The Dim Hollow Chapter 11 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                                   —Chapter 11                                                                  

Decision

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude

—◊◊—

            Dahye berdiri kaku di tempatnya. Gadis itu tercenung, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Sehun.

Lupakan saja, dan anggap kau tak pernah mendengarnya.

Tapi kenapa?

Untuk beberapa saat Dahye pikir ia telah kehilangan kemampuan berbicara. Kerongkongannya terasa begitu kering dan lidahnya kelu untuk digerakan. Sampai kemudian ia menemukan sepasang manik Sehun yang menghujamnya dengan dingin, tatapan yang sebelumnya tak pernah Dahye dapatkan dari pemuda Oh ini.

Jantung Dahye mencelus sampai ke dasar perut. Tanpa disadarinya ia mengambil langkah mundur. Sama sekali tak bisa menerima Oh Sehun yang 180 derajat berbeda dari yang pernah ia kenal.

“Kenapa harus…?” Dahye menyuarakan pertanyaannya. Ia menatap Sehun sakit hati. “Kenapa aku harus melupakan pernyataan sukamu?”

Suaranya menghilang di akhir kalimat dan Dahye benci ketika menyadari matanya mulai memanas.

Tidak. Ia tidak mau menangis lagi.

Sejenak Sehun kelihatan enggan menjawab pertanyaannya. Pemuda itu bungkam, mengamati Dahye dalam diam sementara pikirannya berkecamuk. Sejujurnya ia tak ingin melihat Dahye tersiksa seperti ini, kilatan di mata gadis itu dengan jelas menunjukan seberapa dalam luka yang telah Sehun buat di hatinya. Tapi Sehun tak punya pilihan. Kalau saja Dahye tahu ia melakukan ini semua demi kebaikan mereka berdua …

Sampai kapan pun mereka tak bisa bersama. Akan ada lebih banyak luka yang muncul jika Sehun memaksakan diri untuk berdiri di samping Dahye. Maka pikirnya lebih baik mengakhiri segalanya detik ini juga, meski harus menabur sakit.

Tanpa sadar ia telah melakukan kesalahan yang sama seperti yang diperbuatnya di masa lalu pada Dayoung.

Tapi Sehun memilih menutup matanya, memilih mengambil keputusan yang menurutnya terbaik tanpa berpikir seberapa banyak sakit yang mungkin akan dirasakan Dahye.

“Sehun…”

Gumaman pelan dari Dahye berhasil menarik Sehun kembali. Disadarinya kedua bola mata gadis itu telah berkaca-kaca. Sehun tak suka melihat ini. Ia tak suka melihat Dahye menangis, terlebih karena dirinya sendiri.

Berapa kali Sehun membuat Dahye meneteskan air mata?

“Ada banyak hal yang tak kau mengerti, Dahye.” Sehun menukas seraya memalingkan wajahnya. Pada akhirnya suaranya sedikit melembut meski kedengaran begitu frustasi di saat bersamaan. “Tapi satu hal yang perlu kau ketahui, aku melakukan ini semua demi dirimu sendiri. Demi menjagamu dari rasa sakit, karena memang inilah yang terbaik yang bisa kita lakukan.”

Suara kering Sehun mengisi seluruh ruangan yang senyap. Setelah mendengar jawabannya, Dahye kembali terpekur. Gadis itu lantas menundukan kepala, membiarkan lelehan air matanya jatuh membasahi ujung sepatunya. Sedikit-demi sedikit air matanya mulai merembes melalui sudut-sudut matanya, seiring dengan perih di hatinya yang semakin terasa.

“Kau bilang kau melakukan ini semua demi menjagaku dari rasa sakit?” Dahye mengulang dalam bisikan lemah. Ia mendongak, kemudian menatap Sehun lurus-lurus dengan matanya yang telah basah. Membiarkan Sehun melihat betapa terlukanya ia saat ini. “Kau mau tahu sesuatu, Oh Sehun? Apa yang telah kau lakukan saat ini bahkan sudah membuatku merasa sakit. Untuk apa bersusah-susah menjagaku dari sakit kalau kenyataannya perlakuanmu saja sudah cukup banyak melukaiku?”

Lalu setelahnya Dahye bergegas berbalik pergi dan berlari meninggalkan ruangan Sehun. Meninggalkan Sehun yang membeku di tempatnya, bersama sebuah lubang baru di dasar hatinya.

Berapa kali Sehun membuat Dahye meneteskan air mata?

Ia bahkan tak tahu seberapa banyak luka yang telah diciptakannya untuk Dahye.

—◊◊—

Malam itu langit tak berbintang. Gelap dan agak pengap. Jongin tidak mengerti apa yang membuatnya memilih berjalan ke balkon kamarnya kemudian berdiri mengamati langit malam. Semilir angin meniup tengkuknya, membuat Jongin bergidig dan agak menyesali keputusannya untuk diam di sini. Ia hendak berbalik kembali ke dalam kamar hangatnya ketika didengarnya pintu mengayun perlahan.

