ALL I ASK [PART IV] — by Neez

ask-copytt

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho || Others

Alternative Universe, School Life, Family, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser || [PART I] || [PART II] || [PART III]

© neez

Beautiful Poster Cr : Ken’s@Art Fantasy thank you Ken Honey ^^

BETA : IMA

Did my heart love till now? Forswear it, sight!

For I ne’er saw true beauty till this night

”Pasti Seolhyun lagi.”

   ”Tentu saja, siapa lagi yang bisa menjadi pemeran utama? Meskipun aku mengatakan aku bosan melihat Seolhyun lagi dan lagi di panggung teater Hanlim, siapa lagi yang bisa membawakan peran utama dengan baik kecuali dia?”

   ”Apa tidak ada murid lain yang bisa berakting di Hanlim selain dia?”

   ”Seharusnya sih ada. Departemen yang memiliki jurusan akting saja ada tiga; Film, Performance, dan tentu saja jurusan Seolhyun sendiri, Musical Theatre.”

   ”Memang hanya dia yang bisa berakting. Menyedihkan sekali sekolah ini.”

   Hana menggerung dan membuka tutup kaleng jus persiknya sambil menggerutu. Kini di hadapannya Jaehee mendesah dan mendadak tidak ingin menyantap makan siangnya lagi. ”Jangan didengarkan orang-orang itu, eoh? Seperti mereka pandai saja di kelasnya masing-masing.”

   ”Keundae… apa yang mereka katakan benar, Hana-ya.” Keluh Jaehee. ”Aku bahkan yakin seratus persen bahwa aku akan gagal lagi dalam casting Romeo & Juliet ini.”

   ”Kau tidak boleh pesimis begitu, Oh Jaehee!” omel Hana, meraih kaleng jus kelapa Jaehee dan membukakannya, ”Igeo, minum dan habiskan makan siangmu. Kau punya waktu satu minggu untuk mendalami peran Juliet.”

   Jaehee meraih kaleng jus kelapanya dan meneguknya pelan.

   ”Halsuisseo! Kau kan tahu sendiri, kalau setelah ini kau gagal mendapatkan beasiswa di Universitas, Donghae Samcheon akan menyuruhmu kuliah bisnis. Kau sendiri yang bilang kau tidak mau bekerja di Allohdairy, meskipun aku akan senang kalau kau bisa membuat makanan tanpa kacang-kacangan yang bisa membuatmu nyaris mati itu.”

   Jaehee terkekeh, ”Tidak buruk meneruskan usaha keluarga, eoh?”

   ”Tetap saja! Kau ingat kan kalau kau bermimpi jadi aktris musikal terkenal macam Ok Joohyun atau Bada. Kau tidak boleh menyerah begitu saja karena Seolhyun. Ya, aku memang sahabatmu tapi percayalah… sekolah ini masih belum tahu betapa indahnya suaramu dan aktingmu.”

   ”Hah~” Jaehee kembali meringis dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ”Aku tidak tahu harus bagaimana? Kadang aku meragukan kemampuanku jika sudah melihat Seolhyun.”

   ”Ya! Yang kau butuhkan hanya sedikit kepercayaan diri… oke, aku akui akting Seolhyun bagus. Tapi ia terlihat ’lebih baik’ karena ia percaya diri. Itu yang harus kau punya.”

   ”Dwaesseo. Jangan membahas casting lagi, kepalaku bisa pecah.” Jaehee menggelengkan kepalanya, ”Kau sendiri bagaimana? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan ikut casting Romeo & Juliet?”

   Hana menggeleng, ”Kurasa aku hanya akan tampil di dance.”

   ”Kau sudah tahu akan menampilkan apa?” tanya Jaehee penasaran.

   Hana mengangkat bahu, ”Ada beberapa koreografi yang sedang kukerjakan selama dua bulan belakangan. Guru Pyo sepertinya menyarankan aku menampilkannya. Yang jadi targetku sekarang adalah bisa tampil di puncak acara festival musim semi, dan mendapatkan slot tayang yang bagus.”

   ”Woah,” Jaehee berdecak kagum sambil bertepuk tangan. “Kau benar-benar hebat, Lee Hana. Tak salah kau yang terbaik di dance.”

   Hana terkekeh, ”Jangan membuatku besar kepala, Oh Jaehee, sainganku banyak. Apalagi Zhang Yixing kesayanganmu itu~” alis Hana terangkat tinggi-tinggi dan matanya berkilat-kilat meledek sahabatnya yang hanya memutar matanya.

   ”Apa yang akan Yixing buat tahun ini ya?” memutuskan mengabaikan ledekan Hana, Jaehee malah penasaran dengan apa yang akan Zhang Yixing tunjukkan di festival musim semi tahun ini. Pertanyaan tersebut justru membuat Hana semakin senang menggodanya, dan Jaehee hanya bisa cemberut. ”Tapi, masa kau tidak penasaran dengan apa yang akan Yixing buat, Hana-ya?”

   Hana berhenti meledek dan terkekeh sebelum menjawab, ”Tentu saja… pria itu kan selalu penuh kejutan. Dia pasti yang akan menjadi murid terbaik sekolah. Maksudku, apa saja dia bisa, kan? Semua alat musik nyaris ia kuasai, dia juga pandai bernyanyi, pandai berakting, lebih dari segalanya ia pandai membuat film. Uhh, pantas saja Oh Jaehee jatuh cinta,” tambahnya.

   Dan Jaehee nyaris menyiram jus kelapanya pada kepala Hana, jika gadis itu tidak mengangkat kedua tangannya minta ampun meski masih sambil tertawa-tawa.

   ”Aku tidak jatuh cinta padanya.” Sanggah Jaehee, meski wajahnya bersemu merah.

   ”Ah, keurae? Lalu apa namanya jika Yixing bernyanyi kau akan selalu memandanginya tanpa berkedip?”

   ”Lee Hana!”

   ”Oke, oke… kau tidak suka, Yixing, oke…”

   Untung saja, setelah bel makan siang, ia dan Hana berpisah. Memiliki jam kosong selama empat puluh lima menit, sebelum menghadiri kelas Music Major Practice di dua jam pelajaran terakhir, Jaehee memutuskan untuk mempelajari naskahnya dengan baik, dan memutuskan untuk berjuang terlebih dahulu dalam mendapatkan peran di musikal Romeo & Juliet.

