[Chapter 1] My Father Was An Idol

selviakim-my-father-was-an-idol

Author name : Selviakim
Title : My Father Was an Idol
Main Cast : Kris EXO-M, Kaiya Saley (Ulzzang Kid), dan Kwon Su Jeong (Ulzzang Korea)

Genre : Idol-Life, Family, Brothership, Comedy, Romance, Drama, and Fluff.

Summary : Kris adalah salah satu member Boyband yang terkenal sebut saja EXO. Tapi, ternyata dia memiliki sebuah rahasia.. Apa Rahasia yang telah dia sembunyikan dari semua orang kecuali keluarganya?

Disclaimer : Pemain yang ada di cerita milik Tuhan YME dan orang tuanya masing-masing. Saya hanyalah pembuat cerita. Cerita ini 100% milik saya, serta please don’t plagiat this story!

A/N : Di cerita ini, menceritakan album Overdose keluar beberapa bulan sebelum keluar yang aslinya (Aslinya Mei 2015).

WARNING!!

Typo’s bertebaran

.

Poster by : Harururu98 – Cafe Poster Art ( Thank you for amazing poster kak,❤  )

-Happy Reading-

-My Father Was An Idol Chapter 1-

-Kris POV-

Aku berada di belakang panggung, sebentar lagi kami akan tampil. Aku belum menjelaskan secara detail, namaku Wu Yi Fan atau biasanya di panggil Kris. Aku salah satu member Boyband terkenal sebut saja EXO. Ini adalah tahun 2014. Di tahun 2013 kemarin, aku mempunyai rahasia yang tidak diketahui oleh member, manager, bahkan agensi ku sendiri. Rahasianya adalah….

“Kris, satu menit lagi kita akan tampil. Persiapkan dirimu” ucap Xiumin, kami hanya berbeda beberapa bulan dengan Xiumin yang lebih tua daripada aku.

Ne, Xiumin..” jawabku. Terpaksa, aku sudah bersiap-siap dan mengosongkan pikiranku untuk saat ini. Aku dan member EXO yang lainnya akan menyanyikan lagu baru kami ‘Overdose’. Aku dan member EXO-M lainnya sudah menyelesaikan promosi di China, sekarang saat nya kami tampil ber-12. Para member lainnya sudah ada di sini, kami berdoa menurut kepercayaan masing-masing.

Aku dan yang lainnya tampil di panggung. Di pertengahan lagu, aku melihat Ibuku dan dia. Mengapa Ibu ke Seoul? Dan bukannya dia harus sekolah?Apa dia liburan? Musik pun berhenti. Sehingga membuat pikiran ku yang tadinya bingung melihat dia ada di sini, kembali menjadi semula. Kami pun semuanya turun dari panggung.

“Kris, ada apa denganmu?” Tanya manager terhadap ku.

“Aku tidak apa-apa” jawabku sambil membuat ekspresi wajah sedikit menyakinkan, “maafkan aku” sambungku.

“Yang penting jangan di ulangi lagi. Dan untuk semuanya, terima kasih telah melakukan yang terbaik” ucap manager.

“Nde” ucap kami serempak. Dan tentu saatnya untuk kami kembali ke dorm.

***

Kami pun tiba di Dorm. Sebelum aku masuk kamar dan berganti baju, aku langsung mengambil syal, topi, dan kacamata untuk menjadi bahan-bahan penyamaranku. Sebelum aku memegang pintu depan dorm, Luhan menahanku.

“Kris, kau mau pergi ke mana?”Tanya Luhan.

“Aku akan pergi keluar sebentar, aku akan segera kembali” ucapku langsung mengambil kunci mobil yang ada di dinding tepat di samping pintu depan. Aku pun keluar dari Dorm, dan langsung masuk ke dalam mobil untuk pergi ke Apartement Ibuku.

Aku  tiba di Apartement Ibuku. Ibuku masih terjaga, sedangkan dia sudah tidur. Aku pun langsung menanyai Ibu yang sedang membuat teh dingin.

Mom, mengapa kau pergi ke Seoul? Bukannya dia harus pergi ke sekolah?” ucapku langsung. Ibuku hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya yang pada awalnya langsung menekan bel hampir sepuluh kali karena tidak ada jawaban dari orang yang ada di dalam rumah, dan langsung saja ketika masuk, segera memberikan pertanyaan-pertanyaan.

