My Light ~ohnajla~

(Ravi & his young sister @ the airport. He’s crying because she surprised him there)

Author : ohnajla

Genre : Romance, family, drama

Rating : G

Length : one shoot

Cast : Kim Wonshik a.k Ravi (Vixx), Kim Ji Won (Ravi’s sister)

.

 

Semua mengenal dirinya sebagai Kim Wonshik. Seorang pemuda bertubuh tinggi kurus yang berdomisili di pusat Ibu kota Korea Selatan, Seoul. Dia merupakan anak sulung dari dua bersaudara, memiliki adik perempuan bernama Kim Jiwon. Hanya terpaut satu tahun usianya dengan usia sang adik. Namun mereka tidak bersekolah di tempat yang sama. Wonshiklah yang memaksa sang adik untuk bersekolah di sekolah khusus wanita.

Sementara sekolahnya sendiri adalah sekolah yang bisa dibilang cukup terbelakang. Orangtuanya tidak sanggup menyekolahkannya di SOPA atau SMA favorit lainnya. Karena sebagian dana banyak digunakan untuk keperluan sekolah adiknya.

Meski begitu, berkat Wonshiklah SMA Manwol kini memiliki prestasi yang cukup gemilang di tingkat Seoul. Dia adalah siswa pertama –dari SMA Manwol- yang berhasil memenangkan piala emas untuk kompetisi menulis lirik lagu tingkat SMA dan mahasiswa, dia juga mendapat juara umum dalam pentas seni SMA se-Seoul dengan title Best of Rap Performance. Semua penghargaan itu dia dapatkan saat masih menjadi junior di Manwol, sebuah prestasi yang hebat.

Namun, prestasi selalu tidak menjamin kehidupan sosial seseorang. Semua orang mengucilkannya, menganggapnya sebagai pesaing terberat, orang berbahaya yang patut dijauhi. Wonshik tidak pernah mengerti kenapa mereka melakukan itu padanya. Padahal selama ini Wonshik merasa ramah dan baik pada mereka, tidak membeda-bedakan satu orang pun. Tapi mengapa? Mengapa semuanya begini?

Titik kesedihan Wonshik dimulai tepat saat dia akan menginjak tahun terakhir. Tekanan sosial membuat pikirannya stress. Dia jadi kurang berkonsentrasi terhadap akademik sekaligus bakat musik alaminya. Dia yang semula memiliki kepribadian terbuka dan penuh percaya diri, kini berubah drastis menjadi seorang yang tertutup dan penakut. Mau mengasah bakatnya takut, mau mengikuti kompetisi musik takut, bahkan masuk sekolah pun menjadi ketakutan tersendiri untuknya. Seketika dia berubah menjadi anak yang berantakan. Membuat kesedihan dan tanda tanya tersendiri bagi kedua orangtua.

Di saat liburan musim dingin, Jiwon memilih untuk pulang ke rumah. Dia yang sebelumnya tidak pernah pulang sewaktu liburan, jadi dia kurang tahu bagaimana kondisi kakaknya. Sesampainya di rumah, dia tak lagi menemukan teriakan ceria, atau senyum dari kakak laki-lakinya. Yang dia temukan hanyalah pria bertubuh tinggi kurus yang sedang bermalas-malasan di depan televise sambil menonton acara kartun anak-anak. Jujur, ini adalah pertama kalinya Jiwon melihat kakaknya seperti itu. Biasanya, Wonshik adalah orang paling sibuk di rumah, dia tidak pernah sekalipun bermalas-malasan di depan TV apalagi menonton acara kartun. Merasa ada yang salah dengan kakaknya, Jiwon pun menghampiri.

Oppa.”

Wonshik sontak menoleh. Hanya sekilas, kemudian fokus pada televisi lagi. Jiwon semakin yakin bahwa ada yang salah dengan kakaknya.

“Tumben Oppa menonton TV,” ujarnya basa-basi. Ia melepas mantelnya, lalu ia sampirkan di lengan sofa.

“Hm,” balas Wonshik seadanya.

Oppa tidak mengarang lagu lagi?”

“Berisik!” Wonshik langsung menyambar remote kemudian menekan tombol volume up sampai suara dari televise menggema keras di ruang tersebut.

Jiwon memandang kakaknya sendu. Bahkan kakak yang dulu sangat menyayangi dan memanjakannya, sekarang berubah menjadi seseorang yang kasar.

