EXO & YEOJA ! Oh Sehun

wgm2

sehun exo & yeoja

Author                  : Oh Hani

Cast                       :

-Oh Sehun

-Lee Hera (OC)

Other Cast          :

Cari sendiri nanti juga tau haha

Gentre                   : family, fluff, romance

Rating                   : PG-15

Disclaimer           : Ahhhhhh MAAFKAN akuuuuuu!!!! Aku sudah lama menghilang dan datang dengan kabar yang tak baik L maaf maaf maaf. Aku memperbaharui cerita ini. Ada alur yang aku ubah dan berdampak pada semua cerita member yang lainnya dan aku berusaha keras untuk bikin ulang cerita. Maaf yaaaa dan aku bawa cerita sehun yang baru ini dari dua sudut pandang. Sudut pandang author dan sudut pandang Hera. Semoga kalian menikmatinya. Maaf banget buat temen – temen yang sudah menunggu ff buluk ini ya😦

Ini hasil pemikiranku sendiri. jangan plagiat!!!! dan jangan lupa beri komentar oke?

***

Chapter 1

Perjodohan Itu Dimulai

Seorang gadis menggenggam erat tangan seorang anak perempuan yang kini sedang terengah-engah dibelakangnya. Mereka berdua berlari untuk menghindari kejaran pria botak berbadan gemuk yang terlihat geram kepada mereka. Tak hanya pria botak itu, segerombolan yang terlihat seperti preman ikut mengejar wanita yang kini menelusup kearah gang sempit.

“Eo—-nnie?” gadis itu mencoba memanggil gadis cantik yang tengah menyeretnya. Nafasnya tak kuat untuk memanggil orang yang ia anggap pahlawan yang menyelamatkannya dari pria botak yg tengah mengejar mereka.

Gadis itu melirik kebelakang, mencoba melihat anak perempuan yang sedang dibawanya kini. Anak itu terlihat kelelahan, wajahnya agak memucat. Mereka sudah berlari cukup lama dan mungkin anak itu sudah tak kuat lagi.

“Kau lelah?” tanya gadis itu agak terengah dan dijawab anggukan lemah oleh si anak perempuan.

Gadis itu berfikir keras agar mereka dapat lolos dari kejaran para pria yang ia yakini jaringan penjualan anak. Dari kejauhan ia melihat sebuah rumah tua yang membuat gadis itu tersenyum, mungkin ia bisa bersembunyi disana untuk sementara waktu.

Tanpa pikir panjang ia menggendong anak perempuan itu dan berlari dengan cepat memasuki perkarangan rumah. Ia bersembunyi di belakang rumah itu dan segera menurunkan kembali anak kecil yang digendongnya. Si botak dan preman preman terus berlari dan melewati tempat persembunyian mereka.

Dengan lega gadis itu menghembuskan nafas tenang dan duduk berselonjor diatas tanah.

“Kau tak apa – apa?”

“Hm” jawab anak perempuan itu sambil mengangguk.

Gadis cantik itu tersenyum, “Baguslah, sekarang mari kita pulang.”

***

“Yoonhae!!!!” teriak seorang wanita paruh baya yang langsung menghambur memeluk anak perempuan yang menjadi anak asuhnya di panti asuhan. Wanita itu tak henti – hentinya berucap syukur sambil menangis.

“Oh Tuhan. Aku tak tahu jika Yonnhae-ku tak kembali.”

“Kang Ahjumma, sudahlah jangan menangis lagi, Hera sudah menemukannya.” ucap seorang gadis yang membawa dua gelas air ditangannya. Ia menyerahkan gelas yang berada di tangan kananannya ke anak perempuan yang bernama Yoonhae dan gelas yang lain kepada gadis cantik yang membawa Yoonhae, Lee Hera.

Ibu panti itu mengusap matanya yang basah dan beralih kepada Hera, “Hera-ya… Ahjumma sangat berterimakasih padamu. Jika tak ada kau, kita tak tahu bagaimana nasib Yoonhae nantinya.” ia menggenggam erat tangan Hera.

Hera tersenyum lembut, “Ne, Ahjumma. Aku senang bisa membantu dan—aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku.”

***

Jam menunjukkan pukul 20.00 KST. Hera pulang kerumahnya setelah jam kerjanya usai. Ia bekerja di toko kue milik keluarga Bae Suzy. Pekerjaan part time dan pekerjaan yang sangat di tentang kedua orangtuanya. Bukan karena gajinya yang tak seberapa tapi karena Hera tak perlu melakukan perkerjaan itu. Kelak ia akan mewarisi perusahaan Ayahnya. Hidupnya kini serba berkecukupan, apapun yang ia inginkan ia bisa mendapatkannya. Keluarga Lee termasuk golongan keluarga elite. Jadi untuk apalagi Hera susah payah mencari uang?

“Kau baru pulang?”

Hera menghentikan langkahnya saat kakinya baru saja menginjak tangga pertama menuju lantai dua. Ia membalikkan badan dan tersenyum kepada wanita yang telah melahirkannya.

“Hallo eomma!” Hera menyapa riang dan berhambur memeluk ibunya. “Mianhae eomma. Sepulang sekolah aku pergi kerumah Jinsang,” ucapnya berbohong, “dan setelah itu aku langsung pergi bekerja. Mianhae, aku tidak pulang dulu kerumah.”

