One More Time [Chapter 5] – By Sebie

one moretime

|Title: One More Time (Chapter 5)|

|Author : Sebie (@RandikaOh)|

|Main Cast: |

|Nam Yoora(OC/You)|

|Byun BaekHyun (EXO K)|

| Kim Seok Jin (BTS) |

|Other cast : |

|Kim Jaehyun (Jin’s Brother)|

|Byun Sena (Baekhyun’s sister)|

|Oh Sehun (EXO K)|

|Ahn Minji (OC)|

|Lu Han |

|Length : Chapter|

|Genere : Romance, little bit angst|

|Rating : PG-17 |

|Disclaimber : ini ff ku hasil pemikiran saya sendiri. Don’t be siders,, don’t be palgiator. Please Leave your comment after read. Siders dilarang keras membaca ceritaku! |

|Pervious Chapter : Prolog | Chapter1 | Chapter 2 |  Chapter 3 | Chapter 4 | Side Story |

           

Happy reading!!

Baekhyun baru saja kembali, ia masih mengembangkan senyumnya mengingat hal yang tadi ia lakukan. Baekhyun kembali memikirkan hal-hal terakhir yang ia lakukan tadi bersama Yoora. Melihat gadis itu tidur di bahunya membuat Baekhyun tidak ingin berhenti tersenyum. Baru saja ia menginjakkan kakinya di ruang keluarga ia melihat ibunya yang tengah tersenyum penuh arti padanya.

“Baekhyun?”

Wanita paruh baya ini memanggil putranya dengan senyuman yang masih mengembang. Bisa dibilang ia merasa bahagia karena hubungan Baekhyun dan Yoora yang terus berkembang.

Baekhyun menoleh kepada ibunya, ia melihat ibunya mulai berjalan menghampiri dirinya dengan tidak sabaran. Ia dapat melihat senyuman di bibir ibunya yang tidak berhenti berkembang. Baekhyun tau ibunya pasti merasa sangat puas dengan hubungan Baekhyun dan Yoora saat ini.

“Ya, ada apa bu?”

“Kau tau siapa yang baru saja menghubungi ibu?”

Baekhyun mengerutkan dahinya. Ia tak tau kemana arah pembicaraan ibunya, Baekhyun pikir ibunya akan bertanya kenapa dirinya pulang hingga larut malam. Justru sebaliknya saat ini ibunya mengatakan sesuatu yang membuat ia menautkan alis dan bertanya-tanya.

“Tidak, aku tidak tau”

“Baru saja ibu Yoora menelpon ibu, dan kau tau ibunya memintamu untuk menjaga Yoora, ya maksudnya untuk tinggal satu rumah dengan Yoora”

Ibu Baekhyun terlihat berbinar-binar ketika menyampaikan pesan ibu Yoora pada anaknya. Menurutnya ini akan membuat Baekhyun dan Yoora semakin dekat dan tidak ada alasan untuk menunda pernikahan mereka nantinya.

“Satu rumah dengan Yoora? Tapi kenapa aku harus menjaganya? Ibu, satu rumah dengannya disaat ini itu tidak bagus”

Senang rasanya mendengar apa yang ibunya katakan namun untuk apa dirinya tinggal se-atap dengan gadis itu, bukankah itu akan membuat tetangga mereka mempergunjingkan jika ada laki-laki dan perempuan yang belum mempunyai hubungan yang sah tinggal satu atap.

“Tentu saja karena Yoora adalah anak tunggal. Ibu Yoora hanya khawatir tentang keadaan Yoora. Lagi pula kaliankan sudah bertunangan anggap saja ini untuk mengakrabkan kalian. Apanya yang tidak bagus? Ayolah Baekhyun kau bukan anak pembangkang pada ibu sayang. Dengar, kalian sudah bertunangan dan tidak ada alasan yang tidak bagus untuk kalian tinggal satu atap”

Baekhyun menghela napasnya pelan, sejujurnya ia bukan bermaksud membangkang hanya saja tinggal satu atap dengan Yoora tidakkah itu artinya ia akan melihat Yoora setiap pagi, dan mengetahui aktifitas gadis itu seharian. Ini bisa membuat Baekhyun gila, hanya memikirkan Yoora saja membuat dia gila bagaimana jika mereka tinggal dalam satu rumah.

“Ayolah Baekhyun, tidak ada yang perlu di pikirkan lagi. Lagi pula kalian akan menikah sebentar lagi. Bukankah ini permulaan yang bagus untuk kalian? Setidaknya untuk membiasakan diri”

Baekhyun mengangguk mengerti. Diam-diam Baekhyun memikirkan perkataan ibunya tadi. Menikah dengan Yoora untuk jangka dekat ini? Baekhyun rasa itu tidak akan terjadi mengingat Yoora masih membagi-bagi perasaannya.

Baekhyun ingat perkataan Yoora saat menceritakan Hyungwon. Gadis itu menyebutkan bahwa ia sangat mencintai Hyungwon, dan Baekhyun tau Yoora masih menyimpan perasaan itu di hatinya. Baekhyun menghela napas kasar.

“Ibu?”

“Iya? Kenapa Baek?”

“Jangan adakan pernikahan apapun antara aku dan Yoora sebelum kami yang memutuskan”

“Tapi sayang, kau sebentar lagi akan lulus kuliah, begitu pula Yoora, itu akan jadi saat yang tepat kalian untuk menikah. Setelah itu kalian akan sama-sama menjalankan perusahaan. Tidak kah itu terdengar bagus?”

“Ibu, aku mohon, kali ini hargai apa yang aku minta, dan aku yakin Yoora akan setuju dengan pendapatku. Saat aku dan Yoora sudah siap kami pasti akan mengikuti rencana yang sudah ibu siapkan”

Ibu Baekhyun hanya menghela napas pelan, tidak ada gunanya berdebat dengan Baekhyun saat ini. toh sekarang Yoora dan Baekhyun terlihat baik dan tidak ada masalah. Ibu Baekhyun hanya mengangguk dan kembali duduk di sofa ruang keluarga.

Baekhyun membalikan badannya. Ia butuh istirahat saat ini, ia berjalan ke arah kamarnya dengan pikiran yang masih berputar-putar tentang dirinya yang akan tinggal bersama Yoora.

_oOo_

 

Yoora baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat pantulan dirinya di cermin, Yoora masih mengenakan handuk yang terlilit di tubuh mungilnya. Ia memperhatikan bercak kemerahan yang masih melekat di sekitar kulit lehernya. Mungkin ia masih bisa memaklumi jika bekas kemarahan itu hanya dua ataupun tiga tapi ini lebih dari tiga.

Wajah Yoora memerah mengingat Baekhyun mengigit kulit lehernya. Kejadian malam tadi mulai terputar di kepalanya, ia masih mengingat betul bagaimana Baekhyun menciumnya dengan liar dan membuat tanda kepemilikan lelaki itu. Yoora mendesah pelan mengingat semuanya, sebisa mungkin ia melupakan kejadian itu, namun seolah bekas kemerahan itu tak akan membiarkannya melupakan hal yang pernah ia lakukan dengan Baekhyun.

Yoora duduk di depan meja riasnya dan mendesah pelan. Mengingat kejadian tadi malam membuat dirinya sedikit frustasi. Bagaimana ia bisa menceritakan semuanya pada Baekhyun dan lagi Yoora memeluk Baekhyun dengan sangat erat, dan meminta laki-laki itu untuk tidak meninggalkannya

“Kenapa aku harus lepas kontrol”

Yoora, mengeluarkan bingkai kecil dari laci meja riasnya. Bibirnya mengulas senyum samar, tapi matanya mulai memerah menatap foto tersebut. Fotonya bersama Hyungwon, foto saat Hyungwon menggenggam erat tangannya dan menatap kedua mata Yoora.

