[Freelance] Cinta Dua Keyakinan

Cinta Dua Keyakinan (cdk)-poster

Title   : Cinta Dua Keyakinan

Author : Fioppiall

Main Cast : Sarah Fazilla, Xi Luhan

Genre   : Romance, Sad story

Lenght : Chaptered

Cerita murni milik saya. Poster karya @aurrpsy. Oke happy reading ^^

 

Hening. Terlalu sunyi. Hingga hanya menyisakan suara angin malam yang sayup-sayup berhembus menerpa kulit wajah. Udara malam yang begitu dingin sukses menembus lapisan kulit terdalam sekalipun. Jaket dan baju yang berlabelkan penghangat pun seolah dipecundangi oleh hawa dingin yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Sukses menjadikan mereka lumpuh karena kehilangan fungsinya.

Sepi. Tak seorang pun yang terlihat sejauh mata ini memandang. Menyusuri setiap sudut yang biasa menjadi langganan bagi mereka yang datang. Yaa, seharusnya hal itu sudah bisa ditebak sejak tadi. Mengingat situasi saat ini.

Benar. Mana mungkin ada orang waras yang lebih memilih pergi keluar rumah, meninggalkan hawa hangat yang jelas-jelas mampu memberikan rasa nyaman dipenghujung musim dingin ini. Pergi menghabiskan jam tidur mereka hanya untuk sekedar mampir melihat tempat ini.

Tepat sekali. Hanya orang tak waras yang akan melakukan hal gila tersebut. Yang lebih memilih untuk berada di tempat ini sekarang. Dengan alasan untuk mencari ketenangan. Sejenak mencoba untuk melupakan semua permasalahan yang terjadi. Seperti yang ku lakukan saat ini. Setidaknya itu menurutku.

Jarum kecil yang berada di dalam benda berbentuk bulat yang melingkar sempurna dipergelangan tangan kiriku, kini berada tepat ditengah-tengah angka 12 dan 1. Yang secara tak langsung mengingatkanku bahwa aku telah berada ditempat ini selama hampir 2 jam. Duduk terdiam dibangku panjang yang cukup untuk menampung 4 orang. Dan menatap nanar air sungai dihadapanku yang terkadang bergoyang lembut terkena hembusan angin.

Aku kembali menelan air ludahku untuk membasahi tenggorokanku yang terasa sangat kering sejak tadi. Aku tak ingat sudah berapa kali aku melakukannya sebagai pengganti air putihku yang habis tepat ketika aku sampai di tempat ini. Aku menghabiskannya dalam sekali teguk, bukan untuk memenuhi hasrat hausku, tapi untuk meredam emosiku. Emosi yang tercipta akan kebencianku. Kebencian terhadap keadaan ini.

Peristiwa yang terjadi sehari lalu kini kembali berputar dalam memoriku. Potongan-potongan adegan saat itu mulai memenuhi isi kepalaku. Seperti gerakan slowmotion yang tak kunjung berakhir.

Aku memejamkan mataku kasar, berharap bayang-bayang itu sirna dalam ingatanku. Paling tidak menghilang sekejap untuk saat ini. Aku juga mulai menggeleng-gelengkan kepalaku hingga aku merasa pusing, namun kuabaikan rasa sakit itu demi harapan yang sama. Bayangan itu akan hilang. Tapi, sekuat apapun aku berusaha kilasan peristiwa itu masih nampak dengan jelas bertengger di kepalaku.

Aku memutuskan membuka mataku, dan secara bersamaan, perlahan aku merasakan cairan yang turun dengan lembut dari kedua sisi mataku. Memberikan kehangatan sejenak pada kulit pipiku yang sejak tadi tengah mati rasa akibat terpaan angin dan cuaca dingin yang begitu menusuk.

Jebol sudah pertahananku. Aku menangis. Tangis yang berusaha kutahan selama 2 jam terakhir ini, kini sukses keluar dengan mulus dari dalam diriku. Suara isakan yang keluar dari mulutku berhasil memecah kesunyian yang selama ini mendominasi keadaan.

Dalam cuaca yang begitu dingin, hari yang semakin gelap, dan kondisi diriku saat ini, sukses membuatku nampak begitu menyedihkan bagi siapapun yang melihatnya.

