Emergency Husband Service (Chapter 4) – Kee-Rhopy

Emergency Husband Service Cover 1

Emergency Husband Service (Chapter 4) – Kee-Rhopy

 

4. Changed

 

|| Author: Kee-Rhopy | Title: Emergency Husband Service | Subtitle: Changed | Cast: Park Chanyeol (EXO) & Choi Shiyoung (OC) | Support Cast: Song Hana (OC), Zhang Yixing (EXO) | Genre: Romance, Comedy, Angst, AU | Rating: PG | Lenght: Chaptered ||

 

=

 

Prev: 1. Reunion, Bad Result and Him | 2. A Good Liar | 3. The Key | 4. Changed

 

“URUSAN KITA BELUM SELESAI, CHOI SHIYOUNG! 15 TAHUN YANG LALU, KENAPA KITA HARUS PUTUS?!”

 

“Bu–bukankah sudah jelas? Perasaanku sudah berubah. Aku tak menyukaimu lagi.”

 

“Kau pikir aku bodoh?”

 

“Aku sudah tak menyukaimu lagi. Itulah alasan kenapa kita harus putus 15 tahun yang lalu.”

 

=

Happy Reading!

=

 

Chanyeol menghela napas. Tak habis pikir dengan tingkah Shiyong yang tetap mempertahankan alasan basi itu. “KAU BOHONG DAN AKU TAHU ITU!!”

 

Shiyoung melihat kefrustasian Chanyeol di hadapannya. Teriakan pria itu membuatnya sadar akan satu hal; lambat laun kebenaran yang selama ini ia sembunyikan akan terungkap. Tapi tetap saja, ia tak bisa mengungkapnya sekarang. “Baiklah. Aku memang bohong. Lantas apa?”

 

Perkataan Shiyoung membuat Chanyeol mendongak, menatap mata gadis itu dalam.

 

“15 tahun sudah berlalu dan semuanya sudah berubah. Mengetahui alasan yang sebenarnya tak akan mengubah apapun.” Shiyoung melanjutkan kalimatnya. Kalimat yang ia yakini akan menghentikan desakan Chanyeol, setidaknya untuk saat ini.

 

“Berubah?” Chanyeol mendengus, kemudian dengan nada yang semakin rendah ia berkata, “Kau bilang berubah? Mudah bagimu untuk mengubah semuanya sesuai keinginanmu. Tidakkah kau tahu apa yang kulalui karena tak bisa menerima alasanmu? Kau tak pernah tahu, Choi Shiyoung! Kau tak pernah tahu bagaimana aku menjalani hidup karena 15 tahun yang kau anggap bisa mengubah semuanya!”

 

Shiyoung diam. Perkataan Chanyeol secara telak membuatnya tak berkutik. Ingin sekali ia berteriak dan mengatakan bahwa apa yang baru saja keluar dari bibir Chanyeol juga berlaku untuknya. Namun lidahnya kelu, pikirannya buntu, tak sanggup mengungkap luka lama yang selama ini berhasil ia sembunyikan.

 

Napas Chanyeol memburu. Segala bentuk protes yang tersimpan selama 15 tahun lamanya muncul ke permukaan, meledak, dan mendesaknya untuk mengetahui kebenaran. Dipandanginya Shiyoung yang berdiri dengan pandangan menunduk. Melihatnya seperti itu malah membuat Chanyeol semakin tak bisa menahan kekesalannya. “Baiklah! Kau mungkin tak akan pernah mengatakannya padaku. Teruslah bersikap egois! Tetaplah bersikap seperti ini sampai mati!”

 

Sampai mati?

 

Shiyoung tertohok saat kata ‘mati’ keluar dengan begitu mudahnya dari bibir Chanyeol. Genangan air mulai memenuhi kelopak matanya. Kedua tangannya terkepal, meredam segala bentuk perasaan yang menyeruak. Namun ia tetap bertahan pada kebisuannya. Sampai suara debuman pintu yang keras menghantam pendengarannya bersamaan dengan kepergian Chanyeol.

 

 

“Hey! Kau mulai tak waras, ya? Kau absen selama dua hari dan sekarang mau minta izin untuk pulang lebih awal?! Woah, kau pikir si botak itu akan melepaskanmu begitu saja?!” Hana berceloteh tak percaya saat Shiyoung mengatakan keinginannya untuk pulang lebih awal. Tak lupa direndahkannya suara saat mengucap kata ‘si botak’ sebagai julukan untuk bosnya yang memang hanya memiliki beberapa helai rambut saja.

