IMPERFECTION — EPILOGUE 1 [BY IMA]

try new.jpg

By IMA (@kimkaisure)

Casts     : Kim Jong In (KAI), Lee Hana (OC’s), Oh Sehun

Other Casts : Oh Jae Hee, Kim Joon Myun

Genre   : School-life, romance, angst

Rating   : 17+ (for harsh words and scene)

Beta  : neez

©IMA @saykoreanfanfiction 2016

"There is no perfection in this world. You just create your own perfection because you're imperfection"

[FOREWORD] [1ST PAGE] [2ND PAGE] [3RD PAGE] [4TH PAGE] [5TH PAGE] [6TH PAGE] [7TH PAGE] [8TH PAGE] [9TH PAGE] [10TH PAGE] [11TH PAGE] [12TH PAGE] [13TH PAGE] [14th PAGE] [15th PAGE] [END]

[IMPERFECTION] – EPILOGUE 1

Kejadian yang baru saja terjadi benar-benar membuat Kai terdiam di tempatnya. Memandang kosong ke arah sepasang manusia yang meninggalkannya di lorong gereja. Selama enam tahun ia menunggu momen pertemuan dengan Hana kembali, tapi tidak berakhir seperti apa yang dibayangkannya selama ini. Entah kenapa dadanya terasa sakit dan sesak, melihat tatapan dingin Hana padanya dan hanya menunjukkan tatapan hangat pada laki-laki yang membawa gadis itu menjauh darinya.

Apa dia sudah terlalu dalam menyakiti gadis itu?

Kai masih berdiri mematung di posisinya ketika melihat pintu yang memasuki lorong gereja kembali terbuka. Menampilkan sosok Jae Hee yang masih dibalut gaun pengantin dengan model mermaid itu berjalan tergesa menghampirinya. Diikuti Joonmyun yang juga berjalan cepat di belakang.

“Apa yang kau lakukan pada Hana?!” Jae Hee mendorong Kai hingga punggung lelaki itu membentur dinding.

Tapi Kai tidak merasakan sakit apapun pada tubuhnya dan hanya memandang Jae Hee dengan kosong. “Aku sedang berusaha minta maaf padanya.”

Chi, minta maaf?” tanya Jae Hee sarkastik, tidak peduli dengan Joonmyun yang memegangi kedua bahunya dari belakang berusaha menenangkan. “Apa kau memang sepicik ini? Apa kau tidak ingat pernah melakukan apa padanya sampai Hana menghindar darimu selama enam tahun, ha?!”

“Jae Hee-ya, aku ingat pernah melakukan salah. Aku mencarinya selama ini untuk minta maaf,” Kai menundukkan kepala, tidak berani menatap mata Jae Hee yang berkilat marah.

“Hana sudah susah payah bangkit dari keterpurukannya, Jong In. Dalam satu tahun pertama ia harus sering masuk rumah sakit, dibius obat penenang agar tidak berontak dan melakukan hal gila hanya karena mengingat masa lalunya! Termasuk dirimu! Ia harus melupakan dan memaafkan orang-orang dari masa lalunya agar bisa sembuh dan ia berhasil melakukannya selama enam tahun ini!” ucapan Jae Hee membuat kedua tangan Kai terkepal di samping tubuh, merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengetahui keadaan Hana selama ini.

“Apa kau senang melihatnya sakit, eoh?!” tanya Jae Hee masih dengan nada tingginya. Ia tidak menyangka akan marah-marah di pesta pernikahannya sendiri hanya karena seorang Kim Jong In yang dengan tidak tahu dirinya kembali muncul di depan Hana. “Jangan pernah memaksa Hana lagi!”

Jae Hee mendengus pelan sebelum berbalik, menggamit lengan Joonmyun dan menyeret lelaki itu keluar dari lorong gereja. Meninggalkan Kai yang jatuh terduduk di lantai dengan tatapan kosong dan rasa bersalah yang semakin mengakar di hatinya. Ia merasa kesulitan untuk sekedar berdiri karena dadanya terasa sakit saat membayangkan kehidupan Hana selama ini. Ia yang sudah membuat Hana sakit hingga separah itu. Ia juga yang berusaha dilupakan Hana agar bisa sembuh dari phobianya.

Haruskah Kai benar-benar menyerah sekarang?

.

.

Butuh waktu lebih dari satu jam bagi Kai untuk mengendarai mobilnya kembali ke apartemen setelah menghadiri pesta pernikahan Joonmyun. Ia tidak peduli dimana kekasihnya berada karena ia segera pulang setelah kejadian pertemuan dengan Hana yang mengguncang pikirannya tadi. Orang-orang memperhatikannya yang berjalan cepat di lobi, menaiki lift hingga lantai teratas dimana penthousenya berada. Begitu membuka pintu apartemen, ia menemukan sekretaris ayahnya berada di sana. Dengan sebuah amplop cokelat di tangan yang membuat bulu kuduk Kai meremang.

 Kai menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah ke dalam penthouse dengan jas di tangan kiri seraya melempar kunci mobilnya ke sofa. “Ada perlu apa, ahjussi?” tanyanya lalu duduk di sofa, menatap lelaki paruh baya yang membungkuk ke arahnya.

“Aku membawa kabar tentang wanita yang kau cari, tuan Kim,” ucapan sekretaris Seo membuat perhatian Kai beralih pada amplop cokelat yang dipegang lelaki itu. “Kami mengumpulkan semua foto dan berita tentang wanita itu selama ini.”

“Apa kau tahu kalau Hana sudah pulang ke Seoul?” tanya Kai seraya menerima amplop yang diserahkan sekretaris Seo.

Ne, maaf karena kami baru mendapatkan informasinya sekarang. Apa tuan Kim masih mau mengetahuinya?” tanya sekretaris Seo begitu Kai membuka amplop cokelat itu dan mengeluarkan foto-foto serta beberapa lembar kertas hasil cek kesehatan milik Hana ke atas meja ruang tengah.

“Beritahu aku semuanya,” Kai menata puluhan foto Hana yang diberikan oleh sekretaris Seo di atas meja ruang tengah. Perubahan ekspresi dan potongan rambut Hana dari tahun ke tahun yang tetap tidak mengubah wajah cantik gadis itu.

“Hana tinggal bersama psikiater pribadinya dan adik laki-lakinya di New Zealand. Phobia yang diderita Hana membuatnya tidak bisa kembali ke sekolah, hingga hanya sesekali melakukan home schooling selama satu tahun di sana. Tahun pertama Hana harus mendapat pengawasan intensif dan terkadang dibawa ke rumah sakit untuk disuntik obat penenang karena berusaha menyakiti diri sendiri. Di tahun kedua, intensitas Hana ke rumah sakit semakin berkurang dan hanya sesekali mengonsumsi obat untuk menenangkan diri.”

Tangan Kai terkepal di pinggiran kertas foto berisi Hana yang berdiri di pedestrian itu ketika sekretaris Seo menjelaskan keadaan Hana. Ternyata rasa bersalahnya selama ini memang benar-benar terjadi, karena Hana tidak hidup dengan baik di New Zealand. Andai ia lebih cepat mengetahui keberadaan Hana, mungkin ia akan cepat mengejar dan meminta maaf pada gadis itu. Mendampingi Hana hingga sembuh dari phobia bersamanya.

“Hana berhasil sembuh setelah melewati tahun kedua dan masuk universitas. Ia kuliah di salah satu universitas di New Zealand mengambil mayor psikologi. Dia lulus lebih cepat dan menjadi lulusan terbaik dari seluruh angkatannya di sana,” sekretaris Seo berdehem pelan ketika tuan Kim-nya tidak bisa fokus kembali pada apa yang tengah dijelaskannya. “Di universitas itu juga ia bertemu tunangannya sekarang, Lee Taemin.”

“Tunangan?” tanya Kai tak percaya seraya menolehkan kepalanya pada sekretaris Seo.

Eoh. Lee Taemin yang juga membantu Hana bangkit dari keterpurukan dan phobianya. Dia membantu Hana melewati masa-masa sulit pertemanan di universitas ketika orang-orang mengetahui phobia Hana. Bahkan ia juga mengancam siapa pun yang membicarakan phobia dan menjauhi Hana, akan berurusan dengannya,” papar sekretaris Seo seraya memperhatikan Kai yang mendengus pelan setelah mendengarnya.

