ONE MORE TIME [CHAPTER 3] – BY SEBIE

One more time11

|Title: One More Time (Chapter3)|

|Author : Sebie (@RandikaOh)|

|Main Cast: |

|Nam Yoora(OC/You)|

|Byun BaekHyun (EXO K)|

| Kim Seok Jin (BTS) |

|Other cast : |

|Kim Jaehyun (Jin’s Brother)|

|Byun Sena (Baekhyun’s sister)|

|Oh Sehun (EXO K)|

|Ahn Minji (OC)|

|Lu Han |

|Length : Chapter|

|Genere : Romance, little bit angst|

|Rating : PG-17

|Disclaimber : ini ff ku hasil pemikiran saya sendiri. Don’t be siders,, don’t be palgiator. Please Leave your comment after read. Siders dilarang keras membaca ceritaku! |

|Pervious Chapter : Prolog | Chapter1 | Chapter 2 |

 

Happy reading!!

 

Yoora membuka matanya perlahan, ia melihat Baekhyun yang duduk di tepi ranjang. Kalau ia tidak salah lihat Baekhyun sedang mengacak-acak rambut dan sedikit menguap. Yoora tersenyum tipis melihat Baekhyun menguap, lucunya laki-laki itu saat bangun tidur. Yoora menggeliatkan badannya, memberikan sinyal pada Baekhyun bahwa ia sudah bangun.

 

“Kau sudah bangun rupanya, mau kubantu bangun?”

 

Yoora menganggukan kepalanya. Ia bisa melihat Baekhyun yang mendekat pada dirinya dan membantu ia untuk bangun dari tempat tidur. Sejujurnya ia bisa melakukan sendiri tapi mendengar tawaran yang Baekhyun ucapkan membuat dia ingin lebih lama di perhatikan Baekhyun.

 

Yoora mengingat kejadian semalam, saat ia menahan Baekhyun agar tetap menemaninya di kamar, bahkan sampai mereka tidur dalam ranjang yang sama. Gadis ini masih ingat betul bagimana rasa hangat yang Baekhyun berikan, aroma mint  dari tubuh laki-laki itu masih Yoora ingat dengan baik. Yoora menghelakan  nafasnya pelan mengingat apa yang ia lakukan semalam menahan Baekhyun, memeluk Baekhyun, dan tertidur diatas dada pria itu. Wajah Yoora mulai memerah mengingat kejadian semalam, terakhir yang ia ingat adalah Baekhyun mengecup puncak kepalanya.

 

“Yoora, kau baik-baik saja kan?” Baekhyun menatap Yoora dengan rasa khawatir, ia memegang kening Seohwa yang terasa baik-baik saja saat ini.

 

“Aku, aku baik-baik saja” Yoora menyingkirkan tangan Baekhyun dari keningnya sebelum wajahnya semakin memerah.

 

“Kau ingin kubuatkan sarapan apa?”

 

“Mungkin roti isi saja” Yoora mengulas senyumnya tipis, entah sejak kapan Baekhyun menjadi begitu memperhatikannya seperti sekarang.

 

Baekhyun mengangguk, sejenak ia memperhatikan Yoora yang mencoba turun dari ranjangnya. “Kau ingin kemana biar ku antar”

 

“Kamar mandi, aku ingin cuci muka dan sikat gigi”

 

Baekhyun mulai memapah Yoora, keadaan kakinya saat ini masih sama saja tidak ada perubahan yang terjadi. Tapi setidaknya sudah tidak terlalu bengkak seperti tadi malam.

 

Yoora berpegangan pada westafel erat berjaga-jaga jika dirinya nantinya terjatuh tapi sepertinya hal itu tidak akan terjadi karena Baekhyun menjaganya dari belakang. Ia mulai mencuci mukanya dan menggosok giginya. “Baekhyun bisa minta tolong ambilkan aku handuk?”

 

Baekhyun meraih handuk yang ada di almari kamar mandi, saat ia akan memberikan handuk pada Yoora gadis itu sudah terlebih dahulu membalikan badan dan membuat mereka berhadapan dengan jarak yang cukup minim.

 

“Terimakasih” Yoora mengambil handuk dari tangan Baekhyun dan tersenyum kaku, ia membalikan dirinya dan menatap pantulan wajahnya di cermin.

 

“Baekhyun, apa aku harus mencuci mukamu?”

 

“Hah?” Baekhyun terkejut mendengar pertanyaan Yoora, entah ini lebih mengarah pada penuntutan atas apa yang Baekhyun lakukan pada Yoora, atau bentuk terimakasih dari gadis itu Baekhyun tidak tahu menahu akan hal itu saat ini.

 

“Kemarilah Baekhyun” Yoora sedikit menyingkir dari depan cermin, ia meminta Baekhyun untuk berdiri tepat di depan cermin.

 

Baekhyun mengikuti perintah Yoora, ia mulai menghadap cermin mukanya terlihat kusut atau lebih tepatnya saat ini ia sedang bermuka bantal. Baekhyun mulai tersadaar saat Yoora menekan lehernya meminta Baekhyun untuk sedikit menunduk.

 

Yoora membasahi wajah Baekhyun, ia melakukannya dengan begitu hati-hati. Gadis ini merasa sedikit canggung ketika melakukan beberapa sentuhan pada wajah Baekhyun. Ini pertama kalinya ia melakukan ini atau lebih tepatnya meraka melakukan ini.

 

“Angkat kepalamu Baekhyun”

 

Hanya ada sedikit interupsi dari Yoora tapi bahkan tanpa interupsi itupun ketika tangan Yoora menjauhkan tanganya dari wajah Baekhyun pun laki-laki itu akan mengangkat kepalnya segera.

 

Baekhyun sedikit tercengang ketika Yoora mengelap wajahnya, gadis itu bahkan tak mengatakan sepatah kata hanya terus fokus pada wajah Baekhyun. Baekhyun menatap Yoora dengan begitu detail setiap lekukan wajah Yoora membuat Baekhyun ingin menatap wajah gadis itu lebih lama ini membuat kerja jantunnya berkali-kali lebih cepat. Baekhyun menggenggam pergelangan Yoora dengan erat memberikan tanda agar gadis itu berhenti membersihkan air dari wajahnya.

 

“Kenapa?” Yoora menatap Baekhyun dengan canggung.

 

Tidak ada jawaban dari Baekhyun yang ada hanya suara jam dinding yang terus berdetak. Keduanya terdiam dan saling menatap dengan lembut. sampai akhirnya Baekhyun mengeluarkan beberapa patah kata.

 

“Kenapa, kenapa kau lakukan ini padaku Yoora”

 

“Apa? aku hanya membilas wajahmu apa kau tidak menyukainya?”

 

“Bukan, bukan tentang membilas wajahku”

 

Yoora menautkan kedua alisnya, ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Baekhyun saat ini. gadis ini reflek memundurkan badannya sampai ke dinding saat Baekhyun memajukan kepalanya dan menghapus jarak di antara wajah mereka. wajahnya memanas saat ini Yoora bisa merasakan deru napas Baekhyun, jantungnya berdegup sangat cepat ia bahkan menahan napasnya.

 

“Kupikir sudah saatnya untuk sarapan. Bagaimana jika kita keluar sekarang?”

 

Yoora hanya mengangguk perlahan, ia menghela napas lega ketika Baekhyun mejauhkan wajahnya. Ketika Baekhyun kembali membantunya untuk menuruni tangga Yoora rasa Baekhyun tidaklah buruk.

 

“terimakasih” Yoora mengulas senyumnya tipis dan duduk di kursi meja makan.

 

Baekhyun menyibukan dirinya dengan beberapa lapis roti tawar saat ini, ia mengeluarkan beberapa selai dari kulkas karena ia tidak cukup tau apa yang Yoora inginkan.

 

“Kau mau rasa apa?”

 

“Aku mau yang strowberry”

 

Selang lima menit Baekhyun memberikan Yoora roti dengan selai strowberry dan segelas susu. Ada yang sedikit mengganjal Yoora saat melihat Baekhyun memberikan sarapannya. Saat tangan Baekhyun begitu sibuk dengan piring dan gelas untuknya, bibir laki-laki itu tengah sibuk dengan roti tawar yang di gigit rambut Baekhyun yang masih terlihat berantakan membuat Yoora ingin menahan napasnya lagi.

