Emergency Husband Service (Chapter 5) – Kee-Rhopy

Emergency Husband Service Cover 1

Emergency Husband Service (Chapter 5)

 

5. The Feeling

 

|| Author: Kee-Rhopy | Title: Emergency Husband Service | Subtitle: | Cast: Park Chanyeol (EXO) & Choi Shiyoung (OC) | Support Cast: Song Hana (OC) & Byun Baekhyun (EXO) | Genre: Romance, Angst, Comedy, AU | Rating: PG | Lenght: Chaptered ||

 

=

 

Prev: 1. Reunion, Bad Result and Him | 2. A Good Liar | 3. The Key | 4. Changed | 5. The Feeling

 

 

“Aku mengajakmu ke sini bukan untuk makan.”

 

“….”

 

“Tentang 15 tahun yang lalu. Alasan kenapa aku memutus hubungan denganmu.”

 

“….”

 

“Aku tak bisa berhubungan dengan orang yang menyebabkan kematian orang tuaku.”

 

=

Happy Reading!

=

 

Kalau mesin waktu benar-benar ada, Chanyeol akan dengan senang hati membelinya meski menggunakan nyawa sebagai gantinya. Ia benar-benar ingin kembali ke masa lalu untuk mencegah dan memperbaiki segalanya. Menghentikan segala kebodohan yang selama ini tak pernah ia tahu.

 

“Kau tahu apa kesalahanmu di masa lalu?”

 

Tidak. Chanyeol tak pernah tahu. Yang ia ingat hanyalah kenangan indah yang ia lalui bersama Shiyoung. Kenangan indah yang dengan kejamnya diputus oleh Shiyoung sendiri.

 

“Kau tak pernah mendengarkan kekhawatiranku akan apa yang akan terjadi karena ketidak setujuan ayahmu.”

 

Ya, itu benar. Setiap kali Shiyoung berbicara mengenai ayahnya yang tak setuju dengan hubungan mereka, Chanyeol selalu mengelak dan berkata bahwa ayahnya tak akan melakukan apapun.

 

“Dia mendatangiku berkali-kali, memintaku memutuskanmu. Dan aku tak pernah bisa mengatakannya padamu karena kau tak mau mendengarkanku tentang hal itu. Tidakkah kau tahu, Park Chanyeol? Ayahmulah yang membuatku kehilangan orang tuaku.”

 

Dunia Chanyeol runtuh saat mendengarnya. Selama ini ia tak pernah tahu kebenaran itu. Ayahnya dalang dari kecelakaan yang menyebabkan kematian orang tua Shiyoung? Bukankah itu terlalu kejam?

 

“Bagaimana bisa aku tetap berhubungan denganmu setelah tahu kenyataan itu?”

 

Senyum miring terpatri di wajah Chanyeol saat kalimat Shiyoung membentur otaknya. Ya, bagaimana bisa Shiyoung berhadapan dengan anak dari orang yang telah membunuh orang tuanya? Bagaimana bisa gadis itu menemui Chanyeol yang secara tak langsung telah merenggut kebahagiannya dan membuatnya hidup sendiri?

 

Tidakkah Chanyeol terlalu egois karena menyalahkan Shiyoung tanpa tahu yang sebenarnya? Tidakkah Chanyeol bodoh karena menganggap dirinya yang paling menderita?

 

Selama ini ia merasa dipermainkan dan berusaha membenci gadis itu karena dengan bodohnya perasaan itu menetap dalam tubuh. Ia mengencani banyak gadis sebagai pembenaran atas rasa sakit yang bersarang. Hidup tak tentu arah dan melakukan semaunya.

 

“Kuharap kita tak pernah bertemu lagi.”

 

“ARRRGGGHH!!!” Chanyeol berteriak frustasi. Kenyataan ini benar-benar membuatnya tersudut. Ia bahkan tak bisa menyangkal perkataan Shiyoung yang memintanya untuk tak pernah bertemu lagi walau jauh dalam lubuk hati, ia ingin merengkuh gadis itu kembali.