“Apa mereka akan menikah?” tanya Kai, berusaha menahan rasa mengganjal di kerongkongannya. Kenapa ia merasa sesak saat tahu tentang pertunangan Hana dan laki-laki bernama Taemin itu?

“Yang kudengar, mereka akan menikah dua tahun lagi.”

Kai melempar tumpukan foto Hana ke atas meja seraya mengacak rambutnya ke belakang. Merasa frustasi tiba-tiba entah karena apa. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa Hana akan menikah dengan laki-laki lain. Ia sudah menunggu selama enam tahun dengan semua rasa bersalah yang menumpuk di dalam hati dan pikirannya, mengkhawatirkan keadaan Hana dan sudah seperti orang gila mencari keberadaan gadis itu.

Gomawoyo,” Kai beranjak dari sofa sambil mengacak rambutnya ke belakang lagi lalu mengulas senyum simpul –tanpa mencapai matanya—pada sekretaris Seo.

Sekretaris Seo memperhatikan ekspresi lelah di wajah tuan Kim-nya lalu membungkuk dalam. “Sama-sama, tuan Kim.”

“Kau bisa pulang sekarang. Aku mau istirahat,” Kai menepuk bahu sekretaris Seo sambil melangkah melewati lelaki paruh baya itu, bersiap menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua penthouse. Namun panggilan dari sekretaris Seo membuat langkahnya terhenti di anak tangga pertama.

“Dokter Nam menitip pesan bahwa tuan Kim harus mengambil hasil cek kesehatan,” sekretaris Seo memperhatikan ekspresi Kai yang masih sama lelahnya. Kantung di bawah mata lelaki itu terlihat jelas, ditambah dengan tubuh yang terlihat semakin kurus. “Dokter Nam mengatakan bahwa….. Tuan Kim harus berhenti mengonsumsi obat tidur sebelum keadaan lambung anda semakin parah.”

“Aku tidak bisa,” Kai menghela napas panjang seraya menoleh kembali pada sekretaris Seo. “Aku selalu mimpi buruk tentang Hana kalau tidak minum obat tidur dan tidak akan bisa tidur sampai pagi. Aku tidak bisa tidur nyenyak karena Hana yang kesakitan selalu muncul di kepalaku, ahjussi. Sepertinya aku masih butuh obat tidur itu.”

Kemudian kaki-kaki panjang Kai menaiki setiap anak tangga menuju lantai dua penthouse. Memasuki kamarnya dengan langkah gontai dan menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya yang mulai terlihat buram karena kepalanya kembali merasakan pusing. Ia berguling ke dekat nakas, mengambil tabung yang berisi obat tidur miliknya dari dalam laci nakas lalu meminumnya tanpa bantuan minum. Tak butuh waktu lama baginya untuk terlelap, tanpa harus merasa bersalah dan dihantui mimpi buruk di dalam tidurnya.

***

Setelah kepindahan kembali ke Korea, Taemin menyewa sebuah apartemen di dekat Seocho yang tak jauh dari komplek perumahan Hana. Sementara Ji Hae tinggal di rumah keluarga Lee bersama Hana, menjaga dan mengatur keadaan di rumah karena tuan Lee masih berada di rumah sakit. Sesekali Taemin juga menginap di kediaman tuan Lee untuk menemani Hana dan menghibur JI Hae yang kesepian. Ji Hae menjadi sedikit lebih pendiam setelah kembali ke Seoul.

Beberapa hari yang lalu Taemin kembali mendapat undangan untuk menghadiri showcase di New York. Meninggalkan Hana bersama Ji Hae di kediaman keluar Lee. Ada perasaan aneh yang mengganggu Hana sejak pertemuannya dengan Kai di pernikahan Jae Hee waktu itu. Ia tidak tahu apa dan kenapa, tapi ia tidak suka dengan pengaruh yang Kai berikan padanya hingga seperti itu. Ia terlalu banyak memikirkan Kai akhir-akhir ini.

Hanya dengan menyerahkan surat kelulusannya dan nilai-nilainya dari universitas di New Zealand, Hana berhasil memasuki rumah sakit keluarganya menjadi psikiatris –lagi bersama dokter Yoon. Di hari-hari pertama bekerja, dokter Yoon memperkenalkan ruangan-ruangan di dalam rumah sakit dan staf-staf yang akan sering ditemuinya di departemen psikiater. Sebagian telah mengenalnya sebagai anak tuan Lee hingga ia mendapat sambutan cukup hangat di sana.

Hana mengunci pintu ruang kerjanya lalu menyusuri koridor rumah sakit yang tetap ramai meskipun sudah jam 11 malam. Hembusan napas panjang keluar dari bibirnya, merasa lelah karena seharian harus berkeliling departemen tempat bekerjanya yang baru. Hana meringis pelan sambil merogoh tasnya, mencari ponsel untuk menelepon supir pribadi keluarga Lee. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Kai keluar dari pintu kaca bertuliskan departemen penyakit dalam. Langkah lelaki itu juga terhenti beberapa meter begitu bertatapan dengannya.

Senyuman simpul terulas di bibir Kai, namun Hana mengalihkan tatapannya ke arah lain. Begitu Kai melangkah mendekatinya, Hana tidak lagi berusaha melarikan diri dan membiarkan lelaki itu berdiri hanya berjarak satu langkah di depannya.

“Han-ah,” panggil Kai dengan suara huskynya yang entah bagaimana bisa membuat bulu kuduk Hana sedikit meremang. But she should act like his presence doesn’t affect anything to her.

 “Aku belum sempat bertanya kemarin. Bagaimana kabarmu?” tanya Kai lagi, kali ini membuat Hana menoleh dan mendaratkan tatapannya pada iris cokelat gelap milik lelaki itu.

 Hana berusaha balas tersenyum walaupun ia dengan susah payah berusaha mengontrol detak jantungnya. “Baik. Kau sendiri?”

So so. Not in the good condition these days,” Kai merasa senang ketika Hana tidak lagi menolak keberadaannya.

Kening Hana berkerut, hingga tapannya jatuh pada amplop cokelat yang dipegang oleh lelaki itu. Bibirnya ingin bertanya ingin tahu tetapi Kai lebih dulu melanjutkan ucapannya.

“Mmm…. Apa kau punya waktu malam ini?” tanya Kai dengan ragu seraya menangkap tatapan Hana kembali. “Aku tidak memaksa… Tapi aku mau mengatakan sesuatu.”

Hana melirik jam di pergelangan tangan kanannya, sedikit meringis karena menyadari bahwa malam sudah semakin larut. Ia kembali mengangkat kepala, berusaha menolak permintaan Kai karena ia harus segera pulang dan menjaga Ji Hae. Tapi tatapan Kai benar-benar terlihat tulus untuk mengajaknya berbicara.

“Tapi tidak lama.”

No, wait. Kenapa Hana malah mengiyakan permintaan lelaki itu?

Call. Mau pergi dengan mobilku?” tanya Kai dengan senyuman lebarnya karena ia berhasil mengajak Hana.

“Aku tidak bisa lama. Bagaimana kalau di cafetaria rumah sakit?” Hana memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel, menunggu persetujuan Kai yang terlihat berpikir di hadapannya.

Kai mengangguk pelan menyetujui usulan gadis itu lalu mengikuti langkah Hana yang berbelok ke koridor lain, menuju cafetaria rumah sakit. Mereka tidak mengutarakan satu patah kata pun selama berjalan ke cafetaria, Kai malah sibuk menyusun kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan Hana agar gadis itu tidak lagi membencinya. Cukup dengan Hana menerima permintaan maafnya, mungkin ia bisa merasa sedikit lega.

“Mau kopi?” tanya Kai begitu melewati vending machine di pintu masuk cafetaria.

“Apapun,” Hana  berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan Kai sebelum melanjutkan langkahnya mencari meja kosong di sudut cafetaria. Sementara Kai menunggu transaksi selesai di vending machine.

Banyak sekali yang dipikirkan Hana tentang apa reaksi yang harus ia tunjukkan pada Kai setelah ini. Ia tidak benar-benar membenci Kai karena sudah berusaha memaafkan apa yang dilakukan lelaki itu padanya. Tetapi ia tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi. Entahlah. Lagipula Hana sudah sembuh dari phobianya bukan? Harusnya ia bisa bersikap biasa saja di hadapan Kai.

