ALL I ASK [PART VI] — by Neez

ask-copytt

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

Lee Hana / OC || Baek Jinmi / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Kim Jongdae / EXO Chen 

Kim Seolhyun / AOA Seolhyun || Joon / OC || Ji Hyesoo / OC || Zhang Yixing / EXO Lay || Park Chanyeol / EXO Chanyeol || Seo Eunkwang / BTOB Eunkwang || Choi Yeonri / OC

Jung Yunho / TVXQ Yunho || Guru Ahn / Danny Ahn || Guru Han / Han Hyojoo

Alternative Universe, School Life, Family, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser || [PART I] || [PART II] || [PART III] || [PART IV] || [Part V]

© neez

Beautiful Poster Cr : Ken’s@Art Fantasy thank you Ken Honey ^^

BETA : IMA

Till holy church incorporate two in one.

I hear your voice

And I started to tremble

Brings back the child, that I resemble

I cannot pretend,

That we can still be friends

Don’t wanna be…

Alone tonight

 

What can I do, to make you mine?

Fallen so hard, so fast this time

What did I say?

What did you do?

How did I fall in love you…

 

Ooh I wanna say this right,

And it has to be tonight

Just need you to know

I don’t wanna live this life

I don’t wanna say goodbye

With you I wanna spend

The rest of my life…

 

What can I do, to make you mine?

Fallen so hard, so fast this time

What did I say?

What did you do?

How did I fall in love you…

 

Everythings change

We never knew

How did I fall in love…

With… you~

 

   Plok. Plok. Plok

   Joonmyun menoleh dengan kaget saat mendapati Jongdae bertepuk tangan dengan antusias di ambang pintu ruang keluarga di rumahnya, dimana Joonmyun tengah duduk dibalik piano putihnya dan melantunkan lagu ciptaannya.

   ”Jongdae-ya, kau tidak bilang mau main.” Gumam Joonmyun sambil tersenyum dan meregangkan jemarinya setelah mengulang-ulang lagu ciptaannya tersebut. ”Jongin sepertinya tidak datang.”

   Jongdae melangkah masuk sambil mendekati piano, ”Aku memang sengaja tidak bilang. Kepalaku pusing belakangan ini. Anyway, man…” Jongdae meletakkan tangannya di bahu Joonmyun dan meremasnya, kedua matanya melengkung membentuk senyumannya yang khas. ”Ini lagumu itu, kan? Apa ini hanya perasaanku saja, atau memang… wow, aku tidak tahu kalau lagumu bisa seindah ini.”

   Joonmyun terkekeh dan mengenyahkan tangan Jongdae dengan malu, ”Aku tidak melakukan apa pun pada lagunya.” Gumamnya, ”Hanya mengubah temponya sedikit. Masih tidak tahu apakah ini lagu yang tepat untuk Romeo & Juliet.”

   ”I know,” Jongdae menjejalkan pantatnya untuk duduk disamping Joonmyun dan mengambil kertas musik yang berisi partitur lagu yang baru saja Joonmyun mainkan. Jongdae membaca judul lagu yang Joonmyun tulis besar-besar di bagian paling atas, dan tanda tangannya sendiri di ujung kanan bawah lagu tersebut. ”How Did I Fall In Love With You?”

   Joonmyun kembali melenturkan jemarinya dan mulai memainkan intro lagu yang sudah ia tulis sejak lama itu. ”Remember when we never needed each other, the best of friend like… sister and brother… we understood, we never be alone.”

   ”Those days are gone, now I want you so much, the night is long… and I need your touch, don’t know what to say, never meant to feel this way, don’t wanna be… alone tonight,” Jongdae mencoba menyanyikan bait kedua lagu tersebut sementara Joonmyun meneruskan permainan pianonya. ”Man! Bahkan nyanyianku tidak terdengar sama sepertimu tadi! Apa yang terjadi, Sobat?”

   Joonmyun menghentikan permainan pianonya dan menoleh pada Jongdae dengan bingung, ”Apa maksudmu?”

   ”Entahlah, lagu ini…” Jongdae bahkan terlihat bingung untuk mengutarakannya, namun ia senang. Sangat-sangat senang. Sudah lama sekali ia tidak melihat sahabatnya terlihat sebahagia ini.

   Bae Joohyun kah yang membuatnya begini? Apakah Joonmyun harus mengorek kenangan lamanya ketika bocah itu bermain bersama Joohyun dan jatuh cinta pada gadis itu? Ia jadi kasihan pada Joonmyun. Tentu bagus jika Joonmyun bisa menemukan jiwa dalam lagunya. Lagu ini sangat indah. Tetapi, jika harga yang harus Joonmyun bayar adalah membuka kenanan lamanya lagi—apalagi sudah tak ada harapan bagi Joonmyun untuk dapat bersatu dengan cinta pertamanya itu.

   Joohyun benar-benar sudah menjadi seorang biksu.

   ”Hei, ada apa dengan lagu ini?” tanya Joonmyun tidak sabar, karena Jongdae mendadak melamun.

   Menggelengkan kepalanya, Jongdae menepuk bahu Joonmyun lagi. ”Demi Tuhan lagu ini sangat bagus, Joonmyun-ah. Aku sudah lama tidak mendengar suara indahmu dan entahlah, ada yang berbeda dari lagu ini.”

   ”Jongdae, kau sudah mendengar lagu ini puluhan kali.” Joonmyun memutar kedua matanya, menganggap Jongdae berlebihan. Karena memang, Jongdae selalu tahu setiap lagu yang ia kerjakan, karena biasanya Jongdae akan mengetes lagu itu sendiri dan menyanyikannya dengan suaranya yang indah.

   ”Aku tahu, itulah kenapa tadi kukatakan mengapa lagu ini… berbeda. Kau tahu, dulu di telingaku, lagu ini sangat sangat sedih,” Jongdae mengernyit. ”Seperti lagu yang putus asa, dan caramu menyanyikannya, seperti… seperti seorang pria yang tengah putus asa membuat sahabatnya sendiri menyadari bahwa ia mencintainya.”

   ”Jongdae, bahasamu…” kekeh Joonmyun geli.

