[Freelance] Real or NOT? (Chapter 1)

1438815671591

Tittle : Real or NOT? –Chapter 1-

Author : hellosefa

Rating : PG-13

Length : Chapter

Genre : Comedy, Relationship

Main Cast : Oh Sehun (EXO) and Park Sunmi (OC)

Other Cast : Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc

Disclaimer : This is my original mind

 

Summary : Akibat kecerobohannya, seorang gadis terpaksa menjalani rutinitas dari gadis SMA biasa menjadi sosok yang dikenal banyak orang karena dia terlibat dalam skandal oleh seorang namja. Belum juga hidupnya tak lepas dari sikap protektif sang kakak. Di balik itu semua, dia mempunyai seorang sunbae yang baik yang  kadang juga menyebalkan, bagaimana kehidupan si gadis ceroboh ini?

 

 

Dengan langkah kecilnya, dia terus berlari. Menembus para pejalan kaki yang sudah mencaci makinya karena dia yang tidak sengaja menabraknya. Setengah jam, dia sudah terlambat datang ke restoran. Salah satu dari pekerjaan paruh waktunya. Dengan napas masih terengah-engah, akhirnya dia berhasil menginjakkan kakinya ke restoran ini. Sebelum dia memasuki restoran, dia mengatur nafas sebentar. Menstabilkan kondisinya yang sangat kelelahan akibat lari marathonnya. Lalu dengan langkah mantap, dia membuka pintu restoran secara perlahan. Mengintip sedikit kondisi restoran. Atau lebih tepatnya dimana posisi manajernya.

 

“Apalagi alasan yang akan kau gunakan, Park Sunmi?” seru seorang pria di belakangnya. Pria yang tampak berusia sekitar 30 tahun itu hanya memandangi Sunmi dengan kesal. Jengah memandangi sikap tak disiplin anak buahnya ini.

 

“Manajer, sejak kapan kau berdiri di sini? Lalu kapan aku pernah membuat berbagai alasan untuk menutupi keterlambatanku? Sebenarnya aku tidak ingin terlambat, tapi kau tahu seorang pelajar sepertiku selalu ada semacam pelajaran tambahan untuk menambah nilai mereka yang kurang. Lagipula aku hanya sedikit terlambat,” jelas gadis kecil ini sambil tertawa. Menutupi kegugupannya. Juga fakta bahwa dia telah berbohong lagi pada manajernya.

 

“Apakah itu pertanyaan penting? Jangan gunakan statusmu sebagai pelajar lagi untuk membual. Kau bilang 30 menit adalah ‘sedikit terlambat’. Cepat masuk, Sunmi! Sekali lagi kau datang terlambat, saya akan memecatmu,” tegas manajernya dengan tatapan tajamnya. Tanpa membuang waktu, Sunmi segera memasuki restoran. Berlari menuju ruang ganti. Mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian khas pelayan.

 

Secepat mungkin, dia mengganti seluruh pakaiannya. Menaruh sembarangan pakaiannya di loker. Menata diri sekilas di cermin. Memastikan dirinya telah berpenampilan rapi dan tidak memalukan dirinya di depan pelanggan. Setelah menghembuskan napas pelan, dia meneriakkan kepada dirinya sendiri, “Fighting, Sunmi! Kau pasti tidak akan membuat pelanggan marah lagi.”

***

 

Di tengah ramainya kota Seoul, seorang pemuda tengah berdiri dengan menggunakan topi dan masker. Lebih tepatnya dia sedang menyembunyikan wajahnya. Tanpa peduli pada tatapan bingung dari setiap orang yang memandangi sikapnya. Pemuda itu masih saja berdiri di tengah jalan dengan kedua lengannya diregangkan. Menikmati udara bebas yang sudah lama tidak dihirupnya. Pikirannya saat ini adalah bagaimana dia bisa menikmati kebebasannya sebagai seorang manusia biasa.

 

Hingga di tengah aktivitasnya, dia baru menyadari bahwa perutnya terus berbunyi. Dengan menghembuskan napas malas, dia melangkahkan kakinya menuju sebuah restoran Jepang. Walaupun dia belum pernah mengunjungi restoran Jepang, dia ingin mencoba sekali makanan Jepang. Sebelumnya, dia meneliti terlebih dulu setiap sisi dari restoran. Mencari tempat duduk yang kosong. Setelah dia menemukan tempat duduk yang sepertinya nyaman, dia mendudukkan dirinya dan melambaikan tangan ke seorang pelayan.