Nyonya Lee hanya menggeleng – geleng dan membalas pelukan anaknya. “Kau selalu saja seperti itu. Kau tak tahu eomma ini sangat menghawatirkanmu?”

“Mianhae eomma.”

“Ya, eomma maafkan. Sekarang kau pergi mandi dulu, badanmu sudah mengeluarkan bau tak sedap. Setelah itu kita makan bersama oke?”

Hera melepas pelukkannya dan membentuk huruf O oleh ibu jari dan telunjuk tangan kanannya, “Oke!” setelah itu ia berlari kelantai dua dan memasuki kamarnya.

Hera menghembuskan nafas, “Maaf aku berbohong lagi, eomma.” ucapnya pelan.

Ia berbaring di kasur dan memeluk boneka teddy bear kesayanggannya.

“Teddy, apa eomma akan marah jika aku menjadi pahlawan untuk oranglain? Aku hanya ingin kejadian yang dulu menimpaku tak menimpa yang lainnya.”

***

“Terimakasih sudah mengantarku ahjusshi.”

Hera melambaikan tangan kepada supir yang sudah mengantarnya dan berjalan memasuki area sekolah.

Lee Hera, siswi Geumsaek Senior High School yang kini sudah menginjak kelas tingkat 2 ini melangkahkan kakinya menuju kelas yang berada dilantai dua.

Sekolah yang cukup bergengsi ini dihuni oleh anak orang – orang kaya di Korea. Bahkan banyak warga Negara asing yang bersekolah disini. Lulusan sekolah Geumsaek banyak yang menjadi orang – orang sukses. Maka tak salah jika orang – orang yang mempunyai banyak uang menyekolahkan anaknya ke sekolah ini.

“HERA!!!”

Hera membalikkan badan melihat orang yang memanggil namanya dari belakang. Hera melipat tangan depan dada saat tau siapa yang memanggilnya.

“Wae?” tanyanya ketus saat seorang pria berlari kearahnya.

Orang yang memanggilnya itu tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Pria tampan yang kini berada tepat di depan Hera itu masih mengatur nafasnya sebelum menyampaikan maksudnya memanggil Hera.

“PR Biologimu, apa aku boleh melihatnya? Em—maksudku menyalinnya?”

Hera memutar bola matanya malas. Sudah ia duga, pria ini pasti akan berkata demikian.

“Apa yang akan kau tawarkan padaku?” ini pertanyaan Hera saat ada orang yang memanfaatkan dirinya. Pertanyaan itu sebenarnya kata lain dari ‘apa imbalan yang aku dapat?’ hanya saja kata – kata itu agak merendahkan dirinya.

Pria itu kini mengusap dagunya sambil berfikir, “emmm bagaimana jika ku traktir makan siang hari ini?”

Hera menimbang – nimbang tawaran pria itu.Traktir makan siang? Tidak buruk, tapi pria ini selalu makan siang dengan sahabat – sahabatnya. Apa ia juga harus bergabung?

Chanyeol adalah salah satu pria populer di Geumseok. Banyak wanita yang mengincarnya, namun Hera tak habis pikir apa yang mereka incar dari pria ini? Dia tak mempunyai kelebihan selain tinggi badannya yang terlalu tinggi.

“Tidak buruk, tapi kau siapkan saja meja kosong untukku, oke?” jawab Hera setelah menimbang – nimbang. Ia menerima tawaran itu bukan berarti harus makan siang bersamanya kan?

“oke!” jawab Chanyeol menyetujui sambil mengacungkan jempolnya, “ayo kita pergi ke kelas bersama!” ucapnya kembali sambil menggandeng lengan Hera.

Hera menatap tajam pria itu, “Chanyeol! Kau mau membuat skandal denganku?” Fans wanitanya banyak dan sangat ganas, kalian bisa bayangkan jika Chanyeol berdekatan dengan Hera, Hera akan kena imbas yang tak baik.

Chanyeol mulai melepaskan gandengan tangannya, “Hehe mian, kau jalan duluan.”

Hera menghembuskan nafasnya kemudian berjalan mendahului pria tinggi itu.

Sampai di kelas, Hera disambut senyum hangat sahabatnya, Jinsang. Ia duduk disebelah Hera dan mulai mengeluarkan sebuah CD didalam tasnya.

“Apa?” tanya Hera sambil mengamati cover CD bergambar anime.

“Free! anime genre sport tentang berenang.”

***

Setelah pelajaran terakhir usai Hera segera berlari menuju gerbang. Ia sudah dijemput oleh supir pribadinya. Hera setiap hari diantar jemput oleh supir. Keluarga Hera sangat protektif terhadapnya, ia sendiri juga tak tahu mengapa keluarganya begitu protektif. Jika dihubungkan dengan masa lalu, ia agak sulit untuk mengingatnya.

“Ahjusshi, maaf aku membuatmu menunggu.” ucapnya setelah masuk kedalam mobil.

“Tidak apa-apa nona, saya kebetulan baru sampai.”

Hera tersenyum, “Baguslah kalau begitu.”

Dirumahnya, Nyonya Lee dan para pembantunya sedang memasak banyak makanan. Hera yang baru sampai rumah langsung mengunjungi dapur yang terlihat sibuk.

“Ada apa eomma? mengapa mamasak begitu banyak?”

Nyonya Lee yang baru menyadari anaknya telah pulang dengan segera mendorongnya keluar dapur. “Kau mandilah dulu ne. Eomma sudah menyiapkan baju untuk kau pakai.”