Dilihatnya Dahye berdiri di belakang pintu yang masih separuh terbuka. Tangan gadis itu menggenggam daun pintu sementara matanya menatap Jongin lurus-lurus, seolah ingin bertanya bolehkah ia melangkah masuk.

Meski agak bingung, Jongin menganggukan kepalanya perlahan. Dan dengan itu Dahye merajut langkahnya mendekati Jongin di balkon kamar,

Gaun tidur yang jatuh sampai ke bawah lutut membalut tubuh mungil Dahye malam itu. Warna salemnya membuat kulit putih gadis itu kelihatan makin pucat. Ia berjalan perlahan menghampiri Jongin, lalu ikut berdiri di sampingnya dengan kedua tangan berpegangan pada pagar balkon. Sama seperti posisi Jongin sebelumnya, Dahye mendongakkan kepala untuk memandang langit malam. Tidak ada bintang di sana—tak ada kerlipan yang tampak dan Jongin pun menyadari sorot mata Dahye meredup.

“Sesuatu yang salah telah terjadi?”

Jongin bertanya memecah hening. Pemuda itu menatap Dahye lamat-lamat, berharap sepupunya dapat membalas tatapannya.

Namun Dahye tetap mendongak, menatap langit malam yang kosong dan kelam.

Sama seperti perasaannya saat ini.

“Kau tahu kau selalu bisa cerita padaku—kalau kau mau.” Jongin menambahkan ketika Dahye tak kunjung bicara.

Belakangan hanya ada satu alasan Dahye datang padanya. Oh Sehun. Sepupunya ini selalu datang jika Oh Sehun telah membuat kisah baru di harinya, lalu meminta saran atau sekadar pendapat dari Jongin.

Meski enggan mengakui, sedikit banyak Oh Sehun telah berperan banyak dalam membantu hubungannya dengan Dahye membaik. Kalau saja pemuda itu tak terus-terusan membuat Dahye terluka, mungkin Jongin takkan membencinya.

“Dia bilang dia menjauh demi menjaga perasaanku.”

Suara pelan Dahye tahu-tahu mengudara di tengah keheningan. Gadis itu tetap menjaga pandangannya pada kekosongan langit malam.

“Kau dengar itu? Dia menjauhiku karena tak ingin membuatku terluka.” Dahye berujar lagi. Kali ini suaranya kedengaran dipenuhi pilu. “Aku tak percaya dia bisa mengatakan hal seperti itu. Pikirnya aku akan baik-baik saja jika dia menjaga jarak dariku? Pikirnya aku senang dia jauh-jauh dariku?”

Jongin bisa menemukan lelahan air mata mulai menggenangi sudut-sudut mata Dahye. Gadis itu tak berusaha menyembunyikannya. Ia membiarkan air matanya menganak sungai membasahi pipi pelan-pelan.

Jongin tak mau melihat Dahye menangis. Tak mau melihat gadis itu terluka.

Sejak awal ia tahu ada yang tak benar tentang Oh Sehun—seharusnya ia mengatakan ini pada Dahye. Namun Jongin tak bisa mencegah apa yang telah terlanjur terjadi. Ia tak bisa menghalangi Oh Sehun, dan buruknya lagi ia tak bisa menahan luka baru timbul di hati Dahye.

“Aku tak mengerti bagaimana jalan pikirannya. Aku tak tahu apa yang diinginkannya—aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.” Dahye kembali berujar, kini bersama dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Ia berusaha menghapus jejak tangisnya menggunakan punggung tangan seraya berbisik dengan suara tercekat. “Aku tidak mau terus menangis seperti ini, aku benci terisak hanya karena dia. Tapi sakit yang kurasakan terlalu perih untuk ditahan…”

Melihat Dahye seperti ini membuat kebencian Jongin pada Sehun semakin bertambah. Keinginannya untuk mengungkapkan masa lalu Sehun pada Dahye pun semakin kuat. Masa bodoh dengan perasaannya yang mungkin saja Sehun beberkan pada Dahye. Ia tak bisa membiarkan Dahye bertahan dengan lelaki keparat semacam Oh Sehun.

“Aku menyukainya, Jongin. Benar-benar menyukainya.” Ucapan Dahye sampai ke telinga Jongin. Suara gadis itu bergetar pelan dan Jongin tak kuasa melihat sakit yang terpancar dari sorot matanya. “Aku tak mengerti kenapa ia tega berbuat seperti ini padaku padahal aku benar-benar jatuh hati padanya.”

Jongin mengembuskan napas perlahan. Agak ragu ia menarik Dahye ke dalam rengkuhannya, memberinya pelukan hangat sembari menepuk-nepuk punggungnya dengan gerakan menenangkan. Tangis Dahye pecah di dadanya. Gadis itu meremas kaos yang Jongin kenakan, seolah berusaha mencari pegangan agar tubuhnya tak tumbang.

Sejenak Jongin memejamkan matanya.

Mungkin ia harus memikirkan ulang niatannya mengatakan masa lalu Sehun pada Dahye. Sebab dengan mengutarakan kisah lama itu sama dengan menambah luka baru di hati Dahye. Dan Jongin, tak mau itu sampai terjadi.

