Our Fate ~ohnajla

Author : ohnajla

Genre : Romance, drama

Length : Oneshoot

Rate : G

Cast :

– Lee Jae Hwan (Ken VIXX)

– OC

– Cha Hak Yeon (N VIXX)

– Kim Joon Myeon (Suho EXO)

..

Aku berusia 16 tahun. Aku memiliki kekasih berusia 18 tahun. Dia adalah kakak kelasku sekaligus tetanggaku. Kami sudah berteman sejak kecil, tapi hubungan ini baru berjalan dua bulan. Kami memulai hubungan ini setelah terjadi insiden mengerikan yang menimpa keluarga kami. Kami sekarang yatim piatu. Ayah, ibu, saudara kami semua tewas dalam insiden itu. Hanya kami berdua yang selamat, takdir yang tidak pernah kuduga.

Kami melewati hari duka bersama. Untuk aku sendiri sebenarnya tidak terlalu larut dalam kesedihan, tapi untuk dia beda lagi karena dia adalah perempuan. Aku sering bermalam di rumahnya setelah insiden itu, bukan bermaksud apa-apa, aku hanya tidak mau terjadi sesuatu padanya. Tapi ternyata ujungnya kami malah saling mencintai dan akhirnya memutuskan memulai hubungan ini.

Letak rumah kami menyendiri, cukup jauh dari tetangga yang lain. Tiap aku ke rumahnya atau sebaliknya, para tetangga tidak menganggap itu tabu, karena mereka tahu bahwa kami berdua memang berteman dekat sejak kecil. Lagipula aku dan nuna memutuskan untuk merahasiakan hubungan kami.

Sekarang aku bekerja, nuna juga. Meskipun mereka pergi dengan meninggalkan harta yang berlimpah untuk kami, tapi harta itu makin lama akan habis juga. Aku tidak mau hidup dengan cara seperti itu, jadi aku memutuskan untuk bekerja. Ayah meninggalkan satu asset berharga lagi untukku, yaitu yayasan sekolah. Asisten setia ayah, Cha Hak Yeon hyung memintaku untuk mengambil alih yayasan dengan dia sebagai pembimbingku. Awalnya aku ragu, tapi Hakyeonhyung terus meyakinkanku bahwa aku bisa. Akhirnya aku memutuskan untuk menerima permintaan beliau.

Sementara nuna di sela-sela kesibukan sekolahnya harus ikut andil dalam urusan perusahaan keluarganya. Perusahaan keluarga itu bergerak di berbagai bidang, antaranya fashion, olahraga, entertain, property dan media massa. Ayahnya menjabat sebagai pemilik sekaligus direktur, sehingga nuna harus menggantikan jabatan itu. Tapi sama halnya denganku, awalnya dia ragu. Namun berkat motivasi dari wakil direktur ayahnya Kim Joonmyeon, dia pun menerima perpindahan jabatan itu.

Inilah problem terbesar kami. Harus pintar membagi-bagi waktu antara sekolah dengan kerja.

**

Hari ini aku memutuskan bermalam di rumahnya. Begitu sampai, aku menemukan nuna yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Dia menyadari kedatanganku, dia menghampiriku.

“Mau bermalam di sini?” tanyanya sambil menatapku, tapi tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk.

Aku mengangguk. Kulepaskan ransel dari punggungku, blazer serta dasi sekolah dan kuletakkan semua itu di atas sofa.

“Sudah makan?”

“Belum,” balasku seraya merebut handuk itu dari tangannya. Dia tahu apa yang akan kulakukan, jadi tanpa harus kuperintah pun dia langsung berdiri memunggungiku.

“Tidak ada bahan yang bisa dimasak sekarang. Bagaimana kalau kita pesan pizza saja?”

Aku tidak menjawab sampai aku selesai mengeringkan rambutnya. Kusampirkan handuk basah itu di atas kepalanya. “Boleh juga.”

Nuna berbalik untuk memandangku. “Siapa yang akan membayar?”

Bibirku menyeringai. Kami saling memicing untuk sesaat.

“Batu kertas gunting!”

Nuna mengerang, aku tersenyum puas. “Pizza dengan sosis, oke?”

Arra.”

