Jealous by Heena Park

luluh

Kenapa dia membuat pipi kekasihku merona, huh!

 

 

a FanFiction

by

Heena Park

.

Starring 

by

Lu Han – Kwon Na Ra – Ham Eun Jin

.

Romance-Comedy-Oneshot-General

.

Note : FF ini aku buat sekitar tahun 2015 awal dan sekarang aku share dengan sedikit perubahan, jadi agak beda sama yang di blog pribadi aku hehe

.

 

“Lu Han berhentilah berlari!”

“……..”

Aku mengernyit, nampak Lu Han berbicara sambil memandangku, namun aku sama sekali tidak bisa mendengar suaranya, efek lelah.

“Aku tidak bisa mendengarmu!”

Habis sudah. Aku tidak perduli lagi pada pria yang menganggap dirinya paling manis dan hebat di dunia itu lagi. Aku sudah muak dengan gaya sok cool dan semua hal bodoh yang ia lakukan hari ini.

Kwon Na Ra kenapa kau bodoh sekali? Seharusnya tadi aku tetap pada pendirianku untuk tidak menerima ajakkan Lu Han yang disebut sebagai ‘kencan’ ini.

“Ah!”

Lu Han menghampiriku. Dia meletakkan dua buah kantong plastik berisi snack dan soft drink di badan jalan. Dia bilang bahwa malam ini Chan Yeol dan Jong In akan menginap di rumahnya, sehingga ia harus membeli beberapa snack agar kedua monster itu tidak mengamuk kelaparan.

Dan itu berarti apa yang kami lakukan sangat tidak cocok disebut kencan, karena pada kenyataannya aku hanya mengantar pria itu untuk membeli sesuatu yang ia butuhkan. Bukan menonton film di bioskop ataupun duduk berdua di Taman sambil menyandarkan kepala kami satu sama lain.

“Baru beberapa meter,” dia terdiam sebentar dan membantuku untuk berdiri lalu kembali berkomentar, “badanmu benar-benar memprihatinkan. Kau harus lebih sering latihan lari.”

Tidak.

Setelah hari ini aku akan menolak semua ajakkan kencanmu Lu Han.

Kau benar-benar penyiksa ulung.

“Apa? Kenapa menatapku seperti itu, babe?”

Kalau saja Lu Han bukan kekasihku, maka aku sudah menghabisinya saat ini juga. Tentu saja jika aku juga tidak dalam keadaan ngos-ngos an.

“Aku mau pulang saja,” ujarku pendek.

Refleks bibirku mengerucut dan memunggungi Lu Han. Bukannya khawatir atau apa, pria itu malah tertawa dan mengacak-acak rambutku. Apakah dia tidak tahu kalau aku membutuhkan waktu lama hanya untuk menata rambut ketika akan bertemu dengannya?!

“Baiklah-baiklah. Ngomong-ngomong kau semakin terlihat manis jika seperti itu, Kwon Na Ra.”

Cukup Lu Han. Aku tidak akan termakan omongan manismu lagi. Ini sudah membuatku frustasi.

“Ah, aku lupa bahwa kau tidak terpengaruh pada kata-kata manisku lagi,” Lu Han menambahi.

Ia mengambil kantong plastiknya kembali dan menggerakkan kepalanya ke arah Barat. Benar, Lu Han memarkir mobilnya di sana.

Kami berjalan bersama kali ini. Sesekali Lu Han menoleh ke arahku dan tersenyum kecil. Aku tahu betul bahwa pria ini pasti merasa sangat puas karena telah berhasil mengerjaiku. Benar-benar menyebalkan.

“Lu Han?

Suara seorang perempuan menghentikan langkah kami. Lu Han langsung menoleh ke kanan dan mendapati seorang wanita bertubuh tinggi-langsing yang dibalut dengan dress bewarna tosca.

“Ah, noona?”

Noona?

“Oh God, ku kira kau sudah kembali ke Tiongkok dan melupakanku. Ternyata kau masih di sini,” ujar wanita itu.

