[Freelance] Sorry, Because I Love You Oppa (Chapter 7)

Sorry Because I Love You Oppa

Tittle:
Sorry, Because I Love You Oppa (Chapter 7)

Author: Joy Kim (@_kimshitjongin)

Main Cast
Kim Jong In a.k.a Kai (EXO)
Park Cheonsa(OC)

Other Cast
Xi Luhan (EXO)
Krystal F(x)
Min Young (OC)
Kim Myungsoo (Infinite)
EXO’s Member

Leaght: Chapter

Ratting: 16

Genre
School life, romance, sad

Disclaimer:
Dont plagiat!!! This is my pure fanfiction!

I am Sorry If you Find typos

 

Prev chap >> https://saykoreanfanfiction.wordpress.com/2015/08/20/freelance-sorry-because-i-love-you-oppa-chapter-6/

 

Ini sudah terhitung 1 minggu sejak dimana Cheonsa pingsan di rumah Kai. Dan setelah kejadian itu juga Cheonsa tak pernah berangkat ke sekolah dengan namja tersebut. Cheonsa tak pernah menunggu di depan gerbang kediaman Kim setiap pagi seperti apa yang selalu dilakukan yeoja itu 3 tahun terakhir ini. Tak pernah menampakkan batang hidungnya di depan Kai bahkan ketika di sekolah. Benar-benar tak seperti Cheonsa yang biasanya.

Kai membuka gerbang rumahnya dan seperti yang telah ia duga ia tak menemukan yeoja tersebut, Park Cheonsa. Namja dengan wajah datarnya itu menatap ke arah sekitarnya sebelum menutup gerbangnya kembali lantas melangkahkan kakinya menjauh dari rumah megah kediaman Kim menuju halte yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya untuk menunggu bus yang mengantarkannya ke sekolah. Kai melangkah pelan dengan ear phone yang terpasang di kedua telinganya. Ia memutar lagu dengan ritme sedang sekedar untuk mengusir rasa kesepiannya berjalan sendirian menuju halte bus.

Kai merasa kesepian?

Apa karena Park Cheonsa yang tak berangkat bersamanya?

Benarkah seperti itu?

Tapi bukankah sudah kukatakan beberapa kali kalau tak akan ada yang bisa menebak apa yang saat ini dirasakan Kai? Ya namja dengan wajah sempurna itu terlalu sulit untuk ditebak bagaimana perasaannya melalui raut mukanya.

Tak terasa Kai sudah sampai di halte bus. Tampak beberapa orang yang akan pergi bekerja dengan pakaian kantornya dan pelajar seperti dirinya sudah berdiri di halte menunggu datangnya bus.

Tak sampai 5 menit berdiri di antara orang-orang dengan tujuan yang sama dengannya – menunggu bis – , Jongin lantas bersiap-siap melangkah ketika melihat bus jurusan ke sekolahnya datang. Setelah sampai di dalam bus namja tersebut mengedarkan pandangannya mencari bangku yang masih kosong. Kai segera mendudukkan dirinya ketika menemukan bangku kosong di bagian belakang. Pagi ini penumpang bus yang mengantarkannya ke sekolah terlihat sedikit penuh. Lihat saja banyak sebagian penumpang yang harus berdiri lantaran bangku penumpang yang memang sudah penuh. Untung saja dirinya tadi cepat-cepat naik terlebih dahulu jadi tak sampai berdiri karena kehabisan tempat duduk.

Kai menolehkan kepalanya tatkala ia merasa terganggu. Pasalnya orang yang duduk di sampingnya sedari tadi tak bisa diam. Namja itu memandang datar ke arah seorang gadis yang memakai seragam JHS di sampingnya. Tampak gadis yang ditatap seperti itu oleh Kai menggigit bibirnya agar tak memekik keras di dalam bus yang penuh dengan penumpang ini.

“Bisa tidak kau diam”

Kata-kata dingin dan tajam meluncur begitu saja dari mulut Jongin lalu mengarahkan pandangannya kembali ke depan. Jongin tahu gadis di sebelahnya ini. Gadis yang memang satu kompleks dengannya. Gadis yang sering melihatnya secara diam-diam dengan teman-temannya.

Bukankah sudah kukatakan kalau tak ada satupun yang bisa menolak pesona seorang Kim Jongin? Termasuk gadis JHS ini. Seorang gadis yang kebetulan satu kompleks dengannya ini sering ia temui. Ani. Bukan temui sih sebenarnya karena Kai memang tak pernah peduli bahkan kepada semua pengagum dan penggemarnya. Ya gadis ini termasuk salah satu penggemr Kai. Gadis ini bahkan sering memandangi Kai ketika mereka setiap pagi bertemu di halte dan di dalam bus bersama teman-temannya. Bahkan jika kalian tahu, nama Kai begitu populer di kalangan remaja JHS juga.

Mengindahkan perkataan dingin Kai, gadis itu malah mengeluarkan suara untuk menanyakan sesuatu pada Kai.

“Oppa aku senang sekali akhirnya aku bisa duduk di samping Oppa. Hehe Andai saja kalau ada unnie penguntit oppa itu, pasti dia tak akan mengijinkanku untuk duduk di samping oppa”

Ucap gadis itu panjang lebar sambil mengambil foto Kai bebarapa kali dari arah samping dengan ponselnya membuat kai segera menurunkan ponsel gadis tersebut.

“Apa yang kau lakukan?” Kai memandang ke arah gadis tersebut begitu datar dan tajam yang ajaibnya tak membuat gadis tersebut takut sedikitpun. Malah gadis itu tersenyum-senyum aneh. Tentu saja gadis itu tak takut dengan tatapan tajam Kai karena menurut gadis tersebut ini merupakan kesempatan langka bisa sedekat ini dengan seorang Kim Jongin yang begitu terkenal akan ketampanan dan kesempurnaannya. Bahkan ia merasa melihat Kai menjadi lebih keren ketika berkata dingin dan datar seperti itu.

‘Benar-benar gadis gila’ Ucap Kai dalam hati.

“Oppa kemana yeoja yang selalu menguntit oppa itu? Pasti oppa senang karena unnie yang berisik dan bawel itu tak mengikuti oppa hari ini. Iya kan?” Gadis yang ternyata ber name tag Hong Sena itu bekata dengan percaya dirinya tanpa memperhatikan aura mematikan yang tiba-tiba keluar dari Kai. Masih dengan aura menyeramkannya Kai segera menghempaskan tangan Sena yang ternyata sedang sibuk lagi mengambil foto dirinya hingga ponsel yang digunakan gadis itu untuk mengambil fotonya terjatuh. Sontak hal itu membuat gadis tersebut terkaget memandangi ponselnya yang tergeletak di bawah kakinya lalu memandang Kai kembali yang saat ini benar-benar membuatnya takut.

Okay Sena boleh tak takut dengan tatapan tajam Kai tadi tapi saat ini aura mematikan Kai memang benar-benar membuat takut siapa saja yang melihatnya.

“Aku lebih baik duduk dengannya dari pada dengan gadis kecil tak punya malu sepertimu” Kai mendesis tajam tepat di depan wajah Sena dengan mata yang seakan akan ingin melahap hidup-hidup nyawa Sena saat itu juga sebelum beranjak dari duduknya dan memilih untuk berdiri dan membaur dengan penumpang lainnya yang berdiri.

Gadis tersebut benar-benar membuat moodnya hancur pagi ini.

————————

Cheonsa segera melepas safe-bealtnya ketika mobil yang dikemudikan oleh eommanya sampai di depan sekolahnya, Cheongdam High School.

“Eomma janji ya ini yang terakhir. Besok eomma tak perlu mengantar Cheonsa lagi” Ucapnya memandang Nyonya Park yang saat ini tersenyum begitu manis ke arahnya sambil membelai rambut panjangnya.

“Apa benar kau sudah baik-baik saja sayang?” Raut wajah Nyonya Park terlihat khawatir.