*****

Senin, 4 Maret 2013

“Hallo. Nama saya Sarah Fazila. Saya berasal dari Indonesia. Senang bertemu dengan kalian,” ucapku sambil tersenyum.

Hari ini adalah hari pertamaku kuliah di salah satu universitas terbaik di negeri ini. Sebenarnya rasanya tak jauh berbeda ketika aku menempuh pendidikan S1-ku dulu. Hanya saja menjadi berbeda karena kali ini aku melanjutkan pendidikanku bukan di negaraku sendiri, tapi di negara orang. Negara yang tak pernah sedikit pun terlintas dibenakku untuk dapat kutinggali, bahkan untuk sekedar berlibur sekali pun. Korea Selatan. Itulah negara yang saat ini sedang aku pijaki. Negara yang akan menjadi bagian hidupku untuk setidaknya 2 tahun kedepan.

Dihari pertamaku kuliah, aku sudah melakukan sebuah kesalahan. Aku terlambat. Bukan karena aku kesiangan. Tapi karena aku lupa jalan menuju kampus dari tempat kostku. Maklum saja aku baru tiba di Korea dua hari yang lalu. Alhasil aku tidak tahu jalan.

Tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan yang cukup besar ini sesaat setelah aku memperkenalkan diriku atas permintaan dosenku, yang katanya sebagai hukuman untukku karena datang terlambat di hari pertama kuliah, dihadapan seluruh teman-teman sekelasku yang sebagian dari mereka berasal dari luar Korea Selatan, sama sepertiku.

“Baiklah, silahkan duduk. Besok-besok jangan terlambat lagi ya,” ucap Professor Kim Jung Song yang sebelumnya telah kuketahui namanya dari buku profil kampus yang sebagian isinya berisi daftar nama-nama dosen pengajar.

“Iya. Terima kasih, Profesor” balasku.

Terdapat banyak kursi kosong diruangan ini mengingat mata kuliah ini hanya di ambil oleh sekitar 35 mahasiswa saja, sementara ruangan ini dirancang khusus untuk menampung lebih dari 35 mahasiswa.

Aku memilih duduk disamping jendela yang berhadapan langsung dengan hamparan rumput hijau yang terlihat sangat asri dengan kolam air mancur ditengah-tengahnya. Dari tempatku berada saat ini nampak beberapa mahasiswa dan mahasiswi tengah asik dengan buku dan laptop dipangkuan mereka. Ketika aku masih terpukau dengan pemandangan dihadapanku, tiba-tiba aku dikejutkan dengan tepukan pelan dibahuku. Sontak aku menoleh ke belakang dan melihat orang yang tadi menepuk bahuku sedang tersenyum ramah sembari mengulurkan tangannya kepadaku.

“Hallo Sarah. Namaku Ellisa Johnson, kau bisa memanggilku Elli. Aku dari Inggris. London tepatnya, “ucapnya dalam bahasa Inggris, “Dan dia Lee Minjung.” lanjutnya sembari memperkenalkan gadis bermata sipit disebelahnya.

“Hallo. Kalau aku asli dari Korea,” ucap gadis bernama Minjung tersebut.

“Ooh, hallo.” jawabku dengan tersenyum lembut.

Akupun kembali membalikkan badanku. Mengarahkan pandanganku pada professor yang tengah bersiap memulai mata kuliah pertama kami di program pasca sarjana ini.

*****

Tak terasa 3 jam berlalu dan mata kuliah pertama dihari pertamaku kuliah pun berlalu tanpa kesulitan berarti. Mungkin karena selama pelajaran berlangsung professor Kim lebih banyak menjelaskan dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Korea, sehingga itu membuatku merasa sangat terbantu.

Saat ini keadaan di kelas cukup riuh mengingat mata kuliah professor Kim baru saja berakhir dan seluruh mahasiswa bersiap meninggalkan kelas dengan tujuan mereka masing-masing, sebelum nantinya berkumpul diruangan ini kembali untuk melanjutkan mata kuliah berikutnya.

Aku hendak beranjak meninggalkan tempat dudukku ketika Elli dan Minjung berdiri dihadapanku dengan raut wajah yang ramah.

“Kau mau ikut dengan kami ke kantin?” ujar Minjung membuka pembicaraan.

“Tenang, dikantin juga ada jual makanan halal,” kini gantian Elli yang membuka suara, seolah dapat membaca pikiranku.

