The Dim Hollow Chapter 10 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                                   —Chapter 10

Elude

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession

            Selepas kepergian Sehun, Dahye masih terpekur di tempatnya. Gadis itu menunduk memandangi kakinya dengan mata basah. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dicegah. Kepalanya berdenyut sakit, dan perasaannya kacau bukan main.

Apa ini? Sehun meninggalkannya setelah ia mengakui perasaannya?

Salahkah ia? Apakah ia telah melakukan kesalahan dengan mengakui perasaannya pada Sehun?

Bukan ini yang Dahye harapkan. Sama sekali bukan ini. Semestinya Sehun tidak meninggalkannya. Seharusnya Sehun memeluknya dan berkata bahwa ia senang mendengar Dahye menyukainya, dan bukannya pergi begitu saja.

Rupanya Dahye salah. Setelah mengakui rasa sukanya, keadaan hatinya tak membaik sama sekali.

Sesuatu dalam dadanya berdenyut menyakitkan, dan ini membuat tangis Dahye semakin tak terkendali. Gadis itu berusaha menghapus jejak tangis dari pipinya menggunakan punggung tangan, namun aliran tangis yang baru kembali tercetak, membuat ia terus mengusap wajahnya tanpa hasil.

Kenapa sakit sekali?

Kenapa rasanya sakit sekali sampai menangis saja tidak cukup?

Dahye mendongak kemudian menatap pintu kamar Sehun yang kini tertutup rapat. Pemuda Oh itu pasti ada di dalam sana. Dahye tak mengerti, apa yang sebenarnya Sehun inginkan. Ia ingin menyusul Sehun ke dalam kamarnya, ingin bertanya apa maksud seluruh perbuatannya, ingin meminta pertanggung jawaban atas rasa sakit tak terkira di hatinya. Tapi Dahye tak punya cukup keberanian.

Yang kemudian gadis itu lakukan justru melangkah dengan lesu menuju pintu keluar, lalu bergegas meninggalkan tempat ini sebelum sakit hatinya semakin bertambah. Rasanya lama sekali sampai akhirnya Dahye sampai di luar area apartemen Sehun. Udara malam berembus kencang, meniupkan semilir dingin yang membuat Dahye menggigil. Namun ia bahkan tak sempat merapatkan mantelnya yang terbuka. Tangannya kebas, pun kedua kakinya yang kini terasa lemas. Begitu menemukan halte, Dahye bagai tak punya kekuatan lagi. Gadis itu jatuh terduduk di atas bangku, lalu membiarkan tangisnya kembali pecah.

Oh Sehun bodoh.

Oh Sehun sialan.

Kenapa pemuda itu tega sekali membuat Dahye seperti ini? Kenapa ia sejahat itu membiarkan Dahye seterluka ini? Mungkinkah memang ini tujuannya? Mungkinkah Sehun memang ingin membuatnya tersiksa begini?

Tidak. Ini pasti sebuah kesalahan. Sehun tidak mungkin mempermainkannya. Sehun tidak mungkin sengaja melakukan ini semua.

Benar, ini hanya sebuah kesalahan.

Dahye mengusap air matanya perlahan. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponselnya, kemudian menekan speed-dial 2 tanpa sempat berpikir lebih jauh.

Calling to Kim Jongin …

            Sehun menutup pintu di belakangnya perlahan. Ia memejamkan matanya, berusaha meredam isakan Dahye dari ruang tengah. Hatinya ikut teriris mendengar tangisan gadis itu, ia tak mau mendengarnya lagi. Tak mau mendengar sosok yang disayanginya menangis, terlebih karena dirinya sendiri. Seharusnya Sehun membawa Dahye ke dalam pelukannya, menenangkannya dan menghentikan tangisnya.

Tapi ia tak bisa. Ia tak bisa mendekati Dahye lagi.

Ia bahkan tak pantas sekedar menatap gadis Son itu.

Bukan hanya karena kesalahan yang telah diperbuatnya di masa lalu, tapi juga karena hatinya masih saja bimbang. Ia tak tahu siapa yang kini disukainya. Ia tidak tahu sudah benar-benar terhapuskah nama Son Dayoung dari hatinya. Dan ia terlalu takut untuk menemukan jawabannya.

Sehun takut hanya menjadikan Dahye pelariannya atas Dayoung. Ia tak mau menyakiti gadis Son untuk kedua kalinya. Setelah membuat luka pada Dayoung, Sehun tak mau mengulang hal yang sama dengan menyakiti Dahye juga.

Belum lagi kesalahan tak termaafkan yang ia lakukan pada Dayoung. Pantaskah ia menyukai Dahye setelah apa yang diperbuatnya pada Dayoung?

Tidak. Sehun merasa ia benar-benar tak pantas.