Hera menautkan alisnya, “Baju?”

“Ne, baju untuk kau pakai. Malam ini kita kedatangan tamu.”

“Siapa?”

“Kau akan tahu sendiri.”

Hera mengangkat bahunya dan segera pergi ke kamarnya.

***

Hera sudah memakai dress yang sudah disiapkan eommanya. Hera mengamati dirinya di depan cermin. Dilihatnya bayangan didepannya, wanita bermata coklat, rambut coklat gelap yang dibiarkan tergerai, dress selutut tanpa lengan bewarna pastel dan sepatu flat yang senada dengan dressnya, terlihat cantik dan anggun.

Agak sedikit aneh mengingat sangat jarang eommanya memasak banyak dan menyiapkan dress untuknya. Siapa yang datang? apakah teman bisnis appanya? tapi biasanya mereka akan makan diluar jika menyangkut teman bisnis. Apa kerabatnya? Tapi mengapa sampai menyiapkannya baju?

Tok tok tok

Suara ketukan pintu membuat Hera mengalihkan pandangannya kearah Pintu.

“Nona muda, nyonya besar sudah menunggumu dibawah.”

“Ne~”

Banyak pertanyaan dalam fikiran Hera yang ingin ia tanyakan, namun ia harus pendam dan ia akan tahu setelah ia turun ke bawah.

Hera berjalan agak tergesa – gesa dan setelah mencapai meja makan, ia melihat lima pasang mata menatapnya. Diantara enam pasang mata itu, ia mengenal Eomma, Appa dan Oh Ahjumma namun dua pasang lagi agak asing dalam penglihatannya.

Sehun yang melihat Hera datang hanya menatapnya datar, berbeda dengannya Hera malah terkagum dengan paras itu, tapi ada apa dengan ekspesi wajah pria itu? Sejujurnya Hera agak benci melihat ekspresi datar dan terkesan dingin yang ditampakkan Sehun.

“Annyeong~” sapa Hera sambil menunduk.

Yang lain berdiri dan menyambut kedatangannya tak terkecuali Sehun–pria yang belum dikenal oleh Hera.

“Kemari sayang!” ajak Nyonya Lee dan mempersilahkan anaknya duduk di pinggirnya. Kini Hera berhadapan dengan Sehun.

Nyonya Oh tersenyum kearah Hera, Hera pun membalas senyumnya. Hera sudah kenal dengan Nyonya Oh karena beliau sering berkunjung kerumah saat ia masih junior high school dulu.

“Sudah lama tak bertemu ne?” tanya Nyonya Oh ramah.

“Ne, Ahjumma. Kau tak berubah, masih cantik seperti dulu.”

Nyonya Oh tertawa, “Kau bisa saja Hera.”

“Kau juga tak kalah cantiknya Hera.” Tuan Oh mencoba mengintrupsi.

“Ah, Gomapseumnida”

Hera tersenyum dan diam-diam melirik Sehun.

Sehun yang tau Hera mencuri-curi pandang padanya hanya tertawa dalam hati. Mungkin Hera sudah terpesona dengannya.

“Kau mungkin belum tau atau kau mungkin melupakan Tuan Oh. Dia sangat jarang kemari dan setiap kemari, kau sedang tak ada dirumah,” jelas Tuan Lee, “—dan pria tampan itu adalah Oh Sehun, calon suamimu.”

Hera membelakkan matanya. “Apa?”

“Mari kita makan menu makan malam ini.” ajak Tuan Lee kepada semuanya, tanpa menghiraukan pertanyaan kaget anaknya.

***

“Eomma dan Appa ini apa – apaan sih? Menjodohkanku seenaknya saja?!”

Hera berteriak – teriak di ruang keluarga depan eomma dan appanya. Makan malam telah usai dan saat ini Hera benar – benar kesal dengan kedua orangtuanya setelah mendengar rencana pernikahan dirinya dengan Oh Sehun.

“Sayang, rencana ini sudah ada semenjak kau masih dalam kandungan.”

“Eomma!! Itu sangat konyol. Aku tak mau dijodohkan! Appa dan Eomma terlalu banyak menonton drama!!”

Ingat! Bahkan ia baru saja menginjak tingkat dua SMA.

“Hera!!”

Hera bungkam saat Appanya mulai membentak, ia paling takut jika berhadapan dengan Appanya. Appanya sangat keras jika sudah marah. Hera memainkan jari-jari tangannya, ia sangat kesal sekarang. Appanya sudah siap dengan mantra yang akan membuatnya bungkam seribu bahasa.

“Hera, dengar! Appa dan eomma ini ingin kamu bahagia, hidup dengan orang yang kami percaya dapat menjagamu.” Tuan Lee mengambil nafas sejenak, “Oh Sehun adalah pria baik, ia tampan dan pintar.Apalagi yang kurang darinya?”

Ya pada kenyataannya pria itu memang tampan dan pintar, tapi Hera agak ragu dengan kata ‘baik’ mereka belum mengenal satu sama lain. Selama makan malampun Sehun hanya diam saja, dia dingin dan terlihat arogan dimata Hera. Ia juga tak menjamin jika pria itu orang yang setia, bagaimana jika ua seorang playboy yang memanfaatkan ketampanan dan kekayaannya?

“Aku masih se-ko-lah. Aku masih ingin mengejar cita-citaku. Aku belum siap berumah tangga dan menimang anak. Aku masih ingin bebas appa eomma. Aku juga tak mengenalnya, bagaimana jika dia bukan tipeku begitupun sebaliknya?”

