[Freelance] Misconception

8d75d638424c353bb0966ffe024ca818

Title : Misconception

Author: lnf

Cast : Oh Sehun (EXO), Ahn Jaehee (OC)

Genre : Romance, Marriage Life

Rating : PG-17

Length : Oneshoot

Disclaimer : The story is mine. Don’t take anything without permission. Please leave a comment for the better of me on writing J

Cuaca pagi itu tidak begitu cerah. Perkiraan cuaca dari berita di televisi mengatakan bahwa suhu kota Seoul saat ini mencapai dua derajat selsius. Bisa bayangkan betapa dinginnya pagi itu. Tapi sepertinya suhu dingin tersebut kontras dengan kehangatan yang menyelimuti kamar tidur sepasang insan yang menghuni salah satu rumah mewah di kawasan Gangnam ini.

Ahn Jaehee sedang duduk di tepian tempat tidur sambil berselancar di internet mencari resep makanan baru yang akan ia masak pagi ini. Hari ini adalah hari Minggu, jadi dia memiliki cukup waktu untuk memasak sesuatu yang sedikit lebih rumit dan berbeda dari biasanya. Suara pintu kamar mandi terbuka menandakan seseorang yang lain telah selesai menjalankan aktivitasnya didalam, namun tidak sama sekali Jaehee mengalihkan perhatian. Dia masih tenggelam dalam kegiatannya semula bahkan ketika tiba-tiba seseorang yang lain tersebut mengunci tubuh mungilnya dari belakang dengan pelukan hangat –yang sebenarnya justru membuat nyaman Jaehee dan menghangatkan tubuhnya.

“Sayang?” panggil seseorang tersebut sambil bergelayut manja memeluk tubuh Jaehee. Sementara wanita itu hanya menyahutnya dengan deheman singkat. Yang memanggil kemudian tidak memberikan balasan dan terus bergelayut manja pada Jaehee –tak lupa tangannya yang merambat kesana kemari.

“Ya! Oh Sehun, berhenti melakukan apa yang kau lakukan sekarang dan pakai bajumu sana,” kata Jaehee pada akhirnya, jengah dan risih pada tindakan Sehun.

“Bajuku sedang kau pakai, Sayang. Ah! Bagaimana kalau kau melepasnya sekarang supaya aku bisa memakai bajuku?” ujar Sehun yang kemudian harus rela mendapat cubitan menyakitkan dari Jaehee. “Urgh, kenapa kau kasar sekali padaku? Bagaimana aku bisa menikah dengan seseorang yang sadis sepertimu, Ya Tuhan…” gerutu Sehun sembari setengah cemberut dan berjalan malas menuju kloset pribadi mereka untuk mengganti pakaian. Jaehee yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala tak heran.

Ya, Oh Sehun, pria yang dulu sahabatnya itu sudah hampir setengah tahun telah resmi menjadi suaminya. Dan selama hampir setengah tahun ini pula Jaehee harus menghadapi Oh Sehun yang tiba-tiba berubah menjadi manja padanya, ah! Tak lupa sifat pervert-nya yang terkadang membuat Jaehee tertekan –dan terpaksa menuruti Oh Sehun and you know what I mean here.

Kehidupan di hari Minggu tidak jauh berbeda dari minggu-minggu yang lalu, pasangan muda ini lebih senang menghabiskan waktu bersama di rumah. Seperti hari biasanya, Jaehee akan memasak sendiri makanan untuknya dan Sehun, namun di hari Minggu, Jaehee memang meluangkan waktu lebih lama di dapur. Sementara Sehun akan menunggunya sambil bermain dengan Shiro, anjing lucu yang sudah menjadi bagian dari keluarga kecil mereka. Sesekali Sehun akan mengganggu sang istri entah tindakan apa yang dilancarkannya. Seperti saat ini, pria bertubuh jangkung itu kembali memeluk Jaehee dari belakang sambil menggigit kecil leher wanita yang beberapa belas senti lebih pendek darinya itu.

“Sehun-ah, bisakah kau menjauh sebentar dariku supaya aku bisa leluasa menyiapkan sarapan? Kau bisa duduk disana atau bermain dengan Shiro,” ujar Jaehee sambil menggeliat berusaha melepaskan diri dari jeratan Oh Sehun.