   ”No no no, aku serius!” tukas Jongdae buru-buru, ”Itulah kenapa kukatakan berbeda. Jiwa… jiwa lagu ini sudah berbeda?”

   Akhirnya, Joonmyun mengernyit. ”Jiwa lagu ini sudah berbeda?”

   ”Eoh…” Jongdae mengangguk, ”Kau menyanyikannya… dan jiwa lagu ini… maafkan bahasaku yang terdengar hiperbola, tapi aku tidak tahu cara mendeskripsikannya lagi,” ia sendiri tertawa, ”Tapi kau terdengar seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, Sobat.”

   “Mwo?!”

   Jongdae mengibaskan tangannya, ”Dwaesseo. Lagumu sudah sangat bagus, tidak perlu memikirkan Joohyun lagi, aku harap kau tidak terlalu menyakiti dirimu sendiri dengan membuka kenanganmu saat bersamanya.”

   ”Lalu kenapa kau datang kesini, Jongdae-ya?”

   ”Ah kau benar, alasanku datang kesini.” Jongdae mendadak teringat setelah fokusnya teralihkan oleh lagu Joonmyun tadi. ”Tybalt, Tybalt… Seolhyun mengatakan bahwa Tybalt adalah karakter yang amat sangat arogan. Aku percaya sih, karena memang pria itu adalah pria yang menjunjung tinggi harga diri keluarga Capulet.”

   Joonmyun mengangguk-angguk, mendengarkan dengan seksama karena yakin akan muncul kata ’tapi’ dalam kalimat Jongdae berikutnya.

   ”Tapi, apa benar?”

   Joonmyun tertawa. ”Kenapa kau tanya aku?”

   ”Jebal, kau kan ahli Shakespeare di seluruh Korea Selatan, bahkan Asia mungkin,” gumam Jongdae berlebihan. ”Walaupun Tybalt ini bukan karakter yang utama, tetap saja aku mau benar-benar total dalam membawakannya,”

   Joonmyun bergumam sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya di tutup piano. ”Ya, mungkin dia terlihat arogan karena ketika Romeo mengajaknya berdamai, dia tidak mau. Masalah harga diri Capulet juga. Hmm, karena baginya apa pun yang berbau Montague adalah najis  bagi keluarganya.”

   ”Hmm,” Jongdae mengernyit, sedikit kurang suka dengan perumpamaan tersebut.

   ”Baginya, tidak peduli bagaimana pun keluarga Montague itu, entah mereka baik atau tidak. Ia sudah dibutakan dengan persepsi bahwa keluarga Montague itu jahat pada keluarganya. Dan ia melihat sendiri bahwa Romeo mendekati Juliet, bukan? Karena ia menganggap Romeo itu jahat, ia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa sepupunya.” Jelas Joonmyun panjang lebar. ”Sebenarnya ia sangat baik dan perhatian pada keluarganya, cuma ia dibutakan oleh harga diri Capulet.”

   ”Wow, kau bisa dengan sangat baik mendeskripsikan Tybalt,” decak Jongdae kagum.

   Joonmyun hanya menggelengkan kepalanya sambil membereskan kertas-kertas musiknya, saat ibunya masuk ke dalam ruangan. Jongdae langsung berdiri dan membungkuk dalam-dalam menyapa ibu Joonmyun.

   ”Halo, Jongdae,” sapa Sekyung lembut, meski kedua matanya yang dingin selalu bisa membuat Jongdae segan. ”Kudengar Joonmyun tadi sedang memainkan piano jadi aku datang kesini. Kenapa kau sudah tidak memainkannya lagi, Nak?”

   Joonmyun tersenyum, ”Sudah selesai, Eomma, aku sudah berlatih sejak tadi.”

   ”Ah, keurae? Sayang sekali, Eomma rindu sekali mendengar permainan pianomu. Bagaimana ia, Jongdae-ya? Bukankah ia calon David Foster Korea Selatan?”

   Jongdae mengangguk penuh semangat. “Lagu ciptaannya kurasa akan menjadi masterpiece untuk pertunjukan musim semi ini, Imo.” Ujarnya sambil mengerling Joonmyun yang memilih untuk memperhatikan kakinya, meski seulas senyum terukir di bibirnya.

   ”Jinjja?” tanya Sekyung dengan penuh semangat, ia lalu menatap putranya dengan penuh pemujaan. ”Ah putraku memang yang terbaik. Dia terpilih di jurusannya untuk membawakan lagu?”

   Jongdae terlihat ragu-ragu sebelum menjawab, ”Err…” gumamnya, ia lalu melirik Joonmyun yang sudah kehilangan senyum pada wajahnya. ”Untuk… penambahan nilai, Joonmyun akan memasukan karyanya untuk… menjadi soundtrack musikal…”

   ”Musikal?” Senyuman di wajah Sekyung—yang memang tidak mencapai mata dinginnya menghilang, digantikan dengan ekspresi dingin.

   ”Untuk penambahan nilai,” tambah Jongdae buru-buru. ”Jadi saat audisi untuk pianis nanti, Joonmyun bisa punya nilai lebih karena sudah memasukkan karyanya…”

   Sekyung menggeleng-geleng, ”Tidak, tidak… aku tahu Joonmyun tidak perlu begitu, benar kan, Nak?” tanya Sekyung dengan senyum dingin, yang Joonmyun sudah tahu benar bahwa itu untuk mengancam. ”Bukankah lebih baik kau berkonsentrasi untuk mempersiapkan karyamu di bidang piano? Dibandingkan harus membuang-buang karyamu di tempat lain? Dan apa tadi katamu, Jongdae? Untuk soundtrack?”

   Meneguk ludahnya, Jongdae mengangguk.

   ”Joonmyunie,” Sekyung berdiri di samping putranya, yang lebih tinggi sekepala darinya dan mengalungkan tangannya pada bahu putranya tersebut, ”Dengarkan aku, Nak. Jangan membuang-buang waktumu untuk mengirimkan karyamu yang berharga itu di tempat lain. Kau mengerti kan, Nak?”

   Jongdae tanpa sadar mengembuskan napasnya melalui mulut, frustasi dengan Sekyung dan dirinya sendiri. Ia berpikir andai saja tadi mulut besarnya tidak mengatakan apa pun soal ini, maka Sekyung tidak akan begini.