Aku mencubit pipinya sebelum kabur ke kamar mandi. Kudengar omelannya dari balik pintu kamar mandi. Aku hanya tertawa dengan tingkahnya.

**

Kami menikmati pizza ekstra sosis itu di balkon rumahnya. Tersedia pula sebotol cola. Kami tidak minum soju karena batasan usia. Lagipula lebih nikmat cola dibanding soju atau bir. Dan satu hal lagi, aku tidak suka mabuk di depan nuna.

Delapan potongan pizza itu kami habiskan bersama. Setelah ludes, kami pun menikmati cola. Kuhadapkan wajahku ke atas, menikmati embusan angin sekalian pemandangan titik-titik bercahaya di langit. Malam ini cukup cerah. Tidak ada awan mendung yang menutupi keindahan bulan saat ini. Apakah ini perasaanku saja? Aku melihat bentuk wajah orang tersenyum di langit, dua bintang sebagai mata dan bulan sabit seperti bibir.

“Ada yang tersenyum di langit,” cetus nuna tiba-tiba. Aku langsung menoleh.

“Hm. Dia genit.”

Nuna tertawa mendengar candaanku. Dia meneguk segelas cola lagi, lalu memandang langit. “Ayah, ibu, oppa, mereka pasti sudah menjadi bagian dari bintang-bintang itu. Apa mereka bisa melihatku?”

Aku memandang wajahnya sejenak, setelah itu kualihkan pandanganku ke langit. “Aku tidak percaya tentang hal itu. Bagaimana bisa orang yang dikubur di tanah berpindah ke langit? Di langit tidak ada batu dan tanah, sudah pasti mereka tidak di sana.”

“Kaubenar.”

Kembali kupandangi wajahnya. Ada sebersit kesedihan di wajah cantik itu. Aku jadi merasa bersalah karena ucapanku barusan.

“Tidak perlu merasa bersalah, apa yang kamu katakan itu benar, Jaehwan-a.”

Pernyataan itu justru tidak membuatku tenang.

Nuna tiba-tiba tersenyum padaku. “Besok hari libur sekolah kan? Bagaimana kalau besok kamu membantuku bekerja di perusahaan? Aku sedikit tertekan bekerja bersama Joonmyeon oppa.”

Maksud nuna bukan karena dia tidak suka dengan Joonmyeon hyung, tapi Joonmyeon hyung kadang sulit dimengerti sama seperti aku karena golongan darah kami berdua sama. Hanya saja nuna bisa lebih mengerti aku ketimbang beliau, ini bukan pertama kalinya nuna mengajakku ke perusahaannya.

“Baiklah. Aku akan bicara dulu dengan Hakyeon hyung.”

Setelah satu botol cola itu habis, kami pun memutuskan untuk segera istirahat. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, besok kami tidak boleh terlambat pergi ke perusahaan nuna.

**

Aku hanya memakai pakaian casual. Nuna tidak protes, apalagi Joonmyeon hyung. Malah orang-orang di perusahaannya tercengang melihatku berjalan dengan atasan muda mereka. Nuna tidak malu menggamit tanganku.

Aku merasa menjadi yang termuda di perusahaan itu. Sesampai di kantor direktur, nuna langsung dicekcoki oleh berkas-berkas dari sekretarisnya. Sekretarisnya masih kelihatan muda, tapi nunamasih lebih muda darinya. Sekretaris itu sangat sopan, dia bahkan bertanya siapa aku, dan nunamenjawab kalau aku adalah pendampingnya. Sekretaris itu terkejut, tapi dia tidak bertanya lebih jauh lagi. Setelah sekretaris itu pergi, tersisalah kami berdua di ruangan itu.

Aku mengambil kursi, lalu duduk di sampingnya. “Aku tidak menyangka berkasmu sebanyak ini.”

Nuna sedang menata mejanya. Dia sangat rapi dan teratur, tidak sepertiku.

“Hm, makanya aku memintamu datang kemari. Joonmyeon oppa tidak bisa membantuku setiap saat, aku selalu kesulitan menyelesaikan semua berkas ini.”

Kupandangi sejenak wajahnya, dia memang tampak lelah meski sudah ditaburi make up pencerah wajah. Nuna kelihatan lebih tua dua tahun dari usianya setelah mengurus perusahaan ini.

“Aku akan bantu menyelesaikan setengahnya,” ujarku.

