ELEVATOR (Suho’s Side) BY PRLLNRHMWT

prllnrhmwt-2.png

prllnrhmwt present

ELEVATOR

Suho & Irene

Teen

Fluff, Romance

Poster by ladyoong ^^

WARNING : ALUR KECEPETAN & TYPO

HAPPY READING

Pagi ini cuaca di ibu kota Korea Selatan, Seoul sudah mulai menghangat. Tidak sepanas beberapa hari dan dua bulan yang lalu. Di Seoul sekarang sudah memasuki bulan Oktober, masuknya musim gugur.

 

Hari ini entah dengan alasan apa aku diundang ke Lee Town Company, salah satu perusahaan yang diberikan investor oleh perusahaan keluargaku. Mau tak mau aku harus menerima undangan itu, tidak baik bukan menolak kebaikan seseorang?

 

Kini aku sedang berada dipintu masuk perusahaan yang cukup besar ini. Aku menghentikan langkahku sebentar. Perusahaan ini cukup besar, meskipun tidak sebesar perusahaan keluargaku. Lalu aku kembali melanjutkan langkahku, menuju elevator yang letaknya ada di ujung. Cukup jauh dari pintu masuknya. Aku tahu karena aku pernah beberapa kali ke sini, bersama Ayahku.

 

Kali ini aku datang sendirian. Tanpa bodyguard Ayahku atau sekretaris. Entah kenapa hari ini aku ingin sendiri dan tak ingin diganggu, oleh siapapun.

 

Sesampainya di depan elevator aku melihat seorang gadis dengan pakaian formalnya sedang merutuk kesal sampai-sampai tak menyadari kalau ada seseorang di belakangnya. Dapat kutebak gadis itu adalah sosok gadis yang ceroboh.

 

Tring.

 

Pintu berwarna silver itu terbuka. Gadis itu melangkahkan kedua kakinya yang dibalut dengan sepatu hitam dengan cepat. Tidak sepertiku yang malah santai saja.

 

Ketika hendak menekan angka, ia juga akan melakukan hal yang sama. “A-ah,” katanya.

Suaranya sangat lembut. Dan sepertinya aku kenal dengan suara ini.

 

Ia menekan angka 26 sedangkan aku menekan angka 11. Aku menolehkan kepalaku, melihat gadis itu sebentar lalu mengalihkan pandanganku lagi

 

Sial.

 

Gadis di depanku ini sangat cantik. Aku benar-benar terpesona oleh kecantikannya—selalu, meskipun sekarang wajahnya terlihat gugup dan memerah—mungkin karena ia takut terlambat tetapi pesonanya tak dapat hilang. Well, ia cantik luar dalam.

 

Kutolehkan lagi kepalaku dan disaat itu juga ia menolehkan kepalanya, membuat kedua iris kami bersibobrok. Astaga. Iris coklatnya benar-benar memabukkan. Aku tak akan tahan melihat iris itu terlalu lama.

 

Dapat kurasakan jantungku berdegup lebih cepat daripada biasanya, oh kuharap ia tak mendengar suara detak jantungku ini. Mau ditaruh dimana wajahku ini, huh?

 

Kapan elevator ini akan berhenti? Bukankah lantai 11 itu tidak terlalu lama jika dijangkau dengan elevator? Tetapi kenapa rasanya lama sekali?

 

Oh ditambah sekelilingku sekarang benar-benar terasa panas. Suhu badanku juga, keringat keluar dari pelipisku. Sial, aku kenapa sih?!

 

JANGAN JANGAN…

 

ELEVATOR INI RUSAK?!

 

 

***

 

 

Dua jam yang lalu aku sudah kembali dari Lee Town Company. Dan sekarang aku sedang dalam perjalanan ke cafeteria kantor dengan benda persegi panjang—handphone yang kutempelkan ditelinga, aku sedang bertelponan dengan seseorang.

 

Kenapa aku memilih untuk pergi ke cafeteria terlebih dahulu? Alasannya simpel, karena cacing-cacing diperutku sudah menagih jatah makannya, singkat kata aku lapar. Oke, itu tidak penting dan tidak ada yang peduli juga.