“Aku merindukanmu Hyungwon”

Yoora memluk bingkai foto itu dengan haati-hati. Air matanya membasahi pipinya, Yoora masih ingat bagaimana dulu saat ia hampir gila karena Hyungwon yang tidak sadarkan diri. Tapi saat ini Yoora sudah jauh lebih baik, ibunya memberi perintah pada Yoora agar tidak mengunjungi Hyungwon terus menerus. Hingga akhirnya sekarang Yoora tidak lagi mengunjungi Hyungwon meskipun dia ingin, tapi dia tidak bisa. Yoora kembali meletakan bingkai foto di laci.  Gadis ini berdiri dan menghapus air matanya dengan kasar.

Yoora mendesah pelan ia mulai membuka almarinya. Saat ini yang harus pikirkan adalah untuk pergi ke kampus tanpa memperlihatkan bercak kemerahan di lehernya. Seingatnya terakhir kali ia menggunakan syal saat ia terkena flu beberapa bulan yang lalu. Yoora membongkar-bongkar isi almarinya dengan tergesa-gesa. Untungnya syal itu masih tersimpan di tumpukan bajunya yang paling bawah.

Risih rasanya menggunakan syal ini tapi tak ada salahnya menggunakan ini, toh hari ini kondisi badannya juga kurang baik. Bunyi klakson mobil mulai terdengar di luar rumahnya. Iya mulai melihat keluar jendela. Sudah ada mobil ferari hitam yang terparkir di depan rumahnya. Yoora segera mengambil tas dan jaketnya untuk segera keluar dari kamar.

Saat Yoora turun dari lantai atas ia sedikit terkejut mendapati Baekhyun yang sudah menunggunya di ruang tamu. Lelaki itu duduk dan memperhatikannya  Yoora yang menuruni anak tangga satu persatu.

Barkhyun tersenyum saat mendapati tunangannya menuruni anak tangga dengan hati-hati. Gadis itu menggunakan syal berwarna putih tulang membuat gadis itu terkesan manis, walaupun hanya dengan pakaian sederhana. Yang menjadi pusat perhatian Baekhyun saat ini adalah leher Yoora yang tertutup syal. Ia mulai tersenyum kecil mengingat bekas kemerahan yang ia buat. Semua itu adalah ulahnya dan Baekhyun sangat menyukai bekas itu.

“Kau sudah siap?”

“Ya”

“Yoora, Aku ingin bicara, ada sesuatu hal penting”

Yoora menautkan kedua alisnya.Baekhyun mengatakan dengan begitu tiba-tiba dan membuat Yoora sedikit kebingunga.  Apa sesuatu yang harus mereka bicarakan seingatnya tidak ada hal serius yang perlu mereka bicarakan.

“Apa?”

Ada sesutu yang tidak Yoora perhatikan. Koper besar yang tepat berada di sebelah Baekhyun. Yoora mengalihkan pandangannya pada koper itu. Pikirannya mulai menerka-nerka hal yang akan Baekhyun bicarakan. Ia mulai menghubungkan barang yang di bawa Baekhyun dan perkataan lelaki itu beberpa saat lalu.

Pikirnya, mungkinkah Baekhyun akan pergi untuk beberapa saat? Atau malah Baekhyun akan mengatakan bahwa lelaki itu akan menetap di negara lain? Tidak, itu tidak mungkin secara otomatis jika Baekhyun menetap di negara lain bisa saja pertunangan mereka batal.

“Aku akan tinggal disini”

Yoora kembali menautkan kedua alisnya, beberapa kali ia mengecek pendengarannya. Yoora rasa pendengarannya sedang mengalami masalah saat ini. sangat tidak mungkin bagi mereka tinggal satu atap, Baekhyun mempunyai rumah sendiri. Tapi yang justru Yoora lakukan saat ini ia mulai mengeraskan rahangnya, matanya membulat. Ia terkejut dengan apa yang Baekhyun katakan.

“Apa maksudmu? Kau punya rumah Baek”

“Ibumu yang memintaku untuk tinggal disini. Ya, untuk sekedar menjagamu”

Yoora menghembuskan napasnya kasar, pantas tadi pagi ia mendapati beberapa panggilan yang tidak terjawab dair ibunya. Ia hanya mengangguk mengerti, Yoora tak perlu merasa terkejut untuk perihal itu. Ia cukup tau bagaimana ibunya selalu mengatur hidupnya semau ibunya. Senadainya ia mampu menolak apa yang ibunya mau, namun sayangnya gadis ini tak bisa menolak apapun yang ibunya inginkan. Setiap ia menolak ibunya akan selalu mengatakan ‘ini demi kebaikanmu’.

“Letakkan saja kopermu disini. Nanti setelah pulang dari kuliah akan ku bantu mengemasinya. Aku tak ingin terlambat mengikuti jam pertama pelajaran Mrs. Jessy kau taukan dia bisa saja memberikan tugas setumpuk gunung untuk mengganti keterlambatan yang kita lakukan”

Baekhyun mengangguk, ia tak pernah tau jika gadis yang sangat jarang berbicara itu mampu mengeluhkan betapa menyebalkannya dosen mata kuliah Ekonomi mereka.

Baekhyun tersenyum kecil melihat punggung Yoora yang semakin menjauh. Yoora berjalan mendahuluinya. Sekilas tadi Baekhyun mampu melihat dimata gadis itu ada rasa malu yang begitu terlihat. Bahkan pipi Yoora yang merona membuat gadis itu semakin manis di mata Baekhyun.

Yoora mempercepat langkahnya. Ia tau sedari tadi Baekhyun tidak bisa lepas dari lehernya. Yoora tidak suka cara Baekhyun menaap lehernya seolah membuat Yoora harus mengingat apa yang terjadi semalam.

“Baek, emm bisa tidak kau tidak melihat leherku?”

“Hah?” Baekhyun tampak seperti maling yang baru saja tertangkap. Tentu saja, ia tertangkap basah sedang menatap leher Yoora yang terbalut syal saat ini.

“Aku tau kau dari tadi menatap pada leherku. Bisakah kau berhenti menatap leherku. Itu sangat menggangguku”

Baekhyun hanya menganguk pelan. Ia berjalan menahului Yoora agar ia tidak terfokus lagi pada leher Yoora.

Lega rasanya Baekhyun tidak menatap lehernya lagi. Yoora cukup sadar tadi saat Baekhyun terus memandangi kearah syalnya. Yoora benci ini. Pipinya yang merona karena ulah Baekhyun, ini masih pagi tapi ia sudah merona. Ini sangat tidak nyaman bagi Yoora.

Seperti biasa Yoora berangkat bersama Baekhyun. Kali ini Yoora mengenakan sabuk pengamannya sendiri tidak seperti kemarin Baekhyun membantu mengenakan sabuk pengamannya.

Pikiran Yoor tidak bisa berhenti menerka apa yang ibunya mau. Sejak ia mengenal Baekhyun begitu banyak hal mendadak yang tidak pernah Yoora duga. Pertunangan yang sudah diatur dengan sempurna, tiket liburan ke Jepang sampai tinggal satu atap dengan Baekhyun. Yoora bahkan tidak pernah membayangkan hal ini.

Menjalani hidup sebagai dirinya tidaklah mudah. Semua jalan kehidupannya sudah di tulis oleh orang tuanya. Bertunangan dengan seorang yang setara dengannya, menikah, melahirkan anak. Semuanya sudah di atur. Bahkan sebelum dirinya lahir semuanya sudah diatur dengan begitu rapi. Yoora sadar dia tidak akan pernah bisa menolak maupun membuat keputusannya.

Baekhyun menyalakan mesin mobilnya, ia mengeluarkan mobil dari pekarangan rumah Yoora. Sesaat Baekhyun melihat kearah Yoora yang terlihat cukup lemas dan pucat.

“Yoora? Apa kau sakit? Wajahmu terlihat sedikit pucat”

“Ah—“ Yoora tersadar akan Baekhyun yang menegurnya. Memang benar sejak ia bangun tidur Yoora merasa sedikit pusing. Mengingat ia hanya tidur beberapa jam saja. “—tidak, aku baik-baik saja”

Baekhyun kembali fokus pada menyetir. Ia melihat Yoora sedari tadi seperti memikirkan sesuatu. Baekhyun tau gadis itu merasa terbebani dengan pertunangan mereka.

