Mission! Follow Mom (1)- SangHun’s Story Series by bluelu bird

parent holds the hand of a small child

| Title : Mission! Follow Mom | Author : bluelu bird | Cast : Kim/Oh Sang Eun, Oh Sehun, Oh Sang Hun, etc | Genre : Romance, Marriage life, Family, Comedy ( failed ) | Rating : PG 17 | Length : Series |

List : Sleeping Photoshoot | Pervert Devil Game | Saturday Night | Jealous Eun | Peeking Day | Triple Rain | Time To Have A Baby! | Is She Pregnant? | The Dad-To-be | You and Me Plus Him | New Start, New Obstacle (Part I) | New Start, New Obstacle (Part II) | Secret With Daddy! | First CandleGentleman’s Breakfast | Mission! Follow Mom (1) |

Personal blog :http://www.icrecreamlibrary.wordpress.com

Disclaimer : Storyline is pure mine. Don’t be plagiator, please.

Enjoy reading~

.

Our mission is following mom without her knowing!

.

.

Sang hun melipat tangannya di depan dada, persis seperti Sehun yang duduk di sampingnya. Terlihat sekali perbedaan jauh tinggi Sang hun dengan Sehun karena mereka duduk di sofa yang sama dan lebihnya dengan posisi yang sama dan eskpresi yang sama pula.

Keduanya menatap serius wanita cantik di hadapan mereka yang tengah memegang kedua telinganya dengan kedua tangannya. Sang eun mengeluarkan wajah semelas mungkin pada Sang hun dan Sehun.

Tak ada perubahan.

“Kalian tidak akan memaafkan, eomma?” Tanya Sang eun dengan wajah memelas. Sang hun dan Sehun menggeleng bersamaan di tempatnya, lalu kembali memandang Sang eun dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.

Sang eun menghela nafasnya pasrah. Menurunkan kedua tangannya dari telinganya.

“Lalu aku harus bagaimana agar kalian memaafkanku?”

Sang hun dan Sehun terdiam.

Eomma, pergi berapa lama?” Tanya Sang hun pada akhirnya. Pipi tembamnya menggembung lucu, sedikit memerah karena kesal.

“Sekitar satu minggu,” jawab Sang eun hati-hati. Sang hun terdiam sejenak sebelum memalingkan wajahnya dengan bibir mengerucut kesal.

Ya, Sang hun dan Sehun kesal pada Sang eun. Masalahnya sederhana sebenarnya. Sang eun harus pergi ke luar negeri untuk mengurusi masalah relawan dokter di kota terpencil di negara itu. Mulia, tapi tetap saja tidak cukup bagus untuk menyenangkan dua orang pria itu-Hun kecil dan Hun besar-karena fakta bahwa ia akan meninggalkan mereka berdua.

Ya, rasa-rasanya kalau Sang eun ingat-ingat ia tak pernah jauh dari Sang hun selama itu. Dari Sehun? Oh, jangan tanya. Pria itu akan mengejarnya kemanapun.

“Lalu kalian mau aku bagaimana?” rengek Sang eun. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Masih tetap menyamping sehingga ia masih bisa melihat dan bertatapan dengan dua Hun itu.

“Jangan pergi! Di zaman modern ini sudah banyak teknologi. Kau video call saja untuk merapatkan dan mengatur semuanya!” Mulut Sang eun menganga mendengar ocehan Sehun. Video call? Oh, bahkan Sehun sama sekali tidak bercanda.

“Aku rapat, bukan menyapa teman lamaku.” Kaki Sang eun menendang pelan sofa yang didudukinya. Sangat pelan. Sebagai reaksi kekesalannya. Reflek.

Sehun sempat teralihkan sejenak. Ugh, Sang eun semakin menggemaskan di matanya, bahkan setelah mereka mempunyai anak. Apalagi saat ia fengah kesal dengan wajah memerahnya dan…

Tidak-tidak, Oh Sehun. Kau sedang marah. Ingat, kau sedang marah!

“Lalu?” jawab Sehun. Nadanya terdengar aneh karena pria itu berusaha menahan ekspresinya. Berusaha terdengar tenang dan dingin.

Sang hun hanya diam mendengarkan. Tapi masih dengan ekspresinya yang tak berubah. Bibir mengerucut dan mata membulat kesal.

Sang eun mengacak rambutnya frustasi, membenamkan wajahnya di sofa sebelum kembali menatap Sehun lamat-lamat. Memelas dan penuh harap.