“Ya, kau pikir aku anak kecil suruh bermain terus dengan Shiro? Aku kedinginan, Sayang. Peluk aku.”

“Astaga Oh Sehun, lihat Shiro memandangmu aneh. Apa kau tidak malu dengannya terus bertingkah seperti ini padaku? Aku akan semakin lama menyelesaikan masakan ini.”

Sehun menyeringai tipis, berbisik ditelinga sang istri “bagaimana kalau kita sarapan yang lain, hmm?”

“Kau bosan hidup, hah?”

***

“Jadi kau akan pergi dengan Hyerin juga?” tanya Jaehee sambil menuangkan air kedalam gelas Sehun.

Sehun mengangguk, menelan terlebih dahulu makanan dalam mulutnya sebelum meneruskan, “tidak usah khawatir. Sudah kubilang tidak hanya berdua saja, ada beberapa orang lagi dari departemen pemasaran yang juga ikut. Aku tahu kau tidak terlalu menyukai Hyerin, tapi dia yang akan sangat membantuku dalam memenangkan tender ini.”

Jaehee terdiam. Sehun memandangnya lekat. Selalu seperti ini, istrinya menaruh rasa curiga yang berlebihan pada Hyerin. Sehun tahu Jaehee tidak menyukai asistennya itu, tapi seperti yang sudah Sehun jelaskan, dia tidak bisa memecat Hyerin karena dia salah satu pekerja terbaiknya di hotel yang ia pimpin saat ini dan yang bisa dia lakukan selama ini hanya berusaha menjaga diri dan keyakinan Jaehee bahwa kekhawatirannya yang ‘kurang masuk akal’ bagi Sehun tidak akan terbukti.

“Tapi kau tidak akan tahu apa yang akan dilakukan Hyerin itu, kan?” gerutu Jaehee. “Ya Tuhan, kenapa perasaanku tidak enak kali ini?”

Sehun berganti posisi duduk disebelah istrinya, menghadapkan Jaehee padanya kemudian menangkup kedua pipi pualamnya dengan tangannya. “Oh Sehun dan Nam Hyerin akan tidur di satu hotel, Nam Hyerin akan membius Oh Sehun, Nam Hyerin akan menggoda Oh Sehun, kemudian mereka akan tidur bersama, lalu Nam Hyerin akan hamil, dan Oh Sehun harus menikahi Nam Hyerin. Begitu kan? Skenario konyol yang ada dalam otakmu setiap aku harus bepergian dengan Hyerin? Sudah berapa kali kubilang jangan menonton drama terlalu banyak, Sayang. Kau harus berteman dengan Hyerin supaya tahu bagaimana–”

“Sifat Hyerin dan tidak menaruh curiga lagi padanya,” potong Jaehee sambil memutar bola matanya kesal. “Kau selalu seperti itu. Aku tahu bagaimana liciknya Nam itu. Cish, dia hanya baik didepanmu saja.”

Sehun tersenyum tipis. Sebenarnya Jaehee terlihat lucu ketika cemburu seperti ini, tetapi tentu saja hal ini tidak diharapkan oleh pria yang kini berusia 28 tahun itu. Sehun sebenarnya tahu Jaehee menaruh kepercayaan padanya, disisi lain wanitanya itu juga tidak mampu untuk menyembunyikan ketidaksukaannya ketika ia dekat dengan asistennya. Sehun sering bertanya-tanya pada Jaehee apa yang membuat dia selalu menuduh Hyerin licik tapi wanitanya itu selalu menolak memberikan penjelasan.

Sehun berdeham kemudian menatap Jaehee dalam, berusaha menyelami dan berbicara dari hati ke hati dengan istrinya tersebut. Tatapan matanya saat itu sejenak sempat membuat Jaehee nyaris melupakan pikiran buruk yang berkecamuk diotaknya. “Ya, Jaehee-ya. Sudah berapa lama kau mengenalku?”

“Kenapa bertanya begitu kau kan tahu jawabannya.”

“Jawab saja.”

“Eumm… 26 tahun?”

“Kau tahu seberapa dalam aku mencintaimu?”

“Eumm… kau bilang lebih dalam dari perasaanku.”

“Kau percaya padaku?”

“Tentu saja aku percaya. Yang aku tidak percayai adalah Nam Hyerin, bukan dirimu. Ah, sudahlah. Aku sudah tidak mood membicarakan ini lagi,” ketus Jaehee kemudian beranjak meninggalkan meja makan.”