Begitu Kai datang sembari meletakkan dua gelas kopi ke atas meja dan duduk di hadapannya, Hana hanya bisa menatap gelas kopi miliknya. Tidak mengatakan apapun hingga Kai berani membuka pembicaraan lebih dulu.

Mianhae.

Hanya satu kata yang entah kenapa membuat Hana merinding dan mengangkat kepalanya. Perasaan Hana bergetar begitu mendengar permintaan maaf yang penuh ketulusan dari bibir lelaki itu. Padahal ia mendengar hal yang sama ketika bertemu di pernikahan Jae Hee, namun kali ini ia bisa lebih merasakan ketulusan di dalamnya.

“Aku memang bodoh dan egois. Aku benar-benar minta maaf,” ujar Kai seraya menatap lurus ke dalam mata Hana, diam-diam mencengkeram gelas kertas berisi kopi miliknya. He wants to tell everything to Hana.

“Kau tahu, Jong In?” Hana menghela napas panjang lalu mengalihkan tatapannya kembali ke gelas kopinya. “Aku sudah memaafkanmu sebelum ini.”

Kai hanya memandangi wajah Hana yang tertutupi helaian rambut –karena menunduk itu dan merasakan jantungnya berdetak menggila hanya dengan mendengar suara gadis itu. “Kenapa?”

“Karena aku mau sembuh,” Hana menyunggingkan senyum tipis pada Kai dan menemukan ekspresi kosong yang ditunjukkan Kai padanya. “Kau dan Sehun. Aku sudah memaafkan kalian.”

Entah bagaimana menjelaskan perasaan Kai begitu melihat senyum simpul yang disunggingkan Hana padanya. Ada sebuah beban berat yang seolah terangkat dari bahunya karena seorang Lee Hana, seseorang yang telah disakiti olehnya menerima permintaan maafnya –bersama Sehun. Ia benar-benar tidak berharap banyak pada Hana agar bisa menerimanya kembali sebagai teman. Hanya seperti itu saja, ia merasa benar-benar lega.

 “Apa kita bisa bersikap biasa lagi setelah ini?” tanya Kai, terselip nada penuh harap dan senyum simpul yang menghiasi ekspresi bahagianya.

Hana menyeringai pelan seraya menundukkan kepala lalu mengendikkan bahu. “Kita pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Aku juga minta maaf kalau pernah menyakitimu waktu itu, Jong In. Tapi…. walaupun sudah memaafkanmu, aku tetap tidak bisa melupakan apa yang sudah kalian lakukan padaku.”

Senyuman Kai kembali menghilang, ada rasa sesak yang mengganjal kerongkongannya. Tapi ia sudah berjanji untuk tidak berharap lebih banyak pada Hana selain hanya menerima permintaan maafnya bukan?. “Aku tidak berharap lebih. Mungkin kalau kau meminta, aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu. Kalau itu memang bisa membuatmu merasa lebih baik.”

Ucapan Kai sontak membuat kepala Hana terangkat, menatap tidak percaya ke arah lelaki di hadapannya. Apa ia benar-benar menginginkan Kai menghilang dari kehidupannya? Ia telah dinyatakan sembuh oleh dokter Yoon dulu dan ia tidak lagi harus merasa takut di hadapan masalahnya. Ia tidak takut, sungguh. Tapi ia masih merasa aneh ketika berbicara berdua bersama Kai di sana. Karena ia terkadang merasa sakit di bagian dada saat ingatan buruk bersama lelaki itu kembali muncul di kepalanya.

Haruskah ia meminta Kai tidak lagi muncul di kehidupannya?

Can you?”

Sebelah alis Kai terangkat, bertanya secara non-verbal maksud dari ucapan Hana. “Aku bisa apa?”

Can you get out of my sight from now on?” Hana meremas pelas gelas kertas di genggamannya seraya menundukkan kepala. “Aku sudah memaafkanmu, Jong In.”

Kai hanya terdiam di tempat duduknya, menatap kosong ke arah Hana yang kini sudah beranjak dari kursi sembari memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Mengambil ponsel yang berdering pelan menandakan panggilan masuk. Sekilas Kai bisa melihat nama Taemin muncul di layar, membuat dadanya semakin terasa sesak entah kenapa. Haruskah ia merelakan Hana bahagia dengan laki-laki lain yang jauh lebih baik darinya?

Hana terlihat ragu menatap nama pemanggil di layar ponselnya. Ia memejamkan mata sejenak seraya menghela napas panjang, hingga dikagetkan oleh sentuhan Kai di bahunya. Membuat kedua matanya terbuka dan menatap Kai yang kini sudah berdiri di hadapannya. Ada perasaan aneh yang kembali membuat dada Hana terasa sakit saat tatapan hangat Kai kembali menangkap tatapannya.

Gomawo. Terima kasih sudah mau memaafkanku, Han-ah.”

Kemudian Kai mengulas senyum simpul sebelum berbalik, melangkah meninggalkan Hana masih dengan amplop bertuliskan nama rumah sakit Lee di tangan kiri. Dari kejauhan Hana bisa melihat Kai berjalan dengan sedikit timpang, bahkan memegangi dinding untuk berjalan hingga menghilang di belokan koridor. Harusnya ia bisa hidup lebih baik setelah meminta Kai pergi ‘kan?

***

Hari-hari berlalu seperti biasanya dan Hana masih hidup dengan baik. Sama seperti sebelumnya dan ia yakin bahwa Kai benar-benar tidak memiliki efek apapun di hidupnya. Atau mungkin ada, namun ia tidak menyadarinya.

Senyuman geli muncul di bibir Hana begitu memajang foto dirinya bersama Taemin ketika merayakan satu tahun hari jadi mereka saat di New Zealand dulu. Taemin memeluknya dari belakang sambil tersenyum lebar dengan dagu yang ditaruh pada bahunya, sementara ia yang mengambil foto dari depan. Mengingat Taemin yang membantunya bangkit dari keterpurukan di masa lalu, membuat perasaan Hana menjadi lebih baik entah kenapa. Ia berharap Taemin cepat pulang dan menemaninya lagi di sana.

Ponsel yang bergetar dari dalam saku membuat kegiatan Hana memandangi foto kekasihnya itu terhenti. Hana mengeluarkan ponselnya dari saku jas dokternya dan menemukan nama Jae Hee di sana. Tanpa menunggu lama-lama, ia menempelkan ponselnya ke telinga untuk mengangkat telepon gadis itu.

Wae?” tanya Hana seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

‘Aku habis cek kesehatan di rumah sakit keluargamu. Apa kau bekerja hari ini? Ayo makan siang bersama.’

Hana melirik jam di pergelangan tangannya, menyadari bahwa ia hampir melewatkan makan siang karena terlalu sibuk membereskan ruang kerja. “Kaja. Kau tunggu di cafetaria rumah sakit saja.”

‘Eoh. Aku bersama Joonmyun juga di sini.

Senyuman miring muncul di bibir Hana begitu mengingat pengantin baru itu. Sudah dua minggu berlalu dari hari pernikahan mereka dan keduanya selalu bersama kemana pun. Masih dalam honeymoon phase tentu saja, apalagi keduanya baru saja pulang dari Maldives beberapa hari lalu tepat sebelum Taemin berangkat ke New York.

Sebenarnya Hana sedikit iri dengan hubungan keduanya yang bertahan sejak SMA. Padahal dulu ia sangat membenci Jae Hee karena merebut Joonmyun dan mengira bahwa hubungan keduanya tidak akan lebih dari dua minggu. Lucu rasanya karena sekarang ia berteman dengan orang yang dibencinya dulu. Dan jika saja ia dan Kai tidak saling mempermainkan, mungkin saja….

Ah mwoya~,” Hana mengetuk kepalanya sendiri karena malah membayangkan Kai di kepalanya. Ia segera bangkit dari sofa dan keluar dari ruang kerjanya, menyusul Jae Hee dan Joonmyun di cafetaria rumah sakit.

