Dearest Ballerina

PicsArt_1460912617266[1]

Dhee/Jung Monica Present

Starting:

Park Chanyeol (EXO) and his daughter Elmaira Park

.

.

“She’s my ballerina, and always be my ballerina”

.

.

.

Seperti sore-sore sebelumnya, ruangan yang berangsur-angsur mulai sepi. Irama lagu pengiring yang mulai dimatikan, serta para instruktur yang sudah menghilang secara terburu ke balik pintu. Semua itu menandakan bahwa latihan telah usai beberapa menit yang lalu.

“Huft. I’m tired” kata Elma, melangkahkan kakinya mendekat menuju sosok jangkung dipojok ruangan.

Chanyeol-Sang Ayah, yang tengah memegang handycam mengalihkan fokusnya dari handycam menuju gadis yang sedang berjalan menghampirinya. Satu senyum ia lemparkan kepada putrinya, tatkala gadis itu semakin mendekat dengan balutan rok tulle yang bergerak seirama dengan langkah kaki sang gadis. Gadis itu terlihat manis dengan setelan kostum baletnya; leotard berwarna krem, stoking berwarna putih tulang serta rok tulle berwarna silver.

“Ayah aku haus” rengek si gadis kepada sang Ayah. Chanyeol terkekeh sebentar demi mendengar rengekan putrinya, lalu ia serahkan botol minum berwarna biru yang sedari tadi masih terisi penuh karena si empu belum juga menengguknya.

Senyumnya merekah saat diambilnya botol minuman itu dari tangan si Ayah “Thank’s Dad. Kau yang terbaik” si gadis meneguk minuman itu dengan tergesa, seolah ia merasa tidak akan ada lagi pasokan air di dunia ini. Maka tindakan si gadis hanya mendapatkan gelengan kepala dari sang Ayah, sesekali mengingatkan jika minum dengan cara seperti itu akan membuatmu tersedak. Seolah perkataan sang Ayah hanyalah angin lalu, si gadis tidak mengindahkannya.

Lagi pula kalian tau sendiri kan,  bagaimana rasanya kehausan –pikir si gadis.

“El, pelan-pelan saja minumnya. Kau bisa tersedak nanti” kata Chanyeol memperingati untuk yang kedua kalinya, dan untuk kedua kalinya pula putrinya tidak mengindahkannya. Entahlah, kenapa tiba-tiba saja Chanyeol rasa sikap badungnya menurun pada si gadis detik ini juga. Nafasnya setengah terengah-engah, ulah dari menghabiskan satu botol sedang air dengan sekali tegukan. Awalnya Elma tidak merasakan apa-apa, tapi lama kelamaan dadanya seperti terasa sesak ditambah lagi akibat lainnya terlihat dari perutnya yang seakan kembung.

Setelah ini Elma berjanji tidak akan minum dengan cara seperti itu lagi, well ia merasa kasih akan perutnya sendiri.

Melihat tingkah Elma barusan, mau tak mau membuat Chanyeol harus terkekeh sendiri. Elma itu sangat keras kepala, sama seperti mendiang si Ibu. Ia tak akan mau mendengarkan apa yang Chanyeol katakan, tidak semua sih, hanya beberapa hal yang dianggapnya tak masuk akal saja. Jika sudah begitu, Chanyeol lebih memilih diam ketimbang harus berdebat dengan putrinya sendiri. Karena setelahnya si gadis pasti akan tau maksud dibalik perkataan sang Ayah.

Tangannya terulur, menyeka sisa air minum yang merembes didagu putrinya “Kan, Ayah bilang apa. Tidak mendengarkan sih”

“Tidak tersedak, kok.” Kilah sang gadis.

Repetisi “Tidak tersedak, kok. Tapi….” kata-katanya menggantung, seperti biasa ­-siasat Chanyeol agar si gadis mau mengakui kesalahannya sekaligus minta maaf untuk tidak mengulangi lagi.

