Blue Blossom #1 Meet ~ohnajla

Author : ohnajla

Genre : Romance, drama, family, friendship, schoollife

Length : Chaptered

Rate : G

Cast :

Ken Lee (as Lee Jae Hwan VIXX)

Haru (OC)

Haruko (OC)

Yoon Se Hee (OC)

Nakayoshi Kaito (OC)

other cameo

Kampung adalah tempat pertama yang paling Ken benci daripada tempat-tempat lain yang dijadikan lokasi pindah rumah keluarganya. Menurutnya kampung itu benar-benar terbelakang. Bagaimana bisa mobil tidak bisa masuk? sampai-sampai dia dan keluarganya harus menumpang pada kereta sapi milik orang lain untuk membawa barang-barang ke rumah baru mereka. Sementara mobil keluarganya dititipkan pada rumah kepala desa yang berdiri di pinggir jalan besar.

Pengalaman yang sangat menyebalkan untuknya adalah saat menaiki kereta sapi itu. Mereka harus menempuh perjalanan berjam-jam di bawah terik matahari dengan kecepatan yang ya ampun… lambat sekali seperti siput. Ayah dan ibunya happy-happy saja dengan perjalanan yang panjang itu, mereka justru saling berangkulan dan mengumbar-umbar kata-kata romantis. Ken yang sebenarnya memiliki dua kakak sesama gender yang tidak ikut serta dalam acara pindah rumah ini hanya bisa menghela napas. Dia memakai topi lebarnya untuk menghalau sinar matahari.

Menjelang malam mereka akhirnya sampai di rumah baru. Tidak bisa dikatakan rumah baru sebenarnya. Rumah itu lebih cocok disebut rumah bergaya Eropa kuno yang masih berdiri tegak dan terawat dengan baik. Kalau dilihat-lihat rumah itu adalah rumah yang paling bagus sekaligus paling besar dari yang lain. Untuk pertama kalinya setelah sampai di kampung itu Ken akhirnya merasa bersyukur pindah ke rumah yang megah seperti itu.

desain-rumah-klasik-victorian-eropa

“Ken, bawa koper-koper ini,” pekik ibunya yang spontan membuat Ken menoleh.

Pemuda itu menghela napas lagi. Dengan langkah malas dia pun bergabung dengan ayah dan si sopir kereta sapi untuk membantu menurunkan dan membawa koper-koper besar itu.

Dengan dua koper besar di kedua tangannya serta ransel di punggung, ia pun bergegas masuk ke rumah barunya dengan berjalan di belakang sang ayah. Begitu memasuki rumah, dia terpaku dan memandang sekitarnya dengan terkagum-kagum. Dia tidak benar-benar menyangka bahwa interior rumah barunya di kampung memiliki keindahan yang artistic seperti ini. Rasanya seperti sedang masuk ke dalam istana kerajaan Eropa. Ruang tamu yang ia lihat saat ini memiliki perabotan yang didominasi oleh warna cokelat kayu dan dinding krem yang lembut. Kesan mewahnya bisa ditangkap melalui pajangan lilin di antara dua jendela yang tinggi.

Inspirasi-Desain-Ruang-Tamu-Modern-Klasik-Interior-Ruang-Tamu-Kecil

“Nak, jangan berdiri menghalangi pintu,” tegur ibunya dari belakang yang saat ini sedang membawa sebuah kotak berisi sepatu-sepatu koleksinya.

Ken pun memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju bagian rumah yang lebih dalam. Dia sudah tak sabar melihat kamar barunya.

Setelah selesai memindahkan semua koper ke dalam rumah, sekarang waktunya untuk menata barang dan melihat seisi rumah.

Ayah dan ibu memilih kamar di lantai bawah, sementara Ken dibiarkan menguasai lantai atas. Kebebasan itu disetujui tanpa syarat oleh Ken. Dia dengan semangat membawa semua barang-barangnya ke atas.

Ken memilih sebuah kamar yang letaknya cukup jauh dijangkau dari tangga. Begitu masuk, dia langsung disambut dengan pemandangan kamar yang mewah namun simple. Lantai kamar itu memiliki tekstur cokelat seperti kayu. Di sisi kiri terdapat sebuah almari lima pintu yang menempel dengan dinding. Kemudian di atas lemari itu terdapat celah kecil yang digunakan sebagai tempat tanaman dan benda-benda kecil lainnya. Ranjang berada tepat di tengah-tengah ruangan, diapit oleh nakas pendek yang di atasnya terdapat lampu tidur. Rak buku memenuhi dinding sebelah kanan dengan sebuah meja belajar tepat di sampingnya. Desain ruangan yang sangat sempurna.