   Berjalan-jalan di lantai dua, mencari ruangan kosong yang dapat digunakan untuk berlatih sendirian. Alih-alih mendapatkan ruangan kosong, langkah Jaehee justru terhenti di depan kelas paling ujung. Alunan sedih dari sebuah piano tua (dari suaranya, Jaehee menebak melodi yang ia dengar dihasilkan dari piano tua) terdengar sayup-sayup dari dalam sana. Penasaran, Jaehee berjinjit dengan susah payah, dan kedua matanya melebar mendapati tak lain dan tak bukan, Kim Joonmyun yang tengah menekan tuts-tuts dari piano yang memang terlihat sudah tua di dalam.

   Masuk. Tidak. Masuk. Tidak. Masuk. Tidak. Masuk. Tidak.

   Mengeluh, Jaehee menendang dinding. Merasa kalah pada hasratnya sendiri, karena ia berdeham di depan pintu kayu yang sedikit terbuka itu. Mengembuskan napas lewat mulut, Jaehee tersenyum (atau meringis) begitu Joonmyun menoleh, dan tersenyum kepadanya. Perutnya serasa diaduk-aduk melihat mata bulan sabit dan lengkungan senyum indah itu.

   “Hai.”

   ”Hai…” sapa Jaehee pelan, tersenyum ragu-ragu. ”Ehm… aku sedang mencari-cari kelas kosong saat mendengarmu… bermain.”

   Joonmyun tertawa, ”Tak apa-apa, kemarilah.”

   ”Eh?”

   ”Kemari,” ajak Joonmyun sambil kembali menoleh pada piano usang yang herannya masih bisa memproduksi melodi indah meski terdengar kuno. ”Duduklah,” ujarnya saat merasakan langkah kaki Jaehee yang semakin mendekat.

   Duduk dimana? Batin Jaehee mencari-cari kursi di sekitar piano tersebut, tapi tak ada kursi yang lain disana. Satu-satunya kursi yang ada di dalam ruangan tersebut adalah kursi di hadapan si piano, yang kini tengah diduduki oleh si pianis sendiri.

   ”Duduklah,” Joonmyun mengulang ajakannya, kini sambil memandang Jaehee.

   Berdeham lagi, Jaehee duduk di tepi kursi dengan hati-hati, berusaha mengontrol detak jantungnya yang senang sekali berdegup kencang jika berada dalam radius dekat dengan sosok Kim Joonmyun.

   Kali ini, jantungnya sepertinya bergerak lebih ekstra karena Jaehee merasa wajahnya memanas hanya dengan melihat profil Joonmyun dari samping yang terlihat begitu serius dengan pianonya. Jari-jarinya bergerak lincah dan bibirnya membentuk garis datar yang entah mengapa membuatnya terlihat semakin tampan.

   Andai saja Jaehee boleh mengipasi wajahnya terang-terangan, ia akan melakukannya sekarang. Karena ia membayangkan hal-hal aneh hanya dengan melihat jemari lentur Joonmyun bergerak bebas.

   ”Oh? Sudah?” ceplos Jaehee kaget saat mendapati jemari Joonmyun meninggalkan tuts piano di hadapannya.

   Joonmyun menoleh dan terkekeh, ”Wae? Begitu bagusnya kah?”

   Wajah Jaehee kini benar-benar merah padam, mengalihkan pandangannya pada deretan tuts Jaehee bergumam, ”Anhi… kukira lagunya belum selesai.”

   ”Hah~” Joonmyun meraih pensil mekaniknya yang ternyata tersembunyi di balik deretan tuts dan mencoret kertas partitur lagu di hadapannya, ”Memang belum selesai sebetulnya.”

   ”Oh? Kau membuat lagu sendiri?” tanya Jaehee penasaran.

   ”Hmm, tapi rasanya ada sesuatu yang janggal dalam lagu ini. Belum selesai… seperti katamu tadi,” Joonmyun terkekeh, kemudian ia seperti menyadari (lagi) bahwa lagunya tetap belum sempurna berapa lama pun ia mengerjakannya, ”Aku sudah mengerjakan lagu ini sejak lama, tapi entahlah… semua selalu terasa tidak benar saat aku menggubahnya lagi.”

   Jaehee mengangguk-angguk (sok) mengerti. ”Sudah ada judulnya?”

   ”Belum,” kekeh Joonmyun malu, ia menyodorkan kertas partiturnya pada Jaehee, ”Semua hanya melodi tanpa lirik, aku masih bingung harus membuatnya seperti apa. Biasanya jika aku membuat melodi, lirik akan muncul secara langsung… kali ini entahlah.”

   Jaehee menerima kertas partitur itu dengan bingung. Meski berasal dari keluarga kaya raya dan bisa membaca partitur, Jaehee merasa ia tidak memiliki bakat dalam bidang musik. Itulah mengapa ia sangat mengagumi Zhang Yixing. Kali ini, melihat kemampuan Joonmyun dalam menggubah lagu juga membuatnya terkagum-kagum.

   ”Apa ini lagu sedih?”

   ”Entahlah,” Joonmyun mengangkat bahu, “Bagimana menurutmu? Apa sebaiknya lagu ini kubuat menjadi lagu sedih?”

   ”Ahahahaha, aku tidak tahu… mianhae,” Jaehee sungguh-sungguh menyesal. Ia ingin sekali membantu Joonmyun, tetapi ia sadar diri dengan kemampuannya sendiri. Tidak mau memberi Joonmyun saran menyesatkan, “Bagaimana kalau kau aplikasikan apa yang kau rasakan dengan musikmu?”

   ”Hmm, maksudnya?” tanya Joonmyun sambil mengernyit.

   Wajah Jaehee memerah lagi diperhatikan dengan seksama oleh Joonmyun seperti itu, maka Jaehee memainkan beberapa nada dengan jari-jarinya untuk tidak secara langsung balas memandang Joonmyun.

   ”Hmm, bukankah biasanya seseorang menciptakan lagu karena ia tengah merasakan sesuatu?” gumam Jaehee. Menggelengkan kepala, Jaehee menyadari betapa bodohnya sarannya sendiri, ia meringis dan berkata, ”Tapi… entahlah, kau lebih paham hal ini daripada aku, hehehe…” kekehnya suram.

   Joonmyun tersenyum dan menggeleng, “Anhi, kurasa kau benar… kita harus merasakan ’sesuatu’ untuk dapat membuat karya.” Dan di akhir kalimatnya, ada kilauan yang membuat perut dan jantung Jaehee kembali bereaksi.