 

“Kalau dia melarangku, aku akan mengajukan surat pengunduran diri besok.” Shiyoung mengatakannya dengan nada tenang, seolah hal itu bukan hal yang bisa membuat mata Hana melotot.

 

MWO?!!” Hana berjalan mengekori Shiyoung yang mulai merajut langkah menuju ruangan bosnya yang botak. Hampir saja ia meneriaki kegilaan Shiyoung kalau saja pintu ruangan bosnya itu tertutup rapat. Sayang, sahabatnya yang mulai hilang kewarasan ini sudah lebih dulu membuka pintu si botak sebelum ia sempat melayangkan protes. Dengan rasa penasaran yang menggebu, ia memutuskan untuk membiarkan Shiyoung masuk dan menunggu sahabatnya itu di depan pintu.

 

1 menit …

 

3 menit …

 

Cklek!

 

Pintu ruangan si botak terbuka, membuat Hana sempat terlonjak kaget sebelum akhirnya menemukan kesadaran untuk mengikuti Shiyoung yang keluar dengan langkah anggunnya tanpa memedulikan Hana.

 

“Yak! Kau benar-benar mengabaikanku?!” Hana terus mengikuti langkah Shiyoung, meminta penjelasan yang membuatnya benar-benar tak habis pikir.

 

Hana tahu, pasti telah terjadi sesuatu hingga Shiyoung bersikap seolah bukan dirinya. Sejak mengenal Shiyoung, tak pernah sekalipun ia menemukan sahabatnya itu seenteng ini terhadap pekerjaan. Shiyoung tak pernah bolos, tak pernah meminta izin pulang terlebih dahulu, apalagi sampai berkata akan mengundurkan diri hanya karena tak dizinkan pulang lebih awal. Untuk itulah ia benar-benar gelisah dengan alasan yang ia sendiri tak mengerti kenapa ia harus sekhawatir ini.

 

“Yak, Choi Shiyoung!” Hana kembali bersuara begitu berhasil keluar dari lift yang agak ramai dengan kehadiran beberapa orang hingga membuatnya tak leluasa berbicara dengan Shiyoung.

 

Shiyoung terus saja melangkah tanpa peduli pada Hana yang masih berjalan mengekorinya. Terlalu banyak memikirkan beberapa kejadian yang menimpanya bertubi-tubi membuatnya memilih untuk diam.

 

“Yak, Choi Shiyoung! Kau akan terus bersikap sepert–” kalimat Hana terhenti begitu Shiyoung menghentikan langkah dan dalam sepersekian detik berbalik menghadapnya.

 

“Kau tahu kalau aku tak punya siapapun selain dirimu, kan?”Shiyoung bertanya retorik, membuat Hana bungkam tak mengerti. “Aku tak bisa mengatakannya sekarang. Tapi pasti, kaulah orang pertama yang akan kuberitahu. Semuanya.”

 

Hana diam, entah kenapa perkataan Shiyoung barusan berhasil membuatnya kehilangan kata-kata. Ia yang sejak tadi aktif mengikuti akhirnya membiarkan sang sahabat berbalik pergi. Wanita itu terdiam, memandangi kepergian Shiyoung dengan perasaan tak menentu. Entah kenapa, ia merasa sesuatu yang buruk telah terjadi.

 

 

“Kau satu-satunya pasien yang paling tenang saat tahu tentang penyakitmu.” Dokter Zhang berkomentar.

 

Shiyoung tersenyum tipis mendengar kelakar Dokter Zhang. “Itu karena aku tak diberitahu langsung olehmu, Dokter Zhang.”

 

Zhang Yixing mengangguk pelan membenarkan perkataan Shiyoung, kemudian mengedikkan bahu. Tak tahu harus berbuat apalagi agar pasiennya bisa tertawa. Menghadapi pasien penderita kanker setiap harinya bukan perkara mudah, karena mayoritas dari mereka terlalu berharap padanya. Sedang ia sendiri belum tentu bisa mengabulkan harapan itu. Tapi pasien bernama Choi Shiyoung ini justru berbeda. Tak seperti penderita kanker kebanyakan, gadis itu terlalu tenang. Seolah ia menerima dengan senang hati diagnosa itu. “Baiklah. Ini obatmu. Sampai jumpa besok.”

 

Shiyoung mengambil obat dari hadapan Dokter Zhang tanpa banyak bicara. Setelah membungkuk memberi hormat, ia berbalik dan merajut langkah keluar dari ruangan sang dokter.