   ”Dan kau, Jongdae-ya, Imo tahu suaramu sangat luar biasa. Kenapa tidak kau dampingi Joonmyun?”

   ”Tapi… Joonmyun sendiri kan juga mampu bernyanyi, Imo….”

   Sekyung berdecak dan menggelengkan kepalanya lagi. ”Kau tahu? Bernyanyi sambil bermain piano membutuhkan dua konsentrasi yang berbeda. Aku tidak mau konsentrasi Joonmyun terpecah… berlatihlah dengan baik, Nak, Eomma harus menghadiri makan malam bersama ayahmu.”

   ”Ne,” Joonmyun mengangguk sambil tersenyum tipis, dan membiarkan sang ibu mencium pipinya, sebelum berpamitan pada Jongdae yang membungkuk dalam-dalam, dan kemudian pergi meninggalkan ruangan.

   Jongdae menoleh pada Joonmyun yang muram, ”Maafkan aku, Sobat.”

   ”Gwenchana, kita tahu kalau Eomma memang tidak pernah suka bidang apa pun untukku kecuali piano.” Gumam Joonmyun.

   ”Tapi, sayang sekali, Joonmyun-ah… apa ibumu tahu betapa berbakatnya putranya? Jauh diatas berpiano, kau pandai berakting dan kau pandai bernyanyi.”

   ”Eomma berpikir aku pandai dalam berpiano,” Joonmyun mengangkat bahu.

   Jongdae menatap sahabatnya itu serius, ”Lalu? Apa kau juga berpendapat demikian?” tanyanya lambat-lambat. ”Apakah… kau juga berpendapat bahwa kau berbakat dalam piano?”

   ”Jongdae,” kekeh Joonmyun, ”Aku sudah bermain piano sejak aku bahkan belum bisa membaca apa itu piano.”

   ”Yang kutanyakan bukan itu, Joonmyun-ah.” Jongdae meremas bahu sahabatnya itu. “Lalu apa rencanamu? Kau tetap akan mengikutsertakan lagu itu untuk Romeo & Juliet, kan? Lagu itu sangat indah, dan akan sayang jika itu hanya ada di dalam koleksimu…”

   ”Kau bisa menyanyikannya untukku,” sahut Joonmyun dengan suara pelannya, ”Aku tinggal memainkannya…”

   Jongdae menggeleng, wajahnya sangat serius. ”Lagu ini punya jiwa, Joonmyun-ah. Dan jiwa itu muncul jika kau yang menyanyikannya.”

 

*        *        *

D-Day Romeo & Juliet’s Director Casting

D-1 Romeo & Juliet’s Casts Casting

Hanlim Hall Convention Center

Pintu auditorium terbuka dengan lebar, cahaya matahari sore yang cukup terik menyinari bagian depan auditorium, dan lantai auditorium menangkap bayangan sosok pria tegap dalam balutan jas abu-abu andalannya. Menghentikan semua kegiatan yang tengah dilakukan di dalam auditorium tersebut.

   ”Apa audisinya sudah selesai?” tanya Kepala Sekolah Jung dengan suara dalamnya.

   Guru Ahn berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk dalam-dalam, ”Baru saja selesai mewawancarai kandidat terakhir, Kepala Sekolah.”

   Jung Yunho mengangguk tersenyum kepada para guru yang juga berdiri membungkuk begitu ia tiba. Murid-murid yang tengah duduk di bangku-bangku yang disediakan juga berdiri dan membungkuk.

   ”Kalau begitu, apakah Anda sudah mengatakan pada mereka bahwa Festival Musim Semi ini, saya sendiri akan langsung ikut ambil bagian dalam membina?” tanyanya pada Guru Ahn.

   Guru Ahn mengangguk, ”Tadi saat pembukaan audisi, Guru Kwon sudah mengatakannya, Kepala Sekolah.”

   ”Ah baiklah kalau begitu.”

   ”Anda bisa langsung mulai penilaian Anda sendiri, Kepala Sekolah,” Guru Kwon berdiri dari mejanya dan berjalan mendekati Kepala Sekolah Jung, menyerahkan sebuah kertas kepada kepala sekolah yang langsung membacanya.

   Chanyeol berbisik pada Jinmi yang duduk di hadapannya. ”Baru pertama kalinya kepala sekolah ikut andil langsung dalam produksi festival musim semi. Sepertinya festival kali ini bukan festival biasa.”

   ”Eoh,” Jinmi mengangguk mengamati sang kepala sekolah yang nampak serius.

   Eunkwang ikut bicara, ”Standar untuk drama musikal kali ini, atau festival musim semi kali ini sangat tinggi, apa kalian bisa merasakan? Rasanya ketika tahun lalu, festival musim semi tidak sampai semenakutkan ini… bukankah festival akhir tahun yang seharusnya jadi bombastis?”

   ”Entahlah, kita baru berada dibawah kepemimpinan Kepala Sekolah Jung selama enam bulan,” sahut Yeonri, yang duduk disamping Jinmi. ”Kurasa kita belum benar-benar tahu gayanya, karena dia datang kesini tepat ketika acara festival tahunan dan liburan. Dibawah kepemimpinannya, festival musim semi ini adalah acara perdana.”

   ”Makanya wajar jika dia ingin turut andil,” Jinmi setuju.

   ”Choi Yeonri!”

   Yeonri langsung berdiri begitu mendengar namanya dipanggil dengan tegasnya oleh Kepala Sekolah Jung. Seluruh murid yang berada disana, termasuk para guru, ikut menjadi tegang mendengar panggilan barusan.

   ”Kepala Sekolah Jung,” Yeonri membungkuk.

   Yunho menatap Yeonri lekat-lekat, “Miss Choi, jika Anda terpilih menjadi sutradara. Siapa yang ingin Anda jadikan pemeran Juliet?”

   Yeonri menjawab dengan yakin, ”Kim Seolhyun, Sir.”

   ”Apa alasanmu memilih Miss Kim?”

   ”Kim Seolhyun sudah membuktikan bahwa ia adalah aktris yang handal. Suaranya stabil, dan ia selalu menjiwai setiap peran yang ia mainkan.” Jawab Yeonri dengan yakinnya. Tentu saja, siapa lagi yang akan dipilih? Ia bahkan yakin seratus persen di ruangan ini semuanya akan memilih Seolhyun sebagai pemeran utama.

