Dibuatnya Mencinta – Angelina Triaf

IMG_1436

Angelina Triaf ©2016 Present

Dibuatnya Mencinta

Wen Junhui (Seventeen) & OC | Hurt/Comfort | G | Ficlet

0o0

            Seorang gadis kecil terlalu takut untuk jatuh cinta karena pedih yang akan dirasanya. Luka yang tergores saat ia jatuh dalam pesona seorang pemikat hati yang menawan. Goresan luka itu bisa saja semakin meluas sebanding dengan besar cintanya yang semakin menggebu, menorehkan beberapa perih yang semakin menjadi, semakin membuatnya tak bisa lagi menutup apa yang telah bermula di hadapannya.

            Saat seorang gadis kecil jatuh dalam pesona pemikat hati, sebisa mungkin ia berusaha untuk membuatnya melirik, menarik perhatiannya sehingga intensitas pancaindra untuk menemukannya tiap detik akan semakin besar. Gadis kecil yang hanya menginginkan si pemikat hati menoleh padanya, bukan untuk orang di sebelahnya apalagi gadis lain yang dengan sengaja mendahuluinya.

            Pemikat hati yang menawan, mampu menebar bibit mawar merah tanda cinta yang besar. Namun sayangnya bunga itu layu sesaat setelah ia menyentuhnya dengan satu sentuhan lembut jarinya. Si pemikat hati menjauhi padang bunganya sendiri, dan itulah titik di mana tubuh si gadis kecil mendapatkan goresan luka pertamanya.

            Pagi yang indah tak pernah menjadi nuansa roman untuk kala tertentu. Menyelami matanya tak pernah sesulit saat itu, dan sang gadis kecil menyadari bahwa dirinya telah jatuh. Lukanya mungkin meradang di beberapa bagian tubuhnya, hingga perasaan tak terlihat pun ikut menjadi korbannya. Ia telah jatuh cinta, dan konsekuensi dari jatuh ialah menderita.

            Hari demi hari lukanya melebar, ingin berpaling namun hatinya tak kuasa. Ia terlanjur jatuh dalam cinta, dan bahkan cinta pun tak pernah ingin jatuh dalam kehendaknya sendiri. Cinta punya caranya tersendiri untuk mencinta, dan sang gadis kecil masih belum mengerti bagaimana bangkit dari pedihnya jatuh cinta.

            Hingga suatu hari gadis kecil itu menangis dalam diam, senyum merekah di bibirnya hingga membuat sang pemikat hati bertanya ada apa mungkinnya. Timbangan hatinya kembali terombang-ambing oleh batu dan kapas di saat bersamaan, mengingat pedihnya jatuh dalam cinta untuk beberapa saat belakang.

            Gadis kecil yang manis itu tidak meraung kesakitan, tak juga menangis pilu dengan titik air matanya. Ia hanya tersenyum dengan sebuah kepalsuan, mengatakan semuanya baik-baik saja dan memohon pada waktu untuk kembali ke saat di mana segalanya masih berjalan dengan sangat baik. Ia hanya lelah merasakan sakitnya jatuh, ia hanya ingin kembali bernapas lega seolah semuanya tak pernah menyentuh kewarasan.

            Si pemikat hati hanya diam, melihat gadis kecil di hadapannya yang tertawa dengan suara parau. “Apakah ini hal yang tepat? Ataukah terjadi kesalahan?” Sang pemikat hati pun mau tak mau bergulat dengan hatinya sendiri, mempertanyakan ke mana pikiran rasionalnya akan semua ini. Oh, ia tak jahat, hanya tak ingin gadis kecil itu terluka oleh semi cinta yang palsu.

            Sampai pada titik akhir gadis kecil itu menampakkan punggungnya, menatap ke depan tanpa ingin peduli lagi dengan cintanya; si pemikat hati yang menawan. Ia hanya ingin menangis semalam suntuk dan terbangun dengan senyum tulus keesokan harinya. Ia hanya ingin bahagia untuk masa depannya. “Aku tak ayal membawa satu kelopak mawar untuk hati lainnya.” Ungkapannya tertangkap angin barat yang menerpa saat itu.

