Lost in Love by prllnrhmwt

lostinlovemclennx.png

prllnrhmwt present

Lost in Love

Yeri Kim & Mark Lee

Teen

Angst

Poster by mclennx

 WARNING : TYPO & ALUR YANG KECEPETAN

HAPPY READING!

 

 

Yeri benar-benar malas beraktifitas hari ini. Dari saat sekolah sampai kembali di dorm Red Velvet, gadis yang baru menginjak usia kedelapan belas tahun itu hanya memainkan ponselnya tanpa minat. Sebenarnya ia hanya mengetik sesuatu diponselnya namun ia hapus lagi. Dan yah, hal itu ia lakukan berulang-ulang hingga beberapa orang di sekitarnya mengira kalau ia sedang sibuk. Padahal tidak sama sekali. Dan Yeri yang biasanya ceria akhir-akhir ini terlihat murung dan seakan tak berminat untuk melakukan kegiatan apapun.

Dan yang menyadari perubahan gadis itu hanyalah Irene, leader Red Velvet sekaligus orang yang telah ia anggap sebagai kakak kandungnya. Well, sebenarnya ia memang menganggap seluruh member Red Velvet adalah kakaknya. Tapi daripada kakak, Irene justru lebih sering bersikap layaknya Ibu kepada Yeri.

Sebenarnya Irene sudah menyadari perubahan Yeri sejak dua hari yang lalu. Yeri yang biasanya sangat aktif dua hari belakangan ini hanya melakukan hal-hal membosankan, sekolah-pulang-nonton tv-masuk kamar-dan baru keluar saat makan malam. Dan saat makan malampun ia lebih fokus ke smartphone nya daripada makanan yang dihidangkan, seperti saat ini.

“Yerim-ah, kalau sedang makan jangan main ponsel.” Irene berkata disela-sela kegiatan makannya.

“Ah, ne eonni. Joesonghamnida.” Yeri membungkukkan sedikit kepalanya.

Dan saat itu para member Red Velvet yang lain, Seulgi, Joy baru menyadari perubahan adik kecil mereka. Seulgi ingin menyahut menanyakan apa yang terjadi dengan Yeri, namun Irene menghentikannya. Tatapan mata Irene seolah berkata, tak apa nanti aku saja yang berbicara dengannya. Seulgi hanya bisa menganggukkan kepalanya.

Makan malam hari ini terlewati dengan keheningan yang berlarut-larut dan terkesan membosankan. Tak seperti beberapa hari yang lalu, sebelum makan mereka bermain-main terlebih dahulu membuat Irene selaku member tertua kewalahan mengatur adik-adiknya.

Setelah makan malam para member Red Velvet berkumpul di ruang keluarga yang ada di dorm mereka. Jam baru menunjukkan pukul delapan, dan mata mereka sama sekali belum mengantuk. Jadi mereka memilih untuk menonton tv terlebih dahulu sambil menunggu rasa kantuk itu datang.

Namun Yeri memilih untuk ke kamarnya saja–lagi, dengan alasan mengantuk. Mereka memang mengangguk, namun jika boleh jujur, mereka tahu kalau Yeri sedang berbohong. Kim Yerim pukul delapan sudah mengantuk? Yang benar saja! Irene yang kini masih berada di wastafel, mencuci piring memandang punggung Yeri. Ini pasti karena dia dan karena Yeri membaca komentar-komentar itu lagi. Ya Tuhan. Pikirnya.

Setelah selesai mencuci piring Irene pergi ke kamar Yeri–yang merupakan kamarnya juga. Perempuan berusia 25 tahun itu membuka pintu dengan pelan. Dari sudut ini ia dapat melihat Yeri tengah tiduran dengan posisi tengkurap dengan bantal yang menutupi kepalanya.

“Yerim-ah,” Irene masuk dengan perlahan ke dalam kamar setelah menutup pintu. Ia menghampiri gadis itu. Deru napasnya terdengar tenang memang, tapi itu bukan berarti Yeri sudah tertidur.