“Eomma. Bukankah sudah Cheonsa katakan kalau Cheonsa baik-baik saja?” Cheonsa mempoutkan bibirnya. “Lagi pula ini sudah 1 minggu dan waktu itu Cheonsa hanya pingsan saja. Cheonsa tak apa-apa” Lanjutnya.

“Walaupun begitu eomma benar-benar khawatir sayang. Eomma takut kalau putri eomma ini tiba-tiba pingsan lagi”

Perlu kalian ketahui bahwasannya Nyonya Park masih belum mengetahui sebab mengapa Cheonsa pingsan. Karena ketika Cheonsa ditanya sebab mengapa ia pingsan, yeoja tersebut hanya menjawab, ‘aku juga tak tahu dan mungkin saja itu hanya karena aku kelelahan’. Dan ketika Nyonya Park meminta Cheonsa pergi ke dokter, gadis tersebut menolaknya dengan mentah-mentah pasalnya Cheonsa memang benar-benar benci dengan yang namanya rumah sakit.

“Eomma~”

“Arasseo Arasseo” Nyonya Park yang mendengar rengekan Cheonsa lantas mencium pipi chubby Cheonsa lalu mengangguk mengiayakan permintaan Cheonsa.

“Gomawo eomma. Saranghae” Cheonsa balas mencium pipi Nyonya Park. “Kalau begitu Cheonsa keluar dulu” lanjutnya lantas membuka pintu mobil dan keluar.

Sedangkan Nyonya Park tetap memandangi putri kesayangannya itu yang saat ini hampir memasuki gerbang sekolahnya. Sebuah senyum manis terukir di wajahnya ketika melihat putrinya ternyata sudah mulai menginjak dewasa. Waktu berlalu begitu cepat. Cheonsanya yang dulu begitu cengeng sekarang tumbuh menjadi gadis yang mandiri, dewasa dan ceria. Sebagai seorang ibu Nyonya Park begitu bangga memiliki putri seperti Cheonsa. Meskipun sifat manjanya belum sepenuhnya hilang. Lihat saja bagaimana Cheonsa selalu merengek kepada dirinya. But its okay, Nyonya Park tak mempermasalahkan itu mengingat Cheonsa memang anak satu-satunya keluarga Park.

Setelah punggung Cheonsa tak terlihat lagi dipandangannya, Nyonya Park lantas menutup kaca mobilnya dan menghidupkan mesin bersiap untuk melajukan kembali mobilnya. Tapi ia mematikan kembali mesin mobilnya tatkala pandangannya jatuh ke arah kotak bekal yang berada di dashboard mobil mewah miliknya. Wanita berumur 40 tahunan tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru saja dirinya memuji putrinya itu tapi malah sekarang sifat ceroboh putrinya kembali lagi.

Nyonya Park dengan sedikit terburu-buru lantas mengambil kotak bekal milik Cheonsa lantas keluar dari mobilnya. Wanita tersebut sedikit berlari menuju gerbang sekolah yang saat ini mulai ramai dengan siswa-siswa yang baru saja memasuki gedung sekolah tersebut. Ketika sampai di gerbang sekolah Nyonya Park berhenti sekedar untuk mentralkan napasnya.

“Kemana Cheonsa?”

“Cheonsa!”

“Cheonsa!”

Nyonya Park berteriak tatkala melihat Cheonsa dari jauh yang saat ini hampir menginjakkan kakinya di gedung sekolah. Dirinya tak mungkin mengejar Cheonsa lagi. Tak kuat untuk berlari lagi. Tapi bagaimana kalau Cheonsa tak mendengarnya? Putrinya itu belum sarapan tadi pagi. Nyonya Park sudah membujuk dengan segala cara agar Cheonsa mau sarapan pagi tadi tapi gadis itu menolak. Mengambil nafas dalam-dalam lalu Nyonya Park berteriak kembali dengan lumayan keras. Bahkan teriakannya membuat sebagian siswa Cheongdam High School memandanginya heran.

“Cheonsa!”

“Maaf ahjumma”

Suara seseorang dari belakang tubuhnya membuat Nyonya Park yang sedari tadi memandangi Cheonsa yang tetap berjalan ke arah gedung sekolah mau tak mau membalikkan tubuhnya. Dan ketika ia berhasil membalikkan tubuhnya, hal pertama yang dilihatnya adalah namja tampan yang memakai seragam yang sama dengan putrinya.

“Ahjumma memanggil Cheonsa?”

Pertanyaan yang keluar dari namja di depannya membuat Nyonya Park tersadar. Kalau boleh jujur Nyonya Park memang sedikit terpesona dengan ketampanan namja muda yang kemungkinan merupakan teman atau sunbae putrinya di sini.

“Ah ne. Bekalnya ketinggalan nak”

“Aku akan memanggilnya ahjumma” Namja tersebut berkata yang hanya dibalas anggukan oleh Nyonya Park. Setelahnya namja tersebut berteriak dengan begitu keras hingga sekali lagi membuat sebagian murid-murid Cheongdam memandang ke arah namja tersebut dan dirinya. Ah ani. Jika dilihat-lihat Nyonya Park melihat sebagian murid perempuan mulai memandangi dan saling berbisik dengan teman perempuannya yang lain sambil memandang penuh kagum ke arah namja di sampingnya.

‘Tak salah aku tadi terpesona dengan anak muda ini. Sepertinya dia memang namja populer di sekolah ini’ Gumam Nyonya Park dalam hati.

Cheonsa yang merasa ada yang memanggil namanya lantas menolehkan kepalanya. Dan dahinya mengernyit heran tatkala melihat Luhan yang sedang melambai ke arahnya? Bersama eomma-nya yang sedang berdiri di samping Luhan?

‘Ada apa?’ pikir Cheonsa lantas berjalan kembali ke arah gerbang sekolah.

Ya. Namja yang menyapa Nyonya Park tadi Luhan. Xi Luhan. Luhan yang memang tadi baru saja tiba dan melihat Nyonya Park yang memanggil-manggil nama Cheonsa lantas mendekati wanita paruh baya yang diduga adalah eomma Cheonsa melihat wajah mereka yang memiliki kemiripan.

“Eoh eomma ada apa?” Tanya Cheonsa ketika sampai di depan eomma-nya. “Dan kenapa eomma bisa bersama dengan Luhan Oppa?” Lanjutnya memandang ke arah Luhan.

“Bekalmu ketinggalan sayang. Kaukan belum sarapan” Nyonya Park mengangkat kotak bekal yang sedari tadi dibawanya lantas memberikannya kepada Cheonsa. Lalu wanita paruh baya itu teringat dengan perkataan putrinya tadi. Apa tadi? Luhan Oppa? Jadi namja di sampingnya ini sunbae Cheonsa? Dan putrinya itu memanggilnya Oppa? Apa mereka sudah begita dekat sampai-sampai putrinya yang polos itu memanggilnya Oppa?

“Ini siapa sayang?” Tanya eomma Cheonsa dengan senyuman aneh di bibirnya sambil memandang Luhan. Cheonsa yang sadar lantas memperkenalkan Luhan ke eomma-nya.

“Oh ini sunbae Cheonsa. Namaya Luhan. Dia baik sekali pada Cheonsa eomma”

“Annyeonghaseo. Naneun Xi Luhan imnida. Ahjumma bisa memanggil saya Luhan. Saya ditingkat akhir tahun ini” Luhan membungkuk sopan memperkenalkan dirinya. “Dan kau terlalu berlebihan Cheonsa. Sudah seharusnya kita saling membantu kan?” Lanjutnya dengan senyum menawannya.

“Annyeonghaseo Luhan-ssi. Benarkah seperti itu? Kalau begitu ahjumma benar-benar berterima kasih” Ucap Nyonya Park tulus lantas menolehkan kembali kepalanya ke arah Cheonsa.

“Jangan lupa habiskan bekalmu sayang. Dan nanti eomma akan menjemputmu tapi tunggu eomma dulu ya karena eomma mungkin nanti masih ada urusan. Jadi mungkin agak telat” Nyonya Park berkata panjang lebar.

“Eomma bukankah bilang kalau ini yang terakhir?” Cheonsa merengek dan mempoutkan bibirnya membuat Luhan tersenyum melihatnya. Dan asal kalian tahu Nyonya Park melihat senyuman Luhan itu tanpa Luhan sadari.