—◊◊—

Keesokan harinya Dahye datang ketika kelas telah dimulai. Napasnya masih terengah akibat berlari sepanjang perjalanan kemari. Ia mengutuk Jongin yang tidak bisa ia mintai bantuan sebab pemuda itu masih saja terlelap di kasurnya. Dan ia juga mengutuk Sehun, yang telah membuatnya menangis dan terjaga semalaman hingga bangun terlambat.

Sehun…

Seketika Dahye tercenung mengingat nama itu. Jika dipikir berulang-ulang, pemuda itu telah banyak membuat Dahye terluka, membuatnya menangis seperti perempuan bodoh. Sebelumnya Dahye tak pernah seperti ini. Sehun cinta pertamanya. Laki-laki pertama yang membuatnya jatuh hati sampai kepayang, juga laki-laki pertama yang membuatnya sakit bukan main.

Bagaimana bisa kisahnya jadi semenyedihkan ini? Ia disakiti oleh lelaki yang pertama kali membuatnya merasakan jatuh cinta.

Ah, hentikan.

Dahye menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir pemikiran tentang Sehun dari benaknya. Kini ia telah membuat keputusan, bahwa masalahnya dengan Sehun tak perlu lagi dipikirkannya. Kenyataan bahwa Sehun terus menarik ulur hubungan mereka membuat Dahye jengah sendiri. Sampai kapan Sehun akan terus seperti ini? Membuatnya senang lalu menjatuhkannya? Membuat jantungnya bertalu-talu lalu menciptakan tangis sepanjang malam?

Mungkin saja selama ini Sehun tak pernah menganggapnya serius. Mungkin saja selama ini Sehun hanya bermain-main dengannya.

Dahye tak mau terus-menerus terjebak dalam kerumitan yang Sehun ciptakan. Ia ingin lari dan menghindari masalah yang membuat kepalanya nyaris meledak ini. Maka ia memutuskan, tadi malam adalah kali terakhirnya menangisi Sehun. Mulai hari ini, ia harus melupakan segala masalahnya dengan Sehun, dan kembali menjalani harinya seperti sebelumnya. Tanpa Sehun, tanpa sekelumit perasaan rumitnya.

Sehun yang kemarin ingin membuat jarak diantara mereka. Meski masih tak bisa menerima alasannya, kalau lelaki itu tak mau dekat lagi dengannya, buat apa Dahye terus mengejarnya?

Seperti yang Sehun inginkan, Dahye akan menjauh dan membuat jarak dengan pemuda Oh itu.

Tanpa disadarinya ia telah sampai di depan ruang kelasnya. Dahye menggeser pintu hingga membuka, dan menemukan guru Young tengah berdiri di muka kelas dengan buku di tangan.

“Nona Son? Ini kali pertamanya kau datang terlambat di kelasku.”

Dahye membungkuk kemudian menggumamkan maaf. Tanpa banyak bicara lagi guru Young membiarkan Dahye duduk di tempatnya. Dengan predikat murid nomor satu Dahye selalu menjadi siswa kesayangan para guru, sehingga datang terlambat seperti ini pun, tak pernah membuatnya terkena detensi atau sekadar teguran.

Ia hanya pernah mendapat detensi satu kali, itu pun karena ulahnya sendiri. Dan detensi itu datang dari Sehun…

Aish. Sialan.

Lagi-lagi pikirannya terbang menuju Sehun.

Mengesah kecil, Dahye membalik tubuhnya dan bergegas menyusun langkah menuju mejanya di baris belakang. Namun kemudian ia segera dibuat membeku ketika menyadari ada yang salah. Langkahnya terhenti, dan matanya memicing menatap mejanya yang kini tak kosong lagi.

Siapa itu…?

“Nona Son, ada apa? Kenapa tidak duduk di tempatmu?” Tanya guru Young yang menyadari Dahye masih saja berdiri di depan kelas.

Dahye mengerjap cepat lantas kembali membungkuk. “Ah, iya. Maaf, Seonsaeng-nim.”

Meski bingung Dahye memilih meneruskan langkahnya. Akibat pertanyaan yang ditujukan guru Young kini seisi kelas mengalihkan perhatian padanya, termasuk pemuda yang mengisi mejanya.

Dahye menggertakan giginya ketika pemuda itu balas menatapnya. Rambut pemuda itu agak berantakan dengan seragamnya yang kelihatan tak disetrika dengan begitu rapi. Mata hitamnya menatap Dahye lamat-lamat, membalas tatapannya dengan berani seolah ingin menerkam kapan saja.

Siapa pemuda itu? Murid barukah? Kenapa ia menempati tempat duduk Dahye?

Sebenarnya Dahye ingin menegur pemuda itu dan memintanya pindah tempat duduk saat ini juga. Namun pelajaran tengah berlangsung, Dahye tak mau membuat keributan. Maka ia memilih duduk di meja di samping meja lamanya, yang kini ditempati pemuda itu. Sambil berjanji dalam hati bahwa ia akan meminta pemuda itu pindah dari mejanya begitu jam istirahat tiba.