Aku menatap Lu Han, pipinya memerah.

Ya! Sebenarnya siapa wanita ini? Kenapa dia membuat pipi kekasihku merona, huh!

“Mana mungkin aku melupakan noona. Ngomong-ngomong noona terlihat makin cantik sekarang.”

Aku akan membunuhmu Lu Han!

“Ah, kau bisa saja hahaha. Kau juga masih terlihat manis seperti dulu dan ah! Lihatlah lesung pipimu yang manis ini.”

Ya! Ya! Siapa wanita itu berani mencubit pipi kekasihku? Dan argh! Lu Han kenapa kau diam saja?! Bodoh! Aku akan membunuhmu setelah ini!

By The Way, kau tidak keberatan-kan jika aku meminta nomormu?”

Lu Han, jika kau berani memberikan nomormu pada wanita ini maka aku akan—

“Tentu saja, mana ponsel noona? Aku akan menulis nomorku di sana.”

LU HAN!

I’M PROMISE TO KILL YOU STUPID DEER!!

Ah, thanks honey. Aku akan menghubungimu setelah ini.”

Menjijikkan.

Apakah dia sangat tidak laku sehingga memanggil kekasih orang lain dengan kata ‘honey’ ? Ah ya, lagipula siapa yang mau berhubungan dengan wanita penggoda seperti itu?

You’re welcome noona, aku akan menunggu panggilanmu.”

Sekali lagi Lu Han menampilkan senyum manisnya pada wanita itu, dan baiklah, apa dia lupa jika ada aku di sini?

“Kalau begitu aku pergi dulu, aku ada janji untuk bertemu dengan seseorang.”

Bagus, lebih baik kau cepat pergi dari pandangan kekasihku dan jangan pernah kembali lagi. Dan setelah ini aku akan mengambil ponsel Lu Han lalu memotong simcard-nya sehingga kau tidak akan bisa—

Ya!

Damn it!

Tolong aku ingin pingsan sekarang. Bagaimana mungkin wanita itu bisa mencium pipi Lu Han tepat di depanku? Dan yang lebih parah lagi adalah Lu Han tidak mengelak sama sekali.

Tolong, hatiku ingin pecah. Oh tidak, perasaanku meledak begitu saja.

Are you okay, babe?

Okay?

Apa dia sudah gila? Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja setelah melihat semua kejadian  menjijikkan barusan?

“AKU BAIK-BAIK SAJA. SAMPAI AKU INGIN MEMENGGAL KEPALAMU SEKARANG JUGA!”

 

 

From : Lu Han

“Good morning babe,don’t forget to breakfast my cutie-pie”

 

Tanpa berpikir untuk membalas pesannya, langsung ku lempar ponsel bewarna pink ini ke ranjang dan kembali fokus untuk mengeringkan rambut dengan hair dryer.

Semenjak kejadian kemarin, aku sama sekali tidak memiliki mood untuk membalas pesan ataupun menerima panggilan dari Lu Han, walaupun pria itu telah menghubungiku berkali-kali. Lagipula aku yakin dalam keadaan seperti inipun ia akan tetap meluangkan waktu untuk membalas pesan dari wanita kemarin.

Pip..

Ponselku bergetar, pasti dari Lu Han lagi.

 

From : Lu Han

“Mau ku antar ke kampus?”

 

Lihat, dia berusaha merayuku. Sebenarnya sifat manisnya kepada banyak orang membuatku muak. Aku seperti tidak bisa melihat sesuatu yang membuatku spesial di matanya. Ia memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, berbicara,memandang, menawari sesuatu, menawarkan pertolongan, dan banyak lagi.

Pip..

Lagi-lagi ponselku bergetar, rupanya dia belum menyerah. Tapi baiklah, aku tidak akan membalas pesannya sampai dia mau meminta maaf dan menyadari kesalahannya.