“Bukankah eomma juga sudah bilang kalau kau boleh berangkat dan pulang sendiri mulai besok sayang?”

“Tapi aku capek kalau harus menunggu eomma”

“Eemm. Nanti Oppa bisa mengantarmu Cheonsa” Luhan tiba-tiba ikut dalam pembicaraan antara ibu dan anak itu membuat Cheonsa dan Nyonya park lantas menolehkan kepalanya ke arah Luhan. “Itupun kalau ahjumma mengijinkan” Lanjut Luhan dengan senyuman tulusnya.

“Anio Oppa. Cheonsa tidak apa-apa kok”

“Emm baiklah Cheonsa kau nanti bisa pulang dengan nak Luhan”

Nyonya Park malah mengiayakan tawaran Luhan berbeda dengan Cheonsa yang menolak tawaran Luhan karena merasa sungkan dan tak enak.

“Eomma”

“Gwaenchana Cheonsa. Oppa nanti akan mengantarmu pulang” Luhan mengiyakan yang hanya dibalas anggukan lemah Cheonsa.

“Kalau begitu eomma pulang dulu ne? Belajar yang rajin putri eomma yang cantik” Nyonya Park mengedipkan sebelah matanya membuat Cheonsa menunduk malu lantaran eommanya mengatakan kalau dirinya cantik di depan Luhan. Itu benar-benar memalukan. Bagaimana kalau nanti Luhan menertawakan dirinya lantaran dirinya tak cantik di mata Luhan sebagaimana yang eommanya katakan? Sedangkan Nyonya Park hanya terkekeh melihat Cheonsa yang menunduk lantas melangkah keluar gerbang sekolah.

“Tak mau masuk?” Suara Luhan yang berada tepat di depan wajahnya menyadarkan Cheonsa yang sedari tadi menunduk lntas mengangkat wajahnya.

“Ah ne” Jawab Cheonsa cepat.

“Kajja”

Luhan dan Cheonsa berjalan beriringan ke dalam bangunan sekolah membuat sebagian murid Cheongdam High School khususnya murid perempuan saling berbisik dan menatap iri ke arah Cheonsa. Tapi Cheonsa tak mengiraukan tatapan-tatapan tersebut dan memilih untuk terus melangkahkan kakinya ke dalam sekolah yang saat ini sudah terlihat ramai.

“Beberapa hari ini kau tidak masuk sekolah? Oppa tak pernah melihatmu” Tanya Luhan sambil menolehkan wajahnya ke arah Cheonsa yang berjalan di sampingnya.

“Cheonsa selalu masuk kok oppa. Hanya saja..” Cheonsa menggigit bibir bawahnya.

“Hanya saja?” Luhan mengulangi kata-kata Cheonsa.

“Hanya saja emmm oh iya. Banyak sekali tugas oppa” Cheonsa akhirnya menemukan alasan atas pertanyaan Luhan tersebut. “Aku bahkan sampai lelah setiap hari harus bergelut dengan begitu banyak pr” Lanjutnya dengan menghembuskan nafas lelah yang membuat Luhan terkekeh geli dan tanpa sadar melayangkan tangannya untuk mengusap rambut lembut Cheonsa. Tapi Luhan buru-buru menurunkan tangannya tatkala sang pemilik kepala tersebut berhenti dan memandanginya dengan tatapan sedikit terkejut.

“E-oh maaf” Luhan tersenyum kikuk.

“Kkaja aku akan mengantarmu ke kelas. Sepertinya bel masuk kurang 10 menit lagi”

Dengan tanpa rasa bersalah karena sudah membuat Cheonsa terkejut dengan perbuatannya tadi, Luhan malah menggenggam pergelangan tangan Cheonsa menuju kelas X-2 yang tentu saja membuat Cheonsa semakin terkejut dan menimbulkan rona merah di pipi yeoja cantik tersebut.

Tanpa mereka ketahui seorang namja yang sedari tadi mengamatinya dari jauh memperlihatkan senyum miringnya dan tatapan tajam penuh kebencian.

“Apakah ini suatau kebetulan?” gumamnya kepada diri sendiri.

————————

Kai dengan tergesa-gesa turun dari bus yang ditumpanginya karena gadis-gadis yang sudah membuat moodnya menjadi begitu buruk di paginya ini terdengar memanggil-manggil namanya di belakang .

“Shit!” umpatnya.

Kai melangkahkan kaki-kaki panjangnya cepat menuju bangunan besar yang tak jauh dari halte tempatnya turun tadi yang tak lain dan tak bukan adalah gedung sekolahnya. Namja dengan wajah datar layaknya papan itu melangkah dengan sangat dingin. Bahkan sapaan dari sebagian besar murid Cheongdam High School baik itu junior, senior ataupun teman seangkatan yang menyapanya dengan senyuman lebar 5 jari bermaksud untuk menarik perhatiannya ia hiraukan sama sekali. Dirinya berdoa semoga di hari-hari kedepan dirinya tak dipertemukan lagi dengan gadis-gadis berisik seperti mereka.

Kai terus meluruskan pandangannya ke arah depan seolah dirinya adalah satu-satunya murid yang sedang berjalan di sekolah yang luas ini. Tapi tak lama setelah itu pandangannya semakin menajam tatkala melihat punggung seorang lelaki yang dikenalnya. Dia Xi Luhan. Hyungnya yang memiliki senyum seperti malaikat. Bukannya Kai adalah seorang gay yang menyukai Luhan ataupun senyuman Luhan. Tapi ayolah! Bahkan semua orang memang mengakui kalau namja berdarah China itu memiliki senyuman menawan bak seorang malaikat. Yahh walaupun masih lebih menawan senyum milik dirinya. Kai tertawa setan dengan pikirannya sendiri di dalam hati.

‘Tapi Luhan hyung sedang berjalan bersama siapa?’ batinnya tatkala manik matanya menangkap sosok yeoja yang sedang berjalan beriringan dengan Luhan. Setahunya selama berada di Cheongdam sejak sekitar 2 tahun yang lalu Luhan tak pernah dekat dengan yeoja. Ya walaupun tak perlu dipertanyakan seberapa banyak gadis yang mendekati Luhan. Tapi Luhan memang tak pernah dekat dengan mereka semua. Jangankan gadis lain, Soojung yang merupakan satu-satunya yeoja yang dekat dengan semua sahabatnya di EXO saja tak berlaku dengan Luhan. Dan bolehkah Kai berkata kalau Luhan bahkan tidak menyukai Soojung? Tapi Kai tak tahu juga apa alasannya. Sekali lagi Kai tegaskan kalau Kai tak meragukan ke manly-an Luhan sebagai namja. Hanya saja Kai berpikir mungkin hyungnya itu memiliki kriteria sendiri yeoja yang bisa menarik hatinya dan itu tak Luhan ditemukan di sekolah ini. Atau mungkin belum?

“Hyung!” di dorong oleh rasa penasaran akan gadis yang sudah berhasil untuk pertama kalinya bisa berjalan beriringan dengan Luhan, Kai memanggil Luhan dari jauh tatkala matanya melihat Luhan yang sepertinya akan berbelok ke arah koridor kelas X.

“Luhan hyung!” sekali lagi Kai berteriak sambil berlari menghampiri Luhan tatkala Luhan tak mendengar teriakannya. Dan berhasil! Luhan menolehkan kepalanya dengan wajah sedikit terkejut tatkala mendapati Kai sudah berada di belakang tubuhnya.

“Sejak kapan kau berada di belakangku? Apakah kau bisa berteleportasi?” Tanya Luhan seperti orang bodoh dengan wajah lucunya seperti bocah polos berusia 10 tahun. Kai yang mendengarkan ucapan tak masuk akal hyungnya itu malah memutar bola matanya malas.