“Kau marah?”

“Tidak.”

“Kau marah.”

“Kubilang tidak,” sahut Jaehee sedikit berteriak karena dia mulai menjauh menuju ke kamarnya.

***

Suhu dingin masih menyelimuti jantung Negeri Ginseng. Namun begitu kontras dengan kamar yang berkat pemanas ruangan, sang empunya nampak tertidur pulas. Oh tidak, sepertinya ada pengganggu lain. Shiro nampaknya tidak ingin membiarkan pemiliknya itu berlama-lama tertidur. Jaehee masih bertahan pada posisinya meskipun selimutnya kini mulai ditarik-tarik anjing lucunya. Namun sepertinya itu pun tidak bertahan lama karena suara dering telepon yang menandakan ada panggilan masuk memaksanya harus bangun.

Husband is calling…

“Eumm… why?” tanya Jaehee langsung masih memejamkan mata meskipun kini posisinya sudah duduk ditepian ranjang.

“Jam berapa ini? Kau bisa terlambat kerja, Sayang.”

“Aku tahu. Terimakasih sudah mengganggu tidurku. Aku harus bersiap-siap sekarang, kan? Aku akan menghubungimu lagi nanti. Bye, love you,” ujar Jaehee yang kemudian menutup panggilan tersebut setelah mendapat balasan dan bertukar kecupan jarak jauh dengan sang suami.

Jaehee barusaja selesai sarapan dan akan berangkat kerja saat salah seorang asisten rumah tangganya menghampiri dan memberikan sebuah amplop coklat besar. Sepertinya dokumen penting karena dibungkus begitu rapi. Dari siapa?

“Nona Oh, sepertinya amplop ini berisi dokumen penting. Baru tadi pagi-pagi sekali diantar kurir tapi tidak disebutkan siapa pengirimnya,” jelas Bibi Choi, asisten rumah tangganya.

“Benar untukku?” tanya Jaehee agak sangsi.

“Ya, Nona.”

“Baiklah, terimakasih Bibi Choi,” balas Jaehee lagi sambil melemparkan senyum.

Wanita berambur coklat gelap tersebut baru saja akan mengemudikan VW toscanya ketika rasa penasarannya akan amplop yang ditujukan untuknya itu muncul. Ia menunda keberangkatannya dan lebih memilih membuka amplop coklat tersebut. Ia masih bertanya-tanya kenapa bisa ada dokumen penting begini tapi tidak ada nama pengirim yang jelas?

Jaehee mengerutkan keningnya ketika dibukanya amplop tersebut dan berisi sebuah amplop lagi yang lebih kecil. Ia kemudian mengambil amplop tersebut sedikit ragu. Wanita itu membukanya dan… terkejut.

Foto? Sehun?

God…” erang Jaehee. Jarinya mulai gemetar. Tidak. Mimpinya, ketakutannya, pikiran buruknya selama ini tidak sedang menjadi kenyataan saat ini, kan? Apabila Jaehee sedang bermimpi sekarang, tolong segera bangunkan Jaehee.

Jaehee memaksakan dirinya melihat satu per satu foto-foto tersebut. Foto pertama hanya menampilkan suaminya, Sehun, dengan setelan celana kain hitam dan kemeja putih yang biasa pria itu kenakan saat bekerja. Namun kemeja itu sudah berantakan, tidak lagi dimasukkan ke celana dan lengannya digulung sampai siku. Pria itu nampak duduk di sebuah bar, dihadapannya sebuah gelas dengan wine yang tinggal satu senti tingginya dalam gelas.

Foto kedua membuat Jaehee menahan nafas. Sehun tengah melingkarkan tangannya di pinggang seorang wanita. Wanita itu berdiri dengan tubuh tinggi semampai layaknya model sementara Sehun masih duduk di kursi bar. Hyerin?

Foto ketiga berhasil membuat dada Jaehee semakin sesak. Sehun merangkul wanita itu, mereka sepertinya berjalan menuju sebuah ruangan. Oh, tidak. Jaehee semakin gemetar saat tahu bahwa wanita itu bukan wanita yang dikenalnya. Bukan Hyerin.