 

Yoora berusaha berdiri dari kursi, ia mengambil roti tawar yang ada di bibir Baekhyun. Yoora meletakkan roti itu dipiringnya.

 

“Makanlah sambil duduk Baekhyun” Yoora mengambil piring dari tangan Baekhyun, ia meletakan piring di atas meja tidak lupa Yoora mengambil segelas susunya.

 

“Apa kau begitu lapar sampai makan sambil jalan begitu?”

 

“Mungkin”

 

Baekhyun kembali memakan rotinya, tidak ada percakapan lebih lanjut di antara mereka. Yoora mulai sibuk memakan rotinya juga, tapi diam-diam Baekhyun sesekali melirik Yoora yang begitu tenang. Dalam hatinya ia bahkan tidak pernah memikirkan akan sarapan bersama Yoora seperti sekarang.

 

“terimakasih untuk sarapannya”

 

Yoora memandangi Baekhyun yang masih menghabiskan sarapan, memang hanya untuk beberapa menit saja tadi ia dan Baekhyun sama-sama berada dalam keadaan saling tidak bicara. Yoora mulai berpikir jika suatu saat mereka menikah akan kah mereka seperti ini di saat pagi hari?

 

Yoora kembali menatap Baekhyun yang masih belum menanggapi ucapannya, gadis ini memutuskan untuk pergi dari meja makan karenaia tidakingin terlihat lebih canggung lagi dengan Baekhyun.

 

Hari sudah semakin siang tapi Yoora hanya berada di kamarnya sambil memandangi keluar jendela, beberapa kali ia menghela napas kasar. ia berandai-andai jika Minji ada disini mungkin sekarang gadis iu sudah mengoceh panjang lebar dengan Minji.

 

“seharusnya aku mengajak Minji”

 

Yoora menghela napasnya kasar, ia ingat pesan terakhir yang Minji kirim tadi pagi, gadis itu marah-marah dan meminta penjelasan darinya. Yoora menatap kasurnya dengan lama, ia memikirkan kejadian semalam yang membuat mukanya merah saat ini. tidur dengan Baekhyun untuk pertama kalinya tentu membuat ia merasa sangat malu apa lagi saat ia meminta Baekhyun untuk tetap tinggal di kamarnya. Yoora menutup wajahnya dengan tepalak tangan ia tidak bisa mengingat hal itu lagi.

 

“kenapa kau menutup wajahmu seperti itu? apa kau sakit?”

 

Yoora mengangkat wajahnya menatap Baekhyun yang berada di depan pintu kamarnya. oh seharusnya ia menutup pintu kamarnya agar Baekhyun tidak keluar masuk sesukanya seperti saat ini.

 

“Tidak, ada apa?”

 

“Aku hanya berpikir mungkin kau bosan”

 

Iya, Yoora sangat bosan saat ini hanya menatap keluar jendela tanpa bisa menikmati liburannya itu sama saja menyiksanya. “Baekhyun apa kau akan keluar sekarang?”

 

“Tidak, aku sibuk”

 

Sibuk dan akan selalu sibuk itulah Byun Baekhyun. Baekhyun melihat raut kekecewaan di wajah Yoora. Gadis itu sudah sangat bosan seharusnya ia tau tapi Baekhyun tidak bisa melakukan apapun karena ia harus tetap bekerja.

 

“Maaf tapi aku benar-benar sibuk, lebih baik kau istirahat Yoora”

 

Yoora menatap punggung Baekhyun yang menjauh dari pandangannya. Ia mengerti sekarang bagaimana hidupnya anti akan berlanjut Baekhyun tidak cukup untuk memahaminya saat ini, tapi Baekhyun-lah yang dipilih oleh orang tuanya Yoora tidak mempunyai kuasa apapun tentang menentang perjaodohannya.

 

Lagi-lagi wajah Yoora terlihat begitu murung saat ini, ia tidak mengerti kenapa ia tidak pernah bisa memberontak padahal ini semua adalah hidupnya. Minji, saat ini sangat ingin bercerita pada Minji satu-satunya yang akan mendengarkannya dan memberikannya sebuah rasa nyaman dan tenang.

 

Yoora meraih ponselnya di meja samping kursi ia duduk, ia menautkan kedua alisnya saat nama Seokjin terpampang di layar ponselnya, tapi sedetik kemudian ia mengembangkan senyumnya ia rasa Seokjin menelpon di saat yang tepat.

 

“Hallo?”

 

“Oh, Yoora-ya kau ada di mana sekarang? Aku sedang berada di Jepang”

 

Seketika Yoora melebarkan matanya, Seokjin berada di Jepang apa yang harus gadis ini lakukan? sedangkan kakinya dalam keadaan yang buruk. Ia sangat ingin menemui Seokjin saat ini beharap laki-laki itu bisa mengusir rasa bosannya, tapi keadannya sangat tidak memungkinkan untuk pergi keluar.

 

“Seokjin-ah kau dimana saat ini? mm.. mungkin aku akan kesana”

 

Yoora mengigit bibir bawahnya, ia mengerti risiko apa yang ia ambil saat ini dengan kakinya yang cidera, tapi gadis ini bosan bahkan Baekhyun hanya membiarkannya berada dalam kamar atau lebih tepatnya tidak megacuhkan Yoora.

 

“Aku berada di Kyoto, kau tau bukit yang berada di Kyotokan? Jika tidak biar aku menemuimu dan mengajakmu kemari”

 

“Tidak perlu aku tau itu dimana, aku akan segera kesana”

 

Yoora tidak bisa membiarkan Seokjin menjemputnya jika Seokjin menjemputnya bisa saja tiba-tiba Baekhyun keluar dari rumah dan melihat Seokjin. Akan lebih baik jika Yoora yang menemuinya. Gadis ini benar-benar harus menahan rasa sakitnya untuk beberapa saat daripada Seokjin datang dan menjemputnya.

 

Dengan segera Yoora menutup telpon dan mengganti baju, ia menimbang-nimbang betul apa yang akan ia gunakan sebagai alas kaki saat ini, jika ia menggunakan sandal rumah itu begitu memalukan tapi jika ia menggunakan Heels sama saja ia ingin menambah lukanya. Yoora tidak punya banyak pilihan selain menggunakan sandal rumah ini jika tidak lukanya bisa saja semakin parah.

 

Yoora mematut diri dicermin ia sudah terlihat cantik walaupun dengan alas kaki yang sama sekali tidak cocok dengan bajunya. “Ohayolah Yoora kau harus percaya diri” Yoora mengulas senyumnya perlahan dan menaruh rasa percaya dirinya begitu banyak. Tidak ada yang perlu ragukan.

 

“Oh aku harus memberitahu Baekhyun dulu”

 

Sebelum Yoora pergi ia menemui Baekhyun terlebih dulu di dalam kamar pemuda itu, namun rupanya Baekhyun sedang sibuk di meja kerjanya. Yoora memutuskan untuk tidak berpamitan pada Baekhyun, gadis ini begitu takut mengganggu pekerjaan Baekhyun saat ini setelah hampir semamalam ia selalu merepotkan Baekhyun. Akan lebih baik seperti itu mengigat bagaiman Baekhyun tadi bereaksi kepadanya yang sudah mulai seperti biasa.

 

___oOo___

Kedua wanita paruh baya ini sedang bercengkarama begitu akrabnya. Sesekali mereka tertawa bersama dan berandai-andai jika anak mereka kelak akan menikah. Ibu Baekhyun dan Ibu Yoora sengaja bertumu untuk membicarakan anak mereka yang sudah resmi bertunangan beberapa hari lalu. Tentu saja kedua wanita paruh baya ini tenag menyusun rencana lain untuk lebih mendekatkan Yoora dan Baekhyun.

 

Ny.Byun menghelakan nafasnya panjang. Beliau benar-benar bahagia saat ini melihat anak laki-lakinya bisa memiliki seorang kekasih. Rasanya beliau sudah tidak sabar untuk menyandingkan anak laki-lakinya dengan anak gadis dari sahabatnya.

 

Begitu juga dengan Ny. Nam beliau merasa beruntung memiliki calon menantu yang begitu sempurna. Bahkan saat dirumah beliau tak henti-hentinya mengelu-ngelukan kesempurnaan yang Baekhyun miliki pada anak gadiasnya, beharap anaknya akan segera mampu dekat dengan Baekhyun.Ny. Nam tau anak gadisnya adalah pribadi yang kaku sangat sulit untuk akarab dengan orang lain, ia berharap dengan segala rencana yang ia lakukan dengan Ny.Byun Yoora mampu lebih akrab dengan Baekhyun.