Tanpa perlu bersusah payah, Hana bisa menemukan wanita berambut merah wine dan laki-laki berambut cokelat gelap yang menarik perhatian –diantara pengunjung lain— di tengah-tengah cafetaria. Hana melewati beberapa meja sebelum duduk di hadapan keduanya yang langsung memekik heboh karena kedatangannya.

“Hana!” pekik Jae Hee lalu membuat pose akan memeluk dari seberang meja –namun Hana hanya duduk di tempatnya dengan ekspresi dingin. “Uh, dia mulai lagi.”

“Ini rumah sakit, Jae Hee-ya,” Hana menyunggingkan senyum tipis pada Jae Hee yang memberengut kesal di depannya.

Dwaesseo. Sebenarnya Joonmyun yang memaksa bertemu denganmu. Ada yang harus dia ceritakan,” Jae Hee mendengus pelan, seolah tidak menyukai ide Joonmyun untuk berbicara pada Hana. “Aku mau cari makanan dulu.”

Begitu Jae Hee beranjak dari kursi, Joonmyun hanya memandangi kepergian Jae Hee dengan senyum geli di bibirnya. “Sebenarnya ini menyangkut Jong In dan Sehun, makanya dia tidak suka.”

Kedua tangan Hana di dalam saku jas dokternya terkepal ketika kedua nama itu meluncur dari bibir Joonmyun. “Ada apa dengan mereka?”

“Aku tahu kalau kau tidak mau mendengar tentang mereka lagi. Tapi… kau harus tahu apa yang terjadi saat kau di New Zealand selama ini,” Joonmyun menghembuskan napas panjang seraya memilin tangannya sendiri di atas meja. “Terserah kau mau berpendapat apa. Tolong dengarkan saja, eoh?”

“Tentang Sehun. Gengsi anak itu selangit dan tetap tidak mau minta maaf padamu. Tapi dia mengakui kesalahannya pada Jae Hee karena sudah membuat rencana bodoh dengan Jong In waktu itu. Sehun tidak bisa pulang saat pernikahan kita kemarin, karena masih ada mata kuliah yang harus dikejar di London.”

Penjelasan Joonmyun tentang Sehun benar-benar hanya didengar oleh Hana. Sesungguhnya Hana tidak mau mendengar bagaimana kehidupan lelaki itu sekarang. Tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa Joonmyun benar. Mungkin setelah ini Hana akan tetap menganggap keduanya jahat dan picik. Tidak ada salahnya hanya mendengarkan.

“Dan yang selalu membuat berita buruk tentangmu adalah Zitao. Laki-laki itu masuk rumah sakit setelah dipukuli Jong In tanpa ampun. Jong In sampai harus diseret paksa oleh security sekolah untuk berhenti sebelum menghabisi nyawa Zitao waktu itu,” Joonmyun tersenyum geli ketika membayangkan kejadian menyeramkan di lapangan sekolah enam tahun yang lalu saat Kai benar-benar seperti orang kesetanan saat mengetahui siapa yang menyebarkan berita tentang phobia Hana.

“Dan tentang Jong In.”

Kepala Hana sontak terangkat, menatap Joonmyun yang kini menyunggingkan senyum simpul padanya. “Dia bodoh, idiot, tidak peka, dan egois. Jae Hee yang menyumpahi Jong In seperti itu. Jong In tahu kalau kau sakit tapi tetap menjalankan rencana bodohnya dengan Sehun.”

Tanpa sadar Hana malah tersenyum geli, mendengar seorang Kim Joonmyun yang selalu sopan dalam bertutur kata itu malah mengumpat Kai. Karena Hana tidak menunjukkan respon untuk berhenti, Joonmyun kembali melanjutkan ceritanya.

“Mereka membuat perjanjian bodoh untuk menjatuhkanmu. Tapi rencana mereka berantakan karena berita tentang phobiamu menyebar di sekolah. Jong In bodoh karena tidak menyadari perasaannya sendiri dan malah menyakitimu waktu itu. Rencana ini harusnya berakhir dengan kau kembali pada Sehun, tapi Jong In sengaja melakukannya di cafetaria agar kau tidak kembali ke Gwiguk untuk bertemu Sehun.”

“Dan dia berhasil. Sangat berhasil malah, membuatmu tidak kembali ke Gwiguk. Tapi dia tidak sadar kalau sikapnya malah membuat keadaanmu semakin parah. Dia idiot karena tidak memikirkan penyakitmu. Dan dia egois karena hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri.”

Lagi-lagi Hana tersenyum geli karena suara lembut Joonmyun sungguh tidak cocok dengan umpatan-umpatan yang dikeluarkan untuk Kai. “Aku sudah memaafkan mereka semua, Joonmyun-ah.”

“Tapi Jong In sangat merasa bersalah. Dia berusaha mencari jalan untuk berhubungan denganmu –termasuk melalui Jae Hee, tapi kau tahu sendiri Jae Hee seperti apa. Sampai sekarang dia tidak sadar dengan perasaanya sendiri dan hanya berpacaran untuk melampiaskan hormonnya saja. Dia tidak pernah benar-benar serius dengan satu wanita dan alasannya hanya satu.”

Please not me.

“Kau.”

Kedua mata Hana terpejam, kedua tangannya di dalam saku jas dokter terkepal semakin erat karena wajah Kai kembali muncul di dalam kepalanya. “Joonmyun-ah.”

“Apa sudah selesai?” tanya Jae Hee seraya menaruh nampan makan siangnya dan menghempas duduk di samping Joonmyun. Ia menyumpit potongan daging di mangkuk makan siangnya dan memperhatikan Joonmyun serta Hana secara bergantian.

Joonmyun mengangguk kecil lalu melirik Hana yang menatap kosong ke permukaan meja. “Sebenarnya ada satu lagi.”

“Oh, please,” Jae Hee memutar bola matanya kemudian sadar bahwa ia belum mengambil minum. Tanpa mengatakan apapun Jae Hee kembali beranjak dari bangku dan setengah berlari menghampiri vending machine di sudut cafetaria.

Joonmyun menepuk-nepuk meja di depan Hana, membuat gadis itu mengangkat kepala untuk menatapnya. “Jong In mengonsumsi obat penenang agar bisa tidur dengan nyenyak selama ini.”

***

Dalam ambang kesadarannya di malam hari, Hana merasakan tempat tidurnya bergoyang hingga sebuah tangan melingkari perutnya dan memeluknya dari belakang. Tanpa mau bersusah payah memberontak, Hana sudah bisa menebak siapa lelaki beraroma maskulin yang selalu bersamanya dalam dua tahun ini. Ia memegang erat tangan Taemin di perutnya dan membiarkan lelaki itu menenggelamkan wajah di rambutnya. Ia merasa beruntung karena Taemin selalu ada di saat ia membutuhkannya.

“How’s New York?” tanya Hana dengan kedua mata terpejam, merasa jantungnya berdetak cepat karena kehangatan yang diberikan Taemin di punggungnya.

Beautiful. But not as beautiful as you, Hana-ya,” Taemin terkekeh pelan saat Hana menyikut pelan perutnya lalu menyandarkan keningnya pada belakang kepala gadis itu. Menghirup dalam-dalam aroma wanita yang dirindukannya. “How’s Seoul without me?”

Better,” Hana tersenyum geli saat Taemin malah mencubit pelan pinggangnya. Entah kenapa Hana selalu menyukai momen-momen seperti itu bersama kekasihnya.

“Apa dia mengganggumu selama aku pergi?” tanya Taemin pelan, hampir berbisik di helaian rambut Hana.

Hana memutar tubuhnya, menyandarkan kepala di dada bidang Taemin dan memeluk pinggang ramping lelaki itu dengan erat. “Dia hanya meminta maaf. Aku bilang sudah memaafkannya dan memintanya untuk tidak lagi muncul di hidupku.”

Wow. You’re so cruel, Lee Hana,” komentar Taemin seraya menaruh dagunya pada puncak kepala Hana dan mengusap pelan punggung gadis itu. “But you did the right things. He won’t disturb you again.”

“Yeah, maybe,” Hana menghela napas panjang, masih kesulitan mengenyahkan cerita Joonmyun tadi siang. Kenapa Kai harus meminum obat penenang untuk tidur?

“Hana-ya,” Taemin merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya karena keadaan menjadi canggung walaupun mereka saling berpelukan seperti itu. “Apa ada masalah lain?”