 

“Aku bertemu lagi dengannya,” kataku sambil mengulum senyuman meskipun orang disebrang sana tak dapat melihat senyum dan wajahku yang memerah ini.

 

“Kapan?” tanya orang itu.

 

Ia adalah Yixing, sahabat sekaligus rekan kerjaku. Sekarang ia ditugaskan ke cabang perusahaan kami di China yang merupakan negara asalnya juga.

 

“Tadi, ia tumbuh dengan baik. Wajahnya pun makin cantik, benar-benar berbeda. Aku saja hampir tidak mengenalinya, jika aku tidak mendengar suaranya ataupun bertatapan dengannya mungkin aku tidak akan mengenalinya. Sepertinya ia bekerja di Lee Town Company. Kalau begitu aku bisa sering-sering ke sana,” kataku.

 

“Astaga kau ingin menjadi stalkernya lagi?! Umurmu sudah 27 tahun Kim Junmyeon! Hilangkan kebiasaanmu 10 tahun yang lalu itu!”

 

Aku terkekeh kala mendengar ocehannya. Kenapa sahabatku gampang sekali dibodohi, sih? Pantas saja ia selalu dipermainkan oleh para wanita, ups.

 

“Aku hanya bergurau, Yixing.”

 

“Sialan. Tapi Junmyeon, kurasa gadis itu juga sudah berkeluarga, kalaupun belum aku tidak yakin dia menerima statusmu.”

 

Aku terdiam. Ucapan Yixing memang benar. Di dunia seperti ini, siapa gadis lajang yang mau dengan pria beranak satu sepertiku? Ayolah, kemungkinannya hanya 1 dari 10 orang!

 

Entah kenapa aku menjadi tidak percaya diri. Ia tak akan mungkin mau denganku. Saat di SMA saja ia tak mengenaliku karena kami tidak pernah satu kelas. Kami sering bertemu—hanya berpapasan sih— sebenarnya tetapi dia tidak mengetahui namaku, hanya aku yang mengetahui namanya. Bukan hanya namanya, saat itu aku mengetahui semua tentangnya. Bagaimanapun juga dulu aku adalah seorang stalker.

 

“Aku tutup ya, bye.” Langsung saja kututup sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban dari Yixing. Entah kenapa aku tidak ingin melanjutkan topik obrolan tadi. Well, aku benar-benar sensitif jika menyangkut hal itu sepertinya.

 

Sekarang aku sudah sampai di cafeteria kantor. Tempat ini benar-benar ramai. Hampir semua tempat duduk terisi, nyaris tidak ada yang kosong. Sial, kalau begini aku aku tidak akan mendapatkan tempat! Ayolah perutku sudah sangat lapar!

 

Ketika mataku sedang mencari tempat yang benar-benar kosong, aku menemukan seseorang yang tengah duduk sendirian sambil bertelpon, tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Mungkin… ini yang dinamakan ‘kalau jodoh tak akan lari kemana-mana’?

 

Senyumku mengembang kala otakku mengulang kata ‘jodoh’.

 

Langsung saja kulangkahkan kedua kakiku menuju tempatnya. Suara kaki ku terdengar cukup keras, tetapi ia sama sekali tak peduli. Sifatnya benar-benar tidak berubah, masih sama seperti 10 tahun yang lalu. Hanya wajahnya saja yang berubah.

 

“Ah kau perempuan yang tadi ‘kan?”

 

Aku berbicara seolah-olah aku tidak sengaja menemukannya di sini, well itu memang benar tetapi nyatanya aku yang menghampirinya ke sini.

Wajahnya tampak kaget, lucu sekali. Tanganku gatal untuk tidak mencubit pipinya yang kemerahan itu. Sial. Kenapa ia jadi semakin cantik sih?!

 

Tangannya menjatuhkan sendok yang tadi dia pegang. Membuat suara nyaring dan perhatian di cafeteria ini pun tertuju pada kami.

 

“Aku Kim Junmyeon, siapa namamu?”

 

Basa basi, tentu saja. Aku sudah tahu siapa namanya. Aku hanya tidak ingin pertemuan kami ini berakhir dengan biasa-biasa saja.

 

“A-aku Bae Juhyeon, panggil saj-“

 

“PAPA!”

 

Aku menolehkan kepalaku saat mendengar suara cempreng yang sudah sangat akrab ditelingaku.