“Kau ada masalah apa?” Irene bertanya sekali lagi seraya mencoba mengambil bantal yang menutupi kepala Yeri. Yeri sempat menolak pada awalnya, namun pada akhirnya ia menyerah.

Yeri mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan Irene. Wajahnya terlihat sangat kusut, sama dengan rambut blondenya. Ia menatap Irene sebelum menghela napas panjang. “Oh iya, Mark sudah memulai debutnya di NCT U dengan Taeil, Taeyong, Jaehyun, Doyoung dan juga Ten. Music video mereka yang berjudul ‘7th Sense’ akan dirilis malam ini!” Irene berkata dengan ceria, berusaha mengembalikan mood Yeri yang sedang down.

“Ah untuk apa aku memberitahu hal ini? Mark pasti sudah menceritakan padamu ‘kan?! Oh kau pasti orang kedua yang dia beritahu setelah keluarganya!”

Aniya, dia bahkan belum berkata apa-apa padaku. Dan perlu diralat unnie, orang kedua yang ia beritahu bukan aku, tapi Koeun.” Yeri membalas perkataan Irene sambil memasang wajah kesalnya. Ia meremas bantal dipangkuannya seakan-akan bantal itu adalah wajah Mark, kekasihnya.

Oh pantas saja. Pikir Irene.

JINJJA?! Dia benar-benar belum memberitahumu apapun? Lalu kau tahu hal ini dari siapa? Dan darimana kau tahu kalau Koeun diberitahu duluan sebelum Mark memberi tahu dirimu?”

Unnie tahu ‘kan foto teaser Mark dikeluarkan pertama? Begitu juga dengan teaser videonya. Dan sekolahku heboh karena hal itu. Jadi bisa dibilang aku tahu dari teman-teman sekolahku. Tentang hal itu, hari Selasa lalu aku ke gedung SM dan saat itu aku mendengar… ya unnie tahulah,” Tangan Yeri kini beralih ke paha Irene, kali ini ia meremasnya lebih keras, membuat si empunya meringis tertahan. “Kurasa ia masih menyukai Koeun.” Katanya lagi, suaranya kini terdengar lebih pelan. Bahkan Irene nyaris tak dapat mendengarnya. Yeri tertunduk, tangannya telah ia alihkan dari paha Irene ke bantal yang ia pangku. Irene dapat melihat kedua bahu Yeri yang bergetar, menahan tangis.

Ia pasti sangat tertekan sekarang. Katakanlah Yeri berlebihan, tetapi seperti itulah kebenarannya, kalau ia benar-benar tertekan. Akhir-akhir ini ia sering menerima komentar kebencian dan ditambah dengan masalah percintaannya yang cukup rumit ini? Jika itu terjadi pada Irene, mungkin ia tak akan sanggup.

“Lebih baik kau tidak berburuk sangka pada Mark. Ia pasti memiliki alasan tersendiri mengapa ia melakukan hal itu, bukan?” Irene benar-benar tak dapat menahan dirinya untuk tidak memeluk gadis yang 9 tahun lebih muda darinya. Mengelus punggung gadis itu, menenangkannya.

Beberapa menit kemudian Irene berkata, “Unnie keluar dulu, sekali lagi unnie katakan jangan berburuk sangka. Lagipula kenapa kau tidak memberinya pesan atau menelponnya? Besok ia akan pergi ke Shenzen,”

“Dan Yeri, kumohon abaikan komentar-komentar buruk tentangmu. Mereka tak kenal dirimu yang sebenarnya dan hanya bisa berkomentar yang tidak-tidak saja. Jangan terlalu kau pikirkan. Mereka hanya iri padamu karena kau bisa sukses diusiamu yang masih 18 tahun. Kau masih muda, jadi jangan sia-siakan masa mudamu hanya untuk memikirkan komentar yang tidak memiliki dasar seperti itu.” Irene menatap Yeri tajam.

Bagaimana bisa unnie tahu akan hal itu?