Gambar Desain Kamar Tidur Rumah Minmalis Model Interior Terbaru

Ken pun mulai mengeluarkan dan menata barang-barangnya. Sebelum melakukan tour kecil mengelilingi lantai dua.

**

Esok harinya Ken dibangunkan pagi seperti biasa. Dia mengeluh ketika harus beranjak dari tempat tidur. Begitu mendapat pukulan cinta dari ibunya, dia akhirnya menurut untuk bangun.

Menu sarapan kali ini adalah sepiring waffle di tambah dengan telor mata sapi, sosis serta bacon. Ken sangat tidak suka menu sarapan ala barat ini, dia lebih menginginkan nasi daripada menu itu. Tapi ibunya menyahut, “Kita belum punya nasi. Makan dulu saja seadanya”. Kalau sudah begitu Ken hanya bisa merengut.

Tak lama kemudian ayahnya bergabung di meja makan. Dia terheran-heran. Masih sepagi ini ayahnya sudah memakai pakaian rapi, memang akan pergi kemana?

“Apakah ayah akan pergi ke suatu acara?”

Sang ayah menyesap sedikit kopinya sebelum menjawab. “Tidak. Ayah akan pergi mengurus kepindahan sekolahmu.”

Bola mata Ken mendadak melebar. Dia mengorek kedua telinganya dulu sebelum kembali bertanya, “Aku tidak salah dengar kan, ayah?”

“Tidak, Nak. Ayah memang akan mengurus kepindahanmu ke sekolah baru,” sahut sang ibu.

Ken memandang kedua orangtuanya tak percaya. Dia akan dipindah ke sekolah baru? Sekolah di kampung ini maksudnya? Berbaur dengan anak kampung? Hah!

“Aku tidak mau!”

Ayah dan ibu langsung memandang ke arahnya.

“Kamu berani berteriak pada orangtua, nak?” ucap ibunya dengan nada lembut namun tatapan yang tajam menusuk.

“Aku tidak mau bersekolah di kampung ini! sekalipun tidak! aku menurut pindah ke kampung ini tapi bukan berarti aku juga akan menurut kalau di sekolahkan di sini. Aku tidak mau berbaur dengan anak-anak kampung!”

PLAK!

Ken memandang sang ayah sembari memegangi pipi kirinya yang panas. Ayah memandangnya dengan penuh amarah, dadanya naik turun saking marahnya.

“Kalau kamu tidak mau menurut ayah dan ibu, lebih baik jangan jadi anak kami.”

Ken menatap ayahnya tak percaya. “Hah..”

“Kalau kamu tidak sekolah, mau jadi apa nantinya, huh? Jangan mempermalukan nama baik keluarga kita. Lagipula apa salahnya berbaur dengan anak kampung? Kamu ini dilahirkan di sini, nak. Ketahuilah itu!”

Ken lebih tidak percaya lagi. Haruskah dia memercayai bahwa dia lahir di kampung terpencil seperti ini? sementara yang dia tahu kakak-kakaknya lahir di Paris dan Belgia. Kenapa hanya dia yang lahir di kampung ini? Tidak adil!

Ken menghentakkan kakinya, kemudian bergegas dengan langkah cepat-cepat menuju ke lantai atas. Dia tidak pergi ke kamar. Dia memilih untuk pergi ke loteng.

wooden-classic-attic-bedroom Desain kamar tidur loteng solusi untuk ruang rumah kecil

Loteng itu terlihat nyaman untuknya. Ada banyak perabot di sana meski ukuran loteng itu kecil. Bahkan ada banyak buku di dalam almari, yang dia yakini kalau itu buku-buku lama. Dia duduk di atas sofa belundru. Punggungnya bersandar pada kepala sofa, sementara kakinya menjulur ke depan. Bahkan dengan posisi senyaman itu saja kekesalannya masih memuncak. Masih terasa tamparan ayah di pipinya, begitu pula kenyataan bahwa dia dilahirkan di kampung ini. Hah, kalau dia benar dilahirkan di kampung ini, kenapa juga di akta kelahiran tertulis Seoul? Apakah itu dilakukan agar dia tidak merasa minder pada kedua kakaknya? Haha, lucu.

Ken menghela napas. Perilaku ini selalu dia lakukan saat dia merasa dadanya begitu sesak dan amarah telah memuncak. Dia memiliki kesulitan tersendiri dalam hal mengatur emosi, terlebih rasa marah. Tiap kali amarah itu datang, dia pasti akan mati-matian menahan diri agar tidak meluapkan amarah itu pada orang lain. Hanya terkadang saja kalau sudah benar-benar tidak kuat menahan, dia akan langsung ungkapkan kemarahannya itu. Meski yah… dia harus menyaring kata-kata dulu.