Tuan dan Nyonya Lee saling berpandangan, lalu mereka tertawa bersamaan. Apa yang dipikirkan anaknya itu? Menimang anak? Cucu mereka? Ya sejujurnya mereka ingin cepat mempunyai cucu, tapi tidak sekarang.

“Sayang, kau ini berbicara apa?” Tanya Nyonya Lee disela tawanya.Hera menatap aneh kedua orangtuanya.

“Kami tak akan menyuruhmu untuk mempunyai anak selagi kau tak siap. Kau masih boleh bersekolah bahkan mengejar cita – citamu setinggi langit,” Tuan Lee mencoba menjelaskan pada anaknya yang kian memberengut kesal, “kami hanya ingin kau menikah dengan Oh Sehun.

“Terserah kalian saja, aku ingin istirahat!” Hera segera melangkahkan kaki menuju tangga dan memasuki daerah teritorinya Ia tak ingin membahas soal pernikahan itu, ia berharap semoga besok ia terbangun dan kembali lagi kedunia nyatanya.

“Jika Jinsang yang di jodohkan apakah ia akan bersyukur?” tanya Hera pada langit-langit kamarnya. “Apa aku termasuk orang beruntung yang dijodohkan dengannya? Ohhhhh dia begitu tampan. Aku baru mengalami apa yang Jinsang katakan tentang ‘Cinta pada pandangan pertama’ tapi—-” Hera memeluk boneka Teddy-nya, “—apa benar ini cinta? atau nafsu saja?”

***

Minggu pagi adalah hari yang paling dinanti dalam satu minggu ini, seperti halnya pria dengan kaos polo merah yang sedang menikmati secangkir kopi hangat pagi ini. Ia menatap jalanan kota Seoul dari dalam sebuah café.

Baru saja pria itu akan menghubungi seseorang yang ia tunggu, orang yang akan dihubunginya datang dengan senyum merekah dibibirnya.

“Sehun!” Pria itu menghampiri Sehun dan tersenyum lebar, “Apa kau sudah menunggu lama?”

Sehun membalas senyum pria itu, “Tidak, mungkin baru beberapa menit yang lalu.”

Pria itu menatap Sehun tak percaya dan mencoba mengecek suhu gelas kopi milik Sehun. “Oke mungkin kali ini kau tak berbohong.” Ucap pria itu setelah menyentuh cangkir kopi yang masih panas.

“Kapan aku berbohong padamu Lay? Kau tak bisa dibohongi.”

Lay tersenyum kearah Sehun, sahabat dekatnya ini memang tak pernah bohong padanya, atau dia tak tau kebohongan yang pernah dilakukan Sehun?

“Apa aku boleh memesan?” Tanya Lay kemudian.

Sehun menyenderkan bahunya dikursi sambil memainkan jari tangannya, “Tentu saja, kau yang bayar.”

“Ku kira kau yang akan membayar karena kau yang menyuruhku menemuimu di sela jadwalku yang padat.”

Sehun tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya, matanya agak menyipit, “Hari ini hari minggu, kau masih saja sibuk?”

Lay hanya mengangkat bahunya dan segera memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi. “Sebenarnya ada apa kau ingin menemuiku?” Lay memulai pembicaraan kembali.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Lay mengkerutkan keningnya, “Tentang kau atau aku?”

“Aku. Aku akan menikah 1 bulan lagi.”

Mata Lay yang sipit terlihat lebih lebar dari biasanya, “Menikah? Kau serius? Dengan siapa? Kenapa tiba-tiba?”

Sehun mengalihkan pandangan dari Lay dan menatap sepatu sneakersnya. Ia tahu perjodohan adalah hal yang paling konyol menurutnya dan pernikahan adalah hal yang paling penting dalam hidupnya. Kini ia menghadapi keduanya secara bersamaan dan itu membuatnya agak cemas.

“Aku serius, dengan gadis pilihan orangtuaku. Ini sudah mereka rencanakan sejak lama.”

“Perjodohan?”

Sehun mengangguk. Lay menyenderkan punggung kesenderan kursi dan mengusap dagunya, “Perjodohan—Apa perjodohan identik dengan jenis keluarga kita?” yang dimaksud jenis oleh Lay adalah, keluarga mereka dengan jenis perekonomian tingkat atas. Sehun dan Lay memang bukan dari keluarga biasa.

“Mungkin.”

Pelayan yang mencatat pesanan Lay datang dan menyimpan secangkir kopi di depan Lay.

“Aku juga mulai curiga terhadap eomma dan appaku. Beberapa hari terakhir ini mereka membicarakan soal pernikahan. Aku tak tau siapa yang akan mereka nikahkan selain aku. Kau juga tahu kan kalau mereka selalu saja menyuruhku untuk segera menikah?” Lay kembali berbicara setelah berterimakasih kepada pelayan.

Sehun menatap Lay, mencoba mencari tahu kegelisahan pria itu, “Kau sudah telusuri?”

Lay mengeleng sebagai jawaban, “Aku terlalu takut mengetahui kebenarannya.”

“Apa salahnya ditelusuri?”

“Mungkin nanti.”

Hening mendominasi di keduanya, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing – masing.

Lay kembali menatap Sehun, “Kau sudah bertemu wanita itu?”

“Ya, kemarin sore.” Jawab Sehun sambil mengangguk.

