The Dim Hollow Chapter 9 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

—Chapter 9

Confession

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword  Chapter 1—Got Noticed  Chapter 2—Nightmare Chapter 3—Detention 

Chapter 4—The Kiss  Chapter 5—Sinner  Side Story : Secret 

Chapter 6—Take Care of Her  Chapter 7–Adore Chapter 8–Him

.

Alert!

Alur di chapter ini maju mundur, so read it carefully juseyooo, bc I didn’t give any sign for the flashback part^^

            “Jadi kau juga kenal Baekhyun hyung?”

Sehun melepas rangkulannya pada bahu Dahye, kemudian menatap gadis itu dengan kedua alis berjingkat, kentara sekali terkejut. Yang ditanyai juga memasang raut tak kalah terkejutnya.

“Justru aku yang ingin tanya begitu tadi—kau juga kenal Baekhyun oppa?” Dahye balas bertanya, matanya bergantian mengerling Sehun dan Baekhyun.

Sementara Baekhyun masih berdiri kaku di tempatnya. Ia jelas sama terkejutnya dengan Sehun dan Dahye. Jika Sehun dan Dahye terkejut karena keduanya sama-sama mengenal Baekhyun, maka Baekhyun terkejut bagaiamana bisa Sehun dan Dahye saling kenal. Kepalanya dengan cepat memproses apa yang tengah terjadi, dan firasatnya berkata, masalah buruk bisa saja meletus. Dahye dan Sehun kelihatan begitu akrab, sekali lihat saja Baekhyun yakin hubungan yang tengah keduanya jalin bukan sekedar hubungan biasa.

Seandainya saja keduanya tahu siapa jati diri masing-masing… bahwa Dahye adalah adik dari gadis yang Sehun pernah sakiti di masa lalu—dan Sehun adalah alasan kakak tersayang Dahye melakukan bunuh diri…

Baekhyun tak bisa dan tak ingin membayangkannya.

Untuk saat ini Sehun dan Dahye sama-sama dianggapnya teman baik. Ia tentu tak ingin teman baiknya terluka.

Maka menutup mulut dan membiarkan kedua manusia di hadapannya meluruskan sendiri perkara mereka adalah pilihan yang kemudian Baekhyun ambil. Ia tak ingin berkata apa-apa dulu, sejujurnya tak mau ikut campur dalam lingkaran Sehun dan Dahye.

“Wah, dunia ini benar-benar sempir, ya. Dengar, aku ini bukan sekedar mengenal Baekhyun hyung,” Sehun kini beralih mendekati Baekhyun, dan merangkul bahu pemuda itu dengan hangat. “Aku, kenal Baekhyun hyung dengan saangat baik—kami sahabat sehidup semati.”

Setelahnya Sehun mengirimi Baekhyun senyuman lebar. Bangga mengakui pemuda Byun itu sebagai sahabatnya.

Sementara Dahye seketika tercenung di tempatnya. Senyuman yang menghias bibirnya perlahan luput, digantikan tatapan menerawang yang entah bagaimana kelihatan sendu.

Sehun sahabat baik Baekhyun?

Itu artinya mereka sering menghabiskan waktu bersama dan kenal siapa-siapa saja orang terdekat masing-masing, ‘kan?

“Kalau begitu… kau juga kenal Dayoung eonni?” Ia bergumam pelan di luar kesadarannya. Sesuatu yang berhubungan dengan Baekhyun selalu saja mengingatkan Dahye pada mendiang kakaknya, dan bila itu terjadi, ia tak pernah bisa mengusir sedih yang kemudian menyapanya.

Gumaman Dahye mungkin memang kecil, namun cukup keras untuk sampai ke telinga Sehun dan Baekhyun yang berdiri kurang dari semeter darinya. Sehun bisa merasakan sekujur tubuhnya menegang mendengar nama tadi meluncur dari mulut Dahye. Seluruh saraf tubuhnya bagai mati bekerja, membuatnya membeku di tempat hingga tak bisa melakukan apa pun.

Kalau begitu… kau juga kenal Dayoung eonni?

…Dayoung eonni?

Sehun mengerjap perlahan. Ia menatap Baekhyun yang berdiri di sampingnya, berharap mendapat sedikit jawaban atas kebingungan dan rasa tak percaya yang kini melandanya. Namun kini Baekhyun menatapnya dengan tatapan tak terbaca, Sehun yang pikirannya mendadak kacau sama sekali tak bisa mengartikan tatapan itu.

Dayoung yang Dahye maksud, mungkinkah Dayoung yang ia kenal? Tapi bagaimana mungkin…?

Son Dayoung. Son Dahye. Manik mata yang sama persis.