 

Chanyeol meneguk langsung isi botol soju yang ada dalam genggamannya. Mengutuk dalam hati karena kesadarannya belum juga hilang meski sudah menghabiskan lima botol soju.

 

Chanyeol sudah cukup sadar bahwa apa yang selama ia anggap mudah ternyata tak semudah itu. Tuhan tak perlu lagi repot-repot memberitahunya dengan masih mempertahankan kesadarannya. Ia sudah merasa pantas dibenci, pantas dibuang, atau mati saja sekalian.

 

Mati?

 

Tu –tunggu!

 

Mati?

 

Tiba-tiba Chanyeol tertawa. Keras sekali sampai-sampai orang yang lewat di hadapannya menoleh heran. Entah apa yang pria itu pikirkan, ia beranjak berdiri dan berjalan pelan menuju mobilnya. Setelah menutup pintu dan masuk ke dalam mobil, ia menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

 

 

“Aku sudah mengatakannya.”

 

Hana memandang sahabatnya dengan satu helaan napas. Air matanya tiba-tiba menyeruak, namun segera dihapusnya kasar, takut Shiyoung merasa terbebani dengan kelakuannya. “Haruskah kau melakukannya?”

 

Shiyoung menarik napas dan mengeluarkannya keras. Ia tahu konsekuensi dari tindakannya memberitahu Chanyeol perihal kebenaran akan kejadian 15 tahun lalu dan berkata pada pria itu untuk menjauh; ia tak akan pernah lagi bisa melihat pria itu.

 

Melihat Shiyoung yang diam, Hana menepuk pundak sahabatnya pelan. “Aku tahu kau masih mencintainya. Alasan kenapa sampai saat ini kau tak pernah menerima orang lain adalah dia, kan?” tanyanya retorik. Sesuatu yang selalu mengusik rasa ingin tahunya tentang asmara Shiyoung selama ini telah terungkap setelah ia tahu hubungan sahabatnya ini dengan Park Chanyeol. Ia juga bisa menebaknya dengan melihat ekspresi Shiyoung saat bercerita tentang pria itu. Perasaan sakit sekaligus rindu yang tertahan.

 

Shiyoung menatap Hana dalam. Seolah bertanya harus bagaimana lewat tatapan mata. Ya, perasaannya terhadap Chanyeol tak berubah. 15 tahun yang terasa sangat panjang itu tak bisa menghapus perasaannya dengan mudah.

 

Hana mendekati sosok Shiyoung dan memeluk sahabatnya itu erat. “Keputusanmu untuk memberitahunya tentang kecelakaan itu sudah tepat, Shiyoung-ah,” ucapnya menenangkan.

 

Tiba-tiba saja Shiyoung terisak. Selama ini ia menyimpan rapat semuanya sendiri. Tak pernah terbersit sedikitpun keinginan untuk memberitahu Chanyeol, karena ia pikir Chanyeol akan terpukul. Dan Shiyoung tak menginginkan hal itu terjadi. Sementara di sisi lain ia merasa bersalah pada orang tuanya karena tak melakukan apapun. Membiarkan ketidak adilan terjadi kepada mereka sementara ia tahu kebenarannya.

 

“Tapi kau tahu, Shiyoung-ah? Terkadang untuk meraih kebahagiaan kita harus mengorbankan sesuatu.”

 

Tangis Shiyoung semakin menjadi.

 

“Kau tak perlu mendorongnya menjauh, karena itu akan membuatmu semakin terluka. Orang tuamu pasti mengerti kenapa kau melakukan hal–“

 

“–Tidak, Hana-ah.” Shiyoung melepas rangkulan Hana dan mengusap air matanya kasar. “Umurku sudah tak lama lagi. Aku mungkin akan menemui orang tuaku sebentar lagi. Bagaimana bisa aku menemui mereka kalau masih berhubungan dengan dia? Aku tak mungkin mengedepankan kebahagianku sendiri sementara orang tuaku merasa tak adil. Aku–“

 

“–Arasseo.” Hana menahan napas, menahan sesak saat Shiyoung dengan mudahnya berkata tentang pendeknya waktu yang ia punya. “Sebagai gantinya, jangan pernah berpikir bahwa umurmu tak lama. Siapa bilang kau akan mati karena penyakit itu?!”