“Aku bukan presiden kau tahu,” ujar Sang eun frustasi.

“Lalu kenapa?” Sang eun terdiam sejenak, bibirnya ikut mengerucut lucu seperti Sang hun. Ia mulai kesal.

“Di sana tidak ada sinyal, wahai suami! Aku sudah bilang sejak awal!”protes Sang eun seperti anak kecil, setelah menyelesaikan ucapannya ia langsung membenamkan wajahnya kembali ke sofa, kadang memukulkan kepalanya ke sofa. Sehun sempat goyah beberapa detik karenanya. Terlalu menggemaskan.

Kenapa ia menggemaskan sekali?

Appa. Eomma tidak akan sakit kan?” bisik Sang hun di telinga Sehun setelah bersusah payah menyamakan tinggi dengan Sehun. Tangan kecilnya menutupi mulutnya, berusaha agar Sang eun tidak mendengarnya. Bisikannya sangat pelan, seperti ia sedang membisikkan rahasia negara.

Ia khawatir dengan Sang eun yang mengadu kepalanya dengan dudukan sofa. Meskipun sama sekali tidak keras. Tapi tetap saja Sang hun khawatir. Kepala Sang eun berbenturan dengan sofa, lalu memantul kembali, begitu seterusnya. Seperti bola basket.

Sehun terdiam sejenak, melirik pada Sang eun sebelum menjawab dengan bisikan pula, “Eomma tidak akan kenapa-kenapa. Kita harus memenangkan ini, soldier.”

Ya, Sang hun adalah tentaranya dan Sehun adalah kaptennya. Bahkan mungkin mereka diam-diam punya walkie-talkie mereka sendiri yang Sang eun tidak tahu. Peran Sang eun? Tidak ada. Ia sudah punya peran alami. Dokter.

Atau mungkin Sang eun bisa menjadi penjinak.

Penjinak Sang hun dan Sehun tentunya. Karena biasanya ia selalu berhasil menenangkan kedua pria itu. Ya, kecuali sekarang.

Sang hun mengangguk mantap mendengar bisikan ayahnya. Anak di bawah lima tahun itu sempat mengangkat tangannya, menempelkan ujungnya di alis. Melakukan hormat pada kaptennya.

“Jadi aku tidak boleh pergi?” Tanya Sang eun lagi. Ia menatap Sang hun dan Sehun lamat-lamat. Wajahnya begitu memelas. Sehun berusaha sebaik mungkin menghindari bertatapan dengan Sang eun.

Ia pasti goyah jika itu sampai terjadi.

Sang eun kembali duduk tegak. Bibirnya mengerucut kesal saat ia tak mendapat jawaban dari dua pria di hadapannya. Keduanya hanya bersedekap tangan dan memalingkan wajahnya. Yang satu memalingkan wajah ke kana, yang satu memalingkan wajah ke kiri. Benar-benar kompak.

Sang eun menghela nafasnya sejenak. Matanya melirik sekilas ke Sang hun yang sekali-kali mencuri pandang ke Sang eun. Saat mata kecilnya menyadari mata Sang eun menatapnya, pria kecil itu cepat-cepat memalingkan wajahnya, menggembungkan pipinya besar-besar. Pura-pura kesal. Membuat Sang eun tersenyum geli melihatnya. Gemas.

Sang eun menepuk-nepuk pahanya sebentar, lalu kembali menatap Sang hun.

Baiklah, waktunya senjata terakhir.

Sang eun berjalan cepat menghampiri Sang hun. Berlutut di depan anak laki-lakinya yang tampan dan menggemaskan itu.

“Sang hun-ah,” panggil Sang eun mencoba menarik perhatian Sang hun. Tapi anak itu hanya melirik sekilas sebelum memalingkan wajahnya lagi. Semakin jauh dan menggembungkan pipinya kuat-kuat.

Tapi bukannya terlihat kesal, ia hanya terlihat menggemaskan di mata Sang eun. Sangat-amat-sungguh-menggemaskan. Okay, itu berlebihan.

Eomma sedih.  Sang hun mengabaikan eomma.” Sang eun memasang wajah sedihnya. Dan berhasil, Sang hun meliriknya diam-diam. Tangan kecilnya mengusap pipi Sang eun sebentar, lalu menepuk-nepuknya sayang, sebelum menurunkannya cepat dan kembali berakting kesal.

Kenapa anakku bergitu menggemaskan?