Dan foto keempat membuat kerongkongan Jaehee tercekat. Oh Sehun dan wanita itu nampak berada di sebuah ruangan. Sepertinya ruang VIP dari bar tersebut. Dan ya, mereka nampak tengah berciuman panas. Foto-foto berikutnya tak jauh lebih meredakan sakitnya dada Jaehee saat ini. Airmata wanita berambut coklat itu sudah mengalir deras sejak melihat foto ketiga. Oh Sehun, apa yang kau lakukan?

Drrt… Drrt…

Sebuah panggilan masuk. Jaehee sempat enggan mengangkatnya saat nama seseorang yang menyayat hatinya kini muncul di layar telepon genggamnya. Jaehee belum mengatakan apapun ketika menerima panggilan tersebut.

“Kenapa belum menghubungiku? Kau belum ke kantor?” tanya seseorang di seberang sana.

Jaehee terdiam sejenak, berusaha mengatur nafas dan suaranya supaya tidak menaruh curiga dan mengundang pertanyaan. “Belum.”

“Kenapa? Harusnya kau sudah sampai di kantor, bukan? Kau baik-baik saja, Sayang?” tanya sang pria kini mulai terdengar khawatir.

“Kalau aku menyuruhmu pulang sekarang apa kau akan datang?” balas wanita itu, tidak nyambung.

“Tentu saja aku akan datang. Tapi katakan dulu ada apa? Jangan membuatku khawatir, Sayang,” seseorang disana terdengar semakin gusar.

“Pulanglah, Sehun. Sekarang.”

***

Sehun barusaja datang dari Jeju. Ia memarkirkan mobilnya sembarangan dan kemudian segera masuk kedalam rumah. Menuju kamarnya saat tahu keadaan rumahnya sepi. Ia menghela nafas lega saat dibukanya pintu kamar dan melihat istrinya baik-baik saja. Nafasnya masih tersengal-sengal karena berlari. Ia menghampiri istrinya.

“Jaehee-ya?” panggil Sehun lembut, cukup berhasil membuat sang empunya nama memalingkan kepalanya pada Sehun. Dan hal tersebut membuat Sehun kembali terkejut. “Ya, ada apa?” Sehun segera duduk disamping Jaehee dan menangkup wajah wanitanya tersebut, terlalu khawatir. “Kenapa menangis? Apa sesuatu terjadi?”

Tak menjawab Sehun, wanita itu malah menatap tajam pria dengan penampilan berantakan itu. Kilatan marah yang barusaja disadari Sehun terlihat di mata hazel itu. Jaehee memberikan amplop yang membuatnya nyaris lumpuh tadi.

“Jelaskan padaku sekarang. Yakinkan aku bahwa itu bukan dirimu,” kata Jaehee singkat dan datar. Sementara lawan bicaranya mulai membuka amplop tersebut.

“Ahn Jaehee…” gumam Sehun. Ia terkejut. “Ini…”

“Kenapa kau melakukan ini, Sehun? Aku memberikamu kepercayaan sepenuhnya. Kau tahu seberapa takutnya aku ketika kau harus pergi ketempat lain tanpaku. Kau tahu aku mudah cemburu. Kau tahu aku…” Jaehee tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Suaranya yang parau kini berganti dengan isakan memilukan.

Pria itu berlutut didepan Jaehee. Menggenggam tangan wanitanya erat. “Maafkan aku, Jaehee-ya,” ujarnya lirih.

Jaehee tahu arah pembicaraan ini. Dan isakannya semakin menjadi. Perasaannya campur aduk. Pikirannya bahkan kosong, tak mampu memproses apapun. Mereka terdiam dengan posisi yang sama. Hingga kemudian tubuh Jaehee limbung, tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Ya, tubuhnya tahu betapa remuknya jiwa wanita itu saat ini. Tidak ada suara apapun selain isakan Jaehee yang memenuhi ruang tidur berdekorasi minimalis tersebut.

“Nona Oh!” suara Bibi Choi terdengar menyusul ketukan pintu kamar pasangan mudah tersebut. Jaehee menggeliat. Tubuhnya lemas, tak mampu membuka mata meskipun mendengar panggilan Bibi Choi beberapa kali. Kenapa Oh Sehun tidak membukanya saja?

Jaehee merasakan punggungnya ditepuk pelan beberapa kali. Ia membuka mata, mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan… “Mana Oh Sehun?”

“Ya?” tanya Bibi Choi balik.

