The Best Actor ( Chapter 1 )

Judul : The Best Actor

Maincast : Chanyeol, OC

Length : Chapter

Genre : Drama, school-life, romance

 

Chapter 1

“Karena disini, masalah terbesarnya adalah, aku selalu kehilangan diriku ketika berada dihadapannya.”

 

 

Dimana-mana tidak ada. Sejak tadi aku mengedarkan pandanganku kesana-kemari, mencari tasku. Rasanya, tadi aku menaruhnya di salah satu kursi audience di ruang basket ini. Aku mengintip kolong-kolong di bawah kursi, siapa tau seseorang jahil dan meletakkannya disana.

Ditengah kebingunganku, ku sempatkan menoleh pada jam tanganku yang ternyata sudah menunjukkan waktu dimulainya kelas bahasa inggris. Dalam dilema, ku putuskan untuk menyudahi pencarianku. Guru bahasa Inggrisku selalu punya alasan untuk menuding muridnya. Apalagi aku dikenalnya sering terlambat.

Aku berlari semampuku untuk sampai di kelas. 3-1.

Sebelum masuk, seperti biasa aku mengintip lewat jendela kelas, siapa tau saja keberuntungan sedang memihakku. Ya, sepertinya memang benar, suasana kelas cukup ramai. Berarti, Ms. Han tidak ada di kelas. Dengan langkah cepat akhirnya aku sampai di kursiku.

Aku disambut selembar kertas di atas mejaku yang kurasa pernah melihatnya. Aku sadar apa yang harus kulakukan.

Aku sibuk menulis diantara nafasku yang masih ngos-ngosan. Tiba-tiba seseorang memegang pundakku.

 

“Ehem..Ehem..” terdengar suara berdeham dari seseorang di samping mejaku. Aku yang tengah membetulkan pengisian data diriku yang salah dalam selebaran yang diberikan Ms. Han Mi mau tak mau menoleh ke asal suara. Teman satu atapku. Yoon Seul.

“Apa?” tanyaku setengah tak peduli sambil tetap serius membetulkan kesalahan mengenai data tersebut.

“Ehem..Ehem..” ia berdeham lagi.

“A-paa?” tanyaku lagi tanpa sedikit pun rasa penasaran.

“Ini…” katanya tersenyum senyum sendiri sambil menunjuk tas ku yang kini berada diatas mejaku.

“Ada apa? Sebenarnya ada apa?” tanyaku lagi masih setengah tak sadar. Tapi tiba tiba aku langsung mengerti maksud Yoon Seul yang sejak tadi berkicau.

“Iniii..” katanya tersenyum senyum sendiri sambil menunjuk tas ku yang ternyata sudah ada di cantolan di sisi kanan mejaku. Aku tersenyum lega.

Ah, Yoon Seul. “Jadi tas ini? Kau yang mengambilkannya untukku? Yoon Seul-ah, go-ma-wo!” Ucapku dengan senyum setengah tulus dan mata supersipit menatapnya.

“Kau kenapa?” kini giliran Yoon Seul yang tampak bingung menatapku.

Ah, jadi itu alasan mengapa ia begitu berisik berdeham. Aku memegang tangannya yang masih tersampir di bahuku. “Go-ma-wo, Yoon Seul-ah!” ucapku dengan senyum penuh kelegaan. Yoon Seul semakin tampak bingung. Dan sekarang aku juga bingung. Apa yang salah? Tapi aku teringat selembaran itu. Aku tau aku harus mengumpulkannya setelah jam pelajaran bahasa inggris berlalu.

Aku kembali fokus.

“Yaa! Hei..” Yoon seul mendaratkan cubitan-cubitan kecil di pundakku.

“Yoon Seul-ah, hentikan…” gigiku merapatkan barisan, mencoba bersabar.

“Kau tau aku membencimu?” ia mulai berkicau.

“Tidak.” Jawabku singkat, masih sibuk dengan pekerjaanku.

“Ya!! Kau tidak penasaran? kau tau mengapa aku membencimu?” ia tetap berkicau.

“Tidak tahu~” jawabku mengayun.

“Yaaa! Bisakah kau tidak terlalu serius dalam mengerjakan sesuatu? Setidaknya, sempatkanlah menoleh pada sekitar untuk sesaat. Kau bahkan tidak akan tau kalau seseorang telah terabaikan.”

“Kumohon, untuk kali ini hentikan tingkat berlebihanmu itu. Lihat, ini tinggal sedikit lagi. Diamlah sebentar maka aku tidak akan mengabaikanmu lagi. Oke?” pintaku tanpa menatap wajahnya, masih sibuk menulis.