“Hyung berhenti ber-“

Ucapan Kai untuk menyadarkan pikiran konyol Luhan terhenti tatkala matanya terkunci oleh gadis yang membuatnya penasaran sejak tadi membalikkan tubuhnya yang sebelumnya menghadap ke depan. Tampak dari wajahnya kalau gadis itu sedikit terkejut melihat dirinya layaknya dirinya adalah seorang hantu. Tak kalah dengan wajah terkejut yang tampak sekali dari yeoja di depannya Kai juga sedikit membelalakkan matanya. Tapi itu tak lama karena detik berikutnya Kai dapat mengubah ekspresinya menjadi datar kembali tatkala mata yang sama terbelalak di depannya menundukkan wajahnya.

“Oppa aku akan ke kelas dulu”

Suara lembut yang mengalun di telinganya memaksanya untuk mengalihkan matanya kembali menatap wajah yang sudah sekitar seminggu tak dilihatnya ketika Kai akan mengalihkan pandangannya ke arah Luhan yang hanya diam memandangi dirinya dan Cheonsa. Ya yeoja yang berjalan dengan Luhan adalah Cheonsa. Gadis yang selama seminggu ini tak menampakkan batang hidungnya sama sekali.

Luhan yang tak mengerti apa yang terjadi lantas menahan tangan Cheonsa yang akan beranjak meninggalkan dirinya dan Kai. Memegang pergelangan tangan Cheonsa. Menahan gadis itu pergi ke kelasnya sendiri.

“Tunggu! Bukankah oppa sudah bilang kalau oppa akan mengantarmu ke kelas?”

“Eeem Oppa, Cheonsa bisa ke kelas Cheonsa sendiri.. Oppa-“ Cheonsa melihat pergelangan tangannya yang tetap digenggam oleh Luhan lalu mengalihkan pandangannya dengan sedikit takut-takut ke arah namja di samping Luhan yang saat ini menatapnya tajam? Ani! Bahkan seakan-akan tatapan itu terlihat bisa mengulitinya saat ini juga. Cheonsa lantas menundukkan pandangannya kembali. Dirinya belum siap menatap mata hitam pekat itu. Belum.

“Annyeong Oppa” Cheonsa dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Luhan dan berjalan sedikit cepat dan terburu-buru menjauhi 2 namja paling tampan di Cheongdam itu. Tapi beberapa ia melangkah suara Luhan menghentikan langkahnya dan terpaksa Cheonsa membalikkan badannya.

“Ne?”

“Jangan lupakan janjimu tadi okay?” Luhan tersenyum sangat lebar membuatnya terlihat semakin tampan yang membuat Cheonsa tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Tapi sedetik kemudian senyuman itu hilang tatkala matanya tak sengaja bertubrukan kembali dengan mata sehitam pekat itu. Cheonsa dengan cepat membalikkan kembali badannya menghiraukan Luhan yang saat ini melambaikan tangan dengan semangat ke arahnya. Melangkah cepat ke arah kelasnya. Cheonsa butuh untuk menenangkan jantungnya kembali yang menggila sejak netranya menatap netra yang selalu memandang tajam ke arahnya yang sialnya Cheonsa begitu mengagumi mata dan pemilik mata itu. Cheonsa butuh menenangkan dirinya agar tak langsung menubruk tubuh namja itu dan memeluknya begitu erat.

Di dalam hatinya yang paling dalam dia benar-benar merindukan namja itu. Jongin oppa-nya. Tapi ada sisi dari drinya yang merasa belum siap untuk bertemu apalagi berlama-lama berada dekat dengannya. Hatinya belum siap. Masih terlalu sakit.

Di tempatnya, Luhan tetap melambaikan tangannya dengan semangat walaupun Cheonsa tak membalikkan badannya sama sekali. Lelaki itu kelewat bahagia pagi ini. Namja berdarah China itu berpikir mimpi apa semalam dirinya sehingga pagi ini moodnya bisa menjadi benar-benar bagus. Park Cheonsa memang berbeda. Selalu bisa membuatnya tak bisa untuk tak menunjukkan senyuman menawannya bak orang bodoh.

“Sampai kapan hyung akan tersenyum seperti itu?” Ucapan dingin Kai yang terdengar di telinganya menghentikan senyuman namja cantik itu. Luhan baru sadar bahwa ada Kai di sampingnya saat ini. Bahkan Cheonsa bisa membuat Luhan lupa akan sekelilingnya. Kkk

“Oh aku lupa kalau kau ada di sini……. Ice Prince?” Luhan menekankan kata terakhirnya karenna mendengar suara dingin Kai sambil terkekeh. Berikutnya Luhan merangkul bahu Kai dan menyeretnya ke arah koridor kelas XII menghiraukan Kai yang memberontak karena rangkulannya.

“Tidak biasanya” Ucapan ambigu Kai membuat Luhan melepaskan rangkulannya di pundak Kai dan menolehkan kepalanya ke arah namja yang lebih tinggi di sampingnya itu. Nampak kerutan di wajah Luhan menandakan kalau ia tidak mengerti dengan apa maksud Kai.

“Hyung. Tumben berjalan dengan yeoja di sini?” Kai berucap dengan tanpa ekspresi seperti biasa.

“Cheonsa maksudmu?” Tanya Luhan yang hanya dijawab dengan gumaman oleh Kai.

“Karena……… dia berbeda?” Luhan mengatakannya dengan agak sedikit ragu. Luhan juga tidak tahu kenapa dirinya selalu ingin membantu atau bahkan berada dekat dengan hoobae barunya itu. Sebelumnya Luhan belum merasa seperti ini. Bahkan dirinya belum pernah merasa sesenang ini ketika pagi-pagi datang di sekolah karena biasanya Luhan malas sekali kalau harus berangkat sekolah. Bukan karena Luhan tergolong murid malas atau apa. Hanya saja paginya yang setiap hari diwarnai dengan tatapan-tatapan memuja dari hampir seluruh penjuru sekolah atau bahkan sapaan dari setiap murid khususnya murid yeoja yang memaksanya untuk tersenyum setiap saat membuatnya muak. Jujur kadang Luhan ingin seperti Kai yang cuek dengan mereka semua tapi dirinya tak bisa.

Ngomgong-ngomong tentang kecuekan dan sikap Kai yang dingin selama ini, untuk apa bocah di sampingnya ini ingin tahu tentang dirinya dan yeoja tadi.

“Untuk apa kau tanya-tanya?”

“Karena ini sama sekali bukan gaya hyung” Jawabnya masih dengan tatapan lurus ke depan mengabaikan gadis-gadis yang saat ini mengintip di jendela-jendela kelas yang dirinya dan Luhan lewati. Kadang Kai merasa bahwa dirinya tak kalah dengan kepopuleran para penyanyi boy group di luar sana ketika sedang berada di sekolahnya.

“Ini juga sama sekali bukan gayamu Kai” Luhan tersenyum menggoda ke arah Kai yang sekarang menampakkan wajah kagetnya. Tapi itu hanya sesaat karena detik berikutnya namja dingin itu mengganti air mukanya menjadi datar kembali.

‘Benar-benar batu’ Luhan membatin sambil geleng-geleng kepala.

“Lupakan hyung. Aku juga hanya tanya” Kai melangkah lebih cepat meninggalkan Luhan tepat ketika mereka berdua mencapai pintu ruang kelas mereka.

Kai mendudukkan tubuhnya di samping Sehun yang kini terlihat sedang sibuk bermain dengan ponselnya. Tapi namja dengan kulit seputih susu itu mematikan lalu menyimpan ponselnya di dalam saku blezernya ketika merasakan bangku yang berada di sampingnya diduduki oleh seseorang.

“Oh kau sudah datang” Ucapnya berbasa-basi.

“Hmm” Kai hanya menggumam yang dibalas decakan sebal oleh Sehun. Sehun lantas memutar tubuhnya ke belakang. Tak ada gunanya mengajak bicara dengan sahabatnya yang satu ini. Membuat orang ingin uring-uringan saja.

“Pagi Sehun-ah”

“eoh. Hyung sepertinya bahagia sekali pagi ini. Ada apa?”

