[CHAPTER 2] MY FATHER WAS AN IDOL

selviakim-my-father-was-an-idol

Author name : Selviakim
Title : My Father Was an Idol
Main Cast : Kris EXO-M, Kaiya Saley (Ulzzang Kid), dan Kwon Su Jeong (Ulzzang Korea)

Genre : Idol-Life, Family, Brothership, Comedy, Romance, Drama, and Fluff.

Summary : Kris adalah salah satu member Boyband yang terkenal sebut saja EXO. Tapi, ternyata dia memiliki sebuah rahasia.. Apa Rahasia yang telah dia sembunyikan dari semua orang kecuali keluarganya?

Disclaimer : Pemain yang ada di cerita milik Tuhan YME dan orang tuanya masing-masing. Saya hanyalah pembuat cerita. Cerita ini 100% milik saya, serta please don’t plagiat this story!

A/N : Di cerita ini, menceritakan album Overdose keluar beberapa bulan sebelum keluar yang aslinya (Aslinya Mei 2015).

WARNING!!

Typo’s bertebaran

.

Poster by : Harururu98 – Cafe Poster Art ( Thank you for amazing poster kak,❤  )

-Happy Reading-

-My Father Was An Idol Chapter 2-

-Sebelumnya-

Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di depan kami berdua, aku dan Kaiya menoleh. Aku kaget melihatnya. Apalagi ketika mendengarnya berkata sesuatu yang memang harus aku hindari.

“Kris, siapa anak ini sebenarnya?”

-My Father Was An Idol Chapter 3-

“Kris, siapa anak ini sebenarnya?” tanyanya yang berhasil membuatku bingung harus menjawab apa.

“Luhan… kenapa kamu di sini?” jawabku dengan lumayan khawatir.

“Apa harus aku ulangi pertanyaanku lagi?” Katanya dengan bosan. Sepertinya bosan dengan jawabanku tadi.

“Tidak perlu, dengan siapa kau di sini?” Ucapku pada akhirnya. “Sendiri” jawabnya. Jelas. Sepertinya dia sangat ingin mengetahui, siapa anak yang di sampingku ini.

“Aku akan menjawabnya di perjalanan pulang nanti. Lebih baik, aku pesankan makanan” kataku. Lalu, aku menghadap ke arah Kaiya. Sepertinya, dia mengetahui apa maksudnya. Langsung saja dia memanggil seorang Nonna tadi, dan menambah pesannan satu lagi.

***

Kami semua pun selesai makan di sini. Dan, aku menuju kasir bersama Kaiya dan Luhan. Tanpa aku menatap Kaiya seperti yang kulakukan tadi, dia langsung mengerti.

Nonna, berapa semuanya?”

“………… won” ucap seorang pelayan itu. Aku langsung membayar semuanya.

“Ini kembaliannya. Mianhaeyo, apakah kakakmu tidak bisa berbicara?”

Ne” jawab Kaiya dengan senyuman kecil di wajahnya. Tentu saja, membuatku kaget dan membulatkan mataku yang mungkin hampir menyerupai matanya D.O ( O_O ). Langsung saja, aku membawa Kaiya dan Luhan pergi dari sini dan langsung menuju ke tempat pakiran mobil. Sepertinya aku harus berpikir dua kali, bahwa bagian ini bukan bagian yang terbaik untuk hari ini. Kaiya aku dudukkan di belakang, sedangkan Luhan duduk di samping pengemudi. Ketika selesai menutup pintu Kaiya, aku langsung masuk ke tempat pengemudi dan segera mengendarai mobil menjauh dari sini. Kami sudah di pertengahan jalan.

“Siapa anak ini sebenarnya Kris?” ucap Luhan, dengan pertanyaan yang sedikit berbeda namun dengan arti yang sama.

“Aku akan menjawabnya, nanti” jawabku. Aku melirik ke arah Luhan. Dia mendesah karena mendengar jawabanku. Aku pun langsung menuju ke Apartement Ibuku.

***

Aku pun tiba di depan gedung Apartement. Aku masuk ke dalam gedung bersamaan dengan Kaiya dan Luhan. Kami memasukki Lift dalam keadaan yang sunyi karena ada sekita 4-5 orang di dalam sini. Lift pun berhenti di lantai di mana Apartement Ibuku. Aku serta mereka tiba di depan Apartement Ibuku dan langsung memencet bel di depan pintu. Ibuku membukakan pintu. Dia sedikit terkejut melihat Luhan di sini, berada di samping kiriku. Sepertinya Ibuku mengerti apa maksudku, dan langsung menarik pelan Kaiya ke sampingnya.

Bye” ucapku. Lalu Ibuku memutup pintu dengan pelan.