Sebenarnya aku sudah mengetahui dari teman-teman Indonesia lainnya yang juga sedang menempuh pendidikan di Dongguk University, tempatku kuliah saat ini, jika memang ada beberapa makanan yang di jual khusus untuk mahasiswa yang beragama Islam sepertiku. Dan aku juga bukan satu-satunya mahasiswa yang mengenakan jilbab di kampus ini. Namun, walau begitu aku tetap merasa sedikit takut.

“Sarah kau tak perlu takut. Aku setiap hari makan makanan yang ada dikantin. Insya Allah makanan itu halal.” lanjut Elli yang sepertinya kembali membaca pikiranku.

Aku sedikit terkejut ketika mendengar Elli mengucapkan kata ‘Insya Allah’, dan sepertinya Elli menangkap dengan jelas reaksiku tersebut.

Dengan menahan tawa Elli berkata, “Aku lupa memberitahumu jika aku juga beragama islam.”

“Benarkah?” tanyaku tak percaya.

“Iya,” jawabnya sembari tersenyum.

Aku pun ikut tersenyum, “Lalu Minjung, apa kau juga beragama islam?”

“Tidak. Aku Kristen,” jawabnya ramah.

“Ooh, maafkan aku.”

“Tidak apa-apa. Tapi, kita tetap bisa jadi temankan?” tanyanya.

Aku melihat kearah Minjung dan Elli bergantian, rasanya sungguh menyenangkan ada orang yang memintamu untuk menjadi temannya di saat kau tak mengenal siapapun, “Tentu saja!” jawabku mantap.

“Baiklah mulai sekarang kita resmi menjadi teman. Oke?” ujar Elli yang dibalas dengan anggukan dariku dan Minjung, “Yup. Kalau begitu ayo kita ke kantin. Aku sudah lapar,” lanjut Elli

“Ayo!” seruku dan Minjung bersamaan.

*****

Jam menunjukkan pukul 10 lewat 40 menit ketika aku keluar dari kampusku. Jika di Indonesia jam segitu sudah membuat orang-orang berada dalam rumah mereka, maka kebalikannya yang terjadi disini. Walau sudah cukup malam, namun masih saja banyak orang yang berlalu lalang di jalanan.

Aku duduk di halte bus sembari menunggu bus yang akan membawaku menuju tempat kostku tiba. Namun, aku tak sendiri. Aku bersama Minjung yang belakangan kuketahui jika ternyata rumahnya berada tak jauh dari tempat kostku. Sementara Elli pulang terpisah dengan kami karena asramanya tak searah dengan kami.

Minjung merubah pikiranku yang menganggap bahwa orang kristen di luar Indonesia akan sulit menerima orang yang beragama islam. Mengingat banyaknya kasus teroris di luar Indonesia yang  pelakunya selalu dikaitkan dengan islam. Walau baru sehari mengenal Minjung aku begitu yakin jika dia gadis yang baik dan tidak membeda-bedakan orang. Seperti yang dia lakukan kepadaku seharian tadi. Dia sangat baik. Dia bahkan membantuku menerjemahkan seluruh perkataan dosen dalam bahasa Korea yang tidak kumengerti.

Setelah seharian bersama Minjung dan Elli, aku mulai tahu jika ternyata mereka sudah akrab sejak lama. Minjung dan Elli saling mengenal saat mereka berada di tahun kedua di program S1 dulu. Dan sejak saat itulah mereka ibarat dua mata sisi uang yang tidak dapat dipisahkan. Kemana-mana selalu berdua. Bahkan mereka juga janjian untuk melanjutkan S2 mereka di kampus dan jurusan yang sama. Itulah kenapa mereka terlihat sangat akrab sejak mata kuliah pertama berlangsung pagi tadi. Aku beruntung bisa menjadi bagian dari kedekatan mereka. Apalagi mereka memperlakukanku dengan sangat baik.

“Sudah tengah malam,  namun masih ramai ya,” ucapku memecah kesunyian. Saat ini hanya ada aku dan Minjung yang sedang duduk di halte bus. Sedangkan dihadapan kami banyak kendaraan pribadi yang tengah berlalu lalang. Tak jarang beberapa pejalan kaki juga melintas dihadapan kami.

“Itu karena disini masih jalan besar. Nanti ketika kau masuk gang-gang kecil maka kau tak akan melihat apa yang kau lihat saat ini.” jelas Minjung, “Kau sudah kemana saja selama berada disini?”

