ALL I ASK [PART VII] — by Neez

ask-copytt

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

Lee Hana / OC || Baek Jinmi / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Kim Jongdae / EXO Chen 

Kim Seolhyun / AOA Seolhyun || Joon / OC || Ji Hyesoo / OC || Zhang Yixing / EXO Lay || Park Chanyeol / EXO Chanyeol || Seo Eunkwang / BTOB Eunkwang || Choi Yeonri / OC

Jung Yunho / TVXQ Yunho || Guru Ahn / Danny Ahn || Guru Han / Han Hyojoo

Alternative Universe, School Life, Family, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser || [PART I] || [PART II] || [PART III] || [PART IV] || [Part V] || [PART VI]

© neez

Beautiful Poster Cr : Ken’s@Art Fantasy thank you Ken Honey ^^

BETA : IMA

Jongdae tidak mengerti.

   Jika ada seseorang yang sangat-sangat menjaga privasi mengenai hal pribadi miliknya, dialah sahabatnya, Kim Joonmyun. Jongdae bahkan yakin sekali jika How Did I Fall in Love With You hanyalah satu dari banyak lagu yang Joonmyun perdengarkan kepadanya. Ia tahu benar, meskipun sang ibu sangat mendukung karier bermusik Joonmyun, Joonmyun disisi lain sangat-sangat tidak ingin skill-nya yang satu ini diketahui banyak orang. Joonmyun lebih suka menggubah karya-karya maestro ternama dibandingkan memperdengarkan lagu ciptaannya pada khalayak ramai. Jongdae juga yakin, jika hanya ia dan Jongin, yang diberikan kehormatan oleh Joonmyun untuk mendengarkan lagu ciptaannya.

   Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa lagu Joonmyun bisa dinyanyikan oleh orang lain, dan yang lebih mengejutkannya orang itu bukanlah Kim Seolhyun—satu-satunya wanita selain Bae Joohyun sendiri yang memiliki kemungkinan bisa mendengarkan lagu ciptaan sahabatnya tersebut. Jongdae berusaha tidak mengeluarkan suara dan mendengarkan gadis yang memunggunginya tersebut bernyanyi dengan pelan.

   Benar!

   Lagu yang dinyanyikan Oh Jaehee ini adalah lagu ciptaan Joonmyun yang berjudul How Did I Fall in Love With You! Ia tidak mungkin salah. Ia sendiri yang sejak awal menawarkan bantuan bagi Joonmyun saat menggubah lagu ini untuk pujaan hatinya tercinta yang kini sudah menjadi biksu.

   ”Everything changes we never knew… how did I fall in love, with you~” akhirnya gadis di hadapannya selesai bernyanyi dan bahunya yang tadi terlihat kaku, kini mengendur karena rileks.

   ”Mr Kim Jongdae, setelah ini giliranmu. Silakan masuk lewat sebelah sini,” seorang laki-laki yang menggunakan headphone besar dan mikrofon kecil di depan mulutnya muncul dari samping panggung, membuyarkan pikirannya.

   Jongdae mengangguk, melempar senyuman gugup pada pria tersebut dan berdiri sambil menggosokan tangannya. Ia melirik Oh Jaehee yang tengah tersenyum menatapi layar ponselnya, dan melewati gadis itu. Ia terpaksa mengesampingkan rasa penasarannya, demi audisi.

 

*        *        *

”Kontestan nomor tiga belas. Peran Juliet. Miss Oh Jaehee. Silakan,” suara sayup-sayup dari Guru Han terdengar memanggil namanya.

   Jaehee meniup poninya kembali dan menepuk-nepuk pipinya sebelum berjalan dengan gemetaran, menaiki tangga menuju panggung dan memasuki panggung diiringi tepuk tangan yang biasa-biasa saja. Tepuk tangan sekedar basa-basi. Mereka bahkan terang-terangan mulai berbicara dengan rekan mereka yang duduk disebelah mereka.

   ”OH JAEHEE HWAITING!!!”

   ”NONA JAEHEE HWAITING!!!”

   Jaehee nyaris meringis, namun harus ia akui, ia sangat terharu melihat Hana dan asisten pribadinya yang sangat kontras satu sama lain, Hana mengenakan sweater dan celana ketat latihannya seperti biasa, dengan rambut digelung keatas, sementara Joon dalam balutan seragam hitamnya, bahkan topi sopirnya tidak ia lepas. Namun keduanya kompak memegang spanduk besar nan norak bertuliskan : OH JAEHEE HWAITING!!!

   Saat Jaehee mengalihkan pandangan ke sisi kanannya, betapa terkejutnya ia mendapati Joonmyun berdiri dibalik selubung beludru merah. Pria itu tersenyum kecil, mengepalkan tinjunya, dan berucap dengan mulutnya tanpa suara, ”Hwaiting!”

   Semangat Jaehee mendadak penuh.

   ”Miss Oh, adegan mana yang akan Anda tampilkan?” tanya Kepala Sekolah Jung yang duduk diapit oleh Guru Han dan Baek Jinmi, si sutradara.

   Jaehee menjawab, ”Adegan dimana Juliet berbicara sendiri di balkon setelah bertemu dengan Romeo.”

   ”Dimana Romeo kemudian menghampiri Juliet?” tanya Kepala Sekolah Jung memastikan.

   Jaehee mengangguk.

   ”Baiklah, Mr Kim Minseok, karena Anda juga ingin memperagakan adegan tersebut, silakan bergabung dengan Miss Oh.” Perintah Kepala Sekolah Jung. ”Sudah siap, Miss Baek? Guru Han?” Baik Jinmi dan Guru Han sama-sama mengangguk. Kepala Sekolah Jung mengangguk pada Jaehee, dan pada saat itu pula setting panggung berubah menjadi balkon di depan kamar Juliet. Tim tata panggung sudah melakukan pekerjaan mereka. Tim tata lampu juga demikian. Dan sayup-sayup Jaehee bisa mendengar suara piano yang dimainkan.

   Di hadapannya, kini sebuah balkon yang terbuat dari gipsum sudah muncul. Lengkap dengan ornamen tanaman-tanamannya.

   ”Ready? Action!” seru Jinmi.

   , ”Ay me! O Romeo, Romeo! Wherefore art thou Romeo? Deny thy father and refuse thy name. Or, if thou wilt not, be but sworn my love, And I’ll no longer be a Capulet.” Saat Jaehee mengerjapkan kedua matanya, para penonton, para juri, bahkan setting panggung menghilang dalam bayangannya.

   Kini di dalam benaknya, ia hanya berada di dalam ruang latihan musik Joonmyun. Dibenaknya, Jaehee hanya sedang berlatih. Dan, pria yang ia cintai adalah Romeo dalam bentuk Joonmyun. Meski saat Minseok masuk ke dalam set dan mengagetkannya, hingga konsentrasinya nyaris pecah. Karena, di hadapannya kini adalah Kim Minseok, yang berambut cokelat muda dengan wajah bulat, mata bulat polos.

   Tapi Jaehee kembali memejamkan matanya lagi sambil terus mengucapkan dialog demi dialog yang ia tahu dari belakang kepalanya, yang ia kenali dengan hatinya, dan yang ia rasakan saat mengutarakannya pada seorang Kim Joonmyun. Perwujudan Romeo dalam hidupnya. Di hadapannya, Minseok berubah menjadi Joonmyun.

   Dan Joonmyun menjadi Romeo baginya dalam musikal ini.

   ”YA! OH JAEHEE, KENAPA KAU CIUM-CIUM?!”

