The Best Actor ( Chapter 3 )

Judul : The Best Actor

Maincast : Chanyeol, OC

Length : Chapter

Genre : Drama, school-life, romance

 

< Chapter 1 | Chapter 2 >

*untuk chapter ini aku pake author pov ya*

Chapter 3

“…nada suaranya justru terkesan lebih dingin dari apapun, getaran pita suara yang berusaha diminimalisirnya malah membuat suaranya lebih menyayat dari ringkihan mayat.”

 

 

Mata gadis itu sejak tadi masih terpaku dengan cek yang sudah kusut dalam genggamannya. Dress yang dipakainya semalam pun masih melekat di tubuhnya lengkap dengan kardigannya. Ia masih terkejut dengan kejadian semalam. Masih terbayang bayang olehnya tiap detail kejadian itu.

Eomma… seandainya kau masih ada disini, aku pasti tidak akan menerima tawarannya kan? Seandainya saat itu—“ Hye In menghentikan kata-katanya. Ia tersadar, kata ‘seandainya’ tidak akan mampu merubah apa yang saat ini terjadi. Dan jika ia tetap terus-menerus berkata ‘seandainya’ hatinya yang akan lebih sakit.

“Ia benar benar melakukannya,” Hye In mempererat bantal yang kini dipeluknya. “Aku kira mulutnya memang manis, tapi aku lupa dia seperti itu karena perannya. Entah drama apa yang kini dibuatnya. Tapi mengapa aku lagi yang harus jadi lawan mainnya. Lagi.. lagi.. hanya acting,” ia menangis lagi, tapi kali ini air matanya sudah tak keluar dari pelupuknya. Mungkin sumur air yang ada di dasar matanya sudah mengering karena terlalu lelah.

 

Perlahan, potongan-potongan gambar yang terekam dalam otaknya semalam mulai terkilas balik, membuat sesuatu di dada kirinya terseok dalam palung yang begitu curam, menjorok diantara rongga dadanya.

“Hye In-ah, “ Chanyeol menatap Hye In intens. Jantung Hye In mulai berpacu lebih kencang, ia mencoba menggeser badannya ke arah yang berlawanan dengan Chanyeol. Tapi dengan cepat, Chanyeol menahan lengan Hye In, membuatnya terpaku. Kali ini jantungnya berpacu lebih kencang lagi, membuatnya takut bila suara jantungnya dapat terdengar oleh seseorang dihadapannya.

“Hye In-ah, bantu aku…” Chanyeol berbisik di telinga Hye In.

Hye In tersenyum getir mendengarnya. Ia tak menyangka kalimat itulah yang keluar dari mulut seseorang yang sejak tadi membuat jantungnya berpacu kencang, seseorang yang sejak tadi membuat hatinya penuh harap.

Hye In menggeser tubuhnya perlahan, kali ini Chanyeol membiarkannya. Hye In yang tak tau harus berbuat apa hanya mengarahkan pandangannya ke arah lautan lepas didepannya. Tubuhnya mulai bergetar, dan ia yakin kali ini bukan akibat hawa dingin malam.

“Kau pasti terkejut.”kata Chanyeol memulai. “Bukan hanya kau, aku pun terkejut dengan diriku sendiri. Kau tau, ini pertama kalinya dalam hidupku aku memohon pada seseorang. Ternyata seperti ini rasanya, memalukan. Ya, memalukan bukan?” Chanyeol mencuri pandang ke arah gadis disampingnya. Hye In masih berusaha menarik kedua sudut bibirnya ke arah yang berlawanan, meskipun sulit. Tapi tatapannya masih kosong melihat ke depan. Rasanya lebih baik tadi ia mengenakan mantel musim dingin, bukannya sehelai cardigan yang sama sekali tidak menghangatkannya.

“Walaupun memalukan, aku tak tau mengapa aku tetap berani melakukannya padamu. Aku hanya ingin semuanya menjadi jelas. Aku takut kau salah paham dengan sikapku selama ini. Aku benci hal-hal yang rumit,”

“Salah paham?” Hye In masih mencoba mengartikan maksud Chanyeol.

“Saat aku berbuat baik padamu meskipun itu hanya hal sepele, Yurae sangat marah. Yurae pernah bilang, dia sangat iri padamu. Ia terlalu sering marah, mungkin karena itu ia terlihat lebih kurus. Tapi, kadang membuatnya marah sangat mengasyikkan. Dan setelah marah—“ Chanyeol malah bercerita, menerawang kisah manisnya yang mungkin telah benar-benar kandas. Membuat rongga dada Hye In kian menyempit.

“Sebenarnya apa rencanamu?” potong Hye In dengan suara bergetar. Telinganya semakin panas saat mendengar cerita Chanyeol.

“Kau…” Chanyeol menoleh heran. Bingung.

“Katakan saja apa rencanamu.”sela Hye In membuat Chanyeol terdiam. Ia tersenyum simpul melihat perubahan sikap Hye In yang seketika berubah menjadi dingin.

“Hubunganku baru saja berakhir dengannya.”