Sehun mengembuskan napas perlahan. Ia jatuh merosot di depan pintu, kemudia menenggelamkan wajahnya di kedua tangan. Perasaannya saat ini benar-benar rumit. Benar-benar kusut hingga Sehun sendiri tak bisa memahaminya.

            “Tapi—tapi aku menyukaimu…”

Lalu ingatan tadi kembali menyapanya. Suara lemah Dahye yang mengudara hingga sampai ke telinganya. Bisikan yang disampaikan begitu halus, seolah gadis itu takut akan hal buruk yang mungkin saja terjadi. Masih jelas di ingatan Sehun bagaimana air mata membasahi wajah Dahye ketika gadis itu mengucapkannya. Sorot matanya pun redup, membuat Sehun tak kuasa menahan sakit di hatinya.

Dahye seperti itu karena dirinya. Seandainya ia bisa bersikap lebih baik mungkin tangis itu tak pernah ada.

            “Aku menyukaimu. Bagaimana ini?”

Sehun sadar betul betapa kotornya ia. Setelah apa yang dilakukannya ia bahkan masih sempat merasa senang atas pengakuan suka dari Dahye. Seharusnya ia tak seperti ini. Seharusnya sejak awal ia menjauhi Dahye dan tak membiarkan perasaan suka tumbuh di hati Dahye.

Tapi Dahye menyukainya. Gadis itu menyukainya…

Mungkin sebenarnya Tuhan masih memberinya sedikit kesempatan. Kesempatan untuk berbahagia juga, dan tak menyia-nyiakan perasaan gadis yang menyukainya…

Dengan itu membuat sekujur tubuh Sehun bagai disuntikan kekuatan lagi. Ia bergegas bangkit dari duduknya dan menarik pintu kamarnya hingga terbuka. Dan betapa terkejutnya ia ketika menemukan Dahye sudah tak lagi berdiri di tengah ruangan. Seisi apartemennya kini kembali senyap seperti biasa, meninggalkan ia terjebak dalam kesunyian yang mencekik. Dahye pasti telah pergi.

Sehun tidak mengerti, tapi kemudian ia memilih untuk menyusul Dahye. Ia cepat-cepat beranjak dari tempatnya, mencoba mengejar Dahye yang mungkin saja belum terlalu jauh pergi. Sosok yang dicarinya rupanya tengah terduduk seorang diri di halte di depan apartemennya. Sehun mengembuskan napas perlahan.

Dahye duduk dengan kepala menunduk, pundak mungilnya bergerak naik-turun, menandakan gadis itu masih saja terisak. Sehun bisa merasakan hatinya berdenyut nyeri. Dahye menangis, dan ia adalah alasannya.

Baru saja Sehun bergerak hendak mendekati Dahye ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan halte. Seorang pemuda bergegas turun dari dalamnya, dan duduk di samping Dahye. Presensi Kim Jongin sukses menahan segala keinginan Sehun. Dalam diam Sehun menyaksikan bagaimana Jongin berujar pelan-pelan hingga membuat Dahye mendongak, bagaimana Jongin mengancingkan satu-persatu mantel Dahye yang terbuka, dan bagaimana Jongin, pada akhirnya menarik Dahye ke dalam sebuah pelukan hangat. Pelukan yang seharusnya sejak tadi Sehun berikan pada Dahye.

Pemandangan ini entah bagaimana membuat Sehun memilih mengambil langkah mundur, lalu mengurungkan niatannya untuk kembali mendekat.

Ia memutuskan pergi, dan membiarkan Jongin menghapus air mata Dahye.

            Dahye pikir, semalam memang hanya sebuah kesalahan. Sehun mungkin terlampau mabuk hingga ia tak menyadari apa yang telah dilakukannya pada Dahye. Hari ini, segalanya pasti akan berjalan kembali seperti semula.

Namun ternyata Dahye keliru.

Pagi itu Sehun berjalan masuk ke kelasnya dengan raut dingin. Ia tak memedulikan Dahye dan bahkan menghindari tatapannya. Sial, sebenarnya apa yang terjadi pada Sehun? Memangnya Dahye telah melakukan kesalahan apa sampai Sehun seperti ini padanya?

Begitu kelas usai, Sehun bergegas melangkah pergi, seolah tahu Dahye memiliki niat mengejarnya. Dahye memang mengejarnya, sebab ia butuh penjelasan dari Sehu atas apa yang telah pemuda itu lakukan padanya. Ia tak bisa membiarkan Sehun seperti ini. Menyatakan suka padanya, lalu menjauh setelah Dahye berkata bahwa ia juga balas menyukainya.

“Sehun!”

Dahye tahu Sehun tak akan berhenti. Pemuda itu terus berjalan beberapa meter di hadapannya. Maka Dahye mempercepat langkahnya, dan menahan lengan Sehun begitu ia dekat, sukses menghentikan pemuda itu pada akhirnya.