   ”EOTTOKHAE, NONA HANA! NONAKU MENCIUM LAKI-LAKI!!!”

   Bahkan Jaehee tidak bisa mendengar Hana dan Joon berteriak keras saat ia mengecup dahi Joonmyun (Minseok, Jaehee-ya, ini Kim Minseok!!!). Bahkan Jaehee tidak mendengarkan saat para penonton, yang awalnya tidak menaruh minat pada audisinya, kini justru berbalik menatap penampilannya dengan terkesima.

   ”NONA HANA… TOLONG NONAKU, NONAKU AKAN KETAHUAN OLEH PENGASUHNYA!”

   ”JEBAL, JOON DIA HANYA AKTING!”

   ”SHHHH!!!” omel hampir semua penonton pada Hana dan Joon yang berisik saat adegan Romeo dan Juliet tengah saling mengakui cinta mereka di balkon, persis seperti yang Jaehee dan Joonmyun lakukan di latihan pertama mereka, ketika Joonmyun mendadak menirukan suara pengasuh Juliet.

   Pada akhirnya, sepuluh menit audisi yang Jaehee sekaligus Minseok lakukan selesai. Jaehee sampai harus mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dari trans. Saat Minseok memberinya high five, memuji aktingnya yang luar biasa. Bahkan Jaehee masih harus terbengong-bengong melihat Jinmi, Kepala Sekolah Jung, dan Guru Han ikut berdiri, sambil bertepuk tangan.

   ”Kamsahamnida.” Dengan terbata Jaehee membungkuk, terheran-heran dengan Minseok yang juga membungkuk sambil bertepuk tangan, bahkan seolah-olah meminta para penonton memberikan tepuk tangan meriah baginya.

   Hingga di ujung panggung sebelah kanan, tempat dimana Joonmyun tadi berdiri, Hyesoo—memberi isyarat agar ia dan Minseok menyingkir. Menunduk, kembali menjadi dirinya yang super tidak percaya diri, Jaehee mengikuti Minseok yang berjalan ke sisi kanan panggung, dimana ternyata diisi oleh instrumen-instrumen musik, dan murid-murid yang mengisi soundtrack..

   ”Aktingmu bagus sekali, Jaehee-ssi!” puji Hyesoo begitu ia mendapati Jaehee yang terlihat linglung muncul di sisi panggung.

   Masih terguncang, bingung. Jaehee hanya dapat meringis dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Hyesoo. Beberapa anggota tim Hyesoo, yang namanya tidak ia ketahui, yang tengah sibuk mondar-mandir membawa plester dan meteran bahkan menyempatkan diri berhenti sebentar hanya untuk mengatakan bahwa aktingnya bagus.

   ”Sini, Jaehee-ya, sini!”

   Minseok—yang tadi melakukan audisi bersamanya karena rupanya Minseok memilih scene yang sama untuk diperankan dengan dirinya, kini duduk di kursi-kursi plastik yang disediakan oleh panitia. Pria berwajah bundar dan bermata sama bulatnya itu kini tengah membuka tutup botol air mineral dan menenggaknya setelah meminta Jaehee duduk disampingnya.

   Jaehee cukup mengenal Kim Minseok—bukan Kim dari klan milik Joonmyun, maka aman bagi mereka untuk berteman. Ia tidak mengenal dekat Minseok, namun selama dua tahun bersekolah di Hanlim dan berada di satu departemen yang sama membuatnya cukup mengenal baik pria itu. Pertama aktingnya bagus, namun ia jarang ikut tampil dalam berbagai acara yang diselenggarakan karena ia lebih fokus di ekstrakurikulernya, sepakbola. Ia dan Minseok memang tidak dekat, namun dulu sekali mereka pernah terlibat salah satu produksi.

   ”Aku tidak tahu kau bisa berakting sebaik itu,” puji Minseok begitu Jaehee sudah duduk disampingnya.

   ”Jinjjayo?”

   Minseok mengangguk menyodorkan botol mineralnya yang ditolak Jaehee sambil tersenyum, ”Serius! Kemana saja kau selama ini Jaehee-ya? Kau begitu menghayati peran Juliet tadi… sampai aku sendiri terkesima. Kukira kau benar-benar tengah mengakui cintamu padaku,” gelaknya. Dan Jaehee hanya bisa tersenyum.

   ”Sejujurnya kejadian diatas panggung tadi blur bagiku,” gumam Jaehee jujur. Kedua tangannya masih gemetaran, dan ia masih tidak percaya bahwa ia sudah berhasil menyelesaikan audisi tahap pertamanya. Menunggu peruntungannya saja, apakah ia akan dipanggil masuk ke tahap kedua audisi.

   ”Blur? Maksudnya kau tidak ingat apa yang kau lakukan di panggung?”

   Jaehee mengangguk, terkekeh.

   ”Termasuk menciumku?” ledek Minseok.

   ”Oh my god!” jerit Jaehee sambil menekap wajahnya. ”Apa kau serius, Kim Minseok?!” dan Minseok hanya tertawa-tawa geli. ”Astaga, aku benar-benar minta maaf jika itu membuatmu tidak nyaman… aku hanya…”

   Mengibaskan tangannya, ”Tenang saja. Aku memang kaget, tapi aku senang… aktingmu membuatku ikut menghayati peran Romeo.”

 

Joon~  : Kenapa Nona mencium pria itu? T____T

Joon~  : Nona Jaehee sangat cantik

 

   Jaehee tersenyum kecil melihat pesan yang dikirimkan oleh asisten pribadinya ke dalam ponselnya. Ketika tengah memeriksa pesan-pesan yang masuk, jendela pesan bagian Joonmyun membuatnya sadar bahwa ia masih belum membalas pesan pria tersebut. Dan ngomong-ngomong soal Joonmyun.

   Bukankah pria itu ada disini? Dimana dia? Mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan, Jaehee menyadari bahwa Joonmyun duduk di sudut ruangan, dibelakang sebuah keyboard besar, dengan tubuh disenderkan ke dinding di belakangnya, dan kedua tangan dilipat di depan dadanya.

   Pria itu memberikan Jaehee senyumnya, dan mengedipkan sebelah matanya saat menyadari tak ada seorang pun yang memperhatikan mereka. Jaehee tersenyum kecil sambil kembali berbalik ke depan, mendengarkan Minseok mengoceh soal kualitas akting murid-murid jurusan mereka yang bertambah baik saja.

   ”Mr Kim Joonmyun.”

   Hampir semua orang mendongak saat pria dengan headphone besar dilengkapi mikrofon muncul membawa papan jalan. ”Setelah ini, adegan Romeo bersama para sepupunya yang akan diperankan oleh Mr Bang, kau bisa bersiap-siap dengan lagu How Did I Fall in Love With You.”

   ”Ne, kamsahamnida.” Jaehee bisa mendengar Joonmyun menjawab.

   Ingin sekali rasanya Jaehee berbalik untuk melihat Joonmyun bermain piano seperti biasanya. Namun yang benar saja, mempertaruhkan keinginannya dan tertimpa masalah yang jauh lebih besar, begitu? Jelas tidak.

   Melodi pembuka lagu ciptaan Joonmyun sendiri, How Did I Fall in Love With You, mulai terdengar. Jaehee bisa merasakan Minseok yang duduk disisinya menoleh ke belakang untuk menyaksikan secara langsung Joonmyun memainkan lagu tersebut, sementara ia sendiri hanya dapat bersandar dan memasang telinganya.