 

Shiyoung mengatupkan bibirnya rapat melihat Hana yang tak tenang. Tahu bahwa sahabatnya masih belum bisa menerima kenyataan. Dengan pelan, ia menganggukkan kepalanya, isyarat bahwa ia menyetujui perkataan Hana.

 

 

Baekhyun hampir saja memuntahkan kopinya saat mendengar penuturan Chanyeol barusan kalau saja ia tak ingat bahwa persediaan kopinya menipis. Oh, Chanyeol benar-benar keterlaluan karena membuatnya menelan kembali cairan kopi yang sebelumnya sudah melewati kerongongan. “APA KAU BILANG?!”

 

“Aku di kantor polisi sekarang. Kemarilah!”

 

Seharusnya Baekhyun marah mendengar ucapan Chanyeol yang terkesan memerintah. Namun kata ‘kantor polisi’ sanggup membuatnya memilih bungkam. “Baiklah. Aku ke sana sekarang.”

 

Klik.

 

Baekhyun segera mengambil mantel dan berjalan menuju pintu keluar apartemen. Ia sibuk memikirkan apa yang sebenarnya Chanyeol lakukan hingga berurusan dengan kantor polisi. Setahunya, Chanyeol tak pernah berurusan dengan polisi meski kelakuan pria itu kerap kali membuatnya geleng-geleng kepala.

 

Baekhyun menghentikan taxi dan naik ke dalamnya dengan tetap berkutat pada pemikiran atas tindakan Chanyeol. Mungkinkah Chanyeol telah melakukan kesalahan berat semisal menabrak orang sampai berdarah-darah?

 

Oh, tidak mungkin! Baekhyun tak sanggup berhadapan dengan si korban.

 

Mungkinkah Chanyeol telah merampok?

 

Yeah, itu lebih tidak mungkin lagi bagi orang sekaya Chanyeol. Dia bukan tipikal orang yang kekurangan uang seperti Baekhyun.

 

Mungkinkah Chanyeol menculik seseora–

 

“Sudah sampai, pelanggan.”

 

Baekhyun terbangun dari khayalan-khayalannya yang berlebihan dan segera membayar tagihan taxinya. Setelah seslesai, ia membuka pintu taxi dan langsung melihat kantor polisi di hadapannya dengan satu helaan napas. Dengan langkah berat, digerakkannya kaki menuju bangunan itu.

 

Sebagai seorang penulis, wajar saja jika Baekhyun membayangkan hal-hal yang tak jelas dan menebak sesuatu sesuai khayalan yang ia pikirkan. Bahkan saat kedua kakinya telah menapaki ruangan yang dipenuhi orang-orang berseragam itu, pikirannya mengenai Chanyeol yang mungkin saja terlibat kejahatan tetap bersarang.

 

Mata Baekhyun menyapu keadaan seluruh ruangan, mencari keberadaan Chanyeol. Napas lega langsung keluar tatakala dilihatnya Chanyeol tengah duduk berhadapan dengan salah satu petugas polisi yang sepertinya kesal.

 

“Permisi, aku–”

 

“–Kau datang?” Chanyeol berkata setelah melihat Baekhyun sekilas, lalu pandangannya dengan cepat beralih pada polisi yang bertugas menginterogasinya. “Dia waliku.”

 

Si polisi memegang belakang kepalanya dengan ekspresi frustasi yang sangat kentara. Tak habis pikir dengan kelakuan Chanyeol yang langsung berdiri dan pergi setelah Baekhyun datang. “Oh, tak punya sopan santun sama sekali dia!” ucapnya geram.

 

Baekhyun mengeluarkan cengirannya, merasa tak enak atas kelakuan Chanyeol.

 

“Kau walinya?”

 

Baekhyun mengangguk.

 

“Dia menyetir sambil mabuk. Untung saja tak terjadi apa-apa. Boleh aku minta kartu identitasmu?”