Perlahan Sehun berbalik. Tanpa kata-kata ia menatap tangan Dahye yang menggenggam lengannya, membuat Dahye tersentak dan segera melepas genggamannya.

“Ada yang harus kubicarakan—tidak, ada yang harus kita bicarakan.” Dahye berujar serius. Ia menatap Sehun lurus-lurus namun Sehun justru menghindari tatapannya.

Sebelum Sehun sempat menjawab, seorang gadis muncul dari kelokan koridor dan segera menyerukan nama gurunya itu.

“Oh seonsaeng-nim!” Gadis itu berlari-lari kecil ke arah Sehun. “Seonsaeng-nim, bisa bantu aku? Ada yang tidak kumengerti di pelajaranmu lusa kemarin. Mungkin Seonsaeng-nim bisa memberiku sedikit penjelasan tambahan?”

Sejenak Sehun terdiam. Lalu ia segera memusatkan seluruh atensinya pada gadis tadi. Seulas senyum mengembang di bibirnya ketika kemudian ia bicara.

“Tentu saja. Kau bisa sekarang?”

Apa? Ia bahkan bicara pada gadis itu dan tak menjawab pertanyaan Dahye sama sekali. Benar-benar…

Gadis tadi mengangguk cepat dengan raut senang.

“Kalau begitu kau bisa ikut ke kantorku.” Sehun berujar ramah.

Kemudian tanpa melirik Dahye, Sehun berlalu bersama gadis tadi. Meninggalkan Dahye dengan raut tak percaya terpeta di wajahnya. Sehun menghindarinya, tak mau bicara dengannya, namun justru meladeni gadis lain. Sialan. Pemuda itu benar-benar ingin membuatnya marah, ya?

“Oh Sehun seonsaeng-nim!”

Sebelum Dahye sempat berpikir, mulutnya telah lebih dulu berseru pada pemuda itu. Suaranya terlampau kencang, sukses memantul ke seluruh koridor dan menghentikan langkah Sehun dan gadis di sampingnya. Perlahan Sehun menoleh, namun ia masih saja menghindari menatap langsung mata Dahye.

“Seonsaeng-nim!” Dahye kembali berseru dan berlari menghampiri Sehun yang telah meninggalkannya. “Kubilang ada yang harus kita bicarakan, kenapa—“

“Kau tidak dengar apa yang dikatakan temanmu, Son Dahye?”

Tahu-tahu Sehun menyambar perkataannya. Dahye tersentak dan mengerjapkan matanya beberapa kali,

“Temanmu butuh bantuanku di pelajaran, dan kau masih saja memaksaku untuk membicarakan entah-apa-itu?” Sehun bertanya dengan suara rendah.

Entah-apa-itu? Kenapa Sehun mengatakannya seolah apa yang ingin Dahye bicarakan adalah hal sepele?

“Tapi … tapi ini penting.” Dahye berujar pelan.

“Maka katakan di sini kalau itu memang penting.” Ujar Sehun dengan nada final. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menunggu Dahye membuka mulutnya.

Mendengar perkataan Sehun, Dahye dibuat terkejut. Ia menatap Sehun tak percaya, tak mengerti kenapa Sehun bisa memintanya untuk bicara di sini, di depan orang lain. Seharusnya Sehun tahu apa yang ingin Dahye bicarakan. Masalah pribadi mereka, tak mungkin ia bicarakan dengan orang lain di sekitar.

Sehun pasti sudah gila.

“Kita tidak bisa membicarakannya di sini.” Dahye mengerling sekilas gadis yang berdiri di samping Sehun.

Menghela napas pelan, Sehun menjatuhkan kedua lengannya di sisi tubuh. “Kalau begitu biarkan temanmu dulu yang menyelesaikan urusannya denganku, dan tunggu sampai giliranmu tiba. Mengerti?”

Dan seperti sebelumnya, Sehun kembali meninggalkan Dahye tanpa mau menunggu bagaimana respon yang ia terima. Pemuda itu berjalan lebar-lebar, tak ingin Dahye kembali menyusulnya.

Namun Dahye tak punya niatan untuk mengejar Sehun lagi. Ia dibuat membatu, terpekur kaget menerima tanggapan Sehun. Jadi sekarang Sehun tengah menomorduakannya, lalu menjadikan gadis lain prioritas, begitu?

Yang benar saja.

Baiklah. Kalau memang itu yang Sehun inginkan, maka Dahye akan menunggu gilirannya tiba. Ia menunggu sampai hari itu habis, sampai bel pulang berdering dan tibalah waktu detensinya. Merajut langkah menuju kantor Sehun, Dahye berharap kali ini Sehun takkan menghindarinya lagi. Semestinya, sekarang memang waktunya bagi Dahye untuk bertemu dengan Sehun. Bukankah sejak awal lelaki itu sendiri yang mengatur jadwal detensinya? Seharusnya Sehun tak bisa lagi berkelit jika Dahye ingin bicara dengannya.