Yeri mengangguk dan tersenyum kecil. Irene juga ikut tersenyum dibuatnya. Ia mengelus puncak kepala Yeri sebelum meninggalkan kamar itu dan bergabung dengan membernya yang lain. Sekarang ini Yeri memang butuh waktu untuk sendiri. Saat Irene keluar, Yeri kembali merebahkan dirinya di atas ranjang empuk yang berwarna pink itu. Perlu diketahui, Yeri sangat menyukai warna pink meskipun warnanya di Red Velvet adalah ungu.

Ia mengambil smartphonenya yang tadi ia letakkan di meja dekat ranjang. Sebentar ia tatap layar ponsel itu. Haruskah ia mengucapkan selamat? Hatinya dilanda kebimbangan sekarang.

Gadis itu mengacak-acak rambutnya, frustasi. Jujur saja, ia memang tak mengharapkan menjadi orang kedua yang diberitahu tentang debut Mark, tetapi setidaknya ia ingin orang itu yang memberitahu dengan mulutnya sendiri.

Dan saat ia harus menghadapi kenyataan kalau dirinya mengetahui dari teman-teman sekolahnya, tentu saja itu membuatnya amat sangat kesal. Dan setelah itu bahkan Mark tidak berkata apapun padanya. Meskipun tidak mengucapkan secara bertatap muka, setidaknya lewat pesan atau telepon. Tapi sayangnya Mark juga tidak melakukan hal itu.

Yeri kembali mengubah posisinya menjadi duduk. Ia memeluk kedua lututnya seraya menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut itu, ia sedang berpikir. Tak butuh waktu lama, Yeri mengambil smartphone nya dan mengetikkan sesuatu.

Selamat atas debutmu, Mark Lee.

Aku turut senang.

Kehidupan seorang entertain yang sesungguhnya akan dimulai sekarang, Mark.

Jadi bersiap-siaplah.

-Kim Yerim.

Sent.

Pesan itu berhasil terkirim. Yeri menghela napasnya panjang. Ia kembali membaringkan dirinya di ranjang. Smartphone nya ia pegang selalu ditangan kirinya, menanti balasan dari Mark.

Hingga tanpa sadar rasa kantuk melandanya dan membuatnya terlelap.

 

***

 

Yeri membuka kedua matanya saat sinar matahari memasuki kamar lewat celah-celah. Gadis itu menggeliat sambil mengerjabkan kedua matanya, membiasakan dengan cahaya matahari ini.

Ia duduk di tepi ranjangnya. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, mungkin saja mereka sedang berterbangan. Oh oke itu agak horor. Setelah nyawanya sudah terkumpul banyak, ia mengecek jam dinding yang menggantung. Masih pukul 7, tapi ia harus siap-siap ke sekolah sekarang.

Yeri berdiri dan berjalan menuju kamar mandi setelah menyapa Irene, orang yang tadi membuka gordennya.

Oh ya, sebenarnya Irene dan Yeri satu kamar dengan Wendy, namun gadis itu tengah berlibur ke kampung halamannya di Richmon Hill, Ontorio, Kanada. Ngomong-ngomong tentang Kanada ia jadi teringat Mark, apa pria itu sudah membalas pesan Yeri? Mengingat tadi malam ia ketiduran sehingga tidak dapat mengecek ponselnya.

Unnie? Bisa kau tolong ambilkan ponselku?” Yeri berteriak dari dalam kamar mandi seperti seorang anak yang ketinggalan handuknya.

“Astaga Kim Yerim! Jangan bermain ponsel di dalam kamar mandi! Kalau kau ingin ponselmu lebih baik kau cepat mandinya!” Irene mengomel. Oh Irene sudah sangat cocok untuk menjadi seorang Ibu.

“Ish. Baiklah-baiklah,”

Setelah selesai mandi dan berpakaian, gadis itu langsung melangkahkan kakinya ke ruang makan. Di sana hanya ada Irene dan Seulgi. Joy mungkin sedang syuting acara variety, We Got Married bersama Sungjae.