 

Baekhyun dengan cekatan menyerahkan kartu identitasnya pada sang polisi. Dalam hati besyukur karena Chanyeol tak melakukan kejahatan berat seperti yang ia bayangkan. Sambil menunggu si polisi yang mencatat sesuatu, matanya berkeliaran melihat-lihat ruangan itu. Pandangannya terhenti saat melihat kemeja Chanyeol bertengger di sandaran kursi tepat di sampingnya. Lagi-lagi ia menghela napas mengetahui kenyataan kalau sahabatnya itu meninggalkan kemejanya di sini.

 

“Selesai. Lain kali peringatkan temanmu untuk tak menyetir saat mabuk.” Si polisi berkata sambil menyodorkan kartu identitas Baekhyun.

 

Ne. Terima kasih.” Baekhyun membungkuk seraya mengambil kartu identitasnya kembali. Ia melangkah meninggalkan kantor polisi itu setelah sebelumnya membawa kemeja Chanyeol bersamanya. “Dasar pelupa!” umpatnya pelan.

 

 

BRAKK!!!

 

Chanyeol membuka pintu itu dengan sangat keras tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Seorang pria paruh baya yang sejak tadi berada di dalam ruangan mendongakkan kepala, terlihat marah dengan tingkah anak bungsunya.

 

“DIMANA SOPAN SANTUNMU, PARK CHANYEOL?!”

 

Chanyeol tak serta merta menjawab. Pria itu berjelan ke arah ayahnya dengan tangan terkepal dan napas yang memburu. Matanya menatap penuh amarah saat berhadapan dengan sang ayah. “Kenapa kau serendah itu?” tanyanya dengan nada lemah. Perasaan marahnya teredam oleh rasa kecewa. Ayah yang selama ini menjadi panutannya tega berbuat rendah hanya untuk memisahkan dirinya dengan Shiyoung.

 

“YAK! SIAPA YANG MENGAJARIMU BICARA–“

 

“–ABEOJI!!” Chanyeol berteriak, membuat sang ayah diam seketika. Napasnya memburu, “Tak peduli sebenci apa kau terhadap hubunganku dengan Shiyoung, tak seharusnya kau melakukan hal serendah itu.”

 

Sang ayah diam. Perlahan ia mengerti kemana arah pembicaraan anak bungsunya ini. “Aku hanya memberinya peringatan. Lagipula itu sudah 15 tahun yang lalu.”

 

“15 tahun yang lalu? Hanya peringatan?” Chanyeol membuang muka. Tak habis pikir dengan perkataan sang ayah yang sok tak bersalah. “Kau pikir, 15 tahun bisa menghapus kejahatan yang telah kau lakukan?! Membunuh orang kau bilang hanya peringatan?!”

 

Pria paruh baya itu membelalakkan mata. Sanking terkejutnya ia sampai berdiri dari posisi duduknya dan menatap Chanyeol penuh tanya. “Apa maksudmu?”

 

“JANGAN PURA-PURA BODOH, ABEOJI!! 15 TAHUN YANG LALU, KAU MEMBUAT KECELAKAAN ITU TERJADI HINGGA ORANG TUA SHIYOUNG TEWAS!!” Habis sudah. Chanyeol tak bisa menahan emosinya. Napasnya memburu. “Dan kau bilang itu hanya peringatan?!” Chanyeol mendengus. “Oh, keterlaluan sekali!”

 

“Siapa yang mengatakan hal itu padamu?” tangan pria paruh baya itu terkepal. Kata-katanya terdengar penuh penekanan.

 

“Apa itu penting?!” Chanyeol menggertak. “Yang terpenting sekarang adalah, kau telah membunuh mereka! DAN MELIHATMU TAK MENYESAL SEDIKITPUN MEMBUATMU SEMAKIN TERLIHAT MENYEDIHKAN! TIDAKKAH KAU TAHU–“

 

PLAKKK!!

 

“AKU TAK SEBURUK ITU, PARK CHANYEOL!! PASTI WANITA ITU YANG MENGATAKAN OMONG KOSONG INI PADAMU, KAN?!”

