The Best Actor ( Chapter 2 )

Judul : The Best Actor

Maincast : Chanyeol, OC

Length : Chapter

Genre : Drama, school-life, romance

 

< Chapter 1 >

 

Chapter 2

 

“Aku merasa seperti perempuan tunanetra yang terpikat pada seorang pria yang mengatakan bahwa aku terlihat memesona berjalan dengan alat bantu tongkat.”

Malam Minggu pun tiba.

“Kau belum bersiap?” tanya Yoon Seul menatapku bingung.

“Hm?” aku masih asik bermain game ‘GTA’ yang baru saja ku instal pagi tadi.

“Jangan berpura-pura lupa. Cepat bersiap!”

“Sebenarnya ada apa?” kataku tak mau kalah sambil memasukkan permen karet ke mulutku.

Piiip. Yoon Seul mencabut kabel laptopku.

“Ya!!” laptopku seketika mati, karena baterainya sudah bocor, untuk menyalakan laptop harus tetap di-charge. Sebenarnya aku tidak benar-benar kesal, aku hanya…

Aku menatap Yoon Seul dengan puppy eyes.”Yoon Seul-ah! You’re my bestie!! My Sweety my lovely, Saranghae!” aku mencoba berpose imut, mengedip-ngedipkan mata, tersenyum lebar, dan membuat tanda hati dengan kedua lengan panjangku ke puncak kepalaku.

Berharap ia segera mengubah pikirannya.

Namun kali ini Yoon Seul tak bergeming. Otot-otot wajahnya justru menegang. Sedikit horror, sebenarnya,

“Jangan bercanda.” Dan Yoon Seul seketika bermutasi menjadi zombie, ngeri, membuatku menurunkan lengan panjangku dari puncak kepalaku. Tanda hati yang kubangun dengan tulus itu sempurna hangus diterkam tatapannya yang—tumben sekali—serius. “Ini kesempatanmu, siapa tau ia benar benar tulus. Aku bukan memaksamu, aku hanya ingin ada yang menjagamu setelah—“ Yoon Seul tampak ragu melanjutkan kata-katanya.

“Tidak, maksudku aku tidak mungkin akan tinggal disini selamanya. Aku bukan lelah, tapi aku kasihan melihatmu harus melakukan semua sendiri, membiayai dan merawat rumah ini sendiri.” Ceramahnya frustasi. Yoon Seul menarik napas lalu melanjutkan dengan nada yang satu oktaf lebih tinggi,

“Aaaah, bahkan aku tidak tau apakah ahjumma yang kau sebut ‘bibi’ itu sengaja meninggalkanmu atau tidak!” Kali ini Yoon Seul menjambak rambutnya sendiri. Setelah mengatakan itu ia berlari ke kamarnya. Aku tahu, ia tidak marah padaku. Terlebih, ia hanya kasihan. Sementara aku terlalu lelah untuk mengasihani diriku sendiri.

Aku berjalan ke kamarku. Kuputuskan untuk bersiap. Sebuah dress santai polos selutut dengan kardigan corak garis horizontal senada, juga dengan selop yang agak menyerupai sepatu kets karena ujungnya yang bertali, menjadi pilihanku malam ini. Kuraih tas selempang kecilku.

Krrk. Tanganku mendorong pagar setinggi 2 meter dengan tekstur dan bentuk menyerupai pagar hanok ini dengan pelan karena sedikit ragu.

Pintupun terbuka. Mataku terpana saat melihat sosok didepanku. Lelaki dengan kaos vneck yang dibalut lagi dengan kemeja santai yang tangannya di gulung sampai siku serta celana jeans dan sepatu kets dengan warna senada, menatapku dan tersenyum.

“Mengapa lama sekali?” katanya sambil melihat jam tangan ditangannya. Nada suaranya lebih terdengar seperti.. bayi? “45 menit aku menunggu.”

“M-maaf. Kau menungguku? Tadi aku…..” belum sempat aku menjelaskan, ia sudah menarik tanganku. Baiklah, the drama is airing now.

Dalam hati aku berdoa, semoga pikiranku tidak serta merta hilang hanya dengan sekali sentuhan.