Sehun bisa merasakan jantungnya jatuh sampai ke dasar perut begitu ia menarik konklusi dari pemikirannya. Ujung-ujung jemarinya mulai mengeluarkan keringat dingin, dan hatinya terasa diremas sampai nyeri. Sekujur tubuhnya melemas, tak mau mempercayai apa yang baru saja disadarinya.

Tidak mungkin. Ia pasti hanya salah paham.

Sebelum Sehun sempat berpikir lebih jauh, Dahye telah lebih dulu membuka suara.

“Ah, maaf. Mungkin kau tidak mengenalnya.” Sekilas Dahye mengerling Baekhyun yang sedari tadi bungkam. “Sebenarnya dulu Baekhyun oppa merupakan tunangan kakakku, tapi mungkin dia tidak banyak menceritakan kakakku padamu.”

Ada nada sinis tak kentara dalam suara Dahye. Dan Baekhyun tahu dengan benar gadis itu tengah mengungkit sangkaan tentang dirinya yang mengkhianati Dayoung.

Mendengar perkataan Dahye telah cukup membuat dugaan Sehun sebelumnya semakin kuat, meski ia masih belum ingin memercayainya. Pemuda itu tak tahu harus bagaimana lagi. Ia hanya mampu berdiri di tempatnya dengan pikiran kosong dan perasaan kacau.

Lalu ketika ketiganya tengah diselimuti hening tak biasa, dering ponsel menjerit baca memecah udara. Baekhyun bergegas mengeluarkan ponselnya dari saku celana lantas membaca sederet nama yang tertera di layar ponselnya.

Ia berdehem kemudian menatap Sehun dan Dahye bergantian.

“Begini, atasanku memanggilku. Aku harus segera pergi menemuinya, mungkin kita bisa bicara di lain waktu. Oke?” Ia tersenyum kecil, tak begitu tulus sebab masih dilanda rasa kaget. “Sampai jumpa lagi.”

Kemudian Baekhyun berlalu sembari berbicara dengan ponsel di telinganya, bersyukur ia punya alasan untuk bergegas meninggalkan keadaan ini. Bahkan setelah mobil Baekhyun meninggalkan pelataran restoran, Sehun dan Dahye masih bergeming di tempat mereka sebelumnya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Dahye yang kembali teringatkan eonninya, dan Sehun yang belum juga sembuh dari rasa terkejutnya.

“Ah, kenapa kita diam di sini terus? Kau bilang mau membawaku makan.” Dahye tahu-tahu berujar riang, meski raut wajahnya masih agak kaku.

Sehun melepas tawa kering, kemudian mengangguk. “Kau benar. Ayo masuk.”

Mereka memilih tempat duduk di samping jendela besar yang menyuguhkan pemandangan jalan raya di luar. Mobil-mobil berseliweran dengan cepat sementara orang-orang berjalan santai menikmati senja yang sebentar lagi tenggelam. Sehun menopang dagunya, berusaha menjernihkan pikirannya dengan mengamati jalanan sana.

Di hadapannya Dahye tengah mengunyah makanannya dengan tenang. Tak ada yang buka suara. Keduanya memilih diam meski ada begitu banyak hal yang menyesaki pikiran masing-masing. Dahye memutuskan untuk tidak mengungkit perkara Dayoung di hadapan Sehun. Mungkin Sehun tidak mengenal Dayoung. Pikirnya, bukankah Baekhyun telah mengkhianati Dayoung? Mungkin saja, ‘kan dulu Baekhyun memilih menyembunyikan fakta bahwa ia telah bertunangan pada Sehun. Pasti rasanya akan menyakitkan jika ia mendengar Sehun berkata bahwa dulu perempuan yang sering Baekhyun ajak kencan bukanlah Dayoung eonninya.

Itu memang hanya asumsi Dahye. Tapi baiknya, masalah ini tidak Dahye bahas lagi dengan Sehun.

Lain dengan Dahye yang memilih melupakan kejadian ini, Sehun justru sama sekali tak bisa menghentikan rasa cemas yang kini mengaliri sekujur tubuhnya.

Ia membuang tatapannya dari jendela, kemudian beralih pada Dahye yang tengah sibuk memisahkan lembaran tomat dari burgernya, kelihatan sama sekali tak sadar dengan keresahan Sehun. Hati Sehun bergetar hanya dengan memandang gadis ini. Semula ia pikir ia telah jatuh hati pada Son Dahye. Tapi setelah apa yang diketahuinya hari ini, mungkinkah… mungkinkah ia hanya teringatkan akan Dayoung semata?

Sejak awal Sehun sadar benar ada begitu banyak hal yang membuat Dahye kelihatan sama dengan Dayoung. Namun Sehun tak pernah mengira, bahwa Dahye dan Dayoung memiliki hubungan.