“Duduklah dulu dan minumlah teh dingin ini. Kalau perlu lepaslah penyamaranmu juga. Kau membuat Ibumu ini takut” jawab Ibuku. Tanpa aba-aba aku langsung duduk. Melepaskan penyamaranku ini dan meminum teh yang dibuatnya untukku.

Mom, kau belum menjawab pertanyaanku” ucapku, setelah menghabiskan teh ini.

“Kaiya sedang liburan selama dua minggu, dia ingin bersamamu.” Jawab Ibuku dengan singkat. Namun sangat jelas, hingga membuatku mengerti.

“Aku akan mengusahakannya” ucapku sambil beranjak menuju ke kamar anakku. Lebih tepatnya anak angkatku. Aku mengangkatnya ketika aku ke Canada tahun 2013 lalu, saat itu aku pergi ke panti asuhan. Menemukannya, yang sedang duduk di taman panti. Aku menghampirinya, menanyakan banyak hal padanya. Ternyata dia tidak mengetahui siapa diriku waktu itu. Aku pun berpikiran untuk mengadopsinya, aku sudah mengatakannya kepada Ibuku. Awalnya Ibuku menolak, tapi pada akhirnya ia memperbolehkannya. Ketika aku di China aku tidak menginap di dorm, melainkan di rumahku dan tidur bersama Kaiya. Jika aku di Seoul, Kaiya akan diurus Ibuku. Nama aslinya adalah Kaiya Saley. Aku mengubahnya menjadi Kaiya Wu. Tapi, tetap saja dia akan menggunakan nama ‘Kaiya Saley’ jika di Barat.

***

Aku membuka pintu kamarnya. Dia sedang terlelap. Aku pun duduk di tepi kasur, dan merapikan rambutnya yang menutupi wajahnya. Aku mencium keningnya. Setelah selesai melakukannya, aku pun keluar dari kamar.

Tanpa ku ketahui Kaiya belum sepenuhnya terlelap.

***

Aku pun kembali ke dorm. Sungguh aku sangat lelah hari ini. Beruntungnya, besok kami tampilnya malam hari. Jadi, aku memiliki kesempatan untuk beristirahat. Walaupun sebentar tapi itu sangat berarti untuk seorang Idol sepertiku. Aku memasuki pintu kamar yang ku tempati bersama Chen dan Tao (Mian,kalau salah. Soalnya aku ga tau Kris sekamar dengan siapa jika di dorm Korea =D ). Aku langsung merebahkan diriku ke kasur. Setelah selesai melepaskan penyamaranku. Aku memainkan ponselku, aku melihat fotoku bersama Kaiya di sebuah folder yang ku simpan. Pada saat itu, dia baru tiba di Cina. Dan aku mengajaknya berkeliling Cina, tentu saja dengan penyamaranku. Mungkin aku merupakan ayah yang buruk. Memintanya belajar dua bahasa, Korea dan Cina. Sekarang dia sudah bisa berbicara menggunakan dua bahasa lagi. Mungkin aku akan mengajarkannya belajar bahasa Indonesia, kkkk~~.  Aku pun meletakkan ponselku di samping setelah aku berpikir hal-hal tadi. Dan aku langsung terlelap.

Aku merasa tubuku di gerakkan oleh seseorang, membuatku terbangun. Aku mencari siapa yang membangunkanku, padahal jadwal tampil malam nanti. Ternyata Tao. Dia langsung menanyakan sesuatu yang bahkan aku bingung untuk jawabannya.

“Siapa anak ini ge?”

‘Aiisssh!! Mengapa aku lupa mengembalikan layar ponselku ke Home?!’ batinku.

“I-itu…itu….. hanya seorang fans”

“Benarkah? Tapi mengapa gege menyimpannya?”

“Mungkin karena dia lucu?” ucapku yang sendiri pun juga bingung. Aku hanya dapat berdoa semoga Tao tidak akan menanyakan hal yang lain lagi. Untungnya, doaku di kabulkan. Tao keluar dari kamar. Tapi aku merasa ada yang aneh. Apakah itu? Aku berusaha berpikir. Aku mengingatnya! Ponselku di bawa sama Tao. Aku berharap semoga dia tidak memberitahu dengan yang lainnya. Sebelum aku pergi keluar untuk mengambil ponselku, aku  pergi ke kamar mandi terlebih dahulu.

