ya Tuhan, jika ada orang yang mengatakan lelaki sangat senang melihat gadisnya mengenakan pakaian miliknya, maka itu sangat benar adanya.

Tapi sangat disayangkan, Nana bukan gadisnya.

“PARK CHAAAAAAANYEOOOOL!!!”

Chanyeol tersentak ketika seseorang berteriak di telinga besarnya secara mengejutkan dari belakang. Sudah disangka, tak lain dan tak bukan, dari dahulu hingga sekarang, selalu saja Kim Nana.

“Aku tidak terkejut.” Gumam Chanyeol.

“Ya, aku juga.” Jawab Nana.

“SIAPA YANG MENGEJUTKANMU, BODOH?!” Jerit Chanyeol.

“Ya, ya. Kau baru saja mengejutkanku sekarang dengan teriakan suara besarmu itu.” Sahut Nana lagi.

“Lihat ini.” Chanyeol mengalihkan topik, kemudian menunjuk papan mading yang terbentang di depan mereka.

Nana mendongak, membaca headline mading yang lebih mirip tabloid gosip versi anak SMA itu satu persatu.

 

PARK CHANYEOL DAN KIM NANA: SAHABAT JADI CINTA?

Wow, sudah menjadi cerita yang klise, ya, kalau sahabatmu—apalagi sejak kecil, berubah menjadi power ranger, eh, ultraman, eh, pasanganmu. Di sekolah ini, Sang Kapten tim basket sekolah yang tampan nan cemerlang, Park Chanyeol, lagi-lagi menjadi bahan perbincangan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ia dan Kim Nana merupakan sahabat sedari kecil yang masuk di TK, SD, SMP, dan SMA yang sama hingga sekarang. Hampir semua orang menyangka bahwa mereka memiliki hubungan lebih dari sahabat. Namun apakah benar?

Tim reporter mading sekolah ini mendapatkan kesempatan mewawancarai Chanyeol—sapaan singkat pujaan hati kita semua—di sela-sela latihan basketnya.

“Nana bukan tipeku.” Ujar Chanyeol sembari menahan tawanya. Ia kemudian menjelaskan bahwa Nana sudah seperti adiknya sendiri.

“… Dan seperti peliharaan.” Kemudian, tawa Chanyeol lepas.

Ketika ditanya mengenai siapa tipenya yang sebenarnya jika bukan Kim Nana, ia mengedipkan matanya sembari berbisik pelan,

”Gadis yang seksi dan menawan.”

Wow, apakah kalian menyangka bahwa tipe ideal Chanyeol merupakan gadis seksi nan menawan? Apakah kalian termasuk salah satunya? Tulis pendapat kalian di bawah ini! ^^

 

Mulut Nana menganga usai membaca artikel tersebut.

“Belum selesai.” Chanyeol kini menunjuk kolom komentar yang berada di bawah artikel tersebut, yang dipenuhi dengan tulisan berbagai macam warna dan font, stiker, hingga apalah.

 

“CHANYEOL OPPA NOTICE ME PLEASE!!!”

“Aku sudah mengagumi Chanyeol Sunbaenim sejak aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Aku mengetahuinya lebih dari siapapun di sini, termasuk Kim Nana makhluk mungil itu. Minggir kalian semua, Chanyeol milikku, hahahahahahahaha /tertawa jahat/”

“CHANYEOL SUNBAENIM FIGHTING!!! ^w^”

“Wow. Seksi dan menawan. Aku tahu aku harus apa sekarang /smirk/”

“HAHAHAHA KASIHAN YA SI NANA DIJADIIN PELIHARAAN SAMA CHANYEOL SUNBAENIM. MIRIP ANJING DONG. JAUH DENGANKU YANG MERUPAKAN PACARNYA. HAHAHA<3”

“Seksi dan menawan itu aku. Kasus selesai.”

“Aku suka Chanyeol Oppa, dia tampan, atletis, dan menggemaskan. Tapi ketika ia mengungkapkan tipe idealnya, ia terdengar seksi dan dewasa sekali!!! Kyaaahh>-<”

 

“Wow.”

Itu kata pertama yang terucap dari mulut Nana ketika selesai membaca komentar-komentar tersebut.

Chanyeol menatap gadis di sebelahnya. Wajah Nana tampak tak berekspresi.

“Kau… tidak apa-apa?” Tanya Chanyeol.

“Aku dikatakan mirip anjing.” Sahut Nana pelan, masih dengan wajah yang sama.

“Kau bukan mirip anjing, kau memang anjing.” Canda Chanyeol sambil tertawa lebar.