   Yunho mengangguk-angguk, ”Lalu, siapa yang akan kau pilih sebagai Romeo?”

   ”Zhang Yixing, Sir.”

   ”Alasannya?”

   Yeonri menjelaskan alasan yang kurang lebih sama, namun ditambahkan dengan segudang pengalaman Yixing sebagai sutradara juga.

   ”Baiklah, terima kasih, Miss Choi, Anda boleh duduk.” Yunho kembali menatap kertas di tangannya, ”Mr Seo Eunkwang! Ya, siapa yang akan Anda jadikan Juliet dan alasannya apa?” tanya Yunho lagi.

   Dan Eunkwang—juga hampir seluruh murid lainnya menjawab Kim Seolhyun yang akan mereka daulat sebagai pemeran Juliet, meski pemeran Romeo memiliki beberapa opsi. Nama-nama seperti Zhang Yixing, Kim Minseok, dan Ji Hansol sebagian besar mendominasi.

   ”Baik, terima kasih, Miss Yun.” Yunho mempersilakan murid yang ia tanya untuk duduk sebelum beralih pada, ”Miss Baek Jinmi.”

   Jinmi berdiri dan membungkuk.

   ”Jawaban Anda.”

   Jinmi tersenyum, ”Jika hampir semua murid disini hendak menjadikan Seolhyun sebagai pemeran Juliet, saya tidak.”

   Dan hampir seisi ruangan, termasuk para guru bahkan, memekik kaget dengan jawaban Jinmi barusan, tidak dengan Yunho yang justru tersenyum tipis, dan mengangkat sebelah alisnya dengan penasaran.

   ”Saya ingin Oh Jaehee yang menjadi pemeran Juliet.”

   Terdengar gumaman dari para murid, bahkan Eunkwang bertanya terang-terangan, ”Memang Oh Jaehee bisa berakting? Aku belum pernah melihatnya berakting cukup eksis.”

   ”Pffttt,” Yeonri menahan tawa.

   Tapi Jinmi tidak gentar, ia menatap Yunho dengan serius.

   ”Alasan Anda, ingin Miss Oh Jaehee yang menjadi Juliet?”

   ”Siapa lagi yang bisa memerankan Juliet dengan baik kalau bukan Juliet di masa sekarang, bukan?”

   Yunho mengangguk-angguk, dapat menerima alasan Jinmi dengan sedikit kilat penasaran terpancar pada kedua matanya. ”Lalu siapa pemeran Romeonya?”

   ”Kim Joonmyun.” sahut Jinmi, dan membuat semua orang benar-benar memekik hebat. Eunkwang dan Yeonri menekap mulut mereka.

   Guru Ahn berdiri, ”Miss Baek, tolong kau jaga kata-katamu. Ini bukan sembarangan audisi!”

   ”Lagipula Kim Joonmyun adalah murid dari departemen musik,” sahut Guru Han. ”Dia tidak mendaftar sama sekali.”

   ”Dengan hormat, Guru Han, Guru Ahn… Kepala Sekolah Jung bertanya jika saya yang menjadi sutradara, siapa yang saya inginkan untuk menjadi pemeran dua tokoh tersebut. Dan dengan segala hormat, dari kacamata saya sebagai seorang sutradara, mereka berdua adalah orang yang paling tepat untuk memerankan Romeo dan Juliet.”

   Yunho mengangkat tangannya ke atas, menahan para guru untuk memberikan komentar. ”Terima kasih, Miss Baek, Anda boleh duduk. Terakhir, Mr Park Chanyeol, bagaimana dengan Anda?”

   ”Jujur, saya sependapat dengan Jinmi,”

   Guru Ahn menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, putus asa dan malu melihat dua anak asuhnya bertingkah seperti ini.

   “Mungkin pendapat saya tidak sejauh Jinmi, yang meyakini bahwa Oh Jaehee pantas menjadi Juliet,” jelas Chanyeol, ”Tapi menurut saya, Kim Seolhyun juga bukan orang yang tepat untuk menjadi Juliet. Kim Seolhyun selalu bagus dalam berakting karena…” Chanyeol menatap Guru Han, ”Boleh dikoreksi jika saya salah, karena Kim Seolhyun selalu berakting berdasarkan naskah yang ia pilih sendiri. Dan setahu saya, naskah ini dipilih oleh… Miss Oh Jaehee, jadi saya tidak lagi meyakini kemampuan Kim Seolhyun.”

   ”Benar begitu, Guru Han?” tanya Yunho, tanpa menoleh.

   Guru Han mengangguk-angguk, ”Me…memang benar.”

   ”Untuk menjadi Romeo, saya lebih memilih Zhang Yixing. Saya tahu benar pria itu pandai sekali berakting, memainkan banyak jenis karakter.”

   Yunho mengangguk, ”Baiklah, terima kasih Mr Park, Anda boleh duduk.” Yunho kemudian berbalik menghadap pada para guru yang duduk dibalik meja penjurian. ”Guru Ahn dan Guru Han, boleh ikut saya.”

 

*        *        *

D-Day Romeo & Juliet Casts Casting

Balkon Lantai 5

   Jaehee membuka pintu balkon perlahan-lahan, pertama-tama kepalanya terlebih dahulu yang ia munculkan, berjaga-jaga jika di balkon sana bukanlah orang yang ia inginkan untuk ditemui. Bagaimana kalau di balkon justru ada Jongin? Setahu Jae Hee, Joonmyun selalu bersama Jongin kesini, karena Jongin lah yang sering nongkrong disini.

   Tapi, nihil! Tak ada siapa pun.

   Lega karena tak ada Jongin, namun kecewa karena sejujurnya ia sangat sangat butuh dukungan moril atau simpel saja, Jaehee meyakini jika ia bertemu Joonmyun sekarang, ia dapat melakukan audisinya dengan baik. Jaehee meniup-niup poninya dan memandang awan-awan putih yang bergerak di atas langit sana.