“Kau menyukainya? Apa dia cantik?”

Sehun menghembuskan nafas, “Kau tau kan selera eommaku? Dia tak akan sembarang memilih wanita. Lagi pula ia sudah tak asing bagiku.”

“Ya aku percaya, pasti ia memilihkan gadis cantik untukmu. Siapa? Apakah wanita yang kau sebut – sebut sebagai ‘putri kecil’ itu?”

Ya tak ada wanita yang pernah Sehun sebut kecuali wanita yang ia sebut sebagai putri kecilnya. Bahkan Lay sangat ingat jika nama wanita itu adalah Hera, seperti yang dikatakan Sehun lima belas tahun lalu.

Sehun hanya mengangguk – anggukan kepalanya. Tiba – tiba saja matanya menangkap objek yang membuatnya tersenyum tipis.

“Kau ingin tau siapa wanita itu?”

“Aku sudah tau. Hera?”

Sehun tak aneh lagi jika pria di depannya ini masih mengingat nama yang bahkan hanya disebutkannya sekali waktu itu dan menggantinya dengan sebutan ‘putri kecil’. Lay ingat dan bukan hal aneh bagi orang yang memiliki ingatan fotografis sepertinya.

“Kau belum tau orangnya kan?”

Lay menaikkan sebelah alisnya. Sehun menunjuk wanita itu dengan dagunya. Disana terlihat Hera yang baru saja memasuki café tanpa sadar Sehun ada disana.

***

Hari Minggu bagi Hera adalah hari kebebasan. Hari ini ia akan pergi menemui Jinsang di Panti Asuhan dan menyerahkan uang hasil jerih payahnya untuk keperluan panti.

“Hera, kau—”

“Tak apa, ini uangku bukan uang orangtuaku. Itu uang untuk keperluan panti.”

“Tapi Hera—-”

Hera kembali memotong pembicaraan Jinsang. “Tak apa. Kau harus menerimanya!”

Tak ada pilihan lain, Jinsang kini memang sedang butuh dana untuk pantinya. Donatur untuk panti perlahan – lahan pergi. Mereka termakan hasutan orangtua angkat Jinsang yang ingin membuat Jinsang sengsara.

 

“Aku tak tahu harus berkata apa Hera. Terimakasih banyak. Aku tak bisa membalasnya sekarang.” kini Jinsang tak dapat menahan perasaannya. Air mata itu lolos begitu saja dan Hera segera memeluknya.

“Sama-sama, aku yang harus berterimakasih padamu, karena berkatmu aku dapat menghargai hidup.”

Tak ada sahutan dari Jinsang, ia memeluk Hera erat. Mencoba mengalirkan seluruh kesedihannya lewat wanita itu.

“Sudahlah, Jinsang.” ucap Hera melepaskan pelukan mereka, “hari ini akan ku traktir kau makan. Bagaimana?”

“Tidak, aku tak ingin—-”

“Yaaaakkkk! tenang saja, aku yang bayar. Kau hanya perlu memesan. Tak ada tapi tapian. Oke?”

Tanpa menunggu jawaban Jinsang, Hera menarik sahabatnya itu untuk pergi. Mereka pergi kesebuah café.

Hera membuka pintu café. “Ini masih pagi, kurasa minum kopi pilihan yang tepat. Kau suka kopi kan?”

Jinsang hanya mengiyakan dan  berjalan dibelakang Hera. Sahabatnya ini memang suka banyak bicara. Tak ada yang lebih cerewet dari Hera diantara teman – temannya. Walaupun cerewet, Hera adalah gadis pemberani dan ia adalah gadis yang baik. Hera tak pernah membuat Jinsang sakit hati dengan perkataanya dan ia tak pernah melihat status seseorang. Mau ia kaya atau miskin yang penting bagi Hera adalah ia tulus berteman dengannya tanpa melihat siapa yang ada di belakangnya.

Disaat oranglain saling pamer harta keluarganya, Hera akan dengan rapat menutup mulutnya soal harta keluarganya. Baginya itu bukan hal yang untuk dipamerkan.

“Jinsang?”

“Hm?”

Hera melipat tangannya diatas meja, memperhatikan wajah sahabatnya. “Jangan melamun. Kau sedang melamunkan apa?”

Jinsang tersenyum, “Tidak, aku tidak melamun.” Kini matanya menatap sekitar. Jinsang tak sadar jika ia sudah duduk dikursi café.

Melihat Jinsang yang mengedarkan pandangannya, Hera ikut menjamah ruangan di café dan matanya terhenti pada objek yang kini tengah menatapnya datar.

Tak percaya dengan pandangannya, Hera mengucek matanya dan kembali melihat apa yang membuat dirinya tak percaya.

“Sial, kenapa ia ada disini?” ucap Hera tanpa sadar, membuat Jinsang berkerut bingung dan melihat objek yang dilihat Hera.

“Apa yang sedang kau lihat?”

Hera menatap Jinsang. Kini mereka saling berpandangan, “Kurasa kita salah menentukan tempat, Jinsang.”

“Apakah kita harus keluar?”

“Kau tahu bagaimana rasanya ketika rasa senang bercampur kesal?”

Jinsang menggeleng dan Hera mendengus.

“Kau kenapa?” tanya Jinsang yang semakin tak mengerti sahabatnya. Ia kembali melihat orang yang dilihat Hera barusan.