“Hunnie, tahu apa yang eomma lakukan di sana?” Sang eun berhasil menangkap perhatian Sang hun sepenuhnya. Yang tadinya tubuh kecilnya menyamping miring, kini tubuhnya menatap Sang eun. Mata bulatnya melirik Sang eun-masih dengan pura-pura kesal.

Eomma di sana berusaha menolong orang, menjadi relawan, mengobati orang. Kau tidak mau eomma membantu orang lain, heum?” tanya Sang eun dengan wajah sedihnya yang dibuat-buat. Itu tidak bohong, ia memang akan menjadi relawan, tapi wajah sedihnya, yah hanya bagian dari rencana. Bukan sepenuhnya bohong.

Wajah kesal Sang hun hilang seketika. Mata bulatnya menatap Sang eun sepenuhnya. Penasaran dan penuh tanya.

“Menolong orang? Apa eomma mengobati mereka yang sakit?” Sang eun tersenyum tipis lalu mengangguk kecil. Mengelus kepala anaknya yang sibuk berpikir.

Appa! Eomma harus pergi!” Sang eun tersenyum puas sambil ikut menoleh, menatap Sehun yang tengah menatap mereka berdua balik dengan gusar.

“Sang hun-ah, eomma mu baru mengobati orang sebulan lagi. Ia hanya akan bertemu orang-orang lain di sana.” Ucapan Sehun membuat Sang hun berpikir ulang. Anak itu menggaruk kepalanya bingung.

Meeting bagian dari menolong orang. Kita harus merencanakannya agar semua relawan bisa datang.”

Hening

Sang hun menatap Sehun polos. Mengeluarkan tatapan memohonnya.

“Apa?”

“Izinkan eomma pergi,” rengek Sang hun pada Sehun. Sehun menatap anaknya itu intens, lalu beralih menatap Sang eun yang juga mengeluarkan tatapan memohonnya.

Bagaimana bisa aku menolak dua orang ini?

“Baiklah,” gumam Sehun pelan.

“Apa?” Sehun terdiam sejenak sebelum menatap Sang eun yang sedang menatapnya polos. Menghela nafasnya sejenak.

“Aku mengizinkanmu.”

“Wah!”

Sang eun lompat dari duduknya. Segera menghampiri Sehun, memeluknya dan mencium pipinya dengan semangat, menimbulkan semburat merah di pipi Sehun.

Sang hun ikut menjerit senang, anak itu naik ke atas sofa, menari senang sambil tersenyum lebar.

Hanya Sehun yang tidak senang.

“Aku akan pergi kalau begitu!” Sehun menatap Sang eun kaget, begitu pula dengan Sang hun yang langsung berhenti menari.

Keduanya memperhatikan Sang eun yang sudah berlari ke kamarnya, dan keluar dengan koper kecil dan ransel di bahunya. Rasanya seperti slow motion.

“Kau pergi sekarang?” tanya Sehun masih kaget. Matanya terus memperhatikan Sang eun yang tengah memeluk Sang hun erat, lalu mencium anaknya itu dan memberi nasihat-nasihat pada anaknya itu.

Sehun tidak dapat sepenuhnya mendengar, tapi ja dapat mendengar kata : baik, makan, tidur, daddy. Entahlah apa yang sibuk Sang eun katakan. Yah, ia sudah jadi ibu dan segala nasihatnya.

“Tentu!” Sang eun mencium Sang hun lagi, membisikkan ‘Mom loves you so much’ sebelum akhirnya berdiri dan hendak memeluk Sehun.

Tapi tangan Sang eun yang sudah merentang lebar dipegang keduanya oleh Sehun. Tetap dengan posisi membuka lebar Sehun menahan tangan Sang eun.

“Kenapa begitu cepat?” Sang eun terdiam sejenak sambil menatap polos Sehun sebelum berkata, “Kau sudah menahanku lama sekali, Hun.”

Sehun terdiam, masih menahan tangan Sang eun. Lalu kembali menatap Sang eun yang tengah menatapnya dengan tatapan memelas.

“Kau tidak memperbolehkanku memelukmu?” ujar Sang eun dengan memelas. Pipi Sehun mulai memanas karenanya.

Pria itu menarik Sang eun dalam pelukannya, memeluknya erat-erat. Setelah beberapa saat Sang eun melepaskan pelukan mereka, mencium pipi Sehun.

Be a good dad for Little Oh,”  bisik Sang eun sambil menepuk-nepuk kepala Sehun pelan.

Sebelum Sehun mengatakan apapun, Sang eun sudah menghampiri Sang hun, mencium anak itu lagi, entah sudah ke berapa kalinya, lalu berlari meninggalkan rumah mereka sebelum Sehun berubah pikiran.