“Yoora?”

“Iya?”

“Apa kau bahagia dengan pertunangan ini?”

Entah dari mana Baekhyun berani bertanya seperti itu, dan kini pertanyaannya menyisakan kebingungan di dalam diri Yoora.

Yoora terdiam mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia tidak ingin mnejawab apapun tentang pertanyaan Baekhyun. Yoora tidak habis pikir Baekhyun selalu memberi pertanyaan yang membuat Yoora tidak pernah bisa menjawabnya.

“Aku—aku tidak tau”

“Kau merasa terbebani dengan pertunangan ini?”

“Baekhyun, kenapa kau menanyakan hal seperti ini? kau tidak seharusnya menanyakan seperti ini. kita hanya perlu menjalaninya saja bukan, kau tidak perlu bertanya seolah ini membuatku putus asa”

Baekhyun mencengkram kemudinya dengan kuat. Ia cukup mengerti posisi Yoora yang tidak ingin menjawab dengan jujur. Bahkan gadis itu berkata tanpa memandang Baekhyun.

“Jawablah dengan jujur Yoora”

“Baekhyun—“ Yoora menghembuskan napasnya perlahan, kepalanya terasa berdenyut saat ini. ia lelah jika harus bertengkar di pagi hari. “—aku akan menjawabnya tapi tidak sekarang. Kita tidak sedang dalam keadaan baik untuk berbicara hal seperti ini”

Baekhyun menghela napasnya perlahan bagaimanapun saat ini Yoora benar. Mereka tidak bisa berbicara dengan keadaan seperti ini. Baekhyun pagi ini terasa begitu emosional, baru saja ia mencoba menyulut pertengkarannya sendiri dengan Yoora. Baekhyun tidak ingin pertengkarang mereka saat di Jepang terulang lagi. Ia memutuskan untuk kembali fokus pada menyetir.

Saat ini Yoora dan Baekhyun sedang di selimuti rasa kecanggungan. Gadis ini mendesah pelan setelah pertengkaran kecilnya dengan Baekhyun. Yoora hanya sibuk menatap keluar jendela. Mereka tidak saling berbicara satu sama lain, Yoora mencoba memikirkan apa yang Baekhyun tanyakan tadi, tapi gadis ini tidak bisa menjawabnya. Apa ia bahagia? Apa ia merasa terbebani?

Yoora tidak pernah tau jawabannya. Ia merasa cukup nyaman dengan perlakukan Baekhyun, tapi ia cukup merasa tidak nyaman dengan perasaan sukanya pada Seokjin. Yoora merasa ia hanya perlu menjalani apa yang ada sekarang ini, dan biarlah itu berjalan seperti apa adanya. Walaupun ia tidak akan tau hal seperti apa yang akan ada di depannya.

Yoora merasa cukup bosan hanya melihat jalnan yang padat kendaraan, matanya mulai teralih pada Dashbor mobil, ia mengerutkan dahinya dalam melihat foto yang terpampang di Dashbor. Seingatnya kemarin belum ada foto itu, dan yang membuatnya semakin mengerutkan dahinya dalan adalah fotonya. Foto yang Baekhyun minta kemarin, fotonya di sejajarkan dengan foto Baekhyun yang memakai sragam sekolahnya dulu. Tanpa gadis ini sadari senyuman kecil mengembang di pipinya.

“Baekhyun, apa ini kau?”

“Ya, itu aku. Sekitar saat aku SMU dulu”

Tanpa Yoora sadari senyumannya terkembang. Baekhyun terlihat tampan di foto ini, sejenak ia memperhatikan Baekhyun. Ada yang berbeda dari Baekhyun saat SMU dan sekarang. Pipi Baekhyun lebih temban dari pada saat SMU. Yoora berusaha menahan tawanya, oh ia bukankah seharusnya saat seorang remaja tumbuh menjadi dewasa itu seharusnya pipinya tak perlu bertambah tembam tapi ini hal yang lain. Baekhyun mengalaminya.

“Jangan menahan tawamu, aku tau kau pasti akan mengejekku karena pipiku yang tembam”

Yoora tersenyum kecil. Ia mulai mengalihkan pandangannya keluar jendela. Sejenak Yoora berpikir bahwa seolah perdebatan mereka tadi seperti berlalu begitu saja saat ini. walupun kenyataannya Yoora masih menyimpan setiap pertanyaan Baekhyun. Yoora mengalihkan pandangannya menatap Baekhyun.

“Baekhyun? Apa nanti kau bisa mengantarku ke panti asuhan yang pernah ku tunjukan itu?”

Yoora ingat terakir kali ia mengunjungi panti asuhan dan entah kenapa ia seperti merindukan anak-anak yang berada di sana. Suasananya mungkin bisa memberikan Yoora sedikit ketenangan dan jawaban dari segala pertanyaan yang ada pada dirinya sendiri.

“Tentu, tapi mungkin aku tak bisa lama menemanimu. Ada beberapa pekerjaan di kantor” Baekhyun menjawabnya dengan mengemudi.

Yoora tidak pernah melupakan poin dimana Baekhyun yang selalu sibuk, dan Yoora tidak pernah lupa poin dimana dirinya juga akan selalu sibuk. Yoora kembali menatap Baekhyun yang terlihat serius, sebelumnya Yoora tidak pernah melihat Baekhyun yang serius seperti ini.ia mengalihkan pandangnannya lagi ke jalanan. Yoora menyadari bahwa dirinya harus menjalani hidupnya dengan seperti ini dan selalu seperti ini, dengan kesibukan demi diri sendiri.

_oOo_

Minji mentapa Yoora aneh. Sudah 10 menit yang lalu ia dan Yoora berhadap-hadapan, yang membuat Minji menatap aneh Yoora adalah syal yang melilit leher Yoora. Setau Minji kemarin Yoora baik-baik saja tapi kenapa gadis itu hari ini memakai syal memang wajah Yoora terlihat sedikit pucat hari ini. tapi setau Minji Yoora bukan gadis yang suka memakai syal.

“Yoora? Kau sakit?”

Mata Minji masih saja mengarah pada leher Yoora yang  masih terlilit syal dengan rapat.

Yoora cukup mengerti kemana arah pandangan Minji, ke arah lehernya. Gadis ini mulai sedikit resah dan membenarkan posisi duduknya. Yoora memegang syalnya, ia memper erat lilitan syal pada lehernya.

“Oh aku hanya sedikit tidak enak badan” Yoora berusaha menampilkan senyuman terbaiknya agar membuat Minji percaya.

“Benarkah? Kau flu lagi? Bagaimana bisa kau flu lagi? Seingat ku terkahir kali kau flu beberapa bulan yang lalu”

Yoora hanya tersenyum kecil dan mengalihkan perhatiannya dengan menyesap minuman yang ada di depannya. Mungkin ini akan terlihat ganjal bagi Minji karena tidak biasanya Yoora bersikap seperti ini.

Minji merasa sedikit aneh dengan Yoora, ia menyentuh dahi Yoora yang tidak terasa panas. “Kau terlihat baik-baik saja”

“Minji, ayolah aku tidak ingin berdebat hanya karena syal”

“Oke kau menang nona muda. Uh betapa keterlaluannya Nam Yoora ini tidak membiarkan sahabatnya mengetahui semuanya”

“Oh aku hampir lupa sepertinya tugasmu hampir saja ingin aku buang ke sampah”

Shit, kau mengancam dengan hal seperti itu. oke oke aku diam, tapi janji bantu aku mengerjakan semua tugas”

Minji mulai mengalihkan topik pembicaraan mereka dengan membahas  tugas-tugasnya yang belum terselesaikan, untungnya Yoora sudah menyelesaikan segala tugasnya. Bukan Yoora namanya jika gadis itu tak menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Minji mulai merengek pada Yoora agar gadis itu membantunya mengerjakan tugas.