“Tenggelamkan aku bersama Titanic, Jinsang. Melihat pria itu rasanya membuatku ingin mati.” Hera menutup mukanya dengan buku menu dan menempelkan dagunya diatas meja. Wajah Hera memerah. Ia tak tahu apa yang membuat wajahnya memerah yang jelas wajahnya terasa panas jika melihat Oh Sehun.

***

“Wanita yang mana?” Lay memperhatikan dua wanita yang berada di belakangnya. “Apa yang sedang menatap kemari?”

“Bukan.” jawab Sehun. Ia menatap geli Hera yang terlihat sibuk melihat – lihat buku menu dan sengaja menutup wajahnya dengan buku tersebut.

“Jadi… yang memakai kemeja kotak kotak itu?”

Sehun hanya mengangguk dan berjalan mendekati meja yang ditempati Hera dan Jinsang.

“Sehun?” Lay ikut berdiri dan mengikuti Sehun dari belakang.

Hera semakin mengeratkan pegangannya pada buku menu dan jantungnya makin tak karuan. Ia mempunyai firasat buruk sekarang.

Benar saja, Sehun menarik buku menunya dan duduk disebelahnya. Jinsang hanya menatap bingung dua pria yang tiba-tiba mendatangi mereka dan Lay hanya tersenyum manis pada Jinsang.

“Ada apa?!” teriak Hera gugup.

Sehun tak menatapnya dan malah duduk menyenderkan badannya ke kursi dengan santai.

“Hanya duduk disini?”

Hera memutar bola matanya malas.

“Mengapa duduk disitu? masih banyak tempat yang kosong!”

“Memang ada larangan untuk duduk disini?”

Pria disampingnya ini memang sangat tampan. Tapi lihat kearoganan dari nada bicaranya. itu adalah hal yang paling dibenci Hera.

“Bilang saja jika kau ingin bergabung. Apa salahnya?”

“Jadi kau ingin aku bergabung?”

Jinsang menatap Hera yang sudah mengepal tangannya.

“Maaf, tapi kalian ini siapa?” tanya Jinsang dengan wajah polos.

Lay yang sejak tadi diam kini ikut bersuara menjawab pertanyaan Jinsang. “Aku Zhang Yixing, teman dari Oh Sehun calon suami Hera.”

“MWO?!”

***

“Oh S-e-h-u-n!!!! kau benar – benar!!!” teriak Hera kesal. Ia menekan kata demi kata yang keluar dari mulutnya untuk mengeja nama seorang Oh Sehun.

Sehun sendiri tak peduli dengan ocehan Hera dan memilih fokus pada jalanan.

“Suaraku bisa habis untuk meneriaki orang tuli sepertimu!”

“Kau yang membuatku tuli dengan teriakanmu.”

Hera mendelik kesal dan menyenderkan badannya ke jok, sementara kedua tangannya ia lipat.

“Aku berteriak karena kau tak menjawab pertanyaanku. Kau diam seperti patung!!”

“Aku tak harus menjawab pertanyaan yang sudah kau ketahui jawabannya kan?”

Lagi-lagi Hera mendelik. “Aku tak tahu jawabannya makanya aku bertanya. Kemana Lay membawa Jinsang?! Bagaimana jika ia diculik?”

“Kurasa kau yang tuli. Bukannya tadi Lay sudah memberitahumu? Ia akan mengantarnya pulang.”

“Lalu kita?”

“Kerumahmu.”

Hera melirik layar GPS. Ya, seharusnya ia tahu tanpa bertanya. Memangnya mereka berdua akan kemana? Apa Hera berharap untuk kencan?

“kita kencan.” tanya Sehun seperti bisa membaca pikiran Hera.

Dengan cepat Hera memandang Sehun aneh. Selain tampan apa pria ini bisa tahu jalan pikirannya? sangat menakutkan.

“Hah? Apa yang kau pikirkan?”

“Sayangnya kita harus kencan malam ini. Ini perintah eomma.” Hera mengangguk – anggukkan kepalanya mengerti. Ia kira Sehun bisa membaca pikirannya. Tak mungkin kan?

“Eomma mu?” tanya Hera sambil memandang Sehun.

Sehun mengangguk, lalu Hera kembali memandang jalanan di depannya. Malam ini kencan ya? Kok eommanya tidak memberitahunya dan oh—–ASTAGA! Hera menepuk jidatnya.

“Omo!! Kau bilang malam ini?” Hera melotot kepada Sehun.

Sehun mengangguk masih dengan posisinya menghadap depan tanpa peduli pelototan Hera.

Hera lupa jika malam ini ada acara di panti. Hera harus membantu Jinsang dan Kang Ahjumma.

“Apa tak bisa diundur?”

“Kau tak bisa?”

Hera mengangguk cepat. ” Ada acara yang harus kuhadiri dan tak bisa ku tinggal.”

“Baiklah.” Hera memandang Sehun. “Syukurlah aku bisa kembali bekerja.” lanjut Sehun datar.

Sehun bersyukur acara ini dibatalkan? Hera merasa agak tersinggung. Jika pria ini sibuk mengapa ia harus menyetujui perintah eommanya? Apa ia takut kepada eommanya? Apa ia takut kepada appanya jg? Tunggu!

“Hei pria aneh!” ucap Hera agak keras, “Jika kau tak bisa memenuhi permintaan eommamu. Mengapa kau memenuhi permintaannya hah?”

“Aku tak bisa menjadi anak pembangkang.”