Dia mengulurkan tangannya hingga berhasil menggapai bahu kurus Wonshik. Diusapnya bahu itu dengan air mata yang siap jatuh dari peraduan. Sungguh menyakitkan melihat kakaknya seperti ini. Jauh lebih menyakitkan dibanding olok-olok miskin dari teman-temannya.

“Ada apa denganmu sebenarnya, Oppa? Kausungguh berbeda..”

Wonshik masih bergeming, meski sebenarnya dia mendengarkan ucapan adiknya.

“Aku selalu berharap tiap kali pulang ke rumah akan menemukan teriakan dan senyum ceriamu. Tapi, kenapa sekarang justru kaumembentakku? Apa ada yang salah denganku? Kalau memang ada yang salah, kauseharusnya bicara, bukan diam seperti ini.”

Wonshik yang seolah tak peduli membuat perasaan Jiwon makin teriris. Dia menangis, tangisan yang terkesan diam-diam tidak seperti anak kecil yang merengek dibelikan sesuatu. Tangan kirinya sibuk menghapus air mata di pipi, sementara tangan kanannya masih berada di atas bahu Wonshik. Air matanya akan terus bertambah tiap dia melihat punggung Wonshik yang masih membelakanginya. Dia sungguh rindu sosok kakaknya. Kim Wonshik yang ia kenal adalah seorang kakak yang tidak akan pernah membuat atau membiarkan adiknya menangis. Kim Wonshik yang ia kenal adalah kakak yang mau berkorban apa pun untuknya. Dan Kim Wonshik yang ia kenal bukanlah yang ia lihat sekarang.

Lima menit berlalu begitu lambat. Wonshik akhirnya mau bergerak. Itu pun gerakan yang tidak diinginkan oleh Jiwon. Wonshik mematikan televisi, kemudian bangkit dan pergi begitu saja ke kamar. Seolah tidak pernah sadar kalau ada orang lain di dekatnya.

Jiwon ingin memanggilnya, tapi suaranya tertahan oleh isakan. Dia juga tak punya daya untuk menahan langkah kakaknya. Ingin menangis lagi, tapi air mata sudah kering. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi kecuali bergeming sambil menatap pintu kamar Wonshik.

**

Malamnya, Wonshik yang semula hanya duduk diam seperti patung di atas ranjang pun menoleh ketika pintu kamarnya dibuka. Jiwon datang, bersama nampan berisi makanan di tangannya. Wonshik menghela napas, kesal karena adiknya terus saja menemuinya meski didiamkan. Jiwon mendekat padanya, meletakkan nampan berisi makanan itu di atas nakas.

Oppa, aku membawa makanan kesukaanmu. Aku yang memasaknya sendiri.”

Wonshik menatap heran adiknya yang berbicara dengan nada riang seperti biasa. Apakah didiamkan belum cukup untuknya? Perlukah ia bentak gadis kecil kesayangannya ini? atau dia pukul sekalian?

Wonshik tentu saja tidak akan memilih keduanya. Meski keadaannya kini sedang kacau, dia tidak akan mungkin berlaku begitu pada Jiwon. Tapi dia juga tidak bisa berpura-pura tegar di depannya. Jadi dia pun memutuskan untuk mengacuhkannya saja.

“Aku tidak lapar. Keluarlah.”

Wonshik pun menyalakan lampu tidurnya, lalu berbaring dengan selimut yang menutupi setengah wajah. Dia berbaring dengan posisi membelakangi Jiwon, pura-pura terpejam.

Tapi mau bagaimanapun cara Wonshik mengacuhkannya, Jiwon tetap bersikeras untuk berada di dekatnya. Buktinya Jiwon tidak pergi dari ruangan itu. Dia malah ikut naik ke atas ranjang dan berbaring menghadap kakaknya. Mengetahuinya Wonshik pun marah. Dia langsung terduduk dan menatap adiknya garang.

“Kau gila?!! Siapa yang mengijinkanmu tidur di sini?!”

Meski sedikit shock, Jiwon ikut duduk dan membalas tatapan kakaknya. “Kenapa aku gila? Bukankah oppa sendiri yang menyuruhku tidur di sini tiap kali aku tidak berani tidur sendiri? Dulu Oppa tidak keberatan aku tidur di sini, tapi sekarang kenapa kau malah menganggapku gila? Kenapa kau begitu berubah?!”

Wonshik masih menatap Jiwon dengan tajam, tapi amarahnya sudah reda. Adiknya menangis lagi, semua hanya karenanya. Dia tak habis pikir kenapa Jiwon menangis, bukankah harusnya Jiwon juga marah dan membencinya?