Bukannya mau berlebihan soal tempat duduk, tapi Dahye benar-benar suka mejanya yang lama. Letaknya di barisan paling belakang, tepat di samping jendela. Ketika pelajaran kosong dan semua orang bergerombol membicarakan ini-itu, Dahye bisa mengalihkan perhatiannya keluar jendela. Memandang anak-anak lain yang tengah berolahraga, atau sekedar mengamati keadaan langit dengan earphone terpasang di telinga. Dengan begitu sudah cukup membuat Dahye merasa tenang dan terhindar dari keributan yang teman-teman sekelasnya buat.

Tapi pemuda itu, si murid baru, telah berhasil mencuri meja Dahye. Dahye tak akan membiarkan si murid baru bertahan di mejanya lebih lama lagi.

Maka begitu bel istirahat berdering, Dahye segera berdiri menghampiri si murid baru. Ia menyandang ranselnya, kemudian meletakannya di atas meja, membuat si murid baru yang semula tengah berkutat dengan ponselnya mendongak. Untuk kedua kalinya mata mereka kembali bertemu.

“Ini mejaku. Kau bisa pindah ke meja lain sekarang.” Ujar Dahye, tak berusaha kedengaran ramah sedikit pun.

Kedua alis si murid baru saling bertautan. “Kau tidak lihat? Sekarang aku yang menduduki meja ini, itu artinya meja ini milikku.”

Lalu ia kembali sibuk dengan ponselnya.

Dahye mengembuskan napas kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada kemudian menukas. “Tapi sebelum kau tiba kemari, meja ini ditempati olehku.”

Si murid baru kembali mendongak, dan ia menghadiahi Dahye dengan tatapan apa-masalahmu-sih.

“Begitu, ya?” Ia mengantungi ponselnya lantas memusatkan seluruh perhatiannya pada Dahye. “Well, mungkin dulu meja ini memang milikmu, tapi setelah hari ini aku tiba dan menempatinya lebih dulu, maka meja ini menjadi milikku. Mengerti?”

Dahye menatap si murid baru tidak percaya. Bagaimana mungkin ia bertemu murid baru sepongah ini, sih?

“Dengar, ya, aku sama sekali tidak mau berdebat dengan siapa pun hari ini—termasuk denganmu. Jadi kenapa, kau tidak pindah meja saja sekarang juga, huh?” Tukas Dahye, suaranya agak meninggi dan ia bersyukur tak ada orang lain di dalam kelas selain dirinya dan si murid baru, sehingga ia tak perlu jadi bahan tontonan gratis.

Bukannya mengikuti keinginannya, si murid baru justru melepaskan kekehan kecil, lantas menyuguhkan Dahye senyuman asimetris. Sebelah alisnya berjingkat ketika kemudian ia menyahut.

“Kelihatannya kau benar-benar menyukai meja ini. Kenapa tidak kau saja yang merelakan meja kesayangmu ini, hm? Bukankah menyenangkan memberi sesuatu pada murid baru sepertiku?”

Sebelum Dahye sempat menyahut si murid baru telah terlebih dulu bangkit dari duduknya. Sekilas ia mengerling papan nama yang tersemat di blazer Dahye, sebelum akhirnya berujar sambil mengulas senyuman lebar.

“Aku Kim Taehyung. Senang mengenalmu, Dahye. Semoga kita bisa jadi teman baik, ya?”

Satu kedipan untuk Dahye, sebelum akhirnya si murid baru berlalu menuju pintu keluar kelas.

“Apa?” Dahye bertanya pada dirinya sendiri, masih terkejut dengan respon yang didapatnya dari si murid baru. Ia memintanya untuk pindah tempat duduk, kenapa si murid baru malah memperkenalkan diri begitu? “Orang itu sinting, ya?”

—◊◊—

Sambil meneguk cola-nya, Kim Taehyung mengirimi kerlingan nakal pada sekumpulan gadis yang baru saja lewat sambil malu-malu meliriknya. Sekumpulan gadis itu mengeluarkan pekikan tertahan, lalu terkikik senang setelahnya. Diam-diam Taehyung menggeleng kecil, ia tersenyum pada dirinya sendiri, dan didengarnya pekikan tertahan dari sekumpulan gadis lain.

Oh ya Tuhan, kalau begini terus lama-kelamaan ia bisa jadi artis mendadak di sekolah ini.

“Yah—berhenti pasang tampang sok keren begitu.”

Seseorang tiba-tiba mendaratkan jitakan telak di belakang kepalanya, lalu tanpa izin mengambil tempat duduk tepat di sampingnya. Taehyung mengaduh kesakitan sembari mengusap bagian kepala yang tadi jadi sasaran jitakan maut. Jengkel, ia mengamati Kim Chaeyeon yang kini tanpa malu merebut cola-nya lalu meneguknya hingga tak bersisa.

“Apa?” Chaeyeon bertanya ketika mendapati Taehyung menatapnya tajam.

“Kau, berani-beraninya menghabiskan minumanku!” Taehyung menggeram kesal, yang justru menghasilkan kekehan tawa dari Chaeyeon.