 

“Ah, Myeonju! Papa di sini!”

 

Aku melirik wajah Juhyeon sekilas. Ia terlihat kaget saat aku mengucapkan kata ‘Papa’.

 

Aku menggendong Myeonju. Membiarkan anak itu memeluk leherku. Aku tidak kaget kenapa dia bisa di sini padahal aku tidak bilang padanya, dia bisa saja memaksa Woo Ahjussi untuk memberi tahu di mana aku berada dan menyuruh pria yang sudah 16 tahun bekerja untuk keluargaku untuk mengantar anak itu ke sini. Hidup tanpa kasih sayang seorang Ibu membuat sikap Myeonju menjadi pemaksa.

 

“Papa! Hari ini benar-benar menyebalkan. Bibi Kim kapan kembali? Aku bosan bermain sendiri!” Ucapnya saat berada digendonganku.

 

“Eh? Kok tumben kamu mengeluh? Padahal ini sudah hari ketujuh Bibi Kim pulang kampung.” Tentu saja aku kaget, selama ini ia tidak pernah mengeluh.

 

“Pokonya menyebalkan, Pa! Aku ‘kan ingin bermain bersama-sama, bukan sendirian! Sendirian itu tidak menyenangkan.” Diakhir kalimat, suaranya mengecil.

 

“Kenapa kau tidak mengajak para maid untuk bermain denganmu?”

 

“Yang benar saja Pa! Mereka selalu disibukkan dengan berbagai urusan rumah, mana mungkin mereka mau menyempatkan waktu untik bermain denganku. Tugas mereka sudah cukup banyak. Lagipula aku tidak yakin apa mereka dapat bertahan lama jika bermain denganku. Oh ya, siapa tante itu?”

 

“Ah aku sampai lupa. Maaf mengabaikanmu Juhyeon-ssi. Ini anakku, namanya Kim Myeonju.”

 

Aku berkata. Membuat perhatiannya yang tadi terfokus pada Myeonju teralih padaku.

 

Kedua matanya membulat dengan mulut yang sedikit terbuka. Aku tidak kaget dengan ekspresinya sekarang karena aku sudah dapat menebaknya.

 

“Dan Myeonju, tante itu adalah…

 

Calon ibumu.”

 

1 detik…

 

2 detik…

 

3 detik…

 

Sial! Apa yang baru aku katakan?!

 

Wajahnya sekarang lebih kaget dari sebelumnya. Aku mengutuk mulutku yang tidak bisa mengontrol ucapanku. Sial! Mau kutaruh di mana wajahku ini!

 

Dia pasti akan jijik padaku!

 

 

Ugh.

 

 

Kumohon, berikan aku mesin waktu untuk mengulang kejadian tadi!

 

 

fin.

 

sbnrnya ini sama aja sih sama yg kemaren :3 cuma disini kan fokusnya ke suho;v awalnya ragu mau bikin ini tp pasti bakal ada tanda tanya besar klo ini gadibikin/? xD

 

ada yg mau sequel? aku bisa bikinnya sih cuma pasti bakal lamaaaaaaa banget xd soalnya aku jg ada project ff lain jadi agak ragu juga, tapi kalau mau nunggu aku bikinin kok xDD

 

see you next time!

19 responses to “ELEVATOR (Suho’s Side) BY PRLLNRHMWT

  1. Daebaaak, jadi Suho itu keceplosan ngomong calon istri hahahahaha..
    tapi Suho udah suka sama Irene dari jaman SMA, dan Suho itu stalkernya Irene..
    kyaaaaaaaaaa cute banget hahaa..
    please dijadiin sequel..
    ditunggu sequelnya ^^

  2. Huahhhhh perlu bgt sequel ini mhh…hrs tw gmn irene nerima g..trzz wkt suho jd stalker y d SMA y…d tunggu ko…

  3. oaalaa ternyata suho udh jadi stalker dri sma ckckc pantesan pasketemu langsung ngomng “calon ibu”
    ditunggu sequelnyaaa

  4. waaaah si joon ternyata pengagum rahasianya joohyeon ya?
    kira2 joohyeon mau nggak ya sama duren satu anak?😀
    sequel pliiss ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s