Candaan seperti ini sering mereka lontarkan. Biasanya Nana akan tertawa hingga tersengal-sengal sambil membalas perkataan Chanyeol dengan tak kalah kasarnya. Namun kali ini gadis itu tak berekspresi.

Namun, beberapa saat kemudian, seulas senyuman tersungging di bibir gadis itu.

“Chanyeol-ie, kau masih ada kegiatan kan setelah ini? Aku pulang duluan, ya. Aku ada tugas kelompok yang harus dikerjakan.”

Nana membalikkan badannya, meninggalkan Chanyeol di depan mading. Gadis itu menapakkan kakinya menyusuri koridor sekolah yang telah kosong dengan langkah lebar.

Chanyeol mengerutkan dahinya.

“Yah, Kim Nana! Sejak kapan aku punya jadwal di malam Sabtu? Kita biasa makan bibimbap di rumahmu, kan?”

Nana tak bergeming. Ia masih meneruskan langkahnya.

“Kerja kelompok? Hey, you, little bullshit. Kita sudah mau mendekati ujian akhir, dan satu-satunya kerja kelompok yang kita punya adalah tugas membuat prakarya, dan aku sekelompok denganmu, dan TUGASNYA SUDAH SELESAI.” Jerit Chanyeol. Kali ini ia berjalan menyusul Nana dari belakang.

Namun, gadis yang ia ajak bicara malah sekarang memilih berlari dengan kencang, berbelok menuju gerbang utama. Mau tak mau Chanyeol ikut mengejarnya.

“Gadis ini kenapa, sih? Kemarin masih baik-baik saja. Sekarang, aku harusnya tertawa bersamanya setelah melihat mading dengan komentar-komentar bodoh penggemarku itu. Tapi kenapa ia malah meninggalkanku dengan alasan tidak jelas?” Gumam Chanyeol pelan.

Kemudian, Chanyeol memutar otaknya, mencari-cari sesuatu yang mungkin saja ia lupakan. Ia menghitung tanggal sekarang. Tanggal sepuluh, bulan Januari.

Ya Tuhan, celaka. Chanyeol lupa ini masa-masa biasanya Nana terkena serangan PMS yang membuat hatinya lebih lembek dibanding puding coklat dan emosinya lebih membara dibanding api perapian.

Chanyeol semakin mengencangkan kecepatan larinya ketika ia tahu letak kesalahannya di mana. Dan saat itu juga ia mendapati Nana terjatuh karena kakinya tersandung saat melewati tangga yang besar-besar. Gadis itu terjerembap jatuh menghantam aspal.

Chanyeol segera menghampiri Nana dengan wajah khawatir. Ia berlutut di depan gadis yang sedang meringis, meratapi lututnya yang sedikit berdarah dan kakinya yang keseleo.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Chanyeol, sembari mengusap luka di lutut Nana. Kemudian ia mengalihkan pandangan menatap mata gadis itu; air mata mengalir deras.

“Pergi kau. Pergi.” Isak Nana sembari menepis tangan Chanyeol yang berusaha membalut seadanya luka Nana dengan sapu tangan hitamnya. Satu fakta; Chanyeol membawa sapu tangan ke mana-mana.

“Maaf, Nana-ya. Aku lupa kau sedang PMS dan aku malah menertawaimu tadi. Aku benar-benar lupa—“

I’m such a little bullshit and such a dog and whatever so leave me fucking alone here, Park Chanyeol. We aren’t even best friend anymore.”

Stop playing game on me, Nana. About we aren’t best friend anymore. Ayo pulang.” Chanyeol menyahut dingin. Ia tidak suka cara Nana mengatakan bahwa mereka tidak lagi sepasang sahabat. Gadis itu mengatakannya dengan cara seakan-akan ia benar-benar memaknainya. Chanyeol benci itu.

Karena, jika bukan sahabat, lalu Chanyeol harus dianggap apa hingga ia merasa setidaknya ‘berarti’ di sisi gadis yang disukainya?

 

Nana terus menolak mentah-mentah untuk pulang bersama Chanyeol dan menyuruh lelaki itu pergi meninggalkannya. Namun, Chanyeol tidak akan meninggalkan teman sekaligus sahabat sedari kecil sekaligus gadis yang disayanginya sendirian di lingkup sekolah yang kosong. Beberapa menit kemudian, hujan turun sedemikian lebatnya, hingga suara bisingnya mendominasi dan Chanyeol tak dapat mendengar tangisan Nana, hingga deras airnya mengalahkan air mata Nana yang tak terlihat lagi. Gadis itu alergi dingin, Chanyeol tahu itu. Dan ia juga tahu pasti bahwa Nana tak akan lagi menolak apalagi mengusirnya jika ia ajak pulang bersama.