“Ani. Memangnya hyung tak boleh tersenyum seperti ini? Hyung semakin tampankan?” sifat narsis Luhan keluar. Sedangkan Sehun yang mendengar hyungnya berbicara seperti itu malah memasang wajah ngeri lalu menunjukkan ekspresi seakan-akan mau muntah membuat Luhan melotot tak terima.

“Waeyo?”

“Aku yang paling tampan hyung. Hyung tahu itukan. Bahkan Mama saja mengakui itu” Sehun menunjukkan senyum evilnya.

“Ya ya ya ya aku tahu. Mama memang selalu mebelamu. Tsk!” Sehun yang mendengar gerutuan Luhan hanya tertawa keras. Selalu menyenangkan sekali menggoda hyungnya ini. Haha Sehun selalu selalu sukses membuat Luhan menggerutu sebal dengan kata-kata itu. Memang benar bahwa Mama Luhan pernah bilang kepada mereka kalau Sehun memang lebih tampan. Tapi jika kalian ingin tahu, Mama Luhan berkata seperti itu sekitar 9 tahun yang lalu yang tentu saja itu hanya omong kosong. Ya memangnya mana ada seorang ibu yang mengatakan kalau anak orang lain itu lebih tampan dibandingkan dengan anaknya sendiri. Waktu itu Mama Luhan hanya menghibur Sehun agar bocah itu tidak menangis. Tapi bahkan Luhan memang terlalu bodoh karena menganggap apa yang dikatakan oleh Mamanya itu adalah sebuah kebenaran.

————————

Terlihat sebagian besar murid keluar dari kelas masing-masing ketika bel tanda istirahat yang terdengar di seluruh penjuru Cheongdam High School berbunyi. Banyak sebagian dari mereka yang langsung berlari ke arah kantin bermaksud untuk sekedar mengganjal perut mereka yang kosong setelah mengikuti pelajaran selama sekitar 5 jam. Ada juga yang berjalan ke arah kamar mandi. Mungkin membasuh muka setelah bergelut dengan berbagai macam pelajaran bisa menjernihkan sedikit pikiran mereka yang sedikit berasap. Tak jarang juga sebagian dari mereka yang pergi ke taman bermaksud untuk bersantai atau sambil memakan bekal yang mereka bawa dari rumah. Seperti halnya Cheonsa, gadis cantik itu mengeluarkan kotak bekalnya dengan lemas dari laci mejanya.

“Kau membawa bekal?” Tanya Min Young yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Cheonsa.

“Ada apa? Apa kau masih sakit? Seharusnya kau istirahat dulu di rumah jika masih belum merasa baikan Cheon” Min Young berdiri dari duduknya lalu menempelkan telapak tangannya di dahi Cheonsa. Mengecek apakah temannya itu baik-baik saja. Jujur saja yeoja dengan paras imut itu khawatir karena sejak tadi pagi datang ke sekolah Cheonsa tampak tak bersemangat sama sekali.

“Ania. Gwaenchana Youngi” Cheonsa memaksakan senyumnya karena ia tak mau membuat sahabatnya itu khawatir.

“Jongin Oppa lagi?” tak tau kenapa kata itu begitu saja keluar dari bibir mungil Min Young. Menurutnya siapa lagi yang bisa membuat Cheonsa seperti ini selain namja itu. Dan bang! Tebakannya sepertinya benar. Terlihat dari raut wajah Cheonsa yang berubah terkejut ketika Min Young menyebutkan nama namja itu. Min Young yang melihatnya hanya mendesah jengkel.

Jongin. Jongin. Dan jongin. Selalu Kim Jongin. Benar-benar brengsek.

Min Young yang akan mengomel dan mengumpat atas apa yang mungkin telah Jongin lakukan kepada sahabatnya itu mengurungkan niatnya tatkala teman satu kelasnya yang masih tinggal di dalam kelas bergerombol di depan kelas dan menjerit-jerit layaknya melihat boy band – boy band tampan yang begitu populer di negaranya saat ini. Begitu berisik. Min Young yang bermaksud akan mengomeli mereka juga terhenti -lagi- ketika seorang namja tampan masuk ke dalam kelasnya dan berjalan menuju ke arah bangkunya dan Cheonsa?

“Annyeong Min Young-ah” sapa namja itu dengan senyum malaikatnya.

“Eoh Oppa” Min Young menjawab dengan muka masih terkejut. Benarkah Luhan, sunbae tampannya sekarang menghampiri mejanya dan Cheonsa. Tapi untuk apa?

“Luhan Oppa” Cheonsa yang sedari tadi menghadap Min Young baru menyadari kalau namja di belakangnya yang barusan menyapa Min Young adalah Luha lantas membalikkan badannya. Senyuman hangat dari Luhan ia dapatkan ketika menatap namja China itu.

“Hehehe aku menagih janjimu tadi. Aku lapar~” Luhan mengelus perutnya seolah-olah dirinya sedang benar-benar lapar sambil tersenyum polos ke arah Cheonsa yang demi apapun membuat Cheonsa ingin mencubit pipi sedikit chuby Luhan. Sunbae-nya itu benar-benar imut terlihat seperti bayi. Tanpa sadar dia tersenyum manis ke arah Luhan sambil mengangkat kotak bekalnya.

“Janji? Janji apa?” Min Young yang tak tau apa-apa bertanya karena penasaran.

“Cheonsa berjanji akan membagi kotak bekalnya denganku Young. Jadi bolehkah aku memnijam Cheonsa-nya sebentar?” Luhan angkat bicara.

“Oh jadi kalian akan makan siang bersama? Tanpa aku?” Min Young berbicara sambil melirik ke arah Cheonsa berpura-pura marah. “Kalian jahat sekali. But its okay aku akan makan siang sendiri”

“Anio! Ayo kita makan bersama Young. Iyakan Luhan Oppa?” Cheonsa buru-buru berdiri dari duduknya ketika Min Young bersiap-siap seolah-olah dia akan berjalan keluar kelas yang dijawab anggukan tidak yakin dari Luhan. Ughhh bolehkan Luhan jujur kalau ia ingin makan siang berdua saja dengan Cheonsa?

“Eyyy aku hanya bercanda. Kalian makan sianglah berdua. Aku akan ke kantin sendiri. Kalau 1 kotak bekal itu kita makan bertiga perutku pasti tidak akan terisi penuh. Kau tau itukan?” Min Young berkata sambil tertawa yang disususl dengan tawa Luhan setelahnya. Menurut Luhan Min Young bernar-benar lucu dan blak-blakan.

“Oppa aku pinjamkan Cheonsaku padamu. Jaga dia okay?” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Cheonsa lalu melenggang pergi.

Min Young berjalan di koridor dengan sesekali menendang-nendangkan kakinya ke lantai merasa bosan. Bayangkan saja dirinya sekarang berjalan sendirian seolah-olah dirinya tak punya seorang temanpun. Hmmm mau bagaimana lagi? Min Young rela ditinggal sendirian asalkan Cheonsa tak murung lagi. Buktinya tadi sahabatnya itu tersenyum ketika ada Luhan. So its okay dirinya akan makan siang sendirian di kantin mengingat Min Young memang belum mengenal siapapun di sekolah ini selain Cheonsa dan Luhan tentunya.

Gadis dengan rambut sebahu itu berjalan cepat ke arah antrean counter makanan untuk mengambil makan siangnya. Sambil menunggu antrean di depannya, Min Young mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kantin mencari bangku kosong. Ini bahkan baru 10 menit yang lalu bel istirahat dibunyikan tapi kantin sudah hampir dipenuhi oleh sebagian besar murid yang memang mungkin sedang kelaparan seperti dirinya.

“Hi hoobae!” Min Young terlonjak kaget saat tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Hampir saja yeoja itu melayangkan tempat makannya yang masih belum terisi apapun ke kepala siapapun manusia yang mengagetkannya tapi kemudian ia urungkan ketika melihat cengiran dari sang pembuat ulah.

“Kau sendirian?” tanya orang tersebut sambil menengok ke kanan dan ke kiri. “Cheonsa mana?” Lanjutnya.

“Sunbae kau mengagetkanku. Hampir saja tempat makan ini melayang ke kepala sunbae” Jawab Min Young polos yang di tanggapi kekehan oleh namja di depannya yang ternyata Baekhyun.