“Joonmyun menceritakan semuanya,” Hana menghembuskan napas panjang lagi seraya mendesak kepalanya semakin tenggelam dalam pelukan Taemin. Berusaha menenangkan diri dari semua hal meyangkut masa lalu yang kembali mengganggu pikirannya.

“Cerita tentang apa?”

“Tentang dua orang yang membuatku sakit waktu itu.”

“Ah… dia lagi.”

Hana mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata Taemin. “Hanya kepikiran. Besok pagi aku pasti lupa.”

Eoh,” Taemin merapikan helaian rambut Hana yang menghalangi wajah cantik gadis itu. Senyuman lebar terulas di bibirnya saat bisa melihat wajah Hana dengan jelas. Ia sedikit menunduk untuk memberikan kecupan ringan di bibir Hana sebelum mendaratkan kecupan hangat dan dalam di kening gadis itu. “Tidur yang nyenyak, besok kau masuk pagi ‘kan? Jalja, Hana-ya.”

And it makes Hana feels complete… She just needs Taemin in her life, right?

***

Bekerja dengan bayang-bayang cerita Joonmyun dan wajah penuh penyesalan Jong In yang terakhir kali dilihatnya, benar-benar membuat Hana tidak fokus. Namun ia berusaha keras untuk tidak merusak kesannya sebagai dokter baru di sana, jadi ia selalu berusaha fokus dalam menghadapi pasiennya. Setelah semua jadwalnya selesai, ia akan kembali merenung dan melamun –memikirkan banyak hal.

Hana melirik ponselnya yang bergetar di atas meja, ia memajukan tubuhnya –yang tadinya bersandar di kursi kerja lalu mengangkat panggilan dari Taemin. “Ne?”

‘Aku masih di Busan sampai besok. Kau pulang ke rumah saja hari ini, eoh?’ suara Taemin yang berbaur dengan suara musik di seberang sana membuat Hana menghela napas panjang. Kekasihnya itu masih harus menghadiri showcase yang selesai lebih lama, bukan hal aneh lagi.

Ara. Hati-hati di sana,” Hana menggumam pelan seraya memutar-mutar pulpennya lalu tersenyum sendiri mendengar balasan Taemin.

‘You too, Hana-ya. Love you!’

Hana menggelengkan kepala sambil menutup sambungan teleponnya. Ia memutuskan untuk membereskan barang-barangnya ke dalam tas –mengingat jam kerjanya yang sudah berakhir. Ia baru saja memasukkan ponselnya ke dalam tas saat mendengar telepon di meja kerjanya berbunyi dan ia dengan cepat mengangkatnya.

“Ya?”

‘Dokter Lee, ada seseorang di lobi yang menanyakanmu—.

Senyuman geli muncul di bibir Hana, membayangkan wajah Taemin yang menunggunya di lobi rumah sakit. Lelaki itu sungguh berhasil membuat kejutan untuknya. “Aku turun sekarang.”

Dengan setengah berlari Hana keluar dari ruangannya, memasuki lift yang hampir tertutup –tanpa menghilangkan senyuman simpul di bibirnya. Sudah dua hari Taemin pergi ke Busan –hanya selang tiga hari setelah pulang dari New York dan ia belum banyak menghabiskan waktu dengan lelaki itu. Mungin malam itu Taemin akan mengajaknya pergi makan malam romantis untuk menebus waktu-waktu kebersamaan mereka yang hilang beberapa minggu ini.

Atau tidak.

Langkah cepat Hana terhenti di belokan menuju lobi saat melihat sosok lain yang berdiri bersandar pada meja resepsionis. Sosok itu tersenyum simpul begitu melihatnya muncul –dengan rambut berantakan di sana. She’s running from third floor for godsake.

“Kau tidak bilang kalau dia yang ada di lobi,” protes Hana begitu mendekati meja resepsionis dan melirik sinis pada dua wanita yang duduk di baliknya.

“Dokter Lee sudah menutup teleponya tadi,” jawab salah satu wanita itu dengan senyum tanpa dosa, membuat Hana hanya bisa menghela napas panjang.

Pandangan Hana tertuju pada Kai yang berdiri di hadapannya. “Kenapa?”

“Aku baru selesai check up dan sebenarnya mau bertanya kabarmu lewat mereka,” Kai memperhatikan Hana yang tengah merapikan rambutnya –yang seperti habis terkena badai itu. “Aku tidak tahu kalau kau bisa lari secepat itu dari lantai tiga.”

Shut up, Jong In. Aku kira bukan kau,” Hana merapatkan mantelnya seraya memutar bola matanya lalu melakukan absen sidik jari pada mesin yang diserahkan oleh wanita di balik meja resepsionis tadi.

Kai masih memperhatikan Hana dengan kedua tangan di dalam saku celana jeans, merasa ragu untuk bertanya. “Err, apa kau sudah mau pulang?”

“Yap,” Hana tersenyum singkat pada Kai kemudian membungkuk singkat. “Aku duluan.”

Hana melangkah cepat meninggalkan lobi tanpa mau menoleh ke belakang lagi lalu melirik jam tangannya yang menunjukkan hampir tengah malam. Begitu melihat jalanan yang sepi dan hanya ada beberapa kendaraan pribadi yang lewat, ia jadi ragu untuk pulang ke rumah. Supir pribadi keluarganya pun sedang mengambil cuti, sementara Taemin sedang tidak ada di Seoul untuk menjemputnya. Ia tidak mungkin berjalan sampai rumah tentu saja.

Pertengkaran batin Hana dibuyarkan oleh suara klakson sebuah mobil yang baru berhenti di hadapannya. Ia melihat Kai berjalan keluar dari balik kemudi dan menghampirinya –yang mulai menggigil di pinggir jalan.

“Tidak baik pulang malam sendiri,” Kai memperhatikan sekeliling, menyadari bahwa tidak ada taksi yang lewat di sana.

“Aku akan telepon taksi,” Hana merogoh saku mantelnya, berusaha mencari pertolongan pada pool taksi, namun belum sempat menekan tombol dial, ponselnya mendadak mati.

“Aku bisa mengantarmu pulang,” sahut Kai saat menyadari ekspresi putus asa di wajah Hana dan melihat ponsel gadis itu yang kehabisan baterai.

Hana menggeleng pelan, dalam hati merutuki kebodohannya karena rasa dingin yang menusuk tulang hingga ia menggigil. “Aku akan tunggu taksi di sini. K-kau pulang duluan saja, Jong In.”

“Kau bisa hypothermia. Kau ini dokter, pasti lebih paham penyebabnya,” Kai menghela napas panjang, maklum dengan sikap keras kepala Hana yang tetap tidak berubah.

Pikiran Hana kembali berkecamuk hanya dengan tawaran ‘mengantar pulang’ dari Kai. Padahal ia sudah mengusir Kai jauh-jauh dari hidupnya, tetapi selalu kembali dengan pertemuan tidak sengaja seperti itu. Salahnya sendiri yang terlalu bersemangat hingga tidak bertanya lebih dulu pada penjaga resepsionis tadi. Apa ia harus menerima tawaran lelaki itu? Terakhir kali sebelum Kai benar-benar enyah dari hidupnya.

“Lee Hana?”

Ara, aku akan pulang denganmu,” Hana menyela dengan cepat dan mengalah dengan rasa dingin yang menusuk tulang sebelum berjalan cepat memasuki mobil Kai, tanpa menunggu lelaki itu.

Tanpa sadar Kai malah tersenyum geli dan berbalik untuk segera menyusul Hana di dalam mobil. Ia kemudian melajukan mobilnya di jalanan yang sepi dengan Hana yang terdiam melihat ke depan. Bahkan lagu yang mengalun dari tape mobil pun tetap tidak bisa memecah suasana canggung di dalam mobil.

“Kau…. Pulang ke rumah?” tanya Kai hati-hati seraya menghentikan mobilnya di lampu merah.

Eoh,” jawab Hana singkat lalu menatap keluar jendela, memperhatikan deretan bangunan yang didominasi oleh pertokoan.

Kai memainkan jemarinya di kemudi, mengikuti irama musik yang diputar dalam tape –walaupun mulutnya gatal sekali ingin mengajak Hana berbicara. Diam-diam bersorak dalam hati karena Hana bisa berada di satu mobil yang sama dengannya.