 

“Rasanya akan sangat menyenangkan melamarkan anak laki-laki ku nanti”

 

“Tentu saja, mereka akan terlihat sangat sempurna”

 

Ny.Byun berandai-andai jika kelak ia kana melamarkan Yoora untuk Baekhyun, dan bagaimana kelak ia memiliki seorang menantu yang selalu ia dambakan. Nam Yoora, gadis yang selalu Ny.Byun pandang baik, dan penurut pada orang tuanya.

 

___oOo___

Yoora melambaikan tangannya melihat Seokjin yang sedang tersenyum manis memandanginya dari kejauhan. Gadis ini segera melangkah ketempat Seokjin berdiri. Begitu sampai didepan Seokjin ia mendapati Seokjin yang memandanginya aneh.

 

“Kenapa? apa aku terlihat aneh?”

 

“Apa kau tidak salah kostum? Kau masih menggunakan sandal rumah”

 

Gadis ini sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal , ya Yoora tau pasti Seokjin akan menertawakannya seperti sekarang tapi bagaimana lagi mau tak mau Yoora harus menggunakan sandal rumah daripada memakai Heels.

 

Yoora memukul dada Seokjin pelan, gadis ini mengumpat jika bukan karena Seokjin ia tak perlu repot-repot kemari dan menahan rasa malunya karena memakai sandal rumah. Ia bisa bersantai didalam kamar tanpa harus menambah rasa sakit pada pergelangan kakinya seperti sekarang. Seokjin yang tiba-tiba melirik kearah kakinya yang masih dalam keadaan di perban.

 

“Kaki-mu terluka? Kenapa kau kesini bodoh, seharusnya kau berada di kamarmu dan tak perlu menemuiku bodoh. Bagaimana jika kakimu tambah sakit?”

 

Oh ya tuhan apa lagi ini? Yoora hanya mampu memutar bola matanya malas ketika Seokjin membodohkan dirinya, namun ada perasaan begitu berbunga dalam hatinya ketika Seokjin mengkhawatirkannya.

 

“Kau tau aku tidak mungkin bisa berada di kamarku seharian itu sangat membosankan, mungkin saja bisa membunuhku”

 

“Oh ayolah kau tidak akan seidiot ini kan membiarkan kakimu tambah sakit, Yoora ini sangat tidak benar kau tau, aku akan sangat khawatir jika kau terluka lagi. Seharusnya kau bilang aku bisa menjemputmu tadi”

 

Senyuman terkembang di wajah Yoora senyuman yang cukup lebar, melihat laki-laki itu menghawatirkannya. Yoora bisa merasakan wajahnya yang semakin memanas, bagaimana cara Seokjin mengkhawatirkannya cukup manis untuknya saat ini. ia tidak bisa berhenti melihat kearah Seokjin yang tengah memegang pergelangan kakinya untuk memastikan kakinya tidak memburuk.

 

“Naiklah ke punggung ku” Seokjin m emberikan interupsi kepada Yoora agar gadis itu naik kepunggungnya. Seokjin cukup merasa khawatir saat ini dengan keadaan kaki Yoora yang terlihat kurang baik.

 

“Tapi aku berat”

 

“Naiklah atau kau mau ku gendong didepan?”

 

Di depan? Tidak! Gadis ini tak mau Seokjin tau bagaimana raut wajahnya yang sedang begitu konyol menurutnya, setelah Seokjin khawatri padanya. Oh ayolah Yoora tidak punya pilihan selain naik ke-atas punggung Seokjin.

 

Yoora mulai mengalungkan tangannya pada leher Seokjin. Benar-benar mendebarkan untuknya, ia mampu melihat Seokjin sedekat ini menghirup aroma rambut Seokjin. Jantungnya berdegup dengan kencang saat ini, ia bena-benar jatuh didalam pesona Kim Seokjin saat ini.

 

Degupan jantungnya kembali mengingatkannya tentang Baekhyun tadi pagi yang membuat ia sangat berdebar. Yoora memejamkan matanya berusaha melupakan apa yang tengah ia pikirkan sekarang. Ia bersama Seokjin saat ini bukankah ini sesuatu yang Yoora bisa sebut membuatnya merasa bahagia dan begitu hidup. Yoora menghela napasnya perlahan dan menatap ke jalanan.

 

“Kenapa Yoora? Apa kau tidak enak badan?”

 

“Ah, tidak hanya saja, aku…. aku merasa menyusahkanmu” Yoora mulai tergagap menanggapi Seokjin yang menyadari reaksinya tadi.

 

“Jangan merasa sungkan seperti itu, aku senang melakukannya untukmu”

 

Oh apakah saat ini Yoora benar-benar gadis paling bahagia? Mungkin iya wajahnya sudah sangat merah mendengar apa yang Seokjin katakan. Seokjin melakukannya dengan senang hati tidak-kah itu berarti Seokjin menyukainya. Yoora mengeratkan pegangan pada tangannya, ia bisa mengulas senyumnya degan lebar saat ini.

 

Selama Yoora dalam gendongan Seokjin, tidak ada banyak percakapan yang terjadi. Hanya sekedar bertanya kenapa Seokji berada di Jepang? Dan kapan Seokjin sampai? Sejujurnya gadis ini masih kebingungan kemana Seokjin akan mengajkanya pergi karena sedari tadi laki-laki ini tak mengatakan kemana mereka akan pergi.

 

“Sebenanya kemana kita akan pergi?”

 

“Mengambil sepeda di rumah bibi ku”

 

Setelah beberapa menit mereka sampai di tempat bibi Seokjin.Yoora menyapa bibi Seokjin dengan ramah. Terlihat dari cara bibi Seokjin menyapa balik Yoora begitu menyenangkan, bahkan sempat bibi Seokjin mengira ia  kekasih Seokjin. Yoora hanya tersenyum malu ketika mendengar semua itu. sebegitu cocokkah dirinya dan Seokjin?

 

Seokjin menarik tangan Yoora dan menyuruh Yoora duduk di belakang sedangkankan Seokjin yang berada di depan dan mengayuh sepeda. Laki-laki ini tersenyum ketika mendapati tangan Yoora yang melingkar sempurna di pinggangnya berpegangan begitu erat setelah ia suruh.

 

Yoora menempelkan kepalanya pada punggung Seokjin sementara tangannya masih melingkar sempurna pada pinggang laki-laki itu. rasanya benar-benar gugup saat ia berpegangan tadi, kerja detak jantungnya tak bisa menajdi normal, bahkan rasanya bernapaspun sulit untuknya. Berada di dekat Seokjin seperti membawanya keluar dari dunianya. Yoora mampu tersenyum dan tertawa lepas merasa-kan kebahagiana yang bahkan tak pernah ia rasakan.

 

“Aku sangat berterimakasih padamu Seokjin”

 

“Untuk apa?”

 

“Untuk membawaku keluar dari villa yang membosankan”

 

“Bukankah aku sudah bilang aku senang melakukannya untukmu, selama aku akan terus melihat senyumanmu bukankah itu sudah cukup menjadi alasan”

 

Ini sama sekali tidak benar bagi Yoora ini sudah yang ketiga kalinya Seokjin membuat wajah Yoora terasa begitu panas dan memerah, tapi Yoora menyukainya ketika Seokjin menyebutkan alasannya. Yoora mengeratkan tangannya pada pinggang Seokjin dan menenggelamkan wajahnya pada punggung Seokjin menghirup aroma tubuh Seokjin sedalam mungkin. Ia bahagia saat ini.

 

Banyak pasang mata yang melihat mereka begitu iri, banyak pasang mata yang menatap mereka serasi. Menurut pandangan orang-orang mereka begitu cocok, terlihat bahagia dari bagaimana sang gadis tertawa lepas tanpa beban dan bagaimana pria itu begitu menikmati setiap tawa dari gadis yang ada di dekatnya.