“Bisa bantu aku mengerjakan tugas statitik ekonomiku kau taukan bagaimana dosen kita yang satu itu. kau sudah janji tadi akan membantuku Nam Yoora”

Yoora tertawa kecil dan menggeleng-nggelengkan kepalanya. Ia sudah terlalu hafal dengan Minji yang akan lebih memilih mengerjakan tugasnya di saat terakhir seperti ini. Minji menatap kesal Yoora yang tak kunjung memberikan jawaban, tapi Yoora malah menatap Minji seolah-olah ia tidak mengerti.

“Yoora-ya katakan bahwa kau akan membantuku! Oke? Kau pasti akan membantuku kan, kau harus mau dan tidak boleh ada kata tidak. Aku bisa menunda skripsiku jika aku tidak menyelesaikan tugas ini”

Yoora tertawa pelan, Minji selalu melakukan hal-hal tanpa persetujuannya. Sejujurnya tanpa Minji meminta Yoora membantunya untuk menyelesaikan tugas pun Yoora pasti akan melakukannya.

“Baiklah, aku akan membantumu”

“Bagus, bagaimana dengan sepulang dari kampus? Kau tidak sibuk kan?”

“Ups, sayangnya aku sudah ada janji untuk pergi ke panti”

“Sial! Bagaimana aku bisa menyelesaikan semua tugasku?”

Yoora mengeluarkan buku catatan dari dalam tas. Ia menyodorkan catatannya pada Minji yang masih mengeluhkan tugasnya.

“Lengkap, dari materi awal sampai akhir, dan tentu tugasku semuanya disitu. Jika tidak ada yang kau mengerti baru tanyakan aku”

Minji menyambar catatan Yoora dengan senang. Catatan yang rapi dan juga beberapa lembar kertas tugas milik Yoora yang tersisipkan di tengah-tengah buku membuat Minji ingin melihat semua yang gadis itu kerjakan.

“Kau memang sahabatku Yoora”

Minji menaruh kembali catatan Yoora di sampingnya, sekarang ia mulai membahas Seokjin. Minji tidak bis aberhentu bertanya pada Yoora bagaimana sikap Seokjin selama di Jepang. Namun pembicaraan tersebut terhenti saat Seokjin datang dengan senyumannya.

“Hey? Apa aku boleh gabung?”

Tanpa persetujuan dari Yoora dan Minji Seokjin mengambil posisi duduk di dekat Yoora. Yoora dan Minji memutar bola matanya malas melihat Seokjin yang memperhatikan Yoora. Perasaan canggung itu masih terus saja menyelimuti hati Yoora saat Seokjin memperhatikannya. Gadis ini berusaha mengalihkan pandangannya  dengan bermain ponsel. Sejujurnya ia hanya tidak pernah suka untuk di buat merona.

Melihat respon Yoora yang begitu membuatnya sedikit tersingkirkan. Seokjin mengambil ponsel Yoora dan menaruh tepat di sampinnya. Lelaki ini menggenggam tangan kanan Yoora dengan erat. Senyuman tak pernah luntur dari bibirnya saat semburat kemerahan terlihat di pipi Yoora.

Ya!  Apa yang kau lakukan? Lepaskan Seokjin-ah”

“Aku tidak mau! Bukankah ini lebih baik. Aku tak suka saat aku ada disini dan kau sibuk dengan ponselmu”

Yoora merasakan pipinya yang semakin memanas, mungkin lain kali ia harus membawa masker untuk menutupi semburat merah di pipinya. Untung saja syal yang ia kenakan sedikit membantu menyembunyikan semburat merah itu saat ini.

Tangan Seokjin semakin erat menggenggam tangannya. Bahkan sekarang Seokjin mencium punggung tangan Yoora dengan terang-terangan di hadapan orang banyak. Jantung Yoora ingin keluar saat ini rasanya. Bagaimana tidak jika seseorang yang selalu membuatnya salah tingkah dan berdebar-debar menunjukkan sisi protectivenya dengan secara terang-terangan dan sekarang mencium punggung tangannya seolah mendeklarasikan bahwa mereka adalah pasangan.

“Oh, aku terlihat menyedihkan saat ini. hey kalian berdua bisakah bermesraanya nanti saja?”

Minji memutar matanya malas melihat Seokjin yang sudah mulai menunjukan sisi sukanya pada Yoora. Minji sejujurnya senang melihat mereka bisa begitu dekat seperti sekarang tapi poin tambahan yang harus mereka perhatikan adalah, jangan pernah bermesraan di depan Minji. Karena Minji akan merasa seperti obat nyamuk bagi mereka.

 

Minji-ya bantu aku melepaskan ini”

 

“Tidak, aku tidak mau. Nikmati saja genggaman tangan Kim Seokjin”

 

Minji tersenyum puas melihat Yoora dan Seokjin yang semakin akrab dan menunjukan sisi kemajuan dari hubungan mereka. Gadis ini masih saja tersenyum, ia mulai berdiri dan mengambil tasnya. Ia merasa mengenaskan jika tetap duduk di hadapan Yoora dan Seokjin.

“Aku akan pergi ke perpustakaan jika kalian mencariku, nikmatilah waktu kalian kawan”

Minji masih enggan untuk sekedar melepas senyum kecil ataupun tawa kecilnya di depan kedua sahabatnya. Ia terlalu senang melihat Yoora dan Seokji, Minji berharap mereka akan segera mempunyai hubungan khusus.

“Lepaskan tanganku Seokjin. Aku harus membalas pesan ibuku”

“Oh aku bisa membalaskannya untukmu. Aku bisa menjadi tanganmu”

Yoora merasakan pipinya kembali memanas. Bagaimana bisa Seokjin mengatakan hal itu disaat yang seperti ini. kini Seokjin Justru mendekatkan wajahnya pada wajah Yoora yang berhasil membuat pipi Yoora semakin memerah.

“Aku suka melihat mu merona Yoora” Seokjin mengembangkan senyumnya perlahan dan kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Yoora.

Seokjin merasakan sesuatu yang mengganjal pada genggaman tangannya. lelaki ini menyadari keganjalan tersebut sejak tadi, ia sedikit merenggangkan genggaman tangannya terlihat sebuah cincin tersemat di jari manis Yoora.

Seokjin tak mau menaruh curiga pada gadis itu namun ukiran nama ‘B.B’ membuat sejuta pertanyaan di pikirannya. Perlahan-lahan genggaman itu merenggang karena pikiran Seokjin yang terlaihkan oleh ukiran nama pada cincin Yoora, dan pada saat itu juga Yoora berhasil melepaskan genggaman tangan Seokjin. Menyadari genggaman tersebut telah terlepaskan membuat seluruh pikiran Seokjin kembali pada gadis di sampinnya yang tengah berdiri dan tertawa kecil.

Well, Aku berhasil melepaskan genggaman tangan mu, jadi aku harus segera pergi sebelum kau memborgol kedua tanganku lagi”

Yoora berjalan mundur dengan langkah yang lebar. Ia menunjukan tangannya yang sudah lepas dari genggaman Seokjin dengan bangga. Gadis ini membalikan badannya sebelum Seokjin mengejarnya, ia berlari kecil sesekali menengok Seokjin yang masih tidak merespon.

“Kau akan kemana?”

Seokjin mulai berteriak melihat Yoora yang sudah lumayan menjauh, tapi gadis itu tidak menjawabnya. Ini membuat Seokjin tidak mau melepaskan Yoora saat ini. Seokjin mengambil tas punggungnya dan bergegas menyusul Yoora dengan lankah lebarnya. Namun gadis itu mempercepat langkahnya secepat ia mengejar Yoora.

Namun di saat Yoora tengah sibuk melarikan diri dari Seokjin Baekhyun melihatnya.

Baekhyun melihat semuanya Yoora dan Seokjin yang tertawa bersama, bergenggaman tangan dan Seokjin yang mengejar Yoora. Lelaki ini mengepalkan tangannya seolah amarah yang ada dalam hatinya terkumpul pada genggaman tangannya. Ia tidak bisa berpikir jernih sedari tadi pagi.