Dia menoleh dan tersenyum. “Terima kasih.”

Tidak, justru harusnya aku yang berterimakasih karena nuna mau menyertakanku dalam urusannya. Aku merasa bahwa dia memandangku sebagai seorang pria, bukan sebagai dongsaeng.

Kami larut dalam pekerjaan ini. Terkadang kami saling mengobrol, bercanda untuk memecah keheningan. Di kantor yayasan aku juga terbiasa sibuk dengan berkas-berkas seperti ini. Malah sendirian, nuna tidak pernah sempat datang mengunjungiku. Tapi aku tidak pernah marah akan itu. Sekarang aku tahu bagaimana rumitnya persoalan perusahaan yang membuat nuna tidak pernah punya kesempatan untuk datang ke kantor yayasan.

Dua jam berlalu. Tiba-tiba aku merasakan bahu kiriku dibebani oleh sesuatu yang berat. Ketika kulihat, ternyata itu adalah ulah nuna, dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Segera saja kutanggalkan pena yang semula terselip di antara jariku.

“Sudah lama kita tidak seperti ini.”

Aku terdiam menyetujui. Ya, sejak insiden itu, kira-kira enam bulan lalu.

“Apa kamu tidak merasa ini hubungan yang aneh?”

Kuperhatikan puncak kepalanya dengan dahi sedikit berkerut. “Maksudnya?”

Dia menarik tubuhnya, duduk sambil menatapku. “Kita memiliki hubungan ini setelah keluarga kita pergi, bukan? bagaimana kalau andaikata ternyata keluarga kita masih hidup, akankah kita seperti ini?”

Itu pertanyaan paling aneh yang pernah aku dengar darinya. Aku tidak pernah berpikir tentang itu. “Aku tidak tahu.”

Nuna tersenyum tipis. Dia meraih bolpointku, ia gunakan itu untuk menandatangi berkas yang berada di hadapannya. “Lupakan saja, aku hanya ingin membalikkan keadaan. Kamu tahu, aku sangat bersyukur melihatmu selamat. Saat kamu koma aku sangat khawatir sampai-sampai aku tidak makan berhari-hari. Begitu kamu sadar, rasanya duniaku kembali membaik. Aku tidak masalah hidup sebatang kara, asal kamu juga hidup.”

Ya, aku pernah koma selama seminggu setelah insiden itu. Nuna lah yang tidak terlibat dalam insiden itu. Saat itu, keluargaku dan keluarganya merencanakan acara liburan bersama di Busan. Kami menyewa minibus. Nuna ketika itu sedang mengikuti acara di sekolahnya, sehingga dia pergi belakangan. Minibus yang kukendarai bersama yang lain tertabrak oleh truk besar dan terjadilah tabrakan beruntun. Ayah ibu dan saudara kami tewas di tempat, sementara aku mengalami koma. Di masa-masa koma itulah nuna menemaniku tiap hari. Dan ketika aku sadar, orang yang kulihat pertama kali adalah dia. Tubuhnya kurus, wajahnya sembab dan ada kantung hitam di bawah matanya. Para suster bilang kalau nuna sangat keras kepala saat mereka menyuruhnya untuk makan atau istirahat. Dia bahkan memakai baju cheers-nya selama seminggu.

Nuna terlalu menyukaiku, itulah yang kupikirkan sekarang.

Nuna, bagaimana kalau lain kali kita rencanakan cuti bersama? Seperti camping?”

Nuna menoleh. Dia memandangku sejenak, lalu tersenyum. “Boleh juga. Tapi kurasa tidak dalam waktu dekat ini.”

Aku mengangguk mengerti. “Kapan pun asal kaubisa.”

Dia tersenyum lagi dan mencubit pipiku. Aku pun membalas dengan perilaku yang sama.

**

Peringatan satu tahun hubungan kami, sekaligus merupakan cuti bersama kami dengan camping di bukit. Kami tidak melakukannya berdua, melainkan bersama Joonmyeon hyung dan Hakyeonhyung. Kedua pembimbing kami itu menyertakan kekasih mereka, jadi acara ini bisa dibilang sebagai triple date.