“Kau sendirian?” Tanya Baekhyun yang bahkan sepertinya sudah akrab sekali dengan Min Young padahal mereka hanya saling berbicara satu kali sekitar seminggu yang lalu? Sedangkan Min Young hanya mengangguk mengiyakan sambil sibuk memilih makanan yang akan ia makan siang ini.

“Kalau begitu gabung saja dengan kami. Bagaimana?” Tawar Baekhyun.

“Bolehkah?”

“Tentu saja! Ayo”

Baekhyun mendudukkan tubuhnya di samping Sehun dengan semangkuk nasi, soup dan daging dalam nampan di tangannya. Tapi namja itu kembali berdiri ketika mengingat kalau ia melupakan sesuatu di belakangnya. Ah ani! Seseorang lebih tepatnya.

“Kau duduk di tengah saja Min Young-ah” Baekhyun mempersilahkan Min Young untuk duduk lebih dulu di bangku panjang itu. Sedangkan Min Young dengan sedikit kikuk dan gugup menuruti Baekhyun karena semua mata yang berada di meja itu menatap ke arahnya saat ini.

“Oh Min Young!” Suara Chanyeol yang menyapanya sedikit membuat Min Young rilex dari tatapan lain yang kini masih menatapnya datar. “Kenapa bisa bersama baekhyun?” Lanjutnya.

“Dia makan sendirian jadi aku ajak makan siang saja bersama. Tak apakan?” Baekhyun menjelaskan.

“Tentu saja” Jawab Chanyeol bersemangat. Ingat hanya Chanyeol. Sedangkan Sehun, Kai dan Soojung yang ternyata satu meja dengan mereka hanya diam lalu melanjutkan acara makan siangnya. Min Young yang melihatnya hanya mendecih. Menatap satu persatu-satu mata-mata yang tadi menatapnya datar. Heol~ meraka pikir Min Young takut? Oh no! Tidak sama sekali.

“Sun-“

“Eyy Min Young kau ini bagaimana sih tadi memanggilku oppa sekarang sunbae. Oppa saja okay?” Baekhyun tersenyum jenaka yang hanya dibalas kekehan Min Young.

“Panggil aku oppa juga” Chanyeol tak mau kalah. Mereka semua lalu tertawa. Tentu saja mereka bertiga. Minus Kai-Sehun-Soojung.

Suara dengusan yang Min Young dengar di sebelahnya membuat yeoja itu mamalingkan mukanya ke arah samping. Merasa dipandangi, Sehun menolehkan kepalnya ke arah Min Young juga lalu matanya bertubrukan dengan mata coklat yang saat ini menatapnya sinis yang hanya ia balas dengan tatapan datar miliknya. Acara saling tatap di antara mereka terhenti ketika Min Young mengalihkan pandangannya ke arah Chanyeol yang sedang bertanya kepadanya.

“Oh ya. Kau tak bersama Cheonsa? Dimana dia?”

Tampak salah satu dari orang yang ada di meja tersebut menghentikan acara makannya sebentar ketika mendengar nama itu disebut. Ya orang itu adalah Kai.

“Eoh Cheonsa? Oppa tidak tahu? Dia bersama Luhan Oppa. Pasti mereka sedang makan siang bersama di taman sekolah”

“Mwo?” semua yang ada di meja itu membuka mulutnya terkecuali Kai.

“Jadi Luhan hyung makan siang bersama Cheonsa berdua? Di taman sekolah?” Baekhyun memperjelas.

“Sepertinya seperti itu” Jawab Min Young apa adanya.

“Kai kau tak mengahabiskan makan siangmu?” Suara lembut Soojung membuat mereka semua menatap ke arah Kai. Tak biasanya namja dingin bak papan itu menyisakan makan siangnya.

“Aku kenyang” Jawab Kai singkat sambil meminum segelas air putih di tangannya. Baekhyun dan Sehun berpandangan dan berinteraksi dengan mata mereka secar diam-diam karena merasa ada yang tak beres dengan Kai. Pasalnya Kai terlihat sedang tak baik-baik saja padahal sebelum pergi ke kantin namja itu baik-baik saja. Sehun hanya mengangkat bahu acuh merasa clueless.

“Oh ya. Apa oppa tahu namja yang namanya Kim Jongin di sekolah ini?” Tanya Min Young polos. Semua mata di meja itu lantas menatap Min Young menganga tak percaya. Jadi Min Young tak tahu kalau namja yang duduk di depannya adalah Kim Jongin?

“Young kau tak tahu kalau namja yang-“

“Min Young-ah!” suara Luhan di pintu masuk kantin menghentikan Baekhyun yang akan membuka suaranya. Sedangkan sang pemilik nama yang sedari tadi pensaran mengapa namanya disebut-sebut terpaksa mengalihkan matanya juga ke arah sumber suara. Luhan. Kai melihat Luhan berjalan menghampiri meja yang di dudukinya dengan menggandeng seorang yeoja. Yeoja itu lagi. Tatapan mata Kai yang semula ke arah Luhan kini menatap tajam yeoja yang kini sedang menundukkan kepalanya ketika semakin dekat dengan mejanya.

“Kau di sini? Cheonsa mencarimu” Luhan berkata dengan tenangnya menghiraukan tatapan tanda tanya dari semua pasang mata yang kini sedang duduk dan memandangnya. Minus Kai tentu saja. Namja itu tetap memfokuskan matanya ke arah satu objek yang sama yang saat ini berdiri tepat di sampingnya.

“Oh jadi Luhan hyung tidak mau makan bersama kami karena ingin makan berdua saja dengannya?” tanya Sehun selidik. Min Young yang mendengarnya hanya memutar bola matanya malas. Selama seminggu lebih di sekolah ini Min Young sedikitnya mengetahui tentang bagaimana hubungan dekat Luhan dan Sehun yang kata murid Cheongdam sudah seperti saudara kembar yang tak terpisahkan.

“Memangnya kenapa? Luhan Oppa tidak harus menemanimu terus-meneruskan? Lu-“ Cheonsa yang memang melihat gelagat emosi Sehun yang sebentar lagi akan keluar dengan cepat menarik tangan Min Young. Memabantu yeoja itu untuk berdiri. Dia tak ingin nantinya Min Young akan semakin memancing emosi Sehun. Selain itu dirinya juga sudah tak kuat berdiri di sini terlalu lama. Di samping Jongin Oppa-nya. Cheonsa tak bodoh yang tak merasakan bagaimana tatapan tajam namja itu saat ini padanya. Jadi kabur dari sini adalah pilihan satu-satunya.

“Mian sunbae-nim, kita permisi dulu” Cheonsa dengan cepat menarik tangan Min Young menjauh menghiraukan gadis dengan rambut sebahu itu yang saat ini meronta minta dilepaskan karena makan siangnya belum habis.

“Yak Cheon makananku belum habis”

“Aku akan membelikanmu nanti sepulang sekolah” Jawab Cheonsa cepat sambil tetap menarik pergelangan Min Young keluar kantin. Tapi teriakan Luhan dari pojok kantin menghentikan langkah keduanya yang hampir mencapai pintu kantin.

“Tunggu aku di parkir nanti sepulang sekolah ok?” Ucapan Luhan yang lumayan keras itu sontak mengundang perhatian murid-murid di kantin. Mulai terdengar bisik-bisik seperti

‘Luhan Oppa berkencan dengan murid baru itu?’

‘Bukankah dia haksaeng kelas X? Daebak!’

‘Bagaimana bisa? Apa spesialnya dia?’

‘Sial!’

‘Andaweeee! Kenapa harus gadis kecil itu?’

Dan bisikan lain yang membuat Cheonsa risih sehingga tanpa berpikir Cheonsa menganggukkan kepalanya dan melesat ke luar kantin dengan cepat.