“Mana Oh Sehun?” ulang Jaehee, kali ini sedikit meninggikan suaranya.

“Nona, bukankah Tuan Muda Oh sedang pergi perjalanan bisnis ke Pulau Jeju sejak kemarin?”

“Ya?” tanya Jaehee bingung.

“Oh astaga, Nona, apa anda barusaja menangis? Kenapa mata anda bengkak? Perlukah saya ambilkan air dingin untuk mengompresnya?”

“Tunggu, bibi. Maksud bibi, Oh Sehun belum pulang? Bukankah Sehun sudah kembali? Kemarin kami bertengkar disini,” jelas Jaehee yang justru membuat asisten rumah tangganya tersebut bingung.

“Nona, mungkin Nona hanya bermimpi. Tuan Muda Oh baru akan kembali dua hari lagi,” ujar bibi Choi mulai menyadari situasi. “Saya akan mengambilkan minum dan air dingin untuk mengompres Nona.”

Ahn Jaehee terdiam sejenak. Semenit kemudian tangannya dengan cekatan menggapai ponselnya dan menekan angka satu beberapa detik sampai tersambung ke nomor seseorang, melakukan panggilan.

“Selamat pagi, wifey. Aku barusaja akan menghubungimu, tapi kau menghubungiku duluan. Sepertinya kita memang berjodoh,” ujar seseorang diseberang sana disusul tawa renyah yang tiba-tiba saja dirindukan Jaehee.

“Sehun-ah,” panggil Jaehee, ia menggigit bibirnya yang bergetar.

“Ya, Sayang?” sahut Sehun yang justru membuat Jaehee mulai terisak. Kentara suara panik diseberang sana mendengar isakan wanita berlesung pipi itu. “Jaehee-ya, jangan membuatku harus terbang ke Seoul sekarang juga.”

“Sehun… aku… aku bermimpi… kau… kau selingkuh,” ungkap Jaehee patah-patah karena masih menangis, yang kemudian ditanggapi Sehun dengan lenguhan panjang. Istrinya mulai lagi.

***

Suhu dingin masih menyelimuti jantung Negeri Ginseng. Namun begitu kontras dengan kamar yang berkat pemanas ruangan, sang empunya nampak tertidur pulas. Oh tidak, sepertinya ada pengganggu lain. Shiro nampaknya tidak ingin membiarkan pemiliknya itu berlama-lama tertidur. Jaehee masih bertahan pada posisinya meskipun selimutnya kini mulai ditarik-tarik anjing lucunya. Namun sepertinya itu pun tidak bertahan lama karena suara dering telepon yang menandakan ada panggilan masuk memaksanya harus bangun.

Husband is calling…

“Eumm… why?” tanya Jaehee langsung masih memejamkan mata meskipun kini posisinya sudah duduk ditepian ranjang.

“Jam berapa ini? Kau bisa terlambat kerja, Sayang.”

“Aku tahu. Terimakasih sudah mengganggu tidurku. Aku harus bersiap-siap sekarang, kan? Aku akan menghubungimu lagi nanti. Bye, love you,” ujar Jaehee yang kemudian menutup panggilan tersebut setelah mendapat balasan dan bertukar kecupan jarak jauh dengan sang suami. Sepertinya ada yang aneh. Atau hanya perasaannya saja?

Jaehee barusaja selesai sarapan dan akan berangkat kerja saat salah seorang asisten rumah tangganya menghampiri dan memberikan sebuah amplop coklat besar. Sepertinya dokumen penting karena dibungkus begitu rapi. Dari siapa? Tunggu. Amplop coklat besar?

“Nona Oh, sepertinya amplop ini berisi dokumen penting. Baru tadi pagi-pagi sekali diantar kurir tapi tidak disebutkan siapa pengirimnya,” jelas Bibi Choi, asisten rumah tangganya.

“Benar untukku?” tanya Jaehee agak sangsi. Perasaannya semakin aneh.

“Ya, Nona.”

“Baiklah, terimakasih Bibi Choi,” balas Jaehee lagi sambil melemparkan senyum, masih merasa aneh. Entahlah.

Wanita berambur coklat gelap tersebut baru saja akan mengemudikan VW toscanya ketika rasa penasarannya akan amplop yang ditujukan untuknya itu muncul. Ia menunda keberangkatannya dan lebih memilih membuka amplop coklat tersebut. Ia masih bertanya-tanya kenapa bisa ada dokumen penting begini tapi tidak ada nama pengirim yang jelas? Dan kenapa rasanya kejadian begitu aneh?