 

Chanyeol mendengus. Rasa perih akibat tamparan sang ayah tak membuat tatapannya teralih. Pandangannya tajam, tepat tertuju di manik mata pria paruh baya yang merupakan ayah kandungnya. “Percuma aku berkata panjang lebar padamu.” Chanyeol berbalik dan pergi. Meninggalkan sang ayah yang masih ada dalam puncak emosinya.

 

 

Empat hari berlalu sejak Baekhyun terakhir kali melihat seorang Park Chanyeol. Pria jangkung itu tak lagi menampakkan diri sejak menyuruhnya ke kantor polisi dan meninggalkan kemeja yang dipakainya. Hal itu tentu saja mengganggu pikirannya. Apalagi ia menemukan sebuah obat di dalam saku kemeja Chanyeol. Karena penasaran, Baekhyun menyelidiki obat itu dan hasilnya sungguh membuat dunianya jungkir balik tak karuan.

 

Berbagai pikiran buruk sudah menghinggapi kepalanya sejak kemarin, tepatnya sejak ia tahu bahwa obat itu adalah obat untuk penderita kanker lambung stadium akhir. Chanyeol pasti sangat menderita karena penyakit kanker lambung yang dideritanya hingga berurusan dengan polisi. Tapi kenapa juga Chanyeol harus menyetir dalam keadaan mabuk kalau ia menderita penyakit serius? Oh, dasar Chanyeol bodoh! Pria itu bahkan tak berpikir akan kesehatannya sama sekali.

 

Katakan saja Baekhyun khawatir mengetahui kondisi Chanyeol. Selama ini Chanyeollah yang selalu berada di sampingnya, mendukungnya dalam setiap hal, terutama segi finansial. Ia tak tahu akan jadi seperti apa hidupnya tanpa Chanyeol. Yang jelas, ia tak sanggup kehilangan sahabatnya itu.

 

Baekhyun sudah mencoba menghubungi Chanyeol berkali-kali tapi tetap saja hasilnya sama; tak ada jawaban. “Ayolah Park Chanyeol, angkat teleponnya atau aku akan membanting ponselku!” ucapnya entah pada siapa.

 

Tut.

 

Lagi-lagi tak diangkat. Membuat Baekhyun frustasi setengah hidup. Pria itu meraih ponselnya dan hendak membanting benda persegi panjang itu namun terhenti karena ia ingat satu hal. Harga ponsel terlalu mahal dan keuangannya mendekati batas akhir. Akhirnya ia malah meletakkan benda itu kembali dan menjambak rambut sebagai gantinya.

 

Mungkinkah Chanyeol sudah mati?!

 

Oh, tidak! Chanyeol tak mungkin mati tanpa memberitahunya! Baekhyun tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi–

 

Ting… Tong….

 

Bel aparetemen Baekhyun berbunyi. Otomatis kegiatan menjambak rambut yang semakin menyiksa terhenti, pun dengan pikiran-pikiran buruknya. Diam-diam Baekhyun bersyukur karena bel itu menghentikan aktivitasnya menjambak rambut. Biar bagaimanapun ia tak mau menyakiti diri sendiri terlalu lama.

 

Cklek!

 

Pintu apartemen terbuka, pun dengan mulut Baekhyun. Pria itu tak bisa menahan keterkejutannya melihat sosok Park Chanyeol yang menjadi pusat perhatiannya dalam beberapa hari ini muncul dengan tiba-tiba secara sukarela.

 

“YA TUHAN PARK CHANYEOL!!!” serunya seraya berhambur cepat memeluk Chanyeol. “KUPIKIR KAU SUDHA MATHI!!” Baekhyun membenamkan kepalanya di dada Chanyeol sampai-sampai suaranya teredam.

 

Chanyeol diam tak berkutik. Dilihatnya Baekhyun dengan pandangan aneh sedunia. “Baek, apa kau gila?” tanyanya pelan. Berpikir Baekhyun mungkin sudah gila karena imajinasinya sendiri.