Yeri duduk dipojok, tepatnya di sebelah Seulgi. Ia mengambil beberapa potong roti lalu mengolesnya dengan selai strawberry tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dering ponsel memecah keheningan yang menyelimuti ketiganya. Suara itu berasal dari ponsel milik Irene. “Ah aku harus ke gedung SM sekarang, Seulgi nanti kau yang cuci piringnya dan Yeri, manager oppa sedang dalam perjalanan ke sini jadi tunggulah sebentar lagi,” Irene mengambil jaket hitam serta topi dan juga masker.

“Ya, titip salam untuk Suho oppa!” Seulgi berteriak dan menghasilkan gerutuan sebal keluar dari mulut Irene sedangkan Yeri hanya terkikik kecil.

Lagipula Seulgi tak salah ‘kan mengira Irene akan pergi berkencan? Karena… Lihat saja gaya berpakaiannya itu, mengenakan pakaian serba hitam seperti orang yang ingin pergi melayat dengan topi dan masker putih yang menutupi wajahnya, benar-benar seperti orang yang akan berkencan bukan?

Beberapa menit sudah berlalu, manajer oppa kini sudah datang untuk mengantar Yeri ke sekolahnya, Hanlim Multi Arts High School. Gadis itu mengambil tas dan juga ponselnya di kamar sebelum berpamitan pada Seulgi yang sedang mencuci piring.

Oppa, nanti aku pulang naik taksi saja.” Mereka kini sudah berada di depan gedung sekolahnya. Para murid yang baru datang tak bisa menghentikan pandangannya dari Yeri yang terlihat begitu menawan meskipun mereka sudah sering melihatnya.

“Tidak.”

“Kenapa? Aku akan baik-baik saja,”

“Sekali tidak tetap tidak.” Yeri mendengus kesal. Manajer oppa-nya yang satu ini memang sangat keras kepala, meskipun ia tahu ini demi kebaikannya.

“Ayolah oppa, sekali saja!”

Manajer oppa-nya menyerah. Lebih baik ia turuti daripada Yeri melakukan hal gila nantinya, “Baiklah!”

Yeri tersenyum sebelum masuk ke dalam sekolahnya. Ia menyapa siswa siswa lainnya. Meskipun ia adalah seorang artis, tapi saat di sekolah ia hanyalah murid biasa, sama seperti yang lainnya.

Saat ini Yeri sedang berada di kelasnya, sendirian. Entah kenapa ia malas untuk keluar meskipun cacing-cacing diperutnya sudah meraung-raung menagih jatah makanan mereka. Untuk sekarang ini Yeri sedang memandangi ponselnya, berharap ada satu pesan dari Mark.

Ya, pesan yang ia kirimkan tadi malam belum dibalas oleh pria itu, jangankan membalas dibaca saja tidak.

Hal itu membuat hatinya terluka. Tidakkah pria itu tahu seberapa besar ia merindukannya? Merindukan suaranya? Merindukan wajahnya? Merindukan tingkahnya yang kadang dewasa namun seperti anak kecil diwaktu yang bersamaan? Merindukan pesan-pesannya yang cheesy namun dapat membuat jantungnya bekerja tak normal?

Oh Tuhan, bisakah kau sampaikan itu padanya?

Yeri menundukan kepalanya di atas meja, berusaha mengabaikan pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba datang menghantuinya. Ia tak bisa membayangkan jika hal yang ia takuti akan menjadi kenyataan.

“Yeri-ya, aku bawakan roti untukmu. Daritadi kau kelihatan lemas, apa kau sedang sakit?” Eunsoo –teman sekolah Yeri duduk di depan Yeri yang kini tengah mengangkat kepalanya, melihat Eunsoo yang menyerahkan sekantong roti ditangannya kepada Yeri.

Aigoo, terima kasih Eunsoo,” Yeri mengambil roti itu dengan senyuman yang mengembang diwajahnya, setelah melihat makanan pikiran negatif itu tiba-tiba saja menghilang. Well, bisa dikatakan kalau lapar membuatnya berpikiran yang tidak-tidak.

“Ngomong-ngomong aku baik-baik saja kok. Jadi tak ada yang harus dikhawatirkan,” Sekali lagi Yeri tersenyum sebelum menggigit roti rasa coklat itu.