   ”Kudengar, Romeo & Juliet menjadi pertunjukan resmi Musical Theatre di festival musim semi,” kata Joonmyun saat Jaehee tak lagi berkata apa-apa dan memainkan tuts piano dalam diam. Sedikit kaget, gadis itu tersenyum dan mengangguk pelan-pelan. ”Kutebak, itu adalah Romeo & Juliet darimu?”

   ”Ne,” Jaehee mengangguk, menoleh lagi. ”Terima kasih kepadamu. Untuk pertama kalinya aku bisa menjelaskan dengan baik naskah yang kupilih dan berhasil mendapatkan vote terbanyak agar dijadikan pertunjukan.”

   Joonmyun mengangguk-angguk, ”Jalhaesseo…. lalu, kau akan casting sebagai Juliet, bukan?”

   ”Ah,” Jaehee menghela napas berat. Kedua matanya mendadak kehilangan sorot yang selalu Joonmyun sukai. Entah ini hanya pengamatan Joonmyun semata, atau orang lain juga dapat melihatnya, tetapi Jaehee memiliki kilauan mata cokelat yang indah, jika ia tengah membicarakan sesuatu.

   ”Wae?” tanya Joonmyun penasaran.

   ”Anhi,” Jaehee terkekeh dan mengangkat bahu. ”Kim Seolhyun pasti yang akan terpilih menjadi Juliet, geuchi?” pertanyaan Jaehee tersebut justru membuat Joonmyun merasa bahwa ada ular liar yang bergerak dalam perutnya dan membuatnya tak nyaman. ”Gadis itu sangat pandai dalam akting.” Gumam Jaehee lagi.

   Kenapa aku lupa kalau Seolhyun juga pasti akan mengincar peran utama? Batin Joonmyun.

   ”Dia… ehem, temanmu? Atau… masih keluarga?” tanya Jaehee penasaran. Ingin tahu, tapi takut dengan kenyataan. Bagaimana kalau ternyata Seolhyun adalah…

   ”Oh, ya. Seolhyun memang seorang Kim, tapi dia bukan sepupuku—kami teman sejak kecil tapi,” sahut Joonmyun melempar senyuman khasnya. Satu-satunya yang membuat Jaehee waras adalah kenyataan bahwa tangannya mencengkram tepian kursi. ”Kurasa ayahnya atau ibunya adalah teman orangtuaku.”

   Jaehee mengangguk-angguk.

   ”Tapi Jaehee, kenapa kau yakin sekali kalau Seolhyun yang akan jadi Juliet?” tanya Joonmyun sambil mengernyitkan alisnya. ”Bukankah skenario ini dipilih berdasarkan penjelasanmu? Itu artinya kau berhasil meyakinkan banyak orang, bukan? Berarti kau sudah sangat mendalami skenarionya.”

   ”Well, lihat Seolhyun, dia begitu banyak memiliki jam terbang. Akting dia juga baik, kau sebagai temannya tentu tahu betapa berbakatnya dia.”

   Joonmyun menggelengkan kepalanya, ”Kau juga bisa jadi Juliet, aku yakin!”

   ”Jinjja?” kekeh Jaehee geli, ”Bagaimana kau bisa begitu yakin sementara aku sendiri tidak yakin?”

   ”Entahlah, aku yakin saja,” jawab Joonmyun sambil kembali bermain, dan Jaehee tersenyum, merasa bersyukur atas kepercayaan yang Joonmyun berikan kepadanya. ”Boleh aku tahu, bagaimana proses casting di Musical Theatre?”

   ”Hmm, biasanya kita diperbolehkan memilih scene yang ingin kita peragakan di casting tahap pertama,” jelas Jaehee memperhatikan jemari Joonmyun yang bermain dengan seksama. ”Kemudian kandidat yang dirasa cocok, akan diminta memeragakan beberapa adegan yang dipilih oleh para pembimbing. Kemudian, biasanya dari situ di casting tahap ketiga yang lolos akan mulai dipasangkan dengan kandidat yang menjadi lawan main. Semacam camera test… dan baru diputuskan siapa.”

   Joonmyun menghentikan permainannya dengan denting lembut sebelum bertanya dengan penasaran, ”Lalu? Scene mana yang akan kau peragakan?”

   ”Hmm, aku masih belum yakin…” Jaehee melirik Joonmyun ragu-ragu, ”Kau… kau punya ide?” tanyanya penasaran.

   Pura-pura berpikir, Jaehee tahu benar, karena Joonmyun memiringkan kepalanya dan menatapnya dengan pandangan menilai dan senyum tertahan, yang sedetik kemudian berubah menjadi tawa. “Tentu aku punya saran… tapi, kalau aku membantumu, kau harus menjanjikanku satu hal.”

   ”Apa itu?” tanya itu Jaehee ragu-ragu.

   Joonmyun terkekeh melihat wajah Jaehee yang penuh kekhawatiran seolah-olah Joonmyun akan meminta ginjalnya sebagai bayaran. ”Rileks.” Dan Jaehee tersenyum malu, ”Aku mau membantumu berlatih… tetapi seperti yang kukatakan barusan, kau harus menjanjikanku sesuatu.”

   ”Selama tidak berbahaya… err, seperti melibatkan ketinggian dan ular… oke.”

   Kali ini Joonmyun harus bersusah payah menahan tawanya, karena Demi Tuhan, Jaehee menggemaskan sekali.

   ”Jadi kau takut ular dan ketinggian?”

   ”Semua wanita takut akan dua hal itu.” Ujarnya membela diri.

   ”Baiklah, tapi aku tidak tertarik dengan ular dan ketinggian, jadi kau boleh tenang.” Kekeh Joonmyun. ”Aku hanya ingin kau benar-benar berusaha keras untuk menjadi Juliet, Jaehee-ya.” Tandas Joonmyun sambil tersenyum. Oh Demi Tuhan, penguasa bumi dan surga, ingin rasanya Jaehee menjerit dan memutari ruangan sepuluh kali karena Joonmyun menyebut namanya dengan Jaehee-ya. Sapaan informal bagi orang yang sudah dekat. Itu berarti… Joonmyun menganggapnya dekat??? Ah Tuhan…

   ”Aku yakin kau bisa, dan tentu saja… karena alasan pribadi, yaitu musikal ini diangkat dari karya favoritku,” ia menambahkan dengan main-main, tidak menyadari disampingnya Jaehee sudah mengepul. ”Kau pasti bisa jadi Juliet, percayalah.”