————————

Cheonsa untuk yang kesekian kalinya melihat ke arah jam tangan berwarna coklat muda yang melingkar di pergelangan tangannya.  Sudah 25 menit dirinya berdiri di sini. Di parkir sekolah. Tapi batang hidung Luhan tak nampak juga. Bahkan sekolah sudah terlihat agak sepi. Sebagian murid sudah pulang sejak 30 menit yang lalu. Begitupun dengan Min Young. Cheonsa menengokkan kepalanya kembali ke dalam gedung sekolah berharap Luhan muncul dari arah koridor kelas XII. Tapi nihil.

“Iya. Aku akan menunggu unnie di gerbang”

“Oh? Jadwal untuk pelajaran tambahan?”

“Arasseo”

Cheonsa yang tak sengaja mendengar teman sekelasnya yang sepertinya sedang berbicara dengan unnie-nya yang merupakan seniornya di sini menghembuskan nafasnya pelan.

“Luhan Oppa pasti masih di dalam kelas juga” gumamnya sambil memandangi ujung sepatunya tanpa minat dan memegangi tas ranselnya persis seperti anak TK yang menunggu jemputan. Cheonsa memang lucu sekali.

Tapi kegiatan memandangi ujung sepatunya itu terhenti ketika sebuah tangan menggenggam tangannya begitu tiba-tiba dan menariknya menjauhi area parkir. Cheonsa sontak melihat tangannya yang digenggam dengan begitu erat lalu mengalihkan pandangannya ke arah punggung lebar di depannya. Bukankah itu punggung…… Jongin Oppa-nya?

‘Oppa’ gumamnya dalam hati. Darah ditubuhnya berdesir dengan tiba-tiba merasakan kulit tangannya yang bersentuhan langsung dengan kulit hangat Jongin yang membungkus tangannya begitu erat. Seminggu tak bertemu dengan Jongin dan sekarang namja itu dengan seenak jidatnya menggenggam tangannya begitu erat seolah-olat tak ingin melepaskannya barang sedetikpun. Kim Jongin memang sialan. Bahkan ketika Cheonsa mulai berusaha untuk menjauhi namja itu dan menyerah dengan perasaannya, namja itu datang dengan tiba-tiba seperti ini dan memporak porandakan hatinya kembali.

Tak terasa Jongin dan Cheonsa telah sampi di halte. Jongin dengan cepat menarik Cheonsa kembali ketika bus jurusan yang akan mengantar ke komplek rumah mereka berhenti di depan halte. Cheonsa yang teringat dengan Luhan lantas menghentikan langkahnya yang akan menaiki bus yang otomatis membuat Jongin menghentikan langkahnya juga.

“Aku sudah janji dengan Luhan Oppa” cicitnya.

“Kkaja” ucap Jongin dingin dan semakin mengeratkan genggamannya di tangan Cheonsa menghiraukan cicitan yeoja itu. Jongin dengan cepat naik dan mencari tempat duduk.

“Oppa aku-“

“Duduk!” Jongin berbicara dengan nada memerintah. Menyuruh Cheonsa untuk duduk di samping jendela. Apakah Jongin sekarang terlihat seperti possessive boyfriend yang takut pacarnya pulang dengan namja lain?

“Tapi oppa-“

Jongin tanpa babibu mendorong sedikit bahu Cheonsa mambuat yeoja itu terduduk di kursi bus yang diikuti dirinya yang menjatuhkan tubuhnya di samping yeoj itu.

“Oppa-“

“Diam”

“Luhan Oppa pasti-“

“Wae? Aku yang akan mengantarmu pulang. Kau mau ku antar sampai gerbang? Di depan pintu rumahmu? Atau di depan pintu kamarmu? Kau pikir aku tak bisa mengantarmu pulang?” kalimat terpanjang yang pernah Cheonsa dengar dari mulut Jongin dengan nada rendah dan menusuk telinga itu nyatanya membuat Cheonsa terdiam. Ditambah lagi remasan di tangannya seolah menyalurkan emosi namja itu membuat Cheonsa dilingkupi perasaan itu lagi. Hangat.

Bolehkan Cheonsa beranggapan kalau Jongin tak ingin dirinya pulang dengan Luhan?

Jongin Oppa-nya cemburu?

“Jongin Oppa” Gumamnya pelan lalu tanpa terasa meneteskan matanya.

‘Aku mohon… tidak lagi Cheonsa’

‘Suduh. Cukup’

Tapi nyatanya akal sehatnya yang berusaha menolak untuk tidak terjatuh kembali ke dalam pesona Jongin tidak sesuai dengan kata hatinya yang saat ini malah membuatnya menubruk tubuh namja di sampingnya saat ini.

“Uljima”

 

TBC….

 

 

Haiiiii! Aku kembali bawa chap 7 nya? Gimana masih ada yang ingat sama ff ini gak? Pasti udah banyak yang lupa huhuhu I AM REALLY REALLY SORRY soalnya ngaret banget. Selain karena aku ini pertama kali masuk kuliah, pas kemarin libur ehh malah males banget. Buntu gak ada ide. Yaaa jadilah chap 7 ini semakin absurd aja.
okay aku gak mau banyak cincong! Bagi yang gak mau baca soalnya udah lupa sama alur ceritanya juga its okay idc soalnya di prev chap ada reader yang jujur aja bikin bete soalnya dia kaya marah2 gitu aku updatenya lama so dia katanya udah lupa sama alurnya. Aku ngerti gimana rasanya nungguin ff itu… bikin bete. Tp kalian juga harus ngerti kalo nulis itu gak segampang kita baca ff. Kadang kalo gak ada mood ya gak bisa dipaksain hehehehe maaf malah marah2…. lol

RCL ya? DONT BE SILENT READERS!

Terakhir, bagi yang pengen kenal sama aku, follow:
ig: joykimshxl_
twitter: @_kimshitjongin
atau lets be friend on wa: 085646688106 (kalo ada grup wa buat spazzing Kai atau Sehun atau EXO add wa aku yaaaa J)

Terima kasih buat yg udah mau baca ff aku. And once again, RCL JUSEYO.

See You J

 

 

 

 

 

 

 

30 responses to “[Freelance] Sorry, Because I Love You Oppa (Chapter 7)

  1. heyyy noonaa,,, udahhh lamaa aku nungguinnnn ini,, sampee jamurannn,, aniyooo,,, sampeeeeee akuuu bosennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn NGOMONGINNNN INI DI WA ,,,,,,, HHAHAHAH HIKKSSSSS ;(

    Oyaaa namja yg merhatiinnn cheo.. Luhan,, ama eomma cheoo ituuuu YAAAAA MYUNGSOOOOOOOO

    DASARRRRRRRRRR JONGINNNNNNNNNNNNNNNNNN,,,,,,, ISHHHHHHH,,,,,, BACANYAAAAA SEDIHHHHH,,NYESEKKK SEK SEKKKKKK AMPEEE LIQUID SBLAHHHH MATAA JATOHHHHHHH,,,, KASIANNNN BINGGOOOO CHEONSANYAAAA,,,, ;( ,,,,, JONGINNNN DINGINNNN LEBIHHH DINGIN DARIIIIII ES DIKUTUB UTARA& SELATANNNN,,,, DAN AKHIRNYAAAA KIM KKAMJONG ITUUU DENGANNNN SEENAKKK JIDATNYAAAAA NARIKKKK CHEOOO DARI PARKIRANNNNN HHAHAHHAHHA

    JANGANNN MENDAM DONGGGGGGG NTARRR BSA OVERDOSEEEE HAHHAHAHAHHAHA ”SOMEONE CALL YOU DOCTOR”’
    😉😉😀

    Aku yang akan mengantarmu pulang. Kau
    mau ku antar sampai gerbang? Di depan pintu
    rumahmu? Atau di depan pintu kamarmu? Kau pikir
    aku tak bisa mengantarmu pulang?”