“Ah, aku harus mampir sebentar ke studio dance. Tidak apa-apa ‘kan?” tanya Kai seraya membelokkan mobilnya ke jalan yang berlawanan arah dengan jalan pulang Hana, sontak membuat gadis itu menoleh cepat.

Dwaesseo, aku turun di sini saja. Di daerah sini sudah banyak taksi,” jawab Hana, berusaha menjaga nada bicaranya sedatar mungkin.

Anhi, aku sudah janji mengantarmu pulang,” Kai memasukkan mobilnya ke parkiran depan sebuah gedung bertingkat empat dan memarkirkannya secara asal di depan lobi. “Mau masuk dulu? Sepertinya akan sedikit lama di dalam.”

Jinjja? Aku pulang naik taksi saja, Jong In,” Hana beranjak turun dari mobil –mengikuti Kai seraya memasukkan tangannya ke dalam mantel. Memperhatikan bagian depan gedung bercat putih yang dihiasi papan besar bertuliskan ‘One Dance Academy.’

“Hanya sebentar. Kaja,” Kai menekan beberapa tombol di pintu masuk gedung hingga pintu kacanya terbuka lalu menoleh pada Hana, mempersilakan gadis itu untuk masuk duluan. Namun Hana terlihat ragu. “Kecuali kalau kau mau kedinginan di luar sini.”

“Ck. Hanya sebentar, ne? Aku harus cepat pulang,” Hana masuk lebih dulu dan berdiri di lobi yang cukup luas, pandangannya mengedar memperhatikan foto-foto kompetisi di dinding –serta sebuah lemari berisi plakat dan piala. Tapi dari seluruh foto-foto kompetisi di sana, ia tidak melihat sosok Jong In di mana pun.

Hingga Kai berdiri di sebelah Hana dan ikut memperhatikan arah pandangan gadis itu. “Mereka anak-anak berbakat yang harus dikembangkan.”

“Apa kau menjadi pelatih di sini?” tanya Hana seraya mengikuti langkah Kai menuju lift di lorong sebelah kanan lobi dan memasuki lift yang baru terbuka bersama lelaki itu. Bahkan ketika Hana sadar bahwa lelaki itu mungkin saja menyakitinya lagi, ia tetap berdiri bersama laki-laki yang pernah menyakitinya dalam ruangan tertutup berukuran 1,5 meter x 1,5 meter itu.

Kai tersenyum simpul seraya menoleh ke arah Hana di sampingnya. Setelah seharian bekerja di rumah sakit, ia tidak mengerti kenapa Hana masih tetap bersinar seperti itu. “Aku yang membuat academy ini.”

Jinjja?” tanya Hana tak percaya, berusaha tidak menunjukkan ketertarikan –padahal nada bicaranya sudah terlampau tinggi. Ia cepat-cepat berdehem dan mengalihkan pandangan lalu hanya mengikuti Kai yang keluar di lantai empat dari belakang, menyusuri lorong-lorong berisi pintu ruang latihan di kanan kiri.

Akhirnya lelaki itu menghentikan langkah di depan sebuah ruang latihan –di ujung lorong bertuliskan ballet di depan pintunya. Membuat bulu kuduk Hana meremang, kedua matanya membulat begitu Kai membuka pintu itu dan mempersilakannya masuk ke dalam. Hana meyakinkan dirinya sendiri dengan menarik napas dalam-dalam sebelum memasuki ruang latihan mendahului Kai.

Begitu memasuki ruang latihan itu, Hana menemukan banyak sekali tutu yang berderet rapi di dekat cermin. Ada barre yang memanjang di depan cermin, mengelilingi ruang latihan. Tiba-tiba saja ingatannya memutar balik kehidupannya sebelum enam tahun ini. Ia sangat mencintai ballet sejak kecil. Bahkan orang-orang mengaguminya yang memiliki kemampuan ballet di atas remaja seusianya. Sebelum kompetisi yang ia lewati bersama Kai waktu itu, ia pernah berjanji akan berdiri di recital dunia yang akan ditampilkan di COEX tahun mendatang. Ia sangat menginginkan jadi seorang profesional di bidang ballet. Tapi takdir berkata lain.

Sejak ia mendapat posisi dua di kompetisi itu dan sejak Kai hanya mempermainkan perasaannya untuk kompetisi, ia tidak pernah mau lagi mengenal ballet dan apapun yang berhubungan dengan lelaki itu. Dengan susah payah Hana mengenyahkan pikiran menyangkut masalah-masalahnya di Korea, termasuk ballet, kepopuleran, kesempurnaan, dan….. Jong In.

“Apa yang kau lakukan di rumah sakit?” tanya Hana seraya berbalik, menghadap Kai yang melangkah mendekatinya. Di tempat yang lebih terang seperti itu, ia bisa melihat kantung mata yang cukup besar di bawah mata lelaki itu. Ucapan Joonmyun –tentang obat penenang pun kembali mengganggu pikiran Hana.

“Cek kesehatan biasa,” Kai mengendikkan bahu tak acuh sambil menghampiri Hana dan berdiri di sebelah gadis itu. Benar-benar seperti kembali ke masa lalu.

“Dua kali dalam satu minggu? Aku tidak percaya kau hanya cek kesehatan biasa,” Hana mengitarkan pandangannya kembali ke seluruh sudut ruang latihan. Sebagian besar waktunya selama 18 tahun ia habiskan di dalam ruang latihan dan ia tiba-tiba saja merindukan semua kegiatan itu.

Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Kai setelahnya. Keduanya menghadap cermin, memperhatikan pantulan diri sendiri –yang berdiri bersebelahan di dalam sana. Mereka masih terlihat sama seperti enam tahun lalu –ketika latihan bersama untuk kompetisi. Yang membuat berbeda hanyalah kedewasaan dan aura dingin yang terpancar dari  Hana.

“Kenapa mampir ke sini? Cepat selesaikan urusanmu atau aku pulang naik taksi saja,” Hana mengalihkan pandangan –dengan menundukkan kepala sambil memainkan sepatunya menggesek lantai kayu ruang latihan.

Sebenarnya Kai tidak memiliki urusan dengan siapa pun di sana. Ia hanya mencoba peruntungan dengan mengajak Hana masuk ke academy miliknya, dan menghabiskan waktunya lebih lama dengan gadis itu. Pertemuan terakhirnya kemarin dengan Hana berakhir dengan tidak begitu baik. Ketika Hana memintanya untuk tidak muncul di hadapan gadis itu lagi, ia kembali mengalami sulit tidur –padahal Hana jelas-jelas sudah memaafkannya. Ia juga tidak tahu kenapa.

Tanpa mengatakan apapun, Kai melangkah mendekati tape di sudut ruang latihan. Ia meletakkan ponselnya di atas dudukan yang sudah terhubung dengan pemutar musik lalu menyetel musik random dari ponselnya.

“Apa yang kau lakukan sebenarnya?” tanya Hana dengan nada putus asa ketika ia mendengar lagu I See Fire milik Ed Sheeran yang diputar Kai. Mereka pernah menarikan lagu ini saat latihan dulu, hingga berakhir dengan ia yang mencium bibir lelaki itu. Rasanya ada sekelebat rasa sakit yang menghantam dadanya karena mengingat masa-masa sebelum keterpurukannya. Tapi di sisi lain merasa lega karena ia sudah benar-benar sembuh sekarang.

Dancing,” Kai menjawab singkat seraya meletakkan jaketnya ke lantai, hanya menyisakan kaus abu dan celana jeans hitam.

Hana mengernyitkan kening heran lalu mendecak. “Seriously? Aku pulang duluan saja.”

“Han-ah.”

Hana yang baru berbalik dan berjalan cepat menuju pintu pun terhenti begitu panggilan ‘khas’ kembali di lontarkan oleh lelaki itu. Nama panggilan yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Hana meremang entah kenapa.

You still dancing?” tanya Kai seraya melangkah ke tengah ruangan, melakukan pemanasan ringan dengan menggerakkan badan saja.

Hana masih berdiri di dekat pintu membelakangi lelaki itu. “No. I quit dancing since you ‘ruined’ it.”

