About daddy and his trouble: Tao

Dhee/Jung Monica Present

Prev : Minseok , Luhan , Kris , Joonmyeon , Yixing , Baekhyun ,Jongdae ,Chanyeol , Kyungsoo , Jongin

Starting :

Huang Zitao and his son Kim (Oc)

.

.

Zitao Problem’s

“Seorang pria belajar menjadi ayah yang terbaik”

.

.

.

 

Berbicara mengenai kedekatan seorang ayah dengan anaknya yang sangat jarang ada interaksi nampaknya sangat cocok untuk seseorang bernama Huang Zitao. Bukan karena jarangnya interaksi Zitao dengan anaknya menyebabkan ia mendapat predikat terburuk sebagai seorang ayah, bukan begitu. Akan tetapi jarangnya interaksi yang ayah satu anak ini lakukan adalah demi kebahagian keluarganya sendiri. Percayalah, Zitao itu bukan tipe seseorang yang cuek seperti Sehun dan Kris. Jika disejajarkan dengan teman-temannya yang lain, Zitao tentu masih masuk dalam kategori seseorang yang mempunyai hati yang lembut seperti Junmyeon, Kyungsoo, Minseok. Ya meskipun tampang garangnya itu juga sama cocoknya jika disandingkan dengan milik Kris.

Namun agaknya interaksi yang sangat jarang Zitao lakukan kepada Kim-putranya, lambat laun juga berimbas kepada kedekatannya dengan si bocah kecil. Seperti hari ini, ketika istrinya tiba-tiba harus pergi ke kantor karena bosnya yang super cerewet itu memintanya untuk menyalin ulang semua resume hasil rapat. Mau tak mau menyebabkan Zitao harus menjaga si bocah kecil itu sendirian. Sebenarnya jika Zitao boleh menolak, maka ia akan menolak pada saat isrinya pergi tadi. Itu pun bila tiba-tiba saja istrinya tidak menyumpahi akan menceraikannya jika Zitao tetap tidak mau menjaga Kim barang sebentar.

Tidak terima kasih, karena Zitao belum mau menjadi duda.

“Papa” panggil Kim dari ruang tengah

“Hm?”

“Papa, aku mau makan buah mangga”

Zitao mengernyit dari tempatnya, kemudian berjalan ke dapur, mengecek kulkas; hanya ada beberapa botol cola, susu serta es krim. Ia tidak menemukan tanda-tanda adanya buah yang putranya inginni didalam sana.

“Tidak ada mangga disini. Kau makan es krim saja ya, mau?”

Si kecil menggeleng tanda tak mau, kemudian pergi menuju halaman belakang meninggalkan Zitao yang masih memberenggut disana. Ia mendudukan dirinya di kursi tinggi mini bar dapur miliknya, sesekali menyesap kopi buatan istrinya sebelum pergi tadi. Tangannya meraih koran yang tak jauh dari jangkauannya, mengolak-alik lembaran itu tanpa minat untuk membaca. Namun pergerakannya terhenti saat melihat berita tentang dirinya, Oh- apa aku lupa memberitahukan jika Zitao itu atlet tennis? Baiklah akan kuceritakan sedikit, Zitao itu merupakan salah satu atlet tennis yang karirnya sedang dipertimbangkan di dunia olahraga Tiongkok. Pasalnya baru-baru ini ia berhasil memenangkan beberapa cabang kejuaran tennis, baik nasional maupun internasional. Ya, tak salah saat jika saat ini ia tengah membaca berita tentangnya di koran. Karena, yeah- percaya tidak percaya sih, Zitao akan mewakili negaranya dalam ajang piala dunia.

“Papa, apa pohon mangga di halaman belakang buahnya sudah matang?” tanya Kim tiba-tiba; membuyarkan fokus Zitao.

“Sepertinya. Memang kenapa?” jawabnya

“Kim mau mangga. Papa ambilkan ya, Pa”

Pria itu bernafas sebentar, melangkahkan jenjang panjangnya kearah putranya. Mengacak surai kecoklatannya “Baiklah Papa ambilkan. Tapi hanya satu saja, ya?” si kecil mengangguk kemudian berlari mendahului ayahnya.

Zitao benar-benar menuruti keinginan putranya, ia mengambilkan buah mangga itu untuk Kim sekaligus mengupasnya. Rasanya Zitao tidak pernah sedekat ini dengan Kim, mungkin selama ini Zitao hanya memantau perkembang Kim melalui cerita istrinya. Namun tidak sekalipun ia tau sendiri bagaimana. Hatinya agak sedikit terenyuh ketika Kim bercerita tentang orangtua teman-temannya disekolah;  mulai dari yang setiap hari dijemput ibunya  ketika ia sekolah, hingga diantar ayahnya. Zitao benar-benar merasakan malu saat Kim bercerita tentang bagaimana ayah teman-temannya,  mungkin nanti setelah Zitao berhasil menyelesaikan laga terakhirnya dalam kejuaraan dunia. Ia bisa mengambil pensiun dini dan memilih menjadi pelatih saja, atau menjaga caffe milik istrinya bukanlah ide buruk.

“Tapi aku tidak papa. Papa ‘kan bekerja demi Kim dan Mama, tapi kalau Papa tidak sibuk, Papa harus mengantarkan Kim ke sekolah ya. Menjemputnya juga kalau bisa, hihihi”

Zitao mengulum senyumnya. Setitik jatuh dari pelupuk mata, nampaknya setelah ini ia harus berlatih lebih keras agar bisa mempersembahkan kemenangan pada laga terakhirnya. Karena tidak ada negosiasi untuk sekarang. Baginya ribuan milky way tidak akan sama artinya jika kau kehilangan pancarannya.

Setidaknya jika dulu Zitao bukanlah ayah yang baik untuk Kim, biarkanlah kali ini ia menebus kesalahannya untuk menjadi yang terbaik bagi putranya, dan -keluarganya

.

.

.

A/N : gatau ini akunya nulis apa huhuhu. pinginnya tema heartwarmming gitu 1) semoga aja feelnya ngena 2)semoga suka 3)yeay kurang satu, semangatt heheh.

5 responses to “About daddy and his trouble: Tao

  1. Uuuu… menyentuh nih ceritanya si Tao wkwk
    Anaknya pengertian yaakkk keren kereennnnn wkwkwk

  2. Biasanya ank kcil tu sukanya protes, tp dsni Kim mlh bijak bgt ya lbih bijak pada bpaknya mlh haha_ 1 lg kh, ql g slh sehun ya… aduh g sbar.. q suka gayamu mmbawa alur Dhee🙂 Ttp smgt nulisnya ya..

  3. Pingback: About daddy and his trouble: Sehun | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s