   Ia hanya mengingat-ingat sesi-sesi latihannya bersama Joonmyun yang menjadi rutin, dengan mengesampingkan Jongin dan Hana, yang juga sama-sama sibuk dengan projek mereka masing-masing. Mengingat itu semua, Jaehee merasakan hatinya diliputi kebahagiaan, dan jantungnya bergerak-gerak gelisah namun dalam arti yang menyenangkan. Entah sejak kapan, jika mengingat Joonmyun, Jaehee memiliki kebiasaan untuk tersenyum menatap langit. Cheesy, tapi entahlah—seolah-olah langit membantunya untuk mempertegas ingatan-ingatan itu kembali.

   Dua hari terakhir, Joonmyun mengajarkannya melafalkan bahasa Inggris kuno tersebut dengan logat british yang entah mengapa menurutnya, jika Joonmyun yang melakukannya terdengar sangat indah. Menyaingi Benedict Cumberbatch!

   ”Remember when, we never needed each other… the best of friends like, sister and brother… we understood we never be alone…” Jaehee tanpa sadar menyanyikan lagu yang selalu menjadi hadiah dari Joonmyun jika ia berhasil membawakan karakter Juliet dengan baik di setiap latihan.

   Drrrttt. Drrrtttt.

   ”Oh, sudah waktunya,” gumam Jaehee sambil mendesah kecewa, karena orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Berbalik, membulatkan tekadnya, ia menuju ke HHCC (Hanlim Hall Convention Center), dimana audisi dilaksanakan.

 

*        *        *

HHCC

Igeo mwondae?”

   Yixing membaca kertas yang dimaksud dan tersenyum, ”Salah satu soundtrack yang diajukan untuk Romeo & Juliet. Lucu ya, meskipun menggunakan naskah jaman dulu, tapi ingin soundtrack baru selain mengaransemen ulang soundtrack lama.”

   ”Tapi gubahan Missing You milikmu bagus, Yixing-ah.”

   Yixing terkekeh, ”Thanks, tapi kita butuh banyak soundtrack lain selain aransemen ulang, dan ini salah satunya. Sumpah, begitu pemiliknya tadi memainkannya… ini lagu yang tepat untuk scene dimana Romeo patah hati.”

   ”Jadi kau menerima lagu ini?”

   “Melangkahi otoritasmu sebagai sutradara, ya. Aku memilih lagu ini tanpa persetujuan darimu, sebagai music director untuk acara ini.” Yixing mengedipkan matanya.

   ”Tsk, dasar… lagu ciptaan siapa memangnya itu? Untung saja kau yang jadi music director-nya, kalau tidak aku bisa ngamuk sekarang. Aku percaya padamu, beruntung kau.”

   ”Kim Joonmyun.”

   Baek Jinmi tersenyum penuh arti, ”Jinjja?”

   ”Iya, Ibu Sutradara,”

   ”Call, suruh semua pengisi musik untuk menyaksikan audisi hari ini.” Pinta Jinmi sambil berdiri membawa kertas-kertas, Yixing memberi hormat sambil mengikuti Jinmi dengan tangan tak kalah penuh dengan kertas.

   Jinmi melangkah ke atas panggung, dimana Chanyeol tengah berbicara dengan perwakilan Stage Director mengenai audisi peran yang akan dilaksanakan sebentar lagi. ”Sudah selesai, Chanyeol-ah?”

   ”Hai, Jinmi-ya… ini Hyesoo, dia adalah Stage Director yang terpilih, dia dan timnya sudah menyiapkan beberapa set sederhana untuk audisi hari ini. Hyesoo-ya, ini Baek Jinmi.”

   Jinmi mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Hyesoo sambil tersenyum, ”Baek Jinmi, semoga kerjasama kita spektakuler, Hyesoo-ssi.”

   “Ne, Jinmi-ssi. Bagaimana dengan set yang kami siapkan ini?” tanya Hyesoo sambil tersenyum.

   Jinmi memandang beberapa set latar sederhana, yang satu diantaranya masih dikerumuni oleh para murid yang masih berusaha menyempurnakan penampilan set balkon rumah Juliet tersebut. ”Untuk waktu yang singkat, kalian sangat sangat hebat! Wow~” puji Jinmi dengan takjub, ”Hyesoo-ssi, tak salah Kepala Sekolah Jung memilihmu.”

   ”Ah, aniyo… tapi terima kasih, untuk penampilan nanti, kami berjanji akan melakukan yang terbaik.”

   ”Ne, gomawo,” Jinmi melirik jam tangannya, ”Sebentar lagi casting dimulai. Kita harus semangat!!!”

   ”Ne!” seru Hyesoo dan Chanyeol bersamaan. Hyesoo kemudian pamit untuk membantu timnya menyelesaikan pekerjaannya, sementara Chanyeol pamit untuk mengambil kertas-kertas biodata para calon pemeran yang masih ia tinggalkan di kantor kecil tempat Jinmi dan Yixing berdiskusi tadi.

   Ya, kemarin setelah hampir yakin bahwa ia tidak akan terpilih menjadi sutradara untuk musikal Romeo & Juliet, Kepala Sekolah Jung rupanya berpikiran lain. Jinmi terpilih sebagai sutradara, dan Chanyeol terpilih menjadi asisten sutradara. Dengan alasan yang cukup membuat murid-murid yang mengikuti audisi dan juga para guru yang menjadi juri tercengang, bahwa Kepala Sekolah Jung percaya sesuatu yang anti mainstream adalah hal yang perlu dilakukan oleh Hanlim, dimana ia tidak mau semua guru dan murid bermain dalam zona aman.

   Pintu ganda besar auditorium terbuka, dan masuklah belasan hingga puluhan murid-murid perempuan dan laki-laki yang akan mengikuti audisi peran hari ini. Jinmi menyingkir dari tengah panggung, berdiri dibalik selubung merah beludru yang digunakan untuk menutupi set panggung sembari mengawasi siapa-siapa saja yang hadir dalam audisi kali ini.

   Dan seulas senyuman puas menghiasi bibirnya tatkala mendapati Oh Jaehee datang dengan wajah tegang.

   ”Jinmi-ya,”

   Jinmi menoleh dari kesibukannya mengamati kerumunan dan mendapati Yixing sudah berdiri di belakangnya. ”Ne?”