“Aku belum kemana-kemana. Aku baru saja tiba dua hari yang lalu. Dan aku terlalu sibuk menata kostku hingga tidak sempat untuk berjalan-jalan. Bahkan sekedar untuk melihat-lihat kampus kita sebelum hari ini,” jawabku panjang lebar.

“Benarkah? Berarti kau juga tak menghadiri upacara penerimaan mahasiswa baru? Lalu bagaimana caranya kau bisa sampai di kampus pagi tadi?”

“Iya, aku tak menghadirinya karena visaku baru keluar empat hari lalu. Sedangkan tadi pagi aku bertanya pada siapa saja yang kutemui di jalan, dimana Dongguk University berada dan bagaimana caranya agar aku bisa sampai kesana? Sebenarnya staf KBRI telah memberitahuku sebelumnya, dimana Dongguk University berada, aku harus menggunakan bus yang mana, berhenti dimana, dan jalan kearah mana? Tapi, kemudian aku lupa,” jelasku.

“Itukah yang menyebabkan kau datang terlambat pagi tadi?”

“Ya…” jawabku sedikit tersenyum.

Minjung tertawa mendengar jawabanku, “Kau ini lucu sekali. Ya sudah karena rumahku dan kostmu searah bagaimana kalau setiap hari kita pergi dan pulang bersama? Ya hitung-hitung membantumu biar tidak tersesat,” ucapnya sambil terkekeh pelan.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku semangat, menandakan jika aku menyetujui ide Minjung. Bersamaan dengan itu, bus yang sudah kami tunggu sejak tadi pun tiba. Aku dan Minjung lantas bergegas menaikinya.

Sejam kemudian aku dan Minjung turun dari bus dan berjalan kaki menuju tempat tinggal kami. Sampai di persimpangan jalan aku dan Minjung berpisah.

Seketika aku teringat dengan perkataan Minjung di halte bus tadi, mengenai suasana sepi ketika berada di gang kecil ditengah malam, seperti saat ini. Semua rumah dan beberapa toko kecil tak lagi terbuka. Bahkan lampu jalan di sepanjang gang kecil yang kulalui ini pun terasa meredup. Sesaat aku merasakan kengerian menjalari tubuhku. Sesekali aku menoleh kebelakang memastikan tak ada orang yang sedang mengikutiku. Selama berada di Korea, ini pertama kalinya aku berjalan pada malam hari. Sehingga suasana ini membuatku merasa takut, ditambah lagi aku belum terlalu mengetahui bagaimana keadaan di lingkungan tempat kostku.

Aku tinggal di sebuah kost yang terletak di atas rumah seorang nenek yang hanya tinggal sendiri. Aku tidak bisa tinggal di asrama mengingat Dongguk University tidak menyediakan asrama untuk mahasiswanya. Aku sendiri bisa menempati kost tersebut atas bantuan dari salah satu staf KBRI yang bernama Kak Mira. Dialah yang mencarikanku tempat tinggal sebelum aku tiba di Korea. Aku beruntung tinggal disana karena nenek pemilik kost itu sangat baik kepadaku. Walau dia beragama budha namun dia sangat menghormati agamaku. Dia juga tidak keberatan denganku yang menggunakan jilbab. Dia bahkan memasakkanku makanan yang halal. Nama nenek itu adalah Kang Yuran, aku memanggilnya Nenek Yuran. Nenek Yuran bisa berbahasa Inggris, dan bahasa itulah yang kadang kami gunakan saat berkomunikasi.

Aku kembali menengok ke belakang, tetap dengan niat untuk memastikan bahwa aku tengah berjalan sendirian di gang kecil ini. Sementara itu, rumah Nenek Yuran perlahan mulai terlihat oleh mataku, akupun memutuskan untuk mempercepat langkahku.

Lampu di teras depan rumah Nenek Yuran masih menyala namun keadaan di dalam rumah sudah gelap, menandakan jika nenek sudah tidur. Akupun segera menaiki tangga yang berada disamping rumah Nenek Yuran menuju kostku. Tiba di atas aku disambut dengan kegelapan. Lampu teras tidak menyala. Tentu saja, karena aku baru saja tiba dan tak mungkin bagi nenek untuk menyalakan lampu teras kostku, karena aku membawa kuncinya.