 

Yoora bahagia saat ini rasanya untuk tersenyum tak ada yang perlu dipaksakan, ia bebas untuk hari ini. Bahkan ia sempat berteriak sesuka hatinya bersama Seokjin. Mereka tak peduli orang-orang yang menatap mereka aneh, tapi Yoora menyukai ini saat ia bersama Seokjin tertawa lepas dan tak akan memikirkan apapun yang menjadi beban untuk hidupnya.

 

“Kau menyukai hari ini?”

 

“Sangat, aku bahagia”

 

“Aku senang melihatmu bahagia karena aku Yoora”

 

Yoora tidak bisa menahan senyumannya saat ini, bahkan saat Seokjin menggenggam tangannya dan menempelkan telapak tangannya pada pipi laki-laki itu, ia masih terus tersenyum dan jantungnya berdebar dengan cepat. Dengan segera Yooa menarik tanganya dari genggaman Seokjin dan kembali menatap Seokjin.

 

Mereka saling menatap dan melempar senyum, mereka tak pernah meyadari betapa hati mereka sudah berdetak tak beraturan saat ini. sesegera mungkin Yoora mendongakan wajahnya menatap langit yang begitu cerah dan kembali tersenyum.

 

Tidak buruk rasanya hari ini. ya walaupun ia pikir awalanya ini adalah rencana yang konyol menyusul Yoora ke Jepang dan berpura-pura ada tugas kuliah yang harus ia selesaikan. Namun ia senang hari ini mampu bersama Yoora hampir satu hari, melihat gadis itu tersenyum dan tertawa. Rasanya kebahagiaan tersendiri baginya membuat Yoora tertawa lepas seperti tadi menyuruh gadis itu berteriak, dan sesekali membuat gadis itu memerah.

 

Seokjin masih menatap Yoora yang tersenyum menatap langit, ia mencoba menenangkan hatinya kali ini dan memanggil Yoora dengan lembut. Matanya saling bertemu dengan mata Yoora, mata yang indah menurut Seokjin, mata dengan warna cokelat almond.

 

Enatah apa yang terjadi pada laki-laki ini namun menatap mata Yoora seperti membuatnya tak sadar dan jatuh pada setiap pandangan lembut gadis itu. Seokjin mulai mendekatkan mukanya pada muka Yoora, yang bahkan sudah merah padam itu. tidak Yoora maupun Seokjin mereka sedikit demi sedikit menutup matanya, jarak kedunya sangatlah sedikit saat ini bahkan mereka mampu merasakan deru nafas masing-masing yang begitu hangat. Namun semuanya terhenti saat ada sepasang suami istri yang sudah tua lewat dan bergumam bahwa Yoora dan Seokjin begitu romantis akan berciuman di bawah pohon bungan sakura yang sedang bermekaran.

 

Dengan segera Yoora dan Seokjin saling menjauhkan wajah mereka. Ini memalukan bagaimana bisa mereka hampir berciuman di tempat umum dan lagi, Sokjin tak mengerti dengan dirinya sendiri yang berusaha mencium gadis itu.

 

Wajah Yoora benar-benar merah saat ini ia bahkan tak berani melihatkan wajahnya pada Seokjin, pasti laki-laki itu akan menertawainya karena mukanya yang hampir mirip kepiting rebus.

 

“Maaf seharusnya aku tidak melakukannya”

 

“Apa?”

 

“Mmm, tadi aku hampir menciummu”

 

Yoora terkekeh geli mendengar pernyataan maaf dari Seokjin, tak hanya dirinya yang saat ini merasa gugup dan malu namun juga Seokjin. Ia fikir laki-laki itu tak akan pernah mempunyai rasa gugup sedikit-pun setelah sekian kali membuatnya salah tingkah dan mukanya memerah padam. Selang beberapa detik keduanya kembali terdiam namun kemudian mereka tertawa bersama-sama mengingat hal apa yang hampir mereka lakukan tadi. Cukup lucu untuk mereka berdua tertawakan. Mereka berdua yang kehilangan kontrol dan saling gugup, wajah Yoora yang begitu memerah membuat semuanya serasa pantas untuk di tertawakan bagi kedua orang ini.

 

Setelah mereka puas tertawa, Seok jin mengajak Yoora untuk membeli Ice Cream cone yang berada di dekat rumah bibinya. Yoora mengangguk setuju dan segera naik di atas sepeda seperti tadi. Punggung laki-laki itu yang begitu hangat dan begitu lebar membuat Yoora tak pernah berhenti tersenyum ketika dengan sengaja Seokjin menaruh tangan kirinya diatas tangan Yoora seluruh darah yang mengalir pada tubuh Yoora seperti berjalan dengan tak normal, seperti ada sengatan listrik di hatinya. Kim Seokjin pria itu benar-benar tau membuat gadis ini merasa bahagia dan lepas.

 

Begitu sampai didepan kedai Ice Cream Seokjin langsung memesan dua buah Ice Cream Cone rasa cokelat. Beruntung paman pemilik kedai memberikan dua buah Ice Cream itu dengan geratis padanya, paman itu bilang bahwa Ice Cream ini geratis untuk pasangan yang sangat serasi seperti Seokjin dan Yoora. Seokjin hanya tersenyum tipis menanggapi apa yang paman itu ucapkan, tak lupa Seokjin mengucapkan trimakasih atas Ice Cream geratisnya.

 

Sudah seharian ini banyak orang yang mengira mereka pasangan bahkan ada orang asing yang mengatakan mereka serasi. Sudah berkali-laki kata serasi selalu Yoora dan Seokjin dengar. Namun sayangnya mereka bukanlah pasangan.

 

“Ah. Ternayata cukup banyak yang mengira kita adalah pasangan”

 

“Bagaimana jika kita menjadi pasangan yang sebenarnya?”

 

Yoora diam mendengar perkataan Seokjin. Hatinya kembali berdegup kencang saat ini bahkan lebih kencang saat Seokjin dengan sengaja mendekatkan mukanya dan menatap mata gadis ini dengan lekat. Namun selang beberapa detik Seokjin tertawa geli melihat ekspresi muka Yoora yang sudah begitu gugup dan menjadi merah padam. Lucu, memanga sangat lucu saat gadis itu gugup dengan mukanya yang merah padam seperti itu ekspresi yang Seokjin sukai dari gadis itu.

 

Saat ini Yoora bukan lagi Nam Yoora yang selalu kaku dan menjaga sikapnya, kali ini Yoora menjadi dirinya yang lain begitu hangat. Terkadang ia akan menjadi seperti seorang perempuan manja pada kekasihnya. Hanya saat ini Yoora merasa seperti ini hanya saat ia akan berada di dekat Seokjin ia merasakan dirinya yang hangat.

 

Ada suatu hal yang membuat hati Yoora mengganjal saat ini, tiba-tiba Baekhyun kembali dalam pikirannya. Mendengar pernayataan terakhir Seokjin membuatnya mengingat ikatannya dengan Baekhyun, bagaimana jika Seokjin tau yang sebenernya? Bagaimana Jika Seokjin benar-benar menyukainya? Apa yang akan Yoora lakukan saat itu?

 

“Yoora?”

 

“Aaa i-iya”

 

“Kenapa? apa yang sedang kau pikirkan?”

 

“Tidak, aku tidak sedang memikirkan apapun” Yoora kembali mengembangkan senyumnya menutupi rasa gugupnya. Seharusnya ia memberi tau Baekhyun tadi sebelum pergi bersama Seokjin dan sekarang ia seperti merasa bersalah.

 

Tanpa terasa waktu sudah berganti menjadi malam. Seokjin mengantar Yoora kembali ke Villa. Gadis ini lupa satu hal bahwa di Villa ada Baekhyun yang pasti menunggunya sedari tadi. Meski beberapa kali ia memikirkan Baekhyun ia sama sekali tidak berpikir bahwa Baekhyun akan menunggunya, dan Yoora rasa laki-laki itu memang tidak akan menunggunya.

 

Sama seperti tadi Seokjin menggendong Yoora kembali setelah mereka mengembalikan sepeda kerumah bibinya. Seokjin bilang ia hanya ingin menjadi romantis untuk gadis itu. tentu saja itu membuat Yoora kembali bersemu kemerhan di pipinya. Kim Seokjin lah yang selalu membuat Yoora seperti itu.

 

“Kapan kau akan kembali ke Korea?”