“Apa kau juga menyetujui perjodohan ini karena kau tak mau membangkang meski kau tak ingin?”

“Hm.” jawab Sehun tak peduli.

Hera agak menggeram dan mengepal tangannya kuat. “Kau pria bodoh!”

“Jika kau tak mau mengapa tak kau saja yang batalkan?”

“Jika bisa, akan aku lakukan. Sayangnya aku tak bisa!!!” teriak Hera.

Sehun hanya bisa nenghembuskan nafas lelah. “Apa tak bisa jika tak berteriak? telingaku masih berfungsi dengan baik.”

***

“Hera! Kau berhutang penjelasan padaku. Apa maksud pria bernama Lay itu?” Tak hentinya Jinsang mengikuti Hera yang sedang memindahkan makanan untuk acara amal dari mobil box.

Hera sudah mengabaikan Jinsang yang sedari tadi seperti ekor baginya. Ia terus mengikuti dan meminta penjelasan yang membuatnya pusing. “Yak!!” teriak Hera pada akhirnya, “jangan menanyakan hal itu ne? Aku tak bisa menjelaskannya padamu. Ini benar – benar diluar teritori hatiku.”

“Apa maksudmu eoh?”

“Lebih baik kita selsaikan pekerjaan kita dulu. Soal tadi siang, nanti akan aku ceritakan. Tapi tak sekarang. Dan—-” Hera mengamati wajah Jinsang, “—-tak terjadi apa-apa kan tadi siang antara kau dan—”

“Tidak.” potong Jinsang cepat. “Aku diantar dengan selamat. Kau tak usah mencurigai teman calon suamimu.”

“Mwo?!” teriak Hera tak terima.

“Mian. Itu kenyataan hehehe” dengan cepat Jinsang berlari menghindari Hera yang sudah siap dengan seribu mantra dan sumpah serapahnya.

Jinsang meninggalkan Hera di dapur dan pergi ke halaman depan. Disana sudah ramai oleh anak – anak yang akan menyambut tamu dari acara amal ini. Acara ini diselenggarakan panti dalam rangka berterimakasih kepada para donatur.

Anak – anak akan melakukan berbagai pertunjukkan. Mulai dari menyanyi, membaca puisi, menari dan lain – lain. Kebetulan, Hera ikut meramaikan dalam pentas drama. Ia dan Jinsang pun ikut melatih juga untuk pertunjukkan anak – anak.

Setelah semua persiapan selsai, saat itu juga para donatur mulai berdatangan. Hera dan Jingsang pun sudah siap dengan kostum mereka.

“Untung saja, saat mereka datang, Kita sudah selsai.” ucap Hera sambil mengenakan sayap peri dipunggungnya. Hari ini ia berperan sebagai peri.

Jinsang mengangguk dan membantu Hera memasang sayapnya.

“Perfect!” ucap Jinsang semangat sambil melihat Hera.

Hera tersenyum melihat sahabatnya, “Kau juga sangat cantik memakai gaun itu.”

Ya, Jinsang memang terlihat cantik dengan longdress tanpa lengan berwarna putih ditambah rangkaian bunga dikepalanya, terlihat seperti dewi – dewi dalam mitologi Yunani.

“Terimakasih.  Sepertinya malam ini kita akan menjadi ibu peri untuk mereka. hahahaha”

“Kau benar.”

***

Sehun datang ke acara amal yang harus dihadirinya untuk meningkatkan imej perusahaan bersama Tao. Tao sendiri dipaksa oleh Sehun untuk mengikutinya. Sehun akan merasa aman jika bepergian bersama Tao. Mungkin karena satu alasan.

“Hyung!!! Kau mau menjadikanku pengawalmu hah?” tanya Tao jengkel. Sedari tadi ia hanya menggerutu tak jelas.

Sehun tetap berjalan santai dan sekali – kali bersalaman dengan teman – teman bisnisnya.

“Kau tahu aku hanya mengandalkanmu. Apa aku harus mengandalkan Baekhyun yang bahkan berkelahi denga anak kecilpun tak bisa?”

“Setidaknya ia jago bermain piano. Kau dapat menggunakannya untuk citramu.”

“Itu hal lain. Ini acara amal, kau tahu bagaimana orang akan menerjangku?”

“Ya intinya aku dijadikan pengawalmu hari ini.”

Sehun menepuk bahu Tao dua kali dan merangkulnya, “Isshhh jangan seperti itu. Kau sudah kuanggap adikku. Berperanlah sebagai adikku oke?”

“Hahh bahkan kulit kitapun berbeda. Tak akan ada yang percaya kita adik kakak.”

Sehun mengamati Tao dari atas kepala hingga kaki, “Kau benar. Tapi kita bilang saja jika kau melakukan operasi dan membuat kulitmu agak kecoklatan.”

“Operasi? Wajah tampanku ini bukan hasil operasi. Ini asli wajahku. Kita lihat saja keturunanku nanti. Ia pasti akan menawan sepertiku.”

Sehun melepaskan rangkulannya dan kembali berjalan tanpa memperdulikan Tao yang mulai memuji dirinya sendiri.

Acara pementasan sudah dimulai dan Sehun segera duduk menempati kursi diikuti oleh Tao.

Pertama – tama sambutan dari kepala panti kemudian dilanjutkan oleh pembukaan acara. Anak – anak memainkan alat musik didampingi Jinsang yang bermain harpa. Saat melihat Jinsang, Sehun memperhatikannya dan teringat Hera yang bilang ada acara yang harus dihadiri, apakah acara itu adalah acara amal ini?