“Mengabaikanku? Benar-benar, aku tidak mengerti jalan pikiranmu! Orang sepertimu memang terlalu serius. Aku pergi.” Protesnya yang langsung berjalan meninggalkan kelas. Aku hanya geleng geleng kepala menanggapinya.

Belum genap semenit, “Temui aku di kantin jika kau ingin tau siapa yang telah kau abaikan,” seru Yoon Seul yang menyelipkan kepalanya pada jendela kelas. Aish, anak itu.

Setelah selesai mengisi ulang data diri lengkap, ya walaupun aku tau sepertinya itu hanya sebuah formalitas saja dimana kami sebagai siswa siswi kelas 3 sekolah menengah atas yang akan lulus. Ya, mungkin hanya sebuah dokumentasi atau apalah, tapi tetap guruku yang super disiplin itu tak akan membiarkan satu muridnya pun melakukan kesalahan sekecil apapun. Karena ia selalu berkata, “Basmilah api selagi masih kecil”. Tentu, sedikitnya kalian paham bukan apa maksudnya?

***

Aku melayangkan pandangan ku, mencari Yoon Seul. Bukan karena penasaran, tapi lebih karena perasaan menghargai antarteman seperjuangan.

Ah! Itu dia. Tapi ia duduk dengan siapa? Ah, itu.. Park Chanyeol. Lagi lagi Chanyeol? Mengapa akhir akhir ini aku merasa ia menguntitku lagi?

Ohiya, ia baru saja putus dengan model cantik berbadan gitar spanyol itu, Yurae. Mungkin ia ingin melakukan itu lagi. Tidak, jangan! Ia tidak bisa memanfaatkan keramahtamahanku. Ia tidak boleh didekatku. Benar-benar gawat. Aku takut, perasaan itu akan muncul lagi.

“Nah, akhirnya datang juga.” Seru Yoon Seul sambil menatapku dan Chanyeol bergantian,dengan senyum yang kelewat berlebihan.

Aku hanya sedikit menundukkan kepala, “H-hei,” sapaku singkat, kemudian berniat untuk duduk, tapi tiba-tiba seseorang keburu menarik kursi untukku. Chanyeol. “T-tidak perlu, aku bisa sendiri.” Tolakku, namun terlambat karena ia sudah terlanjur melakukakannya.

Entah, apa mungkin aku terlalu kecil mengucapkan kata ‘tidak’ sehingga ia tak mendengar, atau mungkin ia mendengar tapi memilih untuk berpura pura seakan ia tak mendengar kata apa yang baru kuucapkan. “ah, terima kasih,” ucapku akhirnya.

“Terima kasih kembali, Hye In-ah.” Balasnya tersenyum menatapku. Sesaat terjadi eye-contact diantara kami. Aku benci tatapannya. Aku sangat membencinya. Aku benci saat tatapannya berhasil membuat aku terpaku. Aku benci, karena aku menyukainya.

Dan, hatiku yang terlalu loyal ini justru ikut meramaikan suasana dengan menambah intesitas degupannya.

Tatapannya, ya kini aku menyadari, caranya menataplah yang membuatku sering pergi ke negeri dongeng hayalanku dimana semuanya benar-benar indah.

Tidak! Apa yang kupikirkan. Aku tidak boleh menyukainya lagi. Itu hanya akan sakit di kemudian hari. Bahkan waktu itu, setelah aku banyak berharap dari pendekatannya kepadaku setelah ia dicampakkan oleh wanitanya sebelumnya, saat aku menaruh hati dengan berbagai harapan terselubung, kemudian itu menjadi saat yang sama dimana aku mendengar ia telah memiliki kekasih baru, sang model yang baru baru ini ku dengar juga telah berpisah dengannya.

Apa ia akan melakukan hal itu lagi? Mendekatiku sebagai selingan kemudian melepaskanku saat ia telah menemukan…umpan baru?

Di samping itu, Yoon Seul yang sepertinya sejak tadi melihat kami saling menatap dalam diam pun berdeham cukup keras. Sudah berapa kali ia berdeham hari ini? Sebenarnya ia lahir hanya untuk berdeham atau bagaimana?

Kami yang sadar segera menoleh ke arahnya, tapi kemudian ia terbatuk, berdeham, batuk lagi dan aku segera menyodorkan minum—yang begitu jelasnya ada di depan matanya. Ya walaupun aku tau, ia hanya pura pura batuk.