 

Tanpa sadar gadis ini bertanya pada laki-laki yang sedang menggendongnya, entahlah namun seperti ada perasaan yang kehilangan jika laki-laki itu akan segera pergi dari Jepang. Ya, walaupun nantinya mereka dapat bertemu kembali di Korea tapi tetap saja rasanya seperti membosankan jika ia akan ditinggal oleh laki-laki itu setelah hari ini yang begitu menyenangkan untuknya.

 

“Mungkin lusa, atau tidak besok sore. Kenapa?”

 

Yoora mengehalakan nafas berat. Ia kembali mengtakan sesuatu tanpa sadar, bahwa semuanya tidaka akan menjadi menyenangkan saat Seokjin tak ada. Setelah seharian penuh mereka lewati bersama dan pasti gadis ini akan merindukan bagaimana cara Seokjin membuatnya tertawa. Dan satu hal yang selalu gadis ini rindukan cara bicara Seokjin yang begitu lucu yang membuatnya selalu menahan tawa namun ia sangat menyukai hal itu.

 

“Benarkah?”

 

Seokjin bertanya dengan tersenyum lebar, gadis itu benar-benar berbeda dari saat ia melihat. Terlihat begitu dingin dan tenang namun pada kenyataannya saat ia berbeda saat berada di dekatnya hangat dan menyenangkan. Seokjin mampu mendengar bagaimana gadis itu mencoba menyangkal yang baru saja ia dengar. Ia menahan tawanya saat ini sudah cukup bagianya menertawakan gadis itu terus menerus.

 

Dari tempatnya berada Baekhyun mampu melihat apa yang terjadi antara tunangannya dengan pria lain, tanpa terasa tangan kanannya mulai mengepal. Sedari tadi ia menunggu gadis itu pulang bahkan rasa khawatir yang tak kunjung berhenti menyelimuti hatinya.

 

Baekhyun tau saat gadis itu pergi tanpa berpamitan padanya hanya, Baekhyun berpura-pura sedang sibuk agar tak ada lagi rasa canggung yang terlihat. Saat gadis itu pergi keluar dari Villa rasa kecewa yang mendalam di hati Baekhyun, seperti kehadirnnya tak dihargai sebagai kekasihnya.

 

Paling tidak Baekhyun ingin gadis itu menghargainya sedikit sekedar berpamitan agar tak membuat Baekhyun khawatir itu sudah cukup. Awalanya Baekhyun berusaha menenangkan hatinya bahwa Yoora hanya mencari udara segar sebentar dan tidak terlalu jauh. Setelah ia menunggu hamipr larut malam Yoora baru saja pulang bersama laki-laki lain dan mereka terlihat begitu akrab.

 

Perasaan tidak terima, tidak rela, dan tidak suka muncul di hati Baekhyun seolah dia memilik hak penuh pada Yoora. Hanya karena ikatakan yang ia miliki saat ini Baekhyun merasa bahwa Yoora hanya miliknya tak ada satupun yang bisa menyentuh Yoora apa lagi menggendong Yoora dengan begitu mesranya.

 

Marah? Tentu laki-laki ini merasa marah, tapi ada yang tak pernah Baekhyun mengerti dengan dirinya belakangan ini yang selalu saja sensitiv bila menyangkut gadis itu, seolah dia tak pernah ingin Yoora kenapa-kenapa dan dimiliki siapapun selain dirinya.

 

Baekhyun mendesah frustasi saat ini, ia kehilangan dirinya sendiri bila berada di dekat gadis itu. ia tak pernah tau hal apapun yang ia lakukan saat gadis itu berada di dekatnya dari mulai membelai lembut rambutnya,membalas pelukannya , mencium puncak kepalanya sampai ia mengijinkan gadis itu menjadikan dadanya sebagai bantal.  Ini bukan Baekhyun yang selalu terlihat keren dan begitu di gilai banyak gadis. Sebelum Yoora masuk kedalam rumah Baekhyun sudah terlebih dulu masuk kedalam kamarnya demi menghindari Yoora dan segala rasa yang ada di dalam hatinya.

 

“Trimakasih untuk hari ini, hati-hati di jalan”

 

Sebelum Yoora sempat masuk kedalam Seokjin sudah terlebih dahulu menarik tangan gadis itu dan menariknya kedalam pelukannya lama. Setelah itu ia mencium pucak kepala Yoora.

 

“Tidurlah yang nyenyak, aku akan datang kembali esok”

 

Sekali lagi Seokjin mencium puncak kepalanya, ada perasaan yang berbeda. Mungkin bila Seokjin melakukan hal selain ini mampu membuanya hangat, namun kecupan di kepalnya begitu berbeda dengan yang Baekhyun berikan untuknya. Begitu hangat menyelimuti hatinya namun kecupan yang Seokjin barusan terasa biasa.

 

Yoora segera tersadar bahwa ia meninggalkan Baekhyun sedari tadi.  Gadis ini kembali berpamitan dengan Seokjin untuk segera masuk kedalam dengan alasan bahwa ia merasa lelah dan ingin istirahat. Padahal dalam pikirannya saat ini adalah melihat apa Baekhyun menunggunya atau tidak.

 

Baekhyun menghelakan nafasnya panjang, dari kamarnya ia mampu melihat saat gadis itu di cium puncak kepalanya oleh laki-laki yang bahkan tak Baekhyun tau. ada emosi yang membludak di hatinya. Rasa sesak dan marah bercampur menjadi satu.

 

Baekhyun benar-benar sudah kehilangan kendalinya saat ini, ia keluar dari kamarnya dan menunggu Yoora di kamar gadis itu. ia tidak perduli bagaimana gadis itu akan bereaksi dengan apa yang ia lakukan saat ini.

 

Suara deritan pintu mulai terdengar di telinga Baekhyun, ia menatap Yoora dengan begitu marah. Gaids itu berjalan terpincang-pincang hal ini membuat Baekhyun mengepalkan tangannya  dengan kuat. Bagaimana Yoora bisa keluar dengan kaki yang masih sakit, Baekhyun berada di ambang batas kesabarnya sekarang.

 

“Baekhyun” Yoora memanggil Baekhyun dengan suara yang begitu lembut berusaha menutupi apa yang barusaja terjadi. Sejujurnya ia sangat gugup dan takut saat mata Baekhyun menatapnya dengan tajam.

 

Emosi Baekhyun membuncah kali ini, ketika ia mendengar Yoora memanggilnya dengan begitu lembut seolah seperti tak memikirkan rasa khawatir yang Baekhyun rasakan saat ini.

 

“Kau dari mana?! Kenapa pulang larut malam?!”

 

“A… aku hanya berjalan-jalan. Maaf tidak memberitahumu kau terlihat sibuk tadi”

 

Yoora berusaha menjawab dengan sebaik mungkin, walaupun ia bukanlah orang yang berbakat bohong. Bila ia mengatakan ia bertemu dengan temannya mana mau Baekhyun percaya dan ia beralasan bahwa ia hanya pergi jalan-jalan dan tidak terasa saat ia akan kembali hampir larut malam. Alasan yang logis memang.

 

Namun siapa yang mau percaya dengan yang gadis itu katakan saat ini setelah Baekhyun melihat semua yang terjadi dengan mata kepalanya sendiri, berpelukan di gendong dan dicium puncak kepalanya. Kenapa gadis itu harus berbohong kepadanya. Rasanya benar-benar sakit bagi Baekhyun saat ini. Baekhyun tersenyum sinis, ia sudah tak bisa menahan emosinya lebih lagi. Laki-laki ini memutuskan membalikan badanannya dan menatap Yoora dengan lekat.

 

“Kau pikir aku buta! Kau pikir aku tak melihat bagimana kau dan laki-laki itu berpelukan dengan mesra! Apa kau pikir alasanmu itu mampu membuatku percaya! Tak ada seorang pun yang bisa memelukmu seperti itu tidak ada seorang pun yang boleh menggendongmu seperti itu, dan tak ada satu orang pun yang boleh mencium puncak kepalamu! Kau itu milikku apa kau tak pernah sadar hah!

 

Yoora menatap Baekhyun tak percaya setelah hampir beberapa hari mereka canggung dan sekarang laki-laki itu mengatakan bahwa ia adalah miliknya. Ya, Yoora tau bahwa Baekhyun berhak mengatakan semua itu atas dasar cincin yang melekat di jari manisnya. Tapi apakan Baekhyun lupa akan perjanjian yang mereka buat? Untuk merahasiakan pertuanangan ini.