 

“KAU YANG GILA, PARK CHANYEOL! AKU MENGKHAWATIRKANMU DUA HARI INI KARENA KAU TAK MENJAWAB TELEPONKU!” Baekhyun menjauhkan kepalanya dan berteriak keras tanpa melepas rangkulannya.

 

Chanyeol yang merasa risih menghempaskan tangan Baekhyun di pinggangnya seraya berkata, “Baek, kau berlebihan!” Pria itu berjalan memasuki apartemen Baekhyun tanpa mempedulikan si pemilik apartemen yang kebingungan.

 

Baekhyun memiringkan kepalanya. “Aku? Berlebihan?” katanya menunjuk diri sendiri. “Kau yang berlebihan, Park Chanyeol! Empat hari yang lalu kau terlihat kacau. Sekarang kau terlihat biasa saja. Bagaimana bisa kanker lambung membuatmu aneh seperti ini?!”

 

Langkah Chanyeol terhenti. Pria itu berbalik, menghadap Baekhyun meminta penjelasan.

 

“Empat hari yang lalu, kau meninggalkan kemejamu di kantor polisi dan aku membawanya. Dua hari yang lalu, aku berniat mencucinya tapi aku malah menemukan obat di saku kemejamu itu. Dan ternyata setelah kuselidiki–“ kata-kata Baekhyun terhenti karena Chanyeol buru-buru berjalan ke arahnya, menyingkirkannya dari pintu dan berlari cepat keluar. “YAK! KAU MAU KEMANA?! AISH…!!”

 

Baekhyun menghembuskan napas kasar. Menggerutu tak jelas melihat tindakan sahabatnya yang di luar nalar. “Aigoo, kau bahkan tak sesehat itu, kenapa malah berlari secepat itu?”

 

 

Dengan tangan gemetar Shiyoung mengarahkan tangannya ke arah mulut. Setelahnya, ia menelan obat penghilang rasa sakit itu tanpa memerlukan air. Keringatnya menetes. Napasnya memburu. Perlahan, rasa sakit yang menyerangnya menghilang. Membuat Shiyoung menghembuskan napas lega.

 

Shiyoung menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ia duduki. Gadis itu menutup mata, lalu dalam hitungan detik membuka kelopak matanya kembali. Kini pandangannya terarah pada langit-langit apartemennya.

 

“Yak! Kalau kau meninggalkanku lagi, langit akan mengutukmu!”

 

“Langit tak akan mengabulkan permintaan Park Chanyeol. Aku yakin–”

 

CTAR!

 

“Lihat, kau bahkan tak berani pada hukuman langit dan malah berlari memelukku seperti ini. Wahai langit, terima kasih atas petir indah yang kau beri barusan.”

 

Saat itu gerimis. Shiyoung tak tahan menunggu Chanyeol yang telah terlambat selama 7 menit memilih untuk pergi lebih dulu menerobos gerimis. Namun Chanyeol muncul di hadapannya dengan sebuah payung. Shiyoung yang terlanjur kesal karena keterlambatan pria itu memilih untuk mengabaikan kehadirannya dan berjalan melewatinya menerobos rintik air yang semakin deras. Hal memalukan terjadi saat suara petir menyambar membuat Shiyoung berbalik dan memeluk Chanyeol ketakutan.

 

Shiyoung tersenyum mengingat momen itu. Pandangannya beralih pada buku-buku yang tersusun rapi di atas meja belajarnya.

 

“Aku berniat pulang kalau kau tak muncul dalam tiga menit ke depan.”

 

“Woah, kau keterlaluan untuk seseorang yang rela mengantri karena membeli novel favoritmu sebelum sampai ke sini.”

 

Saat itu Chanyeol menyodorkan sebuah novel karangan Han Kang yang sudah lama ia nantikan.

 

Jinja? Woah, kau benar-benar membelinya! Kalau begitu aku memaafkanmu.”

 

“Hanya itu? Mengantri butuh perjuangan lho.”

 

“Baiklah. Kalau begitu kau mau apa?”

 

Give me a kiss

 

“Kau gila, ya?”