 

“Apa yang ingin Anda pesan, Tuan?” tanya seorang pelayan sambil menyerahkan daftar menu restoran.

 

Berlama-lama, pemuda itu membaca setiap makanan yang tertera di daftar menu. Memastikan dia tidak salah memilih menu untuk makan siangnya. Sebelum memesan makanannya, dia berbisik kepada pelayan “Apakah makanan ini terbuat dari udang? Saya mempunyai alergi dengan udang. Satu udang dapat membunuh saya.”

 

“Tenang makanan ini tidak terbuat dari udang, jadi Anda akan aman dari alergi. Lalu Anda ingin memesan ekkado, Tuan?” bisik pelayan itu juga sambil menunjuk makanan yang ada di daftar menu.

 

“Baik, saya pesan ekkado. Tolong cepat ya, saya sudah sangat lapar,” seru pemuda itu sambil mengeluarkan cengirannya.

 

“Oke, Tuan. Silahkan menunggu pesanannya,” balas pelayan itu sambil membungkukkan tubuhnya dan meninggalkan pemuda itu.

***

 

Lima belas menunggu, pemuda di hadapannya belum kunjung bangun. Gadis itu terus meremas pakaiannya dengan raut wajah khawatir. Hampir saja dia membunuh pemuda ini, sekilas kejadian setengah jam yang lalu terbayang di pikirannya.

 

 

“Kau sudah bekerja selama enam bulan, bagaimana kau tidak bisa mengingat bahan utama dari setiap makanan yang ada di menu? Kau hampir saja membunuhnya. Untung dokter mengatakan dia beruntung masih dapat di selamatkan. Selama sebulan, gajimu akan dipotong sebagai bentuk pertanggungjawabanmu atas kejadian hari ini,” kata manajernya sambil memberikan rincian biaya rumah sakit.

 

“Maafkan saya karena saya bertindak ceroboh hari ini, manajer. Terima kasih karena Anda hanya memotong gaji saya selama sebulan dan tidak memecat saya. Saya akan menunggu pemuda ini sampai sadar. Jadi Anda bisa kembali ke restoran,” jawab gadis itu sambil membungkukkan kepalanya sebagai tanda minta maaf.

 

“Baik, saya akan kembali ke restoran. Jika sudah selesai semua urusannya, kamu tidak usah kembali ke restoran dan besok saja kau bekerjanya. Tunggulah sampai dia sadar dan juga kau harus sampaikan permintaan maaf padanya atas kesalahanmu hari ini,” seru manajernya sambil berjalan keluar dari kamar pasien.

 

 

Dengan mengacak rambutnya secara frustasi, dia terus berjalan bolak-balik. Selama enam bulan dia bekerja, bagaimana dia bisa berbuat seceroboh itu? Apalagi kecerobohannya hampir menghilangkan nyawa seseorang, dia terus menepuk keningnya dengan kesal. Tanpa gadis itu sadari, pemuda itu sudah membuka matanya. Namun kondisinya yang masih lemah, belum sepenuhnya membuat dia menyadari kehadiran gadis itu. Kepalanya masih terasa pusing. Lalu dengan pandangannya yang masih buram, dia mulai meneliti ruangan tempat dia dirawat. Hingga dia berhasil menangkap kehadiran gadis itu.

 

“Siapa kamu?” tanya pemuda itu dengan kening berkerut.

 

“Saya…saya Park Sunmi, Tuan. Saya minta maaf karena kecerobohan saya hari ini menyebabkan Tuan hampir meninggal. Maafkan saya sekali lagi,” jawab gadis tersebut sambil menundukkan wajahnya. Menutupi wajahnya yang sangat ketakutan. Keringat dingin juga menghiasi wajah manisnya. Dengan perasaan bersalah, dia meremas tangannya sendiri. Tangannya terlihat gemetar. Pertanda dia sangat khawatir.

 

“Oh kau…pelayan bodoh itu. Kau yang sudah membuang waktu berharga saya. Kau itu ceroboh atau benar-benar bodoh sampai kau tidak mengetahui bahan utama dari setiap makanan di restoranmu. Apakah orang tuamu tidak mengajari anaknya dengan baik?’’ balas pemuda itu dengan nada dingin dan menakutkan. Dengan tubuh masih lemas, dia berdiri dari tempat tidur rumah sakit dan menghampiri gadis yang bernama Park Sunmi itu. Mendekatkan tubuhnya pada gadis itu. Mendorongnya hingga terpojong ke dinding kamar rawat.