    Woww ..prokkk prokkkkk🙂

  2. yehhhhhh akhirnya d post juga,,, dh lm tunggu SILYO hehehe,, kok jogin mula bg prhtian pd chonsa kn jogin benci dgn chonsa?? kesian luhan d tngglkn huhuhu,,, chanyol mcm sk sm min young,,, dtnggu chaptr slnjt yh dan bersemanggat

  3. sebenernya lupa sih sama chapter sebelumnya kan ini udah lama banget tapi aku baca lagi chapter sebelumnya dan baru deh inget lagi….hihihihi
    semakin bingung sama tindakan jongin, kenapa selalu berubah terus kan kasihan cheonsa kalo memang suka kenapa gak ngaku aja sih kenapa harus gengsi dan takut dikatai kan jadi greget juga gitu bacanya kalo jongin begini terus
    bisa” cheonsa diambil luhan baru nanti kerasa deh tapi syukurnya cheonsa sampai mati kayaknya cinta banget sama jongin
    nah kalo cemburu gitu kan aku suka, semakin tau gimana perasaan jongin ke cheonsa….

    dan minyoung polos banget ya beruntung dia belum tau siap jongin sebenernya tapi kalo udah tau kayaknya jongin bakalan habis ditangan minyoung

    ok deh miqo semangat ya ditunggu lanjutannya walau lama bakalan tetep ditunggu kok

  4. Ayoo…lanjutnya jangan lama2. Aku gak sabar bacanya. Jangan bikin jongin sama krystal ya. Udah cukup nyesek didunia nyata. Dunia ff jangan dibuat nyesek juga

  5. Akhirnya di post juga….kangen sama ff ini, kangen jongincheonsa couple!! Cie- cie si Jongin cemburu ke Luhan,ayo ngaku aja Jong apa susahnya sih!!

  6. Bahagia banget ….akhirnya Chapter 7 udah d liris … Suka banget sama si Cheonsa ama si Jongin ini 😄, aku kra Cheonsa udah mulai gak suka sama si Jongin,tpi ternyataa masih 😁 … Gak sabar nunggu chapter selanjutnya. … O(≧∇≦)O

  7. Duh Kai plinplan katanya gak peduli eh malah cemburu lihat Cheonsa sama Luhan. Lol kasihan Cheonsanya digitukan sama Kai mempermainkan banget ya
    Sukses buat Cheonsa nangis. Kan baper jadinya

  8. waw akhirnya muncul juga hampir setahun menghilang hehehe, sorry banget emang sedikit lupa sama jalan ceritanya tapi pas baca chap 6 mulai ngerti lagi jalan ceritanya. aku ngerhargain kamu kok soalnya aku juga penulis, kadang ada rasa kesel dan bete juga sama orang yang bisanya cuma ngomong tapi enggak tau perjuangan kita nulis ini dan kalo lagi buntu pasti gak punya mood lagi buat ngelanjutin tapi tetep semangat yoo buat di lanjut soalnya aku masih penasaran banget dengan jalan ceritanya.

    jongin labil yeuh nyuruh cheonsa ngejauh tapi malah gak mau ngeliat cheonsa sama luhan dasar labil, cheonsaa kamu yang sabar yoo ngadepin uri jongin. jong jong kalo emang gak mau cheonsa sama cowo yah jangan judes dong ke cheonsa nyesek sendirikan ngeliat cheonsa deket sama luhan, hahaha jongin cemburu makanya jangan terlalu dingin sama choensa jong. widih sukses buat cheonsa nangis lagi kasih tepukan yang meriah buat jongin karena bikin cheonsa nangis lagi.

    pokoknya tetep semangat buat ngelanjutiin ini ff kalo emang gak ada yang suka sama tulisan kamu, lebih baik kamu abaikan aja dan bikin mereka terdiam saat membaca hasil karya kamu yang selanjutnya.

  9. asik jongin cemburu liat cheonsa sama luhan. dan apa tadi saat di bus, jongin gak marah dipeluk cheonsa malah menenangkannya…. jadi gak sabar nunggu lanjutannya…

  10. Ya allah… Aku nunggu ini ff lanjut lama bangetttttg 😭😭 akhirnyaaaa di update, kirain ff ini bakal ga dilanjut lagi ㅠㅠ aku td sampe baca ulang dari chap 4 wkwkw soalnya agak lupa sama alurnya …..

    Ku selalu menunggu update an ff ini thor! Fighting🙂 *lopyou

    Btw jongin cieee cemburu hahaha

  11. Demi apa aku nungguin banget ff ini dari jaman kapan;3;
    Akhirnya di luncurin juga chapter selanjutnyaaaaa>//<
    Jangan lama2 ya kak buat chapter selanjutnya:(
    Keep writing!!! Fighting!

  12. Waaaa jogin udhh mulaii nihh waa, ga tau kak yg lain pada comment waa aku nunggu ff ini lama bngt, tapi akunya kayaa waaa aku msh baru bngt disini wkwkw. Nextt kakkk ditunggu yaa jangan lama2 hehe

  13. Woo akhirnya di lanjut udaj lama nunggu. Jongin cemburu haha. Astaga itu tadi ada myungsoo?
    Jongin ama cheonsa aja.
    Next

  14. Aigoo
    Crtanya asik bgt
    Aku rda lpa2 ingt sma chapter $blmny, wlopun gtu ttp aja bca bgian ini aj feel lngsunh dpt bgt! Ksian cheonsa kyk gak jls gtu sma prsaanny sndri

  15. uhh emesh ini sama Jongin yg udah mulai protect” unyu gitu sama Cheonsa 😘
    bdw, agak sedikit lupa sih tapi makin dibaca makin ngeh juga akhirnya…. lanjutnya jangan lama-lama yeps hihi ngatur aja aku mah 😁✌

  16. waaaaaaaaa akhirnya update juga si kakaaaaakk eheheh
    aaaah baru aja nrocos udah tbc aja nih
    oh iya aku tadi baru aja review chap 6 sbilyo di google pas buka skf tbtb ada update chapter 7 waaaa mungkin ini rejeki anak soleh wkwkek
    next chap hwaiting kakakkk dan semoga sukses untuk kuliahnya

  17. Nah kaann benerr??!
    Skrg jongin yg berubah k cheonsa.
    Ckck jongin sepertinya mulai ngrasain cemburu nh hahah
    Tp reaksinya cepet bgt ya, seminggu galiat cheonsa dan tau kalo dy dket sma luhan lgsg buat jongin berubah possessive gitu hahha
    Btw apa masalah myungsoo sama ibunya cheonsa?
    Knp dy ngomong kasar k ibunya cheonsa?
    Firasat buruk nh, jangan2 dy mau berbuat macam2 k cheonsa krn ada dendam😦

  18. Yeeeeeeeee, akhirnya update lagi….
    Hahahaha, ini udah lama banhet tapi tetep suka, duh jong kalau cemburu bilang aja, hahahahaha
    Ditunggu kelanjutannyaa,
    Aku sabar menanti…
    Hehehehhe

  19. yaaaahhh.. kenapa putus disini chapternya?? masih ngegantung.. masih penasaran. jong in oppanya cemburu?? haha.. sepertinya kena karma (?) uppss.. aku baru tahu ada next chapnya semalem. dan baru nyelesein bacanya sampe chapter 7 yang belum sampe akhir ini..
    ayo thor semangaat..!! aku akan menunggunya. tapi jangan lama juga hehe
    #hwaiting

  20. Ya ampun, aku lupa sama chapter sebelumnya makanya rada bingung pas baca pertama. Tapi syukurlah jadi ingat lagi😄
    Jongin cemburu? Yup bener banget, itu kelihatan banget. Dan Luhan yg lagi berbunga-bunga bener2 manis banget

  21. Akhirnya ff ini publish lagi. Walaupun udah agak lupa-lupa dikit sih. Tapi ngga papa yang penting juga udah dilanjut lagi. Saat baca chapter yang sebelumnya aku sepet bagus sih. Sakit banget yah kaya Cheonsa itu, aku juga pernah rasain itu. Dan demi apa Jongin sekarang malah cemburu saat lihat kedekatan Luhan sama Cheonsa?? Yah semoga aja di chapter selanjutnya banyak moment Kai ama Cheonsa. Fighting lanjut thorr!!!!😚😚

  22. akhirnya d lanjut, lama binggo
    tp ttp suka sm ini
    aduh, giliran cheonsa mw mup on ehh kai malah bkin cheonsa baper lg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s