***

Aku baru selesai mandi, aku langsung keluar kamarku setelah berpakaian. Aku melihat mereka memandangiku, aku pun melirikkan mataku ke arah Suho. Sial, dia menggenggam ponselku. Tao, anak itu benar-benar…

“Ada apa?” ucapku langsung. Tentu saja dengan gayaku (read= dingin/cool)

“Siapa anak ini Ge?” jawab Suho kepadaku sambil memperlihatkan layar ponsel yang dia genggam kepadaku. Aku memutar kedua mataku dengan sedikit malas.

“Hanya seorang fans” jawabku langsung mengambil ponselku. “Apa ada yang kau sembunyikan dari kami Kris?” tanya Xiumin. Tentu saja ada. Tapi,  bukan saatnya kalian mengetahui semuanya.

“Tentu saja tidak..” ucapku terpotong, “aku ingin pergi keluar” sambungku. Aku melihat mereka yang terlihat kebingungan melihatku. Memang ada yang salah?

“Kemana lagi Ge?Bukannya tadi malam Gege sudah keluar ya? Gege juga belum makan” ucap Chen tanpa henti. Aku mendesah pelan. “Kau tidak perlu tahu. Begitu juga dengan kalian” ucapku langsung pergi keluar dari dorm tanpa melihat mereka lagi. ‘Belum saatnya mereka tahu semuanya’ batinku. Aku pun mengambil mobil. Aku ingin pergi ke Apartement Ibuku, tentu saja untuk bertemu dengannya dan Kaiya. Setelah cukup lama berkendara, aku sudah tiba di depan pintu Apartement Ibuku. Aku memencet bel. Beberapa detik kemudian, terlihat anak kecil membukakan pintu Apartement. Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa tamunya yang sangat tinggi itu. Tentu saja, dia terkejut dan langsung memelukku.

Daddy!” ucapnya sambil memeluk kaki panjangku ini.

Hi Kaiya” jawabku sambil menggendongnya yang sudah kelas 6 ini dan masuk ke dalam rumah.

Daddy, where are you? Why you not live here? I really miss you” ucapnya dengan bahasa Inggris saat kami memasuki ruang tamu. Tentu saja aku menegurnya. “Ini Korea. Berbicaralah bahasa korea, dear” jawabku sambil menatapnya. “Arraseo, arraseo” jawabnya sambil melihat ke arah lain. Tiba-tiba, Ibu berteriak dari dapur. Sepertinya dia tahu siapa yang datang dari teriakkan keras Kaiya tadi.

“Yi Fan, Kaiya, ayo makan!” ucap Ibu, aku pun membawa Kaiya ke ruang makan dan mendukkannya di samping kursi kananku. Sedangkan Ibu di samping kursi kiriku. Kami pun makan bersama, sungguh aku sangat merindukan semua ini. Dan selama makan, kami tidak berbicara apa-apa. Tentu saja, karena aku dan Kaiya tahu jika sedang makan tidak ada yang berbicara hingga semua selesai makan. Itu adalah aturan yang dibuat oleh Ibuku.

***

Akhirnya kami semua selesai makan, aku memulai pembicaraan.

Mom, aku ingin mengajak Kaiya jalan-jalan” ucapku sambil memandangnya. Kemudian mengalihkan pandanganku ke arah Kaiya. Sepertinya dia terlihat terkejut bercampur senang.

“Apakah kau tidak memiliki jadwal?” jawab Ibuku, yang membuatku menatapnya. “Aku akan tampil nanti malam” jawabku.

“Baiklah” jawab Ibuku. “Mom, apakah kau ikut?” Tanyaku padanya. “Tidak, aku ingin beristirahat. Hmm, aku akan membantu Kaiya mencari baju.”