 

“Aku lelah Baekhyun kumohon, aku tidak ingin ribut denganmu”

 

“Lelah setelah satu hari penuh bersama kekasihmu. Oh betapa tololnya aku mengkhawatirkanmu saat ini. Tapi Yoora aku punya hak penuh terhadapmu, semua yang ada pada dirimu, semua yang menyangkut dirimu. KAU ITU MILIKU TIDAKKAH KAU MENGERTI ITU!!!?”

 

Yoora lelah saat ini, ia sedang tak ingin ribut dengan Baekhyun, ia memilih keluar dari kamarnya sebelum Baekhyun meneruskan kata-katanya dan membuat ia merasa ketakutan.

 

Baekhyun menarik tangan Yoora sebelum gadis itu pergi. Ia tak bisa menahan segala amarahnya. Ia tak pernah berfikir dengan apa yang ia lakukan saat ini. Baekhyun mencium bibir Yoora dengan paksa. Ia menarik lebih dalam gadis itu dalam pelukannya, bahkan tangan kanannya berada di tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya.

 

Baekhyun tau ciumannya sama sekali tak mendapatkan balasan dari gadis yang berada di bawah kungkungannya saat ini, dengan sengaja Baekhyun menggiggit bibir bawah Yoora agar memudahkannya menelsuri mulut gadis ini dengan sesukanya. Ia tak peduli bagaiman Yoora yang terus memberontak, memukul dadanya, yang ia pedulikan saat ini adalah Yoora miliknya tak ada satupun pria yang boleh menyentuh Yoora melebihinya. Nafas Baekhyun begitu memburu saat ini, ia tak peduli bagaimana nantinya ia akan kehabisan oxygen.

 

Rasa yang begitu anyir mampu Baekhyun rasakan di sekitar bibirnya. Ketika ia sadar dan melepaskan ciuman itu ia melihat bibir Yoora yang terluka karena ciumannya yang terlalu memaksa. Sesaat rasa bersalah itu ada pada hati Baekhyun karena mencium Yoora dengan paksa.

 

Satu tamparan tepat dipipi Baekhyun. Gadis ini marah, benar-benar marah tak sadarkah Baekhyun bahwa ini melukai perasaannya? Rasanya seperti di lecehkan di cium secara paksa. Yoora terluka atas perilaku Baekhyun saat ini. gadis ini masih merintih kesakitan karena pergelangan tangannya yang di cengram kuat oleh Baekhyun.

 

“Kau pikir kau siapa menciumku dengan sesuka hatimu?! Lepaskan aku!”

 

“Aku tunang…” seketika perkataan Baekhyun terhenti mengingat kata yang akan ia ucapkan hanya akan berakhir percuma di telinga gadis itu “Lupakan, aku akan keluar aku lelah ribut denganmu”

 

Gadis ini menghela nafas berat, apa maksud dari kata-kata Baekhyun baru saja? Lelah ribut denganya? Seharusnya Yoora yang mengatakan itu, tidak sadarkah Baekhyun betapa Yoora sudah sangat lelah hari ini.

 

Yoora mendangar suara pintu yang di bantung dengan begitu keras, laki-laki itu berada dalam amarah yang sangat besar kali ini. Bibirnya terasa ngilu dan hatinya seperti terluka saat Baekhyun menciumnya dengan paksa. Ia tau bahwa Baekhyun tadi akan menegaskan bahwa dirinya adalah tunangannya.

 

Yoora tersenyum sinis mengingat kata yang terpotong dari mulut baekhyun tadi, apa laki-laki itu lupa batasannya? Apa laki-laki itu melupakan perjanjian yang mereka buat? Apa laki-laki itu sudah mulai hanyut dalam pertunangan ini?

 

Baekhyun terduduk didepan pintu kamar Yoora, ia menundukann kepalanya. Ia tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan saat ini. mencium Yoora dengan paksa itu bukan dirinya dan kenapa ia harus melaukannya bahkan membentak Yoora. Gadis itu pasti sudah sangat membenci Baekhyun.

 

Yoora mencoba menenangkan hatinya, susana hatinya yang tadi begitu menyenangkan saat ini menjadi begitu kacau. Hanya karena kemarahan Baekhyun yang mengubah suasana hatinya. Sejenak Yoora mengamati cincin yang tersemat di jari manisnya, ia teringat kembali kilatan saat Baekhyun memasangkan cincin itu di hadapan ratusan tamu undangan. Bagaimana wajah lelaki itu yang begitu rupawan dan menenangkannya, berbeda tak seperti tadi yang begitu menakutkan seolah Baekhyun adalah macan yang ingin mencengkram mangsanya.

 

Yoora menoleh kebelakang memperhatikan pintu kamarnya ia membuka pintunya dengan pelahan, ia mampu melihat laki-laki itu sedang terduduk dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Haruskah Yoora kembali dan meminta maaf pada Baekhyun? Gadis ini tau sebenarnya ini adalah kesalahannya berbohong dan tidak ijin pada Baekhyun saat akan keluar rumah. Tapi tetap saja Yoora tak suka dengan perlakuan Baekhyun yang seperti tadi.

 

Yoora membalikan badan dan mengurungkan niatnya, ia rasa berbicara apapun saat ini pada Baekhyun akan percuma saja karena kedauanya sedang merasakan amarah yang cukup besar. Tidak Yoora ataupun Baekhyun akan beranggapan bahwa diri mereka masing-masing yang benar dan mementingkan egonya sendiri.

 

“Ku rasa lebih baik berbicara besok pagi”

 

Gadis ini mengehelakan nafasnya pelan. Ia segera menutup pintu kamarnya kembali.

 

___oOo___

Baru sepuluh menit yang lalu Baekhyun berada di Korea lagi namun apa yang terjadi? Kedua sahabatnya justru mengintrogasinya. Kenapa Baekhyun kembali? Bagaimana Jepang dan Yoora? Apa hubungan mereka baik? Baekhyun menceritakan bagaimana ia bertengkar dengan Yoora dan mencium gadis itu dengan paksa.

 

“Oh man kau dalam masalah kali ini” Sehun berkomentar dengan sinisnya. Mendengar apa yang Baekhyun ceritakan tentu Sehun tau bahwa Baekhyun tidak seperti biasanya.

 

“Apa kalian pernah jatuh cinta?”

 

Sehun dan Lu Han saling menatap heran, baru kali ini mereka mendangar seorang Byun Baekhyun bertanya apa mereka pernah jatuh cinta? Tentu saja iya Sehun maupun Lu Han pernah merasakannya tidak hanya sekali. Tidak seperti Baekhyun yang hampir tak pernah jatuh cinta. Bahkan mereka terkadang kebingungan dengan tipe pacar yang Baekhyun ingin kan.

 

“kenapa? Kau jatuh cinta pada gadis itu?”

 

Well, bukankahitu seharusnya tidak kau tanyakan Luhan. Baekhyun sudah jatuh cinta saat ini”

 

“Bagaimana perasaan kalian saat seseorang yang kalian cintai berbohong? Dan kalian tanpa sengaja melihat gadis itu berpelukan mesra dengan pria lain bahkan pria itu mencium kening orang yang kalian cintai?”

 

Pertanyaan macam apa ini? tentu saja Sehun dan Lu Han akan marah dan cemburu besar pada kekasihnya. Berbohong itu mungkin masih dalam taraf kewajaran, namun berpelukan dan pria lain mencium kening orang yang mereka cintai apa lagi kekasihnya semua itu tak akan pernah mereka biarkan.

 

Sehun teringat saatu hal ketika Baekhyun mengatak semuanya. Mungkinkah Baekhyun sedang cemburu pada Yoora da laki-laki yang pernah ia lihat? Sejenak ia menatap Lu Han, dan mencoba mengingatkan Lu Han tentang kejadian beberapa hari yang lalu saat mereka melihat Yoora dan seorang laki-laki sedang tertawa bersama dan terlihat akrab.

 

“Wow, kau cemburu dengannya?”

 

“Apa salah jika aku marah dan menciumnya dengan paksa? Apa aku salah bila aku mencintainya?”

 

“Mencium dengan paksa? Tidakkah itu terdenga kejam” lagi-lagi Sehun berkomentar sinis, tapi cukup membuat Baekhyun sadar dengan apa yang dilakukannya.