Dipandangnya langit melalui jendela. Warnanya biru cerah, bertemankan gumpalan putih bak kapas yang berarak pelan. Pergerakan yang lamban itu kadang membuatnya gemas sendiri, salah satu bentuk sifat tidak sabarannya. Tapi kali ini tidak begitu. Pergerakan awan yang lamban justru membuat perasaannya berangsur-angsur tenang. Seolah awan itu baru saja memeluk dirinya.

Begitu amarahnya reda, ia pun memutuskan untuk membersihkan diri. Setelahnya mungkin dia akan jalan-jalan berkeliling kampung untuk mengenal lebih jauh tentang lingkungan barunya. Mungkin saja dia akan menemukan bukti kalau dia benar-benar dilahirkan di kampung ini.

**

Tepat pukul 10 pagi, dia keluar dari rumah. Dengan memakai kaos sweater berlengan panjang berwarna pink, celana ¾ kaki dan alas kaki berupa Brown Leather Brogue, dia memulai aksinya untuk tour keliling kampung.

Matahari bersinar terik, menerangi jalan yang ditempuh Ken. Suasana kampung kecil ini cukup damai untuknya. Letak kampung yang dekat dengan pantai Balpo membuat angin laut yang membawa panas matahari berhembus ke arahnya. Dua ratus meter di depannya terlihat sebuah jalan beraspal, yang tidak terlalu besar tapi cukup dilalui oleh satu mobil. Ken mendengus, kesal kenapa jalan menuju rumahnya tidak seberuntung jalan beraspal di depan sana. Kan akan lebih enak membawa mobil ke rumah dari pada harus berlama-lama menunggang kereta sapi.

Lima menit berjalan, Ken sudah sampai di jalan beraspal itu. Terlihat olehnya sebuah dermaga kecil yang di sana berjejer kapal-kapal tradisional yang terbuat dari kayu. Banyak sekali masyarakat yang beraktifitas, paling banyak diantaranya adalah para nelayan. Nelayan-nelayan itu sedang berbicara dengan pedagang ikan, semacam transaksi jual beli untuk pasokan pasar. Ada juga orang-orang yang keluar dari mobil bak mahal, mereka adalah orang-orang dari kota.

Ken sama sekali tidak berminat untuk berbaur di sana. Bau amis ikannya sudah tercium sampai radius berpuluh-puluh meter. Ia pun memilih untuk pergi ke sisi lain pantai yang lebih tenang dan sepi dari dermaga itu.

Sesampai di sana, dia yang lelah berjalan pun memilih istirahat sejenak dengan duduk di sebuah bangku kayu yang tersedia. Dilihatnya sekeliling. Bibirnya menggumam memuji keindahan pantai itu. Ombaknya yang bergulung tenang dan anginnya yang berhembus hangat seketika membuat rasa lelahnya menguap. Ah.. betapa tenangnya pantai ini.

Ketika asyik-asyiknya mengagumi keindahan pantai, tiba-tiba saja terdengar suara gonggongan anjing. Ken spontan menoleh, keterkejutannya bertambah ketika anjing berjenis Shiba Inu tiba-tiba melompat ke arahnya. Anjing itu diberi pengikat, yang sepertinya terlepas dari pemiliknya. Ken gelagapan ketika anjing itu makin keras menggonggong saat ada di dekatnya. Karena takut Ken pun menjauh darinya.

“Aoyama!”

Anjing itu menoleh saat dipanggil oleh seorang gadis, begitu juga dengan Ken –meskipun dia tidak ikut dipanggil. Dilihatnya gadis itu berlari sekuat tenaga menghampiri anjing jenis Shiba Inu itu, dress selutut sederhananya yang bermotif bunga-bunga melambai ketika ditiup angin. Rambut hitam ikalnya yang diikat kucir tersentak-sentak mengikuti irama langkahnya.

“Ya ampun, kenapa kamu berlari seperti itu? ah aku lelah..”

Guk guk!

Gadis itu mengelus Aoyama, menciumnya dengan lembut. Setelahnya dia menoleh pada Ken. Melihat ekspresi Ken yang pucat gadis itu jadi merasa bersalah. Dia cepat-cepat bangkit dan membungkuk.

“Tolong maafkan Aoyama. Dia memang selalu begitu. Maafkan kami.”