Apa dia tidak sadar kelakuannya kemarin membuatku sangat kesal? Dasar tidak peka.

 

From : Lu Han

“Coba lihat dibalik jendelamu, akan ada seorang pangeran tampan disana♥ ”

 

Apa?!

Oh shit! Bagaimana mungkin dia sudah berada di sini? Dan ah, apa-apaan dia melambaikan tangan ke arahku? Aku tidak akan turun Lu Han.

“Kwon Na Ra, ada Lu Han di bawah, cepat bangun dan bersiap!”

Itu teriakkan ibuku. Dia selalu berada di kubu Lu Han dan membela pria itu, bahkan ibuku memperlakukan Lu Han seperti anaknya sendiri. Entahlah, mungkin ibuku akan sangat membenciku jika aku sampai putus dengan Lu Han nantinya.

“Katakan padanya, aku tidak masuk hari ini, aku tidak enak badan!”

Jawabku lalu melompat ke ranjang dan menutup seluruh tubuh dengan selimut dan pura-pura tidur. Setidaknya ibuku tidak akan curiga kalau aku berbohong.

Pip..

 

From : Lu Han

“Baiklah, get well soon cutie-pie. Aku akan menjengukmu setelah pulang dari kampus nanti, istirahat yang cukup, okay? Dan, soal kemarin..maafkan aku, bukannya aku tidak menyadarinya dari awal, hanya saja kau masih terlihat lelah, jadi aku tidak menyuruhmu untuk berkenalan dengan Eun Jin noona..Lalu soal ciuman itu, aku benar-benar tidak pernah mengharapkannya.”

 

 

“Keluar? Bukankah Na Ra sedang sakit?”

“Anak itu, bibi yakin dia pasti hanya pura-pura sakit. Tadi bahkan ketika pamit untuk keluar dia berlari dan berteriak. Benar-benar, anak ini.”

“Apa dia sudah pergi sejak tadi?”

“Baru, mungkin sekitar 10 menit yang lalu.”

“Kalau boleh tahu, apa Na Ra memberi tahu akan pergi kemana?”

Aku hanya terkikik mengintip pembicaraan antara ibuku dengan Lu Han dari balik pagar rumah yang terletak di perempatan. Aku bisa melihat ekspresi menyesal yang begitu nampak pada wajah Lu Han, ia membawa bucket bunga yang mungkin akan diberikan padaku sambil menjenguk keadaanku, namun sayang sekali rencana itu gagal karena otak cerdikku berpikir dua langkah lebih cepat darinya.

Mengesampingkan mereka, akhirnya kakiku melangkah begitu saja membawa tubuh yang lumayan berat ini ke arah Supermarket, entah apa yang ingin ku beli, hanya saja sepertinya pergi ke Supermarket akan menguntungkanku. Kalau saja Lu Han tiba-tiba lewat, maka aku bisa bersembunyi di balik rak barang.

Baru saja kedua kakiku menginjak tanah Supermarket, seorang wanita sepertinya tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Karena belum yakin, kepalaku melihat ke kanan, kiri, dan belakang, tidak ada siapa-siapa, berarti dia memang benar-benar melambai padaku?

“Kwon Na Ra, kemarilah!”

Wanita itu memanggil namaku, siapa dia? Kita pernah berkenalan sebelumnya?

Ku putuskan untuk menghampirinya. Dilihat-lihat dari wajah dan gayanya, sepertinya aku pernah bertemu dengan orang ini. Apakah mungkin..

Ah.

Benar.

“Kau Kwon Na Ra kan?”

Wanita itu mengacungkan jari telunjuknya ke arahku sambil tersenyum. Matanya membentuk sebuah eyesmile yang menawan, aku baru menyadarinya sekarang.

“I-ya…”

Ia tersenyum lagi padaku, namun kali ini tangannya bergerak untuk menggenggam tanganku dan menepuknya pelan.

“Lu Han sudah banyak bercerita tentangmu, dan sekarang aku benar-benar bisa melihat wajahmu dengan jelas, dan aku yakin bahwa dia tidak salah telah memilihmu.”