Oh, tidak. Bangun tidur. Sarapan. Amplop coklat besar. Tunggu. Bukankah ini seperti mimpinya? Astaga. Ya, benar. Tuhan… ada apa ini? Kenapa persis sekali kejadian-kejadian pagi ini dengan yang diimpikannya beberapa hari lalu? Apakah setelah ini Jaehee akan… Tidak, Tuhan. Tidak mungkin.

Jaehee buru-buru membuka amplop . Wanita itu membukanya dan… terkejut.

***

Pasangan suami istri itu kini sedang duduk berdampingan ditepian tempat tidur. Sang pria menghadapkan tubuh wanita itu kearahnya. Kedua tangannya menangkup kedua sisi wajah sang istri.

“Aku tidak salah dengar, kan?” mata insan itu berkaca-kaca.

“Tidak,” balas lawannya singkat.

Sedetik berikutnya, Sehun menarik wanita bersurai coklat gelap itu kedalam pelukannya. Mendekapnya erat, sembari menghirup aroma alami tubuh sang istri. Jaehee balas memeluknya, menenggelamkan wajahnya dibahu Sehun. Sama dengannya, pria itu tak mampu menahan air mata di pelupuk matanya.

“Apa kau mau melihat hasil yang kuterima tadi pagi?” tanya Jaehee yang dibalas gelengan kepala Sehun.

.

.

.

Thank you so much, baby. This is the best gift ever in my life,” bisik Sehun ditelinga Jaehee. “Let’s live more happily with little Oh from now on, Mrs. Oh.”

 

Yes, congratulation, Mister and Miss Oh.

 

***

 

Ahn Jaehee, 26 tahun, adalah seorang editor di sebuah perusahaan majalah bisnis fashion, Fashion Channel. Dia berwajah cantik dengan tubuh 165 sentimeternya yang ideal. Ia menikah dengan Oh Sehun satu tahun pasca kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan kini tinggal di sebuah rumah di kawasan Gangnam.

 

Oh Sehun, 28 tahun, adalah seorang pemilik hotel Hill di Seoul. Pria tampan ini menikahi Ahn Jaehee satu tahun pasca kedua orang tua gadisnya meninggal. Meskipun sudah menikah, Sehun masih populer di kalangan wanita dan menjadi salah satu pria yang paling diminati untuk dijadikan suami. Kini, bersama sang istri, ia tinggal di sebuah rumah di kawasan Gangnam, hadiah pernikahan dari orang tuanya dan orang tua Jaehee.

 

*END*

 

Hello, guys! Ketemu lagi dengan fiksi super absurd karya aku L yes, this is my second time sending my fanfiction on SKF after “Hindrance” (you can go search for it if you wanna know it ^^).

Well, first of all, thank you buat semuanya yang udah nyempetin baca cerita ga jelas ini. Maaf kalau misalnya masih banyak typo, karena aku nulisnya cuma beberapa jam aja dan aku males banget buat cek lagi dari atas /peace ya hehe/. Lagi, maaf banget tulisannya ga jelas, ga nyambung apa gimana, yah, itu semua hasil imajinasi aku bersama makhluk astral(?) /dalam kehidupan nyataku lol/ yang super duper cakep itu alias Oh Sehun hehehe. Yang kedua, aku mau ucapin makasih banyak /kali ini double/ buat yang udah baca, apalagi mau ninggalin komentar, baik saran, kesan, kritik (yang membangun). Terakhir, maaf kalo misalnya fanficnya failed banget L

Intinya, thank you semuanya yang udah nyempetin baca ^^

46 responses to “[Freelance] Misconception

  1. kirain teh bener si sehun selingkuh padahal tadi aku udah maki-maki si sehun abisnya kesel. hehe
    tapi hamdalah deh kalo itu cuma mimpinya jaehee.

    ka, harusnya sebelum di kirim ke adminnya tulisannya diperiksa lagi yaa. soalnya itu ada beberapa paragraf yang keulang. authornya harus lebih hati-hati lagi ya. tapi serius deh ceritanya aku suka ^^