Eunsoo sebenarnya tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut gadis di hadapannya ini. Ia tahu gadis ini sedang tidak baik-baik saja. Hal itu terpancar jelas dikedua matanya.

Tapi untuk saat ini Eunsoo tak ingin mendesak Yeri untuk mengatakan hal itu. Biarlah seperti ini, toh lama kelamaan Yeri juga akan mengatakannya pada Eunsoo. Ia percaya hal itu.

Sebuah senyuman terukir diwajah Eunsoo, membuat Yeri yang sedang mengunyah gigitan terakhirnya menautkan kedua alisnya bingung. Ekspresi Yeri sekarang benar-benar membuat Eunsoo tertawa. Oh lihat betapa lucu gadis di hadapannya ini. “Tidak tidak, kumohon jangan mengoceh. Lebih baik kau telan dulu makanan yang ada didalam mulutmu. Aku tak bisa menahan i-BWAHAHAHHAHAHAWHAHWHA!!” tawa Eunsoo pecah saat itu juga.

Yeri mendengus sebal sebelum memukul kepala Eunsoo dengan buku tulisnya, membuat si empunya mengaduh kesakitan sambil mengelus kepalanya. Tak lama kemudian Yeri juga tersenyum.

Aku rasa aku sudah mulai baikan sekarang. Terima kasih untukmu, Eunsoo. Kau yang terbaik. Maaf untuk saat ini aku belum bisa menceritakan apa-apa padamu.

Jangan pasang wajah itu didepanku lagi, Kim Yerim. Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Tak apa kau tidak mengatakan alasannya padaku, tapi aku akan selalu mengembalikan senyummu yang secerah matahari itu.

Yeri tak menyangka manajer oppanya itu benar-benar menuruti apa yang ia katakan untuk tidak menjemputkan saat pulang sekolah. Ia rasa manajer oppa itu melunak akhir-akhir ini. Mungkin dia sedang ada masalah dengan istrinya, ups.

Yeri menelpon taksi setelah memastikan kalau manajernya tidak akan ke sini. Resiko menaiki taksi adalah ia harus menunggu beberapa menit dan hal yang paling ia benci adalah menunggu.

Dua puluh menit kemudian datanglah taksi yang tadi ia pesan. Gadis itu duduk di belakang dan mengatakan tujuannya. Di dalam taksi ia hanya terdiam sambil memandangi pemandangan di luar.

Tak terasa musim semi sudah kembali. Dan ia sudah satu tahun bersama Red Velvet. Ia benar-benar tak menyangka akan didebutkan bersama Red Velvet. Ia kira ia akan memulai debutnya bersama member SMRookies Girls.

Dering ponsel memecah heningnya suasana. Gadis yang tengah memandangi indahnya pohon sakura itu mengambil smartphonenya yang tadi ia taruh di dalam tas hitamnya. Sebuah nama yang terpampang dilayar ponsel itu membuat senyuman lebar terukir di bibir manisnya.

‘Mark Lee’.

Tapi senyuman itu luntur kembali dalam beberapa detik. Berubah menjadi air mata yang menggumpal dipelupuknya. Kenapa pria itu selalu membuatnya terbang lalu menjatuhkannya setelah ia benar-benar berada di tempat yang tinggi?

Yeri berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis di dalam taksi. Ia hanya mampu menarik napasnya berulang kali agar tangisannya tak pecah saat itu juga. Harusnya ia dapat memprediksi hal ini.

Mengapa ia begitu bodoh?

Yeri, aku minta maaf.

Aku tahu, mungkin aku adalah pria terbrengsek yang ada di dunia ini.

Tapi kurasa ini adalah keputusan yang paling baik.

Aku tidak bisa terus membohongimu.

Pura-pura bahagia menjalin hubungan bersamamu.

Aku rasa lebih baik kita mengakhiri hubungan ini.

Sekali lagi maaf.

Mark Lee.

 

***

 

Aku tahu.

Aku tahu hari ini cepat atau lambat pasti akan datang. Ya, hari dimana kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Kita? Mungkin hanya aku yang menganggap demikian.