   ”Karena kau yang akan membantuku latihan?” tanya Jaehee ikut bermain-main setelah sanggup meredakan emosinya yang meluap-luap barusan, dan kini keduanya tertawa. Jaehee berpikir, ternyata tidak sukar berteman dengan musuh. Lagipula, siapa yang bisa membayangkan musuh seperti seorang Kim Joonmyun? Tampan, sopan, dan tentu saja baik hati. ”Oke, aku janji.”

   Dan Joonmyun tersenyum puas pada dirinya sendiri, satu rencana yang diluar prediksinya sama sekali telah ia lakukan, dan ia senang dengan hasilnya sendiri.

   ”Omong-omong… disini aman, bukan?” bisik Jaehee tiba-tiba.

   ”Aman kenapa?”

   ”Hmm, tidak ada… yang akan melihat kita, bukan?”

   Dan Joonmyun lupa, bahwa mereka tidak seharusnya terlihat bersama…

*        *        *

”Disini kau rupanya. Aku mencarimu dari tadi.”

   Joonmyun tersenyum mendapati Jongdae duduk di hadapannya, matanya menangkap secarik kertas yang sahabatnya bawa dengan penasaran. ”Itu apa?”

   ”Undangan casting dari Musikal Romeo & Juliet,” kekeh Jongdae puas. ”Sepertinya mereka membutuhkan penyanyi, entahlah… aku masih sering malu jika harus berakting. Bagaimana denganmu? Mereka tidak melarang jurusan mana pun untuk ikut bergabung, yang penting kau lolos casting.”

   ”Eoh? Tidak hanya dari Departemen Musical Theatre?”

   ”Tidak, kecuali untuk tingkat satu dan dua hanya boleh dari Departemen Musical Theatre… Karena kita sudah tingkat tiga, kita diperbolehkan ikut berbagai macam projek untuk menambah nilai. Bagaimana menurutmu?”

   ”Sebagai apa?” tanya Joonmyun heran.

   ”Please Kim Joonmyun. Aku, Jongin, dan Seolhyun tahu benar bahwa kau memiliki kemampuan dalam bidang akting. Ingat undangan beasiswamu untuk KAIST?”

   Joonmyun memutar kedua matanya dan menggelengkan kepala, ”KAIST tidak pernah menjadi pilihan untukku.”

   ”Well, kalau begitu bagaimana kalau kau masukkan lagumu sebagai soundtrack? Ini juga ada casting-nya…” Jongdae tidak memaksa lebih jauh perihal bakat terpendam Joonmyun yang dulu secara tak sengaja terungkap karena dipaksa mengikuti sebuah casting di pentas seni KAIST saat menemani Jongin tampil disana.

   ”Mwo?” Joonmyun mengernyit, ”Soundtrack? Apa ini tidak akan menjadi Musikal Romeo & Juliet yang biasa? Kenapa harus ditambahkan soundtrack?”

   ”Sepertinya musikal ini akan diadaptasi ke masa sekarang. Makanya mereka mencari soundtrack, kau mau ikut? Kurasa lagumu yang itu cocok untuk musikal ini…”

   ”Lagu yang mana?”

   ”Lagu yang mana lagi? Nasibmu dan Romeo sama, Sobat, Jongin sudah cerita.” Kekeh Jongdae, tidak meledek, karena tangannya meremas bahu Joonmyun kuat-kuat. ”Bae Joohyun jadi biksu, geuchi?”

   Astaga, Bae Joohyun!

   Joonmyun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, seperti baru saja disiram dengan air dingin. Kenapa nama Joohyun kini terdengar begitu asing di telinganya? Bagaimana mungkin ia melupakan Bae Joohyun dengan begitu… cepat? Bukankah ia sudah mencintai gadis itu sejak usianya masih balita?

   ”Ya! Kim Joonmyun!”

   ”Sori, Jongdae-ya…”

   ”Aku tahu kau sedih, tapi lagumu jangan disia-siakan hanya karena Joohyun diluar jangkauanmu,” nasihat Jongdae bijak, ”Lagu itu sangat indah, sangat pas untuk menjadi soundtrack Musikal.”

   ”Entahlah Jongdae-ya…”

   Jongdae berdecak, ”Ayolah, kau menyia-nyiakan kemampuanmu sendiri, Sobat. Skill piano, skill musisi, dan skill aktor. Sebenarnya kalau kau mau, kau bisa seperti Zhang Yixing yang terkenal itu.” Kekehnya.

   ”Jangan sampai kau bicara begitu di depan Jongin.” Joonmyun ikut tertawa. ”Entahlah, aku akan cari lagu yang cocok…”

   ”Tidak usah cari yang cocok. Lagu untuk Joohyun! Percaya padaku…”

   Aku meminta Jaehee untuk percaya pada dirinya, dan mengejar peran Juliet. Masa aku sendiri diam berpangku tangan?

   ”Baiklah,” Joonmyun akhirnya mengangguk. ”Bagaimana denganmu? Kau akan audisi apa?”

   Jongdae mengangkat bahu, ”Ini tahun terakhir kita bersekolah, bukan? Sebelum berkarier, aku ingin mencoba berbagai macam peruntungan. Mungkin di akting, dan tentu saja di bidang yang aku sendiri sudah ahli.”

   ”Kau akan coba akting? Seorang Kim Jongdae?”

   ”Aku tidak akan mencoba menjadi Romeo, banyak peran lain yang tersedia selain Romeo!” omel Jongdae.

   ”Baiklah, baiklah…”

   ”Disini rupanya kalian!”

   Jongdae dan Joonmyun mendongak. Keduanya melambai pada Seolhyun yang baru saja meletakkan tasnya di atas meja. ”Aku mencarimu sejak tadi… Joonmyun-ah, kau tahu berapa banyak sainganku untuk menjadi Juliet?” ringis Seolhyun, ”Kau harus membantuku untuk menjadi Juliet!”

   ”Ne?”

   ”Memang berapa banyak yang mendaftar?”