Jika diingat-ingat lagi, Dayoung memang tak pernah menceritakan apa pun tentang keluarganya. Hubungan mereka begitu rumit, harus disembunyikan rapat-rapat agar tak ada seorang pun yang tahu. Maka intensitas pertemuan mereka pun benar-benar sedikit. Jadi begitu mereka mendapat kesempatan untuk bersama, seringnya yang mereka lakukan hanya membicarakan betapa besarnya kasih mereka sembari membagi pelukan-pelukan hangat. Mereka bagai tak punya waktu untuk membicarakan hal lain semacam keluarga atau teman.

Tak heran Sehun sama sekali tak tahu bagaimana latar belakang Dayoung.

Namun seandainya saja Sehun tahu lebih awal siapa Dahye dan bagaimana hubungannya dengan Dayoung…

Mungkin ia akan lebih berhati-hati. Mungkin ia akan menjaga hatinya agar tak jatuh pada Dahye. Kini ia merasa lebih dari sekedar kejam.

“Kenapa tidak makan?” Dahye bertanya sembari meneguk minumannya. Ia menemukan makanan Sehun masih utuh tak tersentuh. “Kau tidak lapar?”

Sehun tersentak kecil. Ia memasang senyum tipis lantas menggeleng. “Tidak. Kau sudah selesai? Aku akan mengantarmu pulang.”

Perjalanan mereka di mobil masih saja diselimuti hening. Sehun masih belum mau membuka mulutnya dan jujur saja ini membuat Dahye bingung. Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja, lalu ada apa dengan Sehun?

Dahye tak punya keberanian untuk bertanya. Ia memilih ikut menutup mulutnya, dan membiarkan sisa perjalanan dilalui dalam hening yang benar-benar mencekik.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang.” Dahye berujar pelan begitu mobil Sehun berhenti di depan rumahnya. Tanpa menunggu jawaban Sehun, ia melangkah keluar mobil, dan berharap secepat mungkin dapat sampai ke kamarnya. Rasanya begitu melelahkan melihat perubahan mendadak Sehun. Pemuda itu telah berhasil membuatnya senang bukan kepayang lalu begitu saja membuatnya kebingungan.

“Dahye-ya!”

Sebelum Dahye sempat meraih pagar rumahnya, sebuah tangan menangkap lengannya lalu memaksanya berbalik. Hal selanjutnya yang Dahye ketahui ialah sepasang lengan Sehun melingkari pinggangnya dengan erat. Wajahnya terbenam di dada pemuda itu, dan ia bisa mendengar jantung Sehun berdebar kencang, persis seperti yang terjadi pada miliknya sendiri.

Dahye terkesiap begitu menyadari ia tengah direngkuh begitu erat oleh Sehun. Berusaha melepaskan diri, namun Sehun justru semakin mengeratkan pelukannya.

“Sebentar. Sebentar saja seperti ini.” Pemuda itu berbisik pelan. Ia mengubur wajahnya di puncak kepala Dahye, kemudian melarikan sebelah tangannya untuk mengelus surai kehitaman itu.

“Sehun…” Dahye bergumam pelan, wajahnya telah semerah kepiting rebus dan ia begitu takut Sehun akan mendengar debaran jantungnya.

“Aku harus bagaimana?” bisikan pelan Sehun sampai ke telinganya, membuat Dahye mendongak dan segera bersitatap dengan pemuda Oh itu.

“Apa?” bingung, Dahye balas bertanya. Pipinya semakin merona merah begitu menyadari betapa tipisnya jarak yang memisahkan wajah mereka.

Sehun menutup kedua matanya perlahan. Ia kemudian kembali membawa kepala Dahye agar bersandar di dadanya, sengaja ingin menghindari tatapan mata gadis itu yang entah bagaimana membuat hatinya sakit.

Sebab ia bingung. Son Dahye-kah, atau Son Dayoung-kah yang ia lihat dalam manik kecokelatan itu.

“Aku tidak mengerti perasaanku sendiri.” Sehun kembali berbisik, ada rasa sakit yang terselip dalam suaranya. “Kupikir aku menyukaimu, tapi aku masih saja tak bisa mengerti. Aku harus bagaimana?”

            “Hei, sibuk?”

Jongin mendongak dari layar tab-nya demi menemukan Dahye yang menjulurkan kepala melalui celah pintu kamarnya. Pemuda itu mengerutkan kening, sekarang sudah pukul sepuluh lewat, kenapa Dahye belum juga tidur?

“Tidak.” Jongin menyahut lantas membiarkan Dahye berjalan masuk ke dalam kamarnya. Sepupunya itu kemudian memanjat ke atas kasur dan ikut duduk bersila di sampingnya. “Kenapa belum tidur?”