“Baekhyun awas!” Sehun meneriaki Baekhyun yang masih terpaku melihat Yoora dan Seokjin.

Begitu mendengar teriakan Sehun yang kedua Baekhyun menolehkan kepalanya. Baekhyun dapat melihat bola basket yang melayang mendekat kearahnya, sayangnya Baekhyun sedang tidak fokus bola itu tepat mengenai kepalanya dan membuat Baekhyun kehilangan keseimbanan, dan tersungkur di lapangan basket. Tanpa sengaja kepala Baekhyun terbentur pada kursi yang tidak berada jauh darinya.

“Ahh”

Baekhyun sedikit merintih saat ia bangun. Kepalanya terasa pening pelipisnya mengeluarkan sedikit darah. Baekhyun memegang dahinya perlahan.

Sehun dan Luhan menghampiri Baekhyun yang masih terduduk dan memegangi pelipis.

“Maaf Baek aku benar-benar tak sengaja”

Luhan meminta maaf pada Baekhyun dengan nada penyesalan. Luhan memang tidak tau jika operan bola yang seharusnya ia berikan pada Sehun malah mleset terkena Baekhyun yang tidak fokus dengan permaina mereka.

“Ya tuhan Baekhyun, apa kau baik-baik saja”

Hweji yang melihat Baekhyun terjatuh lantas menghampiri lelaki itu dengan kehawatiran yang berlebih. Hweji memegang pelipis Baekhyun yang terluka, gadis ini mengambil sapu tangannya dan membersihkan darah yang ada di pelipis Baekhyun.

 “Luhan, berhati-hatilah lain kali, lihat Baekhyun jadi terluka”

“Lebih baik sekarang kita keruang kesehatan” Baekhyun yang merasa kepalanya makin pusing mengeluakan suaranya.

Hweji membantu Baekhyun untuk berdiri. Sehun dan Luhan membantu Baekhyun untuk berjalan. Hweji  berjalan di belakang Baekhyun, Sehun dan Luhan. Sedari tadi ia memainkan kuku merasa khawatir dengan luka kecil di pelipis Baekhyun.

“Ini gawat”

Sehun menghentikan langkahnya begitu mereka hampir sampai di ruang kesehatan. Matanya tertuju pada sosok laki-laki yang sedang jalan terburu-buru dengan membopong seseorang. Parahnya mereka masuk ruang kesehatan dengan terburu-buru.

Baekhyun menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Sehun. Ia mengangkat kepalanya dan memandang ke arah mana Sehun melihat. Amarah Baekhyun kembali membuncah, melihat apa yang ada di hadapannya. Tepat di depan mata kepalanya Seokjin menggendong Yoora dengan terburu-buru. Tangannya kembali mengepal, rasa nyeri yang tadinya ada sekarang tiba-tiba menghilang seiring digantikan dengan kemarahannya.

Baekhyun menepis tangan Luhan dan Sehun yang berada di pundaknya. Ia berjalan dengan sempoyongan menuju ruang kesehatan.

“Oh kurasa ini saat yang tidak tepat, Luhan lebih baik kita pergi”

Sehun tau arti dari kepalan tangan Baekhyun. Sesegera mungkin ia mengajak Luhan pergi. Ia tak ingin terjebak makin dalam diantara Baekhyun dan Yoora. Luhan memundurkan langkahnya menyamai jaraknya dengan Sehun.

“Kita harus segera pergi”

Sehun menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalakn Hweji dan Baekhyun. Sehun tak memperdulikan Hweji yang meneriakinya mengatakan mereka tidak bertanggung jawab pada sahabat mereka. Bukannya Sehun dan Luhan tak bertanggung jawab pada Baekhyun tapi jika mereka mengantarkan Baekhyun ke ruang kesehatan nanti bukannya mereka akan mengobati Baekhyun tapi mereka hanya akan mendapatkan teriakan kemarahan Baekhyun. Sejauh ini tak ada satu orang pun yang menginginkan hal tersebut.

Sepeninggalan Sehun dan Luhan Hweji menggamit lengan Baekhyun dan membawa lelaki ini ke ruang kesehatan. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Baekhyun. Yang ada hanya sebuah kemarahan dan emosi yang bertumpu pada hati lelaki ini.

Begitu Baekhyun sampai pada ruang kesehatan ia mampu mendengar suara Yoora dan Seokjin dengan jelas. Tentu saja lelaki ini mampu mendengarnya dengan jelas Baekhyun dan Hweji hanya di seblah Yoora dan Seokjin. Mereka hanya berbatas tirai yang membuat Yoora tak tau jika Baekhyun mendengar segalanya, dari suara rintihan kecil Yoora, dan suara kehawatiran Seokjin yang begitu dalam.

“Hentikan Seokjin itu sakit, aww”

“Benarkah? Oh yatuhan maaf Yoora”

Baekhyun mendengarnya dengan jelas Yoora kembali merintih, kepalan tangannya makin menguat. Rasanya ia ingin melemper semua yang ada di hadapannya saat ini. Baekhyun bahkan tidak mengacuhkan gadis yang berada di depannya. Tapi saat rasa dingin menyentuh pelipisnya Baekhyun mengangkat kepalanya dan mendapati Hweji yang sedang mengobati lukanya.

Baekhyun menepis tangan Hweji dengan kasar. luka di pelipisnya bukanlah apa-apa dibanding dengan amarah yang lebih menguasai dirinya.

“Keluarlah”

Shiro! Aku harus mengobatimu dulu”

“Ku bilang keluar!!”

Baekhyun mulai meninggikan suaranya jika gadis itu tak mau keluar dengan perkataannya yang pertama maka yang kedua ini gadis itu harus keluar. Baekhyun tak peduli entah Hweji akan peduli lagi padanya atau tidak. Baekhyun dapat melihat tangan Hweji yang mulai gematar dan memundurkan langkahnya perlahan. Baekhyun diam ia tak melakukan apapun selain mengepalkan tangannya dengan keras.

Hweji membalikan badannya dan keluar dengan terisak karena bentakan Baekhyun. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Baekhyun semarah ini.

Yoora dan Seokjin saling menatap mendengar suara bentakan dari ruang sebelah mereka. Seokjin hanya menautkan kedua alis dan mengangkat bahunya menandakan ia tidak tau hal apa yang sedang terjadi.

“Mungkin sepasang kekasih yang sedang bertengkar”

“Mungkin”

Yoora membalikan badannya memunggungi Seokjin, suara bentakan itu Yoora mengenalnya dan itu hanya tepat di sampingnya. Itu Baekhyun, dan itu artinya Baekhyun tau bahwa Yoora berada disini bersama Seokjin. Yoora merasa bersusah payah menelan ludahnya, mengingat terakhir kali ia dan Baekhyun bertengkar semuanya karena Seokjin, dan sekarang ia bersama Seokjin. Gadis ini tau Baekhyun marah saat ini.

“Yoora-ya aku pergi dulu sebentar lagi aku ada kelas akan ku panggilkan Minji untuk menemanimu.”

Yoora hanya menganggukan kepalanya pelan dan mengembangkan senyumnya.

“Terimakasih sudah mengantar ku kemari”

Seokjin menganggukan kepalanya dan  tersenyum kecil pada Yoora. Seokjin merasa sedikit bersalah pada Yoora, jika tadi ia tidak mengejar Yoora mungkin gadis itu tidak akan terpleset. Ia segera meninggalkan ruang kesehatan dan menemui Minji.

Selepas peninggalan Seokjin, Yoora memiringkan badannya mengarah pada tirai yang menjadi pembatas antaranya dan Baekhyun. Kini hanya tersisa mereka berdua, suara gerakan jarum jam terus menghiasi keabsenan dari suara mereka. tapi beberapa menit kemudian Baekhyun membuka tirai pembatas dirinya dan Yoora.

Baekhyun menemukan Yoora yang berbaring menghadap ke arah kasurnya

“Apa yang kaulakukan disini? “

Yoora menunjuk kakinya yang di perban, ia tau dari nada bicara Baekhyun yang penuh amarah. Yoora mendongakan kepalanya melihat Baekhyun yang berdiri di sampingnya. Gadis ini melihat pelipis Baekhyun yang mengeluarkan darah. Yoora menghembuskan napasnya pelan dan merubah posisinya menjadi duduk.