 

Kanker lambung stadium 4. Kemungkinan hidup 3-6 bulan. Tidak memungkinkan untuk dioperasi. Menjalani pengobatan hanya untuk memperlambat pertumbuhan dan penyebaran kanker dan mengurangi rasa sakit. Kurang lebih begitulah yang dikatakan Dokter Zhang tentang penyakitnya. Awalnya, Shiyoung memang sulit menerima kenyataan. Ia menangis seharian hingga tak masuk kantor. Mengeluh karena kebahagiaan sangat sulit untuk diraih. Namun lambat laun ia sadar, tak ada gunanya mengeluh maupun protes. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menerima saja, lagipula selain Hana, tak ada orang yang perlu dikhawatirkan akan kepergiannya nanti.

 

“URUSAN KITA BELUM SELESAI, CHOI SHIYOUNG! 15 TAHUN YANG LALU, KENAPA KITA HARUS PUTUS?!”

 

“Tidakkah kau tahu apa yang kulalui karena tak bisa menerima alasanmu? Kau tak pernah tahu, Choi Shiyoung! Kau tak pernah tahu bagaimana aku menjalani hidup karena 15 tahun yang kau anggap bisa mengubah semuanya!”

 

Langkah Shiyoung terhenti di lobi rumah sakit begitu suara Chanyeol menginterupsi. Ia tak tahu kenapa kalimat-kalimat yang Chanyeol ucapkan terasa begitu bertolak belakang dengan apa yang ia pikirkan. Apakah ini artinya, Shiyoung harus mengungkap alasan yang telah ia simpan rapi selama 15 tahun? Haruskah?

 

Shiyoung melanjutkan langkah yang tertunda, pun dengan pemikiran tentang kalimat lirih yang diucapkan Chanyeol. Gadis itu menggeleng pelan, mencoba menghilangkah pikiran-pikiran aneh yang membentur otaknya dengan tiba-tiba.

 

 

Ini sudah hari keempat sejak Shiyoung berjanji akan mengatakan semuanya pada Hana. Namun sampai hari ini, gadis keras kepala yang berstatus sebagai sahabat terbaiknya itu tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kalau ia akan mengatakan sesuatu. Yang lebih mengejutkan lagi, sahabatnya yang keras kepala itu mengajukan cuti tanpa sepengetahuannya. Pantas saja sosoknya tak pernah muncul di kantor lagi sejak keluar dari ruangan si botak. Hana kira Shiyoung bolos lagi. Untuk itulah ia sampai repot-repot menemui si botak tadi pagi, meminta agar Shiyoung dimaafkan karena tak masuk selama lebih dari tiga hari. Namun, ia malah menerima informasi mengejutkan –Choi Shiyoung mengajukan cuti bekerja selama tiga bulan.

 

Hana sudah mencoba menghubungi nomer Shiyoung beberapa kali, namun tak ada jawaban. Hal itu malah membuatnya semakin khawatir hingga memutuskan untuk mengunjungi sahabatnya itu di apartemennya saja.

 

Ciittt…

 

Taxi berhenti tepat di depan gedung apartemen tempat tinggal Shiyoung. Hana membuka pintu taxi dan keluar dari kendaraan roda empat tersebut. Wanita itu hendak merajut langkah, namun terhenti karena ponselnya berbunyi.

 

Choi Shiyoung is calling….

 

Napas lega langsung Hana keluarkan begitu melihat nama Shiyoung tertera di layar ponsel. Tanpa pikir panjang, langsung diangkatnya panggilan Shiyoung sembari terus merajut langkah.

 

“Yeobse–“

 

“Yak, gadis tengik! Kau kemana saja, bodoh? Oh, seharusnya aku tak mengkhawatirkan gadis keparat sepertimu!” Hana memotong ucapan Shiyoung dengan umpatan tak sabarnya, sedang langkahnya telah sampai di dalam gedung apartemen. Kakinya terus bergerak, bergerak sampai akhirnya ia mulai menaiki tangga. Apartemen Shiyoung berada di lantai dua.

 

“Bo-leh aku minta to-long padamu?”

 

Hana mengernyit heran dengan perubahan reaksi yang ditunjukkan Shiyoung. Biasanya, Shiyoung akan segera memotong umpatannya dengan kalimat lain. Tapi kali ini, gadis itu malah membiarkannya mengeluarkan umpatan sampai Hana puas. Tak hanya sampai di situ saja, suara Shiyoung terdengar aneh di telinganya.

 

“Boleh, kan?”

 

“Eoh, tentu saja. Katakanlah!” Hana mengabaikan firasatnya dan memutuskan untuk mendengarkan lebih lanjut apa yang akan Shiyoung ucapkan.