Berkat kedua hyung ini, kami bisa merasakan kembali apa itu keluarga dan kebersamaan. Mereka sangat peduli pada kami seperti kakak ke adiknya. Aku tidak menyesal menyertakan mereka, buktinya peringatan satu tahun kami menghasilkan kenangan yang sangat berharga.

Nuna tampak ceria saat berbincang-bincang dengan kekasih hyungdeul ini. Dia selalu tertawa lepas tiap dua nuna itu menceritakan kekonyolan Hakyeon hyung atau Joonmyeon hyung. Melihatnya saja aku sudah bahagia.

“Jaehwan-a, kau tidak mau menyanyikan sebuah lagu?”

Para gadis langsung memandang padaku, sementara aku memandang Hakyeon hyung bingung.

“Aku tidak menyiapkan lagu apa pun,” ucapku jujur. Selain acara camping ini, aku memang tidak merencanakan acara yang lain.

“Kalau begitu siapkan sekarang. Ini peringatan satu tahun hubungan kalian, kan?” sahut Joonmyeon hyung sembari memangku gitar, bersiap memainkannya.

Aku sungguh tidak punya ide. Aku mencoba berpikir sambil memandang nuna. Dia terus tersenyum padaku. Dari tatapan matanya dia tidak mengucapkan apa pun, aku jadi semakin bingung. Lalu tiba-tiba nuna tertawa, dia memberiku hati lewat symbol tangannya. Saat itu juga aku menemukan satu buah lagu.

Aku melirik Joonmyeon hyung saat itu juga, seolah mengerti, dia langsung memetik gitarnya.

Aku bernyanyi sambil memandang lurus pada nuna. Aku sungguh tak yakin kalau suaraku bagus, tapi melihat wajah nuna yang tersenyum dan menikmati suaraku membuatku terus bersemangat mendendangkan lagu ini. Ini lagu yang pernah kuciptakan saat aku masih 15 tahun.

Tepuk tangan terdengar setelah lagu itu selesai. Aku sempat melihat nuna memberikan simbol hati padaku lagi. Aku hanya tersenyum lebar saking tidak tahu mau berbuat apalagi.

**

Empat tahun berlalu dengan cepat. Aku dan nuna semakin dewasa, kami semakin terlatih dalam mengurus perusahaan dan yayasan. Di sela-sela itu kami juga sibuk menuntut ilmu. Kami tidak berada di kampus yang sama, tapi hubungan kami sejauh ini baik-baik saja.

Hari ini adalah peringatan lima tahun hubungan kami. Aku merencanakan ini hanya untuk kami berdua. Aku menyewa sebuah tempat di wilayah pegunungan untuk acara ini.

“Jadi semua yang ada di sini sudah kamu sewa?” tanya nuna ketika kami berjalan-jalan mengelilingi resor tersebut. Lampion-lampion yang bergantung mengelilingi resor menambah kesan romantis pada peringatan hubungan kami. Aku menggenggam tangannya erat-erat.

“Ya, hanya untuk hari spesial.”

Nuna menyandarkan kepalanya di bahuku. “Tapi tahun-tahun sebelumnya tidak seperti ini.”

Tanganku yang bebas kugunakan untuk mengusap tengkuk. “Itu kan karena sekarang aku sudah 21 tahun, jadi aku harus membuat hari peringatan ini lebih dewasa dari sebelumnya.”

Nuna tertawa. “Alasan yang tidak masuk akal. Meski kamu 21 tahun, aku tetap masih lebih tua darimu.”

Kulepaskan tautan tangan kami dan menggantinya dengan merangkul pinggangnya. “Aku tahu.”

“Mau kemana kita sekarang?”

Tanpa menjawab, aku langsung menariknya memasuki restoran. Restoran itu telah merubah desain ruangannya dengan warna serba pastel, warna favorit nuna. Aku menggiringnya menuju satu-satunya meja yang tersedia di tengah ruangan. Begitu kami duduk, alunan musik klasik pun berbunyi. Nuna paling suka dengan alunan biola dan piano, aku meminta pihak restoran untuk memainkan melodi melalui dua instrument itu.

Beberapa pelayan datang, mereka menyajikan pasta khas Italia serta sebotol wine. Nuna pernah bilang padaku bahwa dia ingin sekali menikmati wine bersamaku, dan keinginannya itu kuwujudkan sekarang.