“Seonsaeng-nim, yang ini bagaimana?”

“Sehun seonsaeng, aku tidak mengerti materi minggu lalu, bisa jelaskan ulang?”

“Saem, aku bahkan tidak tahu setahun ini sudah belajar apa. Bagaimana kalau dijelaskan dari awal saja?”

“Oh saem, bantu aku di bab ini.”

Rahang Dahye sukses jatuh terbuka begitu ia sampai di depan kantor Sehun. Pintu ruangannya yang terbuka lebar menyuguhkan Dahye pemandangan luar biasa yang membuatnya tak kuasa menahan kernyitan heran di kening. Bagaimana tidak, kini ruangan Sehun yang biasanya sepi tamu—atau paling tidak hanya dikunjungi Dahye seorang—mendadak dipenuhi lima sampai tujuh perempuan. Semuanya berseru-seru tak sabaran sambil mendorong-dorong buku, berusaha mencuri perhatian Sehun. Padahal Dahye yakin sekali berpasang-pasang mata milik perempuan-perempuan itu hanya tertuju pada rupa Sehun.

Cih. Pintar sekali mereka mencari kesempatan mendekati Sehun.

Diam-diam Dahye mengutuk Sehun yang malah membuka sesi pelajaran tambahan di saat ia butuh waktu untuk bicara seperti ini.

Di kursinya di belakang meja, Sehun kelihatan kewalahan juga. Ia menghela napas kesal, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan frustasi. Semula ia kelihatan ingin mengusir sekumpulan perempuan ini dari ruangannya. Namun begitu ia mendongak dan bersitatap dengan Dahye yang berdiri berkacak pinggang di pintu masuk, Sehun bergegas menegakan duduknya, dan berpura-pura tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan muridnya. Kentara sekali tak ingin membiarkan Dahye punya kesempatan menginterupsinya.

Sambil mendecak, Dahye membuang wajahnya.

Rupanya Sehun benar-benar ingin menghindarinya.

            “Sore nanti temui aku di kafe dekat Universitas Sangguk kalau kau masih peduli pada gadis itu.”

Sehun mengecek pesan singkat yang terpampang di layar ponselnya berkali-kali. Kerutan di keningnya tak kunjung pudar pun rasa ingin tahu yang kini mengiringinya. Pesan ini datang siang tadi, tepat ketika ia tengah menghindari Dahye. Sehun tak tahu siapa pengirimnya, ia tak mengenal nomornya. Namun menilik dari isi pesannya, entah bagaimana Sehun merasa ia pantas mengikuti keinginan si pengirim.

Masih peduli pada gadis itu, katanya?

Sejauh ini gadis yang selalu Sehun pedulikan hanya Dayoung dan Dahye. Pengirim pesan ini pastilah sosok yang dekat dengan kedua gadis itu dan tahu mengenai hubungan Sehun dengan mereka. Tapi siapa?

Pertanyaan yang berputar di kepala Sehun segera terjawab ketika kemudian sesosok pemuda jangkung berjalan santai ke dalam kafe lalu menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Begitu tatapanya bertemu dengan Sehun, pemuda itu segera menyusun langkahnya menuju meja Sehun dan mendudukan diri di kursi di hadapannya.

Perlahan Sehun menyadari siapa pemuda jangkung itu.

Pemuda jangkung yang sama yang sempat ia duga sebagai kekasih Dahye, pemuda jangkung yang begitu menuntut jawaban ketika Dahye tak kunjung pulang, dan pemuda jangkung yang kemarin malam merengkuh Dahye di kala Sehun menghilang.

Kim Jongin.

Sehun menelengkan kepalanya, kemudian menatap Jongin dengan kening berkerut.

“Jadi kau …?”

Pertanyaannya menggantung di udara, namun Jongin mampu menangkap maksudnya. Pemuda itu mengangguk perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

“Aku dapat nomormu dari ponsel Dahye. Maaf jika pesan yang kukirim tadi kelihatan kurang sopan.” Jongin berujar dengan tenang. Wajahnya berubah keras ketika kemudian ia meneruskan. “Tapi aku memang tak punya niatan bersikap sopan pada orang sepertimu.”

Kedua alis Sehun berjingkat mendengar ini. Ia menegakkan duduknya, lalu menatap Jongin lekat-lekat.

“Apa maksudmu?” Tanyanya dengan suara rendah.

“Tapi melihatmu benar-benar datang kemari, kurasa kau memang peduli pada Dahye.” Jongin meneruskan, kelihatan tak terusik dengan pertanyaan Sehun tadi. “Kenyataan bagus kalau saja aku tak mendengar kisah Dahye kemarin malam.”

Kini Sehun tahu benar kemana maksud pembicaraan Jongin.