Aku menempuk pundak Luhan untuk memberitahunya menuju ke pintu Lift, menunggu. Beberapa detik kemudian, pintu Lift pun terbuka dan memperlihatkan beberapa orang yang ada di Lift. Kami berdua langsung memasuki pintu Lift. Aku memencet tombol ke lantai dasar. Kami pun tiba di sana. Dan langsung menuju ke Mobil dalam keheningan kami masuk ke dalam Mobil. Aku langsung mengendarai Mobil menuju ke Dorm kami. Kami dalam keheningan lagi, aku memecahkan keheningan.

“Aku akan menjawab pertanyaanmu, Luhan” kataku yang langsung membuatnya menatapku.

“Dia…. Dia adalah anak angkatku ket….” Ucapanku yang langsung di potong oleh Luhan.

“APAA??!! Kris! Bagaimana bisa hal itu terjadi?!” Teriaknya sambil menghadap ke arahku.

“Aku belum menyelesaikan omongan ku” ucapku sambil membuang nafasku dengan kesal

“Maaf” jawabnya, Luhan langsung duduk seperti semula

“Dia anak angkatku ketika aku pergi ke Kanada waktu itu. Aku pergi ke sebuah Panti Asuhan, dan menemuinya  yang sedang duduk di taman panti. Aku menghampirinya, menanyakan banyak hal padanya. Ternyata dia tidak mengetahui siapa diriku waktu itu. Aku memulai berpikir untuk mengadopsinya. Awalnya Ibuku menolak semuanya, tapi kemudian dia menerimanya” ucapku.

“Siapa namanya?”

“Kaiya Saley. Tapi, aku mengubahnya ketika dia tidak berada di Barat. Kaiya Wu” jawabku.

“Kenapa kau tidak menceritakan yang sebenarnya?”

“Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Kecuali aku, keluargaku, dan Tuhan.”

“Jadi Manajer dan pihak agensi pun tidak mengetahui semuanya?”

“Kau benar.”

“Kau dalam masalah besar jika mereka mengetahui semunya”

“Aku akan menghadapinya.”

“Terserah apa kata kau.”

“Tapi…aku mohon padamu agar tidak memberitahu siapapun soal ini”

“Baiklah, tapi biarkan aku bertemu dengan Kaiya. Dia sangatlah lucu”

“Baiklah” jawabku yang mengakhiri percakapan kami berdua.

***

Kami pun tiba di depan pintu Dorm kami. Ini baru pukul jam satu siang. Berutungnya kami masih ingat jika kami akan tampil malam ini. Luhan pun memencet bel. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka memperlihatkan Xiumin di sana.

“Siapa?” kata seseorang yang berteriak dari arah ruang tamu. Aku menebaknya, Baekhyun.

“Masuklah kalian berdua” kata Xiumin.

Kami pun masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa.

“Perasaan tadi Lu-ge berangkat sendirian dan Kris-ge juga berangkat sendirian. Bagaiman bisa pulang bersamaan?” Tanya Lay.

“Tadi aku bertemu dengan Kris di………………..” kata Luhan terpotong. Tuhan, semoga Luhan tidak mengatakannya. Luhan melihat ke arahku. Minta jawaban. Sepertinya dia tadi langsung bicara tanpa berpikir. Kebiasaan. Aku pun memohon dalam hati agar dia tidak mengatakannya.

“Tadi aku bertemu dengan Kris di… di Mall. Aku menemukannya duduk di Caffe sendirian”kata Luhan. Aku bersyukur Luhan tidak memberitahu yang sebenarnya. Jika sampai Luhan memberitahunya..kau akan mendapatkan balasan(Durhaka banget -,-).

“oohh” jawab semuanya serempak sambil mengangguk-angguk.

“Kajja! Kita beres-beres. Kita harus ke gedung SM terlebih dahulu” ucap Suho kemudian. Aku pun pergi ke kamar. Mengambil barang-barang seperlunya, seperti Ponsel.

“Manager hyung ada di luar! PALLI~!!” teriak Chen dan Baekhyun. Sepertinya, mulut mereka berdua tidak pernah bisa tanpa teriakkan. Aku keluar kamar dan menatap mereka berdua. Mereka hanya terkekeh melihatku yang sedang menatapnya sambil membuat tanda dua di tangannya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.

Kajja, kita berangkat!” ucap Manager memecah candaan ini.

***

Kami pun tiba di depan gedung SM. Aku sangat ingin pergi ke sebrang jalan sana, Kedai. Karena di sana ada kopi kesukaanku. Aku pun meminta Luhan untuk menemaniku dan meminta izin terlebih dahulu ke Manager hyung. Beruntungnya, dia memperbolehkan kami. Aku dan Luhan pun menyebrang jalan dengan hati-hati. Fans melihat kami, tapi mereka hanya diam. Mungkin karena kami ingin menyebrang jalan tanpa pengawal, dan membuat mereka jadi takut. Kami pun tiba di sana. Tak sengaja, aku menabrak seorang perempuan. Dan dia meminta maaf padaku.