“……”

“Jadi.. bisakah kau membantuku?”

Sesaat Hye In tampak berpikir. Ia mencoba menjernihkan isi otaknya. Mungkin tawaran itu adalah sebuah jackpot baginya bila saja bukan seperti ini caranya. Ia memang menyukai Chanyeol. Tapi bukan berarti Chanyeol bisa memanfaatkan perasaannya.

“Kau gila, pria gila..” Hye In yang merasa dipermainkan beranjak dari tempatnya, hendak pergi. Tapi dengan sigap, Chanyeol menahan lengannya dari belakang.

“Lepaskan..” kata Hye In sambil mencoba mengatur nafasnya yang mulai tak teratur.

“Tidak akan!” balas Chanyeol tak kalah dingin. Hye In mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Chanyeol, namun Chanyeol terlalu kuat sehingga akhirnya ia diam. “Kau hanya perlu melakukannya. Aku juga akan membantumu. Ini tidak akan sulit.” Pintanya.

“Mengapa? Mengapa diantara seluruh wanita di dunia ini kau harus memintaku? Mengapa..” meski rasanya ingin berteriak, Hye In memilih meredamnya. Pada akhirnya nada suaranya justru terkesan lebih dingin dari apapun, getaran pita suara yang berusaha diminimalisirnya malah membuat suaranya lebih menyayat dari ringkihan mayat.

Untuk beberapa saat Chanyeol menatap Hye In dan mendelik, sedikit bingung dengan perubahan Hye In. Tidak bisa lebih lama, Chanyeol mengalihkan pandangannya.

“Tentu saja kau. Aku tidak asal memilih. Aku sudah menyelidikimu dan aku tau kau tidak akan menolak.”

“Bagaimana jika aku menolak?” tanya Hye In tanpa berbalik menatap Chanyeol. Kini matanya berkaca-kaca.

“Kau akan menyesal. Kan ku pastikan kau menyesal.” Ancam Chanyeol.

“Bagaimana jika aku tidak takut ancamanmu? Sudahlah, lepaskan. Aku yakin masih banyak gadis yang akan bersukarela membantumu…” Hidung Hye In memerah menahan tangis. Hye In mencoba melepaskan lengannya lagi. Tapi percuma.

“Tidak bisa gadis lain.” Kata Chanyeol tegas, membuat Hye In terpaku.

“Bisakah kau mendengarkanku dulu? Sungguh gadis keras kepala.” Hye In mendelik mendengar dirinya disebut keras kepala.

“Lalu kau? Apa?” Hye In benar-benar kehilangan kata-kata. “Sudah larut, Permisi.” Pamitnya. Chanyeol pun berusaha membiarkannya.

“Tentang rumahmu…” Ucapan Chanyeol kali ini berhasil menghentikan langkah Hye In.

“Bukan urusanmu.” Hye In kembali berjalan namun kata kata Chanyeol membuatnya terdiam lagi.

“Kau hidup sendiri, tapi bisa membiayai sekolah sendiri. Dari mana kau mendapat penghasilan? Tidak, maksudku, sekolah kita cukup mahal jika kau hanya bekerja paruh waktu.”dada Hye In sesak mendengar apa yang dikatakan lelaki ini. Sesak karena sebegitu niatnyakah Chanyeol mempergunanya? Hingga ia bersusah payah berfikir tentang dirinya yang tak lain untuk mendapatkan alasan yang tepat mengapa Hye In harus menerima tawarannya. Tapi Hye In masih keras pada pendiriannya. Ia beranjak pergi.

“Ah, kau menyewakan rumahmu pada Yoon Seul bukan? Ya..ya.. itu pasti membantu.”Chanyeol memijat-mijat dagunya. Hye In kini sudah 3 meter jauhnya dari Chanyeol.

“Tapi.. Ku dengar, Yoon Seul akan pindah dalam waktu dekat ini.” Jantung Hye In hampir berhenti berdetak. Ia bahkan tidak tau Yoon Seul akan pindah. Berbagai pikiran berkecamuk di benaknya. Mengapa penderitaan berburu ke arahnya. Apa yang akan terjadi, bagaimana—.

“Aku penasaran, Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan… Ah, aku lupa itu bukan urusanku. Kalau begitu, Fighting! Kau harus bersemangat karena jika tidak, ya kau pasti lebih tau apa yang akan terjadi.” Chanyeol berbalik menatap punggung Hye In yang diperkirakannya akan menghilang sebentar lagi, namun Hye In terhenti di tempatnya. Chanyeol menyunggingkan bibirnya, mulai mencium bau keberhasilan.

“Jika kau mau pergi, pergilah. Baik, aku melepaskanmu. Tadinya aku hanya ingin membantumu. Tapi yasudahlah. Aku pergi.” Chanyeol berjalan melewati Hye In yang masih terdiam di tempatnya.

“Tunggu,” Chanyeol menghentikan langkahnya.

“Apa yang harus kulakukan?” Kata Hye In pasrah dengan kepala tertunduk. Tes. Setetes air dari mata Hye In jatuh tepat di sepersekian bagian pasir yang menutupi ujung sepatunya.