“Baiklah” jawabku mengakhiri percakapan kami berdua. Aku melirik Kaiya yang sedang tersenyum senang. Sepertinya dia sangat bahagia. Sementara Ibuku membantu Kaiya mencari baju, aku pun menyamarkan diriku sebagai artis. Bagaimana jika ketahuan? Mungkin akan ada berita seperti ini ‘Kris EXO Sedang Berjalan-Jalan dengan Anak Kecil’ atau ‘Kris EXO sudah menikah?’. Sungguh, itu bukanlah hal yang aku inginkan. Aku membuang pikiranku jauh-jauh. Aku menutup diriku dengan baju Putih, jaket Biru gelap, topi merah, masker putih, dan Jeans berwarna Biru. ‘It’s My Style’ batinku dengan tersenyum. Baru saja aku menyelesaikan acara ganti bajuku, Kaiya juga baru selesai mengganti bajunya dengan style yang simple menurutku. Dengan bando di atas kepalanya.

post-31243-0-40627000-1340632583_thumb

***

Untungnya, cuaca Seoul sangat sesuai dengan keadaan hatiku dan Kaiya. Aku menyetir mobil, sedangkan Kaiya duduk di sampingku. Dia sangat senang sepertinya. Aku memulai pembicaraan.

“Kaiya, kita makan di sekitar Mall, ne?”

Nde. Daddy, kemarin Kaiya lihat Daddy nyanyi dan nari di atas panggung. Daddy sangaaaatttt tinggi” ucapnya, yang membuatku agak geli mendengarnya. Memang, aku yang paling tinggi di EXO.

“Iyaaaa, sweety.” Jawabku.

Tak terasa, kami telah memasuki kawasan Mall. Aku memakirkan mobilku. Kemudian, aku keluar dengan penyamaranku. Kaiya keluar dengan sendirinya, jadinya aku tidak perlu susah-susah membukakannya pintu. Aku pun meraih tangannya Kaiya dan menggenggamnya. Di sepanjang jalan aku dan Kaiya sangat senang melewati toko-toko di sini. Mungkin ini memang hal yang sangat biasa bagi kebanyakan orang. Tapi, ini adalah bagian terbaik untuk hari ini. Karena aku bisa jalan-jalan dengan Kaiya, di tengah kesibukkan diriku. Akhirnya, kami pun duduk di sebuah café dekat jendela luar. Aku duduk di samping Kaiya. Dia sedang memilih makanan di daftar menu setelah dia melepas mantelnya, tak sengaja dia menoleh ke arahku, dan aku mengambil fotonya.

1385818349-2290081372-o

“Maaf, sweety~” ucapku berbisik ke telinganya. Mendengar ucapanku, sepertinya dia mengetahuinya. Langsung saja, dia memalingkan wajahnya dariku dan langsung memberikan buku menu kepadaku tanpa melirikku. Aku pura-pura mengacuhkannya. Mana mungkin, aku berbicara. Para fans pasti akan segera mengetahuinya. Termasuk pelayan yang sedang melayani kami, mungkin penggemar EXO.  Aku pun melihat daftar menu, aku ingin memesan Jjajangmyeon. Aku memukul bahu Kaiya dengan sedikit lembut (?), dan menunjuk text tulisan ‘Jjajangmyeon’. Sepertinya, dia paham maksudnya.

“Nona, Jjajangmyeon dua” ucapnya.

Ne, silahkan tunggu terlebih dahulu” jawab pelayan itu. Ketika pelayan itu pergi, aku langsung berbicara kepada Kaiya.

“Kaiya, Mianhaeyo? Peace..” kataku sambil membuat angka dua di jari kananku dan meletakkannya di samping wajahku. Dia melihatnya dengan datar, lalu mengangguk. Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di depan kami berdua, aku dan Kaiya menoleh. Aku kaget melihatnya. Apalagi ketika mendengarnya berkata sesuatu yang memang harus aku hindari.

“Kris, siapa anak ini sebenarnya?”

-TBC-

7 responses to “[Chapter 1] My Father Was An Idol

  1. Ahh kangen kris , aku suka critanya ringan dan yg jd kaiya lucu .
    Next chap cpet dipost yaa author-nim fighting .
    Klau bleh tau update nihh ff brapa hri sekali , atau boleh tau wp pribadinya ?? 😀

  2. Huwaaa next next next..,
    Siapa itu yg nyamperin kris sama kaiya?
    Next, pnsarn sma lanjutannya.

  3. kris ge, kan jadi kangen sama kris😦 huwaaaaa
    tapi cerita’ya seru sih kek’ya😀 baru mulai baca soal’ya heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s