Chanyeol melepaskan jaket abu-abunya, memakaikannya di badan mungil Nana, menyisakan hanya kaus hitam lengan pendek melekat di tubuh lelaki itu. Ia kemudian membantu Nana berdiri dan menggendongnya.

Seperti yang telah dikatakan ribuan manusia sejak dahulu kala, wanita memang makhluk yang paling tak dapat dimengerti se-jagat raya alam semesta ini. Kim Nana bukanlah pengecualian dari daftar itu tentunya. Kini Nana tengah melingkarkan lengannya di leher Chanyeol sembari membenamkan wajahnya. Ia masih terisak, Chanyeol tahu itu. Satu fakta lagi; Nana benci piggy ride. Ia takut Chanyeol iseng melepaskan kakinya hingga ia jatuh di tangga kemudian berguling-guling dan patah tangan seperti saat mereka berumur sepuluh tahun. Maka bisa kau tebak bagaimana Nana sekarang—digendong Chanyeol seperti posisi panda yang sedang memeluk pohon bambu dari depan.

Chanyeol mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu. Coba tebak, mana yang lebih mengenaskan. Para penggemar Chanyeol yang mengejar-ngejarnya dan mencoba mendekatkan diri lalu mendapatkan berbagai informasi, atau Chanyeol yang mengejar-ngejar gadis yang berada di pelukannya—sahabat yang ia ketahui lebih baik daripada ia mengetahui dirinya sendiri? Oh, berdirilah di pihak Chanyeol. Karena bertahun-tahun ia memendam perasaan itu, tumbuh-bersemi-berbunga-meledak-hangus-ulang lagi berkali-kali.

Ia hanya takut persahabatan akan hancur oleh keputusan bodohnya. Ia hanya takut Nana akan menghindarinya demi menjaga perasaan mereka berdua. Ia hanya takut Nana disakiti penggemar-penggemar gilanya. Terlebih lagi, ia hanya takut dengan kenyataan bahwa ia sendiri yang merasakan perasaan seperti itu.

Park Chanyeol terlalu sayang dengan Kim Nana.

Chanyeol tak habis akal berpikir bagaimana bisa Nana tak menyadari tingkahnya yang berbeda di hadapan gadis itu dengan tingkahnya di hadapan orang lain. Chanyeol hanya mengeluarkan aegyo di depan gadis itu, ia terkenal dengan sebutan ‘sang tembok es’ karena sikap cueknya. Chanyeol selalu datang setiap gadis itu butuh pertolongan mengerjakan tugas fisika, walaupun itu pukul dua pagi. Chanyeol adalah lelaki yang selalu ada di sisinya mulai dari gadis itu mengenakan Little M hingga H&M. Chanyeol adalah saksi perubahan gadis itu dimulai saat bibirnya mengilap karena es krim stroberi hingga karena lipbalm dengan rasa yang sama. Harusnya Nana tahu bahwa hingga dunia jungkir balik, salto, dan semacamnya, Chanyeol akan tetap berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat saat ia ketakutan, memeluknya saat hujan badai datang, menjadi alasannya untuk tertawa lagi, menjadi orang yang akan selalu ada untuknya.

“Chanyeol-ie.” Ketika Chanyeol sibuk meratapi perasaannya, Nana bergumam di tengah derasnya hujan. Bibirnya masih berada di belakang leher Chanyeol.

“Hm?”

Jeda yang cukup panjang.

“Kau pernah bilang bahwa confession yang dimulai oleh seorang perempuan itu aneh.”

Chanyeol membelokkan langkahnya, dahinya berkerut. Apalagi sekarang?

“Namun kau pasti tahu, aku memang terlahir aneh sejak kecil. Aku satu-satunya pemilik mata besar di keluargaku, aku tumbuh bersama sepasang kaki yang tidak sesuai ukurannya dengan tubuhku, aku tak memiliki malu bernyanyi di depan kelas dengan suara falsku, aku melabrak kakak kelas yang dulu sok berlagak mengatur kita di kelas tujuh, aku menjiplakkan es krim stroberiku di muka lelaki pujaan gadis-gadis—ya, Park Chanyeol.”

“Aku tahu ini gila, tapi hari ini aku sakit. Mungkin kau bespekulasi bahwa aku menangis karena aku terjerembap tadi, atau karena kau lupa bahwa aku sedang PMS sekarang. Tapi itu semua tak berarti, Park Chanyeol. Luka berdarah di lutut, dahi yang lecet, dikata-katai seperti anjing… tak berarti.”