Ha?

Apa maksudnya?

Wanita itu menggenggam tanganku semakin erat. Bukannya apa, tapi ini terasa aneh bagiku. Lagipula, apakah dia tidak merasa bahwa sudah membuatku kesal kemarin?

“Lu Han—Tidak, tapi kami dulu pernah bertunangan karena perjodohan, semua berjalan lancar dan aku mulai jatuh cinta dengannya, namun tiba-tiba Lu Han ingin membatalkan pertunangan dan menolak perjodohan ini. Aku sempat kecewa dengannya ketika ia bilang bahwa ada gadis lain yang telah membuatnya jatuh cinta, lalu Lu Han pergi begitu saja dan aku berusaha melupakannya dengan pergi ke beberapa tempat juga berhenti mencari berita tentangnya. Awalnya ku kira hubungan Lu Han dengan keluarganya memburuk, namun aku salah, nyatanya mereka bisa menerima keputusan Lu Han dengan lapang dada. Dan kemarin, pertama kalinya kami kembali bertemu setelah kejadian 2 tahun lalu itu.”

Tunangan?

Kenapa Lu Han tidak pernah menceritakan hal ini kepadaku?

“Dia tidak pernah menceritakannya?”

Wanita itu kembali bertanya, raut wajah kecewa nampak sangat nyata dari ekspresinya. Aku hanya menggeleng kecil sebagai tanda bahwa Lu Han tidak bicara apapun soal itu, dan aku tahu pasti sekarang wanita ini merasakan kecewa yang amat mendalam karena Lu Han seolah tidak menganggapnya.

“Sekarang aku tahu..”

“Maaf?”

“Lu Han berusaha menjaga perasaanmu,” ia menarikku dalam pelukkannya dan berbisik kecil di telingaku dengan suara yang kedengarannya terisak, dia menangis, “kau adalah gadis yang beruntung, karena aku juga pernah berharap bahwa Lu Han akan menjaga perasaanku dengan memilih kata manis dari mulutnya. Ternyata dia tidak melakukannya, dia selalu berbicara sesuai dengan apa yang ingin ia ucapkan, tanpa mencoba untuk mengerti aku.”

Tersentuh, senang, sedih, entahlah—Semua bercampur begitu saja di otak dan hatiku. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?

Lu Han memang berbicara, memandang, atau menawari sesuatu kepada semua orang dengan cara yang sama, tapi dia tidak pernah benar-benar menjaga perasaan orang tersebut. Tapi denganku? Lu Han selalu berusaha membuatku nyaman walau kadang agak menyebalkan, dia selalu mau mendengar semua celotehanku dan tidak pernah menceritakan hal yang membuat hatiku sakit.

 

 

“Aku pulang..”

Keadaan rumah nampak sepi, ternyata sudah pukul 11 malam, dan bagaimana bisa seorang gadis yang mengatakan bahwa dirinya sedang sakit malah berkeliaran di luar dan pulang selarut ini?

Sepertinya ayah, ibu dan adikku sudah tidur, sedangkan Lu Han sudah pulang.

Seharusnya aku percaya pada apa yang telah ditulis oleh Lu Han di pesannya tadi. Seharusnya aku tidak pura-pura sakit dan membiarkan dia untuk pergi ke kampus sendirian. Seharusnya aku tidak keluar rumah untuk menghindarinnya ketika ia datang untuk menjengukku dan sekali lagi memberinya rasa lelah serta kecewa.

Seharusnya.

Kenapa kata itu baru keluar sekarang?

Kenapa tidak dari tadi?

Apakah otakku terlalu egois untuk memikirkannya beberapa jam yang lalu? Apakah pikiranku terlalu sempit untuk menyuruh perasaanku agar menerima alasan Lu Han yang hanya berkata bahwa apa yang terjadi bukanlah kemauannya?