“Salahmu memasang wajah sok tampan begitu—kau membuatku mau muntah, tahu.”

“Aku memang tampan.” Sahut Taehyung cepat.

“Tidak. Kau jelek.” Chaeyeon cepat-cepat membalas dengan wajah menyebalkan.

“Yak! Kalau aku jelek, maka kau juga jelek, bodoh.”

“Enak saja. Aku tidak jelek sepertimu, oke? Aku cantik.”

Taehyung mendecih menyaksikan Chaeyeon yang kini menyibakkan rambutnya dengan gerakan berlebihan. Malas meladeni kelakuan saudara kembarnya lebih jauh. “Terserahmu sajalah.”

Kedua saudara Kim ini memang terlahir dengan wajah serupa. Mereka kembar identik, siapa pun akan menilai bahwa Chaeyeon merupakan Taehyung dalam versi perempuan, dan begitu pula sebaliknya. Mereka murid pindahan di sekolah ini, baru saja pindah kemari pagi tadi.

“Omong-omong bagaimana kelasmu?” Taehyung bertanya sembari menggoyang-goyangkan kaleng cola-nya yang telah kosong.

Chaeyeon menggedikan bahunya. “Lumayan. Tapi di kelasku ada segerombolan perempuan yang senangnya bergosip dan pasang make-up ketika guru tidak melihat. Mereka juga terus saja membicarakan guru—guru siapa, ya, aku lupa namanya, guru Onh? Oh? Entahlah.” Ia menelengkan kepala, berusaha mengingat sembari mengerutkan kening. “Kata mereka, guru Onh tampan, guru Onh keren, guru Onh blablabla. Cih. Memuakan sekali.”

Taehyung tertawa kecil. Meski sering bertengkar dan adu mulut, sejak dulu cara bicara Chaeyeon selalu berhasil membuatnya tergelitik.

“Kau sendiri bagaimana?” Chaeyeon balas bertanya, kini menatap Taehyung ingin tahu sembari bertopang dagu.

Taehyung mengambil waktu agak lama untuk menjawab pertanyaan Chaeyeon. Begitu ditanyai mengenai kelas barunya, entah bagaimana ia segera teringat si perempuan-meja. Son Dahye. Namanya Son Dahye.

Sebenarnya di mata Taehyung mulanya tak ada yang menarik dari Son Dahye. Selain wajahnya yang kelihatan begitu rupawan, baginya tidak ada yang membedakan Son Dahye dengan perempuan lainnya. Tapi kemudian Son Dahye menghampirinya dan memintanya pindah tempat duduk, dengan cara bicara yang sama sekali tidak sopan dan cenderung kurang ajar. Membuat Taehyung ingin tertawa dan gemas sendiri melihat tingkah gadis itu.

Well, Son Dahye cukup banyak membuatnya tertarik.

Gadis itu rupanya tak sama dengan perempuan lainnya.

“Hei, jangan senyum-senyum begitu. Kau membuatku merinding.” Chaeyeon menukas sembari memukul lengan Taehyung. “Oh! Ada seseorang yang kau sukai di kelas barumu, ya? Wah hebat sekali, Kim Taehyung, baru hari pertama dan kau sudah menyukai seseorang!”

“Apa? Tidak, bukan begitu.” Taehyung cepat-cepat menukas sebelum Chaeyeon salah paham. Ia kemudian terkekeh kecil. “Aku hanya menyadari kelas baruku tak semembosankan yang kukira. Kelihatannya ayah memilihkan sekolah yang tepat untuk kita.”

Tepat setelah itu bel masuk berdering nyaring di atas kepala mereka. Sambil bersungut-sungut tentang jam istirahat yang begitu sebentar, Chaeyoen berlalu meninggalkannya. Taehyung kemudian menyusul meninggalkan kafetaria. Sepanjang perjalanan menuju ruang kelasnya pemuda itu tersenyum samar, mengingat tingkah Dahye yang baginya kelewat konyol. Sebelumnya Taehyung tak pernah bertemu perempuan seperti Dahye. Kebanyakan perempuan di sekitarnya selalu bertingkah tebar pesona atau diam-diam mengagumi dirinya dari kejauhan—seperti sekumpulan gadis yang ditemuinya di kafetaria tadi. Tidak ada yang seperti Dahye, galak, dingin dan sama sekali tidak bersahabat. Karena tak pernah mendapatinya pada diri perempuan lain, maka bagi Taehyung sikap Dahye ini kelihatan… unik dan menarik.

Nah, gadis itu terbukti benar-benar unik ketika kemudian Taehyung sampai di kelasnya dan menemukan mejanya telah ditempati oleh Dahye saat ini.

Iya, meja yang tadi mereka perebutkan kini ditempati dengan sesuka hati oleh Son Dahye. Seluruh barangnya raib dari meja itu, digantikan oleh ransel dan buku-buku milik Dahye sendiri. Taehyung menyapu pandangan, mencari dimana kiranya ranselnya berada. Ah, ternyata Dahye memindahkannya di meja di sebelahnya.

Singkatnya Dahye menukar tempat duduk mereka, tanpa seizin Taehyung terlebih dulu.