“Same with me, then. You ‘ruined’ me too,” ucapan Kai sontak membuat Hana menoleh dengan cepat. Kedua mata gadis itu membulat tidak percaya.

“Bagian mana yang merusak hidupmu?” tanya Hana seraya berbalik dan melipat tangan di depan dada. Tiba-tiba saja ia emosi karena ucapan lelaki itu. Hingga cerita Joonmyun kembali berputar di dalam kepalanya, melunturkan ekspresi kesal di wajahnya. Digantikan dengan ekspresi datar kembali.

Kai menyadari perubahan ekspresi Hana, lalu menyunggingkan senyum simpul. “Aku pernah berniat untuk mengajar contemporary di sini, tapi ternyata mentalku belum siap. Aku tidak bisa menari setelah kejadian waktu itu.”

“Kenapa?” tanya Hana tak mengerti, berharap mendengar jawaban langsung dari lelaki itu.

Kai membiarkan pertanyaan Hana menggantung di udara. “Kau sudah memaafkanku dan berdiri di sini sekarang. Kau juga akan menjadi orang pertama yang melihatku menari lagi.”

Hana terdiam. Masih berdiri dengan kedua tangan terkepal di dalam saku mantel, memperhatikan Kai yang menyunggingkan senyum manis padanya. Sebelum musik berhenti, digantikan dengan lagu bergenre RnB milik G-Soul berjudul Beautiful Goodbye. Salah satu lagu kesukaannya dan ia tidak mengerti kenapa Kai bisa memilih lagu itu.

Sejak awal bertemu, Hana sadar bahwa dirinya selalu terpesona pada setiap gerakan yang ditunjukkan oleh Kai melalui setiap inchi tubuh lelaki itu. Kai selalu melakukan setiap gerakannya dengan perasaan, menumpahkan setiap emosi dan energinya secara bersamaan hingga bisa menampilkan tarian yang membuat siapapun terpana. Bahkan Hana, yang selama enam tahun ini berusaha melupakan bagaimana seorang Kim Jong In pernah mengacak hati dan hidupnya, kini harus kembali terjatuh hanya dengan tarian lelaki itu.

My heart is crazy frustrated

I can’t hold onto you, who is leaving me

 

I know it’s too late

Oh once again, I only have late regrets

I’m just talking to myself

But I hope, you’ll listen to my last request oh girl

 

A beautiful goodbye, a beautiful goodbye

For what we had was nothing,

Nothing but a beautiful,

Just a beautiful love girl

 

Every night, all alone

No matter how much I think about it

My heart has gotten cold like ice

No matter how much I try to melt it

 

I know it’s too late

Oh once again, I only have late regrets

I’m just talking to myself

But I hope, you’ll listen to my last request oh girl

 

A beautiful goodbye, a beautiful goodbye

For what we had was nothing,

Nothing but a beautiful,

Just a beautiful love girl

 

Beautiful goodbye (Just a beautiful love girl)

Beautiful goodbye (Just a beautiful love girl)

Beautiful goodbye (Just a beautiful love girl)

Beautiful goodbye (Just a beautiful love girl)

 Bahkan Hana sendiri tidak mengerti kenapa setitik air mata lolos dari sudut matanya, melihat emosi yang ditunjukkan oleh Kai melalui gerakan-gerakan itu. Ketika lelaki itu melangkah mendekatinya dengan napas terengah dan ekspresi menahan sakit, Hana menekap mulutnya sendiri untuk menahan isak tangis.

“Kau bohong,” Hana bergumam pelan di sela isak tangisnya. “Kau pasti bohong.”

“Selain mental, dokter juga melarangku untuk menari,” Kai memegangi pinggang kirinya sambil berusaha tersenyum. “Hari ini aku mengalahkan persepsi dokter dan menari di sini. Semuanya untukmu.”

Wae?” Hana bertanya dengan nada lemah, merasa kalah dengan usahanya selama ini karena terasa sia-sia saat berhadapan dengan Kai secara langsung. Perasaan yang berusaha dikuburnya dalam-dalam selama ini, dengan mudahnya kembali hanya dengan penampilan lelaki itu.

“Aku pernah menyakitimu dan mungkin terlambat mengakuinya sekarang,” Kai mengatur napasnya kembali dan mengabaikan rasa sakit yang menyerang pinggangnya, dengan mengulas senyum lemah lalu perlahan mengangkat tangannya untuk menepuk puncak kepala Hana.

My heart always filled with you for these six years. I don’t want to force you to be with me. But I’m not going anywhere, Han-ah. I’ll wait for you, stand behind you, and open my arms if you turn around to accept me. A new Kim Jong In.”

Lagu dari dalam tape kembali berubah, berganti menjadi lagu lain yang membuat Hana semakin mengepal erat kedua tangannya di dalam saku mantel. Ia mengangkat kepalanya, menatap Kai yang kini mengulurkan sebelah tangan ke hadapannya. Walaupun kedua matanya masih buram dengan air mata, namun ia bisa melihat senyum simpul yang ditunjukkan Kim Jong In padanya.

“Kita akan jadi juara pertama sekarang. Would you, miss Lee?” tanya Kai dengan setengah membungkukkan badan, mengajak Hana untuk kembali ke masa lalu. Menari dengan lagu ballet yang mereka pakai untuk kompetisi nasional saat di Gwiguk waktu itu.

Hana mengeluarkan kedua tangannya dari dalam saku, memperhatikan tangan Kai yang terbuka ke arahnya. “Apa yang kudapat setelah ini?”

“Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, Han-ah.” Kai memiringkan kepalanya, berharap pada kesediaan Hana untuk menari bersamanya untuk yang terakhir kali.

Ketika Hana menerima uluran tangannya dan melangkah bersama ke tengah ruang latihan, Kai mungkin akan segera menyesali ucapannya. Kai berdiri di belakang tubuh gadis itu, membisikkan kata-kata penyemangat sebelum memulai gerakan awal saat kompetisi mereka dulu. Keduanya kembali jatuh, kali ini mungkin sulit untuk keluar dari berbagai macam permasalahan yang menghadang di depan mata.

.

.

Tidak ada perbincangan yang terjadi dalam perjalanan pulang kembali ke kediaman keluarga Lee. Hana memainkan jemarinya sendiri di atas pangkuan, sementara Kai mengendarai mobil dengan tenang seolah kejadian di ruang latihan tadi tidak pernah terjadi. Padahal Hana berusaha mati-matian menyembunyikan degup jantungnya yang menggila, walaupun kegiatan latihan mereka sudah berlalu hampir setengah jam yang lalu. Mungkin setengah jam waktu perjalanan, sudah cukup untuk menentukan keputusan penting yang menyangkut hidupnya

Kai menghentikan mobilnya di depan gerbang, sementara Hana masih terdiam menghadap depan. Tatapan gadis itu terlihat kosong. “Han-ah.”

“Jong In,” Hana menghembuskan napas panjang seraya menoleh ke arah lelaki itu. “Aku tidak bisa.”

“Aku sudah berjanji tidak akan mengganggumu lagi, Han-ah. Dan aku akan menepatinya,” Kai membalas dengan senyum simpul lalu membantu Hana melepas seatbelt.

Hana mengangguk singkat. “Aku akan masuk sekarang. Bye, Jong In.”

Jalja, Han-ah,” Kai melambai singkat pada Hana yang bergegas turun dari mobil dan setengah berlari memasuki gerbang.

Di balik gerbang rumahnya yang kembali tertutup, Hana meremas kaus di bagian dadanya. Ia sudah memutuskan untuk melupakan masa lalunya dan harusnya bisa hidup dengan baik tanpa Jong In bukan? Sebelumnya ia yang meminta Kai untuk tidak lagi muncul di hidupnya, tapi ia tidak yakin akan bisa hidup tenang jika tidak melihat lelaki itu di hidupnya. Hana kembali terjebak dalam pilihan yang dibuatnya sendiri.

Jika diberi persimpangan dengan pilihan: kembali ke masa lalu dengan orang yang pernah menyakiti –tapi menyayangimu dan kau juga menyayanginya walaupun akan menyakiti banyak orang nanti, atau bersama seseorang yang membantumu bangkit dari keterpurukan –dan menyayangimu juga walaupun kau masih ragu dengan perasaanmu sendiri. Mana jalan yang akan kau pilih untuk meraih kebahagiaanmu?