   Bukan hanya satu atau dua kali Joonmyun memainkan lagu tersebut, melainkan berulangkali. Biasanya jika Jaehee tiba di ruang musik 213, Joonmyun sedang memainkan lagu ini untuk berlatih. Setelah ia datang, mereka berlatih serius hingga nyaris petang. Begitu keduanya selesai berlatih, Joonmyun akan meminta Jaehee untuk duduk disampingnya, sementara ia memainkan lagu tersebut untuk Jaehee. Berapa kalipun Jaehee mendengarkannya, ia tidak pernah merasa bosan. Paduan keindahan melodi yang dimainkan oleh jemari indah Joonmyun, ditambah suara Joonmyun yang menenangkan.

   Satu hal yang Jaehee sukai dari Joonmyun selain fisiknya yang sempurna tentunya. Adalah suara.

   Bagi Jaehee, suara Joonmyun tatkala bicara saja sudah bisa menenangkan syaraf dan pikirannya. Suara pria itu lembut, bak beledu. Kata-kata yang ia tuturkan juga selalu sopan dan manis. Pribadinya hangat, dan sangat ramah. Berkebalikan dengan apa yang selama ini orangtua dan keluarganya katakan mengenai keluarga Kim.

   Joonmyun jauh dari itu semua.

   Jika suara Joonmyun saat bicara saja sudah bisa membuat Jaehee tenang, suara Joonmyun saat bernyanyi benar-benar menjadi obat bagi segala gundah bagi Jaehee. Ia tidak pernah terlalu percaya diri. Dalam setiap latihan yang mereka lakukan, seringkali Jaehee merasa usahanya jauh dari kata maksimal dan kembali ingin menyerah. Tetapi, cukup dengan nyanyian Joonmyun, Jaehee merasa jauh lebih baik.

   Suaranya bagaikan obat.

   Joonmyun juga selalu sepenuh hati saat menyanyikan lagu berjudul How Did I Fall in Love With You ini. Jaehee ingin sekali berbagi mengenai perasaannya yang menggila kepada Hana, namun ia tahu gadis itu akan marah-marah jika satu kata saja mengenai Joonmyun keluar dari bibirnya. Lagipula…

   Menggelengkan kepalanya, Jaehee menepuk-nepuk pipinya. Satu minggu penuh menghabiskan waktu bersama seorang Kim Joonmyun rupanya sudah membuat akal sehatnya bergeser dari tempatnya semula.

   Jaehee merasa, lagu yang Joonmyun ciptakan itu, ditujukan kepadanya. Apakah ia gila?

 

Ooh I wanna say this right,

And it has to be tonight

Just need you to know

I don’t wanna live this life

I don’t wanna say goodbye

With you I wanna spend

The rest of my life…

 

   Yang jelas, Jaehee yakin kalau eksistensi Joonmyun selama seminggu ini sudah membuatnya gila. Mungkinkah, mungkinkah ia jatuh cinta pada pria itu?

   Memberanikan diri, Jaehee menoleh. Pemandangan indah di hadapannya, ingin sekali ia abadikan melalui kamera ponselnya, ingin ia cetak gambarnya, sebanyak mungkin hingga memenuhi kamarnya.

   Namun, karena ia tahu tidak mungkin, ia hanya bisa menyimpan memori Joonmyun yang memejamkan kedua matanya, bibir pink yang menempel pada mikrofon dihadapannya, dan jemarinya yang bergerak lincah.

   This is bad, Jaehee-ya, you’re doomed!

 

*        *        *

”Oh Jaehee.”

   Gemuruh tepuk tangan, siulan, bahkan sorakan-sorakan yang bahkan tidak pernah Jaehee bayangkan seumur hidupnya dapat ia peroleh kini terdengar begitu memekakkan telinga, namun begitu menyenangkan.

   Guru Han tengah berdiri di tengah-tengah panggung, membacakan nama-nama peserta yang lolos maju ke tahap kedua audisi pemeran Romeo & Juliet. Ketika Guru Han memanggil namanya sendiri, Jaehee ternganga. Hana dan Joon disampingnya bersorak riuh, memeluknya erat-erat sebelum Joon berdiri memimpin masa untuk meneriakkan, ”OH JAEHEE! OH JAEHEE!” secara bersamaan.

   ”A…aku tidak percaya… jinjja!?”

   ”Ya tentu saja Guru Han serius! Kau benar-benar maju ke babak berikutnya, Jaehee-ya!” seru Hana bahagia memeluk Jaehee erat-erat, seakan-akan Jaehee adalah boneka beruang empuk kesayangannya di rumah.

   Jaehee hampir menangis terharu, terlebih saat Guru Han memintanya untuk berdiri di tempatnya, agar para penonton mengetahui siapa Oh Jaehee itu—yang sudah tidak perlu, karena mereka semua sudah menyorakkan nama Jaehee dengan bersemangat diiringi oleh Joon.

   ”Sekarang kita lihat siapa saja sainganmu. Benar kan kataku, aktingmu, bakatmu… semua itu seratus! Kau hanya terlalu malu-malu untuk menunjukkannya… sekarang jika kau sudah percaya diri seperti ini, semua lewat! Hah, siapa itu Hwang Jung Eum?”

   Jaehee memukul bahu Hana dengan malu, ”Hana-ya!” yang benar saja, dibandingkan dengan Hwang Jung Eum. Jaehee hanya baru bisa memerankan Juliet dalam satu scene saja, itu pun sepenuhnya, berkat jasa seseorang. Dan ketika para penonton masih bersorak-sorak riuh, matanya mencari-cari ke tempat duduk bagian bawah, dimana seingatnya, Kim Joonmyun duduk bersama dua orang temannya; Kim Jongdae dan Kim Seolhyun.

   Jantungnya kembali berlomba dengan napas yang memburu, karena ia menemukan pandangan pria yang tengah tersenyum pada Seolhyun nampak membicarakan sesuatu, mendadak menoleh kepadanya. Seolah-olah ia memang menunggu pandangan mereka bertemu. Dengan sedikit gerakan, Joonmyun menolehkan kepalanya ke arah atas—ke arah Jaehee duduk bersama Joon dan Hana.

   ”Gomawo.” Bisik Jaehee melalui bibirnya, tanpa suara.

   Dan Joonmyun memberinya senyuman miring, sebelum kembali menghadap ke depan dan berbincang dengan kedua rekannya.

 

*        *        *

”Kim Seolhyun.”

   Jika biasanya, akan banyak pria-pria yang menyiulinya, atau menyorakinya, meneriakkan namanya, seakan-akan ia adalah seorang diva, kali ini hanya tepuk tangan sopan yang Seolhyun dapatkan seusai Guru Han menyebutkan namanya. Dari dua puluh lima peserta, hanya lima orang yang lolos ke babak berikutnya.

   Dan Guru Han menyebutkan namanya paling terakhir. Seolhyun mengepalkan tangannya, buku-buku jarinya memutih, dan wajahnya memucat saat ia menunggu dan bertanya-tanya mengapa namanya tak kunjung dipanggil oleh Guru Han. Apakah ia takkan terpilih? Tidak mungkin. Tidak mungkin. Ia mengulangi dua kata tersebut berulangkali di dalam hatinya.

   ”Woah chukahae, Seolhyun-ah,” Jongdae tersenyum padanya.

   Tidak seperti biasanya.

   Ya tidak seperti biasanya. Seolhyun menoleh pada Joonmyun, dan pria itu—tersenyum sambil bertepuk tangan untuknya. Apakah ini adalah hal yang biasa? Mungkinkah Seolhyun berharap lebih, reaksi yang lebih dari kedua temannya? Mengapa baik Jongdae dan Joonmyun, hanya bereaksi biasa-biasa saja?