Meletakan tab-nya di atas nakas, Jongin lantas memusatkan seluruh atensinya pada Dahye. Ia bersyukur kini Dahye mau kembali bicara dengannya. Meski mungkin hubungan mereka tidak akan sebaik seperti sedia kala, namun setidaknya Dahye tidak memberinya bahu dingin lagi.

“Ada yang mengganggu pikiranku, jadi tidak bisa tidur.” Dahye bergumam pelan, tangannya tanpa sadar bergerak menggaruk tengkuknya sendiri.

Sebelah alis Jongin berjingkat mendengar ini. Ia membiarkan Dahye melanjutkan namun gadis itu memilih tutup mulut. Sesaat Jongin memutar otaknya, sejauh ini yang Dahye keluhkan padanya hanyalah masalah percintaan, sebab katanya Jongin sudah ahli dalam hal ini.

Ah, mungkinkah soal si Oh Sehun itu lagi?

“Sehun?” Cetus Jongin kemudian. “Ini tentang Sehun, ‘kan?”

Jongin pikir Dahye akan mengelak. Namun sepupunya itu hanya mengangguk kecil sembari menyembunyikan pipinya yang mulai memerah. Senyuman pahit tercipta di bibir Jongin. Ia tidak tahu haruskah senang atau justru sedih melihat Dahye begitu jatuh pada sosok Oh Sehun.

“Kenapa lagi sekarang, hm?”

Namun sebagai sepupu yang baik, Jongin tak ingin mengecewakan Dahye untuk kedua kalinya. Maka ia mencoba menguatkan hatinya, dan membuka telinga lebar-lebar demi mendengar cerita Dahye.

“Kurasa… kurasa kau benar. Aku memang menyukai dia.” Dahye menyahut hati-hati. “Tapi ada begitu banyak hal yang membuatku bingung.” Helaan napas lolos dari mulutnya. “Baru saja sore tadi dia berkata bahwa dia menyukaiku—tapi dia kelihatan sedih dan terluka. Aku tak mengerti, kenapa dia begitu tersiksa? Apakah menyukaiku membuatnya sakit? Ataukah ada hal lain yang juga mengganggunya?”

Jongin mengerjap pelan. Jadi Oh Sehun telah mengakui perasaannya…

“Aku harus bagaimana, Jongin?” Dahye bertanya pelan. “Menurutmu apa yang membuat Sehun seperti itu?”

“Entahlah.” Jongin bergumam pelan. Ia merasa jahat tak mau membantu Dahye menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya. Tapi kabar Sehun yang telah mengambil langkah membuat Jongin merasa sedikit kacau.

Dahye menghembuskan napas, merasa tak terbantu dengan jawaban Jongin. Sejenak keduanya memilih diam, membiarkan heningnya malam menyelimuti seisi ruangan. Sampai kemudian Dahye mendongak, dan menatap Jongin lurus-lurus.

“Jongin, menurutmu tak masalahkah jika aku berkata bahwa aku juga menyukainya?”

Jongin balas menatap Dahye sejenak. Pemuda itu kemudian membuang wajah, berharap Dahye tak menemukan raut sakit hati yang mungkin kini tengah bermain-main di wajahnya. Jika saja Dahye sampai mengakui perasaannya pada Sehun juga, bukankah ada kemungkinan keduanya akan bersatu?

Merasa semakin jahat, Jongin tak mau hal itu sampai terjadi. Ia tak mau hatinya lebih sakit lagi karena melihat Dahye menjadi milik lelaki lain.

“Jongin?”

“Kurasa tidak masalah.” Jongin lantas menyahut, dengan seulas senyum yang ia usahakan terlihat tulus. “Jika kau menyukai seseorang, katakan saja selama kau punya kesempatan. Karena kau tahu, tak semua orang bisa memiliki kesempatan mengutarakan perasaannya.”

            Tak semua orang bisa memiliki kesempatan mengutarakan perasaannya.

Seperti aku, yang tak pernah punya kesempatan untuk menyampaikan rasa suka pada sepupuku sendiri, pikir Jongin muram.

            Baekhyun masih ingat genangan darah yang dulu tak sengaja diinjaknya begitu ia memasuki kamar pemuda itu. Lalu rasa terkejut bercampur takut dan ngeri yang kemudian melandanya begitu menemukan sang empunya kamar tergeletak tak berdaya di sudut ruangan dengan pergelangan darah disayat-sayat dan aliran darah yang bermula dari sana. Tangannya yang lain menggenggam longgar sebuah pisau yang ternodai bercak darah, sementara wajah pemuda itu pucat pasi, kulitnya agak membiru namun napas putus-putusnya meyakinkan Baekhyun bahwa pemuda itu masih bernyawa, meski kesempatan hidupnya tinggal di ujung tanduk.