“Hyung, kau tertarik pada wanita itu? Hei bukannya kau bilang akan segera menikah?” goda Tao saat tahu Sehun memperhatikan gadis yang sedang bermain harpa di depannya. “Hyung, gadis itu manis. Aku menginginkannya.”

“Dia teman calon istriku.” Sehun memandang Tao, “Mungkin dia sahabatnya.”

Mata Tao berbinar, “Jinja???”

Sehun mengangguk dan mulai mengedarkan pandangannya keseliling. Siapa tahu ia menemukan Hera. Pandangannya berhenti saat melihat wanita yang memakai longdress berwarna biru dekat panggung, wanita itu memakai sayap dan terlihat sibuk dengan anak – anak disekitarnya.

“Baiklah acara selanjutnya adalah pementasan drama.” ucap MC disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Hera sedang menenangkan anak – anak yang gugup, ia berusaha meyakinkan mereka. “Lihat, penonton sudah bertepuk tangan, mereka menantikan kita. Kalian harus berani oke? Kakak akan mendampingi kalian disana.”

“Tapi noona—-”

“Ssshhhh, sudah tak apa jika kalian lupa naskahnya, kita hanya perlu tampil dan melanjutkan setiap adegan. Lihat para penonton,” Hera mengalihkan pandangan kepada penonton, “mereka sudah—–” matanya terbelak saat beradu pandang dengan pria yang kini menatapnya. Oh tidak, apa ini hanya halusinasi Hera? Hera mengedipkan mata beberapa kali namun orang itu masih tetap berada di tempatnya. Untuk apa pria itu ada disini? mengapa ia ada disini? apa ia juga donatur di panti ini? Apa benar pria yang dilihatnya ini adalah, “—-Oh Sehun?”

-TBC-

bye bye jangan lupa tinggalkan pesan di kolom komentar. Karena komentar kalian sangat berharga ^^

146 responses to “EXO & YEOJA ! Oh Sehun

  1. Wahh daebak 👍
    Ceritanya buat aku senyam-senyum sendiri ampe disangkain orang gila ama ortu sendiri😂😂(okeh nggak ada yg nanya )
    Ouh iya salam kenal kak aku reader baru 😄
    Keep writing ya kak✊✊

  2. Wah daebak 😲
    Ceritanya bikin aku senyam senyum gaje sendiri ampe dikatain orang gila ama ortu sendiri 😂😂(okeh nggak ada yg nanya )
    ouh iya salam kenal aku reader baru
    Pokoknya kutunggu fanfictionmu kak
    Keep writing kak✊✊

  3. keren….waw
    sehun cool abis.diem2 dah suka sama hera….
    lanjut ff.a…semangat kak buatnya…
    gak sabar nunggu

  4. Pria dingin kalo ketemu cwe ceplas ceplos pasti bakalan mati kutu hatinya. Apalagi kasusnya kayak Sehun dan si “putri kecil”
    Next yoo authornim

  5. Ffx bagus , ga ribet.. Jg seru. Hihihi oh q rasa mrk ajn serasi dilihat dr sft mrk masing”😂😂😂

  6. akhirnya ff ini di lanjut walupun ramekanya sih tapi tetep suka
    dan aku bingung bmau ngoment apa
    walaupun ceritanya diganti masih dapet fellnya oke aku tungg kelanjutannya

    • Oke mksh ya sudah menunggubdan nemberi komentar daannnn maaf lama ngepost laginya, kalau mau baca sudah ada kok yg chapter 2nya selamat membaca ya ^^

  7. Terimakasih ya sudah membaca ff abal ini hehehe makasih dukungan kalian dan makasih sudah berkomentar. Salam kenal untuk reader baru semoga kalian gak nyesel baca ff ini hahahaha. Maaf juga karena postnya kelamaan :(( maaf bngtttt, jangan kapok yaaaaa. Ini aku post chapter baru, bisa dilihat di https://saykoreanfanfiction.wordpress.com/2016/08/01/exo-yeoja-oh-sehun-chapter-2/ selamat membacaaa dan maaf gk bisa bls komentarnya satu satu. Aku udh baca kok dan terimakasih juga kritik atau saran kalian 😇 love you

  8. halo authornim aku new reader nih hehehe
    *abaikan*

    alur ceritanya seru banget jd makin penasaran sm kelanjutannya.
    sebenarnya apa hubungan sehun dengan hera sebelumnya?
    itu yg bikin penasaran, jd pengen baca lanjutannya hehe

  9. Wah Hera gadis yang pemberai dan mandiri ya.. jarang-jarang ada yang begitu.. disandinginnya sama Sehun yang ganteng.. pas banget..
    Jadi Hera tuh putri kecilnya Sehun, wah ini sih udah pasti bukan ibubya Sehun yang ngejodohin.. tapi Sehun yang minta.. heheheh..

  10. wah suka suka sama fanficnya hehe wah ternyata hati sehun mulia juga yah menjadi donatur panti asuhan, ahh hera dia baik juga udah orang tuanya kaya tapi dia ngk sombong, dan apa sehun dingin tapi sepertinya menginginkan si hera jadi istrinya. ahh iya semoga chapter selanjutnya flashbacknya ada yah kenapa sehun panggil hera-putri kecil???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s