 

“Bisakah kau me-minta Kyungsoo untuk mencarikan nomer ponsel Park Chanyeol?”

 

Mau tak mau dahi Hana mengernyit. Senyum menggoda langsung menghias wajahnya begitu mendengar nama Park Chanyeol disebutkan. Mungkinkah keanehan Shiyoung karena masalah asmara dengan pria yang bernama Park Chanyeol itu? “Parrk… siapa? Park Chanyeol?” tanyanya, berpura-pura tak mengerti.

 

“Ka-lau sudah dapat langsung beritahu aku.”

 

Hana hanya bisa menghela napas mendengar respon yang Shiyoung berikan. Sungguh tak asik sekali. “Aish, kau memang membosankan. Tapi tenang saja. Aku pasti membantumu mendapatkan Park Chanyeolmu itu. Choi Shiyoung, fighting!”

 

Klik!

 

Sambungan telepon terputus sementara langkah Hana semakin mendekati apartemen Shiyoung. Sampai saat dimana ia berhadapan langsung dengan pintu bernomer 245, jari-jari tangan kananya dengan cekatan menekan beberapa digit angka yang sudah ia hafal luar kepala.

 

Cklek!

 

Hana bergegas masuk dengan wajahnya yang ceria. “SHIYOUNG-AH, SURPRISEEEE!! AKU DATANG UNTUK MASALAH ASMARAMU!” teriaknya dengan nada girang.

 

Hening.

 

“Shiyoung-ah, apa kau terlalu malu untuk mengakui kalau kau jatuh cinta untuk kedua kalinya?” Hana terus berjalan menyusuri apartemen Shiyoung, mencari keberadaan sahabatnya yang tak kunjung memberi jawaban. “Katakan saja kalau kau malu. Yah, itu wajar saja sih, mengingat kau hanya pernah pacaran satu kali seumur hidupmu. Hmm, katakan saja kalau kau pernah pacaran tiga kali. Apa susahnya–”

 

Cklek!

 

Jantung Hana seolah berhenti berdetak saat menemukan Shiyoung tergeletak lemah di lantai kamar.

 

“SHIYOUNG–AH!!”

 

 

Hana memberikan segelas air untuk Shiyoung minum tepat saat sahabatnya itu membuka mata. Dipandanginya Shiyoung dengan tatapan kosong setelahnya. Entah dari mana, rasa sesak itu muncul secara tiba-tiba begitu menyadari keadaan Shiyoung yang pucat dengan tubuh basah oleh keringat. Air matanya mulai menyeruak saat Shiyoung balik menatapnya dalam diam. “Sampai kapan kau akan merahasiakannya dariku?”

 

Shiyoung menghela napas. Melihat lembar hasil kesehatan yang berserakan di lantai membuatnya mengerti bahwa Hana sudah tahu keadaannya. Gadis itu menunduk, tak sanggup membalas tatapan sahabatnya.

 

Kajja, Shiyoung-ah! Kita ke rumah sakit sekarang!” Hana langsung berdiri, memegang lengan Shiyoung untuk membawanya pergi ke rumah sakit. Melihat Shiyoung yang diam membuatnya tak kuasa menahan isak tangis. “Kau baik-baik saja! Mereka pasti salah! Ayo kita ke rumah sakit lain!”

 

Shiyoung tak berkutik. Dibiarkannya Hana mengguncang lengannya, memaksanya untuk ikut ke rumah sakit. Sadar bahwa apa yang Hana lakukan adalah hal yang sia-sia. Sepenuhnya tahu bahwa diagnosa tentang penyakitnya tidak salah sama sekali. Rasa sakit yang ia rasakan tak bisa membantah kenyataan bahwa ia benar-benar menderita penyakit itu.

 

“Shiyoung-ah, kajja…!” suara Hana melemah, pun genggaman tangannya di lengan Shiyoung. Sedang tangisnya semakin menjadi. Ingin rasanya ia berteriak, kenapa dunia sangat kejam pada Choi Shiyoung sahabatnya. Tak cukup kehilangan orang tuanya, tinggal sendirian, dan sekarang malah harus kehilangan harapan untuk hidupnya? Tidakkah Tuhan tahu bahwa hidup Shiyoung terlalu menyedihkan untuk direnggut? Seharusnya Tuhan berbaik hati memberinya kebahagiaan! Bukannya memberi penyakit mengerikan seperti ini!

 

Shiyoung mengusap air matanya yang menyeruak keluar. Melihat Hana yang menangis dengan begitu keras di sampingnya membuat hatinya sesak. Ditepuknya tangan Hana beberapa kali, bermaksud menenangkan sahabatnya itu seraya berkata, “Aku baik-baik saja, Hana-ah.”