“Aku tak mengerti apa maksudmu pada Dahye. Meski begitu apa pun rencanamu, sama sekali bukan urusanku. Tapi kalau sekali saja, sekali saja kau melukai Dahye, maka kau akan segera berurusan denganku.” Tutur Jongin tajam. “Asal kau tahu saja, aku sama sekali tak ingin kau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya pada keluargaku.”

Sehun sama sekali tak terusik dengan ancaman yang Jongin lemparkan. Namun kalimat terakhirnya, berhasil membuat Sehun menegang di tempat. Apa maksudnya…?

Melihat reaksi Sehun, Jongin tertawa remeh. Ia menjungkitkan sebelah alisnya kemudian berujar, “Kau pasti terkejut.” Ia berhenti sejenak untuk mencondongkan tubuhnya sehingga ia dapat menatap Sehun lebih dekat. “Aku, tahu apa rahasia kelammu.”

Jantung Sehun bagai berhenti bekerja untuk beberapa sekon. Ia menatap Jongin tanpa berkedip, lidahnya terasa kelu dan kerongkongannya mendadak kering. Mungkinkah, mungkinkah Jongin tahu…

“Mulanya aku tak mengerti kenapa aku merasa pernah melihatmu di pertemuan pertama kita. Lalu aku ingat, kita pernah bertemu di klub malam, ketika kau, entah bagaimana memeluk Dahye sembarangan.” Jongin memulai dengan suara hati-hati. “Kupikir itu kali pertama aku melihatmu. Tapi rupanya aku keliru. Dulu sekali, aku pernah menemukan wajahmu dalam suatu cetakan foto. Kau mau tahu di mana kutemukan foto itu?” Tanpa menunggu jawaban Sehun, Jongin segera meneruskan. “Terselip di dalam buku yang kupinjam dari Dayoung noona.”

Sehun merasakan seluruh tubuhnya kini tengah disedot lubang gelap tak terlihat. Ia melemas di kursinya. Menatap Jongin terkejut. Tak percaya pemuda ini mengetahui masa lalunya. Jadi dulu Jongin menemukan fotonya terselip dalam buku milik Dayoung? Sehun tidak tahu kebetulan mengerikan macam apa ini.

“Siapa pun yang melihat foto itu pasti akan berpikiran hal yang sama denganku. Ketika itu Dayoung noona telah bertunangan dengan Baekhyun hyung, namun dia mengambil foto kelewat mesra bersama seorang pemuda asing. Kau telah membodohi semua orang rupanya dengan menjalin hubungan rahasia bersama Dayoung noona. Dan dilihat dari ketidaktahuan Dahye pada identitasmu yang sebenarnya, kurasa Dahye juga termasuk ke dalam orang-orang yang kau bodohi itu, ya?” Jongin melontarkan pertanyaan retorik dengan nada sinis. Ia tertawa hambar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lalu setelah apa yang kau lakukan pada Dayoung noona, kau masih ingin mempermainkan Dahye? Kau belum puas juga, huh?”

Emosi Sehun jelas tersulut mendengar ini. Ia tak bisa lagi menahan diri dan melampiaskannya dengan gebrakan keras pada meja, sukses mencuri atensi pengunjung lain. Namun Sehun sama sekali tak peduli. Ia menatap Jongin dengan mata membeliak, kemarahannya terlihat begitu kentara.

“Aku tidak mempermainkannya!”

“Menyatakan suka dan menjauh setelahnya, kalau bukan mempermainkan apa namanya, Oh Sehun?” Jongin balas meninggikan suaranya. Tatapannya tak kalah berang dari milik Sehun. “Kau pikir Dahye bisa kau permainkan sesuka hati, kau pikir kau bisa menaikan perasaannya lalu menjatuhkannya semaumu, begitu? Dia juga manusia sepertimu, Oh Sehun! Dia juga bisa merasakan sakit dan kecewa!”

Sehun dibuat bungkam begitu mendengar perkataan Jongin. Apakah ia seburuk itu? Benarkah ia terlihat seperti sedang mempermainkan perasaan Dahye?

Tapi Sehun sama sekali tak punya tujuan seperti itu. Ia sama sekali tak berniat mempermainkan Dahye. Ia hanya bimbang…

“Kau tidak mengerti…” Sehun berujar pelan akhirnya. Tatapannya meredup dan emosinya menguap begitu saja. Jiwanya bagai disentil setelah mengetahui bahwa orang lain menganggapnya tengah mempermainkan Dahye.