“Aku pikir kau ada disini karena mengikuti aku, tapi ternyata kau terluka juga. Kenapa kau tidak mengobati lukamu?”

Yoora menyentuh luka Baekhyun dengan perlahan. Laki-laki itu hanya diam dan menatapnya tanpa ekspresi Yoora tidak tau apa yang harus ia ucapkan lagi.

“Akan ku obati lukamu, duduklah”

Yoora turun dari ranjang dan mengambil antiseptik, obat merah,dan perban. Ia berjalan dengan sedikit terpincang-pincang membuatnya teringat saat di  Jepang bersama Baekhyun. Yoora tersenyum kecil mengingat saat Baekhyun menemukannya dan menggendongnya. Ia memperhatikan Baekhyun yang sedang duduk dan menatap ke langit-langit ruang kesehatan.

“Apa itu sakit?” Yoora bertanya sambil berjalan kearah Baekhyun. Tapi lagi-lagi Baekhyun tidak membalas perkataannya. Ia merasa jengkel dengan Baekhyun yang terus mendiamkannya. Yoora tau Baekhyun marah, tapi mendiamkan seseorang karena marah itu sangat tidak dewasa.

“Aku tau kau marah padaku, maaf oke? Jadi apa yang bisa ku lakukan agar kau tidak marah?”

Yoora bertanya seolah-olah mereka terlihat seperti pasangan yang sebenarnya. Ia mulai membersihkan darah yang sudah mulai kering di pelipis Baekhyun, bahkan sampai detik ini Baekhyun tidak mengucapkan sepatah katapun padanya. Yoora meneteskan obat merah pada luka Baekhyun, ia bahkan mengigit bibirnya sendiri karena menurutnya itu terlalu ngilu untuk di rasakan.

Secara tiba-tiba Baekhyun merengkuh pinggang Yoora, laki-laki ini menyandarkan kepalanya pada dada Yoora. Matanya terpejam rapat-rapat ia sedang tidak ingin mengeluarkan sepatah kata apapun ia hanya ingin seperti ini. samar-samar ia merasakan tangan Yoora yang membelai lembut rambutnya.

“Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya. Lihatlah aku dan selalu lihatlah aku karena kau hanya milikku Yoora”

“Maaf, tadi hanya tidak sengaja aku dan Seokjin—“

“Berhenti bicara, aku tidak ingin mendengar alasan apapun saat ini. aku hanya ingin seperti ini”

Baekhyun mengeratkan pelukannya pada pinggang Yoora. Ia tau saat ini ia terkesan egois tidak ingin mendengarkan ucapan gadis itu, tapi siapa yang ingin mendengarkan alasan orang lain disaat hatinya merasa cemburu. Alasan macam apapun tak akan pernah bisa ia terima.

Yoora merasa pipinya sedikit memanas, mengingat yang Baekhyun ucapkan semalam. Laki-laki itu tidak main-main mengatakan semuanya. Tanganya perlahan-lahan mulai membelai lembut rambut Baekhyun. Entah kenapa ia sama sekali tidak merasa terganggu maupun risih dengan apa yang Baekhyun lakukan sekarang rasanya ia mulai terbiasa dengan sikap Baekhyun yang semaunya saja.

Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Yoora yang sedang memperhatikannya. Tanpa sengaja mata mereka bertemu dan saling bertatapan satu sama lain.

“Apa kau hobi membuat kakimu terkilir Yoora?”

Baekhyun melepaskan tangannya dari pinggang Yoora, ia menarik Yoora duduk di sampingnya. Gadis itu hanya tersenyum kaku dan sedikit memperlihatkan deretan geligi rapinya.

“Nah, wajahmu terlihat pucat, apa sebaiknya kita pulang? Lagi pula kakimu terkilir. Aku tidak bisa mengobatinya jika kita disini”

“aku baik-baik saja, hanya terkilir sedikit. Kita tidak perlu pulangkan aku bisa di sini dulu sampai merasa lebih baik”

Baekhyun menghembuskan napasnya pelan, rasanya percuma saja memberikan nasihat pada Yoora. Gadis itu bahkan tidak mau mendengarkannya sama sekali. “Aku khawatir padamu, aku hanya tidak ing—“

“Kau tidak ingin aku terluka lebih parah. Aku tau, terima kasih untuk kehawatiranmu” Yoora memotong perkataan Baekhyun begitu saja. Gadis ini sudah tau apa yang akan Baekhyun ucapkan. Yoora tersenyum kecil pada Baekhyun meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Baekhyun membalas senyuman Yoora, perasaannya mulai membaik saat ini. amarahnya sudahtidak menguasai dirinya lagi. Yang menjadikan masalah saat ini adalah cara Yoora tersenyum kecil membuat desiran darah Baekhyun terasa dua kali lipat berjalan lebih cepat karena jantungnya yang berdegup kencang.

“Kenapa, Kenapa kau selalu melakukan ini padaku”

Tanpa sadar Baekhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Yoora. Senyuman kecil itu seolah memberinya sebuah sihir yang kuat hingga melupakan mereka sekarang ada dimana.

Yoora memejamkan matanya perlahan-lahan. Ia merasakan deru napas Baekhyun di pipinya. Ia sangat dekat dengan Baekhyun saat ini. namun baru bibir mereka saling menempel suara teriakan dari luar ruang kesehatan membuat mereka saling menjauhkan diri.

“Yoora!!”

Yoora tau itu suara Minji dari luar ruang kesehatan. Tanpa sengaja Yoora mendorong Baekhyun agar menjauh sebelum Minji melihat mereka berduaan. Yoora menatap Baekhyun yang terdorong hingga mengenai kursi di dekat ranjang. Suara deritan pintu mulai terbuka membuat Yoora semakin panik karena Baekhyun yang masih diam dan enggan pergi dari tempatnya.

Baekhyun menggenggam pergelangan tangan Yoora dengan kuat.”Kenapa harus panik? Kau bisa mengatakan bahwa kau mengobatiku”

“Yoora!”

Minji masuk kedalam ruang kesehatan dengan cukup terkejut melihat Baekhyun yang sedang bertatapan dengan Yoora. Ia mematung, ia tidak bisa melangkahkan kakinya selangkah pun seperti tubuhnya terkunci karena adegan yang ada di depan matanya.

“Oh teman mu sudah datang rupanya.  Terimakasih sudah mengobati lukaku, dan istirahatlah”

Baekhyun melepaskan cengkramannya pada tangan Yoora. Baekhyun berjalan melewati Yoora seolah baru saja tidak ada apa-apa di antara mereka. ia berhenti di depan Minji dan menatap gadis itu sesaat.

“Beri taulah temanmu itu jika kakinya sakit seharusnya ia tidak memaksakan diri untuk berjalan”

Yoora membalikan badannya menatap Baekhyun yang sedang melewati Minji dengan begitu saja. Jantungnya hampir keluar tadi saat Baekhyun enggan pergi, dan sekarang saat Baekhyun pergimalah Yoora merasa memerlukan beberapa penjelasan dari Baekhyun. Bagaimana laki-laki itu bisa berbicara seolah-olah mereka baru saja kenal.

“Yoora, Nam Yoora kau baik-baik saja kan?”

Yoora masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Yoora menatap Minji yang panik sekaligus kebingungan melihat dirinya bersama Baekhyun tadi. Yoora akan ada seratus pertanyaan yang akan muncul dari Minji.

“Woah, kau bagaiamana bisa bersama Baekhyun? Apa yang kalian lakukan? Apa dia menyakitimu?”

“Bertanyalah satu-satu dan bertanyalah sesuatu yang masuk akal dan sesuatu yang penting”

Well—semua yang aku tanyakan padamu penting dan masuk akal”

Yoora menatap Minji dengan tajam.Yoora rasa intruksinya pada Minji kurang tepat atau memang gadis itu yang tidak peka dengan perkataan Yoora yang lebih mengarah pada ‘jangan tanya apa-apa padaku’.