“Aku kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku tidak membencimu saat kaumembentakku seperti itu? kenapa aku tidak marah saat kaumenyebutku gila? Kenapa justru aku menangis.. aku..aku..”

Wonshik pun mengalihkan pandangan. Mengatur napasnya yang mendadak sesak.

“Seberapa jauh kau mengacuhkanku, mendiamkanku, membentakku, mengataiku gila, aku tetap akan mencintaimu, Oppa. Kau satu-satunya saudara yang kupunya, kau satu-satunya orang yang kuingat ketika semua orang membenciku. Aku sungguh tidak mau kehilangan dirimu..”

Cairan hangat yang selama ini terkurung dalam netra, akhirnya meluap juga, merembes turun dari peraduan, mengalir tenang hingga bermuara di bibir. Hati yang selama ini kosong, gelap dan terkekang oleh dinding-dinding besi yang dingin, kini mulai terisi sedikit, bercahaya dan hangat. Memunculkan perasaan yang sangat sejuk, rasa yang telah lama ini tidak ia rasakan lagi.

Ia pun menggeser duduknya, merengkuh tubuh mungil adiknya erat-erat. Mencium dan mengusap rambut hitam legamnya dengan lembut. Setahun tidak bertemu dengan Jiwon juga membuat Wonshik merasa rindu terhadapnya. Sosok adik kecil yang selalu ia jaga sepenuh jiwa.

“Maafkan Oppa. Tolong berhentilah menangis, Jiwon-a.”

Jiwon hanya mengangguk, meski dia belum bisa menghentikan tangisnya.

**

Berkat cinta dan kasih sayang dari adiknya, Kim Wonshik akhirnya kembali. Dia membuat semua orang terkejut, terlebih ayah dan ibunya. Wonshik hanya tersenyum tiap orangtuanya menanyakan tentang kenapa dia bisa begitu cepat berubah. Jiwon juga sama, mereka berdua sepakat untuk menyembunyikan itu sebagai rahasia.

Kembalinya Wonshik membuat orang-orang yang mengucilkannya merasa heran. Sekaligus khawatir kalau Wonshik akan menjadi saingan terberat mereka lagi. Meski Wonshik tahu isi kepala mereka, Wonshik memilih untuk acuh. Seberapa besar cara mereka menjatuhkan mentalnya, dia akan tetap membalasnya dengan senyuman. Karena dia sudah berjanji pada Jiwon, “Oppa janji, Oppa akan tersenyum meski dijatuhkan, akan baik meski diperlakukan buruk dan semangat meski dihina. Oppa tidak akan kalah darimu”.

Kembalinya Wonshik justru kebanggaan tersendiri bagi guru dan Kepala Sekolah. Dengan kembalinya pemuda itu, SMA Manwol akan kembali mendapat kejayaannya, sedikit demi sedikit keterbelakangan SMA mulai terangkat. Di tahun terakhirnya sekolah, Wonshik masih sempat memberikan kontribusi besar untuk citra sekolah. Hanya butuh waktu kurang dari tiga bulan dia berhasil mencetak dua prestasi sekaligus. Memboyong piala dengan tittle Best of Dance Performance dan komposer muda terbaik di tahun itu dengan skala internasional.

Menjelang kelulusannya, dia mendapat rekomendasi dari salah seorang guru untuk ikut audisi di sebuah agensi rekaman yang dipegang oleh teman dari gurunya itu. Rekomendasi yang menggugah semangat Wonshik tentu saja. Dia langsung pergi ke agensi tersebut, mengikuti audisi, dan akhirnya diterima sebagai trainee baru. Dia menjalankan masa trainee nya setelah lulus dari SMA.

Sedikit sedih sebenarnya karena dia akan jarang berkumpul dengan orangtua dan adiknya lagi. Namun lagi-lagi karena adiknya, dia tetap berjuang keras di agensi itu untuk segera debut. Banyak lagu yang sudah ia ciptakan, salah satunya lagu yang dia khususkan untuk sang adik. Rencananya akan dia nyanyikan lagu itu saat dia debut, di panggung konser pertama debutnya nanti.

Oppa, saat kau debut nanti, aku akan menjadi fan pertamamu. Aku akan menghadiri semua acara yang kau ikuti. Nanti Oppa  akan lihat aku di barisan paling depan, paling keras meneriaki namamu. Aku janji.”

Wonshik tersenyum tiap mengingatnya. Dan saat itu juga semangatnya akan tersulut kembali. Lelah, penat, bosan, semuanya akan dia singkirkan. Demi menjadi kakak yang dibanggakan adiknya.

END

3 responses to “My Light ~ohnajla~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s