 

Hana terisak. Diusapnya kasar aliran air mata yang mengalir di pipi seraya memandang Shiyoung yang mencoba bersikap tegar di hadapannya. Pelan-pelan ia sadar, seharusnya ia lebih kuat daripada Shiyoung. Karena pasti, Shiyounglah yang paling menderita saat ini.

 

“Berhentilah menangis! Kau terlihat jelek sekali.” Shiyoung berucap pelan, membuat Hana berhambur memeluknya erat. Ia tak bisa berkata-kata lagi saat isak tangis Hana kembali terdengar, menyeretnya dalam rasa sesak yang begitu menyiksa.

 

“Kau bisa mengatakan semuanya dan berbagi denganku. Jangan menanggung semuanya sendirian!”

 

 

Mulanya, Chanyeol terkejut menerima pesan singkat dari Shiyoung yang memintanya bertemu di sebuah cafe, tepatnya di daerah Gangnam. Ia tak tahu apa maksud sebenarnya dari ajakan pertemuan itu, karena Shiyoung bukan tipe orang yang berinisiatif lebih dulu. Gadis itu cenderung lebih sering menerima ajakan daripada mengajak lebih dulu. Namun Chanyeol tak mau ambil pusing dengan itu semua. Karena sejak pertemuan terakhirnya dengan Shiyoung, ia memutuskan untuk melupakan semuanya meski terasa sulit.

 

Shiyoung yang Chanyeol kenal merupakan pribadi yang sangat tepat waktu. Saat mereka masih bersama, ada saat dimana Chanyeol harus rela ditinggalkan sendirian oleh gadis itu karena keterlambatannya dari janji temu mereka. Terlambat lima menit saja dari janji temu, bisa dipastikan kalau Shiyoung sudah menghilang dari tempat pertemuan karena menganggap Chanyeol tak akan datang.

 

Namun kali ini berbeda. Chanyeol rasa gadis itu sudah banyak berubah. Karena Shiyoung masih ada di sana, di cafe tempat seharusnya mereka bertemu, meski ia sudah terlambat selama 30 menit. Ya, sebenarnya Chanyeol sudah sampai lebih awal dari waktu janji temu, hanya saja ia memilih untuk datang terlambat dan mengawasi gerak gerik Shiyoung dari jauh.

 

Dari kaca mobil yang terparkir tepat di depan cafe, Chanyeol bisa melihat dengan jelas Shiyoung yang duduk di dekat jendela dengan cangkir teh di atas mejanya. Sedari tadi gadis itu hanya diam, tak terlihat kebosanan atau semacamnya. Pandangannya pun hanya sebatas melihat cangkir teh dan memandang lurus, tak terlihat seperti tengah menunggu kedatangannya.

 

Dahi Chanyeol mengernyit saat melihat Shiyoung tiba-tiba bergerak cepat mencari sesuatu dari dalam tasnya. Terlihat panik bahkan saat telah menemukan apa yang ia cari. Sebuah bungkusan berukuran 3×4 cm yang bisa Chanyeol simpulkan sebagai obat.

 

Obat?

 

Mungkinkah obat untuk ibu hamil?

 

Ah, sudahlah! Tak ada gunanya memikirkan tentang kehamilan Shiyoung untuk saat ini. Menyadarinya membuat Chanyeol kembali fokus memperhatikan. Dilihatnya gadis itu kini telah mengeluarkan obat tersebut dan bersiap menelannya sebelum seseorang datang dan membuat obat di tangan gadis itu terjatuh.

 

Chanyeol menyipitkan mata untuk memastikan siapa yang telah membuat Shiyoung terkejut hingga sanggup membuat gadis itu menjatuhkan obatnya. Tu- tunggu! Bukankah itu Jang Nari?!

 

Oh, tidak!

 

Entah dorongan apa yang membuat Chanyeol langsung keluar dari dalam mobil dan berlari menuju cafe saat tahu bahwa Jang Nari yang mendatangi Shiyoung. Ia hanya khawatir Shiyoung akan tersudut atau semacamnya dengan kehadiran Jang Nari yang merupakan rival gadis itu di masa SMA.

 

“Huh… huh… huh…” Chanyeol berusaha menetralkan napasnya yang tak beraturan setelah berlari secepat yang ia bisa menuju tempat Shiyoung berada. Tak dipedulikannya tatapan penuh tanya dari dua sosok di hadapannya saat ini –Siyoung dan Nari. Pria itu malah mendudukkan diri di hadapan Shiyoung dengan satu helaan napas panjang. “Maaf aku terlambat, Youngie-ah.”