Minji hanya tersenyum bodoh dan mengatupkan bibirnya dengan rapat-rapat. Sejujurnya benaknya ingin mempertanyakan apa yang baru saja terjadi antara Baekhyun dan Yoora. Bisa dibilang Minji ingin mendengar cerita yang detail dari Yoora. Minji mulai duduk di kursi sebelah ranjang Yoora, ia memperhatikan Yoora dengan seksama.

“Yoora! Apa kau habis menangis?”

“Huh?”

“Matamu, terasa berbeda dari hari-hari biasanya dan kantung matamu lebih tebal dari biasanya. Coba aku lihat lebih dekat”

Minji memperhatikan mata Yoora lebih dekat dari seharusnya. Gadis ini menghela napasnya kasar, ia sudah merasa yakin bahwa Yoora tidak tidur semalaman dan mata gadis itu masih terlihat sembab pagi ini.

“Kau tidak tidur semalam? Kau menangis semalaman?”

“Jangan buat aku untuk menjawabnya Minji”

Yoora memalingkan wajahnya dari Minji, air matanya mulai terasa di pelupuk matanya. Ia tidak ingin siapapun menanyakan apa ia menangis semalam karena itu akan berujung pada pertanyaan kenapa ia menangis.

“Yoora”

Minji menyebut nama Yoora dengan perlahan. Ia membawa kepala Yoora pada pelukannya. Minji mendengar isakan kecil dari bibir Yoora. Ia membelai lembut kepala Yoora tidak ada yang bisa dikatakan saat ini, mau sampai kapan pun Minji mengeluarkan nasihatnya pada Yoora gadis itu tidak akan bertambah lebih baik. Karena Yoora sendiri yang masih terjebak pada perasaannya terhadap Hyungwon.

Perlahan-lahan suara isakan itu semakin kencang. Yoora meraih bantal yang ada di belakangnya, ia menenggelamkan wajahnya pada bantal itu. Yoora menangis meraung sesuka hatinya saat ini. seperti terasa ada ratusan beban yang ada di hatinya dan membuat ia begitu kesakitan saat ini. pundaknya naik turun tidak beraturan, ia mengangkat kepalanya menatap Minji dengan begitu menyedihkan.

“Oh Yoora, kau harus lebih kuat”

Minji menghapus air mata Yoora, walupun suara isakan Yoora sudah tidak keras lagi pundak Yoora masih naik turun tidak beraturan. Gadis itu mencoba mengatur napasnya.

“Jangan memakasakan kegiatan apapun hari ini. Kau harus istirahat dirumah! Aku akan mengantarmu”

“Aku—aku baik-baik saja Minji”

Yoora masih sedikit terisak, ia turun dari ranjang sambil menghapus air matanya dengan kasar. Yoora memaksakan senyumannya pada Minji seolah-olah ia akan baik-baik saja nantinya.

“Ayo, kita ada kelas bukan?”

“Yoora, kau harus istirahat kau tidak dalam keadaan sehat sekarang”

“Ya sudah, aku akan pergi ke kelas sendiri saja”

Yoora meninggalkan Minji begitu saja di dalam ruang kesehatan. Ia merasa cukup kesal dengan Minji, Yoora hanya belajar untuk menjadi lebih kuat walaupun ia sedang tidak dalam keadaan baik hari ini.

Yoora berjalan dengan terburu-buru mengingat kelasnya akan di mulai dalam waktu tiga menit lagi sedangkan ia masih  harus naik 4 laintai untuk sampai ke kelasnya. Yoora berusaha keras menaiki anak tangga satu persatu. Entah sejak kapan kepalanya begitu pening dan keadaan di sekitarnya berputar.

Yoora mengambil napasnya perlahan saat sudah sampai di lantai 5. Ia masih harus berjalan melewati beberapa ruang untuk sampai di kelasnya. Yoora berjalan dengan sempoyongan, ia berpegangan pada gagang pintu kelas. Yoora mengetuk pintu pintu perlahan, namun tiba-tiba pandanganya menjadi semakin buram dan lama-lama gelap. Yoora pingsan saat itu juga.

Orang-orang mulai berhamburan keluar dari ruangan untuk melihat siapa yang baru saja pingsan. Terkecuali Baekhyun yang masih sibuk melihat keluar kaca kelas.

“Baekhyun”

Luhan memanggil Baekhyun dengan terburu-buru bahkan Luhan menarik Baekhyun dengan sesukanya.

“Ada apa Luhan?!”

“Kau harus melihat siapa yang pingsan”

Luhan menjejalkan Baekhyun di tengah-tengah kerumunan orang. Jujur saja Luhan awalnya juga merasa terkejut mendapati Yoora tergeletak dai depan pintu dan tidak sadarkan diri.

Baekhyun yang merasa di paksa oleh Luhan mau tidak mau harus terjepit di kerumunan orang-orang ini. ia mulai mendesak agar bisa sampai ke depan dan melihat apa yang Luhan maksud. Mata Baekhyun membulat mendapati Yoora yang tergletak tidak sadarkan diri.

“Yoora!”

Baekhyun memekik dengan keras, ia menepis beberapa orang yang sedang memberikan Yoora pertolongan. Baekhyun membawa kepala Yoora pada pangkuannya. Ia menepuk pelan pipi Yoora berharap gadis itu akan sadar. Baekhyun baru saja menyadari bahwa Yoora baru saja naik ke lantai 5 yang artinya kaki gadis itu pasti tidak dalam keadaan baik.

“Nam Yoora bangunlah! Hey Yoora!”

Baekhyun merasa frustasi karena tidak ada respon dari Yoora. Tanpa berpikir panjang Baekhyun membopong Yoora dengan terburu-buru. Ia tidak peduli bagaiman orang-orang kini melihatnya. Baekhyun tidak peduli lagi tentang perjanjiannya dengan Yoora yang mengharuskan mereka saling merahasiakan pertunangan mereka. Baekhyun jauh lebih merasa khawatir dengan keadaan Yoora daripada ia harus memikirkan perjanjian mereka.

“Minggir!”

Baekhyun berteriak pada grombolan di depannya yang ada dalam pikiran Baekhyun saat ini hanya membawa Yoora pulang dan merawat gadis itu sampai sadar. Baekhyun menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Bahkan saat ia berpapasan dengan Minji, Baekhyun tidak memperdulikan sama sekali.

Minji yang baru saja akan masuk kelas terkejut suara keributan yang ada di depannya. Ia pikir baru terjadi pertengkaran antar mahasiswa tapi ternyata bukan. Ia mendengar beberapa kali seseoang menyebut nama Yoora dengan lengkap. Minji menembus geromboloan yang ada di depannya dan melihat Baekhyun dengan kehawatiran memanggil nama Yoora.

Minji kembali mematung saat melihat Baekhyun membopong Yoora dengan begitu berani. Bahkan saat melewatinya tampak seperti bukan apa-apa. seperti tidak ingin mengatakan sesuatu tengatang kondisi Yoora saat ini. Minji bisa melihat bagaimana Baekhyun terlihat khawatir dengan Yoora. Minji masih diam di tempatnya baru saja ia akan mengejar Baekhyun tapi ia mendengar sesuatu yang membuatnya tertarik.

“Well—Baekhyun pasti akan kena marah dari Yoora”

“Setidaknya Baekhyun harus tau keadaan Yoora, sudahlah itu bukan urusan kita Sehun!”

“Sehun, Luhan”

Minji menyebut nama mereka dengan lirih. Setaunya Sehun dan Luhan adalah sahabat baik Baekhyun. Minji kembali mengingat kejadian di ruang kesehatan tadi itu tidak mungkin suatu kebetulan Baekhyun mau perduli dengan sekitarnya, dan itu bukan suatu kebetulan Yoora mau peduli dengan orang asing yang tidak di kenal. Minji memejamkan matanya, ia mengurungkan niatnya untuk menyusul Baekhyun dan Yoora. Saat ini ia harus mencari tau apa yang tidak ia tau dari Yoora.