   ”Kukira aku tidak akan terpilih,” bisik Seolhyun lirih sambil duduk kembali di kursinya.

   Dan tak ada jawaban dari kedua temannya. Jongdae terlihat serius memikirkan sesuatu, sementara Joonmyun hanya tersenyum paham, tak banyak bicara seperti biasanya. Dan Seolhyun kembali menatap Guru Han yang menjelaskan bahwa setelah ini, akan dilangsungkan audisi tahap kedua untuk memilih dua orang saja yang akan maju memperebutkan peran Juliet, maupun peran Romeo.

   ”Joonmyun-ssi,”

   Seolhyun melirik Joonmyun yang wajahnya berubah dari tenang menjadi keras. Entah ini hanya perasaannya saja, atau setiap kali si sutradara Baek Jinmi menghampiri sahabatnya itu, ia akan berubah waspada.

   ”Ne?”

   ”Zhang Yixing ingin bertemu denganmu di balik panggung, perihal tata musik. Dan, Kim Jongdae-ssi,” Baek Jinmi menoleh pada Jongdae yang ikut mendongak, ”Bisa ikut saya ke belakang sebentar?”

   Dan disinilah Seolhyun duduk sendiri. Baik Joonmyun maupun Jongdae, tak ada yang repot-repot berpamitan, atau sekedar berbasa-basi mengatakan bahwa mereka harus pergi terlebih dahulu. Keduanya hanya berdiri dan meninggalkannya duduk sendirian dalam kegugupannya yang semakin lama semakin besar.

 

*        *        *

“Halo, Kim Joonmyun-ssi, aku Zhang Yixing.”

   Joonmyun balas tersenyum dan menjabat tangan pria berwajah ramah dengan mata melengkung ke bawah tersebut. ”Aku tahu kau.”

   ”Kamsahamnida. Suatu kehormatan… aku pun tahu kau,” Yixing dengan bersemangat menepuk-nepuk kursi kosong disampingnya. ”Apa kau sibuk setelah ini? Atau hendak pulang setelah ini?”

   ”Sepertinya tidak, temanku masih akan audisi. Aku mau melihatnya.”

   ”Ah, Kim Seolhyun, keurae?” tebak Yixing sambil menarik papan jalan di atas meja ke arahnya.

   Well, tidak sepenuhnya salah. Seolhyun. Dan Jaehee tentunya. Saat tadi mendengar nama Jaehee disebutkan oleh Guru Han sebagai salah satu kandidat yang lolos, ingin rasanya Joonmyun bersorak seperti teman-temannya yang lain. Ketika hampir semua orang di auditorium memanggil nama Jaehee, ia hanya bisa menahan diri, dan hanya menikmati suara-suara yang memanggil nama gadis itu.

   Saat ia menoleh, ia mendapati gadis itu nyaris menangis tidak percaya dengan pencapaiannya sendiri. Ia melihat Lee Hana, memeluk erat gadis itu, dan supirnya—kalau Joonmyun tidak salah, ikut berteriak-teriak heboh bersama para penonton yang lain.

   She deserves all of that.

   Ia bahagia, akhirnya semua orang bisa melihat siapa sebenarnya Oh Jaehee dari balik cangkangnya yang keras.

   ”Aku punya tawaran untukmu,” kata Yixing sambil mendongak dari papan jalannya. ”Lagumu How Did I Fall in Love With You sangatlah bagus. Woah, aku tidak pernah mendengarkan lagu seindah itu… aku jarang memuji orang,” kekeh Yixing, ”Tetapi lagumu tadi, daebak!”

   ”Terima kasih.” Jawab Joonmyun rendah hati.

   ”Dan penawaranku adalah… bagaimana kalau kau bergabung menjadi tim Music Director, bersamaku?”

   Kedua mata Joonmyun melebar, kaget. ”Tim Music Director?”

   Yixing menganggukkan kepalanya penuh semangat. Kedua matanya melebar dengan penuh bujuk rayu, yang Joonmyun yakin akan melelehkan siapa pun yang melihatnya. Astaga, apa laki-laki bisa punya teknik seperti ini? Pikirnya.

   ”Yep, tentu saja akan masuk penilaian. Kepala Sekolah Jung menyerahkan penuh tim Music Director padaku, dan siapa saja yang ikut mengerjakan proyek ini akan diberikan nilai yang setimpal. Ayolah, tidak ada ruginya bukan? Lagipula, Demi Tuhan… lagumu dan suaramu, sangat-sangat indah! Aku berani bertaruh kau bisa disejajarkan dengan… err, siapa namanya?” Pria berlesung pipi itu nampak mengingat-ingat, ”Ah! Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo! Ah, dan temanmu Kim Jongdae!!!”

   Joonmyun terkekeh geli. Ia kenal dengan dua pria bernama Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo tersebut. Keduanya adalah murid Departemen Applied Music, jurusan Vokal, bersama Jongdae. Jika Jongdae biasa tampil solo, Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo biasa tampil berdua. Duo ByunDo.

   ”Aku… aku tidak tahu, aku juga masih harus fokus dengan audisiku untuk festival musim semi besok,” jawab Joonmyun ragu. Pertama, ia khawatir ibunya akan tahu mengenai hal ini. Bagi sang ibu, Joonmyun terlahir untuk berdiri di bawah lampu sorot, duduk dibelakang piano. Tidak untuk hal lain!

   ”Joonmyun-ah, jangan kau sia-siakan bakatmu.” Bujuk Yixing. ”Jujur aku berpendapat lagumu sangat sayang jika hanya dimainkan sebentar, disaat Romeo patah hati. Bukan untuk lagu highlight dimana Romeo dan Juliet jatuh cinta. Ayolah, aku tahu kau pasti bisa… kau bermain piano dan bernyanyi dengan hatimu… itu yang terkadang tidak pernah aku lihat dari teman-teman jurusanmu.”

   Joonmyun masih juga terlihat ragu.

   ”Begini saja, kuberi kau waktu sampai besok untuk berpikir. Tapi kuharap… jawabanmu adalah iya,” Yixing mengedipkan matanya dan menepuk bahu Joonmyun sebelum meninggalkan pria itu sendirian di samping panggung.

   Dengan hati? Benarkah lagunya bisa menyentuh hati seperti itu?

   ”Oi, Joonmyun-ah!”

   Joonmyun mendongak, Jongdae muncul dengan senyum datar. ”Aku terpilih sebagai Tybalt,” katanya, dengan suara sama datarnya dengan senyumannya. ”Dan kau, apa yang Zhang Yixing itu ingin bicarakan denganmu?”

   ”Dia menawariku untuk bergabung dengan tim Music Director, untuk musikal ini,” jawab Joonmyun sambil berdiri dari tempat duduknya, ”Katanya ia terkesan dengan laguku…” mengernyit ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ”Dia dan kau mengatakan hal yang sama, ngomong-ngomong.”

   ”Oh ya?” tanya Jongdae penasaran. ”Apa?”

   ”Dia bilang laguku dibuat dengan hati… atau semacam itulah, intinya ia merasa tersentuh dengan lagu How Did I Fall in Love With You,”

   Alis Jongdae terangkat tinggi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menyandarkan sebelah tubuhnya pada piano besar yang berdiri di sampingnya. ”Dan ia benar. Ya, jujur katakan padaku… lagu itu… kau buat… untuk Bae Joohyun, kan?”