Mungkin Dahye juga berpikir dirinya tengah dipermainkan oleh Sehun…

“Mungkin aku memang tidak mengerti. Tapi aku tidak mau mencoba untuk mengerti, sebab seperti yang sudah kukatakan, rencanamu sama sekali bukan urusanku.” Jongin kembali berujar. Seperti Sehun emosinya pun berangsur-angsur mereda. “Tapi jangan coba-coba menyakiti perasaannya lagi. Kau kuawasi, Oh Sehun.” Sejenak Jongin berhenti, lalu ia meneruskan kembali. “Dan aku tidak punya alasan untuk merahasiakan hubunganmu dengan Dayoung noona dahulu. Jadi persiapkan dirimu jika suatu hari nanti Dahye mengetahui hubunganmu dengan Dayoung noona.”

Setelahnya Jongin bergerak bangkit dari duduknya. Ia bersiap pergi kalau saja Sehun tak membuka suara.

“Kau punya alasan, Kim Jongin.” Ujar Sehun, wajahnya tanpa ekspresi.

Jongin berhenti lalu kembali mendudukan dirinya. Ia menatap Sehun dengan kening mengerut. “Apa?”

“Kau punya alasan untuk merahasiakan hubunganku dengan Dayoung dari Dahye.” Sehun meneruskan, dan samar-samar sebuah seringai mulai menghias wajahnya. “Kau pikir aku tidak tahu rahasia yang selama ini kau sembunyikan dari Dahye?”

Perlahan Jongin mulai mengerti maksud perkataan Sehun. Ia menatap Sehun tajam dan kerutan di keningnya semakin dalam.

“Kau pikir aku tidak menyadari berbagai keanehan yang kau tunjukan saat bersama Dahye? Kau pikir, aku tidak tahu bahwa kau menyukai Dahye lebih dari seorang sepupu, hm?” Sehun berhenti sesaat untuk mengamati perubahan raut wajah Jongin. “Cemas berlebihan, kernyitan tidak suka ketika melihatku bersama Dahye, lalu datang kemari untuk menggertakku. Kau pikir sepupu biasa akan melakukan hal-hal semacam itu? Rasa sukamu pada Dahye, Kim Jongin, terlalu kentara. Aku tak mengerti kenapa sampai saat ini Dahye tak juga menyadarinya. Kalau saja Dahye sampai menyadarinya, mungkinkah ia akan tetap menganggapmu sebagai sepupu?”

Jongin menggertakan giginya, ia mengepalkan tangannya, nyaris meninju wajah Sehun kalau saja tak ingat mereka tengah berada di lingkungan umum.

“Kau…”

“Jadi, Kim Jongin, aku hanya sekedar ingin memberitahumu. Sekarang kita sama-sama memiliki kartu As masing-masing. Kau bisa mati jika kubuka kartumu, begitu pula sebaliknya. Jadi kenapa, tidak kita jaga saja kartu masing-masing?” Sehun tersenyum tipis. “Kau jaga rahasiaku dari Dahye, maka akan kujaga juga rahasiamu. Adil, bukan?”

Sehun mengirimi Jongin satu senyuman asimetris sembari berdiri dari duduknya. Dan sebelum ia benar-benar berlalu, Sehun menyempatkan diri untuk kemudian berujar.

“Ah, biar kuberi tahu satu hal lagi, Kim. Seburuk-buruknya aku, setidaknya aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan Dahye. Karena kau tahu, aku tak punya hubungan keluarga dengannya. Kau mengerti, ‘kan maksudku?”

Dan setelahnya ia benar-benar pergi meninggalkan Jongin yang membeku di kursinya. Sehun tahu tak seharusnya ia berkata seperti itu. Kedengaran begitu tidak tahu diri padahal kemarin baru saja merasa tak pantas bersama Dahye. Ia juga tak seharusnya mengancam Jongin. Namun pemuda Kim itu yang telah lebih dulu menggertaknya. Ia tak punya pilihan lain selain membalas gertakannya.

Baru Sehun sadari, kini dirinya tengah berusaha mempertahankan posisinya agar bisa bersama Dahye—meski tahu hal itu tidak mungkin.

            Esoknya tak lebih baik dari kemarin.

Sehun masih saja menghindar dan selalu punya alasan tiap kali Dahye meminta waktu untuk bicara berdua. Atau lebih tepatnya, selalu punya ‘pasukan’ yang bisa membuatnya terhindar dari Dahye. ‘Pasukan’ yang dimaksud tentu saja segerombolan perempuan yang minta bantuan penjelasan tambahan.

Dahye tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Sehun. Mendadak saja pemuda itu sulit sekali diajak bicara. Seolah ia tahu Dahye ingin membahas perihal pernyataan sukanya, dan ia memang ingin menghindar.