Pemuda yang tersimpan di ingatannya itu kini tengah duduk di hadapannya. Ia tak lagi pucat pasi apalagi berdarah-darah, namun sempurna jelas bukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaannya saat ini. Oh Sehun kelihatan benar-benar kacau. Rautnya tak keruan dan pakaiannya kusut.

“Son Dahye… dia sungguhan adik Dayoung?” Sehun bertanya pelan.

Sejenak Baekhyun enggan menjawab. Ia memilih menyeruput kopinya terlebih dulu, sebelum mengembuskan napas perlahan dan menyandarkan punggungnya yang terasa kaku ke sandaran sofa.

“Berhenti melakukan hal bodoh dengan melukai dirimu sendiri, Oh Sehun! Kau pikir dengan bertingkah begini kau bisa menebus semua kesalahanmu? Kau pikir dengan melakukan ini semua bisa mengembalikan Dayoung ke sisi kita?”

Baekhyun juga ingat, dulu ketika ia telah berhasil membawa Sehun yang sekarat ke rumah sakit dan ketika kesadaran pemuda itu telah pulih, yang pertama kali dilakukannya adalah meneriakinya sampai tenggorokannya sakit. Namun Sehun tetap bergeming. Pemuda itu duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong. Wajahnya masih pucat, tangannya yang terluka dililit perban. Sesungguhnya Baekhyun tak tega melihat ini, namun ia tak bisa membiarkan Sehun terus melakukan kebodohan.

Setelah kematian Dayoung, Sehun jatuh terpuruk. Pemuda itu berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri namun tak pernah berhasil. Puncaknya adalah hari itu. Kalau saja Baekhyun tak berkunjung dan menemukannya di ambang hidup dan mati, mungkin saat ini Oh Sehun hanya tinggal nama.

“Aku merasa begitu bodoh, Hyung. Kupikir tak ada gunanya hidup setelah apa yang kulakukan.” Sehun mulai berujar dalam suara kecil. Ia masih belum mau menatap Baekhyun. “Aku benar-benar bajingan kotor. Aku mengkhianatimu, aku merusak persahabatan kita, aku bahkan… aku bahkan membuat Dayoung pergi.” Suaranya tercekat di tenggorokan ketika mengatakan ini. Baekhyun bisa melihat setitik air mata mulai menggenangi sudut mata pemuda itu. “Karena itu, kupikir lebih baik jika aku pergi saja. Untuk apa hidup jika seperti ini.”

“Benar. Kau benar. Lebih baik mati saja dan pergi ke neraka bersama seluruh dosa yang telah kau buat.” Baekhyun menukas tajam dengan wajah keras. Sukses membuat Sehun menoleh padanya, rautnya terkejut bukan main.

“Hyung…” Sehun bergumam pelan, tak percaya Baekhyun akan berkata seperti itu.

“Apa? Bukankah memang itu yang kau inginkan? Setelah melakukan begitu banyak kesalahan, semaumu mengakhiri hidup dan meninggalkan orang-orang yang masih mempedulikanmu, masih menyayangimu. Bukankah begitu, huh?” Suara Baekhyun meninggi, kedua matanya berkilat mengerikan. Hening tak biasa mengisi seluruh ruangan setelahnya. Lalu ketika Baekhyun menemukan Sehun kembali bungkam dengan kepala menunduk, pemuda itu menghela napas pelan.

“Dengar, Sehun-ah. Hidup bukan tentang membuat kesalahan lalu melarikan diri setelahnya.” Baekhyun berujar lebih lembut kali ini. “Hidup adalah tentang bagaimana kau memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kau perbuat dan berusaha untuk melakukan yang lebih baik di kemudian hari. Apa yang kau lakukan saat ini, putus asa dan mencoba bunuh diri sama saja dengan berusaha melarikan diri dari kesalahan yang telah kau tinggalkan. Kau pikir dengan mengakhiri hidupmu dapat mengakhiri riwayat kesalahanmu juga, begitu?

“Sekarang, cobalah untuk hidup lebih baik lagi. Jalani setiap harimu dengan baik, dengan benar dan buat hidupmu lebih berarti. Dengan begitu, kupikir telah cukup untuk membayar kesalahanmu padaku. Kurasa di sana pun Dayoung akan mengerti, dan ia akan lebih tenang jika melihatmu menjalani hidup dengan baik.”