Aku sedang meraba kantong tasku untuk mencari kunci kostku ketika samar-samar kudengar suara seseorang yang sedang meringis. Kutajamkan indera pendengaranku berharap bahwa aku salah dengar. Namun, sekali lagi aku mendengar suara ringisan tersebut. Dan kali ini lebih nyaring.

Refleks aku melangkah mundur, “Siapa itu?” tanyaku takut.

Tak ada jawaban.

Aku kembali bertanya, “Siapa?”

Kembali tak ada jawaban.

Aku memutuskan mengambil handphone-ku dari kantong jaketku dan mulai menyalakan lampu flash untuk menerangi teras kostku saat ini. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat seseorang tengah terduduk dengan kepala yang tertunduk di sudut tembok pembatas bangunan ini.

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?” cecarku.

Seseorang yang kuyakini adalah seorang pria itu masih tidak menjawabku. Dia justru semakin merapatkan tubuhnya ke tembok. Seolah takut jika aku akan melakukan hal yang buruk terhadapnya.

Segera kuarahkan lampu flash handphone-ku ke pria tersebut. Dari pakaian yang dikenakannya dapat dilihat jika pria ini bukanlah seorang gelandangan, seperti yang ku kira. Ya, tentu saja. Mana mungkin ada gelandangan yang mampu membeli jaket kulit dengan merek ternama yang tak sengaja kulihat di salah satu acara fashion yang disiarkan di TV Indonesia seminggu lalu, yang saat ini tengah membungkus rapi badan pria dihadapanku ini dengan sangat sempurna. Belum lagi sepasang kakinya dihiasi dengan sepatu kets branded yang ku taksir harganya jauh lebih mahal dari harga sewa kostku selama 3 bulan!

“Hei, jangan diam saja. Katakanlah sesuatu. Siapa namamu dan kenapa kau bisa berada disini?” tanyaku masih dengan posisiku yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.

Dia masih tak menjawabku. Jangankan menjawab pertanyaanku, menoleh padaku saja tidak.

Perlahan dia mulai menggerakan tubuhnya berusaha untuk berdiri dengan tangan yang terus memegang kening sebelah kanannya. Akhirnya dia pun mampu berdiri tegak, walau dengan sebelah tangannya yang bebas memegang tembok pembatas yang tingginya hanya sepinggangnya sebagai tumpuan.

Aku terus memperhatikan gerak-gerik pria itu tanpa melepaskan sedetik pun pandanganku darinya. Perlahan pria itu mengangkat wajahnya dan mengarahkan pandangannya padaku. Dengan keadaan malam yang gelap dan terbatasnya penerangan di tempatku berdiri saat ini, samar-samar aku melihat ada cairan kental berwarna merah mengalir di wajah sebelah kanan pria tersebut, dan mulai menetes perlahan dari dagunya.

Aku membulatkan mataku melihat pemandangan yang tersaji dihadapanku. Tanpa kusadari, sepasang kaki milikku telah membawaku kehadapan pria yang sampai detik ini tak kuketahui namanya itu.

“Kau terluka,” ucapku sembari melihat dengan seksama lagi darah yang terus mengalir dari kening pria tersebut, yang sejak tadi berusaha ditutupinya.

Spontan aku membalikkan badanku dan berlari menjauh meninggalkannya menuju pintu kostku. Segera kubuka pintu kostku yang masih terkunci itu dan langsung masuk sesaat setelah pintunya berhasil kubuka. Aku menekan tiga tombol saklar sekaligus yang secara otomatis akan menghidupkan lampu di ruang tamu, dapur, dan teras depan kostku. Aku segera mengambil kotak P3K yang kemarin diberikan oleh Kak Mira kepadaku dan bergegas keluar untuk menemui pria tersebut.

Dia memandangku sesaat setelah aku berada di ambang pintu, masih dengan posisi tubuh ketika aku meninggalkannya. Aku berjalan menghampiri meja berukuran besar yang berada di tengah teras kostku. Meja tersebut berukuran persegi. Meja ini mirip dengan meja yang biasanya kulihat di drama-drama Korea yang posisinya berada di luar rumah. Umumnya digunakan untuk duduk dan bersantai dengan teman dan anggota keluarga mereka. Sepertinya hampir setiap rumah disini memiliki meja yang berfungsi sebagai tempat duduk itu.