   ”Hingga siang ini sudah seluruh murid wanita di Departemenku mendaftar sebagai Juliet,” Seolhyun meringis. ”Persaingan di tingkat tiga semakin ketat, dan mereka semua sangat-sangat berbakat…” Seolhyun beralih menatap Joonmyun yang nampak bingung, ”Kau adalah penggemar berat Shakespeare, tentu saja kau tahu Romeo & Juliet lebih dalam dibandingkan aku. Kau harus membantuku untuk mendapatkan peran itu, Joonmyun-ah.”

   ”Dia pasti akan membantumu. Eh, Seolhyun-ah, apa menurutmu peran yang pantas untukku? Apa seharusnya aku coba casting sebagai Tybalt?” tanya Jongdae mengalihkan perhatian Seolhyun. Untung saja, karena Joonmyun mengerutkan keningnya dalam-dalam tidak berhasil menjawab pertanyaan Seolhyun barusan.

 

*        *        *

Studio Dance IV

17.45

Menggelengkan kepalanya, Jaehee berjalan mendekati cd player yang terletak di ujung ruangan, tepat disamping lemari berisi deretan cd musik milik Departemen Dance dan menekan tombol stop dengan kuat.

   Hana yang sibuk dengan gerakan tag turn-nya berhenti dan menoleh, lalu mengernyit sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, matanya penuh dengan sorot protes. ”Oh Jaehee? Apa kau tidak lihat aku sedang berlatih?”

   “Kau bilang kau hanya berlatih hingga pukul lima! Lihat sekarang pukul berapa?!”

   Hana melirik jam pada ponselnya yang terbaring di lantai dan meringis. ”Aku hanya menambah empat puluh lima menit, lagipula minggu depan Departemen Dance juga akan mengadakan seleksi, Jaehee-ya.”

   ”Aku tahu…” seloroh Jaehee sambil duduk di samping lemari dan melipat kedua kakinya. ”Tapi tetap saja, kau sampai tidak makan siang.”

   ”Aww, kau khawatir padaku?” alis Hana terangkat-angkat.

   Jaehee berdecak, ”Selain khawatir, aku juga mau minta pendapatmu! Aku harus casting minggu depan, apa kau punya ide scene yang mana yang lebih baik kugunakan untuk casting? Aku benar-benar bingung…”

   ”Jaehee-ya, kau menanyakan scene pada seorang dancer? Apa kau tidak salah?”

   ”Keurom eotokhe?” keluh Jaehee pada dirinya sendiri. ”Semua murid departemenku juga sedang sibuk mempersiapkan casting mereka masing-masing, Hana-ya…” rengek Jaehee, ”Apa yang harus kula…”

   Pintu studio kali ini terbuka. Jaehee mendongak, sementara Hana melipat kedua tangannya dengan sorot mata tidak suka. Di ambang pintu, adalah sosok yang Jaehee kenali sebagai lelaki yang sering bersama-sama dengan Joonmyun.

   ”Bukankah seharusnya ruangan ini sudah kosong sejak pukul lima?” tanya pria yang baru masuk ini pada Hana yang berdiri di tengah ruangan.

   ”Aku tidak menulis secara spesifik kapan aku akan selesai menggunakan ruangan ini.” Sahut Hana dengan nada tidak suka, tangan dilipat, dan sorot mata sama tak bersahabatnya seperti lelaki yang baru datang ini.

   Kim Jongin ikut melipat kedua tangannya, ”Ruangan ini bukan milik Anda!”

   ”Setahuku juga bukan milik Anda!” balas Hana.

   Jaehee menatap keduanya yang mungkin siap perang pada saat yang sama dan memutuskan bahwa sudah waktunya ia bertindak, ”Ya ya ya, Lee Hana, kau sudah berlatih tanpa istirahat sejak tadi, ayo kita pulang.”

   ”Dengar? Bahkan temanmu sendiri mengatakan demikian. Kau sudah menggunakan tempat ini terlalu lama, Miss.”

   ”Kaja!” Jaehee meraih tas Hana dan menarik sahabatnya itu, seperti Hana menarik dirinya kemarin. Sayang sekali, Hana jauh lebih keras kepala dari dirinya. Gadis itu masih saja sempat berdiri di tempat untuk memelototi Kim Jongin, hingga Jaehee harus bersusah payah menariknya keluar dari Studio.

   Seperti yang bisa diduga, Hana marah!

   ”Apa-apaan kau tadi?! Aku belum selesai berlatih! Dan kenapa kau malah membela pria itu!? Dia bisa mencari ruang latihan yang lain!”

   Jaehee memutar kedua matanya, ”Kan sudah kubilang kau harus istirahat. Kau bahkan belum makan siang, Hana-ya.”

   ”Tapi kau tidak seharusnya bilang begitu di depan dia! Dia seorang Kim!”

   Haruskah dia mengingatkanku soal Kim, Kim, Kim, dan Kim berulang kali? Jaehee menghela napas dan menyerahkan tas Hana, ”Kau kan bisa berlatih di studiomu sendiri di rumah, Hana-ya. Yang penting kau makan dulu.”

   ”Ah,” Hana terpaksa menerima kenyataan bahwa ia sudah harus pergi dari studio. ”Dasar dancer payah!”

   ”Nugu?” Jaehee menoleh dengan penasaran.

   ”Si Kim tadi,” Hana menarik keluar jaket biru muda dari dalam tas olahraganya dan mengenakannya di atas baju ketat yang ia pakai untuk berlatih, ”Sudah rahasia umum si Kim itu hendak menyaingi Zhang Yixing kesayanganmu.”

   Jaehee mendesis, memukul bahu Hana sambil berjalan menuju lobi. ”Sampai kapan harus kukatakan kalau aku tidak menyukai Yixing!”

   ”Ahh, ada yang malu~” ledek Hana sambil menaik-naikkan alisnya. “Tapi siapa yang senang menonton gig Yixing di kafe luar sekolah hanya karena ingin melihatnya bermain gitar? Pastinya bukan aku…”

   ”Lee Hana, geumanhae!” wajah Jaehee kini sudah semerah tomat. Ia mengeluarkan ponselnya begitu tiba di lobi, sementara Hana hanya terkekeh geli melihat sahabatnya sendiri salah tingkah disampingnya, sementara Jaehee kini menghubungi supir keluarga Oh—Jun, yang biasa menjemput mereka berdua.

   ”Hyaaa… lihat itu, Kim Seolhyun pasti berlatih dengan keras agar terpilih menjadi Juliet, coba kau lihat.”