 

“Ya, aku gila. Dan sekarang orang gila ini menganggapmu setuju.”

 

Shiyoung ingat, ia malu-malu saat mendengar permintaan konyol Chanyeol waktu itu. Pipinya memanas untuk beberapa saat sampai akhirnya mengangguk sebagai persetujuan.

 

Shiyoung menarik napas mengingat berbagai memori yang tersimpan rapi dalam ingatannya. 15 tahun sudah berlalu, namun waktu yang cukup lama itu tak sanggup menghapus segalanya. Perasaannya masih tersisa. Walau ia berkali-kali menyangkal hal itu dengan bersikap kasar pada Chanyeol, kenyataannya perasaan itu tak berubah. Tetap mengakar kuat dalam tubuh, menjalari setiap pembuluh darah, menyertai di setiap hembusan napas.

 

Namun Shiyoung sadar. Ia tak mungkin berharap pada hal yang tak seharusnya ia miliki. Semua sudah berlalu. Apa yang tersaji di hadapannya adalah masa depan, bukan masa lalu. Ia cukup pintar untuk tahu bahwa menerima kenyataan adalah yang terbaik. Lagipula, waktunya tak cukup banyak untuk meraih kebahagiaan lagi.

 

Ting … tong…

 

Bel apartemen yang berbunyi, membuyarkan lamunan Shiyoung akan masa lalu. Gadis itu berdiri, memperbaiki penampilannya yang agak kacau setelah bergelut dengan rasa sakitnya. Setelahnya, ia berjalan pelan menuju pintu apartemen dan langsung membuka pintu itu tanpa berpikir panjang.

 

Saat itulah matanya membelalak melihat sosok Chanyeol berdiri di hadapannya dengan napas putus-putus. Perasaannya sulit digambarkan.

 

“Aku sudah memikirkannya matang-matang dan … aku tidak pernah melakukan hal itu pada orang tuamu. Kenapa juga aku harus menerima hukuman untuk sesuatu yang tak pernah kulakukan?” Chanyeol mengatakannya dengan nada cepat. Tatapannya tepat mengarah pada manik mata Shiyoung.

Shiyoung diam. Tepat dua detik setelah ia hendak bersuara, Chanyeol malah memeluknya erat. Erat sekali sampai ia tak bisa berkata apa-apa.

 

“Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi, Youngie-ah…”

 

 

TBC

Maap telat. Akhir-akhir ini agak sibuk. Hehee

Salam hangat,

Kee-Rhopy

88 responses to “Emergency Husband Service (Chapter 5) – Kee-Rhopy

  1. Demi apa kok rasanya malah sakit ya pas yeol ngomong gitu:”) sedih bawaannya kenapa mereka harus terpisahkan oleh.. penyakit:”(
    yeolli mangats~ youngie mangats~

  2. itu obatnya shinyoung kan kak? tell me, itu bener obatnya shinyoung kaaaan? CY jangan atit juga T.T
    duh itu jgn jgn CY tau shinyoung sakit makanya dia ngomong gitu
    aku penasaran bangeeeeet reaksi shinyoung,soalnya kn tipenya shinyoung tuh ketus gimana gituuu

    aku tunggu chapter selanjutnya yaaa

  3. Mmg ada bnernya jga chanyeol gak salah kok yg salah ayahnya….jdi chanyeol udah tau klo shiyoung skit…

  4. Gak nyangka itu perbuatan ayah chanyeol…. tega sekali hmmm..
    Yakkk.. cerita nya makin sedih…
    Sumpah.. sumpah.. ini bikin nyesek banget..
    Benarkah nanti shiyoung bakalan mati…
    Huuu.. harus siap siap nerima sad ending nih…

  5. jd begitu inti mslahnya..
    ksian ya shinyoungnya… kdua belah pihak sma2 trsakiti.. ayahnya chanyeol emg sgtu bencinyaa ya m shinyoung, atau jgn2 emg g prnh tau kalau kgiatan mngncamnya mmbuat ortu shinyoung mninggal..
    next part dtunggu..
    keep writing ^^