Mianhae, agasshi” ucapnya sambil mengangkat kepalanya. Yang buat aku terkejut adalah sepertinya dia tak mengenali diriku. “Aku terburu-buru. Mianhaeyo” sambungnya lalu berlari meninggalku. Aku menatapnya yang pergi menjauh. Luhan hanya memandangku dengan bingung.

 

-Kris POV END-

-Author POV-

Akhirnya, selesai juga tugas kuliah ini. Dan, aku tidak sabar untuk menunggu tahun depan. Tahun kelulusan. Yeay! Baru saja aku selesai mengerjakan tugas. Ternyata..

“Sujeong~!” teriak seseorang yang tengah berlari menghampiriku. Kim Nana. Ya, itulah namaku. Sujeong. Atau Kwon Su Jeong.

“Ada apa?” jawabku sambil memakai tasku.

“Bisakah kau mengantarkan ini ke gedung SM? Ini suruhan Ahn Seonsaengnim.”

“Kenapa bukan kau saja?”

“Aku harus ke Bandara. Orang tuaku akan tiba sebentar lagi.”

“Aish! Baiklah…..” ucapku terpotong sambil mengambilkan kertas-kertas itu. “Hmm.. ngomong-ngomong dimana gedung SM itu?” sambungku. Nana menatapku dengan wajah nya yang tidak bisa ku jelaskan. “Wae?”sambungku lagi.

“Apakah kau orang korea asli? Sampai-sampai tidak mengetahui gedung SM?” ucapnya.

Well, umur 6 tahun aku pindah ke China. Umur 8 tahun pindah ke Kanada sampai SMA. Dan barulah kuliah di tempat kelahiranku ini.”

“Aish! Terserah kau saja.. Ini alamatnya. Dan ini agar kau bisa masuk ke sana.” Ucapnya sambil menyerah suatu tanda dengan di isi suatu tanda tangan.

“Buat apa ini? Apakah gedung sangai diperjaga ketat? Sampai-sampai harus ada tanda semacam ini?”

“Datanglah ke sana. Dan kau akan segera mengetahuinya. Hmmm…. Sujeong, aku harus ke Bandara sekarang. Makasih ya~… Bye!” ucapnya sambil berlari ke mobilnya. Akhirnya, dengan berat hati aku pun mengantarkan kertas-kertas ini ke gedung SM. Dengan menggunakan taksi.

 

Aku pun tiba di seberang gedung SM. Di kedai Coffe sepertinya. Aku melihat sekelompok perempuan di luar sana. Sepertinya, aku harus mengetahui apa saja yang ada di tempat kelahiranku ini. Tak sengaja, ada seorang laki-laki menabrakku. Untung saja, aku tidak memegang minuman kopi. Kalau tidak, tidak sopanlah diriku.

Mianhae, aggashi” ucapku terpotong. “Aku terburu-buru. Mianhaeyo” sambungku sambil berlari meninggalkannya dan menuju ke gedung SM. Jujur saja, aku sedikit takut dengan seorang laki-laki yang belum ku kenal. Aku pun tiba di depan gedung SM. Ketika aku mau masuk, aku di tahan oleh penjaga keamanan. Aku baru ingat jika aku harus memperlihatkan suatu tanda yang di isi suatu tanda tangan. Akupun memperlihatkannya. Dan penjaga itu memperbolehkan aku masuk. Aku sedikit lega. Bisa-bisa aku di kira pencuri nantinya (-,-). Aku pun mencari-cari ruang CEO nya. Disini tertulis CEO jadi kupikir aku harus masuk ke ruangan ini.

***

Setelah berlama-lama mengurus kertas-kertas yang menurutku tidak penting itu. Akhirnya, aku diperbolehkan kembali. Akupun keluar ruangan. Ingin sekali rasanya merasakan tempat tidur di Apartement. Jujur saja, seluruh badanku pegal semua. Aku berjalan sambil melihat sekelilingi. Tak sadar, sekelompok pria lewat di depanku. Aku menghitungnya, jumlah mereka 12 orang. Jujur saja, aku takut di sini tidak ada siapa-siapa. Mereka melihatku dengan sedikir bingung. Terlihat dari raut wajah dari beberapa orang itu. Tak ku sadar, aku menangkap siluet wajah yang kurasa aku pernah melihatnya. Aku menantap matanya. Sepertinya dia menyadariku yang menatap matanya. Dia membalas tatapanku.

-TBC-

 

 

7 responses to “[CHAPTER 2] MY FATHER WAS AN IDOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s