Tapi hari ini, Dahye takkan membiarkan Sehun lepas lagi. Tepat ketika bel pulang berdering, ia menjadi orang pertama yang meninggalkan ruang kelas. Bergegas mencapai kantor Sehun, sebelum siapa pun sempat mendahuluinya. Dan ia mendapatkan apa yang ia mau. Ruangan Sehun masih sepi. Belum ada gerombolan perempuan mana pun, bahkan Sehun sendiri tak kelihatan. Dahye memutuskan menunggu, ia menyandarkan punggungnya tepat di samping pintu masuk yang masih dikunci.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Suara itu membuat Dahye menoleh dan menemukan Sehun tengah berdiri di sampingnya sembari membuka kunci pintu. Meski bertanya, ia tak menunggu jawaban Dahye, dan melangkah masuk tanpa mempersilakan Dahye ikut ke dalam bersamanya. Namun Dahye tetap mengekor Sehun di belakang. Ia menutup pintu, membiarkan hanya dirinya dan Sehun di dalam ruangan ini. Jujur saja, Dahye benar-benar butuh privasi dengan Sehun.

“Kubilang ada yang harus kita bicarakan, ‘kan?” Dahye memulai, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mengamati Sehun yang kini menaruh buku-bukunya di atas meja.

Sehun menghela napas perlahan, kemudian mendudukan dirinya di atas meja. Ia ikut menyilangkan kedua tangannya, dan untuk pertama kalinya membalas tatapan Dahye.

“Dan apakah kau sudah lupa, bahwa tempo hari kubilang tak ada lagi yang perlu dibicarakan?” Ia menyahut dengan suara datar.

Dahye sempat tertegun. Tak mengerti kenapa Sehun berubah sejauh ini. Kemana Sehun yang selalu usil dan menggodanya?

“Aku tak mengerti.” Dahye menukas, membiarkan Sehun melihat betapa bingungnya ia saat ini. “Mengenai pernyataan itu—“

“Begini,” Sehun mendadak menyelanya. Pemuda itu turun dari duduknya kemudian merajut langkah mendekati Dahye. Sorot matanya yang tajam dan mengintimidasi entah bagaimana berhasil membuat Dahye mengkeret. “ada yang harus kuperjelas di sini, Son Dahye.” Sehun mengikis jarak diantara mereka. Dahye tahu seharusnya ia mengambil langkah mundur, sebab Sehun kelihatan tak punya niatan untuk berhenti. Namun kedua kakinya bagai terpaku ke bumi, ia tak bisa bergerak dan membiarkan Sehun semakin mendekat. “Mengenai pernyataan suka yang tempo hari pernah kusampaikan padamu,” hingga jarak yang memisahkan mereka tinggal sepersekian senti, Sehun mencondongkan tubuhnya, lantas berbisik tepat di samping telinga Dahye. “lupakan saja. Lupakan saja pernyataan sukaku, dan anggap kau tak pernah mendengarnya. Mengerti?”

            Lupakan saja, dan anggap kau tak pernah mendengarnya.

Jadi… Sehun memintanya untuk melupakan pernyataan suka itu? Setelah sejauh ini?

Detik itu pula Dahye tahu dunianya telah runtuh.

…kkeut

Note♥

Haluu^^

Maafkan telat update—lagi, lagi dan lagi. Kayanya belakangan emang susah sih buat update ontime:( seperti biasa aku Cuma ngarep kalian suka chap ini, dan ga lupa sama chapter sebelumnya:( Btw ini kepanjangan apa kependekan yah?

Oh iya, sekalian spoiler, di chap depan bakalan ada cast baru. Hihi.

Udah deh segini dulu aja^^

See ya on next chap gengs~~~

…mind to leave a review?

144 responses to “The Dim Hollow Chapter 10 by Cedarpie24

  1. Sehun kok tega yaaaahhh sama dahye ..😥 huh pdhl aku udh ngarep bnget tuh sehun jdian ama dahye.. Tapi sehun nya kek gitu.. Kamu jahat hun jahat😥 #hihi readers baru nih baru baca langsung mentok di ff nya kk.. Ijin baca ya kakk .. Ff nya keren bnget is the best dah #salamKenal

  2. Sehun gampang banget ngomong sama dahye buat lupain pernyataan sukanya dia dulu padahal dia sendiri masih bimbang sama perasaanya sendiri. Kasian banget dahye yang baru ngerasain perasaan suka sama orang pertama kali tapi harus ngerasain patah hati juga. Kasian juga sama kai yang terlanjur suka sama dahye tapi nggak bisa ngungkapin perasaannya karena status hubungan darahnya. Pokoknya complicated lah

  3. Wahhh akhirnya ini ff di next juga, kebayar juga penantiannya wkwkwkwk
    Jangan kelamaan ya thor lanjutannya soalnya ff nya suer keren banget
    Chap ini keren banget, jongin vs sehun hehehe

  4. waaahh itu si sehun benerbener–” enak bgt ngomong lupain–“””” kasian sama dahye:( dia baru bilang suka langsung digituin sama sehunnyaTT
    kai udah tau siapa sehun? jadi sehun sama kai itu serba salah emang hahaha.