   Menurunkan ponselnya, Jaehee menoleh arah yang ditunjuk oleh Hana. Berdiri di depan gedung teater lima, yang letaknya di sisi kiri sekolah, Kim Seolhyun mengibaskan rambutnya sambil tersenyum pada sosok yang baru saja keluar dari dalam gedung teater lima.

   Perut Jaehee terasa diaduk saat mengetahui bahwa pria yang bersama Seolhyun itu Joonmyun.

   ”Kau tidak boleh kalah, Jaehee-ya!” bisik Hana sambil ikut memicingkan mata melihat sosok Joonmyun yang mendorong Seolhyun masuk ke dalam mobil Mercedez hitam yang mendadak muncul begitu saja di depan teater.

   Tentu saja… Joonmyun pasti akan membantu Seolhyun. Biar bagaimana pun, sainganku adalah Kim Seolhyun. Seorang Kim, dan teman kecil Joonmyun. Mendadak muram, Jaehee masuk begitu saja ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Jun, meninggalkan Hana yang mengira Jaehee kembali patah semangat karena Kim Seolhyun. Dan sepanjang perjalanan pulang, Jaehee tidak mengatakan apa-apa lagi, sehingga membuat Hana benar-benar berpikir bahwa mental Jaehee jika melawan Seolhyun sudah selalu mental tahu.

 

*         *        *

”Oke, kau jadi Benvolio,” Seolhyun mendorong skrip Romeo & Juliet pada Jongin yang mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dengan bingung, kemudian Seolhyun beralih pada Jongdae, ”Kau Tybalt,” dan Jongdae mengacungkan tinjunya ke udara dengan bersemangat, karena ia merasa cukup cocok dengan karakter Tybalt, ”Dan kau, Joonmyun-ah, kau akan menjadi Romeo.”

   Menghela napas dalam-dalam, Joonmyun meraih skrip dari Seolhyun, sebenarnya ia merasa tidak enak. Ia kan sudah berjanji akan membantu Jaehee yang meragukan kemampuannya karena Seolhyun. Kalau ia membantu Seolhyun? Bukankah sama saja seperti mengkhianati—ah tapi memang sejak tingkat pertama, Seolhyun selalu meminta bantuannya dalam melatih aktingnya. Begitu juga dengan Jongin dan Jongdae yang selalu ikut membantu.

   ”Adegan ini yang akan kau pilih untuk audisi?” tanya Jongin sambil membaca dialog yang ada didalam.

   Seolhyun mengangguk, ”Bukankah pesta dansa selalu menjadi highlight dalam setiap pertunjukan Romeo & Juliet?”

   ”Eoh, kau benar.” Jongdae mengangguk-angguk.

   Joonmyun mengangkat sebelah alisnya saat mendengar pertanyaan Seolhyun barusan, sementara Seolhyun memulai dialognya tanpa aba-aba, hingga Jongdae dan Jongin buru-buru mencari kalimat yang Seolhyun katakan barusan.

   Joonmyun—yang sudah menghapal diluar kepala dialog yang dimaksud, berbicara dengan lancar meski tidak berusaha semaksimal mungkin untuk medalami karakternya karena merasa bersalah,What lady is that which doth enrich the hand Of yonder knight?”

   ”Woah…” gumam Jongin dan Jongdae takjub sambil saling sikut, karena Joonmyun sama sekali tidak menggunakan skripnya.

   Memejamkan matanya, membayangkan sosok seorang gadis. Mengenakan gaun putih panjang, dengan lipitan cantik yang membingkai pinggulnya. Hanya sedikit pergelangan kaki yang terlihat. Kulitnya yang kecokelatan justru semakin bersinar karena gaun putih cantiknya. Saat ia berputar di lantai dansa, dengan wajah tertutup topeng, dilengkapi dengan sayap bidadari. Tuhan, gadis itu memang bidadari.

          Oh, she doth teach the torches to burn bright!

It seems she hangs upon the cheek of night

Like a rich jewel in an Ethiope’s ear,

Beauty too rich for use, for earth too dear.

So shows a snowy dove trooping with crows

As yonder lady o’er her fellows shows.

The measure done, I’ll watch her place of stand,

And, touching hers, make blessèd my rude hand.

Did my heart love till now? Forswear it, sight!

For I ne’er saw true beauty till this night.

   Jongin dan Jongdae terkikik, saling memukul bahu masing-masing karena takjub melihat sosok Romeo yang seolah-oleh keluar dari sahabat atau sepupu mereka kini. Akting Joonmyun memang selalu brilian! Suaranya yang lembut, oh ya ampun, Joonmyun tidak mengucapkan kalimat diatas dengan nada datar.

   Seolah-olah Joonmyun tengah benar-benar jatuh cinta.

   ”Jongdae-ya!”

   Jongdae mengerjapkan matanya dan menoleh pada Seolhyun, nyaris ia menggerutu karena masih ingin menikmati akting Joonmyun. “Wae?!”

   ”Sekarang giliranmu,” Seolhyun memutar kedua matanya.

   ”Oh!” wajah Jongdae berubah pink, dan Jongin tertawa terbahak-bahak disampingnya. Seolhyun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memberitahu Jongin untuk mengambil peran Lord Capulet yang akan bertengkar dengan karakter Tybalt yang dimainkan oleh Jongdae.

   Meski akting Jongdae dan Jongin tergolong payah, karena tentu saja keduanya tidak terbiasa menggunakan bahasa Inggris masa lampau seperti yang ada di dalam dialog—juga karena Jongin yang selalu tertawa terbahak-bahak saat berakting bersama Jongdae, tibalah saatnya adegan dimana Romeo dan Juliet bertemu.

   Meraih tangan Seolhyun, Joonmyun kembali memejamkan matanya. Seharusnya aku menatap mata Seolhyun… batinnya, maka ia membuka mata dan mengecup punggung tangan Seolhyun, sementara dua fanboys menekap wajah mereka dengan berlebihan dan menahan jeritan ala lumba-lumba saat melihat Joonmyun mengecup tangan Seolhyun.

   ” If I profane with my unworthiest hand. This holy shrine, the gentle sin is this: My lips, two blushing pilgrims, ready stand to smooth that rough touch with a tender kiss.”

   Seolhyun tersenyum malu, entah karena benar malu dengan gestur Joonmyun atau memang benar-benar menghayati perannya. ”Good pilgrim, you do wrong your hand too much, Which mannerly devotion shows in this, For saints have hands that pilgrims’ hands do touch, And palm to palm is holy palmers’ kiss.”