   ”Kenapa kau menanyakannya?” tanya Joonmyun heran. Bukankah Jongdae sudah tahu darimana akar mula lagu itu berasal?

   Sahabatnya itu mengangkat bahu, ”Hanya penasaran. Seperti yang kukatakan, kalau lagu itu penuh cinta. Kau menyanyikannya seperti pria yang sedang kasmaran pada sahabatmu sendiri. Jadi aku penasaran saja…”

   ”Lagu itu kubuat untuk Joohyun,” gumam Joonmyun meyakinkan. Namun dalam hatinya, ia tak lagi memikirkan Joohyun saat menyanyikan lagu itu.

   ”Jadi benar, lagu How Did I Fall in Love With You itu memang lagu untuk Joohyun, kan?” Jongdae benar-benar memastikannya.

   ”Iya, Jongdae, kau benar.” Joonmyun berdecak, meliriknya aneh. Mungkin obsesi menjadi Tybalt telah membuat pikiran sahabatnya itu bercabang. Joonmyun melewati Jongdae begitu saja dan melangkah menuju pintu keluar, hendak kembali ke bangku penonton untuk menyaksikan jalannya audisi tahap kedua.

   Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu.

   Jaehee berdiri disana, membawa gulungan kertas naskahnya. Baru saja Joonmyun hendak membuka mulut untuk menyapanya, gadis itu sudah berbalik dan berlari meninggalkannya begitu saja.

 

*        *        *

”Hana-ya…”

   ”Hmm?”

   ”Bagaimana kalau kita pulang saja?” tanya Jaehee pelan.

   Baik Hana maupun Joon menoleh ke arah Jaehee yang duduk diantara mereka berdua dengan bingung. Pulang? Yang benar saja! Apa Jaehee sudah gila?! Sepuluh menit lagi audisi tahap kedua akan segera dimulai!

   ”Kau baik-baik saja, Jaehee-ya?”

   ”Nona tidak makan sesuatu yang… berbahaya kan?”

   Jaehee menggeleng. ”Aku sepertinya tidak sanggup untuk melakukan audisi ini lagi. Jebal, lebih baik kita pulang saja.”

   ”Andwae!” omel Hana. ”Ini sudah tahap kedua! Sedikit lagi kau berhasil menjadi Juliet, Jaehee-ya!!”

   ”Benar, Nona…”

   Jaehee meniup poninya dengan lesu, ”Tapi rasanya aku sudah tidak dapat berakting dengan baik sekarang. Kepalaku kosong, rasanya seperti mau pecah… Hana-ya, lebih baik kita pulang saja, Joon…”

   ”Ta…tapi, Nona…” Joon mana bisa menolak perintah atau pun keinginan Nona-nya.

   ”Ya, tapi kenapa? Apa yang membuatmu tidak mau melanjutkan?! Astaga, Jaehee-ya, tidakkah kau ingat? Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk membuktikan pada Donghae Samcheon kalau kau berbakat dalam bidang ini. Kau bercita-cita ingin menjadi aktris musikal!”

   Benar juga, batin Jaehee sambil menunduk.

   ”Tapi… bagaimana kalau aku mengacaukannya, Hana-ya?” bisik Jaehee lirih. Tak ada kesan kenakakkan lagi. Biasanya, ia selalu merengek dan merengek pada Hana, berulangkali berkata bahwa ia tidak bisa namun ia ingin berhasil. Kali ini, pandangan Jaehee kosong dan wajahnya benar-benar, entahlah… sedih sekali! ”Aku… aku tidak membayangkan…”—aku tidak lagi bisa membayangkan wajah Joonmyun sebagai Romeo setelah mengetahui bahwa pria itu jatuh cinta pada wanita lain.

   Bodohnya ia. Jaehee menghela napas dan membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Seharusnya ia tahu! Seharusnya ia tidak mudah terbawa perasaan. Seharusnya ia sadar diri.

   Kim Joonmyun mendekatinya, membantunya, ya karena ia memang baik saja. Tidak punya agenda lebih!

   Seumur hidupnya, Jaehee belum pernah diperlakukan begitu manis seperti cara Joonmyun memperlakukannya oleh pria mana pun. Joon sekalipun tidak pernah memperlakukannya dengan cara Joonmyun. Sesuatu dalam diri Joonmyun, berbeda. Sesuatu yang tidak pernah Jaehee temukan, rasakan, dan lihat sebelumnya. Ia tidak sadar bahwa ia dengan mudahnya terbawa arus pertemanan platonis Joonmyun, dan menganggapnya lebih.

   Bahkan mengira, lagu How Did I Fall in Love With You itu adalah lagu yang dipersembahkan Joonmyun untuknya!

   Ha~ pede sekali kau, Oh Jaehee.

   Ingin rasanya ia menangis sekarang juga. Rasa malu dan sedih mendominasi hatinya. Ia enggan mengakuinya, namun ia tidak memandang Joonmyun seperti Joonmyun memandangnya. Yaitu seorang teman.

   ”Kalau kalian tidak mau pulang, aku pulang sendiri saja…” gumam Jaehee sambil berdiri dan merapikan barang-barangnya.

   ”Lho, lho…”

   ”Oh Jaehee!” Hana menarik tangan Jaehee agar kembali duduk. Kedua matanya jika dalam kartun kini tengah membara oleh kobaran-kobaran api. Biasanya, jika Hana sudah marah begini, Jaehee akan menuruti segala keinginan gadis itu. Namun sekarang, Jaehee hanya duduk tertunduk lesu. ”Ya! Apa yang salah denganmu?!”

   Jaehee menggeleng, tidak menanggapi.

   ”Sekarang duduk diam disini. Aku mau kau melakukan ini dengan benar, tidak ada menyerah sebelum berperang. Arasseo?!”

   Jaehee tetap diam, meski tidak bergerak dari tempat duduknya. Hana melirik Joon penuh arti, dan sang asisten hanya menatapi Hana balik dengan ekspresi putus asa, kemudian ia melirik Nona-nya yang lesu dengan khawatir.

   Tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena berteman dengan Jaehee sejak kecil jelas membuat Hana tahu tabiat jelek Jaehee yang satu ini. Jika mood Jaehee sudah jelek, maka tak ada yang siapa pun bisa lakukan untuknya, kecuali menunggu mood-nya naik sendiri. Semakin dibujuk, maka mood gadis itu akan semakin menukik tajam.

   ”Oh Jaehee-ssi,”

   Hana, Jaehee, dan Joon menoleh pada sosok Baek Jinmi yang datang dengan senyuman ramah. Tak gentar dengan wajah kusut Jaehee tentunya. ”Silakan ke samping panggung, sebentar lagi audisi tahap kedua akan dimulai.”

   ”Ne,” sahut Jaehee sambil membungkukkan kepalanya. Untungnya mood jeleknya tidak mempengaruhi sikap sopannya. Jaehee meraih tasnya dan tanpa mengatakan apa pun pada Hana dan Joon, ia mengikuti Jinmi turun ke bawah.

   Menuruni tangga-tangga yang dilapisi karpet beludru merah, Jaehee mau tak mau memperhatikan bahwa semakin banyak saja orang yang menonton jalannya audisi ini. Departemen Musical Theatre di Hanlim memang terkenal menyuguhkan penampilan drama musikal yang murid-muridnya biasanya akan sukses terjun di dunia teater musikal ketika sudah lulus. Wajar saja, bahkan murid-murid yang bukan dari Departemen Musical Theatre datang untuk menonton.

   ”Jaehee hwaiting!”