“Duduklah,” ucapku kepadanya.

Tak ada reaksi darinya. Dia hanya berdiri mematung memandangku.

“Jika kau ingin lukamu diobati maka kemarilah,” lanjutku.

Dia nampak ragu dan mengarahkan pandangannya pada kotak P3K yang ada dipangkuanku.

Cukup lama aku menunggunya. Namun dia tak bergerak sedikitpun dari posisinya. Aku pun memutuskan untuk berdiri dari dudukku, “Sepertinya kau tak mau kuobati,” ucapku akhirnya, “Aku akan meninggalkan kotak ini disini agar kau bisa mengobati lukamu,” lanjutku sembari meninggalkannya.

“Tunggu..,”

Aku menghentikan langkahku yang baru beberapa langkah itu dan menoleh kearah sumber suara yang tak lain berasal dari pria tersebut.

“Aku… tidak tau cara mengobatinya,” lanjutnya pelan.

Aku menatapnya sesaat, lalu mengambil kembali kotak P3K tersebut dan mulai membukanya, “Kemarilah,” ujarku sembari menuangkan alkohol ke sepotong kapas.

Melalui ekor mataku, aku dapat melihat pria itu tengah berjalan mendekatiku dan duduk disampingku.

“Singkirkan tanganmu,” perintahku ketika hendak menyapukan kapas yang penuh dengan cairan alkohol ini kekeningnya yang masih tertutup oleh tangannya. Lalu aku pun mulai membersihkan luka di keningnya yang sedari tadi tak hentinya mengeluarkan darah setelah dia menurunkan tangannya.

“Auuuw. Tolong, pelanlah sedikit,” pintanya.

“Iya, maaf.”

Selesai memperban luka dikeningnya, secara bergantian aku membersihkan noda darah yang berada di wajah dan tangan pria tersebut. Walau dengan penerangan seadanya, namun dapat kulihat betapa putihnya kulit pria ini. Sangat kontras dengan warna kulitku yang terlihat ketika aku membersihkan tangannya.

“Selesai,” ucapku yang bergegas menyimpun peralatan P3K tersebut.

“Terima kasih,” ucapnya kepadaku.

Aku hanya tersenyum membalas ucapannya. Tak lama setelah itu hanya keheningan yang tercipta diantara kami.

Kenapa dia diam saja? Lukanya sudah ku obati, tidakkah seharusnya dia pergi sekarang? ujarku dalam hati.

Aku mengangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk menatap lantai bangunan ini kearahnya, “Kau tak pergi?” tanyaku akhirnya.

Sontak dia menatapku salah tingkah, “Hmm… Aku….”

“Kenapa?”

Pria itu tak lantas menjawab pertanyaanku. Dia menatapku ragu sambil menggaruk-garuk kepalanya pelan.

“Bolehkah aku berada disini lebih lama lagi? Setidaknya sampai aku dapat menghubungi manajerku?”

“Manajer??” tanyaku bingung.

“Aah, maksudku … kakakku.”

“Tapi…,”

“Kumohon tolong aku sekali lagi. Please…,” pintanya sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, “Baterai handphoneku habis dan aku tak bisa menghubungi kakakku.”

“Kau bisa memakai handphoneku.”

“Aku tak hafal nomornya,” ujarnya cepat.

Tinggallah aku yang kebingungan sendiri dengan situasi ini.

Bagaimana ini?? Apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali tak mengenalnya. Bagaimana jika dia seorang penjahat? Bagaimana jika nanti dia menyakitiku? Apa dia sedang dikejar polisi makanya dia bersembunyi disini? Tapi, dari penampilannya itu tidak mungkin. Aah, atau jangan-jangan dia kepergok ketika sedang mencuri barang-barang mewah yang tengah dikenakannya sekarang makanya dia bersembunyi? Tapi, bagaimana dengan lukanya? Bagaimana dia mendapatkannya? Mungkin saja dia sempat dipukul ketika hendak melarikan diri atau mungkin saja dia terjatuh dalam usahanya melarikan diri. Semua itu bisa saja terjadikan?? Baiklah aku harus waspada. Aku tak boleh membiarkannya berlama-lama berada disini.

“Maaf, aku tak…,”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, pria ini sudah kembali membuka mulutnya, “Tolong sebentar saja. Aku pasti akan pergi tapi aku harus menghubungi kakakku dulu,” ujarnya memotong kalimatku.