Sejenak Sehun tercenung mendengar perkataan Baekhyun. Sampai kemudian pundaknya mulai bergetar tak terkendali dan pangkuannya basah oleh air mata yang jatuh. Sehun menangis tergugu, menyesali setiap kesalahan demi kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini hingga menghancurkan hidupnya sendiri juga hidup orang-orang yang begitu ia sayangi.

Baekhyun tak bodoh untuk menyadari hubungan gelap Sehun dan Dayoung dahulu. Ia tentu merasakan kejanggalan tak biasa ketika melihat keakraban berlebihan Sehun dan Dayoung, atau ketika Sehun dan Dayoung sama-sama tak bisa dihubungi di waktu bersamaan, atau ketika ia menemukan pesan-pesan mesra yang lupa dihapus Dayoung dari ponselnya.

Kala itu Baekhyun ingin marah, ia bisa saja marah. Namun Baekhyun sadar betul Dayoung tak pernah membalas perasaannya. Kebahagiaan gadis itu ada pada Sehun, dan Baekhyun tak ingin membuat Dayoung melepas kebahagiaannya. Maka ia membiarkan keduanya berhubungan di belakang, pura-pura tak tahu meski hatinya sakit.

Melihat Sehun yang seperti ini Baekhyun juga tak bisa melakukan apa pun. Ia mengerti sebenarnya mereka semua sama-sama korban yang terjebak di kondisi yang salah. Ia tahu seberapa menderitanya Sehun setelah menemukannya melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali, ia tak punya hak untuk menghukum Sehun lebih jauh lagi. Baginya rasa bersalah yang selama ini menghantui Sehun telah cukup untuk ganjaran atas kesalahannya.

Sebut Baekhyun naif, tapi ia tak bisa menyimpan marah pun dendam pada Sehun. Karena itu ia tetap memberi maaf dan tak membiarkan seorang pun tahu Sehunlah alasan sebenarnya di balik kematian Dayoung.

Bahkan Dahye sekali pun tak Baekhyun biarkan untuk tahu.

Namun sepertinya Tuhan memiliki rencana lain. Hari ini ketiganya dipertemukan, dan Sehun datang menuntut penjelasan padanya.

“Hyung, jawab aku.” Suara Sehun kedengaran menghiba. “Son Dahye benar-benar adik Dayoung?”

Sambil mengurut pelipisnya, Baekhyun membuang napas perlahan. Ia kembali terdiam sebelum akhirnya menjawab.

“Ya. Benar.”

            To: Guru Oh Tampan♥

            Hei, ada yang ingin kubicarakan. Pukul 5 sore di taman kemarin. Oke?

Dahye membaca berulang kali pesan yang dikirimnya sejak pagi tadi ke nomor Sehun. Pemuda itu belum juga mengirim balasan. Mungkinkah ponselnya mati? Tapi mana mungkin sampai seharian begini.

Dari informasi yang Dahye dapat, Sehun tak punya jadwal mengajar hari ini, jadi ia tak datang ke sekolah. Maka tak heran sepanjang hari Dahye sama sekali tak melihat batang hidung pemuda Oh itu. Kini, ketika jarum jam telah menunjuk angka lima, Dahye terduduk seorang diri di bangku taman yang kemarin didudukinya bersama Sehun. Ia menunggu pemuda itu. Tak peduli Sehun membalas pesan darinya atau tidak.

Setelah bertanya pada Jongin, Dahye memutuskan untuk mengatakan pada Sehun bahwa ia juga menyimpan rasa. Dahye tak berharap banyak, maksudnya ia tak berharap akan menjadi sepasang kekasih dengan Sehun. Bagaimana pun Dahye sadar Sehun tetaplah gurunya dan ia tetaplah muridnya. Mereka tak mungkin sesuka hati menjalin hubungan. Belum lagi dengan kebohongan yang Sehun karang, yang menyatakan bahwa mereka adalah sepupu. Namun setidaknya dengan mengungkapkan perasaan akan membuat hati jadi lebih tenang kan.

Ah, memikirkan ini membuat pipi Dahye kembali merona.

Hari ini tak ada pernyataan cinta seperti yang kemarin Dahye dan Sehun lihat. Suasananya juga tak seramai kemarin. Aneh, kenapa rasanya taman ini jauh lebih sepi ketika Dahye tak bersama Sehun.

Dahye kembali mengerling ponselnya, mengecek apakah ada pesan masuk dari Sehun atau tidak. Namun ponselnya tetap bergeming, dan jarum jam terus melaju. Pukul 5.40, Sehun belum juga tiba. Baiklah baru empat puluh menit menunggu. Dahye bisa menunggu lebih lama lagi.