   ”Oh Jaehee hwaiting!”

   ”Jaehee-ya, halsuisseo!”

   ”Sunbaenim, kami mendukungmu.”

  Mendengar ucapan-ucapan ramah dan dukungan dari kanan-kirinya, Jaehee tersenyum kecil dan membungkuk-bungkuk, terus mengikuti Jinmi sampai tiba di anak tangga paling bawah, tepat di depan panggung. Seharusnya, jika ia menoleh ke sebelah kiri, kursi paling depan diisi oleh Joonmyun.

   Tapi tidak, sudah cukup. Jaehee langsung berbelok ke sebelah kanan melewati beberapa orang di yang duduk di bangku paling depan—yang juga meneriakkan dukungan padanya, dan mengikuti Jinmi masuk ke dalam kamar ganti.

   Kim Seolhyun sudah ada di dalam. Komat-kamit sendirian, berusaha menghapalkan berbagai dialog Juliet. Begitu juga dengan tiga kandidat lainnya, yang Jaehee kenali dua orang dari kelas homeroom-nya, dan satu lagi dari satu angkatan di bawahnya. Melihat usaha keempat orang gadis di hadapannya ini, lantas membuat Jaehee jadi malu sendiri.

   Mereka berempat berupaya keras untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Mereka susah payah ingin berlatih agar menjadi aktris yang sukses memerankan Juliet ini. Sementara dia? Hanya karena mengetahui bahwa apa yang ia harapkan dan diam-diam diimpikan ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena Jaehee terlalu berharap, dan terlalu melambungkan perasaannya, yang tidak pernah ia sadari saat tengah berlatih.

   Sekarang, jika sudah begini? Jika saat nanti ia berakting malah kacau, bagaimana? Jaehee menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua tangannya sambil menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan syaraf-syarafnya.

   ”Hai… gugup?”

   Mendongak, Jaehee buru-buru menegakkan diri dan menerima sebuah botol air mineral yang diberikan sutradara Baek Jinmi kepadanya. Ia melihat keempat kontestan lain juga sudah menerima botol air mineral di tangan mereka masing-masing.

   ”Ya, kepalaku kosong.” Jawab Jaehee jujur sambil membuka tutup botol air mineral tersebut dan meneguknya perlahan.

   Baek Jinmi tersenyum, ”Itu wajar… apalagi penontonnya banyak. Kau hanya perlu melakukan akting seperti yang biasa kau lakukan saat latihan saja, tidak perlu memikirkan ada banyak penonton diluar sana.”

   ”Ne,” gumam Jaehee sambil tersenyum.

   ”Tenang saja, gugup tidak dosa kok,” kata Jinmi berusaha meringankan suasana, ”Coba lihat? Hampir semuanya gugup… hmm, jangan dibiarkan kegugupan itu justru menjadi bumerang bagi kualitas aktingmu.”

   Mengangguk sekali lagi, Jinmi berdiri dan meninggalkan Jaehee terpekur sendirian di kursinya sambil memainkan botol di tangannya. Ia merasakan ponselnya bergetar-getar di dalam saku seragamnya, namun memutuskan untuk mengabaikannya.

   Itulah kenapa, tidak seharusnya kau bergantung pada siapa pun, Oh Jaehee. sekarang kau mempertanyakan kualitas aktingmu sendiri, kan? Bisakah kau berakting tanpa bayang-bayang Kim Joonmyun? Jebal, sebelum ada Kim Joonmyun, kau sudah berakting!

   ”Benar.” Gumam Jaehee menjawab suara hatinya. ”Sebelum ada dia aku sudah berakting… tidak seharusnya aku menyia-nyiakan kesempatan ini…” Tapi sekarang kan kau meragukan dirimu! Bisakah kau berakting tanpa pria itu ada di dalam bayang-bayangmu? “Bisakah aku?” tanyanya. Kau harus bisa!!!

   ”Heol,” Jaehee meletakkan botol air mineral di bawah kursinya, pasrah akan keadaan.

   ”Kim Seolhyun-ssi, silakan naik ke panggung. Audisimu akan segera dimulai.” Jaehee melihat Seolhyun dengan wajah penuh tekad, meletakkan naskahnya di atas kursi. Gadis dengan tubuh semampai itu menenggak air mineralnya sebelum berlari kecil menuju pintu selubung yang menghubungkan panggung dengan kamar ganti. Jaehee bisa mendengar tepuk tangan riuh kemudian, sepertinya Seolhyun sudah berada di atas panggung.

   Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah pasrah, dan berharap yang terbaik bagi aktingnya.

*        *        *

”Oh Jaehee.”

   Suara yang memanggilnya terdengar dari kejauhan. Saat tak ada lagi peserta yang menunggu di kamar ganti, kecuali dirinya—dan lima orang calon pemeran Romeo termasuk Minseok. Jaehee mengikuti Seolhyun, menenggak air mineral secukupnya, agar bibir dan tenggorokannya tidak kering karena gugup, sebelum naik ke atas panggung, diiringi tepuk tangan riuh.

   ”Annyeonghaseyo, Oh Jaehee-imnida.” Jaehee membungkuk dalam-dalam di tengah panggung.

   ”Jaehee-ssi,” Kepala Sekolah Jung bicara sambil menatapnya dari kursi juri yang terletak di tengah-tengah jejeran tempat duduk penonton. ”Saya ingin anda memperagakan Juliet, di Act 4, Scene 3… Guru Han disini, dan Baek Jinmi akan membantumu menjadi Lady Capulet dan Nurse. Bagaimana?”

   ”Ne, algesseumnida, Kepala Sekolah Jung.”

   Bertahan tidak ingin melirik sedikitpun ke arah Kim Joonmyun—yang eksistensinya selalu membuat radar di kepala, mata, dan jantung Jaehee bergetar hebat, Jaehee mendengar tim tata panggung mulai mendorong set kamar Juliet ke tengah-tengah panggung, tepat di belakangnya, termasuk mendorong sebuah tempat tidur besar.

   ”Siap, Jaehee-ssi?”

   ”Siap, Kepala Sekolah.” Sahut Jaehee yang sudah duduk di atas tempat tidur, dengan gaun pengantin disampingnya.

   ”Action!”

   Masa bodoh lah! Pikir Jaehee, ini hanya akting! Membayangkan dipisahkan oleh pria yang dicintai, dan dijodohkan dengan pria lain!

   Setelah hatinya mengucap mantra masa bodoh itu, pandangan mata Jaehee berubah, dan mendadak seperti audisi di tahap pertama tadi, panggung dan penonton menjadi kosong. Ia sendiri duduk di atas tempat tidur. Ialah Juliet, bukan Oh Jaehee!

   ”What, are you busy, ho? Need you my help?” Guru Han masuk dengan senyum keibuannya, mengelus kepala Jaehee.

   “No, madam. We have culled such necessaries as are behooveful for our state tomorrow. So please you, let me now be left alone, and let the Nurse this night sit up with you. For, I am sure, you have your hands full all in this so sudden business. (Tidak, Bu, aku dan Suster hanya memutuskan pakaian mana yang terbaik untuk kukenakan besok. Lalu, jika kau tidak keberatan, aku ingin ditinggalkan sendirian sekarang. Aku yakin kau sibuk sekali mempersiapkan pesta yang mendadak ini). Jaehee memberikan senyuman muramnya pada Guru Han. Dengan kemuraman yang memang sudah Jaehee dapatkan sebelum naik panggung, juga ditambah dengan rasa sedih membayangkan jika ia benar-benar berada di posisi Juliet.