   ”Mau dimana para pengisi soundtrack ini disuruh duduk?” tanya Yixing menunjuk ke rombongan yang ia bawa dari samping panggung. Dan mata Jinmi bergerak mengamati wajah-wajah yang Yixing bawa, sampai menemukan Joonmyun yang tengah mendongaknya dengan ekspresi keras yang sulit diartikan.

   Jinmi jadi ingin tertawa, ”Silakan ikut duduk seperti kontestan lain,” Jinmi menunjuk ke depan panggung dimana kursi-kursi bagian depan sudah terisi oleh para murid yang akan audisi menjadi Romeo & Juliet.

   ”Silakan,” Yixing dengan ramahnya menuntun mereka menuju kursi penonton.

   Jinmi geleng-geleng kepala memperhatikan Joonmyun yang mengikuti Yixing setelah melempar pandangan waspada kepadanya. Jinmi mengedipkan matanya dengan jail juga melipat kedua tangannya di depan dada. Begitu seluruh murid yang di bawa Yixing sudah benar-benar menghilang dari samping panggung, Jinmi bergumam, ”Protektif sekali pada Oh Jaehee itu, benar-benar.” Jinmi terkekeh dan kembali berjalan mendekati tabir beludru besar yang menutupi tubuhnya dari pandangan orang-orang di kursi penonton.

   ”Aigoo, neomu kwiyeowo…” kikiknya sendiri.

   Mungkin orang lain takkan memperhatikan gestur kecil yang dilakukan oleh dua manusia yang sejak beberapa hari lalu menjadi pusat perhatian Jinmi. Itulah mengapa, Jinmi menyadari bagaimana bahu Oh Jaehee yang tadinya duduk, setengah menunduk, kedua tangan meremas-remas skrip yang digulung, mendadak menjadi tegak saat rombongan pengisi soundtrack datang. Jinmi bahkan nyaris terkikik saat Jaehee tersenyum tipis tatkala Kim Joonmyun melewatinya. Jinmi memang hanya dapat melihat punggung Joonmyun dari posisinya saat ini, namun ia yakin pria itu pasti juga tersenyum dengan cara yang tidak terlalu kentara jika senyum itu ditujukan untuk Oh Jaehee. Dan saat Joonmyun menempati tempat duduk di jajaran kursi sebelah kanan panggung, pria itu tersenyum.

   ”Miss Baek,”

   Jinmi menoleh dan mendapati Kepala Sekolah Jung berdiri di belakangnya. Jinmi buru-buru membungkuk.

   ”Bisa bicara sebentar?”

 

*        *        *

”Aku sudah mencari-carimu sejak tadi! Darimana saja kau Joonmyun-ah?” suara Seolhyun membuat hampir semua murid yang ada di kursi penonton menolehkan kepala mereka dengan ingin tahu. Seolhyun mengibaskan rambut hitam panjangnya dan menunjukkan senyum pasta giginya sambil mendekati kursi dimana Joonmyun duduk, Jongdae mengekorinya.

   Joonmyun memberikan Seolhyun senyum kecil, ”Aku audisi soundtrack tadi.” Sahutnya.

   ”Jinjja?!” seru Jongdae bersemangat begitu mendengar ternyata Joonmyun memutuskan untuk menghiraukan ibunya dan tetap mengikutsertakan lagunya. ”Aku sangat senang kau tidak mendengarkan Ibumu,”

   Joonmyun tersenyum, membiarkan Jongdae dan Seolhyun berceloteh disampingnya, sementara matanya tak bisa dicegah untuk mencari-cari Jaehee yang duduk di bagian tengah kursi penonton sendirian. Gadis itu tengah menatapnya, namun saat pandangan mereka bertemu dan Joonmyun hendak memberi senyum, Jaehee buru-buru memalingkan wajahnya ke depan. Saat itulah Joonmyun tersadar, bahwa sikapnya dengan Seolhyun pasti membuat Jaehee salah paham.

   Joonmyun sedikit panik. Meski baru sering berkomunikasi dengan Jaehee dalam waktu seminggu terakhir, cukup baginya untuk mengenal watak gadis yang memiliki kepercayaan diri yang rendah itu. Beberapa hari ini, Joonmyun merasa rasa percaya diri Jaehee sudah mulai meningkat, dan ia cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa dirinyalah yang berhasil memompa kepercayaan diri itu.

   Namun sekarang…

   Jaehee pasti mulai meragukan kualitas aktingnya lagi, dan akan memlempem jika melihat Seolhyun.

   ”Ya, kau sedang memikirkan apa?” tanya Jongdae penasaran, karena Joonmyun mendadak diam saja.

   Seolhyun tersenyum pada Jongdae, ”Mungkin dia ingin ikut audisi. Sayang sekali, Sekyung Imo tidak akan senang jika ia ikut audisi.” Namun Joonmyun tidak berkata apa-apa. Beberapa menit kemudian, ketika Guru Han—guru pembina Departement Musical Theatre berdiri di tengah-tengah panggung dan membuka acara, lampu digelapkan, Joonmyun menjadi semakin berani untuk menoleh terang-terangan ke arah Jaehee.

   Gadis itu tampak diam saja, tidak menoleh sekalipun ke arahnya. Berlawanan dengan Jaehee yang diam saja, Joonmyun menjadi semakin gelisah. Apalagi mulai banyak para penonton—yaitu murid-murid lain yang hanya datang untuk menonton audisi, tak jarang dari mereka terang-terangan mendukung Seolhyun dan menyorakkan nama Seolhyun dengan penuh semangat. Dan Seolhyun juga tidak membantu—meski bukan salah Seolhyun juga, gadis itu sangat penuh percaya diri dan membalas sorak-sorakkan untuknya.

   Saat itulah, kali kedua Joonmyun mendapati Jaehee menoleh ke arahnya, atau lebih tepatnya ke arah Seolhyun.

   ”Kalau begitu, kita mulai kontestan yang pertama. Miss Jung Anri…”

   Dan prosesi audisi dimulai. Sistem audisi kali ini dibuat berbeda dengan audisi-audisi sebelumnya. Dimana biasanya para pengisi soundtrack diminta untuk langsung memainkan musik dan menyanyikan lagu mereka dengan lirih, pada saat para calon pemeran melakukan audisi di panggung.