    • Hellooo thank you for commenting serlia.
      Btw yang paragraf ngulang itu sengaja say scenenya kayak de javu gitu loh, antara kenyataan dan mimpi hehe sorry kalo jatohnya failed ya. Anyway thanks alot udah mau speak up😉

  2. Kamvreettt kirain beneran si albino selingkuhhh, uda baper dluan akuhh 😂😂😂😂, eh ternyata eh ternyata cuma mimpiii, malah dapett kabar istrii hamill, ini baguss uniee 👍👏👏👏

  3. bagus banget dehh !! kaka sequell pliss, sequel tentang ngidamnya jae hee pada saat hamil. fighting kak

  4. Ditengah tengahnya bikin jantungan eehhh taunya cuma mimpi aja 😂😂
    Bagus deh ceritanya . Apalagi kalo dibikin series pasti tmbh seru 😅

  5. Cuma mimpin syok kalo sehun beneran selingkuh sad ending trus de javu gitu tapi isi amplopnya beda. Congrats mr.oh dan mrs.oh

  6. aduh, sempat mikir td author nya kedouble paste pas bag. adegan ditgh2 mw abis, eh sklix kjdian yg mirip hehehh ud hmpir diskip td thor wkk, aaa chukka bwt sehun n jaehee yaaa.. such nice story😛

  7. Maaaf ya sehunnnn tadi udah hampir maki maki eh taunya cuma mimpi #kabur udah hampir baper padahal tuh hampir yaa hahahahaha. Sukaaaa ih gemassss, semangat teruus kak♥♥

  8. Kirain beneran sehun selingkuh ternyata cuma mimpi malah dapat kabar ngandubg little oh .. Selamattt ..
    Good job authornimm .. 🙆👏
    Sequel juseyo 😊😊 kalau ndak bisa nggaak aapa aaapaa hehehehehe

  9. waduh udah shock setengah mati kirain sehun bener-bener selingkuh.. fiuh~ untung cuma mimpi :’) dan alhasil amplop coklat itu kayanya hasil tes kehamilan jaehee horayyy~ selamat buat mereka mau ada little oh ciyee❤
    seru bangett… keep writing~

  10. Hah….saking ketakutan n cemburunya sampe mimpi sperti itu…ternyata yg sebenrnya hasil tes kehamilan saja…dikira sehun mmg bner2 selingkuh

  11. Kirain beneran selingkuh.. wahhh bikin deg-degan aja… tapi untungnya cuma mimpi and the end ternyata….happly ever after.. yeayy 대박 짱👍 박수👏👏👏 fighting buat story yg lain yeth.. ditunggu😉

  12. Wahh author keren,sampai buat gue maki maki sehun,teriak teriak sendiri dikamar,ngelempar handphone gue untung gak rusak hehehe,dan yang terakhir gue dibilang gila sama adek gue karena marah marah sendiri#nasip nasip:(
    Ehh ternyata cuma mimpi.
    Sehun oppa mianhae karena udah gua maki maki😄

    Author daebakk,terus buat karya ya author
    Keep writing and fighting ^^

    • Kekeke maaf ya udah sempet bikin kesel. Tapi seneng dong akhirnya happy ending. Anyway thank you udah ninggalin jejak😉

  13. oemjiii… dikira beneran si ohseh selingkuh:((( udh kzl dluan:’) ehh taumyaa….
    ciieee ada little oh^^

  14. Suka banget ♡♡
    Aku pikir Sehun beneran selingkuh gak taunya cuma mimpi doang, syukur deh.
    Kalo bisa sequel authornim, pengen tau masa2 kemahilannya gimana. Pasti bakalan kocak banget deh😄
    Keep writing authornim^^

  15. Ini sequel Hindrance kah? Eh iya ini sequelnya ya kakkkk!!! Horeeeee /seneng/ /abaikan/
    Akhirnyaaa mereka menikahhh, Jahee serasa dejavu yaaa
    Tenang aja Jahee, Sehun setia kok sama kamu. Dia kan udah janji sama kamu yang pas di Hindrance(?)
    Aaaaaaa so sweettttt aaaaaaaa
    Pokoknya ditunggu trus mereka ya kak! SEMANGAT! ^^

  16. Gk tau knp bacanya deg2an 😅😅😅😅😅
    Bikin sequelnya dong ka 😁😁😁😁
    Seru nih couple Sehun-Jaehee 👍👍👍👍
    Nextt~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s