 

“Oh, jadi kalian punya janji bersama ya.” Nari berkomentar pendek.

 

“Begitulah. Kau sendiri sedang apa di sini, Jang Nari?” Chanyeol mengambil alih pembicaraan dengan membalas perkataan Nari.

 

“Aku ke sini untuk makan siang.” Nari memperlihatkan sanwich dan segelas minuman yang telah ia pesan. “Kupikir akan menyenangkan makan siang dengan Shiyoung saat aku melihatnya sendiri di sini. Ternyata kau datang.” Nari menjelaskan.

 

Chanyeol mengeluarkan cengiran khasnya. “Yeah, kuharap kau tak mengganggu kebersamaan kami,” ucapnya dengan nada jenaka.

 

Nari mendengus, lantas berkata dengan nada culas, “Aku tahu hal itu, Park Chanyeol. Kau tak perlu mengingatkanku.” Nari menghela napas sejenak sebelum akhirnya pamit pergi. “Kalau begitu aku permisi. Semoga kebersamaan kalian menyenangkan.”

 

“Tentu. Aku akan berusaha keras mewujudkannya,” balas Chanyeol yang langsung disambut dengan senyum menggoda oleh Jang Nari. Pria itu menghela napas lega saat dilihatnya Nari berbalik dan meninggalkan mereka berdua dengan tenang.

 

Shiyoung menatap Chanyeol lekat setelah sebelumnya hanya bertindak sebagai penonton adegan antara Nari dan pria itu. Beberapa pertanyaan muncul seiring dengan senyum Chanyeol yang merekah setelah kepergian Jang Nari.

 

“Sepertinya api di antara kalian berdua sudah padam.” Chanyeol berkomentar pendek seraya memperhatikan buku menu yang ada di hadapannya.

 

“Kenapa kau melakukannya? Bukankah sudah kubilang bahwa kau tak perlu bersandiwara lagi?”

 

Chanyeol mendongak, melihat Shiyoung yang menatapnya keberatan. “Hmm, yaaah. Anggap saja sebagai bonus. Kau mau pesan apa?” katanya mengalihkan pembicaraan. Karena sejujurnya Chanyeol tak tahu persis alasan mengapa ia repot-repot bersandiwara.

 

Shiyoung diam. Namun sesaat kemudian, ia beranjak berdiri. “Aku ke toilet dulu,” ucapnya refleks seraya pergi membawa tasnya dengan langkah tergesa.

 

Chanyeol menghela napas lega. Bersyukur karena setidaknya ia terbebas dari pertanyaan Shiyoung yang mengintimidasi. Di detik ke 3 setelah kepergian Shiyoung ke toilet, secara tak sengaja retinanya menangkap bayangan benda berbentuk bulat yang terletak tepat di ujung sepatunya saat ia tengah menunduk barusan. Tangannya bergerak untuk mengambil benda yang ternyata adalah sebuah obat tersebut. Pasti obat yang Shiyoung jatuhkan saat ada Jang Nari tadi. Rasa penasaran mulai muncul saat obat tersebut sudah ada di atas tangannya. Apakah obat ini semacam nutrisi untuk ibu hamil? Kalau benar begitu, siapa sebenarnya orang yang telah membuat Shiyoung harus menelannya? Apakah–

 

“Maaf membuatmu menunggu.”

 

Suara Shiyoung yang muncul tiba-tiba refleks membuat Chanyeol mendongak sembari memasukkan obat di tangan ke dalam saku kemejanya. “Oh, tidak apa-apa,” ucapnya sembari tersenyum. Dalam hati merasa bersalah karena dengan sengaja membuat Shiyoung menunggu sementara gadis itu langsung minta maaf dengan alasan membuatnya menunggu yang bahkan tak lebih dari 7 menit. “Kau mau pesan apa?” tanyanya sembari memusatkan perhatian pada buku menu.

 

“Sepertinya kau salah paham.”

 

Chanyeol mendongak, menatap Shiyoung penuh tanya.

 

“Aku mengajakmu ke sini bukan untuk makan.”

 

Chanyeol tertohok. Dalam situasi normal, seharusnya ia bersorak karena Shiyoung bisa memutar balikkan perasaannya dalam sekejap. Dari rasa kesal, panik, senang, lalu kembali lagi ke rasa kesal.

 

“Tentang 15 tahun yang lalu. Alasan kenapa aku memutus hubungan denganmu.”