   Guru Han kembali mengelus kepala Jaehee dan mengecup puncak kepalanya, ”Good night, get thee to the bed and rest, for thou hast need. (Oke, selamat malam, tidurlah dan beristirahatlah, aku yakin kau membutuhkannya).” Guru Han berdiri dan meninggalkan panggung diiringi tepuk tangan para penonton.

   Jaehee memandang kosong ke arah perginya guru Han. Entah karena perasaannya yang tengah sensitif atau memang karena ia betul-betul menjiwai perasaan dipisahkan oleh pria yang ia cintai, kemudian terpikirkan bahwa ia tidak dicintai kembali oleh pria yang ia cintai, setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.

   ”Ooohhhh…” para penonton terkejut.

   “Farewell!—God knows when we shall meet again. I have a faint cold fear thrills through my veins that almost freezes up the heat of life. I’ll call them back again to comfort me.—Nurse!—What should she do here? (Selamat tinggal, hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan bertemu lagi, Bu. Ada sedikit ketakutan dingin yang menjalari setiap pembuluh darahku, ketakutan ini hampir membekukan panasnya kehidupan. Oh, aku akan memanggil mereka lagi untuk menghiburku. Suster! Oh, apa yang bisa ia lakukan dengan baik disini? Dalam keputusasaanku, aku harus bertindak sendiri.” Mengusap matanya yang entah sejak kapan sudah amat sangat basah, Jaehee bergerak mendekati bantal, dimana ada catatan kecil, bahwa disanalah botol racun yang akan ia minum diletakkan tim produksi, Jaehee mengambil botol kecil tersebut.

   ”Come, vial.” Jaehee mengangkat botol kecil tersebut, agar para penonton juga bisa melihat bentuk botolnya, ”What if this mixture do not work at all? Shall I be married then tomorrow morning? No, no. This shall forbid it. Lie thou there… (Bagaimana jika campuran obat ini tidak berhasil? Haruskah aku menikah besok… tidak, tidak, pisau ini akan menghentikannya jika itu yang terjadi.” Jaehee mengambil pisau yang diletakkan di bawah baju pengantin, dan berdiri tepat di tengah panggung, meletakkan pisau di meja bulat kecil, Jaehee kembali memandangi botol berisi cairan tersebut.

   “What if it be a poison, which the friar subtly hath ministered to have me dead, Lest in this marriage he should be dishonored because he married me before to Romeo? I fear it is. And yet, methinks, it should not, for he hath still been tried a holy man. (Bagaimana jika Pastur justru mencampurkan racun untuk membunuhku? Apakah ia khawatir, ia akan menjadi malu jika ia menikahkanku dengan Paris, karena ia telah menikahkanku lebih dahulu dengan Romeo? Oh, aku takut ini adalah racun! Tapi, ini tidak mungkin racun, karena ia adalah pria suci yang dapat dipercaya).” Jaehee memejamkan matanya erat-erat, tangannya juga mengepalkan botol racun tersebut kuat-kuat, dan air matanya tidak mau berhenti.

   Jaehee mengusap matanya yang basah, dan terus mengucapkan dialog-dialog yang penuh dengan keputusasaan, “How if, when I am laid into the tomb, I wake before the time that Romeo Come to redeem me? There’s a fearful point. Shall I not, then, be stifled in the vault to whose foul mouth no healthsome air breathes in, And there die strangled ere my Romeo comes? Or, if I live, is it not very like The horrible conceit of death and night, Together with the terror of the place—

 (Bagaimana jika ketika aku dimakamkan, aku terbangun sebelum Romeo datang menyelamatkanku? Astaga, hal itu sangat mengerikan! Bukankah aku akan kehabisan nafas di dalam makam? Tidak ada udara sehat di dalam sana. Akankah aku mati sebelum Romeo datang menyelamatkanku karena kehabisan napas? Atau… atau jika aku hidup… aku akan hidup dalam kegelapan dan orang-orang mati). Jaehee menghembuskan napasnya kuat-kuat dan berjalan kembali ke tempat tidurnya, duduk diatasnya.

   ” As in a vault, an ancient receptacle, Where for these many hundred years the bones Of all my buried ancestors are packed; Where bloody Tybalt, yet but green in earth, Lies festering in his shroud; where, as they say, At some hours in the night spirits resort—? (Akan ada ratusan tulang belulang di dalam makam sana… tulang belulang leluhurku. Jasad Tybalt juga diletakkan disana, baru dimakamkan… kerangkanya yang membusuk? Mereka bilang, akan banyak arwah di dalam makam sana…” isak Jaehee ketakutan, ia membenamkan wajahnya di dalam kedua telapak tangannya dan terus menangis.

   Mendongak, membersit hidung, mengusap kedua matanya yang basah. Jaehee menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, ” Alack, alack, is it not like that I, So early waking, what with loathsome smells, And shrieks like mandrakes torn out of the earth, That living mortals, hearing them, run mad—? (Oh tidak, oh tidak… aku akan terbangun dengan bau busuk para leluhurku yang sudah mati, aku akan mendengar teriakan-teriakan orang mati!).”

   Jaehee mendesah berat, seakan-akan memang masih bingung akan pilihannya, ”Oh, if I wake, shall I not be distraught, Environèd with all these hideous fears, And madly play with my forefather’s joints, And pluck the mangled Tybalt from his shroud, And, in this rage, with some great kinsman’s bone, As with a club, dash out my desperate brains? Oh, look! Methinks I see my cousin’s ghost Seeking out Romeo, that did spit his body Upon a rapier’s point. Stay, Tybalt, stay! Romeo, Romeo, Romeo! Here’s drink. I drink to thee. (Jika aku terbangun terlalu cepat, bukankah aku akan gila dengan semua hal buruk dan menakutkan yang ada disekitarku nanti? Mungkin aku akan mulai bermain-main dengan tulang belulang leluhurku, atau bahkan menarik tengkorak Tybalt dari kematiannya? Akankah aku mengambil kerangka leluhurku dan memukulnya ke atas kepalaku sendiri?”

   Jaehee memijat pelipisnya memejamkan matanya kuat-kuat, ”(Oh tidak, oh tidak… rasanya aku melihat hantu sepupuku Tybalt… oh, dia mencari Romeo, karena Romeo membunuhnya dengan pedangnya. Tunggu, Tybalt, tunggu…” mohon Jaehee pada udara kosong, ”(Romeo… Romeo… Romeo…! Ini cairan itu… aku akan meminumnya untukmu…)”

   Jaehee mencabut tutup botol kecil tersebut, mendongak ke atas, membiarkan air mata kembali lolos. Barulah dengan gemetar ia menenggak isi botol tersebut (yang ternyata hanya air mineral) hingga botol tersebut kosong.

   Tepat ketika isi botol dirasanya habis, dengan kaku Jaehee terbaring ke atas tempat tidur, mata terpejam, dan botol di tangannya menggelinding pasrah di lantai panggung.

   ”And Cut!”

   Jaehee berdiri dari tempat tidur, merapikan rambut dan seragamnya sebelum membungkuk mengucapkan terima kasih. Sekali lagi para penonton berdecak kagum, bersorak-sorak memanggil namanya; Guru Han, Baek Jinmi, dan Kepala Sekolah Jung juga berdiri sambil bertepuk tangan dan tersenyum ke arahnya.

   Jaehee berpamitan dari panggung dan masuk ke kamar ganti kembali, sementara Guru Han naik ke panggung untuk memutuskan siapa saja yang akan masuk menjadi finalis dan memperebutkan peran Juliet, setelah audisi tahap kedua pemeran Romeo.