    Namun Joonmyun menyadari, adegan setelah ini adalah adegan dimana Romeo berdiri dan langsung mengecup bibir Juliet. Ia berdiri tegak dan menghela napas dalam-dalam, ”Seolhyun-ah, mianhae… aku rasa aku harus melakukan finishing di lagu yang akan kuajukan, dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya, mian.” Joonmyun berdiri tegak lagi.

   ”Lho?!” pekik Jongdae.

   ”Ya! Setelah ini adegan yang sangat penting sobat!” omel Jongin.

   ”Kau gantikan aku sebentar oke, aku baru ingat harus menambahkan sesuatu. Seolhyun-ah, mianhae…”

   Jongin berdecak memandangi Joonmyun yang kabur keluar dari ruang santai milik keluarga Joonmyun, dimana ia Jongdae, dan Seolhyun biasa berlatih jika Seolhyun memiliki pertunjukan. ”Anak itu… mungkin dia malu untuk berciuman denganmu,”

   Seolhyun hanya tertawa, ”Sudahlah, biarkan saja. Kau bantu aku sekarang, Jongin-ah, kau jadi Romeo.”

   ”Aye, Princess.”

   Jongdae mengernyit geli sendiri, ia tidak menyangka usulannya agar Joonmyun menyempurnakan lagu untuk Joohyun akan benar-benar mendapatkan respon yang begitu total dari sahabatnya sendiri. Apa pun itu, Jongdae berharap Joonmyun bisa segera melupakan Joohyun.

   ”Ya, Kim Jongdae, ayo berlatih!” omel Jongin yang mendadak menjadi sombong setelah didapuk mendadak jadi Romeo.

 

*        *        *

Balkon Lantai 5

Hanlim Art School

 Sudah dua jam Jaehee berada di balkon, berusaha menghapalkan berbagai dialog dan memilah-milah mana adegan yang dapat ia gunakan untuk audisi, namun ia tetap tidak yakin. Ia ingat Joonmyun berjanji untuk membantunya, namun tidak berharap begitu banyak lagi setelah ia melihat Joonmyun bersama Seolhyun kemarin sore, yang ia asumsikan sendiri bahwa Joonmyun justru membantu Seolhyun.

   Ia tidak berhak marah juga, namun sekarang tingkat keputusasaannya semakin tinggi. Apalagi Hana jadi sibuk semenjak mendapatkan ide untuk festival musim semi, dan Guru Pembimbingnya juga akan mengadakan audisi. Kini, Jaehee tak punya siapa pun yang bisa ia ajak bertukar pikiran soal audisinya.

   ”Hah…” sudah kesekian kalinya Jaehee yang duduk bersila di lantai menghadap ke jeruji balkon yang menampilkan pemandangan segar halaman belakang sekolah. ”Jika aku memilih adegan ini… bagaimana?”

   Membaca dialog yang ia maksud berkali-kali, Jaehee kemudian memejamkan matanya dalam-dalam, berusaha memasuki adegan dimana Juliet terbangun dari mati surinya, dan mendapati suaminya, Romeo, sudah tidak bernyawa disampingnya. Jaehee berpikir keras, bagaimana rasanya, jika saat ia terbangun di suatu hari, mendapati suaminya—yang berarti ia sangat mencintai laki-laki ini, terbaring disampingnya, tak bernyawa lagi, setelah mereka berjanji mereka akan selalu bersama.

   Entahlah, air mata mendadak mengalir keluar begitu saja dari pelupuk matanya. Dan kata-kata pun meluncur begitu saja, ”What’s here? A cup, closed in my true love’s hand?”  berpura-pura memiliki cawan di tangannya, Jaehee meneruskan dialognya,Poison, I see, hath been his timeless end.—O churl, drunk all, and left no friendly drop To help me after?” tangis Jaehee semakin pecah karena benar-benar membayangkan pria yang ia cintai tidak menyisakan setetes pun racun untuk ia gunakan untuk menyusul pria itu, ”I will kiss thy lips. Haply some poison yet doth hang on them,To make me die with a restorative…” menarik sedotan yang ia gunakan untuk meminum jus persiknya, Jaehee menggunakan sedotan tersebut layaknya sebuah pedang setelah dengan sengaja melewatkan adegan kiss, saat Juliet mencoba mencari sisa racun dalam bibir Romeo yang masih hangat, ” Yea, noise? Then I’ll be brief. O happy dagger, This is thy sheath. There rust and let me die.”

   Plok. Plok. Plok.

   Jaehee menoleh dengan kaget, masih dengan dua tangannya terhenti di udara, menusukkan sedotan yang ia anggap pedang pada perutnya. Wajahnya langsung memerah seketika saat mendapati Joonmyun sedang bertepuk tangan.

   ”Jalhanda!”

   ”Eyy, kau hanya meledek.” Jaehee buru-buru mengembalikan sedotan tersebut ke tempatnya yang benar—jus persiknya.

   Joonmyun menggeleng, ia justru ikut duduk bersila di hadapan Jaehee dan memandangi gadis itu dengan kagum. ”Woah… kau benar-benar menangis.” Gumam Joonmyun, dengan spontan ibu jarinya ia gunakan untuk mengusap air mata yang masih tersisa di sudut mata kanan gadis itu. ”Jinjja, aku sampai sedih melihatnya… kau benar-benar meremehkan kemampuanmu, Jaehee-ya. Aku tidak tahu kalau kau bisa berakting sebaik ini…”

   Berdebar-debar karena merasakan Joonmyun yang menghapus air matanya, Jaehee menundukkan kepalanya sedikit, agar Joonmyun tidak melihat wajahnya yang memerah secara langsung.

   ”Kau akan menggunakan adegan itu untuk audisi?” tanya Joonmyun saat Jaehee tidak mengatakan apa-apa lagi, dan malah menyibukkan diri dengan berpura-pura memeriksa naskah di tangannya.

   ”Erm… aku masih kurang yakin.”

   Joonmyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seulas senyum malu-malu muncul di bibirnya yang tipis, ”Sebenarnya aku mau memberitahumu soal saranku, tapi… aku tidak tahu harus menghubungimu kemana. Juga tidak tahu kau akan ada disini kapan… jadi aku hanya menebak-nebak saja, tadi saat jalan lewat sini… aku mencoba melihat ke dalam, jika beruntung aku akan bertemu denganmu.”