“Hye In-ah, apa kau ada waktu sabtu ini?” to the point. Seperti biasanya. “Temanmu mengatakan, kau tidak ada acara dan kau akan bosan jika hanya menikmati malam dengan Yoon Seul di rumahmu.” Belum sempat aku berpikir tentang kapan aku mengatakan kepada Yoon Seul apa rencanaku akhir pekan ini, Chanyeol sudah keburu mengatakan hal yang membuat mulutku sempurna menganga, ”Aku harap kau tidak keberatan jika aku menjemputmu. Jam 7 malam, bisa?”

“Ya..?” hanya kata itu yang keluar dari mulutku sebelum aku sempurna sadar apa yang sebenarnya dikatakannya. Aku benci saat mulutku bahkan tak bisa mengatakan kata yang lain seperti ‘Tidak sudi!’ atau mungkin, ‘Jangan harap!’.

“Sepertinya Hye In terlalu bersemangat, bukan? Ia bahkan langsung menjawab tanpa berpikir!” Yoon Seul girang sendiri, sementara aku sibuk berpikir. Hei, barusan aku berkata ‘Ya’ itu bukan diakhiri dengan tanda titik tapi dengan tanda tanya! Artinya aku sedang bertanya, bukannya mengiyakan!

Tetapi, untuk menjelaskan itu semua terlalu rumit, terlebih di depan seseorang seperti Chanyeol, yang bahkan untuk berkata dalam satu kalimat penuh di depannya pun rasanya aku tak sanggup.

“Bagaimana? Jam 7 malam oke?” tanyanya lagi. Ia selalu seperti itu. Berkehendak sendiri.

“Aku yakin dia tidak acara, dia akan bersiap. Kau tenang saja, aku yang akan mengurusnya.” Aku hanya melongo. Sebenarnya disini siapa yang akan berkencan, siapa yang memutuskan. Kalau mereka berkehendak sendiri, mengapa tidak serta merta saja mereka yang pergi berkencan?

Tunggu, mengapa sekarang aku terkesan seperti.. cemburu? Yang benar saja!

Oke, alih topik. Semua ini pasti rencana Yoon Seul. Tanganku langsung mencubit paha Yoon Seul, satu-satunya yang mampu aku lakukan di keadaan seperti ini.

“Kalau begitu aku akan pergi. Permisi,” pamitnya kemudian ia pergi, sejenak aku merasa menyesal. Aku bahkan belum mengatakan apa-apa. Bukannya mau bermanis-manis atau bagaimana, aku justru ingin menunjukkan sikapku yang anti-ramah di depannya! Itu salah satu goals yang belum terealisasi.

Di sampingku, Yoon Seul meringis kesakitan. Aku melepaskan cubitanku. “Apa ini rencanamu?” tanyaku mentapnya tajam sambil memaksakan senyum.

“Ini bukan rencana, semua terjadi dengan begitu saja. Ya, semua mengalir seperti air…” protesnya sambil memeragakan air yang mengalir dengan tangannya. “lagi pula apa salahnya? Aku ini sahabat yang baik karena telah membantumu menemukan seseorang untuk berkencan, bukan? Kau juga menyukainya kan? Lalu tunggu apa lagi? Ini seperti bintang yang jatuh dengan sendirinya tanpa perlu kau gapai,” ceramahnya sambil lagi lagi memeragakan bintang jatuh dan posisi menggapai bintang di udara. Aku segera menurunkan tangannya dari udara.

Yoon Seul memang begitu, selalu berlebihan. Beberapa pasang mata dari para pengunjung kantin melihatnya dengan tatapan ‘aneh’. Di saat seperti ini aku harap aku bisa pura-pura tidak kenal dengannya.

“Sudahlah, jangan berlebihan menanggapinya.” Kulipat lenganku di dada agar terkesan lebih tegar. “Aku juga tidak mau berharap lagi. Paling, anak itu hanya ingin cari sensasi sambil mencari selingan, ya, seperti menyelam sambil minum air… atau hmm sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui?” kataku berasumsi, pasrah. Mengapa dada kiriku memerih saat mengatakan seperti itu? Tetapi, jika nyatanya ia hanya benar benar cari sensasi? Lagi? Sungguh menyebalkan.

“Cobalah katakan hal semacam itu langsung di depannya,” Kali ini Yoon Seul yang melipat lengannya, matanya menantangku dan mencibirku dalam satu waktu.

“Apakah itu tantangan?”

“Lebih tepatnya, ancaman.”

“Jika itu ancaman maka aku..”

“Jika itu ancaman maka kau..”

“Tentu saja tidak aku terima! Berhenti mengejekku..” Aku merajuk, mengaku kalah. Dan Yoon Seul tidak bisa menahan tawanya, merasa menang.