  5. Pingback: The Dim Hollow Chapter 11 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Ternyata Sehun jahat jga ya? Okey, Jongin jgn khawatir tentang rahasiamu dibongkar sma Sehun, aku akan melindungimu kokk —dikroyokin fans Jongin.

  7. Sehun jahat :” kasian dahye ihh kok gitu sih nyesek bgt aaaaaaaaaaa sediiihhhh eon huffftttt ijin read next chapter ya ♡fighting♡

  8. Sehun, kau itu bener-bener membuat yang baca jadi gereget sendiri sama kamu duh-_-” kelakuan kamu Hun … Kerasa itu sakit hatinya Dahye secara itu pengalaman cinta pertamanya… mirisT_T

  9. Gw gak tau harus komen apa tentang mereka
    Terlalu menyakitkan

    Jongin jelas gak punya harapan ya bener kata sehun
    Cuman gak harus diomongin juga sih hunnnn

    Dahye masih gak tau ya, gimna kalo dia sampk tau
    Gegana deh

  10. Pingback: The Dim Hollow Chapter 13 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Gereget ih ama sehun nya, kaya ga tau diri banget gitu ngancem2 jongin juga :v udah nyakitin juga… coba aja aku masuk itu ff, aku kasih tau dahye tentang rahasia sehun, biar mampus sehun/? :v gereget lah sehun :v

  12. Gregeett bacanya !!! Hadeuuhh kakak author…. Sehunnya dibikin nyebelin banget di part iniii… Dahye nya kasihan..

  13. Yak oh sehun kau tau bagaimana perasaan da hye setelah kau ungkapkan perasaanmu,dasar pria brengsek -_- aku mau sehun juga balas cinta da hye, tapi jangan jadikan da hye sebagai pelampiasan please !!

  14. Konflik muncul satu persatu masalah kebuka dan hehh kasian dahye dunianya pasti kelihatan ancur banget karena awal dibuat melayang tapi pada akhirnya jatuh juga tapi sehun juga punya alasan untuk menjauhi dahye dia nggak mau menyakiti dahye

  15. Apa maksud sehun😦 dia ga sadar apa kalau dia begitu dia nyakitin dahye. Dan ya jongin, begitu perhatiannya sama dahye yang bisa dianggap itu perhatian lebih dari saudara

  16. sehun nyebelin banget masa dahye di abaikan setelah tahu kenyataan yg sebenarnya…salah dia sendiri ngasih harapan ke dahye setelah tahu kenyataannya sakitkan….

  17. Pingback: The Dim Hollow Chapter 14 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. Sehun jahat bangettt.
    Aku kagum banget sama karakternyabBaekhyun sama kai, kasian banget ya malah mereka berdua yang tersakiti disini #lebay
    Jadi kesel sama sehun lama lama.
    Gatau dia mikirnya gimana, tapi alasannya dia bener juga tapi ada ngga nya juga..

  19. Pusing~~ 😦😦😦
    Mau dibawa kemana hubungan kita~~ *malahnyanyi 😂😂😂😂
    Greget sendiri bacanya 😣😣😣😣

  20. rumit banget….
    gimana perasaan Da Hye.. pasti hancur banget..
    Aku merasa justru sehun lebih brengsek dari pada Jongin..
    kesel banget sama Sehun..
    sebel..sebel..sebel…

  21. Pingback: The Dim Hollow Chapter 15 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  22. sehun jahat.. sehun jahat… mending dahye ama jongin ajalah walau sepupu, daripada sama sehun yg plin plan antara dayoung apa dahye😮

  23. Pingback: The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  24. Pingback: The Dim Hollow Side Story: Forbidden by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  25. Lupakan saja?
    Eh itu congor enak bet keknya
    Lu kata perasaan bisa di balik kayak balik tangan ?
    Negbalikin tangan aja butuh tenaga dan waktu yang diperhitungkan, nah ini apalagi. PERASAAN OYY YA AMPUN

  26. Pingback: The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  27. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  28. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  29. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  30. Di chaptr ini sehun keliatan bgt jhatny:'(( sumpah ya, baek baik bgt. Udh dkhianatin tp ttp nerima. Jarang ada shbt kek gt:( kok ak jd dukung dahye sm jongin ya, wkw.

  31. sumpah demi apapun greget banget sama sehun ..
    ngapain dia pertahanin dahye didepan jongin sedangkan sekarang ddia nyuruh dahye buat lupain? ngapain coba?? ngapain??? yaampun sehun bikin sakit kepala ampun deh ..

  32. Duuh, ngerti banget sama apa yang Sehun rasain. Dia kaya gitu yaa supaya Dahye ga sakit hati kalo kelak rahasia kelam si Sehun terbongkar. Yaa mending menjauh dari sekarang kan?

    Tapi karena aku cewek, jadilah lebih pro ke Dahye. Dan sehun aku anggap jahat disini. HAHA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s