  6. duhh itu sebenernya gimana cerita aslinya sih? bapanye chanyeol kaya nggak ngakuin gitu kalo dia yg bunuh, masih ada yg belum terselesaikan sepertinya hmm..
    Chanyeol udah tau tentang penyakitnya, wahh ayo ah balikan aja mereka kali aja nanti bisa sembuh kan 😁

  7. Aku udah deg-deg an,kirain ceritanya chanyeol kecelakaan lalu mati,trus shinyoung mati karna penyakitnya akhirnya ketemu dehh disurga,haha absurd ya pikiranku

  8. Makin bagus kakk ceritanya. gabisa ya shiyeong diapain gitu biar bisa sembuh. Gimana nnti reaksi chanyeol kalo tau Shiyeong uda stadium akhir. Keep writing ya kakk. Ffnya keren :))

  9. critanya makim greget
    akhirnya chanyeol tau juga penyakit shinyoung
    masih penasaran deh apa bener ayah chanyeol penyebab kematian ayah shinyoung ?

  10. Ini bakalan sad ending ya ?
    Jangan dong
    Apa shiyoung bs sembuh ?
    Aku kepengen mereka bisa hidup bahagia sama”

  11. ahkirnya setelah bertahun tahun alasan itu terbongkar juga
    bukan hanya karena penyebab meninggalnya orangtua nya tapi juga penyakitnya itu penyebab pisahnya mereka
    pasti mereka masih saling mencintai
    ayo chanyeol berjuang untuk cintamu

  12. Baek salah sangka😂😂
    Shiyoung punya penyakitnya sejak kapan??
    Bapaknya chan ga suka banget sama shiyoung? Sampe bunuh orang tuanya gitu atau bapaknya chan ada masalah sama orang tuanya shiyoung? ah gatau. mereka bakal jadian lagi kahh??

  13. aaaaa shiyoung chanyeol kalian masih saling suka, tolong jangan bersikap seolah olah kalian tidak memiliki rasa itu lagi ><
    aku harap ini bakal happy ending

  14. Akhirnya chanyeol sdh tau pnyakit nya shinyoung,, appa nya chanyeol jhat bngt sih,,,,
    Semngat chanyeol,,,,,
    Next chap,,, fighting,,,,!

  15. eyakkk chanyeol bravooo.. pinter deh. ini si sinyong kaga bakalan qoid kan? ga asik banget kalo sampe ini ff sad ending wehhh please bikin sinyong sembuh dari kanker wkwkwkwk *maksa* hahahaaa… lanjut baca ya authornim ^^

  16. sedih banget, nyeseknya tuh di sini tapi aku tahan takut puasaku batal, aku pending deh nangisnya setelah buka puasa #EmangBisa….nexttttt

  17. Sekarang chanyeol udah tau semuanya. Tentang penyakit shiyoung juga tentang kematian orang tua shiyoung. Tinggal nunggu reaksi shiyoung bakalan kayak apa nantinya. Berharap mereka bisa bareng lagi karena ya emang masih sama2 cinta

  18. yaaaaaaa gitu dong chanyeol…. action!
    sumpah chanyeol disini harus berterimakasih nih sama baekhyun >,< he has an important rule here!

  19. Baekhyun benar2 salah paham…. dngn sifatnya yang sperti itu dia bner2 mirip sperti seorang yeojachingu yang mengkhwatirkan namjachingunya… atau bahkan mungkin lebih mirip seperti seorang istri yang mengkhawatirkan suaminya….

  20. Andwae, ini romantis. Yakkk, kenapa sih bapaknya Chanyeol nggak setuju? Kan ane penasaran jadinya. Oh ya, sekali lagi, ya, Kee-Rhophy, kamu itu pinter nge-cut. Suka, dh. Oh ya, di poster itu fotonya Kim Soohyun’kan?

  21. bapaknya arogan bgt… /gk/ oke bapaknya gk mau ngaku wajar chanyeol marah… oke gimana ama kelanjutan khidupan mereka? Keep writing and hwaiting!~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s