TBC

Yey Tbc lagi. Maaf pendek ya? Duh late update banget ya akunya hehe maaf. Di karenakan beberapa faktor jadinya late update. But gimana buat chapter ini? jelek ya?

Oh ya maaf buat beberapa yang minta PW dan ada yang gak aku kasih. Maaf ya aku hanya menghargai orang-orang yang maubersusah payah buat komentar di ff aku. Bukan berarti saya tidak menghargai kalian yang baca ff saya tanpa komentar. Saya sangat menghargainya cuman, saya juga butuh di komentar kalian untuk saran dan kritikan tentang ff saya. Well lain kali saya mungkin akan lebih tegas lagi.

Oh ya saran dong untuk ff ini kalian mau gimana di vote ya buat next chap

Maunya minji tau di chapter 6 apa di lain chapter?

Dan saya juga butuh saran. Bagusan untuk di jadiin 2 season atau 1 season. Tentu bakalan berbeda cerita kalau satu season dan dua season. Semuanya masih Yoora – Baekhyun cuman akan beda di alurnya,dan konfliknya aja nantinya. Tolong saran ya.

Bonus pict buat kalian yang bertanya visual Hyungwon seperti apa. Hyungwon Monsta X siapa coba yang tau ?

Big thanks buat kalian yang selalu baca dan nungguin ff aku

XOXO gaes laf yu..

77 responses to “One More Time [Chapter 5] – By Sebie

  1. Sebel sendiri baca bagian seokjin sama yoora, mendadak jd ga suka sama seokjin disini. Untung ya waktu pingsan posisinya baekhyun yg paling deket sama yoora bkn seokjin, coba klo seokjin pasti baekhyun emosi lg deh. Klo menurutku minji di chapt 6 msh nebak2 hubungan baekhyun yoora aja baru di chapt 7 nya si minji tau hubungan mereka. Klo dibikin 2 season juga gapapa thor, tp jgn sampe yg season ini terabaikan gara2 ntar malah asik di season sebelah. Semangat nulis ff ini~

  2. Makin greget ya tuhaaann kyaaa >.< pengennya sih chapter 6 minji ufh tauu hehehehe tapi kok masih bingung nih yoora bakal milih baekhyun apa soekjin? Kekekek minji jadiin aja sama luhan atau ga sehun pasti seru~.~ berharap sih ini dibikin 2 season yoooo semangat ya thot buat nulis nyaaa ditunggu lnjtannya and jangan lama" yaa^.^

  3. yes akhirnya bisa baca juga chap 6 nya.
    aku sih pengennya minji tahu sekarang supaya dia gak terlalu jodohin yoora sama sokjin dan aku berharap di buat 2 season.hehe
    semangat buat chap selanjutnya🙂

  4. Jadi yang itutoh yang namanya hyungwon 😂 cepat lambat keknya tunangan diam diam mereka pasti bakal terungkap :”) astaga parah banget ya kalo baekhyun udh marah? Sampe sehun sama luhan langsung ngejauh gituu😱 nextnya ditunggu yaah thor 😊 fightingg!!

  5. yaudah thor … biarkan minji tau di next chapter jadi dia bisa pura pura ngejagain yoora dari seokjin biar seokjin menjauh :’v

  6. Ommo! Yoora kenapa? minji mesti bakal jadi detektiv nih. Kayanya dia bakal tau hubungan baekhyun yoora dari hunhan. Ato dari yoora atau baekhyun? -mian kebanyakan atao- tapi udh deh, di publikasi aja hubungannya…fighting buat baekra yaa!!
    Udh seminggu nih, blm ada update?? Ttp di tunggu ko. Fighting kak..

  7. miminnn, maaf baru comment ya
    terlalu sibuk baca ffnya sih😂
    makin lama makin keren parah:(
    mereka padahal udh saling mencintai, tpi ada aja yg halangin(seokin)😦
    tpi yodahlahya, klo gaada seokjin pembaca bacanya datar2 aja & gaada konflik😂
    lanjutin secepatnya ya minnn
    baekyoo shipper❤

    oiya, klo mau minta pass side story, nanya kemana min?
    thnks

  8. lah comment tdi pagi gak ke kirim ternyata:(

    min maaf baru comment skrng, keasyikan baca hehe
    ff nya keren kok, suka bangett
    aku kadang senyum2 sendiri min, duh kyk orang gila😂
    tpi kasian baek nya masa, yoora nya tega bgt:(
    knpa mereka ga kasitau aja klo mereka udh tunangan, gregetan juga lama2😂
    jengkel gitu knpa ada seokjin yg menghalangi baekhyun yoora untuk saling mencintai–
    tpi klo gaada seokjin pembaca bakal baca datar2 aja hehe
    tpi keren kok min👍👍
    lanjut ya minn,
    trs aku ada add line mimin, mau minta pass side story nya
    makasih min❤

    • ternyata comment pertama ke kirim😂 jdi double commentnya min, gapapa kan? Hehe
      Semangat min tugasnya🙌

  9. maafkan aku baru komen soalnya baru sempet baca, aku lagi sibuk buat ukk jadi baru sempet buat baca ini deh *maafcurhat
    duh baek udh cinta bgt ya sama yoora dan plis yoora cepet2 suka dong sama baek kan kasian baeknya.

  10. entahlah,kenapa gue berharap next chapter minhi bkalan tau hubungan baek yoora
    gue bingung ama prasaan yoora,sbenernya dia sukanya ama siapa coba
    baekhyun seokjin apa hyungwon

  11. …..
    kkkkk minji bakal nge-intrograsi sehun dan luhan(?).. di chap selanjutnya hub mereka bakal ketahuan kah?
    gimana reaksi seokjin nanti?
    sampai sekarang aku rasa perasaan yoora ke seokjin hanya sementara,, perasaannya dah jelas lebih kuat ke baekhyun, cuman gimana kelanjutannya sama hyungwon…..

    keep fighting !

  12. kadang kali liat yoora sm jin nggk suka gitu hngg:v gak tau kenapa
    coba’ yoora sm baekhyun nggkpake perjanjian gitu pastinya nggk ada rahasia sm minji n jin
    tp keknya minji curiga sm hub baekyoor

  13. haii.. maaf ya bru mampir di chap ini.
    kalo menurut saya lebih bagus minji jangan tau dulu di chapter 6 biarin aja minji penasaran dulu hehe, dan chapter 6 nya buat 1 season aja thor

  14. typo masih bertebaran dimana2, tapi tak masalah sih😀
    aaah.. gregetan sendiri bacanya ya ampun,
    kenapa disini aku ga suka sama sikap seokjin ya? semoga di chapt berikutnya si seokjin bisa nebak siapa B.B dan minji juga harus tau rahasia yoora.
    semangat ngetikya min ^^

  15. well..fixx greget banget sama chapter ini.huff
    sebel sm soekjin pliiss..duh itu couple baekhra lg asik ehh ada yg gangguin lol
    btw kak minta pw yg side story juseyoo….kan ga afdol baca chap4 trs nge gantung/?
    oiya menurutku chap6 minjiny msh nebak” hubungan cabe sm yoora.trs chap 7ny baru tahu deh and conflict ny jg tambah seruu…but kalo mau djadiin 2 jg it’s okay kak..yg penting baekhra jan ketinggalan.hehe
    fighting ka buat nulisny!!semoga ceritany tambah greget

  16. Pingback: One More Time [Chapter 6]- By Sebie | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. greget sama ff ini, greget ke Yoora nya thor.
    oke aku izin baca part 6 nya ya, sama seperti minji aku penasaran

  18. Aku lupa pernah baca ff ini. Ampe aku liat komen2 aku buat ngecek bacanya uda ampe chap brp. Btw, author blh minta tolong g??? Aku lupa uda baca side story apa belum, bisa tlg liatin ada komen aku g d side story?? Id ku kim dee. Kalo misal g ada cara dapetin pw gimana ya????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s