Time Capsule: Prolog

Time Capsule

Time Capsule

by awackywallflower

Starring:

You as Sydney Lee ◊ Park Chanyeol ◊ Kim Jongin ◊ Oh Sehun ◊ Lilliana Tan as OC

Rating: PG-17 || Genre: Actually I’ve no idea for the genre, it can be angst, marriage life etc… etc… but for the whole it’s about friendship and romance (and I try to make it less-drama)

∴∴∴

Sore itu berjalan seperti biasa, kalau saja kedua bola matamu tidak bersinggungan dengan sekelompok anak SMA yang tengah berjalan melewati zebra cross, melawan arusmu. Mereka terdiri dari lima orang, dua wanita dan tiga pria. Formasi tersebut cukup membuat otakmu melesat ke masa lampau. Menghantam kembali tembok kokoh bernama persahabatan yang kini sudah rata dengan tanah. Ah, kau rasa kini bukanlah kata yang tepat karena tembok itu sudah lebur sejak tujuh tahun yang lalu. Terkubur dalam-dalam bersama time capsule yang kalian pendam delapan tahun silam.

Kau tersenyum kecut ketika serpihan-serpihan itu silih berganti menghujani pikiranmu dan menghambur begitu saja ketika sebuah suara menyapa tepat ketika tungkaimu berhasil mendarat dengan mulus ke seberang jalan.

“Selamat tanggal 27 Mei ketujuh, Sydney,” ucapnya dibarengi dengan seberkas senyum pada bibir tipisnya.

Kau mendengus. Kau tahu pria yang kini berjalan beriringan denganmu hanya tengah mencari kawan untuk berbagi duka. Memang ini tidak seperti yang dikira, tanggal 27 Mei bukanlah hari jadimu dengan pria itu pun hari ulang tahunmu.

For God sake, Sehun. Please, move onyou deserve better.”

“Mudah untukmu karena orang yang kau sukai bukanlah seorang model terkenal. Jadi kau tidak perlu melihat wajahnya di setiap sudut kota pagi, siang maupun sore hari.” Ujar Sehun yang tak terima kau beri kuliah sore.

I used to love him,” sanggahmu penuh penekanan pada setiap katanya. “There’s no feeling left now.” lanjutmu memperjelas.

Kau tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa Sehun tengah menyeringai penuh olokan di sampingmu. “Lalu kenapa kau masih saja merayakan tanggal keramat ini denganku?”

Kau lebih memilih untuk mendorong pintu mini-market dibanding menjawab langsung pertanyaan Sehun. Memilih ramen instan dan sekaleng minuman beralkohol yang kadarnya tak seberapa dibandingkan dengan tegukan-tegukan yang sudah kau cicipi di setiap bar selama ini. Kau mengedarkan pandangmu mencari sosok pria dengan kemeja putih tulang dan tatanan rambut awut-awutan yang ternyata sudah lebih dulu duduk di salah satu bangku di luar mini-market. Kau gerakan sepatu hak tinggimu ke arahnya dan memutuskan menghempaskan bokongmu pada bangku yang berada di hadapannya.

To celebrate the numb of my heart.” Sehun menyodorkan sebungkus rokok dan sebuah pemantik. Walaupun Sehun tidak mengatakan apapun tapi kau tahu ia tengah menawarkan rokoknya kepadamu tapi kau lebih memilih untuk tidak menyambut tawaran Sehun. Bukan karena kau wanita anti rokok, hanya saja hari ini kau telah menghabiskan sebungkus rokok. Kau memang perokok tapi kau tidak seadiktif ini, kecuali pada tanggal-tanggal tertentu, 27 Mei salah satunya.

Kau mendorong kembali rokok dan pemantiknya kepada Sehun, menghasilkan satu alisnya yang bak tikungan curam itu terangkat tanpa vokal yang keluar, tapi kau cukup mengerti bahwa pria rupawan di hadapanmu tengah melempar tanya. Kau terdiam sejemang, menimang-nimang jawaban yang pas walaupun pada akhirnya kau memutuskan untuk berkata apa adanya, “Aku sudah habis sebungkus hari ini.”

Kau tahu Sehun akan terbahak namun kau tidak menghiraukannya. Kau lebih memilih untuk menikmati ramenmu yang sudah kelewat matang diiringi tawa membahana manusia di hadapanmu ditambah tatapan beberapa orang yang kebetulan berlalu-lalang di dekat mini-market.

“Dan kau mengatakan hatimu mati rasa, Sydney?!” ujarnya di sela tawa, “sedangkan kau tahu bahwa sebenarnya kau masih mencinta?!”

Kau  meraih kaleng minuman beralkoholmu. Meminumnya terlebih dahulu sebelum menyanggah omongan sok tahu Oh Sehun. “Jika bukan karena hatiku yang sudah mati rasa perihal cinta, kini aku sudah menikahi si boss dan menjadi atasanmu di kantor, dumbass. Atau mungkin aku akan menjadi ibu rumah tangga yang tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah, bukannya menemani sahabatnya merayakan hari patah hatinya selama tujuh tahun berturut-turut.”