“Kenapa kau harus menghubungi kakakmu dulu? Tak bisakah kau langsung pergi saja?”

“Itu tak mungkin,”

“Tak mungkin? Kenapa??”

“Aku tak tahu jalan pulang.”

Mendengar jawabannya, aku hanya dapat diam melihatnya tanpa tahu seperti apa ekspresi yang tergambar diwajahku. Situasi ini semakin membuatku bingung.

“Nona, tolong. Sebentar saja. Izinkan aku mencharger handphoneku dan ketika baterainya sudah terisi penuh maka aku akan segera menghubungi kakakku dan pergi dari sini secepatnya. Kumohon tolonglah aku.”

Aku tak lantas menanggapi perkataan pria tersebut, namun keraguan nampak dengan jelas di wajahku.

“Nona, percayalah padaku aku bukan orang jahat. Aku tak akan melukaimu. Aku hanya butuh bantuanmu saat ini. Bantulah aku, tolong…”

Melihat dia memohon terus-terusan kepadaku, hatiku menjadi tersentuh. Tak dapat kupungkiri walau saat ini perasaanku dipenuhi rasa takut, namun aku juga masih bisa merasakan hatiku yang menyimpan rasa iba terhadapnya.

Aku menutup mataku sesaat dan menghela napasku bersamaan ketika aku membuka mataku, “Baiklah,” jawabku akhirnya. “Kemarikan handphonemu biar aku charger. Ingat kau harus segera menghubungi kakakmu setelah baterai handphonemu penuh,” kataku mengingatkan.

“Terima kasih,” ucapnya seraya tersenyum.

“Masuklah, kau bisa menunggu di dalam.” kata-kata itu keluar dengan mulus begitu saja dari bibirku yang sukses membuatku kaget sesaat setelah aku selesai mengucapkannya.

“Benarkah?” tanyanya tak percaya.

“Iya,” jawabku pasrah.

Kami pun masuk ke kostku. Dari ekspresinya aku dapat melihat sedikit kekagetan pada diri pria tersebut yang berusaha untuk ditutupinya. Mungkin untuk menjaga perasaanku. Kostku ini memang tidak besar, tapi tidak bisa dibilang kecil juga. Setidaknya menurutku ini sudah lebih dari cukup mengingat aku hanya menempatinya seorang diri.

Ketika kau masuk, kau akan disambut oleh sebuah sofa panjang bergaya klasik berwarna peach dengan meja kayu persegi panjang di tengah-tengahnya. Di depan sofa tersebut terdapat TV berukuran 21 inch yang sampai detik ini tak pernah kunyalakan. Di samping meja TV tersebut terdapat lemari kaca yang cukup besar namun tak ada isinya. Ada pula beberapa bingkai foto yang terpasang di dinding ruang tamu dan di atas meja TV, namun sama halnya dengan lemari kaca tadi, bingkai-bingkai foto tersebut tidak satupun yang terisi foto. Di sebelah kiri ruang tamu terdapat ruangan yang tak lain adalah dapur dan kamar mandi. Sementara kamarku berada tepat dibelakang tembok TV itu. Semua perabotan-perabotan tersebut bukanlah milikku. Semua barang itu sudah ada ditempatnya sejak aku menempati kost ini.

Pria itu duduk di sofa dengan tubuh yang menghadap ke arah TV, namun pandangannya mengarah ke setiap sudut rumah kecil ini.

“Apa kau mau minum?” tanyaku yang sontak membuat dia menghentikan kegiatannya ‘menelanjangi’ kostku dan mengalihkan pandangannya padaku.

“Ya.”

“Apa kau sudah makan?”

Dia terdiam sejenak memandangku, lalu perlahan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman malu-malu yang harus ku akui sangat manis itu, “Belum.”

“Baiklah, tunggu sebentar aku akan membuatkan makanan untukmu,” ucapku yang kembali membuatku bingung dengan setiap kata yang keluar dari mulutku sendiri.

Dikepalaku aku terus-terusan diingatkan untuk bersikap waspada dengan pria ini. Tapi, lidahku selalu saja mengeluarkan kata-kata yang sukses membuatku kaget sendiri setelah mendengarnya. Sungguh saat ini otak dan lidahku benar-benar tidak sinkron.