“Sampai jumpa!”teriak Sang eun sambil terus berlari, melambaikan tangannya tanpa repot berbalik.

Sang eun berbalik tepat saat dirinya sampai di depan pintu, lalu berteriak, “Aku mencintai kalian!”

Bahkan Sehun tak sempat mengucapkan apapun. Karena istrinya itu sudah menghilang duluan.

Sehun menjatuhkan tubuhnya lemas di sofa. Menyandarkan kepalanya di kepala sofa, mendongak sambil menutup matanya rapat. Tangannya mengacak kasar rambutnya. Frustasi.

Ugh, sekarang pria-pria ity akan leluasa mendekatinya!” gerutu Sehun di bawah nafasnya. Pria itu terus saja menggerutu hingga saat dirinya merasakan sentuhan tangan mungil di kakinya. Ia berhenti menggerutu seketika, menatap Sang hun yang tengah menatapnya bingung.

“Kenapa appa?” Sehun menatap Sang hun lamat-lamat, wajah anaknya itu berbinar-bangga akan ibunya yang seorang dokter, menolong orang banyak-  sekaligus bingung-karena Sehun. Pria itu terdiam sejenak sebelum menghela nafasnya pelan.

“Sang hun-ah, appa juga bangga akan eommamu. Ia dokter yang keren!”

Tidak. Seharusnya aku tidak bilang keren. Hebat lebih baik. Ugh, terserahlah.

“Lalu?” Sehun tersadar dari alam bawah sadarnya, lalu kembali menatap fokus ke anaknya.

“Tapi banyak orang yang menyukai eomma. Banyak yang mendekatinya! Makanya appa tidak suka eomma pergi lama-lama!” ujar Sehun berseru-seru, meninggalkan Sang hun yang menatapnya bingung dengan mulut terbuka kecil.

Appa cemburu?” cicit Sang hun.

“Tidak!”

Appa jelas cemburu!” ujar Sang hun semangat. Saking semangatnya anak itu berdiri dari duduknya, berdiri di atas sofa sambil menunjuk wajah memerah Sehun.

“Baiklah! Lalu kenapa? Cemburu itu tanda cinta!” Sang hun terdiam sejenak. Menatap dalam diam ayahnya yang tengah memalingkan wajah dengan tangan dilipat di depan dada. Lalu anak itu kembali duduk dengan pikirannya yang melayang entah kemana.

“Tapi appa, apa maksudnya mendekati?”

“Ya..”

Sehun terdiam. Berpikir. Apa kata yang cocok untuk menjelaskannya?

Ingin mengencani Sang eun?

Tidak-tidak. Jelas Sang eun sudah menikah.

Ingin merebut Sang eun?

Tidak. Sang hun pasti akan mengira ibunya dijadikan media tarik tambang. Seperti saat Sang hun sedang memperebutkan mainan dengan temannya di day care.

Ingin membuat Sang eun bercerai dengan Sehun?

Tidak! Itu terlalu dewasa dan…. ekstrim.

“Ya, apa?”Sehun kembali menatap Sang hun yang tengah menatapnya penuh minat. Penasaran.

“Tertarik dengan eomma?” Sehun sendiri bingung apa yang baru saja dikatakannya tadi apakah pernyataan atau pertanyaan. Otak pintarnya tidak bisa menemukan kat yang tepat untuk menjelaskan pada anaknya itu.

Sang hun terdiam. Bingung. Membuat Sehun menghela nafasnya bingung.

“Orang itu menyukai eomma jadi mereka ingin mendapat perhatian eomma,” ujar Sehun pada akhirnya. Well, rasanya itu penjelasan yang paling mudah dipahami dan tentu, tidak terlalu ekstrim.

Sehun rasa penjelasannya sederhana.

Ya.

Tapi respon Sang hun tidak.

Anak yang hampir berumur 3 tahun itu langsung berdiri dari duduknya. Matanya membulat besar.

“Tidak boleh!”

Percayalah, Sehun hampir melompat dari duduknya. Kaget.

“Aku akan menyusul eomma dan memastikan paman-paman itu jauh-jauh dari eomma!” Sehun terdiam sejenak. Mencerna ucapan anaknya itu.

Menyusul…

Senyum Sehun merekah seketika.

Soldier! Captain appa punya misi baru!” Sang hun menoleh ke ayahnya, masih dengan pipinya yang menggembung lucu karena kesal.