Namun sampai tiga puluh menit kemudian, Sehun tak juga muncul. Dahye mencoba menghubungi nomor Sehun, dan ia malah disambungkan dengan operator. Malam sudah turun, dingin mulai merayapi tubuhnya yang hanya dibalut seragam dan mantel. Namun ia tak bisa pergi. Ia harus menunggu Sehun sampai pemuda itu tiba. Hatinya memang sedikit kecewa. Bertanya-tanya kenapa Sehun tak kunjung membalas pesannya pun datang kemari. Tapi yang pasti, ia harus tetap menunggu di sini.

Dahye tak tahu berapa lama ia menunggu. Lalu ketika kedua tangannya mulai membeku, dan bibirnya terasa kaku, Dahye sadar ia harus segera beranjak jika tak ingin mati kedinginan. Rupanya sudah pukul delapan malam. Dahye melapaskan tawa sumbang. Tiga jam ia menunggu, dan Sehun tak juga datang.

Mungkin Sehun tak sempat mengecek ponselnya. Mungkin Sehun terlalu sibuk sampai tak bisa memenuhi permintaan Dahye datang ke taman ini.

Memikirkan ini membuat hati Dahye mencelus. Ia tak mengerti kenapa sampai segigih ini ingin mengungkapkan perasaannya pada Sehun. Bukankah dengan Sehun tak datang kemari sama saja seperti pemuda itu telah memberinya penolakan?

Tapi kemarin Sehun berkata bahwa ia menyukainya. Sehun menyukainya.

Dahye mengembuskan napas pelan.

Baiklah. Jika Sehun tak datang, maka ia yang akan mengunjungi pemuda itu.

Dahye yakin ia masih mengingat jalan menuju apartemen Sehun. Letaknya tak begitu jauh dari taman ini, cukup satu kali naik bus dan jalan sedikit. Tak sampai sepuluh menit, Dahye telah sampai di pelataran apartemen mewah Sehun.

Seorang wanita baru saja keluar dari dalam apartemen, Dahye bergegas menahan pintu masuk sebelum menutup, dan ketika wanita itu lewat ia melangkah ke dalam gedung apartemen. Sehun tinggal di lantai sebelas, Dahye ingat betul. Ia bahkan masih ingat berapa password unitnya.

Seisi apartemen Sehun kosong dan gelap begitu Dahye melangkah masuk. Gadis itu menekan saklar lampu dan menuntun langkah menuju sofa. Duduk di sana sendirian, Dahye berpikir kemana kiranya Sehun. Dia tidak ada di rumah, juga tidak mungkin di sekolah.

Kemana Sehun? Kapan ia tiba? Kenapa ia tak membalas pesannya? Kenapa ia tak datang ke taman?

Pertanyaan itu menemani Dahye sementara menit demi menit terus berlalu. Dahye tak berani melirik jam sebab ia tak mau tahu sudah berapa lama waktu yang dihabiskannya untuk menunggu Sehun.

Lalu ketika didengarnya suara-suara dari depan pintu, refleks Dahye mengerling jam di ponselnya. Pukul sepuluh malam. Hanya dua jam, hanya dua jam ia menunggu di sini. Punggung Dahye menegak, mengantisipasi kedatangan Sehun dengan jantung berdebar. Namun kepalanya mendadak terasa kosong. Padahal semalaman kemarin ia telah menyusun kalimat-kalimat apa saja yang harus dikatakannya pada Sehun.

Baiklah. Tidak apa-apa, tidak apa-apa.

Tidak perlu panik. Ia mampu menyusun kalimat dengan baik, ia bisa mengungkapkan perasaannya dengan mudah.

Ya, benar. Ia bisa mengungkapkan perasaannya dengan mudah.

Namun ketika pintu mengayun terbuka, Dahye tahu hal itu hanya harapannya belaka.

“Kau minum terlalu banyak.”

Adalah tuturan pertama yang meluncur dari mulut Dahye begitu netranya menangkap sosok Oh Sehun dari balik pintu. Menunggu sampai dua jam lebih, sebenarnya bukan ini yang ingin Dahye sampaikan pada Sehun. Namun kala melihat bagaimana sempoyongannya pemuda itu mengambil langkah, Dahye tahu terlalu banyak alkohol yang telah dikonsumsi Sehun malam ini. Belum lagi pakaian kusutnya, rambut pekatnya yang acak-acakan dan matanya yang setengah terpejam. Setahunya Sehun selalu mabuk tiap kali ia tertimpa masalah.

Sehun kelihatan belum sadar sepenuhnya akan eksistensi Dahye di sana. Selagi ia melangkah kepalanya menunduk sementara bibir tipisnya meracaukan kalimat-kalimat tidak jelas. Begitu Dahye menyentuh lengannya, barulah pemuda itu mendongak. Bibirnya lantas membentuk seringai tipis kala menemukan wajah Dahye hanya berjarak beberapa senti darinya.