 

Chanyeol terdiam. Terhenyak dengan kalimat yang Shiyoung ucapkan. Rasa khawatir tiba-tiba muncul tanpa diminta, membuat perasaannya campur aduk seketika.

 

Shiyoung menarik napas, lalu berkata dengan nada tenang, “Aku tak bisa berhubungan dengan orang yang menyebabkan kematian orang tuaku.”

 

 

TBC

 

Hai… setelah melihat respon kalian di chap sebelumnya, seneng rasanya masih banyak yang berminat pada ff ini meski udh sekian lama nggak aku update. Makasih banyak ya, kalian tetap bersedia membaca meski udh agak lupa sama cerita sebelumnya. maaf nggak bisa bales komennya satu-satu.

Sejujurnya aku agak bosan dengan cerita ini karena –yeah, unsur angst-nya terlalu banyak dan mungkin akan lebih banyak lagi di chap2 berikutnya, sedangkan sebelumnya ff berchapterku juga mengandung unsur yang sama. hehee. Tapi gpp sih, aku tetep ngelanjutin aja. ^-^

Ok, sekali lagi makasih buat readers lama yang masih setia sama ff ini. Untuk readers baru, selamat datang, semoga terhibur dan semoga betah ya. Hahahaa

 

Salam hangat,

Kee-Rhopy_^^

95 responses to “Emergency Husband Service (Chapter 4) – Kee-Rhopy

  1. Hubungan kematian ortunya Shiyoung sama Chanyeol apa authornim?
    Bikin tambah penasaran deh.

    Obatnya pasti bakalan diselidiki Chanyeol deh

  2. Duh Kasihan Shinyoung Dan Chanyeol. Sama-sama menderita padahal saling mencintai.
    Next chapternya ya Thor.
    Chanyeol lambat laun akan mengetahui Shinyoung menderita Kanker

  3. Hah????!!!! Ternyata Shinyoung kena kanker???aku pikir dia hamil… aduh salah besar nih dugaanku.. emg apa yg terjadi dg keluarga shinyoung yh???

  4. Pertama mianhae aku baca ff ini langsung dari chap 1-4 tanpa komentar satu-satu…😊
    Jadi ff ini punya banyak rahasia, jadi penasaran, jd suka, tapi aku belum bisa ngerti karakter chanyeol gimana??
    Pasti nanti terjawab di chap selanjutnya dan selanjutnya kan author. So keep writing, i`ll be waiting. fighting!😉

  5. Sebenernya sih udh baca dr chapt. 1-4 tp baru komen disini, mian.
    Kematian org tua shinyoung disebabkan oleh Chanyeol? Wae?
    Awalnya kukira Shinyoung hamil gitu, eh tau nya kanker. Chanyeol pasti sedih bgt dah klo tau.
    Aku suka karakter Chanyeol dan Shinyoung disini

  6. Huaahh.. TBC nya gantung banget.. jd makin penasaran dengan kata2 shiyoung, apa benar chanyeol penyebab org tuanya meninggal… kok bisa.. kenapa…
    Tuuhh kan jd penasaran..

    Sdh ku duga kalo shiyoung itu bkn hamil, ternyata dia sakit kanker
    Hmm.. hidup nya d vonis 3-6bln, akan kah shiyoung nanti beneran mati..
    Bakalan sad ending nih…
    Hmm.. sedih..sedih..sedih..

  7. Yah tegang deh baca part ini… N surprisenya shinyoung bilang g bsa pacaran sma org yg nyebab in ortunya mninggal?? Kok bisa? Knpa chanyeol jdi pnyebabnya? Jgn bosen buat lnjutin chapter2 slnjutnya ya thor. Suka loh sma ceritanya

  8. What? Kok bisa chanyeol penyebab kematian orangtua young? Woah… Hoiya lupa gua kalo doi sakit kanker bukan hamil ekwkwk… Ditunggu kelanjutannya ^^

  9. Hai Kee Rhopy..seneng deh bisa baca ff kamu lg,but sorry baru comen skarang,btw makin ppnasaran aja lanjutan ffnya,ditunggu ya next chaptnya,smangat terus….