Sementara Chanyeol menyelipkan salah satu tangannya di saku jeansnya. Ia tersenyum penuh kemenangan.

***

“Hye In-ah! Buka pintumu!” Yoon Seul mengetuk ngetuk pintu sambil berseru memanggil Hye In yang belum keluar kamar sejak malam. “ini sudah hampir jam 11 siang. Apa kau tak lapar?” Hye In tak juga menjawab panggilan Yoon Seul.

Diingatnya kata-kata Chanyeol bahwa Yoon Seul akan segera pindah dari rumahnya. Ia berpikir, dari siapa Chanyeol tau mengenai hal ini, sementara ia sahabatnya tidak mengetahuinya. Apa Yoon Seul sendiri yang mengatakannya pada Chanyeol. Tapi mengapa?

“Ya! Apa yang kau lakukan semalam? Kau tak mau menceritakannya padaku? Chanyeol bilang kalian bersenang senang semalam.”

Deggg.

Hye In tersenyum penuh kebencian. “Ia bahkan sudah menyebarkan berita palsu dengan cepat. Yoon Seul-ah, inikah yang kau bilang tulus? Kau mungkin takkan percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apakah aku harus menceritakan semuanya padamu?” Bisik Hye In pada dirinya sendiri.

“Yoon Seul-ah, besiaplah mendengar ceritaku.” Hye In bangkit dari tempat tidurnya, ia menggelung asal rambutnya yang masih semerawut itu. Ia meraih gagang pintu didepannya tanpa ragu, tanpa memperdulikan busananya yang tak kalah semerawut dengan rambut hitam kelamnya yang kini tampak kusam.

Srreeet… pintu kamarpun terbuka. Mulut Hye In sempurna menyerupai huruf O ketika ia melihat siapa yang sudah berdiri di sebelah Yoon Seul, menyunggingkan seunyum tipisnya seraya melambaikan tangan ke arahnya.

 

Park Chanyeol.

 

 

 TBC.

 

Sebelumnya terimakasih untuk readers yang udah komen hehehe walaupun gak aku bales komennya (karena bingung jg mau bales apa wkwk), aku baca semua komennya dan jadi lebih semangat nulis^^ Kritik dan saran selalu aku tunggu looh, jadi jangan sungkan ya kalo mau ngasih ide cerita atau apa…

 

Sekian!

19 responses to “The Best Actor ( Chapter 3 )

  1. Haloo author aku ngga nyangka banget kok chanyeol jahat sih maksud nya apa ya dia mainin hye in malah maksa bgt lagi dan pake ngancem apa selama ini dia tau kalo hye in suka sama dia jadi dia bisa manfaatin hye in . Kalo di posisi hye in pasti sakit hati di suruu jadi pacar pura pura orang yg kita suka sabar ua hyein semoga chanyeol dapet karma nya hihi

  2. Oiya author aku mau usul ide cerita boleh ya tadi kelupaan hehe bikin chanyeol suka sama hye in ya thor tapi dia harus berjuang dulu buat dapetin hye in . Itu aja thor makasih

  3. Wahahahha aku suka watak ceye di buat gini 😆😆 tambah licik tambah menggoda *plak 😂 semangat thor nulisnya 😘😘 aku minta maaf di part sebelumnya aku nga sempat comment wkkkk 😂😂 berhubung bacanya waktu di kampus 😁 nyuri2 waktu buat baca ff 😂😂 mian nee part selanjutnya aku tunggu thor 😊😊

  4. Bikin chanyeolnya nanti kelepek2 sma hye in trus buat chanyeolnya menyesal tapi tetap dgn gaya yg cool nya gituh buat susah mndptkn hye in nya thor. Atau buat yhe innya mlirik cowok baru gahaha

  5. akuuu terhuraaaa baca ini,,, terhuraaa karenaaaa,,, yaaaa PARKKKK CHANYEOLLL APA KAUUUU GILAAAAAAAA,,,A APAAA KAUUU TAKKK TAUU BAHWAAA HUKUM KARMAA BERLAKUUUU UNTUK MUUU,,,

    YAAA AUTHOR NIMMM AKUUU JADIIIIIIIIIIII PUNYAAA USULLLLLLLLL BUATTTTTT INIII,,,MENGINGATTT JAHATNYAAAAAAA parkkk canyeolllllllllllll,,,,,,,,,,,,, tapiiiiiii ngomongn idenyaa ga dsniiiiiii,,, dmanaaa donggg???

    Siapa tauuu idekuuu membantuuuuu wkwkwkkwkwkwkwk ,,,😉🙂

  6. Kurang panjang thorr wkk *readerKurangajar* ahhh.. rasanya tu kaya lg asyik2 nnton film ksukaan trus adegan yg ditunggu2 mlah hbus tu mati lampu! yaah.. tp ini keren lah!! Ql boleh usul, hlgkan rsa suka Hye In ke Chan, pindhkan brkli2 lipat perasaannya ke chanyeol! nah! kaya’x seru tuh wkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s