   ”Mr Kim Jongdae?”

   ”Ya?” Joonmyun memperhatikan dengan waspada saat Baek Jinmi sang sutradara mendekatinya, atau mendekati Jongdae lebih tepatnya. ”Setelah ini, audisi untuk peran Tybalt, dan karena tak ada satu pun murid lagi yang mau ikut audisi untuk peran Tybalt, kau diminta untuk bersiap-siap dari sekarang karena setelah ini murid yang akan melakukan audisi untuk peran Juliet, akan mengambil scene dimana Tybalt dan ia bertengkar.”

   Jongdae meremas kedua tangannya, mulai gugup. ”Aku harus ke belakang panggung?”

   ”Ne.”

   Seolhyun tiba-tiba menyela, ”Apa aku boleh tahu kapan giliranku untuk audisi?” tanyanya pada Jinmi sambil tersenyum.

   Jinmi memeriksa papan jalannya, menelusuri daftar dengan jarinya. ”Segera, lima sampai delapan orang lagi kurang lebih.” Jawabnya.

   ”Ah, nekamsahamnida,” Seolhyun membungkuk.

   Jinmi mempersilakan Jongdae untuk berjalan terlebih dahulu sementara Jinmi menatap Joonmyun, “Mr Kim, setelah ini juga audisi untuk peran Romeo akan mengambil setting dimana ia dan sepupu-sepupunya berbincang-bincang… jadi kau harus bersiap-siap sambil membawakan lagumu sekarang.”

   ”Ne,” Joonmyun mengangguk.

   Seolhyun bertepuk tangan penuh semangat, ”Yayyy… hwaiting, Joonmyunie!” serunya saat Joonmyun berdiri dan menuju sisi kiri panggung, dimana para pengisi soundtrack diberikan tempat yang sudah disediakan instrumen-instrumen musik untuk mengiringi para pemeran yang tengah melakukan audisi peran di panggung.

   Jinmi membungkuk singkat pada Seolhyun setelah memastikan Joonmyun pergi, dan kini ganti berjalan mendekati Oh Jaehee. Sepertinya gadis ini tidak mengenalnya—tebakannya, Kim Joonmyun tidak menceritakan perihal dirinya memergoki Joonmyun-Jaehee berlatih bersama, karena gadis itu sama sekali tidak waspada, atau bahkan takut, atau menunjukkan tanda-tanda mengenali dirinya.

   ”Kamdok-nim,” Jaehee membungkuk.

   Jinmi tersenyum, ”Dua kontestan setelah ini giliranmu. Kau bisa ke belakang panggung untuk memberikan pengarahan pada tim tata panggung dan musik untuk menyelaraskan penampilanmu.”

   ”Ne,” dengan gemetar, bahkan menjatuhkan gulungan naskahnya ke lantai. Dengan kikuk, bahkan di tertawakan oleh beberapa kontestan lain, Oh Jaehee buru-buru membungkuk dan memungutnya dengan wajah merah padam.

   Jinmi melirik dua orang gadis yang menertawakan tingkah kikuk Oh Jaehee tersebut, kemudian buru-buru mengikuti langkah Oh Jaehee.

   ”Gugup?” tanya Jinmi begitu ia sudah berhasil merendengi langkah Jaehee.

   Jaehee mendongak dengan kaget, wajahnya pucat kemerahan, dan bibirnya pun putih. Namun ia masih berusaha tersenyum dan menjawab, ”Sudah lama tidak mencoba audisi untuk peran utama, Kamdoknim.”

   ”Ah, begitu?” Jinmi berpura-pura tidak tahu dan mengangguk-angguk sambil menepuk bahu Jaehee. ”Sudah berlatih bukan?” sebenarnya Jinmi ingin mengingatkan Jaehee tentang latihannya bersama Kim Joonmyun, dimana Jinmi sendiri terkesima dengan akting cemerlang gadis itu, namun ditahannya mulutnya dan hanya menanyakan sekedarnya.

   Oh Jaehee mengangguk.

   ”Kalau begitu anggap saja sedang latihan.” Ujar Jinmi membesarkan hati, dan mereka tiba di pinggir panggung sebelah kiri. ”Ini Hyesoo, Ketua tim tata panggung. Berikan skripmu padanya, dan…”

   ”Halo, Jaehee-ya!” sapa Yixing antusias begitu mendapati Jaehee sudah berada di sisi panggung.

   Jaehee tersenyum, akhirnya ia melihat wajah seseorang yang familiar. Dan hal ini membuat reda rasa gugupnya.

   ”Kau akan audisi? Johta, sudah lama sekali kau tidak audisi untuk pemeran utama!” seru Yixing dan menepuk bahu Jaehee, ”Hwaiting, Baby Girl~” dia mengedip dan menerima gulungan naskah yang diberikan Jaehee padanya, ”Kau tunggu disana saja, aku dan Hyesoo akan segera menyiapkan keperluan audisimu.”

   Jinmi memperhatikan Jaehee yang mengangguk dan duduk di kursi-kursi plastik yang disediakan untuk para kontestan yang akan audisi. Gadis itu masih saja tetap terlihat gugup. Berpaling menatap Hyesoo yang tengah menginstruksikan salah satu rekan timnya, Jinmi berkata, ”Aku kembali ke depan ya.”

   ”Oke, Jinmi.”

 

*        *        *

Seperti seorang wanita yang akan melahirkan.

   Mungkin itulah yang Jaehee rasakan sekarang. Perutnya mulas bak kontraksi—meski ia belum pernah benar-benar merasakan kontraksi yang sebenar-benarnya, namun ia yakin rasanya tidak jauh berbeda dengan yang ia rasakan sekarang saat menghitung mundur waktu dimana ia akan sukses atau akan berakhir dengan mempermalukan dirinya sendiri.

Hana   : Mianhae! Aku baru bisa kabur dari guru Pyo

Hana   : Kau ada dimana? Aku baru tiba di HHCC

Hana   : PING!!

   Membaca pesan beruntun yang masuk ke ponselnya dari Hana membuatnya dapat sedikit melupakan kegugupan yang ia rasakan. Sedikit. Karena tatkala ia hendak membalas, ponselnya bergetar kembali, dan sebuah notifikasi muncul.