“Tidak apa-apa,” Katanya ramah. Ia membawaku mendekati motor ninja 250 cc-nya yang berwarna merah, yang diparkirkan di depan rumahku. Ya, rumah ini peninggalan orangtuaku saat mereka ke NY 3 tahun lalu. Sebuah hanok yang cukup besar dengan biaya perawatan yang juga besar membuatku memutuskan untuk menyewakan setengah rumah ini pada Yoon Seul.

“Pakai ini,” perintahnya seraya memberikan helm padaku. Sedangkan ia sibuk mengenakan jaket kulitnya.

“Ya?”lagi lagi hanya kata itu. Ia menatapku setengah bingung. Dengan sigap Ia memasangkan helmnya di kepalaku, kemudian menyapu pelan poniku yang berantakan karena angin malam. Benar-benar terlihat tulus. Mungkin benar, kali ini ia benar benar menyukaiku.

“hei..” ia melayangkan tangannya di depan wajahku. “Ya?” aku tersadar dari lamunanku dan untuk kesekian kalinya kata itu yang keluar refleks dari mulutku.

“Naiklah!” perintahnya lembut.

 

***

 

Beberapa waktu kemudian.

“Kita sudah sampai.” Katanya memberitahu sambil menepuk nepuk tanganku. Mataku yang sejak tadi terpejam akhirnya terbuka. Mataku terbelakak saat melihat tanganku sedang melingkar di pinggangnya. Ah, memalukan. Pasti daritadi aku melamun. Aku segera melepaskan tanganku.

“M-maaf.” kataku malu sambil memainkan tanganku di leher.

“Ma-af?” Ia menatapku lagi lagi seperti bingung. Apa ada yang salah?

“Baiklah, silakan berbalik.” Perintahnya lagi. Aku langsung berbalik tanpa bertanya apa apa. Sempurna, gadis yang bodoh. Aku benar benar serupa dengan anjing. Seharusnya aku berbasa basi dulu. Tiba tiba, kurasakan sepasang tangan menutupi mataku. Jantungku mulai berpacu kencang. Rasanya hangat.

Dan tiba-tiba saja, segala prasangka-asumsi-teoritis tentang segala yang negatif itu mengabur dalam benakku.

“Hye In-ah, “ Ia mulai berbisik di telingaku. Suaranya yang lembut terasa menggelitik.

“Kau tahu? Kau adalah wanita yang cantik, pintar, superbaik.” Mengapa ia memujiku? Tanpa sadar aku tersenyum di buatnya. Dan aku semakin menyadari kebodohanku.

Aku merasa seperti perempuan tunanetra yang terpikat pada seorang pria yang mengatakan bahwa aku terlihat memesona berjalan dengan alat bantu tongkat.

“Tentang orangtuamu.. kudengar mereka sudah lama tak pulang dan meninggalkanmu dengan hanok yang membutuhkan banyak biaya, sementara kau harus menanggung semua itu sendiri.” Mengapa ia tau banyak tentang diriku? Ada sedikit perasaan mengganjal yang seketika menyeruak diantara dinding-dinding dadaku. Seberapa banyak orang yang telah diwawancarainya. Bagaimana kalau selama ini ia benar-benar menguntitku? Aku jadi malu. Bodoh, seharusnya disaat seperti ini aku berubah menjadi singa karena curiga, bukannya tersipu seperti kupu-kupu malu!

Ia melepaskan tangannya tapi tetap menyuruhku untuk memejamkan mata.

“Sebentar..” salah satu tangannya meraih satu tanganku kemudian ia menuntunku berjalan. Ini dimana? Angin malam mulai menyentuh kulitku. Hawanya benar benar sejuk. Kaki ini, separti ada pasir yang masuk. Aku seperti mendengar debur ombak. Ini di…

Kemudian ia berhenti, kembali berbisik. “Aku punya sebuah tawaran. Aku yakin ini akan membuatmu bahagia. Aku yakin jika kau menjawab ‘ya’ kau tidak akan rugi sedikitpun.” Tawaran? Apa itu?

“Silakan buka matamu.” Ia mempersilakan.

Mataku terbelakak melihat apa yang ada di hadapanku saat ini. Benar-benar indah. Ya, ini di pantai. Wah, aku tak pernah menikmati keindahan pantai malam hari. Tak ku sangka, pemandangan pantai di malam hari tak kalah menarik dengan pemandangan pantai saat matahari terbenam. Kali ini, angin malam sudah tak lagi menyentuhku, tapi bahkan sedang menusuk mencoba menembus kulitku. Suara ombak yang menerjang batu karang besar juga terdengar menyegarkan. Sesekali aku mengusap-usap lenganku dengan lengan yang lain, bergantian. Ini dingin.