 

Baekhyun mengingat kejadian beberapa jam yang lalu saat ia tanpa sengaja melukai Yoora. Ada rasa menyesal dalam hatinya, seharusnya ia tak perlu terlalu emosi pada gadis itu, seharusnya ia tidak terkuasai oleh egonya.

 

“Baekhyun-ah apa laki-laki yang kau lihat memiliki gaya rambut yang di keataskan dan mencuat-cuat kesan kemari. Dengan warna rambut cokelat?”

 

Sekali lagi Baekhyun mengangguk mendengar pertanyaan yang Sehun katakan. Laki-laki ini belum sadar akan sesuatu yang Sehun bicarakan. Otaknya terlalu lelah untuk memahami apa yang Sehun pikirkan saat ini, setelah ia benar-benar lelah memikirkan apa yang terjadi padanya.

 

“Kau bodoh Sehun memangnya orang dengan gaya rambut dan warna rambut yang sama hanya ada satu di dunia ini?”

 

“Apa dia terlihat seperti orang Korea?” Sehun menghiraukan perkataan Luhan yang sebenarnya lebih mengarah ke hal yang benar.

 

Sekali lagi Sehun bertanya dan baru kali ini Baekhyun mengerti kemana arah pembicaraan Sehun. Baekhyun menganggukan kepalanya, dan setelah itu ia melihat Sehun yang menatap Lu Han begitu yakin. Seolah Sehun tau orang itu.

 

Baekhyun menatap Sehun tajam saat ini, ada suatu hal yang tak ia tau dari kedua sahabatnya. Pemuda ini terus saja memaksa kedua orang yang terus menujuk untuk menjelaskan.

 

“Oh sial kau membawaku dalam masalah Sehun!” Luhan mengumpat kesal, ia sedang malas menjelaskan apapun saat ini. ia rasa saat ini Baekhyun tidak seharusnya tau tentang apa yang mereka lihat.

 

Sehun menarik nafasnya dalam, dan menjelaskan pada Baekhyun bahwa mereka pernah melihat Yoora dan laki-laki yang memiliki ciri-ciri yang sama seperti yang Baekhyun bilang. Ya awalanya mereka berpikir mungkin ini tak akan ada  untungnya memberi tau Baekhyun. Namun sekarang semuanya berubah semuanya akan menjadi begitu penting bagi Baekhyun bila menyangkut gadis itu.

 

“Jadi kesimpulannya kupikir itu kekasih Yoora” Sehun berkata seolah ini tidak akan apa-apa jika Baekhyun mendengarnya.

 

Baekhyun beranjak dari duduknya dan menuju kamar Lu Han. Lelaki ini sedang lelah memikirkan dirinya, bahkan ia tak pernah menyangka ini semuanya akan menjadi seperti ini. tentang ia yang seharusnya membatasi perasaannya, tentang ia yang seharusnya yang menjadi dingin.

 

Baekhyun tak dapat melakukan semua itu, gadis itu benar-benar menariknya mengubah dirinya. Ini kah cinta yang hampir tak pernah ia rasakan? Akan begitu manis bila orang yang ia cintai tersenyum bersamanya, akan terasa hangat bila menggenggam tangannya, akan terasa begitu bahagia ketika ia mampu mengucapkan selamat malam dan mencium lembut puncak kepala gadis itu. Seharusnya Baekhyun menyadari perasaannya lebih awal.

 

 

___oOo___

Pagi ini Yoora bangun lebih awal daripada kemarin. Setelah semalam ia tertidur dengan perasaan yang masih bersalah pada Baekhyun. Pagi ini Yoora memutuskan untuk membuatkan Baekhyun sarapan dan juga membawakan pria itu sarapan.

 

Begitu ia melihat kekamar Baekhyun Yoora tak melihat pria itu berada di sana. Ia sedikit memanggil nama Baekhyun saat samapi tak ada satu panggilan pun yang tersaut. Ia rasa Baekhyun benar-benar marah padanya saat ini. saat ia kembali ke dapur ia melihat istri penjaga Villa yang tengah mencuci perlengkapan dapur. Yoora memutuskan untuk bertanya, ia masih tidak bisa tenang saat ini sebelum melihat Baekhyun.

 

“Bibi apa Baekhyu sedang pergi keluar?”

 

“Maaf Nona, tapi Tuan Muda Baekhyun sudah kembali tadi malam, Tuan Muda bilang ada urusan mendadak”

 

Yoora menghelakan nafasnya pelan, ia tau Baekhyun berusaha menghindarinya, setelah kejadian tadi malam. Rasa bersalah itu semakin membebani Yoora saat ini. Bohong jika Baekhyun kembali hanya untuk urusan mendadak, ia tau bahwa segala urusan di Seoul sudah di atur oleh ibu Baekhyun. Yoora tau laki-laki itu terluka, cara Baekhyun berbicara tadi malam seolah menyiratkan luka yang dalam pada laki-laki itu.

 

Saat Yoora akan kembali kekamarnya bibi penjaga Villa memanggilnya bahwa ada seorang pemuda yang mencarinya. Pemuda? Ya, Yoora tau itu, pasti Kim Seokjin. Setidaknya suasana hatinya akan menjadi baik setelah bertemu Seokjin.

 

“Yoora-ya!”

 

Seokjin melambaikan tangannya melihat Yoora yang mendekat padanya. Ia sengaja datang pagi ini untuk mengajak Yoora jalan-jalan, dan menemaninya melukis. Ia bertanya pada gadis di hadapannya apa gadis itu sudah makan dan apa kakinya sudah lebih baik?

 

“Aku sudah sarapan, kaki ku sudah tidak apa. kau tak perlu repot-repot menggendongku lagi seperti kemarin”

 

Seokjin menggenggam lembut tangannya, tangan Seokjin terasa hangat untuknya saat ini. begitu berbeda dari Baekhyun, laki-laki di hadapannya saat ini bahkan jauh mampu membuatnya bahagia. Kim Seokjin, gadis ini merasa bahwa ia jatuh pada setiap perlakuan Seokjin padanya.

 

Yoora sedari tadi mengamati Seokjin yang tengah melukis bunga bunga sakura yang bermekaran. Seringkali ia tersenyum geli memperhatikan bibir Seokjin yang menurutnya menggemaskan itu, ingin rasanya ia memegang bibir laki-laki itu sekali saja, pasti lucu rasanya.

 

Seokjin yang merasa di perhatikan menolehkan wajahnya dan mendapati Yoora yang tengah duduk manis menyangga dagunya dan melihat kearahnya dengan tersenyum-senyum sendiri. Pria ini berusaha melihat cara berpakaiannya saat ini, apa mungkin salah sehingga membuat gadis itu tersenyum-senyum geli seperti itu.

 

“Apa sebenarnya yang salah padaku? Kenapa kau tersenyum seperti itu”

 

Yoora menahan tawanya ketika Seokjin berbicara, oh ya tuhan bibir laki-laki itu terlihat begitu menggemaskan saat ini. tak mungkin gadis ini akan mengatakan bahwa bibir Seokjin yang begitu lucu dan menggemaskan, bisa-bisa mukanya nanti memerah padam lagi. Tiba-tiba Yoora mengingat sesuatu, bibir, ia memegangi bibirnya yang tadi malam terluka. Ia masih mengingat betul kejadian tadi malam.

 

Gadis ini mendesah pelan rasa bersalah seperti menghantuinya saat ini. disaat seseorang yang telah resmi menjadi tunangannya marah dirinya malah bersama lelaki lain yang bahkan belum lama ia kenal, tersenyum bersama, bercerita dan bermain bersama seola mereka sudah kenal lama. Seharusnya saat ini Yoora menyusul Baekhyun.

 

“Yoora-ya? Kau baik-baik saja?”

 

Gadis ini tak mendengar sama sekali apa yang Seokjin katakan. Pikirannya msaih sibuk memikirkan Baekhyun. Apa Baekhyun begitu marah padanya? Apa Baekhyun sampai di rumah dengan baik? Yoora bukanlah gadis yang biasa hidup dengan rasa bersalah seperti ini. ia mencoba menulis pesan untuk Baekhyun sekedar meminta maaf, sayangnya sudah berkali-kali gadis ini mencoba mengirimkan pesan tak ada satu pun yang Baekhyun balas.

