The Naked Truth: The Man From The Past

The Naked Truth krys fix copy

By: Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com)

Previous: PrologMournfulThe Girl From The Past

Aku mendiami sebuah apartemen murah di pinggir kota Seoul. Aku juga mendapatkan pekerjaan sebagai kasir di toko roti depan rumah sakit Hanyang. Aku harus bertahan hidup di kota ini, agar bisa memenuhi tujuan awalku datang kemari.

Sebenarnya, diriku tidak perlu bersusah payah. Separuh kekayaan Sehun diberikan kepadaku, hadiah darinya atas tiga tahun pernikahan kami. Sehun juga rutin mengirimkan biaya hidup untukku. Akan tetapi, aku harus mandiri. Kebaikannya sudah terlalu banyak, hingga membuatku semakin tercekik rasa bersalah. Meskipun Sehun berdusta kepadaku, tetap saja dirinya memiliki ribuan ketulusan yang masih tersisa. Ketulusan yang dulu belum sempat aku sadari sebab diriku masih terjebak dalam cinta yang lalu.

Aku sibuk mengotak-atik mesin hitung, saat pertemuanku dengan si Pria masa lalu. Setelah sekian lama dia mencariku. Penantiannya berujung di sebuah toko roti. Lucu sekali.

“Apa Anda ingin pesan sesuatu?” Tanyaku sopan.

“Jung Nara.” Suara bariton yang pernah menjungkirkan masa mudaku mengalun sebagai bentuk sapaan.

Aku lantas mengamati baik-baik, pria yang mengenakan topi itu, menutupi setengah rupanya. “Park Chanyeol,” simpulku, terkejut. Aku bahkan perlu berpegangan pada nakas agar tidak limbung.

Chanyeol tertawa pelan. Ia meraup parasnya. “Kau di sini. Summer yang memberitahuku.” Ia mengatur napas. “Bisa kita bicara?” Chanyeol memohon.

Aku mengigit bibir. Ada kegamangan. Setelah pikiranku mulai melepaskan beberapa argumen, akhirnya aku setuju. Takdir sudah mendorongku bertemu dengannya. Aku harus menyelesaikan apa yang belum usai.

“Baiklah, setelah ini shift kerjaku berakhir. Apa kau mau menunggu tiga puluh menit?”

Chanyeol menjungkitkan bibir, ia enggan menyembunyikan kebahagian yang tersurat jelas. “Hanya tiga puluh menit, setelah bertahun-tahun. Oke, Jung Nara.” Ucapnya gamblang.

Aku merasakan tatapan Chanyeol enggan enyah dariku. Terpatri di parasnya, perasaan lega yang kentara. Senyumnya masih selebar biasanya. Rahangnya tegas, surainya hitam legam, tidak ada yang berubah. Kecuali perasaan kasih meletup-letup yang dulu pernah aku rasakan ketika bertemu dengannya, kini sudah tiada.

Jantungku tidak lagi berdetak kencang.

Pipi ini juga enggan merona. Hanya lengkungan bibir simpul sebagai basa-basi kuberikan kepadanya.

“Bagaimana kabarmu?” Chanyeol membuka obrolan. Ia duduk di hadapanku. Kami masih berada di toko roti tempatku bekerja, memilih bangku di ujung ruangan yang langsung bersisihan dengan jendela.

Aku meremas jariku yang bertautan sebelum menjawab. “Tidak begitu baik.”

Chanyeol mengangguk. “Seharusnya, memang seperti itu.” Ia memberikan jeda, lalu mengungkit topik selanjutnya. “Aku sempat mencarimu.” Ujarnya sembari menghela napas.

“Summer bercerita mengenai hal itu.” Aku menimpali.

“Aku menemukanmu bahagia bersama Sehun. Kalian akan punya bayi.”

“Iya, semestinya seperti itu,” ujarku.

Chanyeol menunduk, ia memberikan pandangan sedih. “Beberapa waktu setelah pencarian itu, Sehun menghubungiku. Dia memberitahukan jika dirinya berpisah denganmu.” Chanyeol melejitkan bahu. “Seharusnya, aku bahagia mendengar perceraian kalian. Aku masih mencintaimu Nara. Namun, melihat Sehun hancur saat itu, tak ada kesenangan yang bisa aku rasakan. Bagaimana pun, dia kawanku. Kau juga sahabat terbaikku.”

Aku menengang di tempat duduk. Sehun hancur? Benarkah?

Sehun sangat membenciku. Dia hancur karena tidak bisa lagi menyimpan kemurkaannya kepadaku. Aku yakin keadaannya seperti itu.

“Dia membenciku.” Aku menanggapi, ada duka dalam kalimat itu.

Chanyeol tertawa sengau. “Sehun ingin membencimu, tetapi tidak bisa.”

“Kau tahu segala hal mengenainya.”

Chanyeol mengangguk. “Dia juga bekerja di rumah sakit yang sama denganku.” Tegas Chanyeol.

“Apa dia benar-benar akan menikah?” tanyaku, gusar. Tatapan ini bersirobok dengan manik Chanyeol, mencoba untuk menyelami apa yang sesungguhnya pria itu pikirkan. “Maksudku―“

“―Iya, dia akan menikah. Gadis yang akan bersamanya itu, bekerja di tempat yang sama denganku.” Potong Chanyeol, segera. “Apa kau mulai mencintainya?” tanya pria itu, sebelum aku membuka bibir.

Hatiku segera mengiyakan, akan tetapi suaraku justru enggan. Hanya kesenyapan yang menjadi jawaban. Aku membuang muka, berharap bisa menghilang atau mengalihkan perhatian.

“Kau mencintai Sehun.” Simpul Chanyeol pada akhirnya, setelah tak menerima secuil kata pun dariku. Pria itu menghela napas kasar. “Rautmu menceritakan segalanya, Nara. Kau sangat mencintai Sehun. Lalu, kenapa melepaskannya?” Lanjut Chanyeol.

“Aku dulu tidak bisa melupakanmu.” Kini jawaban itu meluncur dengan cepat. Benakku sudah mantap, menggolongkan Chanyeol sebagai kenangan.

“Kau selalu begitu, Jung Nara. Kau terlambat menyadari segalanya.” Bisik Chanyeol, pria itu mengulurkan tangannya, meremas lembut jari-jariku. “Anggap saja ini hadiah terakhir dariku. Aku akan membantumu bertemu dengan Sehun.” Ujar Chanyeol, lembut.

“Park Chanyeol, terima kasih.” Ujarku penuh ketulusan.

Pria itu memainkan senyum di ujung bibirnya, membentuk raut yang menawan. “Aku dulu pernah mencintaimu karena itu aku ingin melihatmu bahagia.” Kata Chanyeol, lantas mendapatkan beragam penghargaan dariku.

-oOo-

Part selanjutnya:

The Naked Truth: Hapily Ever After

6 responses to “The Naked Truth: The Man From The Past

  1. entahlah aku harus memihak siapa, sehun ataukah chanyeol??
    dua-duanya baik kalo kata aku hmm ceritanya makin bagus ajaa<3
    lanjutkan~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s