Aku berjalan menuju dapur dan mencari bahan makanan apa yang bisa kumasakkan untuknya. Aku membuka kulkas dan hanya menemukan bumbu dan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng yang aku bawa dari Indonesia. Kulkas ini memang belum terisi penuh oleh bahan-bahan makanan mengingat aku belum sempat berbelanja. Terlebih lagi selama disini Nenek Yuran-lah yang selalu memasakan makanan untukku.

Dengan bahan dan bumbu yang ada, aku pun memutuskan untuk membuatkannya nasi goreng saja. Lagi pula hanya itu masakan Indonesia yang cukup praktis dan bisa kumasak tentunya.

Selesai masak, aku pun segera menghampiri pria itu dengan membawa sepiring nasi goreng di tangan kananku dan segelas besar air putih di tangan kiriku.

“Maaf sudah menunggu lama,” kataku sembari meletakkan piring yang penuh dengan nasi goreng dan segelas air putih itu di meja.

“Tidak apa-apa. Justru aku yang seharusnya minta maaf karena sudah merepotkanmu,” sesalnya sembari tersenyum.

Aku tersenyum membalas senyumannya.

“Oh ya, karena aku tidak tahu cara memasak makanan Korea, jadi aku membuatkanmu makanan yang biasa kumasak di negaraku. Ini nasi goreng,” ucapku seraya menunjuk piring dihadapannya.

“Aah, kau bukan orang Korea?” tanyanya yang menurutku lebih tepat sebagai pertanyaan basa basi. Semua orang juga akan tahu jika aku bukan orang Korea sejak pertama kali mereka melihatku. Terlebih, bentuk fisik dan warna kulitku tak sedikit pun menunjukkan jika aku orang Korea.

“Ya. Aku orang Indonesia.”

“Pantas saja bahasa Koreamu tidak terlalu lancar,” ujarnya padaku. “Tapi, kau tak jauh berbeda denganku karena bahasa Koreaku juga tidak terlalu bagus.”

“Tidak terlalu bagus? Maksudnya? Apa kau juga bukan orang Korea?”

“Aku orang Cina.”

“Benarkah?” tanyaku tak percaya. “Tapi, kau terlihat seperti orang Korea.”

Dia kembali tersenyum, kali ini senyumnya jauh lebih manis dari yang terakhir kali di perlihatkannya.

“Ya hampir semua orang yang kutemui mengatakan hal yang sama sepertimu. Apa kau bisa berbahasa Inggris?”

Aku mengaggukkan kepalaku.

“Kurasa akan lebih baik jika kita berbicara menggunakan bahasa Inggris saja. Karena rasanya tidak nyaman menunggu lama agar seseorang dapat mengerti perkataanmu,” sambungnya.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Makanlah,” ucapku yang sadar ketika melihat nasi goreng yang sejak tadi belum disentuhnya itu, “Maaf jika rasanya tidak enak.”

“Tidak apa-apa,” ucapnya tersenyum.

“Aku akan berada di kamarku, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku. Aku Sarah,” ucapku memperkenalkan diri.

“Luhan. Xi Luhan, itu namaku.”

*****

TBC

 

11 responses to “[Freelance] Cinta Dua Keyakinan

  1. Sepertinya bakalan seru,
    Baru kali ini baca fanfict, tentang cinta beda keyakinan..
    Ahh luhan nya member idol disini ya, aku kira mereka ktemuannya di kampus, tp ini lebih bagus.
    Penasaran kelanjutannya

  2. Sepertinya bakalan seru,
    Baru kali ini baca fanfict, tentang cinta beda keyakinan..
    Ahh luhan nya member idol disini ya, aku kira mereka ktemuannya di kampus, tp ini lebih bagus.
    Penasaran kelanjutannya

  3. hhmm kenapa luhan luka yaa,,

    kabur dr sesaeng kah,,,
    atau ada yg mau nyelakain dia,,

    huh~~
    semoga nextnya gak terlalu lama, aku bantu doa semua inspirasinya gak pernah putus ya..

  4. hwaaa ak baca fanfic ini lagi….ak di bc fanfic ni di blog sebelah….ahh semoga di blog ini di lanjut sampe selesai yaaa..
    tp ini fanfic unik…ak suka
    ak tunggu nxt chapter
    keep writing!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s