Tawa Sehun yang sebelumnya menggema kini semakin lirih dan terdengar seperti ringisan miris di telingamu. “Lihatlah kita, dua orang dewasa yang mencoba bahagia tanpa cinta. Sungguh pilu.”

Kau melempar kaleng minumanmu ke tong sampah yang sayangnya hanya menyentuh bibir baknya membuatnya melayang beberapa senti dari tempat di mana seharusnya kaleng itu mendarat. “Kau saja. Hidupku sudah cukup pelik mengejar target pelunasan utang para nasabah. Tidak ada waktu dan tempat untuk roman picisan.”

Kepala Sehun berayun ke kanan dan kiri dengan bibir bawahnya yang sedikit maju ke depan; mencemooh. “Ya… ya… ya… dan menjadi perawan seumur hidupmu?”

Kau tertawa singkat. “Tidak masalah dan lagipula ada kau yang juga akan menjadi bujang lapuk seumur hidupmu,” ucapmu melemparkan lelucon yang berhasil membuat Sehun melemparkan beberapa kulit kacangnya ke arahmu.

“Sialan!” umpat Sehun dengan tawa yang beriringan dengan milikmu. “Tapi jika suatu saat nanti kau mendengar kabar perceraian mereka—”

Seakan tahu kemana arah pembicaraan Sehun, kau memutuskan untuk segera memotongnya. “Tidak akan. Bukannya aku sudah bilang, aku sudah mati rasa? Pria tampan sepertimu saja tidak cukup menggugah nafsuku, apalagi aku harus menjalin hubungan dengan tersangka utama yang membuatku tidak tertarik dengan cinta dan dramanya. Dan lagi, aku bukan kau.”

Sehun tersenyum timpang dengan kedua tangannya yang bermain dengan botol minuman bersoda di hadapannya. “Awalnya, tapi menyadari bahwa binar matanya tidak akan sama dengan binar yang ia perlihatkan untuk suaminya, kurasa aku akan lebih baik hidup membujang bersamamu.”

Kau tertawa sumbang. “Berengsek!” umpatmu yang membuat Sehun terbahak.

Tawa pun tak berlangsung lama karena menit berikutnya kau dan juga Sehun sudah larut dalam pikiran masing-masing. Kau masih memikirkan ucapan Sehun tentang perceraian itu, membuatmu mengingat kembali bahwa kau pernah berada di titik di mana kau menginginkan berita perceraian mereka santer terdengar yang kini asa itu sudah tenggelam dalam debu dan menjadi abu—

—atau sebenarnya hanya membeku dan dapat berubah cair sewaktu-waktu?

tbc? fin?

∴∴∴

Visualization

f28f3c192e8337398f5022af795128dbYou as Sydney Lee. 26 tahun. Banker.

d14aa278a2f1d3e242daf520461c8154

Lilliana Tan. 24 tahun. Model.

7a8d6363ca1828c0b9009b9faa8509cf

Park Chanyeol. 28 tahun. Rapper.

f5e1f5ab16b1ebb745976f473bd0d5d6

Oh Sehun. 27 tahun. Banker.

114f92f7f718d2f3705017334c47283b

Kim Jongin. 27 tahun. Traveller.

∴∴∴

Author’s note:

  1. Sengaja di schedule siang padahal mah ini hasil nggak bisa tidur semaleman.
  2. I know, i know utangku masih banyak tapi idenya dibuang sayang jadi biarlah mengendap di sini.
  3. Sebenernya ada niatan mau dibikin chapter sih atau mungkin series tapi ya kalau emang ada yang mau baca.
  4. Tapi aku nggak bisa menjanjikan apa-apa ya kayak update cepat atau dibuat chapter panjang, soalnya mood sedang turun naik akhir-akhir ini (walaupun chapter satu udah seperempat jalan)
  5. Kritik dan saran sangat diterima.
  6. And for the last. Nice to see you again, readers!❤

124 responses to “Time Capsule: Prolog

  1. prolognya aja sudah keren, apalagi selanjutnya. *kuharap lebih keren lagi😀 oiya, itu sehun dan sydney sama-sama patah hati ya thor?
    hmmm, ditunggu selanjutnya thor😀

  2. Hello, i’m new reader here. Glad I find this fanfiction! It’s so good and make me want to read it for many times. Diksi-nya bagus banget, alur-nya bagus banget. It’s just one time but not make me feels boored with this story. Can’t wait to read for another chapter ㅋㅋㅋ

  3. well lihat apa yang akan terjadi pada dua manusia di prolog ini…

    dan kenapa ada traveler item nyempil…

    saran ajaaa prolog nya kurang menggugah, sayang fanficnya bagus tapi prolog nya ga menggugah buat readers kaya “aku harus baca ff ini”, saran ajasih (peace)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s