CHEER UP! BY PRLLNRHMWT

chisifpu4aecvne.jpg

prllnrhmwt‘s present

CHEER UP!

Kim Yerim (& others)

Fluff, Romance, School-life

Teen

Poster by NJXAEM

WARNING : CERITA GAK JELAS, ALUR KECEPETAN

HAPPY READING!

Pagi ini terasa sangat panas sekali. Aku benar-benar malas untuk beraktiftikas. Dari semua musim, aku paling tidak dengan musim panas. Kenapa? Alasannya simpel, hanya karena aku tidak tahan dengan panas. Aku lebih memilih musim dingin, meskipun dimusim dingin suhunya kadang sampai minus derajat.
Hanya ada satu hal yang kusukai dimusim panas, yaitu aku bisa menikmati es krim lebih sering daripada biasanya. Yah meskipun ujung-ujungnya aku terkena flu karena terlalu sering menikmati es krim.
Hari ini adalah hari pertama sekolah semenjak liburan musim panas. Kuharap musim panas cepat berakhir. Aku benar-benar tidak tahan, sungguh. “Yeri-ya! Jangan malas-malasan! Cepat pakai sepatumu, kalau kau tidak segera bersiap-siap bukan hanya kau saja yang terlambat, tapi aku juga!”
Ugh telingaku rasanya ingin pecah jika mendengar suara cemprengnya yang mengomel seperti itu. Orang itu adalah Irene, kakakku. Aku juga tidak akan telat dan malas-malasan kalau tadi dia tidak telat memangunkanku! Meskipun hanya telat sepuluh menit saja, jika aku tidak bangun pukul 5.30 atau paling tidak lebih beberapa menit, aku akan malas untuk sekolah.
Padahal kami sudah tinggal berdua selama kurang lebih 8 tahun. Ya, aku hanya tinggal dengan kakakku saja, itupun kakak angkat. Saat umurku masih beberapa bulan, kedua Ibu Irene eonnie mengadopsiku dari sebuah panti asuhan di Jeonju. Ayah Irene eonni sendiri sudah meninggal saat umurnya 7 tahun.
Selama 17 tahun hidup, aku belum tahu siapa orang tua kandungku.
Pada saat umurku menginjak ke 9 tahun. Ibu meninggal karena penyakit yang dideritanya. Aku sendiri kaget saat itu karena selama hidup bersamanya, beliau tidak pernah menceritakan tentang penyakitnya padaku. Bahkan aku tidak pernah melihatnya kesakitan. Kejadian itu benar-benar membuatku terpukul, saat itu hanya ada Irene eonnie yang menghiburku.
“Berisik! Siapa suruh telat membangunkanu!” Teriakku dari dalam.
“Jangan banyak protes dan cepatlah keluar, sebentar lagi kuliahku akan dimulai bodoh!”
“Kenapa eonni tidak minta Suho oppa untuk menjemputmu sih? Biasanya juga begitu ‘kan? Lalu kenapa sekarang malah memakai mobil dan mengajakku untuk berangkat bersama?”
“Jangan bawa-bawa nama pria itu atau kau akan kutinggal dalam hitungan 30 detik?!”
Ah pasti mereka sedang bertengkar.
Karena tak ingin mendengar ocehannya yang memekakkan telinga dan tak mau mengambil resiko karena telat pada jam pelajaran Ahn Seonsaengnim, akupun segera keluar dan menghampiri kakakku yang kini wajahnya terlihat sangat kesal.

Aku tertawa sebelum masuk ke dalam mobil merah itu. Usiaku dengan Irene eonnie terpaut 5 tahun, tapi sejujurnya aku merasa kalau ia lebih muda dariku. Tingkahnya benar-benar tidak mencerminkan seseorang yang berumur 22 tahun, ia lebih sering bertingkah seperti bocah yang usianya baru menginjak 6 tahun.

Menggemaskan sekaligus menggelikan.

Di dalam mobil aku hanya terfokus pada ponselku. Sedangkan Irene eonnie fokus menyetir. Ringtone ponselku terus berbunyi, menandakan adanya pesan yang terkirim hingga menimbulkan suara yang cukup berisik. Aku kesal, baterai ponselku pasti akan cepat habis jika terus seperti ini. Aku sibuk membaca pesan pesan yang baru terkirim ke nomorku. Kebanyakan pesan itu dikirim oleh orang yang sama.

Isinya pun tidak jauh berbeda dengan pesan-pesannya yang lain. Tapi entah kenapa aku tak pernah bosan membaca pesan darinya

Ponselku berbunyi—lagi, kali ini bukan karena pesan masuk, melainkan karena panggilan telepon. Ekspresiku berubah menjadi datar kala melihat nama yang terpampang dilayar berukuran 4,7 inchi itu.

“Tidak diangkat?” Irene eonnie berkata. Rupanya ia memperhatikanku.