 

“Seokjin-ah aku harus segera kembali, maaf tapi aku harus segera pulang ke Korea”

 

“Kenapa? aku pikir kau akan tinggal lama disini.”

 

Yoora segera beranjak meninggalkan Seokjin, tidak ada senyuman yang Yoora tinggalkan untuk Seokjin saat ini. yang ada dalam pikirannya hanya Baekhyun, ia harus bertemu dengan Baekhyun sekarang.

 

Ada perasaan yang mengganjal di hatinya ketika tadi ia memperhatikan Yoora yang begitu gelisah dan menulis pesan pada seseorang. Ia mengehala napas kasar, Seokjin tau ada hal besar yang sedang Yoora tutupi. Seokjin tidak apa jika gadis itu harus pergi saat ini, tapi saat Yoora pergi gadis itu bahkan tidak memberikan sedikt senyuman kepadanya. Ini membuat Seokjin gelisah.

___oOo___

 

Baekhyun menghelakan nafasnya pelan, sudah beberapa jam berlalu sejak terakhir kali ia menerima pesan dari Yoora. Seharunya ia membalas pesan Yoora bukannya malah berdiam diri membiarkan gadis itu menunggu balasannya, dan merasa bersalah karena membuat dirinya marah.

 

Seharusnya Baekhyun-lah yang meminta maaf melukai gadis itu tanpa sengaja. Semuanya juga salah Baekhyun yang terlalu lambat mengetahi isi hatinya. Ini semua salahnya jika ia tak pernah dikuasai oleh egonya ia tak akan pernah semarah itu pada Yoora, tapi rasa cemburu lebih mendominasi hatinya dan mendorongnya untuk menurut pada egonya.

 

“Kenapa aku begitu bodoh Byun Baekhyun! Kenapa kau begitu lambat mengetahui perasaanmu pada Yoora!”

 

Baekhyun mengumpat kesal pada dirinya sendiri kenapa ia membutuhkan waktu yang lebih untuk yakin dengan perasaan-nya pada Yoora. Kenapa tidak dari awal ia menyadarinya? Semuanya menjadi penyesalan untuk Baekhyun saat ini.

 

Baekhyun merebahkan dirinya ke pembaringan sudah kesekian kalinya ia hanya bangun dan merebahkan diri kembali. Rasanya resah, memikirkan gadis itu yang ia tinggalkan di Jepang. Seharusnya Baekhyun tak pernah meninggalkan Yoora sendirian di Jepang.

 

“Baekhyun-ssi?”

 

Baekhyun rasa dirinya sudah mulai gila mendengar suara gadis itu berada di dalam kamarnya. Baekhyun menutup kupingnya dengan bantal. Pikirnya kenapa gadis itu begitu melekat pada pikirannya saat ini. sekali lagi Baekhyun mendengar namanya di panggil dengan segera ia melempar bantalnya kesembarang tempat dan mengenai gadis yang berada di dekat ranjangnya.

 

Tepat di muka Yoora bantal itu mendarat. Apa pria itu benar-benar marah padanya? Sampai melihat mukanya saja seperti tak mau.

 

“Hah, aku pikir kau benar-benar marah padaku Baekhyun, aku hanya ingin minta maaf padamu. Kupikir kau tidak ingin melihatku lagi, mm lebih baik aku pulang”

 

Yoora membalikan badannya ia melangkah dengan begitu lesu. Ia baru saja tiba di Korea ia bahkan tidak memikirkan apapun selain untuk ke rumah Baekhyun. Yoora menatap gagang pintu di depannya ia menghela napas pelan, mungkin ia harus membiarkan Baekhyun sendiri lebih lama.

 

Baekhyun bangun dari tidurnya, dan mengejar Yoora yang hampir membuka pintu. Ia menahan pergelangan tangan gadis itu. Yoora nyata dihadapannya saat ini. tunggu apa lagi Byun Baekhyun tinggal mengatakan maaf dan semuanya akan kembali normal. Dengan satu tarikan Baekhyun membawa gadis itu kedalam pelukannya, Baekhyun memeluk gadis itu begitu erat. Seolah menyampaikan rasa penyesalannya. Ia membelai lembut rambut Yoora dan membisikan kata maaf di telinga gadis itu.

 

“Maaf. Maafkan aku. Maaf aku membuamu terluka”

 

Baekhyun mencium puncak kepala Yoora dengan lembut sejenak ia merenggangkan pelukannya dan menatap Yoora lembut, sedikit demi sedkit Baekhyun mendekatakn mukanya pada muka Yoora dan tak lama kemudian bibir Baekhyun menyentuh bibir Yoora dengan lembut. hanya sebuah kecupan manis yang mendarat di bibir Yoora. Lebih tepatnya mendarat tepat di luka yang Baekhyun berikan untuk gadis itu.

 

Baekhyun kembali memeluk Yoora dengan begitu erat. I menghirup aroma sahmpo Yoora, ia tidak tau harus berbuat apa saat ini, gadis itu belum mengatakan sesuatu.

 

Yoora membalas pelukan Baekhyun dengan erat, ia menenggelamkan wajahnya pada dada Baekhyun. Ia benar-benar merasa menyesal saat ini rasanya air matanya ingin mengalir. Bahkan setelah pertengkaran mereka tadi malam Baekhyun masih memeluknya dengan begitu hangat dan memberikan rasa nyaman padanya.

 

“Maaf aku membuatmu kahwatir dan maaf aku berbohong. Aku takut saat kau marah padaku, aku merasa takut seperti kau tidak ingin melihat ku lagi. Aku benar-benar minta maaf Baekhyun”

 

Entah kenapa rasa sesak itu muncul pada dada Yoora, ia sangat merasa menyesal membuat Baekhyun berada di ambang batas kesabaran. Seperti Yoora tidak ingin melihat laki-laki itu marah lagi padanya, ia sangat ketakutan dan merasa seperti sendirian ketika Baekhyun meninggalkannya sendiri dengan penuh kemarahan.

 

“Hey, maafkan aku, aku terlalu egois padamu Yoora, harusnya kemarin aku menemanimu bukannya sibuk dengan pekerjaan bodohku”

 

Baekhyun mengangkat kepala Yoora, ia menangkupkan kedua tangannya pada pipi Yoora. Baekhyun bisa melihat genangan air mata pada pelupuk mata Yoora.

 

“Maafkan aku membuatmu ketakutan sepert ini, maafkan aku membuat mu melihat tatapan marahku, maaf membuat bibirmu terluka, dan maaf membuatmu mengkhawatirkan kemarahan ku.”

 

Baekhyun mengecup kedua mata Yoora dengan lembut, berlanjut dengan pipi Yoora dan yang terakhir lumatan pelan pada bibir Yoora, yang di balas lembut oleh Yoora dan mereka terhanyut dengan dunia mereka saat ini.

 

TBC

Hallo maaf banget buat minggu kemarin ga sempet update karena sedang ada halangan. Semua saran dan kritikan sudah di termia ya. Terimakasih banyak, sebenrnya ada beberapa alasan kenapa chaper yang kemarin masih kelihatan berantakan. Itu di karenakan saya lagi ada acara dan keburu-buru ngepost belum sempet revisi lagi. Hehe maaf ya dan buat yang pengan lebih banyak percakapannya selalu di usahakan ya. Btw ini dari awal adalah ff req dari sahabat tercinta aku, dan kebetulan dia lebih suka banyak narasinya daripada dialog. Tapi ini berhubung adalah edisi yang terbaru,(cie) jadinya saya usahain buat banyak dialognya.

 

Btw gimana sama chapter yang ini? he he kalau respon dari chapter ini bagus next week update chapter 4+side’s story loh hihi. Terimakasih yang masih baca ff saya dengan sabar.

 

 

 

 

 

58 responses to “ONE MORE TIME [CHAPTER 3] – BY SEBIE

  1. kenapa mreka slalu sweet, melting nih jadinya
    seokjin kamu cari prempuan lain jja ya,biarkan mrwka bahagia

  2. Pingback: One More Time [Chapter 6]- By Sebie | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. masih bingung soal perasaan Yoora… Terus bagaimana ceritanya Seokjin bisa ada di jepang dan dia seolah tahu kalau Yoora juga ada di jepang? sepenangkap ku sih begitu thor, saat di part dimana Seojin menghubungi Yoora, Seokjin seperti tahu kalau Yoora ada di jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s