 

*        *        *

Ehem…” Jongdae berdeham setelah memperhatikan profil sahabatnya yang tidak bisa duduk diam sejak sebelum audisi dimulai. Joonmyun bolak-balik mengeluarkan ponsel, mengetikkan sesuatu, memasukkannya lagi ke dalam saku, dan mengeluarkannya lagi, begitu terus sampai Jongdae risih sendiri.

   Pria itu hanya diam tatkala audisi dimulai. Joonmyun memperhatikan para kontestan dengan seksama, memberikan tepuk tangan seadanya—bahkan untuk Seolhyun. Sampai pada akhirnya, Oh Jaehee yang ada di atas panggung. Entah kenapa firasat buruk Jongdae selalu terasa benar. Karena mata Joonmyun tak lepas dari sosok gadis yang memperagakan Juliet dengan begitu sempurnanya bahkan baginya yang tidak paham apa-apa soal akting.

   Bukannya memperhatikan Oh Jaehee, Jongdae malah memperhatikan figur Joonmyun disampingnya. Demi Tuhan, cara Joonmyun menatap gadis yang ada di panggung itu, seperti memuja. Ada sedikit senyum terulas dari bibirnya meski ditahan. Namun matanya, tidak pernah bisa berbohong! Kelembutan, dan kekaguman ada disana.

   Bagaimana Oh Jaehee bisa menyanyikan lagu seorang Kim Joonmyun?

   Bagaimana Kim Joonmyun bisa menatap Jaehee dengan begitu lembutnya.

   Sekarang Jongdae mengerti, kenapa lagu How Did I Fall in Love With You itu kembali bernyawa. Jauh setelah kepergian Bae Joohyun.

   Sahabatnya kini tengah jatuh cinta.

-KKEUTT-

Hula~

Publish sehari lebih cepet nih, karena besok Kamis aku gak ada di rumah dari pagi sampe malem, mungkin malah nginep dan gak bawa laptop pastinya, jadi lebih baik cepet daripada lelet polatelo kan? Nanti ada yang rewel lagi nanyain “Katanya kamis selalu publish, kok nggak ada sih?”—I’ll do my best untuk selalu tepat waktu apdetnya, tapi kalau nggak bisa tepat waktu, aku pasti punya alasan ;) 

Oh iya, sekali lagi aku ingatkan FF ini style perkembangan ceritanya aku buat beda dari FFku yang sebelumnya, FF ini akan amat sangat mendetail, jadi untuk yang gak seneng sama cerita yang detail, mungkin FF ini gak cocok untuk kalian karena development-nya akan amat sangat lama, ini udah part 7, dan belom sama sekali mendekati tengah cerita, masih jauh amat sangat jauh, jadi yang udah nanya-nanya, “Kak ini endingnya gak bakal sedih kayak Romeo & Juliet kan?”— jawaban akan ending cerita itu masih akan amat sangat lama, santai aja dulu ya nikmati perkembangannya, baru juga mulai udah nanya ending aja wkwkwkwkwk

Trus pertanyaan Minggu Ini 

  • Q : Kak, apa dialog Romeo & Juliet yang dipakai di FF ini asli dialog Romeo & Juliet?
  • A : Ya, betul. Semua dialog itu diambil dari naskah teater asli milik William Shakespeare, yang dipentaskan di Inggris pada tahun 1597. Itulah kenapa bahasa Inggrisnya ruwet dan aneh. Tapi aku udah kasih translate-nya kan? ^^

Dan terakhir, untuk pria kesayanganku… huhuhu KIM JOONMYUN, Happy Birthday kemarin tanggal 22 Mei 2016, umurnya sekarang 26 (Umur Korea :p), yang sempet besok dengerin DreamersRadio jam 3 sore ya KpopVaganza, aku di interview sama DJ Ajeng perihal ultah Suho (#promosi) wkwkwkwkwk, anyway… My Myeonie, teruslah bersinar, teruslah rendah hati, dan keep fight for EXO, hwaiting i love you to the moon and the back 

Spesial untuk kalian semua, yang mau liat Joonmyun main piano

4

bye yeom~ jangan lupa komen, karena komen membawa berkah (kalo dikunci dapet password maksudnya) hihihi~

neez

113 responses to “ALL I ASK [PART VII] — by Neez

  1. Jaehee cemburu sama joonmyun wkwkwk
    Aktingnya bagus banget,sampe jaehee ga nyadar nyium minseok 😆

  2. Pingback: ALL I ASK [PART XII] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Gpp alurnya mendetail bgt eonn, justru aku suka ff yg punya cerita mendetail tiap kejadian sm perasaan :”D makannya tiap baca ff pasti udahannya kebawa perasaan melulu T_T \bahasa gaulnya baperan gitu/ wkwkwk

    Btw, aku support bgt kalo update tiap kamis eonn, ontime (y)

    Mian ya eonn, ni ff udah sampe chapt brp tp aku baru bisa baca sekarang :”D
    Tp stiap aku slesai baca, aku leave comment kok eonn😀

  4. Pingback: ALL I ASK [PART XIII] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Pingback: ALL I ASK [PART XIV] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Hana sama joon kocak banget waktu kasih semangat ke jaehee hahhahaha
    Kak sebenernya joon itu umurnya sekitar berapa? Biar lebih gampang bayanginnya aja sih abis di lucu wkwkwkw
    Gak ngerti sama sekali dengan dialog romeo juliet yg super asdffgkgkglzxc tapi makasih udah di translate ya kak ^^
    Jongdae udah mulai ngerasa tuh kalo joonmyeon ada sesuatu sama jaehee .-.
    Semoga jaehee lolos jadi juliet deh dan kalo bisa si joonmyeon yg jadi romeonya 💞
    Aakkk pengen liat mereka lebih deket lagi :3
    Ijin lanjut ya kak ❤️

  7. Wohooooii…. aku ikut nangis baca adegan Juliet mau minum racun yg msih bermonolog… bneran basah nih mata… hiks😦 kok mendalam banget ya??? Author Neez boleh minta alamat utk mncari naskah yg pkai Inggris era 15-an? aku jd pgen bljr weheheh… *Serius keren bgt scene audisinya! dan it Jaehee juga pas bgt lg patah hati! heoll! Jongdae jg sdar dg ttpn Joonmyun?? Ho baguslah… Sneng bgt pas Jaehee dpt standing applause! BIG HAND juga buat AUTHORNYA….😀

  8. Kak. Mksh naskahnya ikut dtranslate. Soalnya bener, inggrsnya ruwet bgt. Ak enggk paham:( wkw. Ikut sedih wkt jaehee denger kl laguny bkn buat dia. Hmm-,- eeh ngakak wkt baca duo BaekDo, wkw mereka kan suka nggk akur asliny wk. Ikut deg2an Jaehee Junmyeon ketauan Jongdae, pnsrn gmn reaksine jongdae-,- smgt ya kak nulisnya^^

  9. ya allah….feelnya dapet banget, entah kenapa pas baca ini…semuanya tergambar dengan jelas diimajinasi aku. ini keren banget. tulisan kakak emang selalu bisa menggambarkannya dengan jelas dan berperasaan.
    kak neez bisa nulis ff sedaebak and sekeren ini, belajarnya dari mana? cause aku pengen kayak kakak yang tulisannya selalu berkualitas. aku lagi belajar nulis nih, biasanya aku belajar dari ff -ff yang kubaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s