   Jaehee mendongak dari aktivitasnya membaca naskah, dan wajahnya sepertinya belum akan berhenti memerah. Apalagi kalau ia tidak salah mengartikan maksud Joonmyun barusan. Pria ini… tidak sedang mengatakan ingin tahu nomor ponselnya, bukan?

   ”Bukankah… hmm, bukankah… kau membantu Kim Seolhyun?” cicit Jaehee, masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

   Kedua mata Joonmyun membelalak. Tahu darimana Jaehee bahwa ia sudah membantu Seolhyun semalam? ”Ne?!

    ”Aku melihat kalian,” Jaehee berusaha tersenyum, ingin meyakinkan Joonmyun bahwa ia tidak merasa dikhianati meski kenyataannya sebaliknya. Tapi siapa dia? Seolhyun kan sahabat Joonmyun sejak kecil katanya, wajar saja pria ini lebih ingin membantu Seolhyun daripada dirinya yang baru kenal. ”Kukira… kalian berlatih bersama.”

   ”Oh, tidak…” Joonmyun menggeleng, entah kenapa merasa perlu menjelaskan pada Jaehee. ”Jongin justru yang membantu Seolhyun, aku bilang pada Seolhyun bahwa aku ingin fokus mengerjakan audisiku sendiri.” Tambahnya, tapi kemudian buru-buru menambahkan lagi, agar Jaehee tidak salah paham, ”Aku kan sudah berjanji akan membantumu, Jaehee. Dan, aku sungguh-sungguh ingin melihatmu yang jadi Juliet.”

   Jaehee tidak pernah begini susahnya menahan senyum seumur hidupnya.

[PART IV KKEUTT]

Akhirnya bisa ngepost juga~

Sudah selesai dari Rabu malam, tapi finishing Beta-nya baru selesai semalem jam satu pagi, wkwkwkwk aku udah ketiduran. Kasian Ima lagi penelitian aku uber-uber Beta-nya, jadi molor-molor dikit rapopo lah ya… belakangan ini aku sibuk banget urusin kado-kado yang mau dikirim untuk Suho ke Korea >< jadi ngetik part 4-nya emang agak lama makanya baru hari Rabu aku kirim untuk di Beta. 

Btw, bulan depan bulan Mei /horeeee/ Suho ulang tahun, dan film Suho Glory Day juga mau ditayangin di Indonesia. Insya Allah kalau gak ada aral melintang, Suhofanunionina, bakalan bikin Mini Charity Gathering untuk ulang tahunnya, dan Nobar Glory Day #promosi yuk yuk yang mau gabung cuss cek Twitter kita di @suhofanunionina ya ^^ yang mau ikut charity juga bisa oke sekian promosinya lol

Nah kembali ke isi FF, gimana? Udah puas momen JunHee-nya?? Belom dong… ini baru sedikit #tsaaahhhh masih banyak momen mereka lagi wkwkwkwk. Makasih untuk yang udah mau baca komen, sampai ketemu di next part Kamis depan Insya Allah.

XoXo

Neez

126 responses to “ALL I ASK [PART IV] — by Neez

  1. Suka ceritanyaaa…
    Kelakuan joonmyeon bikin melting
    Joonmyeon jaehee jadi romeo juliet kan??

  2. Pingback: ALL I ASK [PART XI] PG17 — by Neez (PASSWORD INFORMATION) | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Suka banget sama part yang ini
    Jaehee joonmyeon so sweet
    Pokoknya joonmyeon harus jadi romeonya 😆

  4. duuuhhh…. kira kira adegan yg mana ya??? yg d tawarin jumyooon ke jaeheee???? hhhh penasaran tingkat dewaaaa……

  5. penasaran sama adegan yang dipilih sama joonmyeon untuk ngebantu jae hee. aku berharap yg jadi romeo itu joonmyeon trus yg jadi julietnya jae hee.

  6. Duh… Suka banget sama moment jaehee-joonmyeon. Sweet banget…..
    Pengennya sih jaehee jadi juliet joonmyeon jadi romeonya hehehe

  7. eaahh, kedekatan mereka mulai terasa deket banget,, klau ortunya tau gimana yahh,, oohh my god, smoga ja g tau,,
    aku harap jaehee yg bklan hd julietnya yahh

  8. Ohmayy~ junmyeon tipe2 malumalu romantis yah kayanya :3 jd gyemes bayanginya wkwkwk
    Btw semoga jaehee yg dpt peran julietnyaa :”D kalo bisa suho yg jadi romeonya hahaha

  9. junmyeon nemuin jaehee buat nepatin janjinya yg akan membantu jaehee buat latihan menjadi juliet…..owh it’s swett….

  10. Pingback: ALL I ASK [PART XII] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Pingback: ALL I ASK [PART XIII] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. Aaakkkkkk jaehee joonmyeon makin deket yaaaa suka banget liat mereka akur(?) tidak seperti keluarganya yg saling berselisih 😂😂
    Mana si jaehee agak cemburu gitu liat joonmyeon sama seolhyun uuuuu manisnyaaa :3
    Karakter jongin disini emg agak nyebelin konyol gitu ya kak wkwkwk
    Lanjut yaw kak ^^

    • Ternyata part 5 diprotect ya kak😦
      Aku boleh minta passwordnya kah? Tp lewat mana kalo mau hubungin kakak? Makasih sebelumnya ya kak

  13. Pingback: ALL I ASK [PART XIV] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. ahh aku jadi cinta sama author nya haha
    Manis sekalii sihh
    Romeo an juliet versi Exo
    Ahh
    Lanjut sampe end, thor
    Aku cinta sama FF ini,
    ff terfavorit, meskipun belum baca sampe END

  15. Woahh, jd merek ini sbnrny udh sm2 saling suka ya. Suka karakter suho dsni. Bacany bs ikut snyum2 sndr, sm deg2an. Wkw. Lanjut kak^^

  16. Kak neez.. Kok aku sampe sekarang belum belum dikasih pw part V 😭😭 padahal aku udah komen pas part III keluar dan aku tunggu smpe selama ini dan smpe aku lupa waktu *hiks
    Aku komen dr awal kok I swear *V
    Aku juga sering baca dan komen ff kak neez kok >< cek aja biasanya aku baca yg jun-hee id nya selalu sama dan emailku destria.kim@gmail.com kalo kelewat hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s