  10. Jadi shiyoung itu sakit kanker bukan hamil??? Kasian bgt sihh dia..
    Btw maksud dari “Aku tak bisa berhubungan dengan orang yang menyebabkan kematian orang tuaku.” apa?? Chanyeol bunuh ortu nya shiyoung? Ah masa sih

  11. aww thorr aku gk bosan loh ama nih ff. Baru baca nih langsung semua chapter, sumpahh dapet feelnya beut. Cepet² next chap ya thor!! Shinyoung jangan mati donk,

    next chap will wait it!!!
    saranghae thor ❤

  12. Jadi shiyoung itu nggak hamil tapi malah sakit parah…
    Dan juga alasan dia putus sama chanyeol karena kematian orang tunaya gitu?
    Btw maaf ya kau baru comment sekaranag soalnya tadi aku langsung baca dari part 1 sama part 4 hehehehe

  13. Aaaaa!!! Lanjut thor! Makin penasaran laaa ..
    Emngnya orang tua shiyoung meninggal knp?
    Trus knp shiyoung harus kanker stadium 4? Please thor, jgn buat sad ending….😢😢

  14. Kanker ? Kasiaaan
    Aku sih mmg nebak kalo dia sakit, tp gak sampek separah kanker lambung gt

    Chan penyebab ortu shiyoung meninggal ?
    Wae ?
    End nya gntung bgt
    Ditunggu next chap nya ya thor🙂

  15. jadi shinyoung kena kanker lambung?aduuuh kasian itu yaampun 😭 chanyeol yang menyebabkan orang tuanya Shinyoung meninggal? aduuh jadi gak sabar sama lanjutannya 😂 ditunggu lanjutannya kaak

  16. lhoooo… sakit bnerann??? omo eottokhae..
    chanyeol berhubungan dgn kmatian kdua orgtuanya?? aduuuhhh penasaran sumpah..
    dr part 3 udah bkin baper.. skrang tmbah pnasaran.. keren keren..
    keep writing ^^

  17. Nahlo kan. Shiyeong emang gabisa disembuhin lagi? Sedih kann. Trus chanyeol hubungannya apa sama kematian orang tua shiyeong. Keep writing kakk

  18. jadi bener kan shiyoung punya penyakit parah, tapi kenapa harus stadium 4 kn kasian😦
    emang bener ortu shiyoung meninggal karna chanyeol ?emang di apain sama chanyeol ? di tabrak kah ? atau di bunuh ?

  19. Ap yg dilakukan chanyeol smpai ortu nya shinyoung mninggal???
    Jd shinyoung sakit,,, ini bkan sad endig kan author????
    Next chap,,, fighting,,,!

  20. sedih banget waktu hana tau penyakit shiyoung. jadi secara tidak langsung yg di katakan shiyoung chanyeol yg menyebabkan orang tua shiyoung meninggal gitu ?

  21. Ada hubungan apa ya antara kematian orang tua shiyoung sama chanyeol? Kasian banget nasibnya shiyoung. Tapi untungnya ada sahabat yang bisa selalu jadi penguat dia buat jalanin hidup. Kira’in awalnya mereka putus karena penyakitnya shiyoung

  22. baru online dan menemukan kalo ini udah sampai chapter 6???
    woahhhhh apa saja yg sudah aku tinggalkan disini?? TT.TT
    ya ampun apa yg sudah chanyeol lakukan dimasa lalu??? terus ternyata shinyoung sakit >.<

  23. Oke Shinyoung ternyata sakit parah, dan pertanyaan baru muncul. Kematian orang ruanya apa gubungannya sama Chanyeol?

  24. Oooh jadi… trnyata dugaan chanyeol yg berfikir shiyoung hamil itu salah…. penyakitnya shiyoung bner2 parah.. apakah shiyoung bkalan mati???

  25. Oh God, kenapa aku mencium aroma sad ending di sini? Oh, daebak, Kee-Rhophy, terima kasih telah membuat Shiyoung hanya kanker lambung. Setidaknya, dia nggak hamil dan bikin runyam masalahnya sama Chanyeol dan tunggu Chanyeol bukan kriminal’kan? Oh ya, Kee-Rhophy, maaf telat ngenalin diri. Aku yerisa07 alias wam365, aku reader baru di wp ini. Salken, ya

  26. yah kak
    emng kenapa kok orang tua choi shinyoung bisa meninggal di tangan ayah chanyeol?
    ya ampun
    kenapa harus ayah chanyeol?
    duh
    jadi makin penasaran kak
    dan oh ternyata dia nggak hamil tapi OMG dia kena kanker stadium akhir?
    wow
    speechless kak

  27. Emang apa penyebab shinyoung kanker 15 tahun bukan waktu yg singkat sih maka nya shinyoung nolak chanyeol tapi alasan gak sejalan

  28. jadi… chanyeol ada hub.nya sma kmatian ortu shiyoung? pantes… oh my…. aku pikir krena apa… smakin rumit aja dan asik >o< Keep writing and hwaiting juseyo~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s