“Iya deh maaf. Tidak lagi-lagi deh, Yah” ujarnya lucu membuat senyum sang Ayah berkembang. Lalu berikutnya ia membiarkan sang gadis duduk, meluruskan kedua kakinya sambil melarikan buku-buku tangan kecilnya memijat tumit hingga betisnya. Tak jarang ia juga mengubah handuk pemberian sang Ayah tadi sebagai kipas, meski ruangan ini ber-AC entah mengapa ia selalu merasa kepanasan. Apakah ini juga merupakan efek dari minum satu kali tegukan tadi ataupun yang lainnya, entahlah. Elma juga tak peduli, mungkin barangkali pendingin ruangan tidak bekerja semestinya. Chanyeol mengambil duduk di depan putrinya, mengambil alih kerja tangan si gadis dengan tangan miliknya.

 Ya, Chanyeol membantu Elma untuk memijit kakinya.

Sambil mengalihkan tangan sang Ayah, senyum kecilnya mengembang “Thank’s Dad, tapi tidak perlu kok. Biar aku sendiri saja” Chanyeol terkekeh mendengar pernyataan Elma barusan. Ia selalu seperti itu jikalau Chanyeol berniat membantunya untuk meringankan sedikit rasa pegal pada kakinya, ia –gadisnya akan menolak secara halus. Mengatakan bahwa Ayahnya tak perlu melakukan hal itu untuknya.

Lalu selanjutnya ia membiarkan ruangan penuh kaca ini sepi, kalimat terima kasih dari sang gadis pun ia biarkan menguar pergi dibawa kesunyian. Chanyeol memilih mengamati putrinya secara lekat, sementara pihak yang diamati sedang melarikan pandangannya keatas langit-langit ruangan. Lelaki itu ikut mendongak sebentar, kemudian menjatuhkan pandangannya lagi kepada sang gadis.

 Ditengah keadaan yang sunyi seperti ini, selalu ada beribu pertanyaan yang mengiang dikepala Chanyeol. Tentang; mengapa ia bisa selalu ada disini, meninggalkan semua kepentingan duniawi yang tak gentarnya mengerjar Chanyeol dari belakang, menolak berbagai tawaran masuk akal hingga tak masuk akal milik duniawi, dan pasti pertanyaan yang tak pernah Chanyeol lupakan barang sedikit pun.

Pertanyaan tentang hidupnya dan hidup putrinya.

Ia selalu bertanya, kenapa di dunia yang serba komplit serta modern ini, belum ada seorang dokter yang bisa menyembuhkan kelainan yang putrinya miliki? Dan kenapa juga diantara banyaknya makhluk ciptaan Tuhan, harus ia –satu-satunya yang tersisa dari sang istri-putrinya.  Alasan terbesar Chanyeol untuk bertahan dari kejamnya dunia yang selalu merenggut kebahagian yang ia punya. Kadang ia merasa tak cukupkah Tuhan mengambil separuh dari dirinya dulu, kebahagian teratas selama ia hidup. Namun seolah itu semua tak cukup baginya, pada tahun ketiga usia Elma. Ia resmi divonis mengidap kelainan liver, bagai terkena petir siang bolong. Yang Chanyeol lakukan pada saat itu hanyalah tak lebih dari mengutuk dirinya sendiri.  Kehidupan di masa lalu seperti apa yang Chanyeol jalani sehingga bertubi-tubi musibah selalu mendatanginya.

Ternyata dunia belum cukup melihat ia menderita; sedangkan Tuhan terlalu sayang kepadanya. Benar kah?

Terkadang jauh saat ia menatap putrinya, -saat tidur maupun terjaga.  Ada banyak sekali harapan yang ia gantungkan di dalam do’a. Harapan agar Elma sembuh, jika itu terlalu berlebihan. Biarkan setidaknya ia hidup lebih lama lagi, –diantaranya untuk menemani Chanyeol. Menemani Chanyeol mewujudkan semua mimpi yang Elma impikan, atau mewujudkan juga mimpi mendiang sang istri untuk putrinya.

Dad” sopran itu menyadarkan Chanyeol dari lamunan panjangnya.

“Yes, ballerina?”

“Badanku. Badanku sedikit ngilu”

Oh- tidak jangan sekarang “Baiklah kita pulang” tawarnya.