Sudah sejak lama aku mengidam-idamkan pergi ke pantai di malam hari. Bagaimana ia bisa begitu mengenalku?

Chanyeol berjalan ke arah lautan lepas yang ada di depannya, meninggalkanku yang masih terpana melihat panorama ini. Kemudian ia duduk sambil menekuk lututnya-beralasakan pasir. Cahaya bulan yang meneranginya membuatnya tampak begitu sempurna. Membuatku semakin… jatuh, tenggelam dalam inti bumi.

“Kemari.” pintanya.

“Ya?” kata itu lagi? Aku segera menutup mulutku. “Ya,” kataku lagi. Aku mendekatinya.

“Sini..” Ia menepuk nepuk pasir disebelahnya, seperti menyuruhku duduk. Aku memilih duduk dengan jarak lima jengkal darinya.

“Aku akan berbicara denganmu. Apakah akan terdengar bila kau duduk sejauh itu? Suaraku akan beradu dengan debur ombak.” Aku agak geli mendengarnya. Tapi aku pun menurut dengan menggeser dudukku lebih dekat ke arahnya. “Begini?” tanyaku polos.

“Tepat sekali,” Ia tersenyum kecil. “Kau, lugu dan polos.” Bisakah aku menyebutnya sebagai pujian? Aku hanya diam dan lagi-lagi.. tersenyum?

“Hye In-ah, sebelumnya izinkan aku lebih dulu meminta maaf.” Katanya sedikit lesu. Ia kenapa?

“Ya?” aku menepuk jidatku karena kelepasan lagi.

“Aku ini memang bodoh dan serampangan. Aku mungkin bukan lelaki baik baik. Tapi, satu satunya orang yang sepertinya tak pernah mempermasalahkannya di depanku hanya dirimu. Sebelumnya, terima kasih.” Aku masih tak mengerti.

“Tidak tau kenapa, aku hanya ingin berbuat baik padamu. Mungkin karena kau juga baik pada semua orang. Termasuk kepadaku.” Apa yang sebenarnya ia katakan?

“Maka dari itu aku sering mendekatimu. Kau tau? Sikapmu, walaupun kau mungkin tidak tahu, tapi selama ini kau telah membantuku. Kau telah melancarkan hidupku tanpa kau sadari, mungkin. Semua terasa lebih mudah. Aku bisa mendapatkan apa yang ku inginkan karena bantuanmu. Terima kasih.” Maksudnya?

“Apa maksudmu?” entah mengapa, senyum Chanyeol mulai menunjukkan aura yang berbeda. Kilatan matanya seperti.. Membuatku curiga.

“Ya, aku tau aku ini bukan lelaki yang cepat puas. Karena itu, ya walaupun kau sudah terlalu banyak membantuku, aku masih membutuhkan bantuanmu.”

“Maksudmu?” dan perasaanku semakin terombang-ambing.

“Hye In-ah, “ ia menatapku, wajahnya lumayan dekat. “Bantu aku..

 

Berpura-puralah menjadi pacarku…”

 

 

Ini, gila.

 

 

 

 

9 responses to “The Best Actor ( Chapter 2 )

  1. Ini gila chanyeol apa apaan sih kok malah minta tolong hye in jadi pacar pura puranya . Dia gak tau apa kalo hye in beneran suka kirain chanyeol tulus suka sama hye in sedih bgt pasti hye in . Hye in jangan mau ya jadi pacar pura puranya chanyeol

  2. OPO IKI?!
    Aku kira ‘Hyejin.. maukah kau jadi pacarku’
    Asdfghjkl!!!! greget bacanya..

    *jowoku keceplosan :v
    keep writing

  3. apaa apaaan chaniiii,,,, itu nyakitinnn hyee in,,, dan kamu mau ngashhh hye bayarannnn channnnnnnnn ;(:/

  4. Pingback: The Best Actor ( Chapter 3 ) | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Hati2 ya chan, tkutx u jtuh kecemplung, terpeleset, treus terperosok dan terjerat bneran lhoh sm HyeIn haha Yg dimulai dg kbohongan akn mjd mslh lhoh di ujung2.. hihi kerren ceritax! izin bca nest chapter y thor..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s