“Kita akan mengikuti eomma! Memata-matai eomma selama di sana.”

Sang hun terdiam, sebelum berjalan hati-hati di atas sofa. Mendekatkan mulutnya ke telinga Sehun. “Menyusul eomma?”

“Ya. Kita akan menyusul eommamu. Dia tidak boleh tahu. mengerti?”

“Mengerti!”

“Okay, soldier Oh! Our mission is following mom without her knowing!”

Senyum Sang hun merekah lebar, begitu pula dengan Sehun.

Ay ay, captain appa!”

***

Halo!

Maaf lama update ini :3

Mission! Follow Mom ini terdiri dari 2 atau mungkin lebih chapternya. Ini mulai asal mula Sehun sama Sang hun ngikuti Sang eun. Dan seterusnya. Gak panjang kok, gak begitu banyak chapter, gak sampai 5, karena ini kan series.

Maaf banyak kekurangan

Thanks for reading

Personal blog : http://www.icrecreamlibrary.wordpress.com

Regards,

bluelu bird

 

 

 

 

43 responses to “Mission! Follow Mom (1)- SangHun’s Story Series by bluelu bird

  1. WAH…
    SANGHUNNN KAU TAMBAH IMUTTTTT AAAAAAAAA

    Oh jadi Captain America sm anaknya mau ngikutin ibunya (?) *efek abis liat captain america :v

    keep writing~

  2. aaaaa kangen baby huunnn aaaaaa seneng banget ini di updateee >< sang eun gemesin banget sih yaampun pantes aja sehun klepek2 :'). nextnya jan lama2 ya pls

  3. Yuhuuu… Yes! Captain Yoo Shi Jin wkwk
    Duhh gemes banget gue ma Sanghun, ngbayangin pipi tembemnya cemberut ama bibirnya ngrucut, pasti mirip tikus dehh wkwk
    Sehun pinteran banget nih nyari akal biar gajauh2 dr Sang Eun wkwk Good husband and Daddy!^^

  4. Hahahah… lucu bgt sih nih keluarga… anak jd tentaranya appa jd captainnya.. emang udah rindu bgt sama nih series. Klo mereka mau ngikitin sang eun, mereka bakal bersembunyi dmna yh???? Jd nambah penasaran deh… lanjutin ya kak series nya… makasih

  5. Ya ampun,lucu banget itu >< jadi gemes bacanya,beruntung ya Sang Eun punya suami + anak yang lucu banget!!!!

  6. aaah….seru…seru….
    mereka brdua bener” kompak dan lucu bgt deh…🙂
    captain OH dan soldier OH bikin gemes bgt🙂
    lanjut ya kak,, penasaran bgt apakah misi mereka sukses kali ini ^__^

  7. Huaaaa sang hun uda gedeee~ pasti unyu unyuuuu, nah loh usulnya itu loh wkwkwk bzzz, pasti lucu bgt ekspresinya sang hun pas sang eun pasang muka melas wkwkwkwkwk bzzz

  8. sanghun pinter yaa sekaranggg, bikin gemes ajaa ughh tapi daddynya juga gak kalah gemesin hahaha semoga misinya berhasil!!! see u next

  9. Sang hun pasti cute bgt gemesh sama dia. Dua2nya gak bisa jauh-jauh dr Sang Eun. Kalo soal eomma aja kompakkk.. Next yaaa

  10. Ada ada aja ini anak sama bapak, padahal itu cuma pekerjaan doang sampe segitunya di tahan, anak sama bapak sama aja protektif nya ke sang eun, ngomong ngomong sang eun jadi relawan dimana ? Di urk ya ? Wkwk, sampe mau di ikutin gitu sama sehun, cinta banget kayaknya sehun ya sampe gak di bolehin keluar satu senti pun dari teritorial nya

  11. Dduuhhhhhhh Unyuuu banget sih itu bapak sama anak duuh
    Bakalan seru deh kayaknya kelanjutannya nanti wkwk tetep semangat yakss

  12. Pingback: Airport and Plane- SangHun’s Story Series by bluelu bird | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. keinget sama series ini, langsung aja lanjut baca :v sanghun cute bangettt jadi pengen bapaknya *loh* :v aku pikir di sini mereka bakal langsung ngikutin :v ternyata enggak :v

  14. ya ampun sang hun lucu bnget sii
    bapa sma anak kompak banget
    gemesss
    hati2 nnti ketauan sma sang eun loh

  15. Pingback: Hug In Baby Carrier- SangHun’s Story Series by bluelu bird | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s