Taehyung tersenyum tipis kemudian melangkah mendekati Dahye yang menunduk menatap bukunya. Tangan gadis itu sibuk membuat sebuah catatan panjang. Tanpa peringatan, Taehyung menarik pena yang digunakan Dahye untuk mencatat, membuat gadis itu refleks mendongak, dan menatapnya dengan mata membola.

“Yak!” Ia berseru, kelihatan marah. “Kau pikir apa yang kau lakukan?”

Taehyung menyeringai, kemudian menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pena milik Dahye pun turut ia kantungi.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu—kau pikir apa yang kau lakukan?”

Kening Dahye mengerut dalam, kelihatan tak menangkap maksud Taehyung.

“Apa yang kau lakukan di meja ini, huh? Kau lupa sekarang meja ini milikku?” Taehyung memulai, telunjuknya mengetuk-ngetuk meja yang kini Dahye tempati.

Dahye melengos kemudian menatap Taehyung dengan mata memicing. “Bukankah sudah kubilang meja ini punyaku?” Ia kemudian berhenti sejenak untuk membuang napas. “Begini ya, Murid Baru, aku tidak mau bertengkar denganmu hanya karena masalah meja. Jadi lebih baik sekarang kau kembali ke mejamu, dan biarkan aku mengerjakan tugasku dengan tenang. Oh, sebelumnya kembalikan dulu penaku.”

“Wah, kau benar-benar sesuatu.” Taehyung berdecak kagum sambil menghadiahi Dahye senyuman takjub. “Aku juga tidak akan meributkan masalah meja kalau kau tidak memulainya duluan.”

“Yah—Kim Taehyung, biarkan saja dia duduk di sana. Kau harus tahu, Son Dahye selalu mendapat apa yang dia mau, dia murid nomor satu di sekolah ini!”

Seseorang berseru dari ujung kelas, seketika disambut gelak tawa yang lain. Kelas kini dipenuhi gemuruh tawa. Taehyung menoleh pada teman-temannya yang lain, kemudian kembali menatap Dahye. Senyumnya kian lebar.

“Jadi kau murid nomor satu?” Ia memastikan sembali mengambil selangkah lebih dekat pada Dahye yang masih duduk mendongak di kursinya. “Selalu mendapatkan apa yang kau mau, begitu?”

Taehyung kini membungkukan tubuhnya hingga ia memangkas jarak yang tersisa dengannya dan Dahye. Gadis itu kelihatan tak berkutik mendapati aksi mendadak Taehyung. Benar dugaan Taehyung, Son Dahye memang sungguhan berbeda dari perempuan kebanyakan.

“Pantas saja kau semaumu merebut tempat dudukku.” Taehyung berbisik di depan wajah Dahye.

“Wah, Kim Taehyung, apa yang mau kau lakukan?”

“Anak baru itu benar-benar berani berbuat begitu pada si Son Dahye.”

“Aku saja tidak pernah punya nyali dekat-dekat dengan perempuan itu.”

Sementara orang-orang mulai dibuat riuh dengan posisi Taehyung dan Dahye. Salahkan Taehyung yang mencondongkan tubuh kelewat dekat pada Dahye, dan Dahye yang juga tak mengambil jarak menjauh didekati oleh Taehyung seperti itu. Lalu entah siapa yang memulai, kini seisi kelas mulai ribut menyerukan kata yang sama dengan penuh semangat. Cengiran usil dan jenaka terpeta di wajah setiap orang sementara tangan mereka bertepuk heboh.

“Cium! Cium! Cium!”

Dahye tertegun mendengar seruan teman-temannya. Wajahnya seketika memerah dan ia menyadari posisinya dengan Taehyung yang memang mengundang pikiran tidak-tidak dari orang lain. Ia baru saja hendak mendorong bahu Taehyung menjauh, ketika kemudian pintu kelas menjeblak terbuka, dan sosok yang paling tidak ingin dilihatnya di saat seperti ini muncul.

“Apa yang kalian lakukan?!”

Gelegar suara itu memenuhi kelas, mengalahkan riuh yang ditimbulkan oleh seluruh siswa.

Lalu seisi kelas mendadak senyap. Membeku tak kuasa menahan ngeri melihat presensi guru mereka yang kini berdiri di pintu masuk. Oh Sehun tampak mengerikan dengan raut keras terpeta di wajahnya. Kedua tangan pemuda Oh itu mengepal di sisi tubuh sementara sorot matanya dipenuhi emosi menggelegak.

Siapa pun ketakutan melihat Sehun saat ini, namun tak ada seorang pun yang lebih takut dari Dahye. Mendapati Sehun menatapnya tajam-tajam sementara Taehyung masih berdiri begitu dekat dengannya. Bergegas ia mendorong Taehyung, kemudian bagai disetrum melonjak bangun dari duduknya.

Ketika Sehun yang tengah dikuasi amarah berjalan mendekatinya, Dahye tahu tamat sudah riwayatnya.

“Kau pikir apa yang kau lakukan, Son Dahye?”