            Jika mawar menyakiti karena durinya, maka sang gadis kecil memutuskan untuk mengatakan salam pada dedaunan yang gugur. Cintanya tulus untuk sang pohon yang berdiri kokoh, walau angin selalu menjauhkannya dari asal. Dedaunan akan kembali pada tanah tempatnya berpijak, walau secara harfiah ia tidak menapak di tanah yang sama.

            Gadis kecil menulis sesuatu dalam diarinya, gambaran pemikat hati yang baru dengan wajah samar dan hanya ada satu bungkus permen kapas manis yang menutupi wajahnya. Mengatakan, “Hai, pemikat hati ini ingin mencoba mengenalmu.” Gadis kecil itu tersenyum di tengah khayalnya sendiri.

            Sang gadis kecil tak pernah mengharapkan akhir bahagia dalam hidupnya. Ia hanya ingin kisah menyenangkan selalu hadir dalam gulungan filmnya, mewarnai harinya dan senyumnya senantiasa mengembang oleh keceriaan dari pemikat hatinya.

            Hingga kata ‘jatuh cinta’ tak pernah lagi tertulis dalam hidupnya, hanya ada mencinta dan dicinta yang tergambar jelas dalam benaknya. Mencintai Bumi dengan tulus sehingga sang gadis kecil akan dicintai beribu kali lipat oleh langit. Selamat datang kepada hadapan baru yang lebih rumit namun menyenangkan.

            Kasih sayang yang tulus tanpa mengharapkan apa pun selalu menjadi yang terbaik baginya. Gadis kecil itu dapat kembali tersenyum setelah lukanya kering oleh tetesan air surga yang lembut. Ia sadar sebuah kekuatan lain membantunya untuk pulih, dan gadis kecil itu mulai memercayai dirinya sendiri.

            Ketulusan tanpa pamrih selalu menjadi yang terbaik. Bagaimana ia mencintai tak seharusnya pemikat hati lainnya menghampiri. Bagaimana bibirnya terkulum tak harus menjadikan si pemikat hati tersenyum. Bagaimana jantungnya berdetak tak mesti terdengar ketika pemikat hati berpijak.

            Gadis kecil menyadari sesuatu yang lebih berharga dari itu semua. Sebuah hal manis yang menenangkan hatinya, membuatnya mampu bangkit tanpa bayang-bayang cinta yang gila. Tanpa bayang-bayang obsesi, apalagi hanya nafsu sesaat.

            Ia belajar mencinta dengan cara yang benar. Mencinta dengan baik, mencinta tanpa pamrih, mencintai setulus hati dan mencintai hanya pada satu pemikat hati.

            Karena kini si gadis kecil kembali merasakan cinta yang sebenar-benarnya cinta penuh kasih, dan berharap sang pemikat hati akan tersenyum manis dibuatnya mencinta.

 

0o0

“Jun, apa yang sedang kau lakukan?”

Pemuda itu menoleh, mendapati sahabatnya yang kini memandang dengan tatapan penasaran di depan pintu kelas. Dilipatnya kembali kertas itu, sebuah senyum terulas di bibirnya.

“Bukan apa-apa,” balasnya singkat. Hanya anggukan yang ia dapati sebelum akhirnya kesendirian kembali dipegangnya.

Matanya menerawang, menatap kertas itu seakan tak ada objek pandang lain dalam hidupnya.

“Apakah aku sejahat itu?”

Hanya angin yang mendengar bisikkannya, menyampaikan pesan pada hati yang menjumpai penyesalannya.

Satu orang lagi hilang dalam hidupnya, dan itu karena kebodohannya sendiri.

FIN

It’s been a long time since I posted something here. Miss y’all❤

6 responses to “Dibuatnya Mencinta – Angelina Triaf

  1. Haiiii salam kenal ya🙂

    Awalnya lagi cari fanfic seventeen sampe nyasar ke sini.

    aku suka banget sama cerita ini. Plot nya, diksi nya juga. Aku sampe bingung mau komen apa. Pokoknya aku suka banget sama cerita kamu ini.

    Terima kasih ya sudah menulis cerita ini😀

    Semangat terus nulisnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s