Karena disini, masalah terbesarnya adalah, aku selalu kehilangan diriku ketika berada dihadapannya. Terpaku. Aku benci rasa itu. Aku benci ketika aku hanya bisa ramah menanggapinya. Aku benci ketika aku terkesan selalu menyanggupi permintaannya. Aku benci ketika aku sadar aku belum bisa berhenti menyukainya.

“Kadang aku berpikir bagaimana bisa kau berkata seketus itu jika tentang dia. Padahal kau jelas menyukainya. Ah! Apa itu style-mu saat jatuh cinta? Oooooh~~. Tetapi, jangan pesimis seperti itu. Bisa saja kali ini ia benar benar tulus. Kau tau siapa yang ku maksud tadi? Tentang dia yang aku bilang terabaikan?”

“Ya! Di situasi seperti ini apa kau masih berniat membahas itu? Mengapa kau mengalihkan topik? Tentang tas itu, aku kan sudah bilang, go-ma-wo!” emosiku berusaha tetap datar, walaupun tiba-tiba saja aku benar-benar lelah untuk sekedar berpikir, apapun itu. Tetapi sesaat akhirnya aku ingat. Ya, pantas saja aku tidak menemukan tasku di kursi audience, aku lupa, aku meninggalkannya di dekat loker sebelum aku ke kamar mandi. Aku memukul jidatku pelan.

“Maksudmu, tunggu.. kau pikir.. aku yang mengambilkan tasmu di loker depan sehabis olahraga tadi? Jangan terlalu percaya diri! Maksudku, aku memang berniat mengambilkannya untukmu. Tapi aku keburu melihat Chanyeol mengambilkannya. Aku segera berlari ke kelas untuk melihat. Yang ku lihat, Chanyeol masih menyimpan tasmu di dekatnya. Aku pikir, ia berencana mengembalikannya langsung padamu, karena saat itu kau tidak ada di bangkumu,” Yoon Seul menarik napas sebelum ia kembali melanjutkan ceritanya. Sementara aku mendengarkan cerita Yoon Seul seksama.

“Tak lama setelah kau duduk di bangkumu, Chanyeol menghampirimu. Ia berdiri di sampingmu beberapa saat, tapi kau terlihat terlalu serius. Akhirnya ia meletakkan tasmu di sisi mejamu tanpa berkata apapun. Tapi ku pikir, anak-anak di kelas juga melihatnya. Jadi, jangan kau pikir kalau hanya aku yang memperhatikan kalian,” Yoon seul mengakhiri ceritanya.

Sejenak aku kehilangan kata-kata.

“Sekarang kau menyesal?” Yoon Seul memang sahabat yang keterlaluan.. terlalu peka.

“Mungkin itu juga hanya….” omonganku terpotong karena Yoon Seul sudah tau apa yang akan kukatakan.

“Sensasi?” katanya.

“Tentu saja!” kataku yakin. Namun sebenarnya hatiku sangat sakit saat mengatakannya.

 

Dan saat itulah aku menyadari, setengah hatiku masih berharap: Kali ini Chanyeol tidak main-main.

 

 

TBC.

LEGA. Terimakasih sebelumnya untuk readers yang sudah menyempatkan diri membaca! Sebenernya ini ff lama yang baru diedit dikit hehehe jadi rada klise kali ya, maklum. Kalau sempet, bolehlah minta kritik dan sarannya he~~ sekian ^^

10 responses to “The Best Actor ( Chapter 1 )

  1. Next ya author apa chanyeol bener2 tulus suka sama hye in pasti hye in sedikit trauma lah ya masalahnya pas dia lg suka sma chanyeol eh dia malah jadian sama cwe lain

  2. wkwkwkwkwkwkwkwk isssshhhh caniiiiiiiii,,,,,,awass ajaa luu klo maininnnnnn hye innn,,,,gua jitakkkk😀
    Dasarrr PHP …….
    HAHHAHAHHAHAHA😉🙂:/ ;/

  3. wkwkwkwkwkwkwkwk isssshhhh caniiiiiiiii,,,,,,awass ajaa luu klo maininnnnnn hye innn,,,,gua jitakkkk😀
    Dasarrr PHP …….
    HAHHAHAHHAHAHA😉🙂:/ ;/

    Aktorrr yang baikkkkkkk heh ;(

  4. Pingback: The Best Actor ( Chapter 2 ) | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Pingback: The Best Actor ( Chapter 3 ) | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Jadi ceritanya chanyeol itu cuma akting doang deket sama hye in nya?? Aku masih belum paham.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s