 

“Mengapa kau tidak menjawab pertanyaan saya, pelayan bodoh? Berarti benar orang tuamu tidak mengajari putrinya dengan baik hingga putrinya hampir saja menjadi seorang pembunuh. Kau tahu gajimu setahun, itu tidak dapat mengganti kerugian saya pada hari ini,” lanjut pemuda itu sambil mengeluarkan smirk-nya. Mungkin yang dikatakannya terbilang keterlaluan, tapi tahukah kalian jika semuanya adalah kenyataan? Awalnya dia cuma berencana kabur dari jadwalnya yang padat selama dua jam, sebaliknya waktunya malah terbuang oleh ulah pelayan bodoh di hadapannya.

 

“Saya tahu bahwa saya benar-benar bodoh. Pelayan yang tidak seharusnya membuat hal sekecil itu menjadi masalah besar, bahkan nyaris mencelakainya memang layak disebut ‘pelayan bodoh’ seperti katamu. Saya juga tahu bahwa gaji saya selama setahun tidak dapat mengganti kerugianmu pada hari ini. Tapi bisakah kamu tidak menghina orang tua saya seperti itu? Kau boleh sesuka hati menyebut saya ‘bodoh’, tapi tidak untuk orang tua saya. Saya permisi dan jika kau merasa mengalami banyak kerugian, ini adalah nomor handphone saya. Kirim nomor rekeningmu dan saya mentransfer untuk kerugianmu hari ini,” tutur Sunmi yang matanya mulai memerah dan berair. Menahan dirinya untuk tidak terisak di hadapan pemuda ini. Dengan kesal, dia memberikan kertas berisi nomor ponselnya dan menerobos kedua lengan yang menahan tubuhnya ke dinding. Meninggalkan sendiri pemuda itu.

 

“Mengapa dia yang malah marah padaku? Seharusnya aku yang bersikap seperti itu padanya. Lalu apa niatnya memberikanku nomornya? Dia pikir aku pasti menghubunginya untuk minta ganti rugi. Aku berbicara seperti itu untuk membuatnya menyesal. Bukan meninggalkanku dan berbicara sekasar itu. Dasar pelayan bodoh!” umpat pemuda itu sambil meremas kertas itu dan membuangnya ke tong sampah. Kondisinya yang masih lemah tidak dia pedulikan. Dia langsung meninggalkan kamar rawat dan mengambil ponselnya di meja.

***

 

Berulang kali pemuda itu terus menghembuskan nafas frustasi. Sepanjang perjalanan kembali ke apartemennya, pikirannya selalu teringat kejadian di rumah sakit. Sejujurnya dia sangat membenci gadis kecil itu. Dia yang sudah merelakan seluruh jadwalnya hari ini demi mendapatkan kebebasannya. Tepatnya udara bebas. Demi Dewa Venus. Seluruh rencananya telah hancur berantakan karena ulah pelayan bodoh tersebut. Entah dewa kesialan mana yang harus mempertemukannya dengan pelayan bodoh itu.

 

Sedetik kemudian, perasaan kesal dalam dirinya berubah menjadi rasa penyesalan. Sekilas dia teringat pada ekspresi gadis bernama Park Sunmi itu. Mata gadis itu tampak memerah dan berair. Seperti menahan untuk tidak menangis. Apakah itu karena ucapannya yang kasar? Dengan gusar, dia mengacak rambutnya secara kasar. Mengapa dia harus menyesal berbuat kasar pada pelayan bodoh itu? Sikapnya sudah wajar mengingat kesalahan gadis itu. Sesaat kemudian perhatiannya segera teralihkan pada ponselnya yang terus bergetar. Tanpa berniat membaca namanya, dia langsung mengangkat ponselnya.

 

“Yeobseyo?” sapa pemuda itu dengan nada malas.

 

“Kau dimana, Oh Sehun? Kau sudah kabur dari jadwal aktingmu, dan mengingat letihnya kau yang baru pulang dari Shanghai. Aku tidak memaksamamu untuk syuting iklan hari ini dan membiarkanmu waktu istirahat. Namun apa yang kau perbuat di luar sana? Kau bukan beristirahat dan memilih untuk bermesraan dengan seorang gadis. Kau benar-benar…” terdengar suara pria dengan nada marah di ujung telepon.