“Ini semua ulahmu?” tanya nuna tak percaya. Matanya melebar saat melihatku.

Aku hanya tersenyum. Kukeluarkan sebuket bunga tulip dari balik tubuhku, tulip jingga favoritnuna.

“Ini sungguhan tulip?”

Ya, itu sungguhan tulip. Aku memesannya langsung dari Belanda. Betapa banyaknya hal yang harus kusiapkan untuk peringatan hari ini.

Nuna sibuk memperhatikan dan mengagumi tulip pemberianku. Kesempatan itu kugunakan untuk memikirkan langkah selanjutnya.

Nuna..”

Dia langsung menatapku dengan kedua alis terangkat.

Aku berdiri, mendekatinya. Dia pun ikut berdiri setelah meletakkan bunga itu di atas meja.

Nuna terima kasih telah menemaniku selama ini.”

Dia mengangguk sambil tersenyum. “Hm, terima kasih juga.”

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika hari itu aku tidak membuka mata. Aku bersyukur bisa melihatmu lagi.”

Nuna tidak menjawab. Dia hanya memandangku.

“Ada satu hal yang ingin kukatakan sekarang.”

.

.

“Mari kita putus.”

**

Nuna langsung hilang keseimbangan begitu mendengar pernyataanku. Aku menangkap tubuhnya dengan sigap. Wajahnya pucat.

“A-apa maksudmu?”

Aku menatapnya iba, “Maafkan aku.”

Dalam sekejap matanya berkaca-kaca. Dia menatapku sambil tersenyum kecut. “Jadi maksudmu.. kita berakhir?”

Aku mengangguk. Kuraih tangannya, kuisi sela-sela kosong jarinya dengan jariku. Kududukkan dia di kursi, sementara aku berlutut di hadapannya.

Nuna akhirnya menangis. Dia terisak begitu keras, bahunya naik turun. Sambil berlutut, aku bisa lihat dengan jelas kalau wajahnya memerah.

“Apa itu sangat menyakitkan, nuna?”

Dia membuka matanya sedikit, tiba-tiba memukul bahuku. “Kau jahat! Aku benci padamu!”

Aku tak berkutik saat dia memukulku makin keras. “Kenapa nuna menangis?”

“Kau bodoh?! tentu saja ini karenamu!”

“Bukankah nuna barusan bilang kalau membenciku? Kenapa nuna menangisi pria yang kaubenci?”

Nuna tidak memukulku lagi, melainkan memelukku dengan erat sampai aku hampir terjatuh.

“Karena aku mencintaimu..” bisiknya lirih.

Mendengar itu, aku pun tersenyum. Kupeluk balik tubuhnya. “Kita sudah putus.”

“Tidak.. aku tidak mau.”

“Kau harus mau, nuna.”

“Aku tidak mau!”

“Kalau nuna tidak mau putus, kapan kita menikahnya?”

Tangisnya seketika berhenti, dia langsung menarik tubuhnya lalu memandangi wajahku. “M-maksudnya?”

“Mari kita menikah.”

Kulepaskan cincin yang ada di tanganku, lalu memasangkannya ke jari manis nuna. Sebelum nunabicara, aku mengecup dahinya sekilas.

“Kita harus putus sebelum-”

Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku karena nuna memelukku kembali. Dia menangis lagi, tapi aku tahu kalau dia menangis karena bahagia. Kubalas pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut.

END

11 responses to “Our Fate ~ohnajla

  1. Syok banget waktu Jaehwan bilang putus. Tapi kata-kata dia itu setelahnya ituu lhhooo…. aduhhh so sweet banget. Aku ada sedikit saran nihh buat kamu. Sebenarnya, cara penulisan kamu ini udah bagus banget. Tapi oh tetapi *ceilah* malah jadi berantakan dengan penggunaan kata ‘kamu’. Usahakan untuk menggunakan kara ganti ‘kau’, yaa. Itu aja sihh saran dari aku. Maaf yaa kalau kamu tersinggung. Kutunggu karya kamu selanjutnya, yaa😀

  2. jujur z crtnya 2 flat bgt dr awal smp tb2 ken blg pts.q bc lgs q scroll ke bwh n pas q lht tlsn putus br q bc itupun krng greget.sbnrnya crt nie bs jd lbh romantis c5 g ada feelnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s