[YiSang’s Diary] #16: New Brother

yisang's-diary-3

a series-fiction by Jung Sangneul

YiSang’s Diary

Yixing / Lay [EXO] & Sangri [OC]

Romance, Fluff | drabble-series | General

previous series

***

YiSang’s Diary: New Brother

            “Kautahu Zhang Yixing di mana?”

            Seharian Sangri sudah menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali pada orang-orang yang berbeda. Semuanya menjawab dengan gelengan kepala. Mereka tidak tahu ke mana Yixing.

            Gadis itu memutuskan menelepon, namun tidak juga diangkat. Akhirnya, ia hanya meninggalkan pesan di mailbox agar Yixing bisa mendengarkannya nanti.

            “Zhang, kau di mana? Kalau tidak masuk, kenapa? Aku tidak merindukanmu, hanya khawatir kau kenapa-kenapa.” Ia menekan tombol merah untuk menyelesaikannya. Sadar betul kalau kekasihnya—uhuk, Sangri masih agak melayang kalau menyebut itu—punya tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi dibanding Namsan Tower.

            Belum sempat ia memasukkan ponsel ke saku celana jins, ada yang memanggilnya dari arah belakang. Ia kenal sekali dengan suaranya, jadi tidak menoleh justru mempercepat langkahnya menjauh.

            “Sangri-ah, tunggu sebentar!”

            Oh, tidak. Dia berhasil menarik tangan Sangri. Terpaksa gadis itu menoleh.

            “Apalagi?” tanyanya. Dingin.

            Luhan yang ada di depannya mengedikkan bahu. “Baba mengundangmu makan malam. Aku pun diundangnya. Baiklah, aku tidak menyukai baba karena telah menduakan mama. Tapi, kupikir, ini bisa memberimu solusi? Mungkin baba menawarkan bantuan pada ibumu, atau—”

            “Dengan alasan kasihan?” potong Sangri seketika. Telinganya sudah bosan mendengar ungkapan Luhan yang ia utarakan sejak dua hari yang lalu. “Aku tidak perlu dikasihani.”

            “Baba hanya ingin bertanggung jawab, Sangri.”

            “Sekarang kau memihaknya karena dia sudah kembali pada ibumu, ‘kan? Semudah itu ‘kan urusannya? Kita tidak pernah bersaudara seerat itu hingga kau peduli soal ibuku. Kita hanya peduli dan sayang pada ibu masing-masing. Aku tahu, Lu,” jawab gadis itu, sembari tangannya menyingkirkan anak rambut yang mengangsurkan diri ke matanya. “Kuanggap percakapan kita selesai di sini.”

            “Sangri, tunggu.” Luhan menahannya lagi. Kali ini, Sangri tidak menoleh, sehingga lelaki itu memutuskan bermonolog keras-keras, “Tolong Baba. Ia tidak pernah benar-benar bahagia dengan Mama. Aku tahu, mama bukan istri yang baik karena selalu memikirkan karier. Ibumu yang memberikan kasih sayang lebih, sehingga ia sakit mendengar keadaan ibumu sekarang. Ibumu hanya wanita kedua, aku tahu, dan aku jauh lebih menyayangi mama hingga membenci baba. Tapi, aku sudah dewasa, dan aku tidak tega baba sakit memikirkan kondisi ibumu. Tolong terimalah ajakannya, hanya sekali ini, Sangri.”

            Sangri berhenti. Dadanya terasa sesak.

            “Aku mohon.” Suara Luhan terdengar lagi.

            Sangri menoleh, matanya berkaca-kaca. Namun, sedetik setelahnya, ia mengangguk. Menandakan kesetujuannya.

            Luhan tersenyum, mendekat, kemudian menyodorkan kartu namanya.

            “Jika kau kebingungan dengan alamatnya, hubungi aku,” ujarnya yang disusul anggukan Sangri. Gadis itu memaksakan senyumnya.

            Sebelum pergi, Luhan menyempatkan mengusap rambut gadis itu dan berucap, “Kuatlah, untuk ibumu.”

.

.

            Sangri memang kehilangan jejak Yixing hari itu, dan sampai dua hari ke depan. Inginnya, ia datang ke makan malam itu bersama dengan lelaki tersebut. Namun, berhubung kemunculannya tidak dapat diperhitungkan waktunya, ia memutuskan meminta Luhan menjemputnya saja.

            Makan malamnya berjalan baik. Ayahnya masih seperti yang ia ingat, tegas tetapi penuh senyum. Sama ramahnya dengan Luhan. Ibu Luhan tidak ada ketika itu, sengaja memilih waktu saat beliau bertugas ke luar negeri dengan rekanan bisnisnya.

            “Jadi, maafkan appa, Sangri. Bukan maksud appa menelantarkan kalian,” ujar ayahnya sesudah menyelesaikan makan. Beliau diam sejenak kemudian melanjutkan, “Bagaimana kabar Sanghun?”

            Sangri tersenyum tipis. “Baik. Ibu menurut dengannya, jadi aku menitipkan beliau padanya.”

            Ayahnya mengangguk sekali lagi. “Lu, jaga Sangri baik-baik, ya. Seperti kata Baba. Semua biaya hidupmu, Sangri, dan ibu serta adikmu, biar Appa yang tanggung. Dan, kau, Lu, diam-diam sajalah pada Mama-mu.”

            Luhan tersenyum—senyum yang mirip dengan milik ayahnya, juga mirip dengan Sanghun.

            “Setelah ini, Appa akan kembali ke Amerika. Bisa Appa minta waktu mengunjungi ibumu?”

            Permintaan singkat itu agak mengejutkan, namun Sangri mengangguk. “Asalkan Appa sanggup melihatnya.”

            Setelah makan malam singkat itu, Luhan mengantarkan Sangri pulang ke apartemennya. Dan, sebelum gadis itu keluar mobil, ia menahan tangannya lagi.

            “Kau adalah bagian dari tanggung jawabku. Jaga dirimu baik-baik.”

            Sangri tersenyum dan mengangguk. Ia keluar dan melambaikan tangan, tanpa tahu bahwa ada yang menunggu di apartemennya. Sendiri dan cemas. Sendiri dan membutuhkan pelukannya, bukan justru kecemasan berlipat ganda.

 

—kkeut.

 

10 responses to “[YiSang’s Diary] #16: New Brother

  1. penasaran, itu yixing ya yang nunggu sangri???
    tapi kenapa cemas?

    duh aku jadi penasaran dan sangaaaaat mengharapkan chapter berikutnya bisa terbit secepat mungkin

    habis, udah kepo to the max *alay mode on* nih

    ditunggu yeth chapter berikutnyaaa

  2. Aah suka banget ff ini thoorr ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ Aku Xingmi dan pas baca ff ini, kayak liat Yixing sebenarnya gituu.. FF ini Yixing banget aku sukaa♡♡♡♡ Semangat terus lanjut thor!!

  3. where is icing?????? where is he???? do you know that I miss that guy so much in your ff???
    fix abaikan. . .!!!!
    ahay ceritamu itu simple tapi bikin reader penasaran tau gak!!!!!
    kedepannya icing jangan diumpetin yaaa kesian nanti ketampanannya ilang ehehehe
    keep writing!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s