 

“Bermesraan apa? Apa maksudmu, hyung?’ tanyanya balik. Nada malas sewaktu dia mengangkat telepon tergantikan dengan raut tak mengerti.

 

“Kau baca sendiri artikel di internet. Saat ini seluruh website heboh dengan beredarnya fotomu dengan seorang gadis berbaju pelayan. Cepat temui direktur, sepertinya direktur kesal melihat ulahmu ini” seru pria di ujung telepon. Setelah berbicara seperti itu, pria yang disebut ‘hyung’ mematikan teleponnya.

 

Penasaran dengan yang dibicarakan oleh manajernya, dia langsung membuka salah satu website berita Korea. Sebelum mencari namanya di pencarian, matanya menemukan sesuatu – yaitu pencarian paling banyak di ujung halaman website. Artikel berjudul “Sehun, si Bintang Besar Korea digosipkan bermesraan dengan seorang gadis yang tidak diketahui identitasnya” berada di urutan nomor satu. Dia pun mengklik artikel itu.

 

Dadanya seketika terasa terbakar. Membaca judul artikelnya saja, dia sungguh berniat membanting ponselnya. Merasa dipermainkan oleh pemberitaan yang tak masuk akal itu. Bagaimana mereka bisa memposting berita yang tak masuk akal seperti itu? Darimana juga mereka mendapatkan berita itu? Teringat identitasnya yang bisa terbongkar oleh supir taksi, dia hanya meremas ujung pakaiannya dengan geram. Secara perlahan, dia membaca keseluruhan isi artikel tersebut. Dan dia pun menemukan sebuah foto. Foto dia dan pelayan bodoh itu.

 

“Ah sial, siapa yang mengambil foto ini?  Mengapa juga aku berbuat seperti itu? Siapapun yang melihat pose seperti ini pasti mengira aku berniat mencium gadis ini. Aku harus menelponnya dan dia harus menjelaskan di hadapan pers bahwa kami tidak mempunyai hubungan apapun,” gerutunya sambil mencari nomor gadis itu di ponselnya. Bodoh…pikirnya. Dia segera menepuk keningnya ketika mengingat dia telah membuang kertas berisi nomor gadis itu.

 

“Ahjussi, tolong kembali ke rumah sakit lagi. Ada barang saya yang ketinggalan,” bohong Sehun sambil memukul kaca jendela untuk meluapkan emosinya.

***

 

“Aissh…dimana kertas itu? Aku ingat bahwa aku membuang kertas itu di tong sampah ini. Mana mungkin petugas kebersihan sudah membuang seluruh sampah? Aku baru meninggalkan rumah sakit selama 15 menit,” gerutu Sehun sambil membanting tong sampah. Membuat sampah menjadi berserakan di lantai kamar rawat. Sebelum dia bangkit berdiri, matanya tak sengaja menatap sebuah kertas. Dengan wajah antusias, dia mengambil kertas itu dan membukanya secara cepat. Lalu terdengar suaranya yang berteriak kegirangan.

 

 

“Thanks, God. Akhirnya aku menemukan kertas ini, seharusnya aku menyimpannya bukan membuangnya. Intinya hari ini aku harus menghubunginya. Dan membujuknya, agar dia menjelaskan pemberitaan ini di hadapan pers. Jika tidak, karirku akan berakhir dengan gosip tak bermutu seperti ini,” umpat Sehun dengan emosi. Seperti pria gila, Sehun memeluk kertas itu dengan erat.

 

“Lihatlah pria itu tampan, namun sayang dia gila. Dia memeluk sebuah kertas dengan erat seperti kekasihnya saja. Kasihan sekali pria itu,” bisik para perawat yang melewati kamar rawat tempat Sehun berada. Mendengar bisikan itu, Sehun melepas pelukannya pada kertas itu dan tersenyum pada para perawat yang melintas. Meisyaratkan bahwa dia tidak seperti omongan mereka.

 

TBC

 

Notes : Yes, I’m comeback. Kemarin ada yang bilang kependekan versi ficlet-nya, maka aku buat versi remake jadi long shoot ya. Dan jangan lupa kunjungi wattpad-ku https://www.wattpad.com/myworks/59319551-real-or-not .

 

 

3 responses to “[Freelance] Real or NOT? (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s