“Untuk sekarang tidak,” jawabku setelah menekan tombol merah. Aku melihat Irene eonnie tersenyum lebar

“Bagus. Itu baru adikku,” katanya.

-oOo-

Sekarang sudah memasuki jam pelajaran ketiga, pelajaran fisika. Goo Seonsaengim sedang menerangkan materi bab 14 di depan kelas. Namun aku sama sekali tidak memperhatikan..

Atau lebih tepatnya tidak bisa memperhatikan. Setiap melihat atau bahkan mendengar rumus-rumus kimia saja rasanya otakku akan meledak. Baik aku akan jujur, aku (sangat) tidak ahli dalam pelajaran yang dipenuhi oleh rumus-rumus yang berbelit seperti matematika dan fisika.

Ketika Goo Seonsaengnim melihat ke arahku, aku akan berpura-pura memperhatikan atau menulis materi yang ia terangkan. Tapi jika beliau mengalihkan pandangannya dariku, aku meletakkan kepalaku dilipatan kedua tangan yang kutaruh di atas meja kayu bercat putih tulang ini.

Aku mengantuk sejak pelajaran Ahn Seonsaengnim. Tadi beliau hanya mengajar 45 menit padahal jadwal mengajarnya di kelasku hari ini adalah 2 jam. Waktu 1 jam 15 menit ia gunakan untuk menceramahi—memarahi murid kelasku karena menurutnya kami benar-benar aneh dan tidak disiplin. Sejujurnya kami sudah sering mendapat teguran dari guru lain, bukan Ahn Seonsaengnim saja.

Ini sudah ketiga kalinya kami mendapat teguran dari beliau, aku kapok. Namun kurasa murid lainnya tidak merasa demikian karena jika kau sudah mendapat teguran sekali pasti kau akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama agar tidak mendapat teguran lagi bukan? Tetapi mereka tidak begitu.

Kadang aku ingin mencoba berbicara dengan mereka agar merubah sikap. Tapi aku yakin kata-kataku tidak akan didengarkan oleh mereka. Lagipula memangnya aku siapa? Pengurus kelas juga bukan, yang ada aku menjadi guyonan di kelas ini.

“Jawabanmu tepat sekali, Jisang. Baiklah sekarang… umm Yeri, jawab pertanyaan Ibu dipan tulis,”

Daripada seperti itu, lebih baik aku diam saja. Katakanlah aku pengecut. Tapi, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

“–rim?”

Ah kepalaku juga ingin pecah ketika memikirkan masalah yang dimiliki kelasku. Kenapa dari dulu aku sel-

“KIM YERIM!!”

Oh astaga. Mati aku.

“Y-ya? I-ibu memanggil s-saya?” ucapku gugup.

“Memangnya siapa lagi orang yang bernama Kim Yerim di kelas ini? Maju ke depan lalu jawab pertanyaan yang ada dipapan tulis sekarang juga.”

Mataku beralih ke papan tulis hitam yang berada tepat di belakang Goo Seonsaengnim, oh God. Aku bahkan tak mengerti satupun yang tertulis di sana. Bagaimana mungkin aku dapat menyelesaikan soal itu?

Aku berdiri dengan ragu lalu berjalan ke depan dengan pelan. Tempat dudukku berada di paling belakang, cukup jauh dari depan. Sekarang aku sudah memegang kapur dan siap menulis jawaban.

Hah?!

Jawaban apanya! Paham juga tidak. Tuhan, kumohon bantu aku. Aku memejamkan mataku selama beberapa detik lalu mulai menulis jawabanku. Aku tidak peduli itu salah atau benar. Lain waktu aku akan lebih memperhatilan pelajaran fisika agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Ugh aku malu!

Setelah selesai menulis jawaban aku menatap murid lainnya dan juga Goo Seonsaengnim yang kini juga sedang melihatku. “Jawabanmu salah semua. Bahkan caranya salah. Apa kau tidak mencatat cara yang kutulis tadi?” kata beliau.

Joesonghamnida,” kataku pelan.

Goo Seonsaengnim menghela napas dan menggelengkan kepalanya sebelum menyuruhku duduk kembali.

Ugh.

-oOo-

“Kim Yerim! Apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu gadis bodoh!”

Ah itu Saeron, gadis bermarga Kim—sama sepertiku sekaligus sahabatku dari sejak di sekolah dasar. Aku heran kenapa kami selalu satu sekolah, meskipun tidak satu kelas. Aku bosan melihat wajahnya.

Tidak, itu hanya gurauan. Mana mungkin aku bosan melihat wajahnya itu? Jika tidak ada dia mungkin aku tidak akan memiliki teman sama sekali di sekolah ini. Begitupun dengannya. Kami memiliki beberapa kemiripan, salah satunya kami berdua sama-sama seseorang yang pendiam dan sulit untuk beradaptasi. Tapi jika kami sedang bersama, kami berdua sudah seperti tidak memiliki rasa malu lagi. Mungkin itu yang membuatku senang bersahabat dengannya.