Tetapi aku sama sekali tidak menyadari bahwa selama 1 tahun lebih menjalani hubungan denganmu, hanya akulah pihak yang merasa bahagia. Sedangkan kau?

Aku begitu bodoh karena sama sekali tidak memikirkan perasaanmu kala itu dan lebih mementingkan diriku sendiri. Awal hubungan kita memang lancar, seperti pasangan kekasih umumnya.

Meskipun begitu, akulah yang mengejar-ngejarmu. Tidak seperti kau yang pada saat itu terkesan acuh padaku sebelum aku memulai aksi bodohku untuk terus menerus menarik perhatianmu, melakukan hal yang membuatmu jengkel.

Mungkin karena aku yang terus mencari perhatian padamu, kau menjadi lebih hangat dan ramah padaku, meskipun terkadang kau masih merasa jengkel padaku, hehe. Sejak saat itu kita mulai dekat dan menjadi sahabat, benar tidak? Sepertinya aku sudah mulai lupa, hehe.

Hubungan ini memang dimulai olehmu. Kau menyatakan cintamu padaku dan aku langsung menerimanya. Oh my God, siapa yang tidak senang ketika pria yang kau cintai menyatakan cintanya padamu, huh?! Aku yakin kau juga akan seperti itu jika Koeun menyatakan cintanya padamu.

Namun menjelang bulan ketiga, aku dapat merasakan kalau kau mulai jenuh denganku meskipun kau sama sekali tidak berkata apa-apa dengan terus memasang senyumanmu yang mampu membuatku terpesona dan seperti berada di angkasa meskipun sudah seringkali aku melihat senyuman itu. Senyuman sialan itu yang membuatku percaya kalau kau mencintaiku, dan mengabaikan rasa jenuhmu padaku.

Dan harusnya saat itu aku sudah tahu, ketika kau menyatakan cintamu, itu hanyalah cinta monyet yang bahkan tak pantas untuk mendapatkan cinta tulusku padamu. Maaf, tapi itulah yang kupikirkan.

Seharusnya aku sudah tahu kalau aku sudah kalah bahkan sebelum bertarung. Seharusnya aku tahu kalau kau hanya menyukai Koeun seorang, bukan aku, Kim Yerim si gadis bodoh. Seharusnya aku tahu kalau rasa perhatian, kasih sayang dan cintamu hanya untuk Koeun.

Ya, semuanya hanya untuk Koeun.

Dari acara Disney Channel, The Mickey Mouse Club seharusnya aku mengetahui kalau kau masih ada rasa untuk Koeun, meskipun sebenarnya saat itu kita sudah menjalani hubungan. Ah apa aku harus memberitahu hal ini? Hm, kurasa iya. Kau tahu tidak berita tentang kau yang menyukai Koeun sangat ramai dikalangan SMRookies, member f(x) sunbaenim, SHINee sunbaenim, EXO sunbaenim dan juga grupku, Red Velvet. Itu semua karena kau yang menunjukan hal itu, namun sepertinya Koeun terlalu bodoh untuk menyadari kode seperti itu –hal itu adalah kata-kata pertama yang keluar dikepalaku saat melihat tingkah kalian di acara tersebut, bahkan sebelum adanya acara itu. Tapi ternyata aku salah.

Koeun juga memiliki perasaan yang sama denganmu, Mark. Namun gadis itu benar-benar pandai untuk menyembunyikan perasaannya, berbanding terbalik denganmu yang sangat kelihatan.

Koeun tidak dapat dikatakan sebagai orang ketiga dalam hubungan kita. Karena kenyatannya, akulah orang ketiga dalam hubungan kalian. Jika aku tak mencari perhatianmu dan bersikap menyebalkan, dapat kupastikan kalian sedang menjalin hubungan lebih dari sahabat sekarang. Atau lebih singkatnya, berpacaran.

Dan mungkin saja… kalian memang tengah menjalani hubungan, sekarang. Tanpa sepengetahuanku. Oh kumohon hentikan pikiran buruk ini sekarang juga. Sekali lagi maaf aku berpikiran seperti ini.