“Sakit adalah ketika aku menemukan diriku adalah buntalan omong kosong—begitu katamu, yang menyukai puding coklat dan es krim stroberi dibanding seksi, dan aneh dibanding menawan. Sakit adalah ketika aku menemukan diriku tidak dapat menempati tempat yang lebih dari seorang sahabat.”

“Aku benci kau, Park Chanyeol. Benci caramu menggenggam tanganku seakan-akan kau akan melakukan apapun demi membuatku tenang. Benci caramu merengkuh tubuhku seakan-akan kau akan melakukan apapun agar aku tak terluka. Benci caramu berbicara padaku seakan-akan aku adalah pusat duniamu. Benci caramu tersenyum padaku seakan-akan aku adalah hal terindah dalam hidupmu. Benci caramu tertawa denganku seakan-akan kita akan terus seperti ini selamanya. Benci caramu—“

“Kau tahu?”

Suara Chanyeol tercekat di tenggorokan. Langkahnya terhenti. Tangannya kini bahkan lebih dingin dibanding hujan.

“Aku juga benci kau, Kim Nana. Benci caramu berlindung padaku seakan-akan kau tak dapat mengarungi kehidupan tanpaku. Benci caramu bersender di pundakku seakan-akan kau menyenderkan seluruh duniamu kepadaku. Benci caramu melihatku seakan-akan aku adalah hal terpenting di jagat raya ini. Benci caramu memelukku seakan-akan aku adalah rumahmu, tempat kau selalu kembali. Aku membenci caramu memperlakukanku seakan-akan kau memiliki perasaan yang sama padaku.”

“Tapi itu benar adanya.” Lirih Nana, ia menarik kepalanya hingga dapat menatap bola mata coklat Chanyeol dengan jelas. Mengukir hidung, bibir, wajah, telinga, dan rambut basah lelaki itu di memorinya.

“Kita sama-sama bodoh. Kita sama-sama buntalan omong kosong. Kita sama-sama membenci. Jadi tunggu apa lagi? Sedari dulu, aku ingin menambahkan kata ‘girl’ di depan ‘friend’. Let me do it now, please?”

28 responses to “[Freelance] UNSAID

  1. wooaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa😉🙂 ,,, aku ga bisaa menggambarkannnnn bagaimanaaa perasaankuuuu saat iniiiiiiiiiiiiiiiii…. Ohh noooo pleaseee cubittt pipikuuu

    My DOBIIIIII,,, INI PENGAKUANNNNNNNNNNNNN CINTAAAAAA HAHHAHAHAHHAHHAHAHAHAHAHHA
    AKU TERHURAAAAAA BANGETTT BACAAAAA INIII,,,,,

    OMOOONAAAAA😉

  2. Baperr oy kakk, benci dengan semua sikapp yg di tunjukin karena dulu seorang sahabat, dann sekarang baru bisa menambahkan kata girl didepan friend. Ntah suka aja sama cara pengungkapannya hehe

  3. Ih ya ampun thor baper huhu😭😭 lanjut sequel dong thor bagus banget! Ditunggu kelanjutannya, semangat Author!!

    • Waduh aku bikin anak orang baper~~
      Kalo soal sequel kayaknya gak ada, tapi bakal ada side-story Chanyeol x Nana kok! Ditunggu, ya!❤
      Anyway, call me Zara instead of author😉

  4. Chanyeol nya swit deh mauu .. Oiya keren thor ff nya!! Cinta sepihak tapi untung ya terbalas:” gx kyk aku thor #ehcurhat

    • IS THIS THE BABY CHOO SARANG??? Wow a kid read my fanfiction??? / gak usah dianggep serius ya aku lagi ngelawak nih /
      Makasih banyaaakkk!!! Untuk sequel aku gak ada rencana, tapi bakal ada side-story Chanyeol x Nana kok!!! 많이 기대해주세요 luv luv❤❤

  5. LUCUUUUUU IHHHH. suka banget bagian yg chanyeol mau nambahin kata girl didepan friend huhuhu simple but deep ya😩😩😩 Semangaaat teruuus kak

  6. hoho.. hujan hujan sama chanyeol anget banget ya..
    sahabat jadi cinta ternyata ucu juga ya
    sequel dong kak biar tambah keren gitu hehehe/abaikan
    keepwriting^^

    • Iya dong, hujan badai panas terik asal bersama chanyeol tetep mantep wkwkwk
      Sequel belum ada rencana sih, tapi side-story ada kok!
      Thankieesss❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s