Elma menggeleng “Aku masih mau latihan lagi” katanya “Jangan terlalu memaksakan , El” tegur Chanyeol

“Itulah kenapa aku beristirahat sekarang” ia mengambil nafas sejenak kemudian melanjutkannya “Nope Dad.  Perlombaan kurang lima hari lagi, dan aku masih suka kehilangan tempo. Apalagi Pirouette-ku, tidak lucu kalau aku mendadak limbung diakhir putarannya”

Chanyeol terkekeh, ia jadi ingat kemarin dulu putrinya sempat limbung gara-gara tidak seimbang “Oke oke Tuan Putri” menilik arlojinya sebentar “Setengah jam lagi kita pulang, oke?”

Elma bangkit berjalan menuju pemutar musik, membesarkan volumenya lalu mengambil ancang-ancang untuk awalan. Detik berikutnya sang Ayah juga bangkit dengan mengotak-atik handycam lagi, Chanyeol memekik keras. Menyuruh putrinya untuk bersabar sejenak sementara ia menyiapkan handycam untuk merekamnya, satu anggukan, kemudian mulai.

Si gadis memejamkan mata, merasakan tempo yang mulai melambat. Ia mencoba merasuk dalam Coda.

Denting pertama, Elma mengaplikasikan gerakan Plie, mengulangnya sebanyak tiga kali. Kemudian Pas de deux, Pointe, effacé devant on fondu, Arabesque. Berhenti sejenak untuk mengaplikasikan variasi buatannya, berlari dan grand jete. Dilanjutkan dengan satu kali Pirouette dan Pas de bourrée. Sebelum melanjutkan dengan mengulang fondu effacé front, beat and return effacé, passé to effacé back, pas de bourrée, aplikasi variasi lainnya yang menambah cantik tarian miliknya. Lalu berakhir dengan pas jeté dan tipy toe.

Gelegar seruan dari sang Ayah tampak memenuhi ruangan “Fabolous honey, fabolous. You did it, you see. You’re not fall when do Pirouette” ia membungkukan badan ketika mendengar pujian itu, rasa senangnya membucah tatkala sang Ayah berkata bahwa ia berhasil melakukan Pirouette tanpa limbung sesudahnya –Well, ia juga merasakan itu tadi.

Gadis itu menghampiri Chanyeol yang tengah mengemasi handycam-nya dengan pekikan senang “Finally. Thank’s Dad, you’re the best” katanya sambil mengecup pipi sebelah kanan Ayahnya. Kurvanya otomatis melengkung “I’m not pumpkin. But you” balas si Ayah

“Jadi bisakah kita pulang sekarang?” ujarnya, lalu si gadis mengangguk setuju.

Kegiatan hari ini selesai, tapi tidak untuk selamanya. Mereka berjalan beriringan meninggalkan studio yang sepi, sesekali terdengar tawa dari si gadis yang menaungi kepergian mereka berdua. Jauh di dalam sana Chanyeol hanya menginginkan kebahagian ini berangsur untuk waktu yang lebih lama, biarkanlah ia harus meninggalkan semua tuntutan dunia yang memaksanya bersenang-senang, asalkan untuk putrinya ia rela meninggalkan dan melepas semuanya dibelakang. Karena untuknya, latar belakang tempat dimana sejuta mimpi gadisnya tergantung, maka disitulah ia akan selalu berada.

“Omong-omong Ayah sudah memesankan kostum untuk perlombaanmu nanti”

“Bukan warna pink ‘kan?”

Repetisi “Bukan warna pink”

.

.

.

.

A/N : aku balikk lagi hohoho. masih sama dengan tema daddy-daddyan hahaha. Chanyeol with his ballerina. untuk teknik tarian balletnya, kalian bisa baca disini https://en.m.wikipedia.org/wiki/Glossary_of_ballet . hope u like it, thx xoxo🙂

5 responses to “Dearest Ballerina

  1. Kasian banget ya Chanyeol sama si Elma 😢
    Chanyeol tiap hari kayaknya hidupnya selalu was was , takut kalo elma pergi sama kayak ibunya 😹

  2. Hurrah Hurrah!! Daddy2annya comeback wkk But… spertix cerita sedih yg disisipkan dsni jd poin yg ttp diingt smpe diujg.. nyesek ya Dhee.. jd istrinya Chan sdh g ad? Elma skit?? hikzz sO sorrow.. Next ya.. hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s