“Ini di koridor, Saeron. Jadi tolong pelankan suaramu,” kataku dingin.

“Ish, aku merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?” ucapnya.

“Siapa suruh pergi ke Jepang selama liburan musim panas? Kalau kau tidak ke sana kita bisa menghabisi waktu bersama.”

“Itu liburan keluarga, Yerim! Dan jangan bahas lagi soal itu.”Saeron menggantungkan kalimatnya.

“Jadi bagaimana?” pertanyaannya membuatku menghentikan langkah kakiku, begitupun dengannya.

Aku menatap kedua matanya datar yang juga menatapku dengan antusias. Senyumku mengembang, senyumnya menjadi lebih lebar. Aku mengeluarkan secarik kertas berwarna biru yang dihiasi pita berwarna pink.

Itu adalah sebuah surat. Surat cinta lebih tepatnya. Senyum Saeron seketika meluntur, wajahnya berubah menjadi menyebalkan.

“Masih surat-suratan rupanya? Jangan-jangan kau juga masih mengabaikan teleponnya? Dan membaca pesannya tanpa membalas?” ucapnya datar.

“Ya, memang kenapa? Ada masalah?” tanyaku.

“Kalau kau masih seperti itu, jangan salahkan aku jika nantinya Mark berpaling padaku” katanya dengan nada mengejek.

Sontak langsung kupukul saja kepalanya dengan tas hitamku. Membuat si empunya meringis kesakitan dan menatapku garang.

“Aku hanya ingin mengetesnya saja. Aku juga menyukai dia, kau tahu ‘kan? Bagaimanapun juga aku seorang perempuan. Aku tak boleh memberikan hatiku dengan mudahnya kepada seorang pria. Aku ingin melihatnya berusaha. Itu saja,” ucapku dengan senyuman lalu kembali melanjutkan langkahku.

“Aish. Apa waktu 3 bulan belum cukup untuk melihat usahanya?” Koeun kembali bersuara setelah mensejajarkan langkahku.

Aku menggeleng dan mengatakan ‘tidak’ sebagai jawabannya. “Ah aku main ke rumahmu ya? Aku juga rindu dengan Irene eonnie, aku juga ingin memberikan oleh-oleh untuknya,”

Ya! Kau bawa oleh-oleh tapi kenapa tidak memberikannya padaku?!”

“Hehe, peace!”

 

***

Hai Kim Yerim.

Kau pasti bosan dikirimi surat seperti ini terus menerus. Itu salahmu karena mengabaikan panggilanku, padahal kutahu kalau kau membaca pesan-pesan yang kukirim padanu.

Kudengar dari sahabatku, Jaehyun. Tadi kau tidak bisa menjawab soal dipapan tulis ya? Padahal soalnya mudah. Hahahah.

Kebetulan aku cukup pandai dalam pelajaran fisika. Apa kau mau kalau kapan-kapan kita belajar bersama? Kau bisa mengajariku pelajaran biologi karena aku tak pandai dalam pelajaran itu

Itupun kalau kau mau, hehe.

Hari ini kau sangat cantik. Selalu sih sebenarnya. Namun entah kenapa kurasa hari ini kau sangat sangat sangat cantik. Lebih dari sebelumnya. Mungkin karena efek tidak melihatmu selama 1 bulan jadinya seperti ini? Astaga apa yang kukatakan?

Yeri-ya, lusa nanti apa kau bisa menemuiku di taman dekat sekolah? Kalau tidak bisa tidak apa, tapi kuharap kau bisa.

Mark Lee.

fin
PFFTTT,, INI APAA?!! ganyangka ff abal ini aku post juga xD yaampun isi cerita sama judul bener2 ga ada hubungannya sama sekali;A; aaaaaa /pundung. ugh.
well tp aku tetep berharap komentarnya ya ehehe xDD ty!
see you next time!

6 responses to “CHEER UP! BY PRLLNRHMWT

  1. MARK LEE><
    mark kalo ngejek sumpah pen nampol rasanya;'3 btw gurunya yeri kok samaan kek gue, pelajaran 2 jam, sejamnya buat ceramah, dan gue lebih milih guru ceramah drpd pelajaran:'v wakss /jangan ditiru/
    mau dong digebet sama cowok macem mark:'v jaehyun juga gapapa deh:'v /dibakar/ diperjuangin gitu, dikirim surat terus padahal nggak dibales, tetep ditelfon walaupun nggak diangkat;' indahnya dunia kalo gue digituin cowok, apalagi cakep kek mark:'v /digampar/

    • wkwkw saya kira guru kek gitu cuma guru saya doang xDDD dan ya saya juga lebih milih dengerin guru ceramah(?) drpd ngerangin pelajaran xDD sayangnya dunia tak seindah ff ;’) thanks ya udh mau baca!!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s