“Oh ya, tidak apa-apa,” balas Ken sambil menggaruk pelipisnya. Mereka saling bertatapan, entah apa yang ada di pikiran gadis itu, tapi gadis itu sama sekali tidak berkedip ketika melihatnya. Ken yang risih pun akhirnya menggerakkan tangannya di depan wajah gadis itu.

“Anda baik-baik saja, nona?” tanyanya dengan aksen Seoul yang formal.

Gadis dengan wajah blasteran Korea-Jepang itu reflek tersentak. Dia pun mundur satu langkah, menunduk, dan mengusap lehernya. “Tidak, aku baik-baik saja.”

Mendengar itu Ken merasa lega. “Oh ya, nama saya Ken, baru kemarin saya pindah ke desa ini.”

Gadis itu memandang Ken sebentar, tapi kemudian menunduk lagi. “Nama saya Haru.”

Ken tersenyum tipis, “Namamu lucu.”

“Ah, nenek yang memberiku nama itu. Bukan dalam arti Korea, tapi Jepang.”

Ken yang salah duga pun kembali menggaruk pelipisnya. “Oh maaf, kukira dalam arti Korea.”

“Namamu juga bagus,” ungkap Haru malu-malu.

“Itu bukan nama asliku, hanya nama panggilan saja.” Ken tertawa pelan sambil melambaikan tangan symbol kata ‘bukan’.

“Lalu nama aslimu siapa? A-ah.. maafkan aku.”

Ken hanya tersenyum.

Pagi menjelang siang itu mereka habiskan untuk mengobrol di tepi pantai. Keduanya cepat akrab, saling nyambung ketika mengobrol. Aoyama, Shiba Inu milik Haru juga mulai bisa membiasakan diri dengan Ken. Dia sempat bermalas-malasan di pangkuan Ken, selayaknya anjing peliharaan yang manja.

Lewat pukul 12 mereka pun memutuskan untuk berpisah. Tempat tinggal mereka berbeda arah, Ken meminta maaf karena tidak bisa mengantar, dan Haru hanya mengatakan dia akan baik-baik saja.

“Haru-sshi.”

Haru yang akan beranjak itu reflek berhenti dan menoleh. Dia dan Aoyama sama-sama menatap Ken, menunggu kata yang akan diucapkan pemuda tampan itu.

Ken tersenyum. Kepada Haru, juga kepada Aoyama.

“Kalau ada waktu, lain kali kita bertemu lagi ya?”

Haru juga ikut tersenyum. “Tentu saja.”

Ketika Haru akan beranjak, tiba-tiba Ken teringat sesuatu. Dia pun berlari cepat menarik lengan gadis itu.

“Oh? Ada apa lagi?”

“Apa kau tidak sekolah?”

“Aku sekolah.”

“Di mana?”

Haru menatap Ken bingung, tapi dia tetap sempat menjawabnya. “Sekolah Dohwa.”

Dahi Ken berkerut. “Bukan SMA ya?”

“Sekolah Dohwa itu satu-satunya sekolah menengah di kampung ini. Kalau mau sekolah yang lebih bagus lagi kau bisa pergi ke Goheung. Memang kenapa?”

Ken yang sadar kalau masih mencengkram lengan Haru pun sontak melepaskannya. “Ah tidak. Aku hanya bertanya. Aku baru pindah kemari, jadi aku tidak tahu kalau ada sekolah di sini.”

Haru tersenyum. “Sekolah Dohwa berdiri di sisi lain pantai. Cukup lama kalau kita tempuh dengan jalan kaki, tapi kalau bersepeda, 20 menit juga sampai. Lagipula untuk usia 15 ke atas hanya mendapat jadwal sekolah empat hari, itu pun waktu sore.”

Oh pantas, jadi ini alasan kenapa dia bebas berjalan-jalan di pagi hari.

“Oh begitu. Ya sudah, silakan.”

“Sampai bertemu lain waktu, Ken.”

“Sampai bertemu lain waktu juga, Haru.”

Keduanya berjalan saling memunggungi. Ada perubahan berarti pada diri Ken pasca bertemu Haru. Langkahnya terasa begitu ringan, semua yang dia lihat seolah hanya berisi kebahagiaan. Tiap ada orang lokal yang lewat dia pasti sempatkan diri untuk menyapa. Malah kadang dia memperkenalkan dirinya –padahal tidak ada yang minta. Jika dia hanya sendirian dia pasti akan bersiul-siul ceria, bernyanyi lagu apa saja yang dia hafal. Hatinya tak lagi seberat saat akan keluar dari rumah.

TBC

One response to “Blue Blossom #1 Meet ~ohnajla

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s