[IMPERFECTION] – EPILOGUE TO BE CONTINUED


IMA’s note :

This is not the ending, guys~^^

Makasih banget buat yang masih mau ngikutin ff ini sampai epilog walaupun pending hampir dua bulan, karena jujur aku sempet breakdown gara gara masalah you-know-what menyangkut jongin hehe tapi aku lanjutin sekarang yeaay

Thanks to ka neez yang mendampingi sampai ff ini selesai. Dan thanks to lagi buat readers yang setia baca ini sampe epilog satu huhuhu

Oh iya

Tolong tinggalin email atau media sosial apapun yang bisa aku hubungin, sewaktu-waktu aku kepikiran buat protect yang kedua hehe. Atau kalian bisa ajak ngobrol aku lewat twitter hoho

Pastiin kalian komen di setiap part imperfection ya~^^

Akhir kata, selamat menunggu ending sesungguhnya dari imperfection.

Warm Regards,

IMA♥

P.S. Adegan cafetaria dibuat sebelum nonton aadc, maap kalo mirip feelnya padahal ga niat xD

305 responses to “IMPERFECTION — EPILOGUE 1 [BY IMA]

  1. Maaf ka aku reader baru, sumpah dapat banget feelnya. Aku senang hana dan jongin bisa ketemuan, tapi ga tahu harus mendukung baliknya mereka atau gak karena melihat penderitaan hana apalagi hana sudah punya taemin di sisinya. Tapi ga bisa pungkiri hana masih punya rasa sama kai, dan aku kaget banget pas baca jongin ternyata mengonsumsi obat penenang. Apakah sebegitu merasa bersalahnya jongin pada hana?
    Semoga kondisi jongin baik-baik aja dan berharap yg terbaik buat hana-jongin atau hana-taemin. Keep writing ka!!!

  2. I know it’s too late for reading this one but ur ff so incredible. Bahasa yg kamu gunain juga gak berat, enak dibaca. Alur juga runtut.

  3. hai thor …
    aku suka banget sama ffnya karena konfliknya dan bikin aku penasaran banget
    aku lupa udh ngoment apa blum di epilogue 1 aku hanya memastikan saja
    tapi tenang kok thor aku slalu ngoment dr awal
    oh ya… ini email aku
    alisiyachanyeol@yahoo.com

  4. Pingback: [IM]PERFECTION – 1ST SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. huhu aku baru sempet baca, omg sian banget si jonginnnya masya allah ampe nangis gue. jonginnya ama gue aja deh ka kalo ga taeminnya yg ama gue 😂

  6. huhu gue baru sempet baca, omg sian banget si jonginnnya masya allah ampe nangis gue. jonginnya ama gue aja deh ka kalo ga taeminnya yg ama gue 😂

  7. Pingback: ALL I ASK [PART X] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Keren bangetttt sumpah bikin baoer dan greget banget sama kisah cinta merekaaa,semoga hana sama jongin lagi dehhh mereka ngena banget

  9. Pingback: [IM]PERFECTION – 2ND SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Balikan dong plisssss 😭😭😭 iya gapapa hana balikan asam jongin aja yang lalu biarlah berlalu kan juga hana udah sembuh pliss biar jadi reltionship goals 😂😂😂

  11. aku baru baca epilog nya dulu nanti baru dari awalnya karna nyari linknya tadi susah
    Internet ngadat banget
    Kan jadi penasaran sebenarnya hana punya phobia apa
    Kesalahan jongin besar banget sehingga susah buat hana memulai dari awal

  12. Kalo aku jadi Hana aku bakal pilihan yang pertama.. kali terus ngejalanin sama Taemin tapi hatinya masih ragu buat apa, yang ada malah kasian Taeminnya.. mending Taemin terluka sekarang, daripada dia nikah sama Hana, tapi Hana masih dibayang-bayangin sama Kai..
    Wah.. ini seru ima..

  13. Sorry ya thor baru komen sekarang, baru nemu fanfic ini dan baru selesai baca hari ini sampe ini chapter, ceritanya keren banget thor…semuanya berasa nyata banget….semakin kesini konfliknya makin seruuu,,berharap hana balik lagi sama kai,,kasihan mereka semua tersiksa gara2 egonya kai.. thanks thor for your beautiful story🙂 :3

  14. Sorry ya thor baru komen sekarang, baru nemu fanfic ini dan baru selesai baca hari ini sampe ini chapter, ceritanya keren banget thor…semuanya berasa nyata banget….semakin kesini konfliknya makin seruuu,,berharap hana balik lagi sama kai,,kasihan mereka semua tersiksa gara2 egonya kai.. thanks thor for your beautiful story🙂 :3 :3

  15. sorry ya thor baru komen sekarang, karena baru nemu and kelar baca sampe ini chapter, dari kemarin komen tapi kok nggak bisa masuk terus ya thorrr…semoga komen ini masuk deh,,, nggak tau mesti ngomong apa saking bagusnya alur ceritanya… makin kesini makin bagus, konfliksnya kompleks banget kaya real life banget sukaaa :3 :3 i still hope that kai will end up with hana, they struggle too much…
    anyway thanks thor for your beautiful story… :3

  16. sorry ya thor baru komen sekarang, karena baru nemu and kelar baca sampe ini chapter, dari kemarin komen tapi kok nggak bisa masuk terus ya thorrr…semoga komen ini masuk deh,,, nggak tau mesti ngomong apa saking bagusnya alur ceritanya… makin kesini makin bagus, konfliksnya kompleks banget kaya real life banget sukaaa :3 :3 i still hope that kai will end up with hana, they struggle too much…
    anyway thanks thor for your beautiful story… :3🙂

  17. Pingback: [IM]PERFECTION – 3RD SLIDE PG 15+ — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. Pingback: ALL I ASK [PART X] — by Neez – Love, Life, Living·

  19. Pingback: [IM]PERFECTION – 1ST SLIDE — by Neez – Love, Life, Living·

  20. Pingback: [IM]PERFECTION – 2ND SLIDE — by Neez – Love, Life, Living·

  21. Pingback: [IM]PERFECTION – 3RD SLIDE PG 15+ — by Neez – Love, Life, Living·

  22. Pingback: [IM]PERFECTION – 4TH SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  23. Pingback: [IM]PERFECTION – 4TH SLIDE — by Neez – fresherthancola·

  24. Dan diriku kembali menangis di chapter ini T______T. Hahaa… waktu adegan Kai menari di depan Hana, aku malah muterin instrumental “One and Only”. Dengan bayangan tarian dia pas di lagu itu juga. (Ga punya lagu G-soul wkwk).

    Aaaahh… Overall suka pokoknya !!

  25. Pingback: [IM]PERFECTION – 5TH SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  26. Pingback: [IM]PERFECTION – 5TH SLIDE — by Neez – fresherthancola·

  27. Pingback: [IM]PERFECTION – 6TH SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  28. Pingback: [IM]PERFECTION – 7TH SLIDE — by Neez (PG15++) | SAY KOREAN FANFICTION·

  29. Haduh…maunya. apa sih mereka bwrdua,sama sama suka tapi sama sama keras kepala juga,gitu aja terus sampe ladang gandum dihujani coklat.jadi gemes sama mereka berdua

  30. Pingback: [IM]PERFECTION – 8TH SLIDE (END) — by Neez ~PG17/CUT VERSION | SAY KOREAN FANFICTION·

  31. Pingback: [IM]PERFECTION – 6TH SLIDE — by Neez – fresherthancola·

  32. Pingback: [IM]PERFECTION – 7TH SLIDE — by Neez (PG15++) – fresherthancola·

  33. Kak keren bgt sumpahh, aku readers baru. aku baca dari awal sampe akhir dan itu nge feel bgt. aku gabisa comment panjang² karna aku bingung mau ngoment apa lago wqwq. yaudah keep writing aja yaaa

  34. Sampe nangis bacanya waktu diruang latihan, itu kai nggak pernah nari lagi nyesek, mereka sama sama sakit yaaa, harus balikan inii. Taoi juga kasian sama taemin kan udah janji nikah 2tahun lagi. Jujur suka sama jongin hana, soalnya mereka tau jelek baiknya, semoga balikan 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s