 

…kkeut

Kim Taehyung

15b7513ce40147fb5bf73a3316b05813

taehyung

Kim Chaeyeon

chaeyeon

Note♥

Ha-lo?

Adakah yang masih mau baca fic ini? Ada dong yah, ada yah:( /melas ceritanya

Err, dua minggu ga update sama sekali, tolong maafin akuuu:”” kemaren emang lagi sibuk ngurusin kenaikan, ulangan dan tambah-tambahin nilai biar ga jeblok di rapot—mengingat aku bukan siswa teladan jadi riweuhnya minta ampun kalo mau naik kelas gini-_-“—dan akhirnya jadi ga bisa pegang laptop buat lanjutin fic ini:” hiks maafin aku:”

Setelah selama ini ga update kalian masih inget kan sama jalan ceritanya:(? Masih ‘kan masih ‘kan ya:(? /melas lagi/ yah semoga kalian masih pada inget dan masih tertarik buat baca lanjutannya:”)

Cast baru yang kemaren aku janjiin udah nongol tuh, hihi. Gimana, sesuai sama ekspetasi kalian gaa? Tadinya aku mau pake jimin bts (biar sama kaya di sehun-dahye series gitu, ada jiminnya wkwk), tapi pas udah ditulis gatau kenapa feelnya malah dapet si v—anw adakah yang army juga disiniii? Hehe

Terus tadinya foto si chaeyeon mau pake foto taehyung versi cewe, tapi berhubung ga ada yang pas jadi aku pake foto ulzzang aja deh, anggep aja ceritanya mereka mirip yah:D

Chap ini gimana menurut kalian? Kependekan atau kepanjangan? Buat chap depan dan seterusnya aku usahain ga akan molor lagi updatenya, karna kan liburan udah mulai daaan bentar lagi bulan puasa!! Yeayyy~ selamat menunaikan buat kalian yang menjalankan yah^^ /bulan puasanya juga belum mulai ey-_- /efek terlalu semangat /semangat liburan maksudnya /loh

Ah, udahlah segini dulu aja, ini juga kayanya udah kepanjangan notenya wkwk

Seeya on next chap gengs~

…mind to leave a review?

149 responses to “The Dim Hollow Chapter 11 by Cedarpie24

  1. OMGGGG AKU BARU BACAAAAA. HUHUHUHUHU SUKAAAA BANGET PARAHHHH, taehyung beneran ya emang cocok banget jadi anak jail gini iseng hahaha. Sempet sedih pas sehun dahye lagi ngobrol gitu tapi seneng deh disaat sedih ada jongin yg nemenin huhuhu. Bakalan penasaran banget nih sana kelanjutannya, Semangat unni!!❤❤❤❤

  2. aku baru baca ff ini dari 2 hari lalu dan ngebuuuut.. maaf aku ga komen di setiap chapternya. di sini aja ya :3
    aku suka banget karakter dahye pas lagi jutek!! sukaaa bgt<3 tapi ga suka kalau dia udah mulai cengeng apalagi nangisin sehun. kalimat dunia seakan runtuh di chapter sebelumnya tuh bikin aku kesel. cuma gara2 cowo doang masa sampe segitunya. mana dahye yang cuek dan angkuh? wkwk maaf ya kesel sendiri. aku malah jadi ngeship jongin dahye deh, taehyung dahye jg. (malah ga ngeship sehun wkwk) (bodo) (kesel sm sehun)

    aaaak pokoknyakeren laaah kutunggu chapter berikutnya<3

  3. aku baru baca ff ini dari 2 hari lalu dan ngebuuuut.. maaf aku ga komen di setiap chapternya. di sini aja ya :3
    aku suka banget karakter dahye pas lagi jutek!! sukaaa bgt<3 tapi ga suka kalau dia udah mulai cengeng apalagi nangisin sehun. kalimat dunia seakan runtuh di chapter sebelumnya tuh bikin aku kesel. cuma gara2 cowo doang masa sampe segitunya. mana dahye yang cuek dan angkuh? wkwk maaf ya kesel sendiri. aku malah jadi ngeship jongin dahye deh, taehyung dahye jg. (malah ga ngeship sehun wkwk) (bodo) (kesel sm sehun)

    aaaak pokoknyakeren laaah kutunggu chapter berikutnya<3

  4. Waaaah ada cast baru dan ternyata si abang V. Nggak papalah cocok kok sama tampang sama karakternya. Bakalan nambah lagi nih saingannya sehun sama jongin. Kasian dahye yang harus lupain sehun setelah dia ngungkapin perasaannya, tapi lebih kasian jongin yang harus ngeliat orang yang dia suka nangis karena disakitin cowok lain. Keren lah pokoknya

  5. sehun… sehun, nanti giliran dahyenya bener-bener ngejauh malah nanti dianya yang ngedeketin dahye nihh, aduhh sehun, makanya kalo gak mau dahye suka itu jangan ngasih harapan, kan kasian dahyenya, baru pertama kali ngrasain yang namanya suka sama orang tapi langsung ngerasain sakit hati.

    ada cast baru langsung 2 sekaligus? kayanya bakalan seru nihh

  6. Yes, sehun cemburu. Pertahankan sikapmu kim taehyun, buat sehun semakin membara!! Mampus lu sehun :v :v

  7. kakak..maaf ya baru komen skarang…
    ya Allah.. Taehyung masih murid baru aja udh bikin ulah sama guru SASTRA LAGII.. haduh duuuuhhh..
    waaaaahhh, Dahye masalah lgi nih sama Sehun. padahal udh mau ngelupain/???