Dan kenapa Lu Han masih tetap memasang senyum paling manis yang ia punya ketika menatapku walaupun ia tahu bahwa sikapku sangat-sangat tidak dewasa? Oh God, kenapa pria itu terlalu baik? Kenapa dia selalu menjaga perasaanku walaupun aku terkadang sering menyakitinya?

“Sudah pulang?”

Jantungku berdebar kencang. Suara siapa itu? Apakah hantu? Apakah pembunuh? Apakah perampok? Apakah—

“Kwon Na Ra..”

Ya Tuhan, aku bisa merasakan tangan orang itu menyentuh pundakku. Oh tidak! Dia berusaha memutar tubuhku, lalu aku harus apa sekarang? Aku tidak mungkin berlari karena kakiku sudah terlanjur gemetar sekarang, yang ada malah aku terjatuh pingsan.

“Kwon Na Ra kenapa bergetar seperti itu? Apa penyakitmu semakin parah?”

Tunggu dulu, aku mengenal nada bicara orang di belakangku ini, walaupun agak berbeda..tapi… LU HAN?!

Dengan cepat, ku putar tubuhku menghadap orang itu dan ternyata memang benar. Lu Han-lah yang tadi sedang mengkhawatirkanku. Ia memakai sweater dan hidungnya memerah, ia flu? Pantas saja suaranya terdengar berbeda. Tapi tunggu dulu, kenapa Lu Han masih di sini?

“Apa penyakitmu—“

“Maafkan aku..”

Tanpa menunggu Lu Han menyelesaikan perkataannya, dan tanpa permisi, aku langsung memeluk Lu Han dengan begitu erat. Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi. Pria ini bahkan rela menungguku pulang sampai ia sendiri yang terkenal flu.

“Hei, kau bahkan tidak memiliki salah apapun babe.”

Lu Han membelai pelan rambut dan kepalaku, lalu tidak lama kemudian ia melonggarkan kedua lengannya dan mencium keningku dengan begitu lembut dan penuh perasaan, “Aku yang seharusnya minta maaf karena sebenarnya wanita kemarin—“

Ssstt..Aku sudah tahu segalanya,” Aku Kwon Na Ra, “Terima kasih karena sudah berusaha menjaga perasaanku, Lu Han.”

Lu Han tersenyum, tapi kali ini deretan gigi putihnya terlihat dengan begitu jelas, bahkan lengkungan di kedua pipinya benar-benar terbentuk dengan sempurna, “Terima kasih karena telah mencintaiku, Kwon Na Ra.”

AHH! Kenapa disaat flu seperti ini dia masih bisa menggombal? Benar-benar idiot.

Ya! Berhentilah menggodaku, sekarang duduklah, aku akan membuatkan teh dan memberimu obat, dan kau boleh menginap di rumahku, tapi kau tidak boleh tidur di kamarku, kau tidur di ruang tamu, karena aku tidak akan membiarkan rusa kecil yang sedang terkena flu harus pulang sendirian.”

 

 

-FIN-

12 responses to “Jealous by Heena Park

  1. uuuuuuh maniisnyaaajadi kangen luhaaan *lho . Apalah na ra dgn arti kata seharusnyaa eheheh.. Beruntung nara di cintai luhan begitu juga nara yg mencintai luhaan.. Emang Lucu yaa kalo lg jealous tuh hohoho

  2. Ihhhhh cute bgt sich…ternyata luhan emang cinta bgt ma narra..and narra g peka adja dia y tp akhir y mereka bisa baikan hehehehe…

  3. Kyaaa Luhan so sweet! Nara beruntung banget yaaa.. Tapi ya menurutku Luhan itu udah ngehargai si mantan itu, kalau enggak ngapain dia ngeladenin Eunjin? Pake ngasih nmer juga, uuuh Luhan anak baik…
    Aku suka FFnya, Keep writing ya..

  4. Omfg what a sweet:”””” melting huwaaaaaaa luhan manis bgt:”””””mimisan gueeee:””””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s