Tapi aku tak pantas untuk marah. Aku justru merasa kalau aku pantas mendapatkan hal ini mengingat bagaimana aku tak memperdulikan perasaanmu yang senang atau tidak menjalani hubungan ini dan hanya mementingkan diriku sendiri, membuat hubunganmu dan Koeun sempat renggang semenjak aku berpacaran denganmu, membuat kedua orang yang saling mencintai ini menjauhi satu sama lain.

Ah, apa pesanku terlalu panjang? Ugh, maaf Mark jika matamu pegal membaca pesan ini, karena sejujurnya mataku juga pegal dan memerah. Tidak! Aku tidak menangis jadi hentikan pikiranmu yang membayangkan aku sedang menangis!

Aku tak mengharapkan balasan darimu. Setidaknya bacalah.

Terakhir, aku ingin meminta maaf (lagi) atas semua yang kuperbuat. Maaf karena telah membuatmu jengkel, maaf karena tak memikirkan perasaanmu, maaf karena telah membuat kisah cinta antara dirimu dan Koeun menjadi berantakan, maaf karena telah membuat kalian jauh. Maaf atas segala-galanya, Mark.

Dan terima kasih karena telah menghabiskan 1 tahun yang indah bersamaku meskipun sebenarnya kau tidak ingin. Terima kasih.

Dan sekarang berbahagialah dengan gadis pilihanmu, Koeun. Dia gadis yang pantas untukmu, kau tahu ‘kan dulu aku sangat akrab dengannya? Jadi jangan kecewakan dia, karena jika kau melakukannya aku tak segan-segan untuk memukulmu!

Kim Yerim.

Tak semua kisah berakhir bahagia seperti yang dipikirkan Yeri. Mulai sekarang tak ada kata ‘happily ever after’ lagi dalam kamus gadis berumur 18 tahun itu.

Sekarang ia harus menjalani kehidupan seperti biasanya. Ia tak akan membuat para unnienya, terlebih Irene unnienya khawatir lagi karena melihat dirinya murung beberapa hari ini. Ia harus kembali menjadi Yeri yang ceria saat tiba di dorm nanti. Ia tak perlu murung lagi meskipun kenyataan yang ia terima hari ini jauh lebih pahit, toh masih banyak yang saying dengan dirinya kan? Ada keluarganya, member Red Velvet dan juga teman-temannya, terutama Eunsoo. Ah ngomong-ngomong Eunsoo, Yeri rasa ia harus menceritakan hal ini pada Eunsoo.

Yeri menghapus air mata yang mengalir. Menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Menepuk kedua pipinya pelan. “Ya, berhenti di sini. Terima kasih, ini uangnya, ahjussi,” Yeri turun dari taksi itu, memandangi dormnya sebentar sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bangunan itu.

 

UNNIE, AKU PULANG! APA ADA MAKANAN?”

 

fin

 

hai, aku balik lagi dgn ff angst gagal yg ngegantung xDD maaf ya gadapet feelnya wkwkkwkw, aku gajago sumpah. oiya aku lg dalam proses pengerjaan ff chaptered (insya allah) dan kira2 pake cast siapa? surene atau markyeri atau kaistal atau siapaaaaaa? aku bingung xDD

oiya untuk sequel elevator, aku bnr2 gabisa janji, soalnya senin bsk udh mulai sekolah dan pasti bakal susah buat bikin ff😦

dan untuk ff ini gaada sequel ya!xD

see you next time!

6 responses to “Lost in Love by prllnrhmwt

  1. andwaeeeeeeeee T.T
    walaupun aku shipper berat mark sma koeun
    ngeliat uri yerim sedih kyak gini kan gak tegaaaa TT
    mkasihh authorr,
    soalnya lgi tergila2 banget sma yyg nmanya SMrookies inii,,
    dtungguin yaa cerita lainnyaaa

  2. Awalnya di awal ngira ada kemingkinan nanti si Mark bakal ngasih surprise krn udh nyuekin Yerim ehh taunya minta putus kasian sekali si Yerim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s