“Ahh, Son Dahye…” Sehun menukas dengan suara mengambang, aroma alkohol menguar dari mulutnya. “muridku yang paling pintar, paling cantik, paling… paling apa lagi, ya?”

Ia menelengkan kepala, kemudian mengangkat sebelah tangan untuk mengelus sisi wajah Dahye. “Son Dahye, murid nomor satuku… terbaik dari yang paling baik. Hehe…”

Setelahnya tanpa memedulikan Dahye yang terpekur, Sehun melangkah menjauh kesusahan. Langkahnya agak limbung, nyaris menabrak beberapa kali.

“Sehun,” Dahye menyerukan nama pemuda itu. “Aku datang kemari dan menunggumu sejak tadi. Ada yang harus kukatakan.”

Perlahan Sehun berbalik. Dengan matanya yang memerah pemuda itu menatap intens Dahye. Napasnya agak memburu sementara peluh membasahi keningnya, yang Dahye yakini bukanlah efek alkohol. Untuk pertama kalinya Dahye sadar Sehun tak benar-benar mabuk.

“Tak ada yang perlu kita bicarakan. Pergilah.” ia berujar dingin, membuat bulu kuduk Dahye meremang.

Tidak bisa seperti ini. Dahye menunggu hingga berjam-jam bukan untuk dicampakkan dan ditinggalkan begitu saja. Setidaknya ia harus menyampaikan isi hatinya. Tak peduli bagaimana reaksi Sehun nanti.

Namun Dahye menggelengkan kepalanya menolak perkataan Sehun tadi. “Hanya sebentar, hanya sebentar saja tolong dengarkan aku.”

“Kubilang pergi, Son Dahye!” seolah telah kehabisan kesabaran menghadapi remaja tanggung di hadapannya Sehun berseru keras, berhasil memecah heningnya malam. Lalu tanpa menunggu respon apapun ia memutar punggung, hendak meninggalkan perempuan yang sejak tadi rela membuang waktu demi menunggu kehadirannya.

Seonsaengnim!” Dahye lagi-lagi berseru. “Tapi—tapi aku menyukaimu…” suaranya melemah di akhir kalimat seiring dengan setitik air mata yang jatuh membasahi pipinya. “Aku menyukaimu. Bagaimana ini?”

Mendengar ini Sehun membeku di tempatnya. Ucapan Dahye seolah menghentikan seluruh sistem kerja tubuhnya. Ia tak dapat bergerak, pun napasnya terasa menyesak.  Namun kemudian Sehun mendapat kekuatan untuk membalikan tubuhnya, lantas merajut langkah menuju Dahye.

Diraihnya wajah gadis itu, menangkup kedua pipinya yang telah basah lalu tanpa berpikir mempertemukan kedua bibir mereka.

Dahye terenyak ketika merasakan material lembut itu menyentuh permukaan bibirnya. Sehun menciumnya dengan lembut, penuh perasaan meski hanya sebatas menempel. Lewat ciumannya ada begitu banyak hal yang ingin Sehun sampaikan—begitu banyak hingga kepalanya nyaris meledak.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.

Perlahan Sehun melepaskan pagutan mereka. Menjauh meski tak ingin, ia menatap lama manik indah milik Dahye. Sambil menahan keinginannya untuk membawa gadis ini ke dalam pelukannya, Sehun berbisik pelan.

Go. Just go.

Lalu ia pergi, dan tak pernah berbalik lagi sekalipun isakan Dahye mulai menghantui dirinya.

…kkeut

156 responses to “The Dim Hollow Chapter 9 by Cedarpie24

  1. sumpah ihh sehun ….
    sedih tau gak liat dahye kek gitu yaampun sehunn ..
    kenapa gak coba perbaikin semuanya lewat adenya aja??
    huhh kenapa jadi kek gitu jadinya kan dia nyakitin 22nya udah kakanya sekarang adeknya yaampun hun tobatlah nakk ..
    bagus kak!! semangat kak!!

  2. Ya ampun sedih bener Dahye..
    Sehun jangan sampe ngulang kesalahan di masa lalu.. semuanya udah kejadian, sekarang gimana caranya dia memperbaikinya.. kalo kayak gini dia juga nyakitin Dahye.. dia mau Dahye pergi juga kayak Dayoung yang ada malah nambah lukanya sendiri..

  3. Setiap baca ini yg aku pikirkan “gmana reaksi dahye klo tau penyebab dayoung bunuh diri itu sehun?” …. trus skarang nasib dahye gmana??? Sehun jahat bgt sama dahye,tapi dia jahat untuk kebaikan jugaa sih😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s