  8. Pingback: The Dim Hollow Chapter 13 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Cieeee Oh Sehun cemburu😀
    Semakin menarik karna ada cast baru disaat Sehun-Dahye lagi berkonflik ria :’)
    Fighting thor, ditunggu next chapt😉

  10. Kirain murid barunya chanyeol:v pas disebutin ciri2 nya aku langsung aja mikirnya dia chanyeol:v tapi kenapa tiba2 ada si taehyung disini? Dia ada hubungan apa ama semuanya ? Atau dia cuma cast baru aja ? Terus sehun kenapa marah2 gitu dah :v ah jadi kesel sendiri ama sehun :v

  11. Ada mphiii !! Haha seneng banget bacanya… Minimal masih bisa senyum” sendiri lahh baca tingkah lakunya si alien ini… Gk kyk chapter sebelumnya yg bikin greget abissssss ! Haha. Tapi, jangan bilang nnti alien ini yang mau nyuri dahye dari Sehun…

  12. Wah karakter baru muncul dan sukses membuat hatiku berdebar haha KIM TAEHYUNG ♡♡ haha goodjob taehyung kau berhasil buat sehun cemburu haha

  13. Ada cast baru ternyata dan menambah list cowok yg suka sama dahye, dan taukah gimana aku senengnya ngelihat sehun marah” gitu ngelihat taehyung sama dahye uuhh pasti hatinya kebakar sama api cemburu tuh. Apakah taehyung akan jadi orang ketiga? Kita baca chapter selaajutnya

  14. Gila murid baru a.ka taehyung bener bener keterlaluan apa gimana😂 dia berani banget sama dahye, tapi ya sehun cemburu liat dahye deket sama taehyung (pdhl mereka berdua lagi rebutin tempat duduk)

  15. Pingback: The Dim Hollow Chapter 14 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. Ya pasti adalah thorrr.
    Ada orang baru lagi~
    Gimana kai~
    Wkwk masih aja ya mikirinn kai.
    Seru nih kayanyaaa, lanjut terooos

  17. ini yg aku tunggu di setiap cerita ff yg aku baca (orang ketiga) >< oalaaaaah ff ini sesuatu banget yatuhan otaknya author bener2 brillian ._. godjob thoorr.. alurnya bagus bgt serius! aduuuh gemes deh, author nya pengen aku jadiin guling '-'

  18. Sehun cemburu cie ~~ 😂😂😂
    Kira2 nasibnya dahye sm kek kknya gk y 😟😟😟 pinginnya sih happy ending 😁😁😁😊😊😊

  19. nice timing….
    yeay…Kepergok begitu kok aku seneng yaa…
    Sehun cemburu tuuh..
    Taehyung keren banget…siap-siap kena laser dari Sehun yaa..wkwkwk

  20. Pingback: The Dim Hollow Chapter 15 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  21. Pingback: The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  22. Pingback: The Dim Hollow Side Story: Forbidden by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  23. Kan kan kan kan kan ada lagi cast baru
    Aduh mana si mphi aduhhh dilema stadium akhir
    Itu kalo dahye mah aing ambil semua hahahahahahahaahahahahahahahhahaahahahahahahahahahahahahahahahaahahahahahahahahahahahahahahahahhahaahahahah

    Hayo ou hun, ada mphi, perang gih perang lightsaber /? Wkwkw

  24. Pingback: The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  25. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  26. sehun cemburu wkwkwk….
    disatu sisi kesel disatu sisi juga kasihan sama mereka berdua…semoga sehun cepat sadar kalau dia itu benar² mencintai dahye…..

  27. akhirnya sehun cemburu juga…
    sebenarnya sih disatu sisi kesel disatu sisi juga kasihan sama mereka…semoga sehun cepat sadar kalau dia benar benar menyukai dahye…

  28. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  29. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  30. Ciee ada yg cmburu. Wkw. Nggk jd dukung Jongin-Dahye ah, mau dukung V-Dahye aj. Labil sekali y ak ini:D lanjut eonni^^

  31. awawaw sekarang waktunya pembalasan ke sehun hahahahah biar aja dia cemburu sama.murid baru siapa suruh nyakitin si dahye huhh ..
    tapi tetep aja aku mau dahye sama sehun akhirnya hihihih …
    tapi sekali kali gapapalah ya sehun yang disakitin dahye jangan sehun mulu ahahahah #maapkeunsehun

  32. Awww ada mphhiii❤❤
    Ehmm… ada yg cemburu yaa?? Klo dipikir mending dahye sama V aja,dri pada sama sehun.. tapi sama sehun juga cocok,cuman yaa gtuu :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s