KJM     : Hwaiting!

KJM     : Aku tahu kau pasti bisa

KJM     : Aku ada di samping panggung, menunggu giliranku untuk audisi, kurasa dari sini aku bisa melihatmu

KJM     : Jaehee-ya, aku mendukungmu, aku mendoakanmu

KJM     : Ingat kau tidak dinilai, kau hanya sedang berlatih. Ingat itu saja seperti saat kita latihan

KJM     : Lakukan dengan sebaik mungkin

KJM     : Aku tahu kau bisa, Jaehee-ya

   Semangat Jaehee sedikit terangkat membaca pesan-pesan yang masuk dari Joonmyun. Ia sedikit iri pada Seolhyun yang bisa dengan bebas mendatangi Joonmyun dan meminta doanya sebagai teman tentunya. Ia tak punya hak apa-apa untuk protes jika Joonmyun benar-benar membantu Seolhyun, bukan? Kim Joonmyun bukan hak miliknya pribadi.

   Setengah melamun, Jaehee mendongak ke langit-langit tinggi kamar tunggu tempat ia berada sekarang. Sugestinya agar mengingat hal-hal indah. Memorinya kembali berputar ke masa ia berlatih bersama Joonmyun dan mendengarkan Joonmyun memainkan piano untuknya.

   ”Remember when… we never needed each other, the best of friends like, sister and brother… we understood, we never be alone…” Jaehee menyenandungkan lagu lembut ciptaan Joonmyun untuk menenangkan hatinya, dan puas dengan efeknya. Perasaannya jauh lebih tenang. ”What can I do, to make you mine? Falling so hard so fast this time… what did I say, what did you do… how did I fall in love with you~” senandungnya.

   Ditengah-tengah ritual ’hipnoterapi’-nya, Jaehee tidak menyadari, dibelakangnya seorang pria tengah tercengang mendengar nyanyiannya.

   ”Itu… lagu Joonmyun, kan?!” bisik Kim Jongdae dengan ekspresi kaget saat mendengarkan Oh Jaehee menyanyikan lagu ciptaan sahabatnya tersebut. ”Maldo andwae!” bisiknya.

[PART V KKEUTT]

Silakan cek lagu di atas, judulnya HOW DID I FALL IN LOVE WITH YOU, lagu Backstreet Boys (boyband lawas) ketika aku masih unyu #halah sumpah lagunya enak banget, dan yang punya pengalaman jatuh cinta sama sahabat sendiri lagu itu bisa bikin baper #ehem Lagu ini yang aku bikin “ceritanya” jadi lagu ciptaan Joonmyun waktu jatuh cinta sama cinta pertamanya, Bae Joohyun. 

Annyeong~ Sudahkah kalian membaca part 5 yang terkunci?

Sewaktu-waktu aku akan kunci lagi, terutama adegan-adegan yang penting. Kalau kalian jadi readers yang baik, seperti yang udah aku lakuin di part sebelumnya, aku langsung kirim email ke kalian tanpa pikir panjang. Sebagai author, aku gak minta banyak kan? Cuma minta komen ^___^v ini aku lakuin karena SKF lagi marak siders, sampe sedih aku liatnya T____T

Dialog Romeo & Juliet yang aku pakai itu murni dari naskah Shakespeare ya, maklumin aja dia hidup di zaman baheula, jadi bahasa Inggrisnya juga kuno, tapi aku udah cantumin artinya kan di part lalu? Kalau gak di dalam kurung, pasti di paragraf setelahnya juga aku cantumin, atau kalau gak aku cantumin, adegan selanjutnya pasti bikin kalian ngerti yang diomongin sebelumnya apa😉

Nah, sekarang sudah dua orang yang mulai tau hubungan ‘pertemanan’ Kim-Oh ini, dan mulai banyak karakter pendukung yang bermunculan. Sampai jumpa Kamis depan, either digembok atau tidak…

bye yeom

neez,

110 responses to “ALL I ASK [PART VI] — by Neez

  1. Pingback: ALL I ASK [PART XIII] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Walaupun belom baca part sebelum ini tapi feelnya tetep kena bangeeet :3
    Ih demi apaaa gemesin banget mereka berduaaa
    Tapi kasian juga ya si joonmyeon gak bisa kasih support jaehee secara langsung karena yaa tar jadi heboh satu sekolah bahkan satu negara mungkin haha
    Semoga jaehee lolos buat peranin juliet ^^
    Oh iya kak aku boleh minta pw nya buat part sebelumnya? Ini email aku ya kak destasari33@yahoo.co.id terima kasih sebelumnya ❤️
    Ijin lanjut kak hehe ❤️

  3. Pingback: ALL I ASK [PART XIV] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Omona… akhirnya babak paling menegangkan dimulai!! The Audition Day!! entah krn q nya yg trll excited atau gimana, tp sprtinya bkln serru bgt prosesnya! Oh Kim Joonmyun… kekuatanmu bagai Vitamin!! Ayolah Jaehee… kamu ga boleh minder okeh???😛 Aduh oooppz Jongdae…? brsiaplah utk menebak-nebak kenapa Jaehee bs menyanyikan lagu Joonmyun! KERREEEN!!😀

  5. wah,jadi bingung mau komen apa,debak lagu itu sdh mempunyaijiwa,jiwanya adhlah………Jaeheee yaaaaaaa

    wah,makin penasaran,ditunggu chap slanjutnya

  6. maaf ya author-nim ak lgsg baca chapt ini, krn blm dpt pw chpt sblmnya:( Feelnya ttp kena, tp pnsrn gmn mereka latihan:( oiyaa, trnyt skripnya asli ya, ak kira author yg bikin *maklum blm prnh baca novel romeo juliet hhe* lanjut trs ya kak, smgt!^^

  7. Karena belum juga dapet pw.. Tp krn masih penasaran makanya aku lewati aja deh.
    Aku seneng liat betapa peka nya joonmyun pas sadar gimana jaehee menghindari dia krn mungkin dia sadar dan juga kelakuan dia dg menghindari kontak dg seolhyun sebisa mungkin biar jaehee ga cemburu ugh so sweeet myeoni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s